Playboy

Playboy
#2# Take 17


__ADS_3

Hai, maaf lagi karena harus bikin kalian nunggu lama. Happy reading^^


p.s. jangan terlalu benci sama Reni ya ;)


 



 


“Aku akan pindah ke apartemen,” ucap Nabila.


Walaupun status mereka bukan suami istri lagi, dan juga Reno sudah memberikan rumah tersebut pada Nabila, entah kenapa Nabila tetap memiliki keharusan untuk mengatakan keputusannya ini. Agar mantan suaminya ini tak kesusahan untukmbertemu kedua anaknya, dan, Nabila hanya ingin mengatakan saja, tak ada alasan khusus.


“Bagaimana dengan rumah itu?” tanya Reno.


“Aku ingin menjualnya, tapi, kalau kamu ingin merawat rumah itu, aku tak masalah.”


“Kenapa aku harus melakukannya?” Pertanyaan itu di ucapkan dengan lirih, tapi, Nabila bisa mendengarnya. Mungkin bagian dari kepekaannya yang sudah meningkat.


“Seharusnya kamu yang tinggal di rumah itu, agar kamu lebih tersiksa dengan semua kenangan yang ada di dalamnya. Kamu bisa tinggal dengan selingkuhanmu jika ingin,” ucap Nabila dingin.


Nabila mungkin masih memiliki perasaan cinta pada Reno, perasaan itu tak bisa hilang begitu saja hanya karena perceraian. Mungkin di masa yang akan datang, Nabila masih akan mengingatnya, kenangan buruk tak semudah itu untuk hilang. Jika perasaan itu sudah menghilang dan memudar dari hatinya, baru ia bisa kembali untuk menata hati. Saat ini, jangan tanyakan Nabila bagaimana perasaannya, ia tak akan baik-baik saja.


“Aku benar-benar menyesalinya, Bil, aku … ini kesalahan.”


“Kesalahan yang entah kenapa kamu nikmati, bahkan setelah waktu lama yang kita jalani dan juga lewati, kamu masih bisa mengkhianati hubungan kita,” ucap Nabila.


Reno bungkam. Apalagi yang bisa ia katakan jika semua kalimat Nabila mengandung kebenaran seratus persen. Kebodohan yang sangat ia sesali, tapi juga ia nikmati dulu. Sangat wajar jika saat ini Nabila sangat membencinya


“Kamu tahu apa yang kusesali setelah perceraian ini?” tanya Nabila. “Membiarkan kedua anakku hidup tanpa orang tua yang utuh. Aku merasa bersalah terhadap mereka, tapi aku juga tak bisa membiarkan kita bersama. Aku sepertinya terlalu mempercayaimu selama ini,” jawab Nabila.


Hening kembali menyelimuti mereka. Nabila sangat mengetahui pentingnya privasi yang ia miliki saat ini, apalagi jika sudah berhubungan dengan mantan suaminya ini. Karena itu, ia memilih untuk menyewa ruangan VIP di sebuah restoran. Sudah cukup dengan perceraian yang membuatnya kehilangan muka, ia tak ingin membahas


masalah seemosional ini di restoran biasa.


Dua bulan memang sudah berlalu, dengan Reno yang sering menemui anak-anaknya setiap minggu, Nabila selalu tak bisa untuk menahan emosinya. Di khianati saja sudah terasa sangat menyengat di hatinya, lalu ini di lakukan oleh dua orang yang ia kenal sebagai teman baik, dan Nabila tak menyangka jika keduanya bisa melakukan hal hina seperti ini di belakangnya.


“Beritahu aku yang sejujurnya …,” Nabila menghentikan dirinya sendiri yang ingin melanjutkan kalimat yang baru saja ia ucapkan. Ini salah. Tak boleh ada pembicaraan tentang masa lalu atau apapun yang menyangkut sebab dari perceraian ini.


“Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku akan pindah. Mungkin aku akan menjual rumah itu, tapi kalau kamu memang mau menempati rumah tersebut bersama … dia … beritahu saja aku,” ralat Nabila.


Tak ada hal baik yang akan terjadi jika Nabila kembali menanyakan perihal hubungan Reno dan sahabatnya itu. Memangnya kenapa dengan hubungan terlarang mereka? Apa akan ada yang berubah jika Nabila kembali menanyakannya? Itu hanya semakin menambah luka yang masih menganga lebar, Nabila tak ingin melakukan itu.


Nabila berusaha keras untuk bisa berdiri di kakinya sendiri tanpa bantuan dari siapapun. Setelah pengkhianatan ini, rasanya ia tak bisa mempercayai banyak orang begitu saja. Terlalu sakit untuk di ingat, kan?


“Aku pergi.”

__ADS_1


“Tunggu.”


Nabila menatap Reno yang mencegahnya, jika hanya omong kosong yang akan Reno katakan, maka ia bersumpah akan berhenti untuk menemui pria itu seperti ini.  Ia menunggu hingga beberapa menit untuk menunggu Reno mengatakan apapun yang akan di katakan itu.


“Aku … aku minta maaf. Aku tak tahu harus mengatakan apa, aku hanya … ingin mengatakan kalimat maaf lagi. Aku benar-benar bersalah.” Reno menundukkan kepalanya, terlihat benar-benar bersalah.


Tak ada kalimat yang keluar dari mulut Nabila, ia tak ingin mengatakan apapun lagi. Jadi, Nabila hanya berjalan keluar dari ruangan itu. Sejak pertama mengetahui perselingkuhan itu, Nabila tak pernah menanyakan apa penyebab hal itu terjadi. Ia tak ingin mengetahuinya, karena ia tak bisa menahan rasa sakit lagi jika sampai tahu apa penyebabnya.


Perselingkuhan tetap salah pada akhirnya, dengan alasan apapun, tak ada yang bisa di benarkan dari perselingkuhan. Jadi, Nabila juga tak perlu mengetahui alasan di balik itu semua. Nabila hanya perlu melakukan usaha yang lebih besar untuk mengobati lukanya, yang tetap sulit untuk di lakukan. Ia tak bisa menunggu waktu untuk menyembuhkan lukanya, ia memiliki tanggung jawab pada kedua buah hatinya, ia harus tetap bertahan agar luka itu bisa sembuh.


**


Richard kembali menemui Kate, bukan untuk meminta penjelasan akan hubungan mereka, karena bagi Richard pembicaraan terahir mereka sudah mencapai keputusan yang tetap. Richard tak tak akan memohon agar wanita itu kembali padanya, ia tak akan melakukan itu betapa pun ia sangat mencintai Kate.


Kate yang memulai keputusan ini, jadi Richard tak akan melakukan apapun lagi. Menyerah? Mungkin. Selama tiga tahun yang mereka jalani bersama, Richard sudah banyak melakukan perjuangan untuk hubungan mereka. Setidaknya setelah semua itu, Kate yang harus melakukan hal yang sama, semua hubungan yang sudah berakhir mungkin memang sudah harusnya berakhir.


“Aku yang akan berbicara pada ayahmu tentang hubungan kita,” ucap Richard. Tak ada senyuman lebar yang Richard berikan, juga tak ada basa basi sebelum memulai obrolan mereka.


“Kenapa? Aku bisa mengatakannya sendiri,” balas Kate.


Kedatangan Richard saja sudah merupakan kejutan untuknya, yang lebih mengejutkan adalah sifat Richard yang sangat berbeda itu. Tak ada lagi Richard yang manis, yang ramah. Di hadapannya kini hanyalah Richard, pria asing yang terlihat dingin dan tak tersentuh, tak ada emosi di wajah pria itu.


Ada beberapa alasan yang Kate miliki untuk menunda membicarakan masalah ini dengan sang ayah. Yang pertama, sang ayah pasti akan terkejut, mungkin juga Kate akan langsung di coret dari daftar keluarga jika mengatakan itu. Yang kedua, belum banyak orang yang tahu tentang berakhirnya hubungan mereka kecuali Michael, sedikit egois tapi Kate masih ingin di juluki sebagai tunangan Richard. Jika memang begitu, harusnya Kate tak memutuskan hubungan mereka. Tapi, jika tak di lakukan, semua ucapan Michelle kala itu kembali terputar di kepalanya.


“Jika aku yang melakukan ini, kau akan terhindar dari banyak masalah, aku hanya ingin membantumu untuk yang terakhir kali,” ucap Richard.


“Michelle. Adikmu tak menyukaiku, ia tak ingin aku yang menjadi pendampingmu. Itu awal semua keputusanku.”


Richard terdiam, mencoba mencerna informasi baru yang ia dapat. Memang setelah pertemuan itu, Michelle tak mengatakan apapun. Adiknya itu juga sama sekali tak menyinggung soal pertemuan keduanya, dan Richard sama sekali tak memiliki pikiran apapun, bahkan tentang adiknya yang tak menyetujui pilihannya.


“Dan kau memilih untuk menjauh. Jika kau memang mencintaiku, seharusnya kau berjuang untuk restu dari Michelle, kan? Bukan malah bertemu dengan pria lain di belakangku. Kau bisa mengatakan dengan jelas kalau sudah tak menginginkan hubungan ini, itu akan lebih baik di banding tindakan konyolmu.”


Keduanya saling menatap dalam atmosfir yang tak mengenakkan. Richard dengan emosi yang masih tergambar jelas di matanya, dan Kate yang terluka dengan kalimat Richard barusan. Mungkin Richard tak salah dengan semua argumen itu, tapi dari semua kalimat itu, Kate merasa jika Richard menyalahkan semuanya pada Kate.


“Kau bahkan tak mengetahui siapa pria itu, kenapa kau bisa dengan gampangnya mengatakan kalimat seperti itu?”


“Karena kau juga tak pernah mengatakannya. Kita sudah sama-sama dewasa, kau bisa mengatakan padaku apa masalahnya, jadi kita bisa sama-sama mencari solusi. Memilih untuk saling diam seperti ini juga tak akan menemukan solusi.”


Kate juga tahu itu, ia sangat ingin mengatakan pada Richard, tapi banyak yang ia pertimbangkan lagi. Ia juga butuh untuk memproses semuanya sendirian untuk mengambil keputusan yang tepat, walau hasilnya hanya menyakiti dirinya dan pria yang ia cintai di hadapannya ini.


“Aku akan mengatakan pada ayahmu hari ini, kau tak perlu khawatir.” Setelah mengatakan hal itu, Richard segera keluar dari ruangan Kate.


Berbicara lebih lama sepertinya tak akan menyelesaikan masalah, di tambah Richard yang masih di liputi emosi. Jika dari awal Kate mengatakan alasannya, mungkin tak akan seperti ini. Hari ini ia akan berbicara pada ayah Kate dan juga adiknya. Kali ini sepertinya tak akan ada kesempatan lagi untuk Richard kembali pada Kate, bukan untuk mempermudah semuanya. Mereka hanya butuh waktu untuk kembali memikirkan semuanya sendiri.


Dan ini bukan salah Richard, ia ingin egois sekali ini saja. Perasaannya juga sama penting seperti yang di rasakan Kate. Jika tiga tahun perjuangannya hanya akan berakhir seperti ini, ia juga akan pasrah, mungkin akan sulit awalnya, tapi semua pasti berlalu, kan? Jika mereka di takdirkan untuk bersama, mereka pasti akan bertemu lagi. Semoga saja seperti itu.


**

__ADS_1


Berita perselingkuhan Reno dan Reni sudah menyebar hampir di seluruh penjuru rumah sakit. Para Direktur dan juga petinggi-petinggi perusahaan lainnya sudah berdiskusi, bahkan sudah memutuskan pendisiplinan terhadap dua orang dokter tersebut. Itu bukan bentuk balas dendam Nabila dengan menyebarkan rumor—kenyataan—murahan seperti itu.


Dewi yang melakukannya, ia seperti memiliki hutang pada kakak berbeda ibu tersebut. Hatinya juga ikut merasakan rasa sakit yang di rasakan Nabila ketika mengetahui fakta yang ada. Perempuan mana yang rela di selingkuhi secara diam-diam seperti itu? Dewi sangat menyetujui keputusan Nabila untuk menceraikan Reno, karena jika memilih bertahan, rasa sakit Nabila akan semakin banyak.


Hampir sebagian perawat dari departemen yang berbeda, maupun rekan dokter lain dari spesialis lain sudah mengetahui hal itu, mereka hanya menutup mata dan membiarkan itu mengalir. Bukan untuk bermaksud jahat, tapi setidaknya kedua pasangan itu tak perlu terang-terangan menunjukkan hubungan terlarang mereka.


Keduanya dokter, seharusnya memiliki otak yang baik untuk berpikir, kan? Apa Reno juga tak mengingat anak dan istrinya ketika melakukan hal itu? Sedekat apapun persahabatan mereka, tak seharusnya itu terjadi. Cepat atau lambat, semua juga akan terbongkar.


“Sebaiknya kita tak usah bertemu dulu,” ucap Reno.


Ini bukan kali pertama Reno mengatakan hal yang sama, dan Reni benar-benar sudah muak dengan kalimat itu. “Memang apa yang mau kamu lakuin sendirian? Kamu bahkan udah bercerai,” balas Reni.


Imej Reni juga sudah buruk, ia sudah di cap sebagai wanita nakal yang menjadi perusak rumah tangga sahabatnya sendiri. Masalahnya, mereka berdua juga menikmati hubungan terlarang mereka, siapa yang akan di salahkan jika seperti ini? Reni memang bersalah karena semua berawal dari dirinya, tapi Reni tak memiliki niat yang berlebihan untuk melanjutkan apa yang sudah mereka mulai pada awalnya.


“Apa semuanya kamu harus tahu? Urus saja urusanmu sendiri, jangan ganggu aku dan juga keluargaku lagi.”


“Ah jadi semua kesalahan ada padaku sekarang, kan? Yah, lagipula siapa yang akan percaya padaku. Semua orang sudah pasti akan memilih untuk mempercayaimu, dokter dengan segala kemurah hatiannya, sangat sopan dan juga setia,” ucap Reni dingin.


Reno hanya menatap Reni dengan wajah datar, menanti wanita itu untuk menyelesaikan kalimatnya. Ia yakin ada kalimat lain lagi yang akan di katakan oleh Reni.


“Kamu sama sekali gak jauh berbeda dari aku, kamu hanya mencoba untuk bersembunyi dalam semua rasa sakit itu,” lanjut Reni.


“Kamu kayaknya bener-bener sakit, Ren. Kita gak akan kayak gini kalau kamu gak memulai semuanya.”


“Dan kamu tak menolak. Bahkan di hari-hari setelahnya, juga di bulan-bulan berikutnya. Apa kamu yakin masih mencintai istrimu dengan perasaan yang sama setelah ini terjadi? Kamu bener-bener egois, No.”


“Jadi, kamu memintaku untuk bertanggung jawab? Kamu ingin aku menikahimu?” tanya Richard tak percaya.


Giliran Reni yang juga menatap sahabatnya dengan terluka. Mereka sudah sangat lama bersahabat, ia sedikit patah hati ketika pada akhirnya Reno berpacaran dengan Nabila, dan hubungan mereka bertahan sangat lama. Reni sebenarnya cukup kagum dengan semua itu, bagaimana dua orang yang memiliki latar belakang dan juga


sifat sangat berbeda bisa bertahan cukup lama.


Apa Reni menyukai Reno? Tentu saja. Mustahil ada persahabatan antara lawan jenis tak berakhir dengan rasa cinta, rasa itu tetap ada, tinggal bagaimana kedua orang itu menyikapi perasaan mereka masing-masing. Reno juga mengetahui perasaan Reni, seringkali hal itu menjadi candaan di antara keduanya. Apa sekarang salah Reni jika perasaan itu tiba-tiba muncul lagi setelah perselingkuhan yang mereka lakukan?


Otaknya sudah berkali-kali meneriakkan kata salah, tapi, hatinya tak bisa di ajak bekerja sama, dan justru Reno mengikuti apa kata hati dan juga nafsunya. Reni tahu ini salah, dan seharusnya tak boleh berlanjut apapun yang terjadi, tapi ia sendiri juga tak bisa menghentikan perasaannya terhadap Reno. Reno adalah pria dengan seluruh kesempurnaan pada dirinya. Mungkin dalam satu rumah sakit, bukan hanya Reni yang menyukai Reno, beberapa dokter dan perawat pun juga pasti ada yang mengagumi Reno secara diam-diam.


“Untuk apa? Aku bukan wanita murahan yang mengemis pertanggungjawaban dari seorang pria, kamu juga bukan yang pertama.”


“Tapi kamu tak ingin hubungan ini berakhir. Kita bersahabat, Ren, sejak dulu seperti itu. Aku gak mau karena masalah ini, persahabatan kita hancur gitu aja,” ucap Reno.


Reni tertawa mendengar kalimat Reno. Inilah kenyataan konyol yang akan selalu mengitari mereka. “Kalau kamu memang ingin hubungan ini berakhir, persahabatan kita juga harus berakhir.”


“Lupakan semua yang sudah kita lakukan kemarin, semua sudah berakhir, anggap saja kita tak pernah melakukannya,” putus Reno.


Lupakan? Apa semudah itu untuk para pria? Hubungan ini memang bukan yang pertama kalinya, ia sudah pernah melakukannya beberapa kali dengan mantan-mantan kekasihnya. Tapi ini Reno, pria yang ia sukai sejak kuliah, dan mereka melakukannya dalam kondisi sadar. Bagaimana Reni bisa melupakannya?


**

__ADS_1


__ADS_2