Playboy

Playboy
#15. Still


__ADS_3

Katherine berkali-kali merutuki dirinya sendiri karena kekacauan yang ia sebabkan, ia belum pernah mabuk, bahkan hingga tidur di apartemen pria asing. Malam itu, ia sangat yakin jika malam itu ia belum sangat mabuk karena masih bisa dengan jelas mengingat wajah pria itu, tapi ia sampai pingsan? Ia tak pernah pingsan sebelumnya karena mabuk.


Tak mungkin jika ia pingsan karena ketampanan pria itu, kan? Konyol sekali. Seumur hidupnya, ia tak pernah terlalu tergoda dengan pria manapun yang ia temui karena ia sangat pemilih. Katherine adalah wanita pemilih, ia lebih memilih mengejar pria daripada ia harus di kejar oleh pria. Artinya sudah sangat bertolak belakang, dan kepuasan dari mengejar pria lalu menolaknya setelah bosan adalah hal yang sangat ia sukai.


Karena alasan itu juga lah, yang membuat Ayahnya memutuskan untuk menjodohkan Katherine dengan salah satu rekan bisnisnya. Usianya juga sudah lebih dari cukup untuk menikah, di usia itu seharusnya Katherine sudah memiliki anak. Ayah Katherine sangat kuno, itulah sebabnya.


“Kau sudah sadar?” tanya Enzo sebal. Ia tak tahu pukul berapa sepupunya itu pulang, yang jelas Enzo sudah tertidur saat itu.


“Sejak kapan kau di sini? Apa Ayah yang menyuruhmu kemari lagi?”


“Kau tahu, pekerjaanku bukan hanya mengurusimu saja, tak bisakah satu hari saja aku tak perlu mendatangimu?”


Katherine mencibir, kesadarannya sudah sangat tinggi saat ini. “Bukankah kau juga senang dapat kembali kemari terus? Aku bukannya tak tahu jika kau sangat bahagia hanya karena bisa menemui Liliana, kau sangat mudah terbaca.”


Enzo menyilangkan lengannya di dada, berusaha membentengi dirinya sendiri dari tuduhan Katherine walaupun semua itu sangat benar. Setidaknya ia tak perlu merasa terbebani jika harus bolak balik ke gedung apartemennya atas suruhan sang Paman, pengalihan yang cukup bagus, kan?


“Kau bermalam di mana tadi malam? Pria mana lagi yang kau kencani?”


Katherine mendadak gugup mendapat pertanyaan seperti itu. Sepertinya ia tak ingin mengingat kejadian tadi malam sama sekali, ia bahkan meninggalkan pria itu begitu saja tanpa ucapan apapun. Bukan berarti mereka terbangun dalam keadaan yang tak di inginkan, Katherine bahkan terbangun dengan pakaian lengkapnya dan


tertidur di kasur yang luas dan empuk. Tebak di mana pria asing itu tidur?


Di atas sofa, yang bahkan sangat sempit untuk dirinya sendiri yang cukup tinggi itu. Ia juga tak mengharapkan apapun, Katherine bukan pecinta ‘one night stand’ walaupun sesekali ia juga menikmati. Pria itu cukup aneh, kan? Tak menyentuhnya sama sekali padahal bisa di bilang itu sebuah kesempatan, ketika ia benar-benar tak sadar sama sekali.


“Apa aku harus memberitahumu semua hal yang kulakukan? Lebih baik fokus pada pekerjaanmu saja, dan juga Liliana, kulihat kau memiliki saingan sekarang.” Katherine memberikan Enzo senyum miring yang sangat mengejek.


Katherine juga memiliki banyak hal untuk membalas Enzo yang selalu memojokkannya dengan dalih perintah dari Ayahnya. Pria itu hanya senang ketika sedang memojokkan dirinya, itulah kenyataannya, dan Katherine sangat tahu hal itu.


“Aku pergi kalau begitu, pastikan jangan membuat masalah lagi.”


Tak ada balasan dari Katherine, ia antara lelah dan juga memang hanya tak ingin membahas masalah seperti itu lebih lanjut. Pikirannya masih sibuk berkelana memikirkan pria asing yang ia temui tadi malam. Kalau di pikir-pikir pria itu cukup tampan juga, ia sempat memperhatikan wajah pria itu dalam jarak dekat ketika akan meninggalkan hotel pria itu, cukup mendekati tipe pria idaman Katherine.


Tapi, itu masih pria asing, semoga saja mereka tak pernah bertemu lagi, tapi jika bertemu lagi pun tak masalah. Katherine akan mengucapkan terima kasih, dan sedikit godaan mungkin? Ketika di klub kemarin, ia tak terlalu memperhatikan pria itu, tapi setelah yakin dengan wajahnya, ia tak masalah jika harus menambah daftar cinta satu malamnya.


**


Liliana mencoba fokus pada semua pekerjaan yang ia kerjakan siang ini, beruntung tak ada kesalahan yang di lakukannya sejak tadi. Pikirannya benar-benar masih berputar pada ucapan Dimitri kemarin, ia bahkan sudah menguhungi pengacara yang mewakili di persidangannya. Hasil yang ia dapat memang cukup membuatnya untuk


tak fokus selama bekerja seharian ini.


“Saya minta maaf, Mbak Lili, saya hanya mengatakan apa yang di perintahkan Bapak Dimitri saja. Selama ini tak ada sidang perceraian yang terjadi, kalian masih sah suami istri. Pak Dimitri menolak menandatangani surat itu, dan meminta saya menghubungi Mbak Liliana dan mengatakan jika sidang perceraian itu sudah terjadi.”


Bahkan pengacaranya saja sudah di atur oleh Dimitri, tak pernah ada perceraian, lalu mereka masih sah sebagai suami dan istri. Lelucon apa yang sedang ia hadapi lagi kali ini, kemunculan Dimitri saja sudah membuat hatinya tak menentu seperti ini, lalu di tambah kenyataan yang lebih pahit dari buah simalakama.


“Kamu tahu soal persidangan ceraiku?” Liliana bahkan segera menelepon Nabila saat itu juga, tak peduli dengan perbedaan waktu yang ada, bahkan Elang sempat terabaikan sebentar.


“Aku tak pernah menghadirinya, kamu yang bilang sendiri aku gak boleh hadir di sidang itu,” ucap Nabila.


“Aku gak pernah ngomong kayak gitu, Bil.”

__ADS_1


“Tapi pengacaramu yang bilang sendiri, bahkan aku di larang untuk ngomongin tentang perceraian kamu ini. Aku, termasuk orang tua kamu juga gak di perbolehin hadir di persidangan kamu.”


Seluruh rasa keterkejutan Liliana semakin bertambah dengan fakta yang ada, jadi selama ini, banyak hal yang terjadi selama ia tak ada. Semuanya semakin menjadi jelas, ketika tak ada satupun yang membahas sidang itu. Pengacaranya juga hanya mengatakan jika sidang cerai itu berhasil di lakukan dan semuanya lancar, gelar


janda sudah resmi ia pegang kala itu. Tapi, itu semua hanya kebohongan.


Rencananya memang tak pernah berjalan mulus sejak awal. Andai saja ia tak di buru oleh emosi, mungkin ia sendiri yang akan memastikan bahwa perceraian itu benar-benar terjadi, dan tak perlu hidup dalam masalah yang berlipat-lipat seperti ini.


“Liliana, kau tak ingin pulang? Shiftmu sudah berakhir,” ucap salah seorang wanita yang baru saja keluar dari loker.


“Ah, benarkah? Maafkan aku, aku akan segera ke belakang.”


Liliana segera berlari kebelakang untuk berganti baju dan membereskan barang-barangnya. Setelahnya, ia segera berpamitan pada rekan kerja yang lain dan segera keluar untuk menyongsong angina sore yang cukup hangat. Rasanya sangat menenangkan bisa menghirup udara segar ini, tapi realita kembali menyentaknya untuk kembali


ke dunia nyata, bahwa ada beragam masalah dan badai yang akan di hadapi.


Menyebalkan memang, tapi memang seperti itu adanya.


Sebelum melangkah lebih jauh menuju stasiun kereta api bawah tanah, Liliana sudah di kejutkan dengan bunyi klakson mobil yang berada di sampingnya. “Hai, Liliana.”


Katherine menurunkan kaca jendela mobilnya yang berwarna hitam, ia menatap kondisi Liliana yang sepertinya lebih lelah dari dugaannya. Apa hari ini sangat ramai?


“Hai, Kate. Ada apa? Apa aku harus menitipkan pesan lain untuk Enzo?”


“Tidak. Lebih baik kau masuk dulu, aku sedang butuh bantuanmu.”


Katherine seperti sedang terburu-buru, dan Liliana tak memiliki pilihan lain untuk menolaknya. Jadi sore itu ia ikut kemanapun Katherine membawanya, wanita itu agak sedikit gila dari yang pernah ia perkirakan, atau mungkin memang sudah gila. Intinya, Katherine lebih mengerikan berkali-kali lipat dari wajahnya.


**


Kalimat panjang Katherine it uterus terngiang-ngiang di kepala Liliana, dan tak akan menghilang dalam waktu dekat. Yang di maksud ‘suatu tempat’ oleh Katherine adalah sebuah jamuan mewah yang sangat ramai, di adakan di salah satu hotel terbesar di Frankfurt. Bukan Elang yang membuat Liliana khawatir sekarang, tapi tempat ini sendiri.


Jamuan seperti ini dulu sangat familiar dengan Liliana, ia tak melewatkan satupun jamuan yang di adakan oleh kliennya, lalu akan ada Dimitri di sampingnya, dan biasanya berakhir dengan sesuatu yang sudah kalian sendiri tahu jawabannya. Sudah sangat lama sejak Liliana menghadiri jamuan, lalu Katherine dengan sadar menariknya ke sini. Jika wanita itu sedang mabuk, maka Liliana akan maklum saja.


“Apa kau seterkejut itu?” tanya Katherine. Ia berada di samping Liliana yang sedang menatap kosong para tamu yang sudah ramai berada di ruangan itu.


“Apa kau sedang mabuk?”


Katherine menatap Liliana dengan rasa bersalah, ia sudah menganggap Liliana sebagai teman terdekatnya, walaupun kadang juga sangat sering ia di tolak. Tapi, Katherine merasa jika Liliana adalah teman terbaik yang ia miliki, karenanya ia mengajak wanita itu ke sini agar sewaktu-waktu ia kabur, ia memiliki alasan.


“Aku benar-benar minta maaf, Liliana. Kali ini saja aku sangat ingin mengharapkan bantuanmu, Enzo juga akan ada di sini, jangan khawatir.”


Liliana masih dalam wajah terkejutnya, bahkan jika Enzo ada di sini, semua itu tak akan membantu. Hal-hal seperti inilah yang ia hindari jika memilih bekerja di kedutaan atau kantor lain, jamuan, menemui orang yang katanya penting, berbasa-basi, dan melakukan hal membosankan lainnya.


Ia hanya ingin tenang dengan kehidupan biasanya, tanpa harus memegang jabatan penting di sebuah kantor, atau bagian dari sebuah kantor. Ia muak untuk menebarkan senyum palsu hanya untuk menyapa satu dan yang lainnya seolah merekalah yang paling penting. Tak jauh berbeda ketika Liliana menjelaskan produk pakaian yang akan di beli konsumen memang, hanya saja, Liliana menjadi orang biasa, yang bahkan mungkin tak akan mendapatkan promosi jabatan dalam waktu dekat.


“Kate.”


“Oh, itu Enzo,” ucap Katherine.

__ADS_1


Enzo berjalan ke arah mereka dengan gagah, setelan tuksedo tanpa dasi apapun yang menghiasi lehernya, mampu menebarkan aura dominasi pada siapapun yang menatapnya. Ia tampan dengan caranya. Liliana pertama kali melihat pria yang menghadiri jamuan formal seperti ini, dan tak mengenakan dasi di lehernya, bukankah itu terlihat tak formal? Tapi, pada Enzo, segalanya terlihat cocok saja.


Liliana bahkan tak tahu ini acara apa, sampai ada Enzo dan Katherine di tempat ini. Inilah sebabnya ia menutup diri, ia tak ingin terlalu banyak mengekspos dirinya hingga memiliki teman seperti ini.


“Liliana, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Enzo kaget.


Jika saja Liliana tahu apa yang ia lakukan di sini, ia pasti akan langsung menjawabnya tanpa kebingungan seperti ini. “Dia bersamaku.” Katherine merangkulku, dan membuat kita seolah tampak akrab.


“Apa maksudmu?” tanya Enzo tajam. Pertanyaan itu di tujukan pada Katherine yang masih menunjukkan senyum tanpa dosanya.


Lihatlah? Bahkan Enzo sama sekali tak mengharapkan kehadiran Liliana, apa yang akan ia lakukan di pesta sebesar ini? Ia ingin pulang saja rasanya, lalu bergelung nyaman bersama Elang di apartemennya.


“Kupikir kau akan senang. Pokoknya dia bersamaku.”


Keduanya saling menatap dengan tajam, seolah pisau sewaktu-waktu bisa muncul dari mata mereka. Lalu Enzo menghela nafasnya berat. “Paman ingin berbicara denganmu, dia sudah menunggu sejak tadi.”


“Katakan saja pada—“


“Lebih baik kau naik ke atas sekarang, sebelum mereka benar-benar menjodohkanmu. Aku akan bersama Liliana,” potong Enzo.


Rangkulan Katherine di bahu Liliana melonggar ketika mendengar perjodohan. Liliana tak tahu apa masalahnya, ia juga tak ingin tahu, ia hanya ingin pulang. Tempat ini bukan untuknya. Tak lama setelahnya, Katherine segera meninggalkan Enzo dan Liliana berdua tanpa mengucapkan apapun lagi pada Liliana, lalu bagaimana jika Liliana ingin pulang lebih awal?


“Aku benar-benar tak tahu jika Katherine akan mengajakmu, aku minta maaf, kau tahu, dia memang kadang bisa jadi sangat gila,” ucap Enzo ketika Katherine sudah pergi.


“Kupikir ia sempat minum sebelum menjemputku, aku akan menganggap Katherine mabuk agar perasaanku lebih baik.”


Enzo menatap Liliana yang malam ini sangat cantik, wanita itu selalu cantik sebenarnya, malam ini hanya terlihat lebih cantik saja. Wajahnya di rias dengan tak berlebihan, serta rambut bob yang membingkai wajah mungil itu, mungkin tak akan ada yang percaya jika Liliana sudah memiliki seorang putra. Masalahnya hanya pada gaun Liliana sederhana tapi terlihat elegan jika wanita itu yang mengenakan.


Potongan gaun itu jatuh di bawah lutut Liliana, dan Enzo bersyukur akan hal itu, hanya saja, jika melihat kembali ke atas, gaun itu hanya berupa tali spageti di bahu Liliana. Kulit putih wanita itu terekspos sangat banyak.


“Di dalam akan dingin, kau bisa memakainya sementara.” Enzo menyampirkan jas yang ia kenakan di bahu Liliana. Cukup kebesaran memang, tapi lebih baik di banding banyak pasang mata yang akan menyaksikan kecantikan Liliana.


“Ah, tak perlu, aku baik-baik saja.” Liliana mencoba melepaskan jas yang ada di bahunya.


“Aku memaksa, Liliana.” Enzo menahan tangan Liliana yang akan melepaskan jas Enzo itu. Tatapan mereka bertemu, tangan mereka juga bersentuhan satu sama lain, dan waktu seolah berhenti untuk mereka saja.


“Maafkan aku.” Enzo melepaskan pegangan tangannya, jika di biarkan semakin lama seperti itu, akal sehatnya akan melarikan diri dari otaknya seketika. “Tapi kau harus tetap memakainya, aku tak menerima penolakan.”


Wajah Liliana sedikit memanas karena keadaan yang baru saja terjadi. Keadaan tadi benar-benar melemahkan kondisi jantungnya, detakannya sangat kencang, ia sampai takut jika Enzo mendengarnya.


“Ini acara apa?” tanya Liliana. Mengubah topik adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan, Enzo juga mulai menuntunya menuju tengah ruangan yang lebih di padati manusia. Di depan sana ada podium yang mungkin akan di gunakan sebagai tempat untuk tuan rumah acara memberi sambutan.


“Ulang tahun perusahanku, yang kebanyakan hadir adalah para karyawanku, kolega, klien, bahkan pengusaha yang hanya ingin mengenal satu sama lain.”


Liliana menganggukkan kepalanya, dan ia tak kaget lagi dengan kemewahan pesta ini yang sangat luar biasa. Keluarga Enzo dan juga Katherine memang terkenal sangat luar biasa. “Selamat kalau begitu, maaf aku tak membawakan hadiah,” ucap Liliana. Senyumnya sangat lebar, dan kali ini benar-benar tulus.


“Kau saja sudah merupakan hadiah untukku.”


“Liliana…”

__ADS_1


**


**Sampai ketemu hari senin ya :) Happy weekend, jangan lupa liburan, jangan kerja melulu, sesekali kita juga butuh istirahat. **


__ADS_2