
Double up ya. Happy reading!
***
Elle tak pernah tahu jika hidupnya akan di kelilingi dengan banyak rintangan seperti ini, sejak dulu memang sudah begitu, tapi sejak ia menjadi sekretaris Enzo, entah kenapa beban hidupnya seolah bertambah semakin banyak. Enzo dan kekuasaan serta ketenaran yang ia miliki sungguh membuat Elle memiliki semakin banyak pikiran buruk.
Sejujurnya, Elle hanya benci pria yang memiliki banyak kekuasaan seperti Enzo itu. Kemanapun pria itu pergi, pasti ada seseorang yang diam-diam mengikutinya, seperti wartawan yang memang mencari berita terkini atau hanya sekedar wartawan yang mencari berita terkini dengan bumbu-bumbu di sana sini. Sudah tak terhitung berapa banyak orang yang ingin menjatuhkan pria itu dan semua usaha yang di miliki. Sayangnya, Enzo hanya terlalu kuat dengan semua hal yang di miliki.
Lalu, masalahnya sekarang adalah, Elle terjebak dalam masalah Enzo. Foto ciuman keduanya di area parkir itu tertangkap kamera jahat yang ingin menjatuhkan Enzo dan mulai menyebarkan berita tak berdasar untuk menggiring opini publik.
Enzo sangat tenang menghadapi gosip murahan seperti itu, karena memang bukan yang pertama kali. Elle juga sama tenangnya, wajahnya sama sekali tak menyimpan kekhawatiran atau gusar, hatinya saja yang sudah
meronta-ronta sejak kemarin. Dan memang tak ada yang menyebut nama Elle secara gamblang pada berita itu. Ia hanya tak bisa membayangkan bagaimana nantinya jika identitasnya sebagai putri Danuwijaya terbongkar. Usahanya selama ini untuk bersembunyi hanya akan sia-sia saja.
“Ayo kuantar pulang.”
Elle mendongak dari meja kerjanya, dan menemukan Enzo yang sudah berdiri di depan mejanya. Tak ada ekspresi berarti di wajah itu seperti sebelumnya, membuat Elle semakin yakin jika memang ciuman mereka belakangan ini tak berarti apa-apa untuk pria ini. Memangnya apa yang ia harapkan? Enzo yang tiba-tiba mencintainya? Bahkan dalam mimpi pun, Elle tak pernah membayangkan hal seperti itu untuk terjadi.
“Saya pulang sendiri, Pak. Lagipula masih ada sedikit pekerjaan yang harus saya selesaikan,” ucap Elle tenang.
Tatapan Enzo menusuk Elle yang kembali menyibukkan diri dengan beberapa map juga kertas d mejanya, komputernya juga masih menyala. Ia seharusnya tahu jika wanita ini lebih keras kepala di banding batu karang, tapi bukan Enzo namanya jika tak berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Di bawah banyak wartawan yang masih berjaga, mereka pasti sudah menganalisis siapa dirimu. Akan lebih aman jika bersamaku.”
“Justru akan semakin ganjil jika kita pulang bersama. Memang tugas wartawan seperti itu, mereka akan mengejar siapapun tanpa henti hingga mendapatkan apa yang mereka inginkan.”
Elle masih sibuk dengan pekerjaan di hadapannya tanpa menatap Enzo sedikitpun. Seharusnya memang ia mengundurkan diri saja di banding tersiksa seperti ini, atau mungkin menerima tawaran ibunya menjadi wanita malam. Ia saja yang terlalu menjunjung tinggi harga dirinya.
“Kau juga menikmatinya waktu itu,” ucap Enzo.
Butuh beberapa saat untuk mencerna maksud dari kalimat Enzo itu. Apa ini sedang membicarakan masalah ciuman?
“Maksudmu ini juga salahku? Karena berita ini tersebar, lalu aku menjadi pelakunya?”
Kini Elle memusatkan perhatiannya pada Enzo. Lagipula siapa yang akan menolak ketika ada pria tampan yang tiba-tiba menciummu? Ya, mungkin ada beberapa yang akan menyebutmu sebagai wanita murahan, tapi faktanya, kita tak akan peduli pada sebutan itu dan hanya menerima ciuman itu seolah memang itu yang seharusnya di lakukan. Untuk apa menjadi munafik hanya karena ciuman?
“Kau menikmatinya, dan aku yang memulai, lalu gosip seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Aku pasti akan melindungimu, kau hanya perlu percaya padaku.”
“Ya, tentu saja. Kekayaanmu tak terhitung dan kau memiliki kekuasaan yang besar di tanganmu, gosip seperti itu tak akan pernah menjadi masalah untukmu. Semua orang kaya kebanyakan sepertimu.”
Perang tatapan terjadi, mereka bisa menggoreng telur hanya dengan tatapan yang mengandung amarah satu sama lain. Ini tak akan berakhir dalam waktu dekat. “Aku hanya ingin mengantarmu pulang, aku tak memiliki maksud lain. Jadi, bisakah ki—“
__ADS_1
“Dan aku sudah dengan jelas menolaknya, apa kau juga harus memaksaku. Hubungan kita tak sedekat itu untuk saling mengantarkan pulang, bahkan … ciuman itu juga,” potong Elle tegas.
Enzo tak menyukai kalimat itu, belakangan ini rasanya hubungan mereka semakin dekat, ia juga dengan sadar mencium wanita itu dua kali. Ini perasaan sebenarnya, dan ia tulus. Elle benar-benar wanita yang sangat sulit. Enzo sendiri bisa merasakan perasaan yang tersembunyi di balik wajah tenang itu.
“Apa kau selalu sekeras ini?”
“Bisakah kau—“
Kalimat itu terhenti begitu saja, ketika Enzo dengan tiba-tiba mencium Elle. Mencium, bukan mengecup, ia bahkan dengan kurang ajarnya ******* lembut bibir itu. Ciuman ketiga mereka. Hal seperti ini adalah salah satu contoh yang membuatnya lemah dan tak bisa menolak, karena ia juga menyukainya, walau di satu sisi ada rasa takut yang menelusup.
“Apa kau masih belum bisa memahami apa yang sedang kulakukan hingga kini? Apa aku harus mengatakannya dengan jelas padamu agar kau mengerti?”
**
Kehamilan Liliana kali ini tak di penuhi drama seperti kehamilan sebelumnya, mungkin beberapa drama kecil sebagai bumbu kehidupan. Berangkat ke Bandung adalah salah satu contoh drama yang sedang di hadapi Liliana dan juga Dimitri.
Setelah kemarin berbaikan, Liliana memutuskan untuk mengikuti sang suami yang memiliki pekerjaan di luar kota, lebih tepatnya Bandung. Atas ajakan Dimitri juga, dan Liliana juga sering menemani sang suami pergi kemanapun. Tak lupa dengan prinsip Liliana yang menyukai perjalanan gratis?
Jangan kira Liliana pelit karena tindakannya itu, hanya ingin mengatakan kenyataan saja, bahwa memang banyak orang menyukai perjalanan seperti ini. Jika pintar mengatur waktu bekerja dan juga liburan, maka dinas yang tadinya hanya tiga hari akan berubah menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Liliana mulai mempelajari banyak hal setelah menjadi seorang istri. Tapi, jika hanya ada ketenangan dalam perjalanan mereka, maka tak ada
keseruan di dalamnya.
“Kita cuma tiga hari di Bandung, Li. Kenapa koper kamu ada dua kayak gini?” tanya Dimitri dengan horor.
Mereka akan berkendara menuju Bandung kali ini, jika hanya naik pesawat dan duduk dengan tenang di dalamnya, apa yang seru? Perjalanan kali ini juga sudah di pastikan akan seru dan berisik, Elang tak akan ikut karena ini memang bukan untuk liburan walaupun Liliana mampu mengaturnya menjadi sebuah perjalanan liburan. Sayangnya Dimitri sudah memutuskan, dengan pertimbangan kehamilan Liliana yang juga sudah semakin membesar, sudah memasuki minggu ke dua puluh sembilan.
Dimitri sangat tahu betapa Liliana sangat telaten untuk merawat suami dan juga anaknya, tapi sepertinya kehamilan kedua ini membuat Liliana sedikit berubah menjadi sosok lain. Di tambah lagi dengan hormon kehamilan yang setiap saat membuat Dimitri pusing. Ia bukannya mengeluh, hanya terkadang semuanya terlihat berlebihan untuknya.
“Harus banget dua koper gitu, Li?” tanya Dimitri. Kali ini ia menurunkan intonasi suaranya, menjaga agar Liliana tidak tiba-tiba mengeluarkan emosinya.
“Apa harus aku tinggalin yang satunya? Aku juga ngerasa kalau ini berlebihan tadi.”
Lihat, kan? Yang tadinya Liliana sedikit sewot, kini juga berubah menjadi lembut. Kata mamanya, wanita hamil memang seperti ini, sebagai suami ia harusnya menikmati saja apa yang di lakukan sang istri. Yah, nikmati saja, karena momen seperti ini juga sangat langka.
“Yaudah, kalau kamu memang perlu bawa dua-duanya, bawa aja. Aku cuma ngeri liat kamu nyiapin dua koper kayak gini padahal kita tiga hari aja di Bandung.”
Senyum Liliana terkembang dengan lebar mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya itu. Ia lalu memeluk leher Dimitri dengan gembira. Memiliki Dimitri adalah salah satu kebahagiaan yang tak bisa di tukar dengan apapun. Tapi pasti semua suami seperti Dimitri, kan? Ia masih ingat dengan jelas bagaimana lembutnya perlakuan Reno terhadap Nabila ketika hamil dulu, kurang lebih seperti Dimitri ini.
“Maaf, ya, kamu harus ke Bandung buat nemenin aku kerja. Kamu seharusnya istirahat aja di rumah, terus makan yang banyak supaya anak kita semakin sehat di dalam sini,” ucap Dimitri. Ia mengelus perut buncit Liliana.
“Kenapa minta maaf? Aku justru seneng banget nemenin kamu sampai ke luar kota, apalagi cuman berdua kayak gini.”
Liliana semakin mengeratkan pelukannya di leher Dimitri, ia ingin semakin dekat tapi sadar jika perutnya sudah tak memungkinkan lagi. Dan, ia juga merindukan kebersamaan mereka. Ini adalah keinginan sang jabang bayi untuk selalu berada dekat dengan ayahnya. Oh, ia juga merindukan usapan lembut Dimitri di perutnya sebelum tidur, hanya hal kecil tapi sangat berarti untuknya.
“Kamu yakin? Kalau kamu marah-marah di jalan nanti karena macet gimana?” goda Dimitri.
__ADS_1
Pukulan ringan mendarat di bahu Dimitri, Liliana juga langsung melepaskan paksa pelukan itu. Dimitri justru menertawai tingkah Liliana yang di matanya sangat menggemaskan. Memang benar kehamilan itu mampu
membuat aura kecantikan wanita semakin keluar, karena Dimitri tak akan berhenti untuk mengagumi kecantikan istrinya ini, bahkan di saat sedang cemberut seperti ini.
“Itu beda, Al.”
Dimitri mencubit gemas kedua pipi Liliana yang semakin berisi itu, ia memutuskan untuk menghentikan tawanya dan segera menggiring istrinya masuk ke dalam mobil. Jika mereka bermesraan di depan rumah seperti ini, waktu mereka akan semakin terbuang, dan juga kemacetan akan semakin panjang.
**
Nabila berubah. Semenjak kecelakaan yang menimpa Aidan, ia menjadi lebih protektif pada putranya itu. Ia bahkan merelakan waktu makan siangnya hanya untuk menjemput Aidan. Bukan hanya itu yang berubah, sikapnya pada Juna juga sedikit—bukan—cukup banyak untuk Juna rasakan. Atasannya itu menjadi lebih dingin dan sangat jarang bercanda seperti biasanya.
Sejatinya, mereka berdua memang harus bersikap profesional di kantor, tapi kali ini rasanya berbeda. Nabila yang biasanya adalah Nabila yang santai tapi tegas, kini hanya ada Nabila yang tegas, dingin, dan juga kaku, beberapa candaan Juna bahkan lebih sering tak di gubris oleh Nabila. Padahal dengan karyawan lain, Nabila akan dengan suka hati menyumbangkan tawanya tanpa perlu di minta.
Terhitung sudah satu minggu sejak Nabila berubah, Juna juga mengetahui jika putra pertamanya mengalami kecelakaan. Apa ini juga karena pengaruh putranya yang kecelakaan? Tapi, kenapa hanya pada Juna saja Nabila seperti itu? Nabila juga sama sekali tak memberi Juna kesempatan untuk berbicara di luar urusan pekerjaan. Yang sudah sangat pasti, ada yang salah dengan sikap Nabila.
“Jun, aku keluar dulu jemput anakku. Kalau ada apa-apa, kamu bisa langsung hubungi aku,” ucap Nabila. Ia sudah berdiri dari duduknya dan membereskan beberapa barang yang perlu ia bawa.
Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Nabila, dan hanya itu saja waktu Juna bisa berinteraksi dengan atasannya selain urusan pekerjaan. Biasanya Juna hanya akan meminta Nabila untuk berhati-hati di jalan, tapi ia tak memiliki waktu lain lagi untuk berbicara dengan wanita ini.
“Mau aku anterin, Mbak? Kebetulan aku juga mau mampir ke rumah buat makan siang bareng Mama.”
Tentu saja bohong. Juna hanya ingin waktunya yang seperti dulu bersama Nabila, walau hanya saling melemparkan candaan sedikit, atau Nabila yang mengomelinya, itu akan sangat berarti. Juna tak bisa menghadapi diamnya Nabila, apalagi sudah satu minggu berlalu.
“Gak perlu, aku bisa sendiri. Aku duluan, ya.”
Sebelum Nabila benar-benar melangkahkan kakinya semakin jauh, Juna sudah mencekal lengan Nabila sedikit kuat. “Semua pekerjaan udah selesai, Mbak. Aku, ah, kita juga perlu bicara. Ada yang perlu di luruskan di antara kita, Mbak.”
Nabila sedikit tercengang dengan kalimat yang keluar dari bibir Juna, juga dengan cekalan tangan itu yang cukup untuk sedikit menyakitinya. Mata pria itu menunjukkan keseriusan, membuat Nabila juga tak bisa berpaling. Juna yang seperti ini sama sekali belum pernah ia tahu.
“Aku hanya akan menjem—“
“Mbak akan kembali menghindar. Ini gak akan lama, dan aku bisa menjadi supir kalian hari ini, Mbak sama sekali gak di rugikan di sini,” potong Juna.
Apa Juna merasakan jika dirinya sedang di hindari oleh dirinya? Nabila sudah sangat berusaha keras untuk melakukan semuanya seperti biasa dan berinteraksi secukupnya. Ia pikir itu cukup, tapi lihatlah sekarang ini, Juna dan wajah seriusnya yang tak pernah Nabila lihat sejak pertama kali bertemu.
“Apa maksudmu dengan kita? Memangnya kita kenapa? Kita hanya rekan kerja, apa kamu merasa di rugikan dengan sikapku selama ini denganmu? Jika benar begitu, kamu bisa langsung mengatakannya pada bagian personalia untuk pindah departemen,” ucap Nabila.
Juna tak menyangka jika kalimat itu yang akan di katakan oleh Nabila. Sepertinya selama ini hanya ia yang menyukai Nabila secara sepihak, tapi beberapa kali ia yakin jika Nabila juga menyimpan sesuatu di hatinya yang
belum bisa ia ungkapkan. Tak salah jika ia menganggap sesuatu yang belum di ungkapkan itu dirinya, kan?
“Kuharap kamu tidak melewati batas sebagai rekan kerja. Aku merasa kita sama sekali tak memiliki masalah, tapi kalau kamu memang merasa seperti itu, kamu bisa langsung menemui bagian personalia,” lanjut Nabila lagi.
Nabila langsung melepaskan cekalan tangan Juna dan berlalu dari tempat itu. Ia memang sengaja menghindari Juna, agar sesuatu di dalam hatinya ini tak semakin membuncah lalu ia akan menyakiti Juna dan juga dirinya. Keduanya tak akan mampu bertahan, hubungan apapun tak akan berjalan baik, kecuali rekan kerja seperti ini.
__ADS_1
**