
Happy reading^^
Liliana menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Ini adalah salah satu hal yang tak bisa ia percaya begitu saja, dari semua hal yang mungkin saja terjadi. Tak ada rencana sebelumnya, dan ia memang membiarkan semuanya berjalan seperti yang semestinya. Alat tes kehamilan yang ia pegang menampilkan dua garis merah, yang siapapun juga tahu jika itu artinya ia positif hamil. Kehamilan keduanya.
Ini hal yang membahagiakan tentu saja, dan sangat tak terduga. Sekarang ia menemukan alasan dari semua emosinya yang sangat naik turun, Dimitri bahkan menjadi korban atas semua itu. Masih pukul tiga sore, dan Dimitri biasa pulang kantor di antara jam-jam ini. Paling lama ia akan pulang pukul lima sore, tak pernah lewat dari jam itu. Sedikit demi sedikit, kepercayaan terhadap sang suami mulai tumbuh.
Kira-kira akan seperti apa reaksi Dimitri? Sudah pasti senang, kan? Jika tidak, maka ia akan benar-benar kabur lagi, ke Jerman mungkin. Bercanda. Liliana tak akan kabur lagi, untuk alasan apapun. Ia sudah setua ini, dan untuk kembali memikirkan untuk kabur setiap ada masalah yang muncul rasanya sangat kekanakan. Itu memang salah satu cara Liliana dalam mengatasi suatu masalah, tak semua orang bisa langsung mengahadapi masalah dengan terbuka dan kepala dingin, kan?
Mungkin ia akan memberi sepuluh bintang pada Nabila karena menjadi salah satu orang yang mampu menghadapi masalah dengan kepala dingin. Liliana tahu jika itu tak mudah, dan seperih apa yang sedang Nabila rasakan saat ini, pasti tak mudah. Untuk semua keberanian dan ketegaran Nabila, Liliana selalu mendoakan semua yang terbaik untuk Nabila.
Berita membahagiakan ini rasanya akan sangat indah di bagi dengan Nabila, sahabatnya itu selalu menjadi tempat kedua setelah Dimitri untuk mendapat kabar bahagia seperti ini. Untuk kali ini, mungkin Liliana harus menunda dulu. Kabar ini tak akan cocok untuk di sampaikan sekarang ini pada Nabila.
Berkas perceraian keduanya sudah masuk ke pengadilan, hanya tinggal menunggu surat panggilan dari pengadilan saja. Sudah tak ada harapan untuk mediasi, karena Nabila sudah menolaknya. Ia benar-benar ingin perceraian itu cepat terjadi, sama seperti yang di lakukan Liliana dulu.
Semuanya terjadi dengan sangat cepat, pernikahan enam tahun mereka berakhir hanya dalam waktu tak lebih dari satu bulan hingga menanti masa sidang. Terasa lebih menyakitkan dari apapun yang pernah Liliana lalui, karena kisah mereka yang sangat jauh dari kata pertengkaran dan hal-hal yang mengikutinya.
Tak lama, terdengar suara deru mesin mobil yang masuk ke pendengaran Liliana. Itu pasti Dimitri. Dengan langkah ringan, ia menuruni tangga dengan perlahan untuk menyambut sang suami dengan berita bahagia ini. Tepat ketika Liliana sampai di anak tangga terakhir, Dimitri baru saja membuka pintu depan.
“Kamu kenapa senyum-senyum gitu?” tanya Dimitri.
Senyum belum pudar dari wajah Liliana, ia hanya menghampiri Dimitri lalu memeluk sang suami dengan erat. Tak ada kalimat di antara mereka, pelukan itu sudah menggambarkan segalanya.
“Kamu kenapa?” tanya Dimitri lagi.
Akhirnya Liliana melepaskan pelukan itu, tapi masih mengalungkan kedua lengannya di leher Dimitri, masih juga dengan senyum yang terkembang di wajahnya. “Aku punya hadiah buat kamu,” ucap Liliana.
Dimitri menaikkan alisnya, masih menanti Liliana untuk melanjutkan kalimat apapun yang akan di sampaikan itu. Alih-alih mengatakan, Liliana justru merogoh sakunya dan hanya memperlihatkan alat tes kehamilan tadi pada Dimitri. “Ini punya kamu?” tanya Dimitri.
Liliana memutar bola matanya, memangnya ada siapa lagi di rumah ini selain dirinya? Tak lucu jika saat ini membawa alat tes kehamilan milik tetangga sebelah, untuk apa juga? Ini tak seperti yang di bayangkan Liliana tadi, ia pikir Dimitri akan tiba-tiba tertawa girang dengan apa yang baru saja di tunjukkan.
“Kamu gak punya reaksi lain?” tanya Liliana dengan wajah yang tertekuk.
Senyum jahil terbit di wajah Dimitri. Ia bahagia tentu saja, sangat bahagia. Tapi melihat ekspresi wajah Liliana saat ini mampu membuatnya gemas sendiri. Siapa sangka jika istrinya ini bisa juga bertingkah menggemaskan? Atau ini hanya karena hormon kehamilannya saja?
Dimitri memagut bibir Liliana dengan tiba-tiba, ia tak tahan jika hanya menyaksikan bagaimana istrinya bersikap menggemaskan seperti ini. “Kamu tahu, milikin kamu lagi adalah anugerah yang selalu aku syukuri setiap saat. Sekarang Tuhan ngasih aku sesuatu yang aku sendiri gak pernah nyangka, teriak-teriak seneng rasanya gak cukup buat gambarin perasaan aku sekarang,” ucap Dimitri.
Mata keduanya saling beradu, tenggelam dalam netra masing-masing, mencoba untuk saling menyelami dan berbagi perasaan masing-masing. “Kamu bahagia?” tanya Liliana.
“Lebih dari bahagia, kamu dan Elang adalah sumber kebahagian aku, dan sekarang kamu menambah daftar panjang kebahagian aku,” ujar Dimitri. “Terima kasih udah mau kembali lagi padaku, aku gak pernah merasa cukup sama ucapan terima kasihku ini.”
“Aku mencintaimu.”
__ADS_1
“Mau merayakannya?”
Liliana menaikkan alisnya kini. “Elang masih tidur, kan?” Dimitri melihat jam tangannya sebentar. “Kita masih punya waktu sekitar setengah jam buat ngerayain.”
Tanpa menunggu jawaban Liliana yang masih memproses ucapan Dimitri, ia segera mengangkat Liliana dalam gendongannya yang membuat Liliana tertawa kecil karena mulai menangkap apa yang di maksud oleh Dimitri. Tentu saja, itu akan menjadi bentuk perayaan yang sempurna.
**
“Kau tak bisa menyentuh sembarang wanita dengan seenaknya,” ucap Enzo dingin.
“Aku tak memiliki masalah denganmu, Bung. Jangan mengaturku untuk menyentuh siapapun,” balas pria Eropa tadi dengan sinis.
“Aku juga tak peduli kau akan menyentuh siapapun, pengecualian untuk wanita ini.”
Elle menatap Enzo dengan terkejut dan juga was-was, semua ini di luar kendalinya, termasuk bertemu dengan pria Eropa ini. Tak lucu jika Enzo akan mengetahui semua masalah Elle dari pria ini.
“Begitu.” Pria itu menaikkan kedua tangannya di udara sebagai tanda menyerah, lalu berlalu di hadapan keduanya
dengan senyum misterius di bibirnya.
Pikiran Elle tentang malam itu belum menghilang sepenuhnya dari kotak memori otaknya. Malam itu berakhir dengan baik, tapi tetap saja membuat Elle semakin merasa kalut, entah untuk apa. Bukan, ia tak sedang memikirkan berbagai kemungkinan apakah Enzo menyukainya dan ada apa dengan perlakuan baiknya malam itu. Masalahnya lebih rumit di banding kisah roman picisan yang di idolakan oleh berbagai kalangan itu.
Mungkin jika Elle memiliki banyak waktu senggang, ia akan memikirkan kemungkinan seperti itu, saat ini ia sama sekali tak memiliki waktu untuk sekadar jatuh cinta. Dan ia harus tetap menghadapi Enzo, yang sudah sangat pasti mengetahui fakta bahwa ia adalah putri tunggal Danuwijaya.
Hal itu sudah berjalan sejak satu minggu yang lalu sejak pesta itu berakhir, sejak saat itu pula Enzo tak mengomentari apapun dan hanya bekerja seperti biasanya. Apa yang sebenarnya Enzo pikirkan ketika mengetahui fakta itu? Hanya itu yang ingin Elle ketahui.
Hanya anggukan yang di berikan Enzo, bahkan ketika Elle beranjak keluar dari ruangan itu, Enzo masih fokus pada laptop di hadapannya.
“Apa benar kau adalah putri tunggal Danuwijaya?” tanya Enzo akhirnya.
Elle membalikkan tubuhnya, mengurungkan niat untuk keluar dari ruangan itu. “Apa yang akan Bapak lakukan jika memang benar saya adalah putri Danuwijaya?”
Enzo hanya mengangkat bahunya, ia hanya ingin tahu dan tak memiliki maksud lain. Untuk beberapa kesempatan dulu, ia pernah bekerja sama bersama Bramantyo Danuwijaya, dan semuanya berjalan lancar karena Danuwijaya juga sangat kompeten dalam menjalankan apapun yang ia miliki.
“Ayahmu orang yang hebat, aku hanya tak menyangka jika putrinya sekarang bekerja di perusahaanku," jawab Enzo.
Elle tak menyangka justru kalimat itu yang di lontarkan Enzo, ia berpikir akan banyak kalimat makian yang di tujukan untuk sang ayah. Karena selalu seperti itu sejak kematian sang ayah, seolah kematian adalah hal buruk yang di lakukan, juga karena ada rumor buruk yang mengikuti setelah kematian itu terjadi dan perusahaan sang ayah di nyatakan bangkrut.
Jika Enzo mengetahui tentang sang ayah, bukan tak mungkin jika Enzo juga mengetahui tentang sang Ibu. Bukan perpaduan yang baik, memang tak seharusnya Elle menerima pekerjaan ini jika ingin memulai kehidupan baru. Jika sudah seperti ini, semua sifat Enzo kemarin bisa di maklumi oleh Elle, tentang kenapa pria itu membelanya. Semuanya menjadi jelas saat ini.
“Kalau begitu saya permisi, Pak.”
“Kita pernah bertemu sebelumnya.”
Kembali, kalimat Enzo menghentikan langkah Elle yang sebentar lagi akan mencapai pintu itu. Ia kembali membalikkan tubuhnya untuk menatap Enzo lagi, ia tak peduli jika pernah dan tak pernah bertemu dengan pria ini. Semua itu tak akan mengubah keadaannya saat ini, Elle hanya semakin ingin segera mengundurkan diri dari
__ADS_1
perusahaan ini.
“Di pemakaman, dua tahun lalu.”
“Pemakaman?” Elle bertanya pada dirinya sendiri. Satu-satunya waktu ia pernah datang ke pemakaman adalah dua tahun lalu ketika Ayahnya meninggal, steelah itu ia tak pernah menginjakkan kaki di pemakaman lagi. “Maaf, tapi saya tak mengingat hal yang terjadi dua tahun lalu.”
Enzo hanya menganggukkan kepalanya dangan senyum kecil, membuat Elle kembali bertanya-tanya dengan apa yang coba di sampaikan atasannya ini. Sepertinya ia juga tak akan peduli. Elle kembali membalikkan tubuhnya, kali ini ia benar-benar keluar dari ruangan itu dengan hati yang kembali bertanya-tanya. Apa Enzo juga datang ke pemakaman sang ayah? Tapi, ia tak pernah bertemu wajah yang mirip dengan Enzo. Untuk kalian semua ketahui, ingatan Elle adalah yang terbaik.
Hari ini, ia hanya akan bekerja hingga mampu melupakan apapun yang saat ini sedang ada di kepalanya.
**
Sudah tahu, kan, bagaimana keadaan seorang pria yang sedang patah hati? Kalian pasti sudah sering melihat Dimitri dalam keadaan seperti ini, saat ini Richard yang sedang menghadapi fase tersebut. Tak terlalu menyedihkan jika melihat keadaan Richard, karena ia hanya mampu duduk di ruang kerja apartemennya dengan cangkir teh yang ada di genggaman tangannya.
Teh, Richard benar-benar melakukan hal itu, ketika seharusnya para pria yang sedang patah hati justru menenggak bir, wiski, vodka, atau bahkan anggur. Richard bukan pria peminum, bukan tak bisa. Ia hanya tak ingin berakhir dengan melakukan hal aneh ketika selesai dengan semua minuman alkohol itu.
Ia sedih dan juga kecewa, berharap minuman hangat ini bisa menenangkan pikiran dan juga hatinya. Sangat konyol memang, ya tertawakan saja Richard saat ini karena ini juga pertama kalinya ia mengalamai kekonyolan seperti ini. Di putuskan setelah menjalin hubungan selama tiga tahun.
Dalam keadaan saat ini, kembali ke Indonesia adalah hal terbaik, karena ia memiliki Dimitri sebagai tempat untuk mencurahkan rasa kalutnya saat ini. Setidaknya pria itu harus membayar untuk semua yang ia lakukan ketika sedang menangisi Liliana. Menjadi tempat curahan hati pria patah hati adalah hal yang cukup buruk untuk Richard, dan Dimitri harus merasakan hal-hal seperti itu sekali dalam hidupnya. Agar ia tahu bagaimana rasanya menjadi Richard dulu.
Tapi ia juga belum bisa melakukan hal itu, ia masih memiliki pekerjaan yang harus di selesaikan sebelum kembali ke Indonesia. Tebak pekerjaan apa yang akan ia lakukan? Siang ini ia akan mengadakan rapat dengan Kate untuk membahas proyek gabungan yang mereka tangani. Rapat itu sudah di jadwalkan bahkan jauh sebelum kata putus ada di antara mereka, jadi ini bukan kebetulan.
Richard tak bisa mencari orang lain untuk mewakilinya, lagipula akan sangat pengecut jika ia tak bisa menghadapi mantan tunangannya sendiri. Jika rapat ini berjalan dengan baik, ia akan segera kembali ke Indonesia. Ia juga butuh udara segar untuk menjernihkan pikirannya saat ini. Jadi, ia segera menyambar jasnya untuk keluar dari apartemen dan bertemu dengan mantan tunangan yang sangat ia cintai.
“Pembangunan akan di mulai dalam tiga hari, dan semuanya akan di pantau secara berkala, termasuk bagaimana dengan penggunaan dana yang mereka kelola,” ucap seorang wanita pertengahan empat puluh yang menjabat sebagai kepala keuangan di perusahaan Kate.
Kate juga ada di ruangan rapat itu, tampak serius mendengar penjelasan yang di sampaikan, begitupun dengan Richard. Profesional ketika sedang patah hati, lalu saling berhadapan seolah tak ada masalah yang terjadi adalah hal buruk yang sangat sulit untuk di lakukan. Beberapa kali Richard mencuri pandangan terhadap wanita itu.
Mereka tengah membicarakan tentang pembangunan real estate di kawasan Kronberg, dan tugas mereka adalah memantau aliran dana yang di gunakan. “Aku akan berada di Indonesia selama dua minggu ini, laporan yang masuk bisa langsung di sampaikan pada Katherine atau sekretarisku,” ucap Richard.
Semua yang ada di ruangan itu hanya mengangguk mengerti, termasuk Kate yang juga menyimak kalimat itu. Ia sangat tahu jadwal kepergian Richard ke Indonesia, dan ini tidak termasuk pada jadwal yang sudah ia tetapkan. Apa karena kalimat Kate kemarin?
Rapat itu berakhir beberapa menit kemudian. Richard terlihat membereskan beberapa berkas yang ia bawa, terlihat sama sekali tak terganggu dengan kehadiran Kate di sini. Juga tak terlihat tanda-tanda Richard yang terlihat sedih atau murung, ia benar-benar terlihat biasa. Apa hanya Kate saja yang merasakan rasa bersalah memenuhi dirinya? Tentu saja, ia yang memutuskan Richard dengan kejam.
“Richard,” panggil Kate.
Hanya tersisa mereka di ruangan itu, Richard juga hampir berlalu dari ruangan itu jika Kate tak memanggilnya. “Ada apa?”
Kate hanya menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap Richard. “Apa ada yang ingin di sampaikan lagi?” tanya Richard lagi.
Pada akhirnya Kate menatap Richard dengan keberanian penuh dan tersenyum kecil. “ Tak ada. Semoga perjalananmu ke Indonesia menyenangkan.”
Richard memberikan anggukan kecil sebelum berlalu dari ruangan itu. Hanya seperti itu saja, dan semuanya kembali terasa asing untuk keduanya. Perasaan menyenangkan ketika menyebut nama satu sama lain biasanya meninggalkan kesan manis di hati mereka, tapi kini perasaan itu seperti hilang. Tergantikan dengan rasa asing
yang mulai menyelimuti mereka.
__ADS_1
**