
Gak mau ngomong apa-apa, happy reading aja ya^^
Richard duduk bersama Dimitri di kafe yang sudah menjadi kantornya di Jerman. Pria itu sudah mengetahui apa yang terjadi padanya dan Liliana, ia juga tak menyangka dengan apa yang terjadi. Dimitri benar-benar mahir menyembunyikan semua hal yang sedang terjadi, perceraian itu seperti benar-benar terjadi, padahal sebenarnya tak pernah terjadi.
“Kamu tahu bakal kayak apa reaksi Liliana, kan? Dan kamu masih ngelakuin itu?” tanya Richard. Ia pikir mereka sudah kembali dekat seperti dulu, tapi masih ada yang Dimitri sembunyikan, ia hanya tak habis pikir saja. Pria yang bisa di bilang sangat mengetahui sifat si wanita, dan ia tetap melewati batas.
“Ya, kupikir semuanya akan baik-baik saja, ternyata perkiraanku tetap meleset.”
Pertemuan kemarin benar-benar melemahkan hati dan pikiran Dimitri, Liliana dengan wajah penuh tangisan dan juga suara putus asanya meminta cerai. Apa lagi yang lebih buruk dari ini? Masalahnya ia sangat sadar dengan kesalahan yang ia buat, tapi masih belum terlalu peka untuk menyadari yang sedang terjadi.
“Lagipula itu memang salahmu, aku tak bisa membela lagi. Terus, apa rencana kamu?”
Dimitri menggeleng, rencana yang ia miliki hanya sebatas kembali meyakinkan Liliana bahwa ia sudah berubah. Ia bisa melakukan usaha sekuat tenaga untuk membuktikan itu, tapi saat ini pun, ia tak yakin jika Liliana ingin menemuinya. Hanya Elang satu-satunya alasan ia bisa menemui Liliana, tapi ia juga tak yakin apa wanitanya itu mau menerima alasan ini.
Wanitanya? Seandainya ia masih bisa dengan bebas menyebut kepemilikan itu.
“Apapun itu, aku yakin gak akan mudah. Pria yang kemarin sama Liliana, dia pengusaha yang punya pengaruh besar di Jerman, aku gak yakin kamu bisa lolos dari dia. Kalo bener Liliana punya hubungan sama pria itu, kesempatan kamu tipis, bahkan mungkin gak ada.”
Pria itu, siapa namanya kemarin? Enzo? Dimitri juga tahu jika ada darah Indonesia dari pria itu, bukan hanya dari segi ekonomi ataupun kekayaan, tapi pria itu juga pasti lebih memiliki keunggulan. Orang baru adalah obat yang paling cepat untuk menyembuhkan luka yang ia buat, seperti itulah aturan alam untuk hati.
“Aku akan menyelesaikan pekerjaanku lebih dahulu, setelahnya, aku akan memikirkan jalan keluar untuk masalah ini. Aku masih harus berada di sini dua bulan lagi,” ucap Dimitri.
Richard menganggukkan kepalanya, ia juga ingin lebih lama berada di sini bersama Dimitri, bukan untuk mendampingi sahabatnya ini. Masih ada urusan yang belum terselesaikan olehnya, wanita sudah dua kali ia temui, tapi masih belum juga mengetahui namanya. Ia bisa saja mencari tahu, sangat mudah melakukan itu, tapi tak ia lakukan, ia ingin mendapatkan tantangan lebih banyak.
Anggap saja ia cukup tertarik dengan wanita itu, gaya bicaranya yang sangat ketus, kadang menggoda, kadang menarik ulur, entahlah, Richard sangat menyukai wanita tipe seperti itu. Wanita yang sangat mudah di dapatkan tak menantang untuknya, seharusnya kemarin ia paksa saja gadis itu, bukan malah jual mahal, yang membuatnya sedikit uring-uringan pagi tadi karena memikirkan wanita itu semalaman.
“Ada apa, Richard? Kamu senyum-senyum sendiri.”
Lamunan Richard seketika buyar mendengar ucapan Dimitri, bayangan Richard tentang wanita itu seketika hilang begitu saja. Kapan ia akan bertemu wanita itu lagi?
“Aku juga sedang berusaha untuk mendapatkan hakku sebagai pria,” ucap Richard ketus.
Dimitri menaikkan alisnya dengan bingun, hak pria? Jenis kalimat apa yang sebenarnya di gunakan Richard ini? Menurutnya, hanya ia saja yang sedang menderita, sepertinya Richard juga sedang berjuang.
**
“Jelaskan padaku apa yang terjadi!”
Prabowo Gioto melemparkan beberapa foto di atas meja kerjanya, semuanya adalah foto Enzo dan Liliana yang sedang berdua secara sengaja dan tak sengaja, bahkan ada foto ketika Enzo mengggendong anak Liliana. Enzo sudah tak heran dengan semua itu, Ayahnya akan terus mencampuri urusan pribadinya secara tak langsung. Kehidupan pribadi Enzo sangat tak bebas.
“Bukankah Ayah sudah tahu? Perlukah penjelasanku lagi? Orang suruhan Ayah sudah pasti menceritakan segalanya dengan rincian yang sangat rinci.” Enzo menatap lurus tepat ke mata sang Ayah, sudah tak ada ketakutan seperti dulu ketika ia remaja.
“Kau menolak Leah hanya karena wanita ini? Kau tahu berapa banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan jika kau menikah dengan Leah?”
__ADS_1
Segala hal tentang Prabowo Gioto adalah uang dan keuntungan, bahkan hingga perusahaannya berkembang dengan pesat seperti saat ini ia masih belum puas. Ia selalu ingin berada di atas apapun yang terjadi, dan Enzo selalu menjadi korban dari seluruh keserakahan pria paruh baya itu. Tak ada yang bisa menghentikan pria ini dari apapun, beruntung belum ada cara licik yang bocor hingga ke publik. Kehidupan bisnis tak pernah lepas dari sisi gelap.
“Aku bahkan bisa melakukan segalanya dengan baik tanpa menikahi Leah, tolong biarkan aku sendiri. Aku tak pernah meminta apapun sejak dulu, tak bisakah bebaskan aku sekali ini saja?”
Anggapan bahwa usia yang semakin bertambah membuat kita semakin dewasa sangat salah. Usia tak menentukan kedewasaan seseorang, usia hanya angka, dan itu berlaku untuk Prabowo Gioto, pria Indonesia yang sudah mengubah kewarganegaraannya menjadi Jerman untuk memudahkan segala urusan dann usaha yang ia miliki.
Pria ini memiliiki otak yang sangat cerdas, dan kadang juga licik. Itulah awal yang membuat ia bisa sesukses saat ini, dan banyak orang yang mengakui hal itu, ia juga cukup di segani oleh warga Jerman sendiri dan para pebisnis lainnya. Enzo melakukan hal yang sama, ia hanya tak bisa mentolerir ketika Ayahnya mulai mengurusi urusan pribadinya.
“Jadi ini alasanmu menetap di Frankfurt?” tanya sang Ayah.
Enzo tak menjawab, jawaban itu sudah sangat jelas tanpa perlu di katakan lagi, tatapannya masih lurus menatap pria yang sangat mirip dengannya, tapi versi lebih dewasa.
“Putuskan hubungan apapun dengannya, Ayah akan mengatur kencan lain untukmu.”
“Sampai kapan? Sampai kapan Ayah akan seperti ini? Aku tak akan pernah menerima perjodohan apapun yang Ayah siapkan, segalanya baik-baik saja selama ini bahkan tanpa aku menikahi siapapun.”
“Kau sangat pintar, hingga membuatku melakukan semua ini. Apakah kau tak pernah belajar dari masa lalu? Kau ingin kejadian Cecilia terulang lagi?”
Enzo seperti kembali di sadarkan oleh sesuatu ketika Ayahnya menyebut nama mantan kekasih yang sangat di cintainya—dulu—yang menghancurkan hidupnya dalam sekejap. Beberapa kali Enzo masih mengingat wanita itu, tapi tak pernah lebih jauh, ia sudah sangat membenci wanita itu.
“Liliana berbeda dari wanita itu.”
“Dia menjadi pramuniaga di salah satu cabang, lalu memiliki anak yang tak di ketahui siapa Ayahnya, dan kau menginginkan dia menjadi istrimu. Apa kau lupa seberapa licik rekan bisnismu? Mereka bisa menghancurkanmu dengan mudah jika sudah melihat celah yang sangat potensial.”
Enzo hanya menatap Ayahnya untuk beberapa saat. “Anggap saja percakapan ini tak pernah terjadi.” Setelahnya, Enzo langsung keluar dari ruang kerja Ayahnya. Jika ia berada di dalam sana lebih lama, ia tak tahu apa yang akan terjadi, batas kesabaran yang ia miliki tak sebanyak itu untuk mengalah pada sang Ayah.
Langkah Enzo terhenti ketika ia hampir berjalan menuju pintu depan, sang Ibu sudah berdiri dengan anggun di ujung tangga, menatapnya dengan lembut. Kebalikan dari sang Ayah, Carra Meyer adalah wanita terlembut, dan Ibu terbaik yang pernah Enzo miliki. Terkadang ia sangat heran, kenapa sang Ibu ingin menikahi Ayahnya yang sangat berbeda jauh dari segi sifat itu.
“Ibu.” Enzo berjalan menuju lengan Carra yang terbuka, bersiap untuk memeluk sang putra yang juga sangat jarang mengunjunginya.
“Kau sangat jarang berkunjung kemari,” ucap Carra.
Enzo tersenyum di pelukan sang Ibu. “Maaf, Bu, pekerjaan di kantor sangat banyak.”
Carra mengeratkan pelukannya di punggung sang putra. Ia sangat tahu apa yang terjadi antara sang putra dan suami, sebagai satu-satunya wanita di tengah keluarga dan pertikaian yang tak ada habisnya, Carra hanya mampu memeluk sang putra seperti ini. Ia tahu bagaimana kerasnya sifat suami yang tak ingin di bantah itu.
“Menginaplah malam ini, Ibu sudah memasak makan malam.” Carra melepaskan pelukan mereka, dan menatap Enzo yang sangat tampan itu.
Bagaimana Enzo bisa menolak permintaan lembut sang Ibu yang sangat ia hormati? Ada satu hal yang tak bisa di lewatkan begitu saja dalam keluarga ini. Walau Prabowo Gioto sangat keras kepala dan keputusannya tak bisa di ganggu gugat, tapi Carra Meyer juga memiliki keputusan mutlak yang tak satupun dari kedua pria itu untuk menolak. Dalam artian, sepasang suami istri itu saling mencintai satu sama lain, dan menghargai keputusan satu sama lain juga. Keduanya memiliki cara yang berbeda dalam dalam menyayangi putranya, tapi tetap bisa berdampingan.
“Apa aku harus mengajak Katherine kemari? Paman Anthony dan Bibi Allison sudah pulang ke Berlin, kan?” usul Enzo.
“Ide bagus.”
**
__ADS_1
Setelah pertemuannya dengan Dimitri kemarin, Liliana sempat berpikir untuk kembali meninggalkan Jerman, dan melarikan diri kemanapun asal ia tak bertemu dengan Dimitri lagi. Melarikan diri sudah seperti hobinya saat ini, ia tak bisa bertahan dari masalah ini lebih lama lagi, untuk dirinya ini semua terlalu berlebihan.
Tapi, ia juga tak ingin menjadi pengecut yang terus-terusan lari dari masalah, rasa lelahnya semakin bertambah berkali-kali lipat dan tak ada hasil yang ia dapatkan dari semua itu. Saat ini, ia akan menghadapinya dengan lapang dada, karena memang ini harus di hadapi bagaimanapun keadaannya. Masalah tak pernah datang dengan persiapan matang, tak bisa di prediksi akan seperti apa sebesar apa, atau mungkin akan semudah apa.
“Liliana, ada yang menunggumu sejak tadi,” ucap salah satu pramuniaga yang berganti shift dengan Liliana.
Wanita itu menunjuk mobil hitam yang yang terparkir di depan toko, bahkan pria yang kemungkinan besar sebagai pemilik mobil itu sudah berdiri membelakangi Liliana. Itu Dimitri. Liliana masih sangat ingat postur tubuh pria itu, lucu dan menyedihkan dalam satu waktu. Apa sesulit itu melupakan semuanya?
Setelah berpamitan dengan karyawan lainnya, Liliana segera keluar dan menyapa pria yang menunggunya. Menyapanya lagi setelah tiga hari yang lalu mereka baru bertemu dan membagikan emosi yang terpendam. Bagaimanapun, mereka masih suami istri yang sah, hanya saling menginginkan dan tak menginginkan.
“Ada apa?” tanya Liliana. Tanpa basa basi sedikitpun yang membuat Dimitri sedikitt salah tingkah.
Dimitri selalu merasakan jantungnya yang berdetak dengan kencang ketika akan menemui Liliana dan sudah berdiri di hadapan Liliana seperti ini. Akan sangat membahagiakan jika Liliana juga merasakan hal yang sama, dan itu seperti memiliki harapan kosong. Dimitri tahu jika itu sia-sia, tapi ia masih tetap mengharapkan hal itu.
“Aku ingin bertemu dengan Elang, apa boleh?”
Liliana menatap Dimitri, ini tentu saja bukan hanya tentang Elang. Ia ingin menjawab ‘tidak’, tapi ia juga masih memiliki hati yang tak mungkin sanggup untuk mengatakan hal itu. Di antara tumpukan masalah dan juga perasaannya yang tak menentu, ia masih memiliki hati nurani untuk mempertemukan anak dan Ayah itu. Memang seperti itu, kan, perasaan seorang Ibu?
Keduanya berkendara dalam keadaan yang sangat hening, hanya suara radio dalam bahasa Jerman yang mengisi keheningan itu. Liliana tak ingin memulai pembicaraan, dan Dimitri yang tak tahu harus mengatakan apa. Dimitri tak ingin mengatakan sesuatu yang mampu membuat Liliana semakin membencinya.
Setelah sampai di gedung apartemen, Dimitri di minta untuk menunggu di taman yang berada di depan gedung itu selagi Liliana mengambil Elang di tempat sang pengasuh. Elang memang bukan satu-satunya alasan ia menemui Liliana, bahkan jika ada seribu alasan untuk menemui Liliana, Dimitri akan mengatakannya.
Tak lama kemudian, Liliana muncul dengan kereta bayi dengan Elang yang terjaga di sana, bayi kecil itu bahkan beberapa kali berteriak kegirangan. Entah karena bayi itu tahu tentang Ayahnya, atau hanya karena angina sore yang cukup segar.
“Dia baru saja bangun tidur, energinya masih sangat banyak jika kau ingin mengajaknya bermain,” ucap Liliana.
“Aku boleh menggendongnya? Apa caranya masih sama seperti kemarin?”
Liliana hanya menganggukkan kepalanya, dan Dimitri dengan senyum lebar mulai mengangkat putra kecilnya itu dalam gendongan. “Apa tak masalah jika aku mengajaknya bekeliling taman ini?”
Lagi, Liliana hanya menganggukkan kepalanya. Ia menatap Elang yang cukup tenang di dalam gendongan Dimitri, bayi itu memang tak rewel dan sangat tenang dalam gendongan orang asing, Liliana bersyukur untuk yang satu itu. Kadang ia sempat berpikir, bagaimana jika nanti anaknya bertambah besar dan mulai penasaran dengan banyak hal, seperti yang sering ia lihat dan di ceritakan oleh para tetangganya.
Anak kecil tak pernah berbohong, dan selalu dalam mode penasaran dan ingin tahu banyak hal. Itu yang sering di ceritakan para tetangganya, Liliana selalu bertanya-tanya tentang anaknya yang nanti juga akan mengalami fase itu. Bagaimanapun, peran ayah juga sangat penting dalam tumbuh kembang putranya, tapi Liliana juga tak bisa bersama Dimitri lagi. Semuanya akan menjadi sangat rumit nantinya.
Semua hal itu belum terjadi, tapi Liliana sudah memiliki banyak pikiran sejak sekarang. Lalu melihat Elang yang berada dalam pelukan Dimitri tadi, rasa hangat mengalir di hatinya, ia merasa sedikit bebannya terangkat. Tapi, tak
semudah itu, kan? Ia sangat sensitive belakangan ini, hal kecil saja mampu membuatnya menangis bahagia dan menangis dengan penuh kepedihan saat ini.
Setelah dua puluh menit berlalu, Dimitri kembali bersama dengan Elang yang terlihat sangat penuh energi, dan berteriak dengan bahasa yang tak di mengerti oleh siapapun.
“Sepertinya ia bertambah gemuk sejak pertama aku bertemu dengannya, tanganku cukup keram dengan dia yang sangat aktif,” ucap Dimitri. Ia duduk di samping Liliana bersama dengan Elang yang masih di pangkuannya.
Liliana hanya memberikan senyuman tipis, ia tak berniat melakukan apapun untuk membalas ucapan Dimitri.
“Aku sudah memikirkan semuanya, setelah pekerjaanku selesai di sini, ayo kembali ke Indonesia dan menyelesaikan perceraian kita.”
__ADS_1
**