Playboy

Playboy
#2. Regret


__ADS_3

Happy reading^^



**


Dimitri tak pernah menyangka kalau rumah tangganya akan benar-benar kandas dalam waktu yang singkat. Awalnya memang Dimitri yang mengusulkan hal itu, demi kebaikan kedua belah pihak, atau hanya demi kebaikannya sendiri? Entahlah, hanya Dimitri yang mengetahui dengan jelas hal itu. Ketika pada akhirnya Liliana yang mengajukan perceraian itu, dunianya hancur.


Ia memang hanya pria egois yang hanya berharap bisa memiliki segalanya, ia mencintai Liliana sangat banyak. Pada akhirnya ia sendiri yang menghancurkan itu, hanya karena kesalahan kecilnya. Harusnya ia sangat tahu apa yang sudah ia lakukan pada Liliana sebelumnya. Kali ini rasa sakit yang Dimitri terima berkali-kali lipat lebih sakit di banding pertama kali ia kehilangan Liliana juga.


Bukan hanya Liliana yang membencinya, orang tua Liliana juga melakukan hal yang sama. Bahkan sekarang Liliana kembali pergi, tak ada satupun yang tahu kemana perginya istri—mantan—itu, mungkin Nabila tahu, hanya tak ingin memberitahu Dimitri saja.


Bisakah ia kembali bertemu dengan Liliana secara tak sengaja seperti dulu lagi? Dan ia juga sangat yakin kalau anaknya kini telah lahir. Satu dari sekian hal yang semakin membuat hatinya menghangat dan juga nyeri di saat bersamaan. Andai saja Liliana bisa menunggunya lebih lama sedikit saja, mungkin kini mereka masih bersama.


Sampai saat ini pun perasaan Dimitri pada Liliana masih sama, cintanya juga masih sama seperti yang dulu.


“Masih mikirin Liliana?”


Dimitri mendongak, dan menemukan Richard yang sudah berdiri di hadapan meja kerjanya. Entah kapan sahabatnya itu masuk, lamunan Dimitri terlalu dalam untuk menyadari kedatangannya.


Richard saat ini sudah praktis tinggal di kantor Dimitri, saking seringnya ia berkunjung. Semua itu bukan tanpa alasan, Richard hanya tak ingin jika pria bodoh di hadapannya ini melakukan hal yang bodoh lagi. Bunuh diri, misalnya? Tapi itu hanya contoh, pria se-rasional itu tak mungkin memutuskan sesuatu sebodoh itu


Tak ada jawaban dari Dimitri, ia masih fokus pada tulisan—tulisan di kertas yang tengah ia pegang. Ia hanya mengangkat bahunya, tanda kalau ia tak ingin menjelaskan apapun. Tanpa di jawab pun, wajah Dimitri sudah memberitahukan segalanya.


“Mau makan siang bareng, gak?” tanya Richard.


“Kamu gak punya temen selain aku?”


Richard memutar bola matanya, walau Dimitri tak melihatnya. “Iya, aku gak punya temen, kamu keberatan?”


Dimitri tak mengatakan apapun, tingkat kecerewetan Richard dan Kevin hampir setara, diam adalah pilihan yang tepat agar perbincangan tak semakin mengarah kepada hal-hal yang tak di inginkan.


“Sekeras apapun kamu ngerjain semuanya sekarang, gak bisa secepat itu buat ngembaliin kerugian kamu.”


Dimitri mulai menatap Richard dengan jengkel. Ini adalah topik yang sangat sensitive untuknya, dan Richard dengan mudahnya selalu berhasil untuk mengangkat topik itu. Tentang kerugian yang di terima Dimitri setelah pihak perusahaan milik suami Evelyn yang membatalkan proyek yang sedang mereka jalankan.


Proyek satu tahun lalu bukan Evelyn sepenuhnya yang memegang kuasa, wanita itu hanyalah perwakilan dari suaminya. Sang suami lah yang memegang kuasa tertinggi, lalu tak lama kemudian setelah Liliana meninggalkan Dimitri, suami Evelyn mengetahui apa yang terjadi pada sang istri.


Walaupun ada beberapa pasal hukum yang tertera di kontrak, suami Evelyn membuat semua itu menjadi mudah hingga Dimitri terpaksa merelakan uang miliaran di dalam kontrak itu. Akibat dari perbuatan yang ia lakukan pada Liliana juga, jadi Dimitri hanya bisa pasrah menghadapinya, dan kembali bangkit untuk memulai semuanya dari awal lagi.


Semuanya menjadi semakin parah ketika orang tua Dimitri juga membencinya, karena perceraian yang terjadi. Bahkan orang tua Liliana juga melakukan hal yang sama. Bukan sekali atau dua kali Dimitri mengunjungi orang tua Liliana untuk meminta maaf dan mencari tahu keberadaan Liliana, dan semua hasilnya nihil. Hanya ada Richard di pihaknya saat ini, bahkan sudah satu tahun berlalu, keadaan juga masih belum berubah.


“Aku gak akan ngomong apa-apa,” ucap Dimitri.


“Kamu adalah pria terbodoh yang pernah aku kenal. Menyia-nyiakan kesempatan yang Lili berikan, lalu kesempatan kedua yang di berikan pun kamu abaikan lagi. Aku bisa ngebayangin gimana sakit hatinya Lili sekarang.”

__ADS_1


Dimitri memilih bungkam. Semua kalimat yang akan ia ucapkan benar-benar tak akan mampu mengembalikan Liliana, dan ia memang bersalah, jadi tak butuh pembelaan lagi. Ini juga bukan kali pertama Richard mengatakan kalimat yang sama berulang-ulang pada Dimitri.


“Kamu punya pilihan buat cerita yang sebenarnya sama Lili di banding nyembunyiin semua itu dan membuat Lili pergi lagi, dan kamu gak pilih itu,” lanjut Richard.


“Anggap aja aku egois dan gak peduli sama perasaan Lili, dan aku juga gak tahu kalau semuanya akan jadi kayak gini.”


“Bahkan aku bisa jadi lebih baik dari kamu,” sindir Richard lagi.


“Aku tahu aku salah, aku sadar. Bisa, gak, kamu berhenti ngomongin masa lalu?”


“Setidaknya kamu harus temuin Lili dan anaknya untuk minta maaf. Aku cuman bilang, supaya kamu bisa jalani hidup kamu dengan lebih baik.”


**


Ketika para keluarga melakukan piknik di akhir pekan, Liliana melakukannya di hari kerja. Sejak kedatangannya di Jerman, lalu memulai hidup barunya di sana, Liliana sama sekali belum pernah merasakan bersantai di akhir pekan. Ketika ia mendapatkan libur di akhir pekan pun, ia akan mengisinya dengan mengajar di kedutaan.


Liliana bisa saja mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai kantor, tapi ia memilih menjadi pramuniaga karena menurutnya itu lebih fleksibel. Apalagi saat ia datang, usia kehamilannya sudah membesar. Ia hanya mengambil pekerjaan kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-seharinya dan untuk biaya persalinan.


Akan lebih menjanjikan jika Liliana bekerja sebagai pegawai kantor, karena hidupnya juga sudah pasti terjamin. Yang menjadi masalah hanyalah, ia tak akan menahan dirinya untuk tak bekerja lembur hingga melupakan putranya.


Liliana berhenti di sebuah taman setelah berbelanja di supermarket, ada putranya yang sedang tertidur pulas di kereta dorong. Sejak dulu, Liliana tak menyukai kemewahan, ia sudah bahagia dengan apa yang ia miliki saat ini. Ketika hari-harinya di penuhi dengan kesibukan pekerjaan, lalu ia akan kembali ke rumah dan kembali mengurus putranya, untuknya itu adalah sesuatu yang sangat ia syukuri. Tak ada yang lebih baik di banding hal ini.


“Guten morgen, Lili,” sapa salah satu wanita yang baru saja lewat.


Taman ini merupakan taman yang ada di depan gedung apartemen Liliana, dan ia juga sudah cukup mengenal beberapa dari tetangganya. Kebanyakan adalah para Ibu muda.


“Apa kau baru saja pulang dari belanja?” tanya wanita itu.


“Ah, ya, ingin mencari udara segar dahulu sebelum memasak makan siang,” jawab Lili dengan senyum lebarnya.


“Lihatlah putramu ini, begitu tenang dalam tidurnya.” Wanita paruh baya itu tersenyum lebar menatap Elang yang pulas itu.


Elang seperti anugerah bagi Liliana, walaupun perjuangan yang ia lakukan tak mudah, mereka bisa bertahan hingga selama ini. Lalu banyak dari tetangga apartemennya yang menyukai Elang, Liliana cukup di kenal di apartemen ini, selain karena orang asing, ia juga janda yang sedang mengandung.


Setelah mengobrol sebentar, wanita paruh baya itu meninggalkan Liliana yang kelihatannya masih betah duduk di kursi taman itu. Ia ingin mengosongkan pikirannya dari semua hal yang membuatnya seperti ini. Perlahan ia sudah


semakin mampu untuk bertahan, kadang ada beberapa hal yang membuatnya jatuh lagi, lalu ia akan tersenyum lagi. Di hidupnya saat ini, roda benar-benar berputar dan tak memberi Liliana waktu untuk sedikit saja bersantai.


Setelah di rasa cukup, Liliana segera bangkit dari duduknya untuk masuk ke dalam gedung apartemennya. Masih pukul sembilan pagi, mungkin setelah makan siang nanti ia akan berjalan-jalan sebentar. Ia butuh hiburan, begitupun putranya. Waktu bersama putranya selalu terasa sedikit setiap harinya, ia takut putranya akan kehilangan kasih sayangnya.


Ketika Liliana akan menekan tombol untuk membuka pintu gedung, ada satu pemandangan yang membuat Liliana kembali terheran. Seorang pria yang sedang berjalan menghampirinya bersama wanita di pelukannya, sepertinya ia sangat familiar dengan wajah pria ini, tapi di mana ia pernah bertemu.


Liliana mencoba untuk tak ambil pusing, ia tak mengingatnya, jadi tak perlu membuang tenaga untuk bersikeras mengingat pria ini. Ini juga bukan hal penting untuknya. Mereka memasuki pintu gedung bersamaan, begitupun ketika mereka berada di depan lift. Kedua pasangan itu terlihat sibuk dengan dunianya, seolah hanya ada mereka di dunia ini, dan Liliana hanyalah pengganggu yang kebetulan muncul.


Sangat canggung sekali berada di situasi seperti ini. Sama seperti ketika ia menemani Nabila jalan-jalan, lalu tiba-tiba muncul Reno di antara mereka.

__ADS_1


“Apa ini anakmu?” tanya wanita dalam pelukan sang pria dengan bahasa Inggris yang cukup fasih tanpa logat Eropa.


“Ya, dia anakku, tujuh bulan.


“Wah, dia sangat tampan. Tapi, kalian tak terlihat seperti orang Jerman.”


Ketika Liliana ingin mengatakan jawaban atas pernyataan wanita itu, pintu lift lantai apartemen Liliana terbuka. Liliana lalu keluar dan memberi senyumnya pada wanita tadi dan pria di sebelahnya yang menatap Liliana dengan aneh. Apa mereka saling mengenal? Kenapa Liliana mendadak berubah menjadi pikun dalam sekejap?


**


Enzo menatap sepupunya tajam. Ini adalah pertama kalinya sepupu wanitanya ini mengunjungi Enzo di Frankfurt, apalagi dia datang karena sesuatu hal. Sudah mampu Enzo duga, hanya saja sedikit membuatnya sebal. Jika itu menguntungkan dirinya, maka tak masalah, tapi jika hanya merugikan, ia benar-benar akan memberi pelajaran pada wanita ini.


“Aku akan tinggal di sini sementara, kau jangan beritahukan Ayah atau Ibuku,” ucap wanita itu penuh ancaman.


“Apa yang akan kau berikan jika aku melakukan perintahmu itu, Katherine?” tanya Enzo dengan geli.


Katherine adalah sepupu dari pihak Ibu, dan memiliki darah Eropa murni. Usianya lebih muda lima tahun di banding Enzo, saat ini usia Enzo sudah memasuki tiga lima, itu berarti Katherine berusia tiga puluh.


“Apa kau harus perhitungan seperti itu pada sepupumu sendiri? Coba pahami bagaimana situasiku saat ini,” cibir Katherine.


Enzo mengangkat bahu dengan gaya arogannya. “Kau tahu sendiri aku tak melakukan sesuatu jika tak mendapatkan keuntungan, dan kau harus mulai bekerja di NewYorker. Paman sudah memintaku untuk mengajarimu.”


Katherine menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk di hadapan Enzo dengan wajah memelas. “Jauh-jauh aku terbang ke Frankfurt dan kau masih memintaku melakukan pekerjaan itu? Kau tahu, aku datang kemari untuk menghindari paksaan Ayah, jadi—“


“Kalau kau tak mau, aku akan langsung menelepon Paman dan memberitahunya kalau kau kabur darinya,” ucap Enzo santai. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana, bersiap untuk menghubungi Pamannya.


“Hei! Kenapa kau tega sekali, sih? Perjuanganku akan sia-sia jika kau memberitahu Ayah. Kalau aku bekerja di NewYorker, Ayah pasti akan mengetahuinya.” Katherine memajukan bibirnya.


“Ayahmu juga tahu kemana kau kabur tanpa perlu mencarimu. Lebih baik besok kau mulai bekerja, dan aku tak akan menyerahkanmu pada Paman,” ucap Enzo final.


Enzo bukan hanya tamu VIP di setiap cabang NewYorker, ia juga ikut bertanggung jawab atas bisnis Pamannya itu. Katherine adalah satu-satunya anak dari Pamannya yang sama sekali tak berminat dengan bisnis sang Ayah, ia lebih suka bersenang-senang tanpa harus pusing dengan tanggung jawab yang ia miliki. Lagipula sudah ada Enzo yang sudah pasti dengan senang hati akan menggantikan dirinya.


Walau terlihat santai, sebenarnya Enzo sangatlah sibuk. Ada dua perusahaan yang berada di bawah kepemimpinannya, salah satunya adalah milik sang Ayah yang bergerak di bidang batu bara dan tambang. Keluarga Gioto cukup berpengaruh dalam bidang keuangan. Karenanya, Pamannya itu meminta Enzo untuk mengajari anaknya itu bisnis agar tak selalu menyusahkan dirinya.


“Dewasalah, terima perjodohan itu dan mulai untuk mempelajari bisnis.”


“Lihatlah siapa yang berbicara sekarang? Lalu bagaimana denganmu? Berapa banyak perjodohan yang sudah kau tolak? Hanya karena kau bisa memimpin dua perusahaan, bukan berarti kau bisa mengatur hidupku,” ejek Katherine.


Enzo menyilangkan lengannya. Sepupunya ini memang sedikit liar dan keras kepala, dan sangat sulit di atur. Katherine lebih suka bebas, di saat orang tuanya memaksa untuk berkuliah di jurusan Bisnis, ia justru mengambil jurusan Seni. Lalu setelah lulus kuliah, ia lebih memilih menghamburkan uang milik Ayahnya. Tapi di balik semua itu, Katherine adalah gadis yang baik.


“Baiklah, lakukan sesukamu saja. Besok kau harus datang ke NewYorker tepat jam sepuluh pagi, lewat dari itu, aku akan menelepon Paman untuk menjemputmu.”


Setelah mengatakan kalimat itu, Enzo langsung beranjak untuk keluar dari apartemen itu. Apartemen ini memang atas namanya, dan ia juga memiliki beberapa apartemen di tempat lain. Jangan tanyakan berapa kekayaan Enzo, jumlahnya sudah pasti di luar batas kewajaran kalian. Ia hanya harus kembali ke kantor untuk mengurusi beberapa hal, selain itu ia akan mendapatkan kebebasannya lagi.


Pintu lift terbuka di lantai tujuh, dan Enzo kembali di pertemukan dengan wanita yang kemarin menemaninya di NewYorker. Ia tak menyangka akan bertemu wanita itu di gedung ini, dan juga wanita itu membawa seorang bayi. Jika ia tak salah, wanita itu menjawab tidak ketika Enzo menanyakan statusnya. Well, semua wanita sama saja, kan? Selalu mengatakan sebaliknya demi menarik perhatian seorang pria.

__ADS_1


Liliana dan Enzo berada di ruangan persegi itu dengan canggung. Liliana masih belum mampu mengingat pria ini, tapi pria ini tampak sudah mengenalnya. Yang Liliana tahu pasti, ia tak terlalu peduli jika ia kenal sekalipun. Liliana tak terlalu nyaman berdampingan dengan pria ini, auranya sangat mengintimidasi.


**


__ADS_2