
Jadi sebenarnya aku mau bikin Dimitri semakin brengsek, tapi aku gak bisa, aku terlalu cinta sama mereka berdua sebenarnya^^
Tiga hari yang lalu, aku terbangun di sebuah ranjang rumah sakit. Aku masih sangat ingat setelah pertengkaran kecil kami, aku pingsan, setelah sadar aku sudah berada di rumah sakit ini. Dokter bilang aku mengalami pendarahan kecil, tapi untunglah tak terjadi apapun pada bayiku. Tapi, aku harus bed rest untuk satu minggu ke depan.
Orang tua Dimitri beberapa kali datang menemuiku, tapi aku tetap menolak ketika mereka ingin menghubungi kedua orang tuaku. Aku tak ingin mereka khawatir, kadang mereka bisa sangat berlebihan jika mendengar aku sakit, apalagi ada nyawa lain di tubuhku saat ini.
Aku tak masalah jika harus beristirahat di rumah sakit ini, karena selain aku mendapatkan kamar VIP, aku juga bisa menghindari Dimitri untuk sesaat. Dokter mengatakan padaku untuk tak terlalu membebani pikiranku agar tidak stres, itu sangat tak baik untuk pertumbuhan sang jabang bayi. Tapi aku juga tak tahu kalau akan seemosional ini.
Anggap saja pertengkaran kemarin tak pernah terjadi, aku bahkan sama sekali tak ingin mengingat hal itu. Aku menyembunyikan masalah ini dari mertuaku, tentu saja. Bagaimanapun juga, aku tak ingin orang tua kami ikut campur dalam masalah yang sedang kami hadapi. Walau harus menanggung rasa sakit kepala memikirkan masalah yang ada, aku tak masalah.
“Terakhir kali aku ketemu kamu, kayaknya kamu baik-baik aja,” ucap Nabila. Ini kunjungan pertamanya setelah tiga hari aku di sini, ya aku tak masalah dengan hal itu.
“Kamu pikir sakit bisa di prediksi?”
“Cuman mau nebak aja, kamu berantem sama Dimitri?”
Aku menatap Nabila, aku paling tak bisa menyembunyikan masalah dari Nabila. Aku hanya tak ingin berakhir dengan kekecewaan setelah menceritakan semuanya. Nabila ini memiliki ketertarikan sendiri pada Dimitri, dan aku yakin dia akan memihak Dimitri dan memintaku untuk tak berlebihan.
“Rumah tangga biasa, kan, kalau bertengkar. Kamu juga pasti kayak gitu.” Aku mengangkat bahuku.
“Masih masalah wanita itu?”
“Kalau kamu mau kasih tahu aku tentang ketidakmungkinan Dimitri ngelakuin ini, mendingan kamu keluar aja karena aku juga gak mau berantem sama kamu.”
Nabila menghela nafas. Ia terlihat salah tingkah di hadapanku. “Aku gak pernah bermaksud membela Dimitri, aku cuman bilang apa yang aku lihat selama ini. Dan selama ini Dimitri memang berubah lebih baik.”
Aku membuang pandanganku ke samping, tak ingin menatap Nabila. Aku tak ingin di bela siapapun, aku tahu mereka hanya akan menyalahkan hormon Ibu hamil yang berlebihan. Walaupun memang kenyataannya seperti itu, apa harus menjadikannya sebagai alasan?
“Tapi, kalau memang dia nyakitin kamu lagi, aku akan berdiri paling depan buat lindungin kamu, Li,” lanjut Nabila.
Aku sudah muak harus merasakan di sakiti lagi, apalagi ketika hubungan ini sudah resmi. Dulu aku bisa melarikan diri untuk menenangkan diri, sekarang aku tak bisa melakukan hal itu. Dan aku akui itu adalah hal yang sangat kekanakan dan tak menyelesaikan masalah, aku juga tak akan melakukan hal itu lagi. Aku tahu tempatku sebagai istri, dan tak akan kalah begitu saja oleh wanita lain yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah kami.
“Kamu serius dengan ucapanmu?” tanyaku.
“Persahabatan kita lebih lama dari itu, dan kamu masih nanya apa aku serius?” tanya Nabila dengan kesal.
Sangat jelas terdengar nada kesal dari bibirnya. Bukan aku tak mempercayainya, hanya saja lebih baik jika bisa memastikan. Aku kembali memalingkan wajahku menatap Nabila, kali ini dengan senyuman. Sangat keterlaluan kalau Nabila justru akan membela Dimitri di banding aku yang sahabatnya sendiri.
“Udah banyak banget skenario di kepalaku, kalau memang kamu lebih milih belain Dimitri di banding aku,” ucapku.
“Dimitri memang berubah, dia baik, tapi aku gak tahu apa yang dia lakuin di belakang kamu. Jadi mendingan kamu ceritain apa yang terjadi biar aku bisa ngerti.”
Aku kembali menceritakan apa yang terjadi padaku dan Dimitri, dan juga Evelyn. Tanpa terlewat sedikitpun. Aku bsa sangat lancar menceritakan masalah pribadiku pada Nabila di banding kedua orang tuaku. Bukan karena aku tak mempercayai mereka, hanya saja, aku lebih nyaman jika bercerita bersama Nabila. Setidaknya kami di umur yang sama dan juga sama-sama menjalani kehidupan pernikahan.
Mungkin Nabila tak bisa memberiku solusi yang bijak, tapi setidaknya ada orang lain yang berdiri di sisiku. Itu sudah cukup untukku.
__ADS_1
**
Dimitri masih menjengukku di rumah sakit, tapi ia hanya datang di malam hari ketika aku sudah tidur, lalu akan pergi pagi-pagi sekali. Atau mengurus keperluanku melalui suster jaga. Mungkin ia merasa bersalah, karenanya ia melakukan hal seperti ini. Tapi, aku juga sedikit kecewa. Seharusnya ia masuk ke kamarku sebagai seorang suami dan juga calon Ayah, lalu memelukku dan menenangkanku.
Atau Dimitri terlalu sibuk dengan wanitanya, hingga tak terlalu peduli padaku. Entahlah, opsi mana yang benar dan juga salah. Aku hanya merasa kecewa dengannya. Ini adalah hari terakhir aku berada di rumah sakit. Mbak Sri yang bekerja mengurusi rumah kami, datang ke rumah sakit bersama supirku atas perintah Dimitri.
Kenapa bukan ia sendiri yang menjemputku? Apa urusan kantornya sangat penting hingga melupakan istrinya sendiri?
“Mbak, nanti tolong bersihin kamar tamu yang di lantai bawah, ya? Saya mau tidur di sana. Baju-baju saya juga di susun di kamar tamu aja, saya gak kuat kalau harus naik turun tangga,” ucapku.
Tak sepenuhnya bohong, aku memang menghindari resiko sekecil apapun. Aku juga ingin menenangkan diri, aku butuh jarak. Beruntung aku belum memikirkan opsi cerai. Kadang pilihan itu tiba-tiba terlintas di benak untuk sesaat, dan aku selalu ingin membahas ini dengan Dimitri, tapi selalu kuurungkan. Selalu ada jalan keluar, aku saja yang belum mencoba. Aku berusaha keras sampai akhirnya menikah dengan Dimitri, tak mungkin semudah itu untukku mengucap kalimat cerai.
Perjalanan menuju rumah sangat panjang, dan lama, atau itu hanya perasaanku saja? Setelah sampai, aku segera beristirahat di sofa ruang santai sembari menunggu Mbak Sri membereskan kamar tamu. Ada dua kamar tamu di rumah ini, dan dua-duanya ada di lantai satu. Lihat saja reaksi Dimitri nanti bagaimana.
Aku masih di haruskan untuk istirahat di rumah selama setidaknya tiga sampai lima hari, agar kondisi tubuhku semakin pulih, baru setelahnya aku bisa mengerjakan aktifitasku tapi tetap menghindari yang berat-berat.
Aku tak tahu sudah berapa lama, tapi sepertinya aku tertidur di sofa ini sebentar. Ketika aku membuka mata, objek pertama yang kutemui adalah Dimitri. Ia berlutut di samping sofa memperhatikanku. Mata kami bertemu untuk sesaat sebelum aku mengalihkannya ke arah lain.
“Kamu udah pulang,” ucapku basa basi.
“Hari ini gak banyak kerjaan, jadi bisa pulang lebih cepet. Kamu lebih baik istirahat di atas, nanti aku minta Mbak Sri buatin kamu makanan.”
“Aku pindah ke kamar tamu,” ucapku.
Karena aku menatap hal lain, aku tak tahu bagaimana ekspresi Dimitri saat ini. Tak ada suara untuk menjawab kalimatku. Ya, aku tahu ini berlebihan, tapi tak masalah jika aku menginginkan ketenangan, kan?
Aku ingin menghindarimu! Jeritku dalam hati.
“Aku gak mau lebih capek lagi kalau harus naik turun tangga, aku gak mau ambil resiko.”
“Kalau memang menurut kamu itu yang terbaik, aku gak masalah. Asal kamu dan anak kita tetap sehat.”
Setelah Dimitri mengucapkan kalimat itu, aku langsung berlalu dari hadapannya. Tak masalah, ini bukan masalah besar, jangan menangis, jangan menangis, jangan menangis. Tapi terlambat. Air mataku sudah mengaliri pipiku tanpa halangan ketika aku memasuki kamar. Aku berharap Dimitri mengatakan hal lain, ia bahkan tak meminta maaf karena tak menjemputku.
Setidaknya aku bisa sedikit bahagia dengan perhatian-perhatian kecilnya. Jika memang ia tak memiliki hubungan khusus dengan wanita itu, kenapa ia harus memperlakukanku seperti ini?
**
Aku kembali datang untuk bekerja di toko bunga, aku hanya akan datang lalu mengobrol bersama Mbak Tari sambil menunggu pelanggan. Aku tak akan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan diri sendiri. Satu minggu berada di rumah sakit rasanya sangat jenuh, aku tak bisa melakukan hal lain selain membaca buku atau berselancar di dunia maya.
Duniaku benar-benar terbatas jika berada di atas tempat tidur. Wajahku cukup sayu karena tadi bekas tangisan tadi malam, beruntung riasan wajah sedikit dapat membantu menyamarkan. Ada hal berbeda yang kurasakan sejak berada di rumah sakit, seperti kekosongan.
Dan juga, sejak aku sampai di toko bunga, aku justru sangat ingin bertemu dengan Dimitri. Interaksi kami sangat dingin sejak kemarin, tapi pagi ini aku sangat ingin bertemu dengan Dimitri. Apa ini bagian dari ngidam yang kurasakan?
Kalau iya, maka aku akan sangat tersiksa. Aku tak bisa bertemu Dimitri walau ingin, selalu wanita itu yang membayangiku ketika aku menatap wajah Dimitri. Bahkan makan siangku tak tersentuh sama sekali sejak Mbak Tari membelikan untuk kami berdua.
“Kamu gak makan?” tanya Mbak Tari.
__ADS_1
Aku menatap kotak makan siang yang terdiri dari nasi, capcay, ayam goreng, daan juga sambal itu bergantian dengan ponselku. Aku memang meminta Mbak Tari untuk memesan makanan yang lengkap seperti ini di banding makanan siap saji. Kesehatan tetap menjadi yang utama untukku.
Aku menggeleng lemah, aku memang lapar, tapi aku ingin makan di temani dengan Dimitri. Aku mengelus perutku dengan perlahan, kenapa ia justru menginginkan Ayahnya di saat seperti ini? Andai saja kamu tahu bagaimana keadaan kedua orang tuamu, sayang.
“Kamu mau makan sesuatu yang lain? Biar Mbak beliin,” ucap Mbak Tari lagi.
“Gak papa, Mbak, aku ke dalam dulu, ya?”
Sesampainya di ruangan persegi ini, aku masih menimang-nimang ponselku. Sebenarnya aku tinggal menghubungi Dimitri saja, agar ngidam ini segera usai dan aku tak perlu ketakutan jika keinginan anakku di dalam sini tak terpenuhi.
**
Kenapa aku harus merasakan seperti ini pada suamiku sendiri? Ini memang hal yang seharusnya kami berdua lakukan demi bayi kami. Tapi, bertemu Dimitri ketika keadaan kami sedang dingin rasanya tetap aneh.
Pada akhirnya aku menekan gengsiku dan menelepon Dimitri, kami berakhir di sebuah taman tak jauh dari pusat perbelanjaan yang terletak di pusat kota. Jaraknya tak jauh dari kantor Dimitri. Aku ingin makan bersama Dimitri di udara terbuka, seperti piknik. Itu yang sangat ku inginkan, lebih tepatnya keinginan anakku.
Aku menatap Dimitri yang lahap menyantap makanannya. Tadi malam, Dimitri diam-diam menyelinap masuk ke kamar tamu dan tidur bersamaku. Aku belum bener-benar tidur saat itu, dan pintu kamar juga tak kukunci, jadi mungkin Dimitri memanfaatkan hal itu. Hatiku menghangat jika mengingat hal itu.
Di tengah kondisi emosionalku yang sedang tak stabil, yang kuinginkan hanyalah sebuah pelukan dari suamiku sendiri, hanya itu saja. Ketika di rumah sakit juga Dimitri melakukan hal yang sama, ia tidur di kursi samping tempat tidurku sembari memegang tanganku erat. Aku tahu karena aku selalu terbangun di tengah malam. Dia suamiku, kenapa juga ia harus melakukan hal itu secara diam-diam?
“Makanannya gak enak, ya?” tanya Dimitri.
Aku mengerjapkan mataku, berusaha menyadarkan diriku dari lamunan ini. Sepertinya aku sangat merindukannya, hanya dengan melihatnya saja sudah membuat diriku menjadi tenang. Aku menyuap nasi dan ayam kedalam mulutku, aku sudah tak terlalu lapar. Keinginanku hanya melihat Dimitri saja.
“Maaf kalau aku ganggu pekerjaan kamu, ini bukan kemauan aku,” ucapku lirih. Aku kembali mengelus perutku yang kini sudah mulai terasa tonjolannya. Entah kenapa aku merasa bersalah meminta Dimitri menemuiku.
“Kamu bisa nelpon aku kapan aja, gak perlu minta maaf.”
Aku masih sibuk menyuapkan nasi ke mulutku, masih enggan untuk menatap Dimitri. Bukan karena tak ingin, hanya masih aneh untukku. Kami bersikap dingin satu sama lain, dan masalah di antara kami belum terselesaikan dengan baik, tapi tiba-tiba kami bertemu seperti ini karena keinginan bayiku. Kami toh, suami istri, wajar saja, kan?
Apa semua wanita hamil selalu plin plan sepertiku? Aku merasa emosiku sangat naik turun dan kadang aku sendiri yang merasakannya, juga sangat kesal. Aku ingin masalahku selesai, tapi selalu berakhir tanpa penyelesaian.
“Aku boleh menyentuhnya?” pinta Dimitri.
Aku menatapnya, ia menunjuk perutku dengan matanya. Pasti Dimitri juga merasakan hal yang sama denganku, kami sungkan satu sama lain. Aku hanya memberi anggukan pada Dimitri.
Dimitri menggeser duduknya agar lebih dekat denganku, dengan perutku. Dan sentuhan pertamanya memberiku sensasi kejut listrik. Dimitri yang merasakan keterkejutanku, segera menarik kembali tangannya, dan menatapku.
“Gak papa…aku cuman sedikit terkejut,” ucapku.
Dengan perlahan, Dimitri kembali menyentuh perutku. Aku menutup mataku secara impulsif. Padahal aku tak merasa perlu untuk menutup mataku, tapi saat ini aku menutup mataku, mungkin untuk menikmati sentuhan Dimitri.
Aku merasakan nafas hangat di depan wajahku, perlahan aku membuka mataku dan wajah Dimitri sudah sangat dekat denganku. Aku kembali menutup mataku ketika bibir Dimitri mengecup kedua mataku, turun ke pangkal hidungku, dan berakhir di bibirku. Hanya sentuhan lembut yang membuatku menikmatinya. Tangan Dimitri juga
mengelus perutku dengan gerakan teraturnya.
Aku tak ingin semua ini berakhir.
__ADS_1
**