
“Ada apa ini? Kok anak gadis mukanya ditekuk aja? Lagi berantem sama dek Juna?” ledek Liliana.
Nabila mendelik mendengar ledekan Liliana yang sangat kekanakan itu. Kadang ia bersyukur memiliki sahabat seperti Liliana dan sang suami, juga Richard yang selalu membanggakan kisah cintanya bersama Kate. Dan dalam lingkaran persahabatan itu hanya dirinya yang masih sendiri—ia tak pernah menganggap pengakuan cinta Juna sebagai ajakan pacaran.
Seperti biasa, minggu terakhir di tiap bulan selalu mereka pilih untuk berkumpul. Tadinya pertemuan sahabat-sahabat ini dilakukan tiap minggu diakhir pekan, tapi karena masalah pekerjaan serta rumah tangga, ditambah Richard yang sok penting pulang balik Jakarta Jerman, membuat pertemuan mereka ada baiknya cukup sebulan sekali.
Bagi Nabila ini seperti penyembuhan dirinya setelah padatnya pekerjaan yang ia miliki ditambah rutinitasnya sebagai ibu tunggal untuk dua anaknya. Beruntung ibunya mau menetap bersamanya dan mengurus kedua cucunya, lebih baik dibanding Nabila harus menitipkan kedua anaknya di penitipan anak atau menyewa suster. Kedua opsi itu pernah ia pertimbangkan, tapi ia terlalu takut menitipkan anak-anaknya pada orang asing.
“Dimitri, tolong ini istrinya dikondisikan. Makin lama kayaknya mentalnya makin aneh,” balas Nabila.
Liliana melempar bungkus keripik kentang yang masih untung kearah Nabila dengan delikan tak sukanya, Nabila tentu saja balas menatapnya dengan sinis. Ternyata, semakin umur bertambah, semakin kekanakan sifat mereka.
“Kan bener, mukamu itu sepet banget diliat. Ini kalo bukan karena kerjaan, pasti karena berondongnya.” Liliana masih tak mau kalah.
“Setuju banget, Li, coba deh, bandingin pas dia ngajak berondongnya kesini. Itu bibirnya kayak mau sobek saking lebar banget senyumnya,” sambar Richard yahg mendadak muncul.
“Dimitri, aku gak mau tahu pokoknya aku mau racikan minuman yang kadar alkoholnya diatas lima puluh persen!” teriak Nabila. Ia mengabaikan ledekan kedua manusia yang menyebalkan itu.
Seperti biasa, memang hanya Dimitri yang masih waras diantara yang lainnya. Ia hanya menanggapi lelucon istri dan temannya ini dengan gelak tawa. “Aku saranin jangan mabuk, Nab, ntar sama Lili bakal ditelponin Juna buat jemput kamu,” balas Juna.
“Sial! Kadang suka bener kalo ngomong si Dimitri.”
Setelah mempersiapkan cemilan dan minuman untuk teman mengobrol, mereka berempat segera mencari tempat nyaman masing-masing. Karena hanya satu bulan sekali, mereka biasa akan menghabiskan sepanjang malam untuk membagikan kisah mereka masing-masing. Kadang juga membagi gosip yang sedang panas, apa saja mereka obrolkan. Di usia mereka yang sudah mencapai kepala tiga, tak perlu hal lain untuk menyenangkan diri, saling berbagi cerita seperti ini sudah seperti obat yang sangat ampuh untuk kewarasan mereka. Dunia sedang tidak bersahabat untuk mereka.
“Jadi persiapan pernikahan udah aman semua?” tanya Dimitri.
Akhirnya setelah perjalanan panjang, Richard dan Kate sepakat untuk menikah dan mereka akan tinggal di Jakarta. Keduanya sudah saling sepakat dan berjanji satu sama lain untuk saling komitmen.
__ADS_1
“Aku gak tahu ternyata nyiapin nikahan seribet ini, mana acaranya didua negara, puyeng gak tuh,” jawab Richard.
“Baek-baek kalian berdua, jangan sampe kabur-kaburan ditambah drama lagi. Berasa nonton siaran langsung sinetron, tau.” Nabila mengambil kue coklat buatan Liliana, hasil kursus memasak yang ia banggakan itu.
“Enak, kan, rasanya? Udah kayak yang di kafe-kafe itu, nggak?” tanya Liliana.
“Lumayan, bisa kali aku tawarin sama orang kantor, siapa tahu pada pengen pesen,” jawab Nabila.
“Jangan macem-macem, Nab, ribet ntar aku ngurus bocah dua biji,” timpal Dimitri.
“Dih, suami macam apa yang nggak dukung bakat istrinya. Ya nggak, Ritch?”
“Iya, nih, lagian ibu-ibu muda zaman sekarang, tuh, pada demen banget jualan online, mana pada sukses-sukses lagi.”
Liliana menarik nafas panjang menatap dua sahabat di depannya ini, lalu menatap suaminya. “Begini ya, adik-adik, suami saya ini sudah cukup kaya dan mampu mewariskan hartanya sampai keturunan ke tujuh. Saya sendiri sebagai istri selalu mendukung pekerjaan suami saya, bukannya saya tidak ingin menjadi mandiri, tapi akan lebih baik jika saya tetap dirumah merawat keluarga saya. Karena ya ngapain juga, kalo kita makin kaya gimana?” ucap Liliana dengan tingkat sarkas yang lumayan tinggi.
“Si paling kaya tujuh turunan, tuh. Mau adu kekayaan sekalian gak, nih?”
“Kalian tetep bakal kalah sama yang kaya hati disini,” ujar Nabila dengan bangga.
Nabila langsung dihadiahi dengan lemparan kulit kacang dan kuaci yang ada di meja, lalu mereka tertawa bersama dengan candaan masing-masing.
**
Berkali-kali ditolak Nabila tak pernah menjadi hambatan yang berarti untuk Juna menunjukkan ketulusannya. Meski ia belum terlalu yakin jika ini benar-benar cinta, ia hanya ingin berada di dekat wanita itu. Ketakutan akan masa lalunya tidak membuat Juna gentar, ia justru ingin semakin melindungi wanita itu.
Masalah Felicia adalah hal lain yang harus Juna selesaikan. Wanita itu memang tidak terang-terangan menunjukkan bahwa mereka memiliki sesuatu, tapi itu membuat Juna tidak nyaman. Apalagi wanita itu mendadak menjadi satu tim dengannya dan Nabila di kantor. Tentu saja ada campur tangan politik disana. Bisa jadi sang ibu tirinya atau bahkan Felicia sendiri yang merencanakan semua itu, seperti yang Clara katakan jika rasanya wanita ini bukan wanita dengan sikap terbaik.
__ADS_1
“Pulang kantor ini kamu ada acara?” tanya Felicia.
Hanya ada mereka berdua di ruang rapat karena Nabila sedikit terlambat hadir. Padahal hanya perlu menunjukkan sifat aslinya saja, maka Juna akan tenang dan bisa mengantisipasi sikapnya juga. Satu kantor juga sudah tahu dengan hubungan Juna dan Nabila, tapi ada beragam gosip yang beredar.
Ada yang mengatakan jika Nabila dan Juna sudah resmi menjadi pasangan, ada juga yang mengatakan jika Nabila menggoda Juna hingga pria itu akhirnya bertekuk lutut, ada juga yang percaya kalau Juna yang mengejar Nabila. Yang lebih parah adalah mereka yang mengatakan jika Nabila menggunakan kekuasaannya sebagai atasan untuk menggaet karyawan muda seperti Juna, bisa jadi akan ada pria lain yang nantinya akan terjerat.
Juna sadar dengan yang terjadi, dan itulah yang membuatnya semakin ingin melindungi Nabila, bagaimanapun Nabila menanggapi sikap lancangnya itu.
“Kalaupun aku nggak punya acara, aku akan membuat acara itu supaya kita nggak perlu bertemu diluar pekerjaan,” ucap Juna cuek.
“Kamu tahu tentang perjodohan kita, kan?”
“Ya, dan aku sudah menolak. Mungkin keluargamu belum memberitahukan hal itu padamu.”
Felicia menatap Juna dengan kesal, ia bahkan sudah ditolak ketika belum melakukan apapun dan itu sangat melukai harga dirinya. Belum pernah ada pria yang menolaknya dan Juna menolaknya dengan sangat tidak sopan.
“Maaf saya sedikit terlambat, rapat sama atasan agak ngaret,” ucap Nabila yang tergesa-gesa masuk.
Nabila menatap Juna dan Felicia bergantian, aura ruangan meeting yang tidak terlalu luas itu mendadak menjadi tegang. Apa ia melakukan kesalahan?
“Kalian berdua baik-baik aja?” tanya Nabila lagi.
Hanya Juna yang menganggukkan kepalanya dengan senyum ramah, sementara Felicia hanya diam dengan wajah yang masih tegang. “Oke, kita mulai sekarang rapatnya.”
**
**Hari ini agakspesial ya karna kita kedatangan bintang tamu😄😄 nah gimana sejauh ini kisah Juna sama Nabila? udah mulai puyeng gak? kalo blm mau nambahin bumbu dapurnya lagi nih
__ADS_1
jangan lupa jejak like dan komennya ya, karna komen kalian sangat membantu mood baikku buat nulis 🤗🤗**