Playboy

Playboy
#30. Finale


__ADS_3

Ini beneran ending ya, bukan prank atau bohong-bohongan lagi. Semoga gak ngecewain kalian ya :) ayo komen lagi, ceritain unek-uneknya abis baca ini, mumpung terakhir kalinya ini


Happy Reading^^



Richard menatap Katherine yang terlihat sama sekali tak peduli dengan dirinya. Setelah lamaran dadakan yang di ucapkan Richard, Katherine bersikap biasa saja, seolah tak ada apapun yang terjadi. Ya, itu memang sangat mendadak. Richard mengucapkan itu juga karena spontanitas dan suasana yang mendukung, tapi ia benar-benar


serius dengan kalimat yang ia ucapkan.


Mereka memang belum lama mengenal, jika ingin di hitung keseluruhannya, maka itu baru sekitar empat bulan. Tapi, untuk apa menunggu terlalu lama jika Richard sendiri sudah serius dan ia yakin Katherine juga merasakan hal yang sama. Seharusnya memang seperti itu, kan? Lagipula mereka sudah baik-baik saja sejak ciuman itu, jika bisa lebih serius, kenapa harus menunggu lama lagi, kan?


“Kau tak memiliki pekerjaan lain selain menatapku secara berlebihan seperti itu? Atau kau ingin pergi melihat dedaunan gugur lagi?” tanya Katherine santai.


Ia memiliki banyak pekerjaan, di tambah Richard yang sudah lepas tangan padanya. Katherine ini cepat belajar, jadi tak perlu terlalu lama mengajarinya, Richard senang, tapi ia juga sedikit sedih. Richard ingin mengajari wanita itu terus menerus, agar mereka semakin dekat.


“Kau benar-benar tak merasakan apapun? Aku melamarmu kemarin,” jawab Richard.


Ketikan jari Katherine terhenti, ia tentu tak akan lupa dengan kalimat itu. Sepanjang malam ia sulit untuk tidur karena ucapan itu, ia hanya berpura-pura tak ada yang terjadi. Jantungnya sudah berdegup kencang karena hal itu. Pria itu membicarakannya seolah itu hal yang sangat mudah, ia tak tahu bagaimana terpuruknya Katherine karena kalimat itu.


“Perjanjian kita enam bulan, Richard. Kau sendiri yang mengatakannya padaku, kau juga tak membawa cincin, dan lamaran itu tak romantis. Atas alasan apa aku harus menerimanya?”


“Jadi ini semua hanya karena cincin? Apa itu sangat penting? Bukankah aku yang terpenting di sini?” cerca Richard.


Katherine kini memfokuskan pandangannya pada Richard, kenapa pria ini bisa menjadi sangat kekanakan seperti ini? Sejauh yang Katherine ingat di pertemuan pertama mereka, pria ini sangat keren dan juga dingin. Dan ini bukan hanya tentang cincin, ia bisa saja tinggal menjawab ‘iya’, tapi bermain-main sedikit dengan Richard tak masalah, kan? Karena pria ini cukup menyebalkan hingga membuat Katherine dengan mudah jatuh cinta.


“Hentikan rengekanmu dan kembali bekerja. Kau pikir bisa seenaknya di sini hanya karena Ayahku ada di belakangmu? Aku juga memiliki kekuasaan di sini, asal kau tahu,” ujar Katherine.


Keduanya saling menatap, lalu Richard memutuskan untuk berbalik dan akan meninggalkan ruangan itu.


“Ini bukan tentang cincin, kau adalah pria pertama yang melamarku. Setidaknya buat ini cukup spesial untukku,” ucap Katherine.


Raut merah menjalari pipi putihnya, ia berpura-pura fokus pada pekerjaannya lagi sebelum Richard menoleh dan menatapnya. Pipi Katherine memerah adalah hal yang sangat langka, dan itu hanya terjadi jika ia bersama Richard. Padahal mereka hanya berhubungan dalam waktu singkat, tapi pengaruh pria itu sangat besar untuk hidup Katherine.


“Jadi, kau menerimanya?”


Katherine segera mendongak, dan menemukan Richard yang sudah menatapnya dengan binar bahagia. Ia tak seperti melihat Richard, si pria keren yang sangat dingin, hanya ada Richard yang terlihat seperti anak remaja yang di belikan kado untuk ulang tahunnya. Tapi, sedetik kemudian, Katherine segera merubah tatapannya.


“Aku tak mengatakan jika menerimamu, aku hanya memintamu untuk membuat lamaran ini menjadi sedikit lebih romantis. Setelah itu aku baru akan memutuskannya,” ucap Katherine.


Binar itu segera menghilang dari wajah Richard. “Kau tak takut jika mungkin setelah keluar dari ruangan ini, aku akan berubah pikiran dan memutuskan pertunangan ini?”


“Aku yakin, kau tak akan sanggup kehilanganku,” ucap Katherine dengan tak acuh.


Richard segera berjalan menuju meja Katherine, perasaannya benar-benar terombang-ambing karena wanita ini. Katherine berhasil mengaduk-aduk hatinya dengan sangat kejam, dan entah kenapa Richard juga menyukainya. Tanpa mengatakan apapun, Richard meraup wajah cantik itu dengan kedua tangannya, dan mencium wanita itu.


“Aku tak tahu kenapa bisa jatuh cinta dengan wanita sepertimu,” ucap Richard setelah ciuman pertama berakhir.


Sayang sekali ini masih siang, dan ia juga masih memiliki pekerjaan untuk di selesaikan. Ia kembali meraup bibir wanita itu, ia tak akan bisa puas dengan semua yang ada di diri Katherine. Anggap saja ini balasan karena sudah


mempermainkan hati Richard dengan sebegitunya.


“Akan kubuatkan lamaran yang sangat romantis hingga kau tak memiliki alasan untuk kembali menolak.” Richard mengecuup bibir itu untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan ruangan itu.


Jika ia berdiri di sana lebih lama, mungkin bukan hanya ciuman yang akan terjadi. Hal-hal lain yang sangat mereka inginkan, tapi tak bisa untuk di lakukan karena pekerjaan masing-masing. Nanti, itu pasti akan terjadi.


Katherine mencoba menenangkan jantungnya yang sudah berdetak tak menentu. Ciuman Richard benar-benar memabukkan, dan ia tak merasa cukup hanya dengan ciuman itu. Nanti, ia akan benar-benar menerima lamaran itu. Karena memang sudah seharusnya seperti itu sejak kemarin, hanya Katherine yang mengulur untuk mempermainkan pria itu.


**

__ADS_1


“Kenapa kamu ngelakuin ini?” tanya Dimitri.


Setelah memastikan kedua orang tua Liliana dan juga Elang masuk ke apartemen milik Liliana, ia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman gedung apartemen ini. Pertemuan dua keluarga tadi seperti pengakuan dosa untuk Liliana dan Dimitri, tapi seperti ada beban yang terangkat dari hati mereka. Orang tua Liliana masih tak ingin terlalu menanggapi Dimitri, mereka hanya tersenyum seadanya saja setelah Dimitri mengantarkan mereka tadi.


Orang tua Dimitri sedikit lebih baik, walaupun masih belum bisa sedikit menerima, tapi, gunung es di antara mereka perlahan mencair. Dimitri seperti berhutang pada Liliana untuk hal itu, karena Dimitri sangat tahu betapa kedua orang tuanya sangat menyukai Liliana.


“Memang itu yang seharusnya di lakukan, kan? Kamu bersalah, begitu juga aku. Seandainya aku bisa sedikit lebih sabar dan tak melulu kabur, itu juga menyakitkan buat aku. Aku pikir itu yang terbaik, tapi aku hanya menyakiti diriku secara perlahan,” jawab Liliana.


Dimitri menatap Liliana. Ia juga turut andil dalam memberikan luka yang begitu dalam untuk Liliana, ketika seharusnya hanya kebahagiaan yang ia berikan. Ia memang pria paling brengsek yang pernah ada. Gagal menjaga pertemanan mereka, gagal menjaga perasaan wanita itu, gagal menjaga pernikahan mereka.


“Apa menurutmu aku bisa kembali menjadi pria yang bertanggung jawab, setelah kegagalan yang terjadi padaku?”


Lampu taman yang ada di sana tak terlalu terang untuk membuat Liliana mampu melihat wajah Dimitri dengan jelas. Tapi, Liliana tahu jika kini mereka memiliki perasaan yang sama. “Kita bisa. Walaupun sulit, sedikit demi sedikit jika kita mencoba lagi, pasti bisa.”


“Perceraian ini…kamu pernah menyesalinya?”


Liliana menatap Dimitri yang juga menatapnya. “Sepertinya memang ini jalan yang terbaik. Kita harus berpisah agar bisa kembali berpikir dengan kepala dingin,” ucap Liliana.


Mereka kembali berjalan di jalan setapak yang cukup hijau itu, tak ada dedaunan musim gugur seperti di Jerman, tapi suasananya lebih hangat. Angin malam yang cukup dingin, tak mampu membuat mereka kedinginan karena hati mereka sudah kembali menghangat. Masih ada jarak di antara mereka, tapi jarak itu sudah terlihat samar.


Hati mereka menghangat seiring berjalannya waktu, luka yang sudah tergores, secara perlahan sudah mulai sembuh.


“Lebih sering pulang ke rumah Mama dan Papa dan berhenti untuk lembur, sampai kapan kamu mau menyiksa dirimu sendiri?” ujar Liliana.


Hubungan mereka sudah berlangsung lama, setidaknya mereka tak bisa hanya menjadi orang asing setelah semua yang terjadi. Ada penghubung di antara keduanya, jika Liliana egois, maka ia tak akan mempedulikan Dimitri lagi, tapi ia tak bisa setelah mengetahui keadaan orang tua Dimitri dan Dimitri sendiri.


Dimitri tersenyum tipis, Liliana tak akan mampu melihatnya. Tak apa, ia sudah bahagia dengan keadaan ini. “Kamu akan kembali ke Jerman lagi?”


Liliana terdiam, terlihat menimbang kalimatnya sebelum ia lontarkan. Lalu ia menatap Dimitri. “Apa kamu bisa memberikan alasan agar aku bisa tinggal di Jakarta lagi?”


**


Itu adalah kata yang selalu di ulang-ulang oleh Enzo. Ia tak percaya dengan semua yang terjadi, tak ada keajaiban yang terjadi pada wanita itu, seberapa keras pun Enzo berdo’a dan memohon pada Tuhan untuk menyelamatkan wanita itu. Air matanya juga tak mau mengaliri pipinya, hatinya kebas. Ini adalah kenyataan pahit yang harus ia hadapi untuk kedua kalinya, setelah kejadian tujuh tahun lalu.


Setidaknya, kala itu Enzo masih bisa mengharapkan wanita itu kembali. Tapi kali ini, semuanya berbeda. Enzo bahkan melihat sendiri ketika peti mayat Cecilia perlahan mulai di turunkan menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Apa yang harus ia lakukan setelah ini?


Enzo masih berdiri di hadapan makam Cecilia, surat yang di berikan oleh Sir Nicholas sudah ia baca dan masih ia genggam sejak tadi. Ini adalah satu-satunya yang bisa Enzo simpan untuk terus mengingat wanita itu. Bahkan sampai akhir, ia tetap tak bisa bertemu dan melihat langsung wajah wanita yang sangat di cintainya.


Ia hanya bisa menyaksikan detik-detik terakhir wanita itu menghembuskan nafas terakhirnya, lalu ketika dokter melepas semua peralatan yang ada di tubuhnya. Kenapa wanita itu baru datang setelah tujuh tahun? Kenapa harus menunggu selama itu dan dalam keadaan seperti ini?


Untuk pria yang selalu kucintai,


Mungkin jika kau membaca ini, aku sudah tak ada di tempat yang sama denganmu lagi. Kau tahu, aku selalu mencintaimu bahkan hingga saat terakhirku. Hanya kau satu-satunya pria yang bisa kucintai sepenuh hati, maafkan aku atas semua kerusakan yang sudah kusebabkan. Jika saja aku memiliki kuasa untuk menghentikan Ayahku, mungkin kita masih bersama saat ini.


Aku memilih untuk pergi dengan cara seperti ini karena aku tahu, jika aku pantas mendapatkannya. Mungkin seharusnya lebih dari ini, sehingga kematian adikmu setimpal. Maafkan aku, karena hanya bisa melakukan ini untuk menebus kesalahan yang sudah di lakukan Ayahku. Aku harap kau tak akan menangis, aku tak pantas untuk di tangisi.


Semoga setelah ini, kau bisa membuang semua masa lalumu dengan baik dan mulai menjalani hidup seperti yang


seharusnya. Aku mengetahui, kau masih merasa bersalah atas kematian adikmu, itu bukan salahmu. Jadi, berhenti menyalahkan diri, dan hiduplah dengan baik. Temukan wanita yang akan mencintaimu dengan tulus.


Berbahagialah, Enzo. Aku mencintaimu.


Hujan mulai turun membasahi rerumputan, tapi Enzo tak beranjak. Ia masih menatap makam itu dengan hampa. Bagaimana ia bisa hidup dengan baik setelah mengetahui fakta yang ada? Bukankah ini terlalu berlebihan untuknya?


Enzo jatuh bersimpuh di makam itu, tangisannya pecah, ia tak bisa menahannya lagi. Semua ini menyakitkan untuknya. Ia terus menangis di hadapan makam itu seiring hujan yang semakin bertambah deras. Setidaknya tangisan ini tak akan terdengar pilu, karena ada hujan yang menemaninya.


**


“Jadi kamu akan tinggal di Jakarta lagi?” tanya Nabila dengan antusias.

__ADS_1


Liliana tertawa melihat sahabatnya yang sangat kegirangan itu. Apa ia lupa jika sudah memiliki dua anak, dan masih bersikap seperti anak kecil?


“Untuk sementara, aku juga gak mungkin langsung pulang ke Jerman. Bapak sama Ibu juga bakal tinggal di Jakarta dulu, aku gak mau jadi anak durhaka dulu.”


“Ya, kamu memang harus kayak gitu. Setahun lebih ninggalin orang tua kamu tanpa kejelasan dan bikin mereka khawatir juga selama itu. Kalau aku jadi mereka, udah aku kutuk kamu jadi batu.”


Adu mulut kembali terjadi di antara mereka berdua, kali ini mereka hanya berdua tanpa anak yang ikut bersama mereka. Sudah sangat lama Liliana tak berbincang dengan penuh candaan seperti ini, dan ia sangat merindukan saat-saat seperti ini. Nabila masih dengan mulut pedas dan juga ceplas ceplosnya, tak akan tergantikan oleh apapun.


“Dimitri gimana?” tanya Nabila.


“Gimana apanya? Ya dia tetap Dimitri, kamu berharap apa lagi?”


Nabila merotasikan bola matanya. Inilah sebabnya ia bermulut pedas, karena Liliana selalu berusaha untuk berpura-pura polos dan tak mengetahui segalanya. Menyebalkan memang, jika bukan karena sahabat, Nabila juga sudah meninggalkan wanita ini dan tak akan mau mendengarkan seluruh curhatannya.


Liliana tertawa menatap Nabila yang terlihat sangat kesal itu. Ekspresi Ibu dua anak ini sangat sayang untuk di lewatkan. “Dia baik. Aku juga udah mutusin untuk jaga hubungan baik itu, gimana pun dia tetap Ayahnya Elang, dan aku juga gak punya hak untuk melarang.”


Nabila masih menatap Liliana dengan penuh selidik, dan Liliana sangat hafal dengan tatapan curiga yang coba Nabila tunjukkan. Ia ingin penjelasan lebih lengkap, ia tak suka mendengar cerita yang hanya sepotong itu.


“Aku beneran gak tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya, luka hatiku masih sama, dan aku juga butuh waktu untuk pulih. Apalagi yang mau kamu dengar? Oh, dan dia bakal jemput aku sekarang,” lanjut Liliana.


“Ya, mungkin memang cuma Dimitri ini yang bisa pulihin kembali luka kamu.”


Liliana menggelengkan kepalanya. Ia tak tahu, dan tak ingin menerka. Apapun itu yang terjadi di masa depan, entah itu kembali bersama Dimitri, ataupun menemukan pria lain yang bisa ia cintai, semoga itu adalah yang terbaik untuknya dan Elang.


“Aku duluan, ya? Nanti aku telepon kamu. Dimitri udah di bawah.”


Liliana segera beranjak dari duduknya dan berlalu. Setelah acara belanja, lalu di teruskan dengan makan siang di kafe. Mereka sudah cukup lama duduk di kafe itu dan membicarakan banyak hal. Nabila hanya menatap kepergian Liliana dengan senyuman, semoga kali ini semuanya berjalan dengan baik. Tak ada lagi alasan untuk melarikan diri.


“Udah lama?” tanya Liliana ketika memasuki mobil Dimitri.


“Aku baru nyampe juga.” Dimitri memberikan senyumnya.


Tak ada sesuatu yang spesial siang ini, Dimitri hanya menjemput Liliana dan ingin bertemu dengan Elang. Dan ia akan kembali bertemu dengan mantan mertuanya yang mungkin belum sepenuhnya akan kembali akrab.


“Apa kabarnya Nabila?”


“Baik banget, masih cerewet kayak biasa. Belum ada yang berubah dari dia,” jawab Liliana dengan senyum yang belum lepas dari bibirnya.


“Tawaran kamu kemarin apa masih berlaku?” tanya Dimitri.


“Tawaran apa?” Liliana mencoba mengingat-ingat tentang tawaran yang di maksud oleh Dimitri. Apa mereka pernah saling berunding lalu menawarkan sesuatu?


“Alasan agar kamu bisa tinggal lagi di Jakarta.”


Liliana menatap Dimitri. Ya, ia pernah bertanya pada Dimitri malam itu. Lalu hanya anggukan yang Liliana berikan. Ia akan mencoba lagi, apapun hasil yang akan menanti di depan nanti.


“Mungkin ini klise, tapi aku masih mencintaimu. Aku juga ingin selalu berada di sampingmu dan juga Elang. Ini terdengar sedikit keterlaluan, tapi aku ingin membangun keluarga lagi bersamamu dan Elang. Aku akan berjuang lagi dari awal, secara perlahan. Kita berdua tahu ada luka yang belum sembuh dengan benar.”


Itu penjelasan yang cukup panjang, dan seharusnya cukup untuk Liliana, atau tidak?


“Aku gak mau percaya kalimat seperti itu lagi, aku gak akan mengulang kesalahan yang sama untuk ketiga kalinya. Tapi, aku akan mencoba. Kali ini, berjuanglah dengan keras, dan cobalah untuk memenangkan hatiku lagi.”


Dimitri tersenyum menatap Liliana. “Aku boleh menggenggam tanganmu?” tanya Dimitri.


Liliana memberikan tangan kanannya yang langsung di genggam oleh Dimitri, dengan erat. “Aku tak akan berjanji kali ini. Kamu bisa mengomeliku jika yang aku lakukan salah dan tak cukup baik untukku, terus ingatkan aku jika aku melakukan kesalahan.” Dimitri mencium punggung tangan Liliana.


Keduanya tersenyum satu sama lain. Tak ada jaminan jika mereka nantinya benar-benar kembali, banyak kemungkinan yang akan terjadi. Tapi, mereka akan mencoba.


**

__ADS_1


__ADS_2