Playboy

Playboy
Bonus Chapter : Before Storm


__ADS_3

Hai, maaf ya atas keterlambatan ini, setelah hari ini bakal update seperti biasa lagi kok. 


Happy reading ya dan selamat tahun baru semuanya ^^



Liburan singkat kami sudah selesai, dan kami juga sudah kembali pada aktifitas kami masing-masing. Walaupun singkat, tapi aku menikmatinya. Ini sangat berbeda seperti bulan madu kami dahulu, aku hanya merasakan sesuatu yang baru kuketahui dari suamiku sendiri. Aku seperti kembali berkenalan dengan pria baru, dan jatuh cinta lagi.


Apa terlalu berlebihan? Tapi aku memang merasa seperti itu. Masalah apapun yang akan terjadi ke depannya, aku akan mencoba untuk menghadapinya. Aku merasa semakin dewasa dalam menghadapi masalah ini. Apapun yang terjadi, aku tetap akan mempercayai suamiku lebih dulu di bandingkan orang lain, aku akan mencobanya walau jika di lihat kembali ini cukup sulit untukku.


Siang ini ada yang berbeda, aku memutuskan untuk menghadiri acara reuni kecil-kecilan dari teman-teman seangkatanku ketika kuliah dulu. Aku jarang melakukan hal ini, bahkan ketika Nabila memintaku, aku akan menolaknya mentah-mentah. Tapi, siang ini aku melangkahkan kakiku dengan sukarela ke sebuah restoran.


Anggap saja aku sedang ingin mendapatkan pengalaman selain merangkai bunga dan juga makan siang dengan Dimitri. Mengobrol sedikit dengan teman-temanku juga suatu bentuk sosialisasi dan memperluas rekanan, walaupun aku tak terlalu akrab bersama mereka, bahkan nama mereka pun sepertinya sudah kulupakan.


Tebak apa yang membuat mereka mengenalku?


Ya, benar. Jawabannya adalah Dimitri. Kabar pernikahanku dan Dimitri dulu menjadi sangat heboh di kalangan teman-teman kuliah kami dan juga orang yang mengenal kami dengan dekat. Jika bisa di bilang, aku tak memiliki banyak teman dekat. Hanya Nabila, dan juga Ayu. Benar-benar hanya mereka berdua yang sangat dekat denganku.


Sisanya? Kami hanya berhubungan melalui obrolan grup di ponsel, begitupun dengan undangan reuni ini. Kalian tahu, kan, bagaimana populernya Dimitri ketika kuliah dulu? Akibat dekat dengan Dimitri, aku menjadi sangat terkenal, terutama di kalangan perempuan. Beberapa bahkan pernah mengancamku jika masih mendekati Dimitri.


Jika kalian beranggapan kalau masa mudaku penuh dengan drama, maka pikiran kalian tak meleset. Sayangnya aku hanya menjadi aktris pendukung di antara Dimitri dan juga para kekasihnya.


“Hai, maaf ya aku telat. Jalanan padat banget soalnya,” ucapku ketika sampai di meja yang baru saja di tunjuk oleh sang pramusaji.


Total ada enam orang wanita di meja ini, kupikir kali ini akan sangat ramai, tapi hanya sedikit saja yang hadir. Aku tahu kebaikan mereka tulus. Tapi, ada juga yang berpura-pura polos dan hanya menganggap ini adalah salah satu hal terbaik yang bisa mereka lakukan agar hidup yang mereka jalani lebih elegan dan mampu menyamai orang lain.


“Ayo duduk, Li. Kami baru mau mulai, kok.”


Suasana mendadak menjadi canggung setelah kedatanganku. Apa jangan-jangan mereka tak terlalu mengahrapkan kehadiranku? Lagipula kami dulu juga tak pernah sangat dekat hanya untuk saling mengobrol. Mungkin hanya sebatas teman kelompok tugas, selebihnya kami hanya berbalas senyum sebagai ganti sapaan.


Aku duduk di kursi kosong di samping wanita yang menyapaku terlebih dahulu tadi. Namanya Linda, dia cukup baik dan kami belum terlibat perselisihan apapun. Sisa lima orang lainnya, mereka adalah wanita-wanita yang dulunya sangat tergila-gila pada Dimitri. Populernya Dimitri bisa menyamai seperti Afgan mungkin, aku tak terlalu banyak tahu tentang penyanyi.


“Gimana kabar kamu?” tanya Linda.


“Aku baik. Gimana kabar kalian? Kayaknya udah lama banget sampai kita kumpul kayak gini lagi,” ucapku.


“Aku baik. Agak patah hati waktu tahu kamu udah nikah sama Dimitri.” Wanita dengan rambut lurus dan riasan wajah cukup tebal itu menjawab. Aku lupa namanya, tapi aku tak bisa melupakan wajah judes miliknya. Bisa di bilang dia adalah wanita yang sangat berambisi untuk mendapatkan Dimitri.


Aku hanya meringis mendengar jawaban itu. Apa mungkin jika terjadi patah hati nasional ketika tahu kalau aku menikah dengan Dimitri?


“Berlebihan banget kamu, Mon. Kamu juga dulu pacaran sama banyak cowok,” ucap wanita berambut bob.


Aku ingat wanita ini. Namanya Lisa, dan ia cukup tomboy. Entah kenapa ia bisa berhubungan dengan Dimitri dulu. Dia tak melakukan hal buruk terhadapku, dia hanya melampiaskan kekesalannya padaku ketika Dimitri mencampakkannya. Aku sangat ingat caranya memaki yang tanpa sensor sedikitpun, sangat frontal, tapi juga


tak menyinggungku. Satu kampusku hampir mengenali aku sama dengan mereka mengenali Dimitri. Jika kalian menyebut Dimitri, maka tak adil rasanya jika kalian tak menyebutku.


“Tapi seenggaknya Dimitri berakhir sama sahabatnya sendiri, di banding dia sama kamu, Mon. Gak kebayang gimana rumah tangga kamu itu.” Wanita yang mengenakan hijab berwarna toska itu menimpali.


Dan pendapat wanita itu di iyakan oleh semua yang ada di meja ini kecuali aku dan Mona. Aku hanya memberikan senyum tipis. Ini alasan aku tak pernah datang ke acara reuni yang selalu di adakan setiap tahun. Bayangkan jika aku harus menghadapi hal seperti ini setiap tahunnya, itu tak pernah menjadi pilihanku.

__ADS_1


Tahun-tahun sebelumnya, mereka bisa mnegumpulkan hampir semua anak di jurusanku. Saat ini, mungkin yang lainnya sangat sibuk dengan kehidupan masing-masing jadi tak hadir. Aku juga tak akan bisa menghadapi jika mereka sangat ramai.


Selanjutnya obrolan kami berjalan dengan lancar, dan aku mulai bisa menyesuaikan diri. Banyak yang kami obrolkan, dari pekerjaan, pernikahan, anak, bahkan perselingkuhan. Ternyata mereka tak seburuk yang kupikirkan, kita semua sudah dewasa, hal itu tentu saja wajar, kan?


“Kalian masih inget sama Ririn? Cewek yang paling alim di kelas kita?” tanya Mona.


Kami semua mengangguk. Aku juga tak mungkin lupa dengan gadis yang bisa di bilang lebih tertutup di bandingkan diriku, tapi untungnya sangat cerdas. Dia lulus dengan nilai terbaik di jurusan kami. Dari kabar yang aku tahu, saat ini dia sudah menjadi dosen di kampus swasta.


“Ada apa sama Ririn?” tanya wanita berhijab tadi. Namanya Alisia.


“Suaminya selingkuh sama rekan kerjanya sendiri.”


**


Percakapan kecil kami tadi masih terngiang dengan jelas di pikiranku. Dari semua topik yang bisa saja kami bahas tadi, kenapa harus selingkuh yang tiba-tiba menjadi topik panas di antara kami? Apa ini kebetulan yang lainnya?


“Gak mungkin, Mon. Kamu tahu sendiri gimana suaminya itu, suaminya itu sering ngisi ceramah di majelis-majelis pengajian. Aku juga tahu banget gimana suami Ririn itu,” ucap Alisia. Kudengar Alisia dan Ririn cukup akrab, mereka sering datang ke majelis-majelis pengajian bersama.


“Beritanya udah cukup kesebar, mereka memang bener selingkuh karena proyek pondok pesantren yang mereka kerjain bareng. Ririn gak cerita apapun sama kamu? Kalian, kan cukup dekat,” lanjut Mona.


“Apa jangan-jangan kamu ngarang cerita ini aja, Mon. Di lihat dari sisi manapun, gak mungkin suami Ririn ngelakuin hal itu—“


“Jangan sepolos itu, Lin. Kita, kan, gak tahu gimana kehidupan suami Ririn dulu. Lagian kamu yakin banget pria kayak gitu gak bakalan selingkuh, setiap pria punya sisi kenakalannya sendiri, mau dia setia kayak gimana juga,” potong Mona.


Aku sedang dalam perjalanan menuju toko bungaku setelah reuni tadi bersama supir pribadi yang di pekerjakan Dimitri. Belakangan ini, aku sangat mudah terpengaruh oleh kalimat oang lain walaupun kalimat itu sendiri tak memiliki makna seperti yang kupikirkan. Aku sudah mengatakan kalau akan mempercayai Dimitri apapun yang terjadi, hanya saja pendirianku mudah goyah saat ini.


“Udah sampai, Mbak.”


Ada dua orang pelanggan yang sedang menunggu pesanannya ketika aku sampai di sana, dan ketika aku masuk ke dalam, Mbak Tari baru menyelesaikan rangkaian bunga miliknya. Aku segera mendudukkan diri di kursi yang ada di sana ketika Mbak Tari menyelesaikan pembayaran dan segala macamnya. Aku merasa sangat lelah, padahal aku tak melakukan apapun.


Aku benar-benar harus mengendalikan pikiranku sendiri sebelum aku menjadi gila. Setidaknya aku harus memastikan bayiku sehat sampai di hari kelahirannya, baru aku bisa memikirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya.


Sebenarnya aku tak perlu menyusahkan diri seperti ini, Dimitri bahkan sudah berjanji padaku, dan aku tahu kalau ia akan menepati janji itu. Dimitri tak pernah mengingkari janjinya, tapi pikiran tentang Dimitri yang bisa saja berselingkuh diam-diam membuat kepalaku berputar. Dimitri bisa melakukan apapun yang tak kuketahui, sama seperti suami Ririn tadi.


“Li,”


“Lili,”


Aku membuka mataku, dan menemukan Mbak Tari yang tersenyum padaku. “Kamu ketiduran di sini?” tanyanya.


“Kayaknya gitu deh, Mbak. Ada apa, Mbak?”


“Oh, itu ada yang nyariin kamu di depan. Cuci muka dulu, deh, baru ke depan.”


Aku menganggukkan kepalaku dan beranjak dari dudukku di sofa yang cukup nyaman ini. Mungkin ini karena kehamilanku, karena aku sangat mudah lelah saat ini. Di rumah Ibuku kemarin juga seperti itu. Setelah berjalan seharian mengunjungi tempat-tempat wisata, aku akan langsung tertidur di mobil atau tempat lainnya yang cukup nyaman.


Di depan toko bunga ini ada sedikit ruangan yang sudah kubuatkan kanopi beserta kursi dan meja, tujuannya agar para pelanggan bisa bersantai sambil menunggu pesanannya selesai. Sedikit berguna juga untukku yang biasanya kedatangan tamu seperti ini. Mungkin lain waktu aku akan memikirkan juga jika ingin membuka kafe yang juga berselaras dengan toko bunga.


Orang yang di maksud oleh Mbak Tari duduk di meja yang kumaksud. Aku takut akan mendapatkan kejutan yang selanjutnya jika menyapa orang ini. Perasaanku mengatakan kalau hal ini bisa saja buruk untukku.

__ADS_1


Orang tersebut membalikkan tubuhnya padaku ketika aku berpikir untuk menyapanya terlebih dahulu. Dia seorang wanita, dan ketika kukatakan kalau ini bisa saja menjadi buruk, maka itu benar saja terjadi. Wanita itu Evelyn.


**


Aku mencoba dengan keras untuk menunjukkan senyumku dan menjaga sikapku dengan ramah. Bagaimanapun juga, wanita ini adalah klien suamiku. Aku tak ingin menambah kesulitan Dimitri jika saja aku menampar wajahnya saat ini. Keinginan itu sudah berkali-kali timbul ketika wanita ini membalikkan tubuhnya padaku.


“Aku baru saja dari kantor Dimitri, lalu aku ingat kalau kamu memiliki toko bunga tak jauh dari kamtor Dimitri. Jadi aku memutuskan untuk mampir.”


“Ah, begitu.”


Mungkin aku lebih memilih menghadapi Michelle di banding wanita ini. Secantik, seanggun apapun wanita ini kelihatannya sekarang, itu tak mampu mengubah yang sudah ia lakukan pada Dimitri. Mungkin bukan Dimitri yang menggoda wanita ini, tapi wanita ini yang menggoda terlebih dahulu. Aku bisa melihat dengan jelas wajah culas wanita ini, sama seperti Mona, bedanya Mona bisa sedikit lebih baik di banding wanita ini.


“Bagaimana rasanya menjalankan usaha sendiri? Pasti sulit, kan? Awalnya aku juga seperti itu, sampai bisa memiliki perusahaanku sendiri tanpa bantuan dari suami. Ada kebanggaan tersendiri karena hal itu,” ucapnya.


Aku bahkan tak menanyakan hal itu sama sekali, aku juga tak peduli tentang seberapa kerasnya ia berusaha sampai memiliki perusahaannya tersendiri. Aku juga bahkan tak mnegetahui apa maksud sebenarnya datang menemuiku. Kami bukan seperti teman lama yang bisa saling menanyakan kabar.


Apa ia lupa kalau selama ini ia hanya melihat suamiku? Seolah ia tak menyadari kalau aku istri Dimitri. Entah apa yang akan ia lakukan di sini.


“Terdengar sangat luar biasa, aku tak menyangka kalau kamu sehebat itu.” Itu sindiran, jika wanita ini menyadarinya, yang aku yakin tak akan ia sadari.


Sudah banyak klien yang kutemui, dengan berbagai jenis sifat, dan Evelyn ini juga sangat mudah diketahui bagaimana kepribadiannya. Pengalaman sudah banyak mengajarkanku banyak hal.


“Tapi, ngomong-ngomong ada perlu apa kemari?” tanyaku hati-hati. Percayalah, aku berusaha sangat keras untuk menjaga sikapku.


“Aku hanya ingin mengenal lebih dekat wanita seperti apa yang mampu berdiri di samping Dimitri. Dan sekarang aku sudah mengerti kenapa Dimitri menikahimu,” ucapnya dengan senyuman.


Aku benar-benar tak mengerti dengan kalimat yang di katakan wanita ini. Memangnya dia siapa hingga harus mengenaliku? Bukan jenis kalimat yang akan di gunakan oleh klien dari suamiku sendiri.


“Aku minta maaf, tapi aku tak mengerti. Kupikir kamu tak seharusnya mengatakan kalimat seperti itu, kamu hanya klien suamiku.”


Aku menatap wanita ini dengan dingin, sangat muak rasanya jika harus menyebut wanita ini. Aku bisa merasakan kesialan jika menyebut nama wanita ini.


“Ya, aku tahu. Tapi, apa kamu gak pernah berpikir kalau mungkin saja aku dan Dimitri sangat cocok?”


Apa yang baru saja ia katakan? Aku tak salah mendengar kalimat, kan? Wanita ini baru saja mengatakan kalimat ini. Apa dia masih waras? Tolong beritahu aku, apa ada wanita yang sangat tak tahu diri seperti ini yang menanyakan kecocokannya di depan sang istri. Dia ini wanita bersuami yang kudengar juga sudah memiliki anak, apa itu masuk akal untuk merebut suami orang lain?


“Sepertinya obrolan ini hanya omong kosong, sebaiknya kamu pergi dari sini.”


Wanita itu menunjukkan seringainya yang kali ini membuatku yakin kalau wanita ini lebih buruk berkali-kali lipat di banding Michelle. “Kamu hanya gak tahu apa yang sudah kami lakukan selama ini. Aku bahkan bisa melihat kepuasan di wajahnya ketika kami melakukannya.”


“Pergi dari sini!”


Setelah menunjukkan seringainya untuk terakhir kali, wanita itu menghilang dari hadapanku. Aku berusaha mengatur detak jantungku yang berpacu dengan kencang.


“Lili, kamu gak apa-apa?” tanya Mbak Tari khawatir.


Aku tak mampu menjawab pertanyaan itu, kepalaku mendadak berputar dan pandanganku menghitam.


“Lili!”

__ADS_1


**


__ADS_2