
Akhirnya kita sampai juga di hari pernikahan yang udah di nantikan banyak orang. Ayo silakan hidangannya dinikmati dulu, santai dulu, ngobrol dulu, jangan diambil serius. semoga part ini bisa memuaskan perasaan kalian ya.
Semoga puasa hari ini lancar juga. Happy reading😊
***
Hari sabtu siang, Nabila benar-benar memenuhi undangan pernikahan Reno yang di adakan di sebuah hotel mewah di pusat ibukota. Nabila sempat di ceritakan oleh Reno jika keluarga Reni memang keluarga berada dan lebih dari berkecukupan. Jika hanya pesta pernikahan kecil seperti ini, mungkin tak akan menguras banyak tabungan mereka, bukan apa-apa jika di bandingkan dengan apa yang mereka miliki.
Nabila benar-benar datang bersama Juna, yang terlihat lebih dewasa siang ini dengan batik lengan pendek dan juga celana kain berwarna khaki. Sangat jauh berbeda ketika ia berada di kantor. Untuk usia dua lima, Juna terlihat lebih dewasa dari yang terlihat, setidaknya tak terlalu mencolok perbedaan usia di antara mereka.
“Ternyata kamu udah banyak aja, ya, penggemarnya,” ucap Nabila.
Sepanjang perjalanan mereka menuju lokasi resepsi, para gadis-gadis muda yang kebetulan juga menjadi tamu memperhatikan Juna tanpa henti. Nabila bisa memaklumi itu, karena jika ia juga berada di usia itu, mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Kapan lagi menjumpai pria setampan Juna di acara pernikahan seperti ini.
“Gak kebayang kalau aku gak pergi sama Mbak, mungkin banyak hal yang gak di inginkan terjadi.” Juna menggelengkan kepalanya dengan ekspresi yang sangat melas.
“Yakin kamu? Bukannya itu hal yang kamu inginkan juga, ya?”
Juna tiba-tiba menghentikan langkahnya, yang juga membuat Nabila berhenti di samping pria itu. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, Nabila berurusan dengan pria yang lebih muda darinya, jadi ia tak bisa menebak apa yang sebenarnya di pikirkan oleh pria muda di sampingnya ini. Juna selalu melakukan semuanya dengan spontan, dan spontanitas itu yang kadang membuat Nabila ternganga.
“Aku boleh gandeng tangan Mbak?” tanya Juna.
“Kenapa?” Nabila menaikkan alisnya meminta penjelasan lebih.
“Aku agak gak nyaman sama mereka yang kayaknya penasaran banget sama aku, mungkin dengan sedikit bantuan dari Mbak, bisa bikin mereka gak terlalu kepo.”
Oh, dan tingkat kepedean Juna yang juga sangat di ambang batas. Nabila tak pernah menjumpai pria seperti Juna. Tapi, pria ini juga pede karena apa yang ia miliki sangat mendukung keadaannya. Ia tampan, perayu ulung, mulutnya selalu lebih cepat mengatakan sesuatu di banding untuk memikirkannya lebih dulu. Juna benar-benar pria yang sangat bertolak belakang yang mencoba untuk mendekati Nabila.
“Untuk kamu ingat, aku janda anak dua,” ucap Nabila.
“Memang ada larangan buat gak gandengan tangan sama janda anak dua? Aku gak pernah tahu ada larangan kayak gitu, Mbak.”
Kini, Nabila benar-benar gemas dengan pria di hadapannya ini. Ia bahkan lupa jika ini adalah pernikahan mantan suaminya yang menyelingkuhi dirinya, dan kini menikahi selingkuhannya itu. Harusnya saat ini ia merasakan sakit hati dan rasa ingin membalas dendam pada pengantin di dalam sana, tapi ia justru berhadapan dengan berondong yang juga asistennya, yang juga dengan terang-terangan sedang mencoba mendekati Nabila.
Untuk bagian yang terakhir, itu hanya perasaan yang Nabila rasakan. Semoga tak ada yang mengatainya terlalu berlebihan dan berkhayal. Nabila adalah wanita dewasa yang tak akan pura-pura menutup mata dengan semua sikap yang di tunjukkan Juna ini. Ia tahu, dan ia ingin Juna hanya menganggapnya angina lalu dan tak serius. Jika hubungan ini sudah di bawa ke arah yang lebih serius, hanya akan membahayakan kedua pihak.
“Maaf kalau aku lancang, Mbak.” Juna segera menggandeng tangan Nabila yang pikirannya masih berada di tempat lain.
Nabila kaget dengan hal itu, tapi ia juga tak menolak. Ia hanya akan membiarkannya kali ini saja, bergandengan tangan tak serta merta membuat hubungan berubah menjadi serius, kan?
__ADS_1
Setelahnya, mereka memasuki ballroom yang sudah mulai ramai dengan tamu. Acara sudah di mulai sejak beberapa menit yang lalu. Bisa Nabila lihat dengan jelas pengantin yang sedang menyalami tamu undangan dengan senyum yang tak lepas dari bibir mereka. Sekarang, Nabila baru kembali ke kenyataan lagi dan melihat bahwa mantan suaminya lah yang ada di atas singgasana itu. Hidup benar-benar semengejutkan itu.
“Dari berita yang aku dengar, wanita itu adalah perusak rumah tangga orang lain,” ucap Juna.
“Dari mana kamu tahu?” Nabila cukup terkejut dengan Juna yang sepertinya diam-diam mengetahui banyak hal. Jangan-jangan ia juga tahu jika pria yang ada di sana adalah mantan suaminya?
“Keuntungan sering nemenin Ibu arisan ya itu, bisa denger gosip terhangat yang baru keluar dari oven.”
Nabila hanya menganggukkan kepalanya, sekarang ia jadi tak bisa memikirkan hal lain ketika sudah di hadapkan dengan pemandangan pengantin itu. Untungnya kemarin ia tak memutuskan untuk pergi sendiri, bisa di bayangkan apa yang akan terjadi jika ia pergi sendiri, hanya akan menambah luka di hati dan juga beban.
“Mbak kenal pengantin pria apa wanitanya?”
Keduanya! Mereka yang membuat hidupku menjadi seperti ini. Tapi Nabila tentu saja hanya mengatakan itu di dalam hatinya saja. “Keduanya.”
**
Dimitri kecelakaan.
Hanya dua kata itu yang mampu di ucapkan dan di ingat oleh Liliana hingga ia sampai di IGD sebuah rumah sakit. Ia sama sekali tak tahu bagaimana kondisi suaminya saat ini, atau seberapa parah luka yang ia terima. Ia hanya langsung bergegas ketika tadi polisi menghubunginya. Tubuhnya bahkan belum berhenti bergetar sejak tadi. Elang ia titipkan pada sang bibi yang ia minta untuk berjaga di rumah dan meminta untuk menghubungi kedua orang tua Dimitri untuk segera ke rumah sakit.
Ada sebentuk rasa bersalah di hati Liliana ketika mengetahui kabar suaminya ini. Jika saja ia tak tiba-tiba meminta Dimitri keluar hanya untuk membelikannya rujak, maka kecelakaan ini tak akan terjadi. Karena ini adalah haru sabtu, yang seharusnya mereka habiskan bersama, tapi Liliana sangat menginginkan rujak buah itu dan tak memiliki pilihan lain selain membelikannya.
Panggilan itu mampu mengalihkan fokus Liliana, yang ternyata adalah kedua orang tua Dimitri. Tanpa perlu menunggu waktu lama lagi hingga Liliana menghambur ke pelukan wanita itu, ia tak memiliki pegangan lagi dan sudah merasa tak bisa bangkit.
“Sabar, sayang, Dimitri pasti baik-baik saja di dalam sana,” ucap sang Mama menenangkan.
Liliana sudah tak mampu menahan air matanya lagi, yang bisa ia lakukan benar-benar hanya menangis karena sejak tadi dokter belum juga keluar dari dalam ruang IGD. Bagaimana jika luka yang di miliki Dimitri lebih parah dari yang Liliana pikirkan? Bagaimana jika ada kemungkinan buruk yang sama seperti yang ia pikirkan? Serta bagaimana lainnya, ia tak ingin membayangkan, tapi semua itu hanya muncul dengan sendirinya.
Mereka harus menunggu kurang lebih tiga puluh menit hingga dokter keluar dari ruang IGD. Liliana segera menghambur dan mendekati dokter pria tersebut.
“Bagaimana keadaan suami saya, dok?” tanya Liliana.
“Beruntung suami Ibu langsung di bawa kemari, karena jika terlambat sedikit saja, mungkin kemungkinan buruk akan terjadi. Ada benturan keras yang terjadi di kepalanya, namun kami sudah memastikan semua itu bukanlah masalah besar, lalu beberapa memar di kaki dan juga tangannya. Semuanya sudah di atasi dengan baik, tapi ia masih dalam keadaan di bius, mungkin akan membutuhkan waktu untuk ia hingga sadar.”
Penjelasan dari dokter tadi sama sekali belum mampu membuat Liliana puas. Ia masih si selimuti oleh banyak hal alih-alih merasa tenang. Dimitri akan di pindahkan ke ruang perawatan sebentar lagi jadi mereka bisa menjenguk dengan leluasa.
Tabrakan yang terjadi adalah tabrakan beruntun oleh empat mobil lainnya. Dimitri ingin menghindari lokasi kecelakaan dengan memutar arah, tapi ia justru terjebak dalam suasana kecelakaan itu dan menjadi sasaran empuk satu mobil lain yang kehilangan kendali di belakangnya. Liliana sempat melihat kondisi mobil yang akibat kecelakaan tadi di televisi, dan kondisi mobil itu sangat parah. Itulah yang membuat ia sangat cemas sejak tadi, jika kondisi mobilnya saja sudah ringsek seperti itu, bagaimana dengan pengemudi yang ada di hadapannya?
“Sayang, jangan di pikirkan lagi, Dimitri sudah baik-baik saja,” bujuk sang mama.
__ADS_1
Liliana hanya menganggukkan kepalanya dan duduk menunggu dengan tak tenang di kursinya. Dokter belum memperbolehkan pasien untuk di jenguk kecuali jika Dimitri sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Liliana benar-benar tak bisa melakukan hal lain selain merapalkan berbagai macam doa dan sesekali mengelus perut bulatnya.
Di sampingnya, sang mama mertua juga melakukan hal yang sama dengan masih memeluk Liliana. Baru saja minggu kemarin mereka melakukan obrolan akhir pekan yang sangat sempurna, lalu kini semuanya berubah dalam waktu yang sangat singkat. Ia masih saja menyesali keputusannya sebelum melepas kepergian Liliana, andai saja ia tak menginginkan rujak dan suaminya tak pergi keluar untuk membelikannya, mungkin kecelakaan ini tak terjadi dan mereka masih akan menghabiskan akhir pekan mereka dengan nyaman.
Tak menunggu waktu lama hingga Liliana jatuh pingsan di tempatnya duduk, mama Ina berteriak memanggil beberapa suster yang berjaga untuk menyelamatkan menantunya. Terlalu banyak yang Liliana pikirkan hingga ia tak bisa menahannya dan jatuh pingsan seperti itu, ia hanya berharap ketika ia bangun nanti, ia bisa berbicara dengan normal lagi dengan suaminya.
**
Acara pernikahan itu masih berjalan dengan sempurna, tamu yang masih ramai dan mereka yang saling mengenal juga mengobrol satu sama lain. Nabila sebenarnya sudah sangat muak berada di sana dan ingin segera pulang, tapi entah apa yang menahannya di sana hingga ia mampu bertahan hingga detik ini.
Di sampingnya, Juna sesekali melemparkan candaan padanya yang membuat wajah Nabila melengkung sedikit. Hal baru yang juga ia dapatkan hari ini, Nabila bertemu dengan ibu Juna yang sedari tadi di ceritakan dengan antusias. Tentang Ibunya yang sangat sering mengajaknya arisan lalu di perkenalkan dengan banyak anak teman-temannya, namun belum ada satupun yang cocok.
Hingga seorang wanita naik ke atas panggung dengan permintaan sang pembawa acara. Sang pembawa acara sepertinya sudah melakukan banyak hal sejak tadi untuk menjaga suasana yang cukup meriah. Ingat, kan, di awal tadi sudah di katakan jika keluarga Reni ini adalah keluarga berada yang mampu menutupi masalah apapun. Jadi, dari luar semuanya tampak sempurna.
Nabila tak peduli dengan semua itu, tak peduli dengan semua kesempurnaan buatan yang di ciptakan keluarga Reni dengan apik. Semua orang juga tak akan melihat ketidaksempurnaan yang ada, untuk apa melihatnya jika sudah bisa menikmati kesempurnaan yang sangat luar biasa. Pada akhirnya semua orang juga hanya memedulikan sisi baik seseorang saja.
“Bagaimana perasaan kalian setelah berada di sini? Kita harus mengucapkan selamat sekali lagi untuk pengantin di atas sana. Butuh waktu lama hingga akhirnya pengantin wanita kita, Reni, melepas status lajangnya,” ucap sang wanita tadi.
Semua tamu bertepuk tangan dan juga bersorak. Reni yang ada di atas sana sepertinya juga sangat tersipu dengan pujian yang di berikan secara tiba-tiba itu. Ia benar-benar menjadi ratu untuk hari ini dan juga menjadi pusat perhatian. Setidaknya Reni bisa melihat tawa bangga kedua orang tuanya di samping Reni.
“Tapi, apa kalian tahu? Aku tak ingin melakukan ini, tapi ini kulakukan karena aku sangat mencintai salah satu temanku yang hari ini sudah menjadi pengantin.” Wanita itu melambai pada Reni di atas sana, sepertinya mereka sahabat, tapi raut wajah wanita itu sudah sangat berubah.
“Reni, selamat atas pernikahanmu dan juga keluarga kecil yang nantinya akan kalian bangun. Semoga karma tak menemuimu untuk hari ini, karena sudah merebut pria beristri untuk menikahimu,” lanjut wanita itu.
Para tamu undangan mulai berbisik satu sama lain dan sangat tak terkontrol situasinya. Beberapa orang mungkin sudah sangat sering berkeliaran di media elektronik maupun cetak. Siapa yang tak akan melewatkan kesempatan emas melawan keluarga Reni yang sangat luar biasa itu. Raut wajah bahagia Reni kini sudah berubah, dan tak ada senyum yang terpampang nyata di wajah itu.
Nabila juga ikut menahan nafas seiring kalimat wanita yang ada di samping pembawa acara. Siapa wanita itu hingga bisa mengetahui hal selengkap itu. Mungkin saja, kan, jika yang di maksud wanita itu bukanlah Reno, melainkan pria lain yang mungkin pernah menjadi teman tidurnya.
“Apa kalian semua terkejut? Jangan seperti itu, ini sudah saatnya untuk semua orang tahu tentang seberapa SEMPURNANYA keluarga ini. Putri yang menjadi perusak rumah tangga orang lain, ayah yang sangat lihai dalam usaha bisnis dan sukses tapi sebenarnya memiliki beragam cara licik untuk menumbangkan lawannya. Ini adalah kebenaran yang selalu ingin di tutupi dengan kesempurnaan yang di ciptakan oleh keluarga ini.”
Kini, para tamu semakin ramai yang mulai membicarakan ucapan wanita di depan sana, dan tak segan-segan ada yang langsung meninggalkan lokasi acara. Nabila sendiri masih sangat terpaku dengan apa yang terjadi. Ia tak tahu kenapa wanita itu naik keatas panggung dan mulai menceritakan kisah yang seharusnya menjadi rahasia ini.
“Untuk pengantin di sana, semoga kalian berbahagia. Aku dengan tulus menyampaikan ini, Reni, semoga apa yang kamu lakukan berbalik menyerangmu.”
Seolah semua hal sudah di rencanakan, setelah wanita itu kembali menyerahkan mic pada sang pembawa acara yang sangat syok. Ada beberapa tamu, tepatnya ibu-ibu yang melemparkan telur ke panggung di depan sana, tepatnya kearah pengantin. Juna dengan reflek yang sangat kuat segera membawa Nabila ke belakang tubuhnya, berusaha untuk melindungi wanita itu yang entah kenapa terlihat sangat kaget.
Mungkin saja karena ini pertama kalinya terjadi di dalam sebuah pesta pernikahan. Para wartawan dan juga beberapa fotografer yang ada di sana tak ketinggalan untuk mengabadikan momen langka ini ketika pengantin di serang oleh sekelompok ibu-ibu yang juga meneriakkan beragam kalimat makian dan juga umpatan.
Apa ibu-ibu itu hanyalah suruhan atau juga korban dari suaminya yang juga di goda oleh pengantin? Yang jelas, berita yang akan keluar di media cetak amupun elektronik besok akan sangat mengejutkan. Siapa yang menyangka jika pernikahan yang di awali dengan sangat elegan bisa berakhir dengan ricuh seperti ini?
__ADS_1
**