
Hai, update lagi ya. doain lancar sampe seterusnya. Aku udah baca semua emosi kalian di komen, padahal lagi puasa, gak boleh emosi-emosi ya semuanya ;) di bawa santai aja, jangan terlalu benci sama reni deh, ntar kalian jatuh cinta lagi :)
Okedeh, Happy reading^^ happy fasting juga buat yang menjalankan
“Ini gak sesuai sama kesepakatan awal kita, Ren. Aku udah bantuin kamu, dan harusnya kamu juga nepatin janji kamu!” hardik Reno.
Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari kafe tadi, ketika Reni tiba-tiba meminta hal lain dan membatalkan perjanjian yang ia tawarkan sendiri. Beruntung mereka di dalam mobil, entah apa jadinya ketika mereka masih ada di kafe tadi. Reno memang sedikit curiga dengan kesepakatan Reni yang tiba-tiba ini, bahkan dengan sukarela memberikan isi kesepakatan yang sangat menguntungkan untuk Reno.
“Ini bukan perjanjian hitam di atas putih, No. Kalau kamu mau batalin juga, ya terserah kamu, aku juga gak akan rugi. Aku cuman nawarin sesuatu yang lebih bagus.” Reni mengangkat kedua bahunya tak acuh.
“Menikahi kamu sama sekali bukan pilihan yang lebih bagus, Ren, dan aku gak akan ngelakuin hal itu.”
“Ini bukan pernikahan beneran, hanya pura-pura supaya Papi gak ganggu aku lagi. Kamu gak perlu mencintai aku, kita hanya perlu menikah secara kontrak, No,” cecar Reni.
Reno diam. Ini tak akan menjadi pilihan yang baik, ia tak ingin menikahi ataupun berhubungan lebih lanjut dengan Reni apapun yang terjadi. Mereka memang bersahabat, tapi persahabatan mana yang justru tidur bersama dan berhubungan selama enam bulan ini. Reno bahkan di gugat cerai oleh istrinya sendiri, ia masih sedikit waras untuk tak meladeni Reni lebih jauh lagi.
“Kamu gak waras, Ren. Aku gak akan mau ngelakuin ini sampai kapanpun,” tegas Reno.
Reni tahu akan seperti ini. Reno bukan tipe orang yang mudah di bujuk dan sangat keras kepala, tapi Reni juga bukan tipe wanita yang mudah menyerah. Ia tak akan menyerah untuk keinginannya, tak peduli jika orang lain akan melihatnya sebagai wanita yang obsesif atau psikopat atau lain halnya. Yang ia tahu, ia harus mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Aku bisa datang ke sekolah Aidan dan memberitahukannya, kamu tahu, anak kecil sangat mudah di perdaya, dan kamu tak akan bisa menemui anakmu lagi setelah ini. Bagaimana?”
“Kamu ngancam aku?” tanya Reno.
“Anggap aja kayak gitu, aku juga mendesak karena hal ini, dan cuman kamu satu-satunya yang bisa aku pikirin saat ini. Kamu juga udah bercerai, gak ada yang salah dari itu, kita gak ngelakuin yang salah lagi. Aku juga bisa ngomong soal hubungan kita ke Papi aku biar lebih resmi dan kita bisa mendapat restu darinya.”
Reno menatap Reni tak percaya. Ini bukan Reni sahabatnya yang ia kenal, ini orang lain dan Reno tak mengenalnya. Sebanyak apa wanita ini berubah dan menjadi orang yang mengerikan seperti ini?
“Kamu gila, Ren, kamu bener-bener udah gak waras.”
Reni hanya mengangkat kedua bahunya tak acuh, mungkin jalan ini sedikit lebih mengerikan di banding yang pernah ia lalui sebelumnya. Tak masalah, ia sudah muak dengan kedua orang tuanya yang selalu meremehkan dan merendahkannya, ia sudah muak tak di anggap oleh dua orang yang ia harapkan bisa melindungi dan juga melimpahkan kasih sayang padanya. Ia mengharapkan semua itu, tapi ia tak mendapatkan apapun lagi.
Semua sudah ia lakukan, mulai dari menuruti semua keinginan orang tuanya, bahkan melakukan hal-hal yang tak ia sukai demi mendapat pengakuan dari kedua orang tuanya, tapi semua itu tak mengahsilkan apapun. Ia tetap di tinggalkan di belakang dan tak di pedulikan lagi. Jika ia sudah di kenal menjadi wanita yang buruk, maka biarkan lebih buruk. Ia harus menyelam lebih dalam agar orang-orang tahu betapa sangat melelahkannya menajdi dirinya saat ini.
Ia ingin menunjukkan pada semua orang, bahwa inilah dirinya yang sesungguhnya. Tak peduli jika ia akan di nilai seperti apa, toh ia tetap akan di cap buruk.
“Maaf kalau aku harus melibatkan kamu, tapi aku juga gak bisa kayak gini terus, No. kamu yang paling tahu gimana kondisi keluargaku, gimana menekannya mereka sama aku,” ucap Reni.
Reno tahu soal kisah keluarga Reni yang tak akur, dan bagaimana ia di abaikan di keluarga itu. Tapi, ini juga bukan jalan yang benar untuk di lakukan, dan Reno juga tak bisa membiarkan Reni seperti ini. Sejahat apapun yang ia lakukan, Reni tetaplah sahabatnya, sudah seperti itu sejak bertahun-tahun lalu ketika mereka masih di bangku kuliah. Reno juga bukan pria yang bisa dengan mudah menolak, kesalahan yang fatal dulu yang membuat ia berhubungan di belakang sang istri lalu kemudian bercerai.
Katakan saja jika Reno memang semudah itu untuk percaya dan mengiyakan permintaan orang lain, itu sudah bawaan sifatnya. Mau ia mengatakan Reni tak waras sekalipun, hatinya tetap meneriakkan untuk menolong Reni.
Mobil yang Reno kendarai berhenti secara mendadak di bahu jalan, membuat Reni terkejut dan menatap Reno. “Kamu mau bunuh kita?” tanya Reni tajam.
“Ya, aku lebih baik mati di banding harus menuruti semua permintaan konyolmu itu.”
__ADS_1
**
Elle menatap Enzo yang tengah memeriksa berkas di tangannya dengan serius, ia sama sekali tak tertarik dengan wajah tampan Enzo atau betapa seriusnya dia menatap berkas-berkas itu. Ia masih sangat ingat apa yang di katakan oleh Brian malam itu, yang sangat ingin ia lupakan, tapi tak bisa karena pria itu yang terus menerus menerornya. Elle tak ingin terlibat dalam permasalahan siapapun, termasuk Brian dan juga Enzo.
“Aku ingin kau mendekati Enzo, buat ia mempercayaimu sepenuhnya, atau kau bisa buat dia mencintaimu. Apapun caranya, buat dia sepenuhnya mempercayaimu,” ucap Brian.
Elle hanya diam, ini akan buruk. Firasatnya mengatakan jika ini akan buruk. “Dan jika kau berhasil melakukannya,
aku akan mengurangi semua jumlah hutangmu itu. Langkah selanjutnya akan kuberitahu lagi nanti. Untuk saat ini, pastikan buat dia untuk mempercayaimu.”
Mudah sebenarnya, dan Elle akan mendapatkan jatah pengurangan utang-utang yang mencekik lehernya itu. Tapi, dari awal, Elle sudah merasa ada yang salah dengan semua ini. Tentu saja maksud dari Brian adalah untuk tujuan buruk, pria itu tak akan memanfaatkan Elle untuk tujuan baik. Yang benar saja, mungkin Brian benar-benar sudah gila jika melakukan itu.
“Apa kau sudah mulai jatuh cinta padaku?” tanya Enzo tanpa mengalihkan matanya dari berkas-berkas di hadapannya.
“Apa?”
“Tatapan matamu sudah sangat bisa untuk melobangi wajahku, kau tak merasakan itu?” tanya Enzo lagi dengan geli.
Apa Elle melakukan itu? Ia tak merasakannya, ia juga tak sadar sudah melakukan itu. Membuat orang lain mempercayainya? Elle sangat bisa melakukannya, tapi ia tak bisa jika ini Enzo. Bagaimana jika kejadian tentang Ayahnya terjadi lagi? Enzo tak mengetahui apapun dan harus menanggung sesuatu yang bukan urusannya. Tak
adil sekali rasanya.
“Tentang pertemuan dengan pria kepercayaan Ayahku, bagaimana kemajuannya?” tanya Elle dengan ragu.
“Akhirnya kau penasaran juga, kupikir kau tak akan tertarik dengan semua itu,” jawab Enzo. Ia kini mengangkat wajahnya dan menatap Elle dengan saksama. “Berjalan lancar dan baik, ia juga sudah setuju untuk menanamkan sahamnya di sini. Kupikir tak masalah. Dari data yang kubaca, saham milik ayahmu meningkat pesat ketika ia mulai bergabung dengan ayahmu,” lanjut Enzo.
Ya, memang benar seperti itu. Jika saja dunia tahu betapa kejinya seorang Brian Dennis Park itu dan semua rencana kerjanya. Elle tak ingin ada korban lain, ia mungkin tahu jika Enzo bukan orang yang mudah terpercaya dan akan masuk ke perangkap orang lain begitu saja, ia tahu itu. Tapi, Brian itu memiliki banyak cara untuk melumpuhkan lawannya.
Enzo menatap Elle untuk beberapa saat, ia terkesima untuk beberapa detik. Bukan pada kecantikannya, ya itu juga termasuk, tapi ia lebih terkesima dengan raut wajah yang di tunjukkan oleh Elle. Apa ia boleh mengatakannya? Jika Elle terlihat lebih menggemaskan?
“Kau mencemaskanku?” tanya Enzo.
“Bu—bukan begitu, aku hanya … kau tahu … ah, jadi maksudku …”
Kenapa jadi Elle yang gagap dan tak bisa mengatakan apa yang ada di pikirannya? Ini seperti bukan dirinya, lagipula, untuk apa ia gugup. Ini masalah Enzo dan Brian, kenapa ia harus ada di tengahnya dan dalam posisi yang tak menguntungkan? Ia tak ingin terlibat, tapi Brian sendiri sudah memasukkannya dalam masalah ini, dan juga tawaran Brian kemarin sangat menguntungkan dirinya. Bayangkan jika utangnya akan berkurang begitu saja, itu akan membuatnya tenang untuk beberapa saat.
Tawa kecil lolos dari bibir Enzo, entah kenapa hanya dengan melihat kebingungan Elle mampu membuat wajah dingin itu melengkungkan senyumnya. Mungkin ia sudah sedikit gila, atau mungkin faktor terlalu banyak pekerjaan yang harus ia tangani. Semuanya bisa menjadi sebab, dan Enzo harus cukup beruntung dengan Elle yang mampu mencerahkan hari kelabunya hanya dengan berada di sampingnya.
Oke, apa baru saja Enzo mengatakan itu? Terdengar sangat berlebihan memang.
“Kau tak perlu mengkhawatirkanku, aku bisa menjaga diriku dengan baik, dan aku juga sudah sangat mengenal bidang ini lebih baik dari yang kau duga. Apa yang kau cemaskan?”
Kenapa itu lebih terdengar seperti seorang kekasih yang menenangkan di banding atasan pada sekretarisnya? Elle sedang tak salah dengar, kan? Atau benar ada yang salah dengan Enzo saat ini?
“Well, aku hanya mengingatkanmu. Apapun bisa terjadi tanpa kau inginkan, jadi jangan terlalu angkuh dengan kalimatmu sendiri,” ucap Elle dengan tenang.
“Aku pastikan untuk mengingat nasihatmu, Elle.” Enzo tersenyum menatap Elle yang sepertinya masih salah tingkah karena masala tadi.
Setelah sekian lama, Enzo mampu mengeluarkan senyum itu lagi dari wajahnya. Rasanya sudah sangat lama sekali sejak ia tersenyum karena seorang wanita.
**
__ADS_1
“Jadi, kamu benar-benar putus dengan Kate?” tanya Liliana. Untuk yang kesekian kalinya hari ini.
Liliana sudah tak terlalu kaget sebenarnya, karena ia sudah mengetahui kembalinya Richard ke Jakarta kemarin dari Nabila. Ia hanya masih belum mempercayai jika Richard dan Kate benar-benar berakhir, mereka adalah pasangan yang sangat cocok menurut Liliana, dan lagi Kate bisa melihat betapa Kate sangat mencintai Richard. Sangat di sayangkan sekali mereka putus seperti ini.
“Harus berapa kali kujawab, Li, kami sudah putus. Kalau nggak, ngapain aku kembali ke Jakarta dan ketemu kalian lagi di sini?” balas Richard dengan jengah.
Nabila dan Dimitri yang juga hadir di sana hanya mampu tergelak. “Kalau Kevin tahu kamu ada di sini dan putus dari tunangan kamu itu, aku yakin kamu bakal di ejek habis-habisan,” ucap Dimitri.
Entah sejak kapan mereka menjadi selalu berkumpul berempat seperti ini, mereka hanya merasa cocok satu sama lain dan saling nyambung dalam obrolan mereka. Lalu, berkumpul seperti ini seolah menjadi agenda rutin yang biasa mereka jalani. Jika Richard ada di Jakarta tentu saja, sekarang mungkin mereka akan semakin sering berkumpul berempat, dan target mereka selalu jatuh pada Richard.
Richard adalah contoh pria yang sangat mencintai wanitanya, bagaimanapun ia sudah di sakiti. Bukan pemain wanita seperti Dimitri dulu, ia hanya akan mencintai satu wanita, dan dalam kasus ini, Kate adalah wanita beruntung itu.
“Ya, dia pasti bakal seneng banget ngejekin, kan? Udah ketebak banget emang, sebelas dua belas sama kalian sekarang ini.”
“Aku padahal berharap kalian bisa nikah, jadi aku punya alasan buat ke Jerman lagi, dan kamu juga bisa ngasih tiket gratis,” celetuk Liliana.
“Di samping kamu itu ada pria kaya yang wajib ngebiayain hidup kamu lahir batin, masih aja mau tiket gratis,” ejek Nabila.
“Kamu gak tahu seninya tiket gratis, Bil.”
Sepanjang sisa obrolan itu hanya di isi oleh candaan dan juga celotehan acak Nabila dan Liliana, sesekali Dimitri dan juga Richard menceritakan tentang usaha mereka yang sedang berkembang dengan pesat.
“Aku yakin, kita gak punya kandidat pria yang sangat, sangat bucin kalau itu bukan Richard. Kamu masih mau bantuin mantan tunangan kamu itu setelah semua ini?” tanya Nabila tak percaya.
“Aku bilang juga apa, Richard itu masih cinta tapi dia terlalu gengsi untuk bilang itu ke Kate, dan Kate juga aku yakin terlalu gengsi untuk bilang kalau dia masih cinta sama Richard. Aku heran sama apa isi kepala kalian itu,” timpal Liliana.
“Dim, kamu nemu dimana sih, orang kayak Liliana ini. Kenapa tebakannya akurat banget?”
Dimitri tertawa mendengar pertanyaan seperti itu yang keluar dari mulut Richard. Kalau di pikir-pikir lagi, semua orang pasti pernah merasakan fase dimana kita tak bisa melakukan apa-apa terhadap orang yang kita cintai. Ketika kita ingin mengatakan bahwa kita sangat mencintai dia, tapi hal yang bisa kita lakukan justru melepaskan dia. Dimitri pernah memasuki fase itu, dan mungkin kini Richard sedang ada di fase itu.
“Berat kalau di ceritain, sih, lebih banyak pisahnya daripada barengnya,” jawab Dimitri. Yang sebenarnya juga tak menjawab pertanyaan Richard.
“Kalian gak kepikiran gitu buat namain perkumpulan ini?” usul Nabila.
Dimitri dan Richard hanya menatap Nabila dengan bingung, tapi Liliana hanya menganggukkan kepala di tempat duduknya, ia sudah tahu jenis kalimat apa yang akan di sampaikan Nabila ini. Yang jelas, itu akan menohok untuk kedua pria yang ada di sini.
“Perkumpulan gagal cinta?” tanya Nabila.
“Aku gak ikutan. Gagal cinta yang mana coba.” Itu Dimitri yang dengan lantang menyuarakan pendapatnya.
“Well, kamu gak punya usul yang lebih berbobot dari ini?” Kalau yang itu Richard.
“Kita semua pernah gagal cinta, sekarang aja fasenya beda,” ujar Liliana menimpali.
“Gak salah selama ini aku sahabatan sama Liliana.” Nabila mengangsurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Liliana, yang langsung di terima dengan senang hati oleh Liliana.
“Kita bisa nyari anggota kalau kalian mau, aku yakin banyak yang tertarik.”
Nabila tersenyum mendengar usulan Liliana itu, Dimitri dan Richard hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Dimitri tak tahu jika istrinya bisa memberikan ide konyol seperti ini. Apa tadi katanya? Perkumpulan gagal cinta? Nanti ia akan membawa Kevin untuk masuk ke dalam keanggotaan ini.
**
__ADS_1