Playboy

Playboy
#10. Jeaolus


__ADS_3

Hi, hari kamis kan, ya? ;)


Happy reading^^



Hari ini adalah jadwal Liliana untuk mengajar kelas bisnis di Kedutaan Indonesia yang ada di Frankfurt. Walaupun tentu saja berbeda antara kelas bisnis di Frankfurt dan Indonesia, Liliana sedikit demi sedikit memahami apa kendala para mahasiswa tersebut, dan Liliana tak keberatan untuk menjelaskan ulang lagi kepada para mahasiswa tersebut di sela waktu kosongnya seperti ini.


Hanya ada lima mahasiswa yang belajar pada Liliana, karena memang ia tak bisa mengajar ulang untuk kapasitas yang besar. Semua itu ia lakukan dengan gratis, karena tujuan utamanya memang membantu para mahasiswa yang kesulitan belajar. Jika sedang berada di Kedutaan, Liliana akan membawa serta Elang, karena tak ada yang keberatan juga dengan kehadiran bayi menggemaskan itu.


“Kayaknya aku yakin bisa lulus dengan nilai sempurna semester ini, berkat ajaran Kakak Liliana kita yang sangat cantik ini,” ucap Anton. Mahasiswa yang sangat suka menggoda Liliana, dan juga memiliki aura flamboyan yang sangat kentara.


“Kamu harus buktiin itu, Anton, jadi usaha saya ngajarin kamu gak sia-sia,” ujar Liliana dengan senyum lebar.


“Gak yakin gue, secara dia ikut kelas ini cuma mau ngecengin Kak Lili aja,” timpal Airin. Ia adalah mahasiswi asal Jakarta yang sangat ceplas ceplos, tapi memiliki hati yang sangat baik.


Liliana hanya tertawa melihat interaksi muda mudi di hadapannya, ia seperti kembali mengingat masa-masa kuliahnya yang sangat berharga itu. Walaupun temannya tak banyak kala itu, tapi ia juga merasakan hal-hal seperti itu. Berkunjung ke Kedutaan membuat rasa rindunya terhadap kedua orang tua semakin dalam.


Ia lelah berlari, ia lelah dengan kehidupan yang sedang ia jalani, ia lelah jika harus bertemu dengan Dimitri terus-terusan walau ia tak menginginkan. Pertemuannya kembali dengan Dimitri kemarin berhasil membuatnya seperti ini, perasaan melankolis itu selalu mampir di tubuhnya. Ia pikir tak akan pernah bertemu dengan pria itu lagi, tapi nyatanya ia tetap bertemu.


Jika di pikir kembali, masa kuliah adalah masa terbaik dalam hidupnya. Beban pikirannya hanya seputar kebingungan mencari pekerjaan, atau bagaimana bertahan hidup ketika kita sudah tak ingin membebani kedua orang tua. Tak pernah ada kisah romantis yang mampir di kepalanya, mungkin ada, tapi ukurannya sangat kecil dan tak terdeteksi.


Mungkin karena ia terlalu mencintai Dimitri, hingga sampai sekarang rasanya masih sesak. Ia mencintai pria itu dengan segenap hatinya, dan berharap kalau pria itu adalah yang terakhir, tapi semua hal tak pernah berjalan seperti apa yang di harapkannya.


“Kak, kami duluan, ya? Makasih buat kelasnya hari ini.”


Lamunan Liliana terputus mendengar kalimat itu, ia segera tersenyum dan melambaikan tangannya pada kelima mahasiswanya itu. Ini adalah hari liburnya, dan tak setiap hari libur ia mengajar, hanya ketika para mahasiswanya itu memiliki waktu saja. Liliana membereskan barang bawaannya, hari sudah cukup senja, dan ia harus mengambil anaknya terlebih dahulu yang tadi ia titipkan pada salah satu staf yang selalu menjaganya ketika Liliana sedang mengajar.


“Kamu bisa lanjutin kerjaan ini aja, daripada kamu jadi pramuniaga. Aku pikir ini lebih cocok sama latar belakang pekerjaan kamu sebelumnya dan juga pendidikan kamu,” ucap Sarah. Ia adalah staf yang juga menjaga Elang, dan cukup akrab dengan kehadiran Liliana.


“Aku kayaknya gak sanggup buat mikir lagi, Sar,” ucap Liliana dengan tawa.


Setelah mengucapkan terima kasih, Liliana segera berjalan keluar untuk pulang. Mungkin ia akan makan malam di luar saja. Angin musim semi menerpa wajahnya lembut ketika ia melangkahkan kakinya keluar gedung, sebentar lagi musim semi berakhir dan akan di gantikan dengan musim panas.


Liliana bisa saja membeli mobil sebagai kendaraannya, tapi ia tak melakukan itu dan lebih memilih angkutan umum. Sangat di sayangkan jika Liliana harus melewatkan udara segar ini dengan terperangkap di dalam mobil. Elang dalam gendongannya sudah pulas karena aktif sejak tadi, usianya sudah memasuki bulan kedelapan dan sedang aktif-aktifnya bergerak.


“Lili!”


Liliana menolehkan wajahnya, lalu mendapati Enzo yang sedang berdiri di samping mobilnya dengan senyum lebar. Mereka sedang tak memiliki hubungan apapun, mereka hanya dekat dengan sendirinya karena kehadiran Dimitri. Ah, Dimitri.


**


Sore itu, untuk kesekian kalinya, wajah Dimitri kembali kaku ketika melihat pemandangan di hadapannya. Liliana dan pria yang tempo hari juga pernah ia temui, yang merupakan kekasih wanita ini. Ketika memutuskan untuk kembali mendatangi Liliana setelah ia kembali tiba di Frankfurt, ia sudah menduga semua ini, hanya saja ia tak tahu kalau akan sesakit ini rasanya.


Ya, mereka sudah bercerai, tak ada hak yang di miliki Dimitri untuk melarang mantan istrinya memiliki kekasih. Tapi, tak salah jika ia merasakan cemburu, kan? Karena sejak awal, perceraian ini adalah kesalahan dirinya.


“Oh, kau lagi,” ucap Enzo ramah.


Dimitri hanya memberikan senyum tipisnya pada pria ini. Ya, ia akui pria ini tampan, walau tak setampan dirinya. Entah sudah berapa banyak wanita yang berhasil di taklukan pria ini, karena Dimitri sangat yakin kalau pria ini juga salah satu pemain wanita. Oke, mungkin itu hanya bentuk rasa kekecewaan dan kecemburuan Dimitri saja, hingga ia memiliki pendapat tak masuk akal itu.

__ADS_1


“Ada perlu apa?” tanya Liliana. Ia berusaha sebisa mungkin untuk terlihat biasa saja di hadapan Dimitri untuk kesekian kalinya.


“Aku hanya mampir,” jawab Dimitri. “Aku memiliki pekerjaan di sekitar sini, jadi aku akan menetap di Frankfurt untuk sementara.”


Liliana kaget, apa ini menjawab kehadiran Evelyn di toko tadi? Apa mereka masih berhubungan hingga saat ini? Atau mereka sudah menikah tanpa sepengetahuan Liliana? Tapi, kalaupun itu terjadi, itu bukan hal besar untuk Liliana. Menikah ataupun tidak adalah hak masing-masing, toh mereka sudah bercerai.


“Ah, benarkah? Semoga kamu betah di sini,” ucap Liliana. Ini tak terduga, hidupnya sudah pasti menjadi tak tenang dengan kehadiran pria ini, ini artinya ia harus tetap bersama Enzo agar Dimitri tak mendekatinya. Tapi, tak bisa seperti ini, kan?


Enzo yang menyadari aura canggung di antara mereka, mencoba mencairkan keadaan. Ia meremas dengan lembut pinggang Liliana, ia tahu ini sedikit tak sopan, tapi ketika meihat wanita ini dalam keadaan kebingungan dan berpura-pura kuat ketika bertemu pria ini, sudut hatinya berteriak untuk membantu wanita ini.


Nanti jika Liliana akan menuntut semua tindakan dirinya, Enzo akan pasrah saja. “Sayang, sepertinya kita harus bergegas,” ucap Enzo.


Liliana menatap Enzo dengan senyum tipis. “Kami permisi dulu,” ucap Liliana.


Hanya dengan seperti itu, Liliana kembali meninggalkan Dimitri untuk kedua kalinya setelah perceraian mereka. Bukan masalah ketika perasaan Dimitri tersakiti karena hal itu, ia memang pantas mendapatkannya, hanya saja, rasanya sangat menyesakkan. Ia bahkan tak memiliki waktu untuk merasakan kesakitan lagi.


Sore itu menjadi sore terburuk yang pernah ia rasakan, dan selalu Liliana yang mampu membuatnya merasakan semua hal itu. Itu adalah hari pertama ketika ia datang kembali ke Frankfurt untuk pekerjaan—Liliana—dan sambutan yang ia dapatkan sangat luar biasa. Bagaimana ia akan menjalani hidup selama tiga bulan ke depan?


“Dimitri?”


Dimitri mendongak mendengar suara itu, ia berharap kalau yang baru saja memanggilnya adalah Liliana, tapi itu sangat tak mungkin. Tebak siapa yang memanggilnya? Ia tak memiliki teman di sini, hanya sekretarisnya, dan mungkin staf dari kliennya saja.


“Evelyn?”


“Ternyata bener kamu,” ucap wanita itu dengan senyum lebar. “Gak nyangka banget ketemu kamu di sini.”


Liliana juga di sini. Kebetulan yang sangat luar biasa, kan?


Tak ada respon yang di berikan Dimitri, ia hanya menyesap kopinya yang sudah dingin karena sedari tadi ia habiskan untuk melamun dan memikirkan Liliana. Jika wanita ini juga berada di sini, hidupnya sudah di pastikan sangat tak tenang.


“Maafkan aku karena tak menghubungi, keadaanku saat itu tak memungkinkan untuk menghubungi siapapun. Aku takut kemarahan suamiku akan semakin mempersulit dirimu.” Evelyn segera duduk di kursi yang ada di hadapan Dimitri tanpa di minta..


Jika saja Dimitri tahu sejak awal tentang kelicikan Evelyn, ia sama sekali tak akan menerima permintaan bisnis apapun yang di tawarkan. Bahkan dengan alasan suaminya yang meminta semua itu, ya, memang salahnya sejak awal. Kata ‘seandainya’ bahkan sudah tak mampu menenangkannya.


“Akan lebih baik kalau kita tak menemui satu sama lain lagi.”


Evelyn sedikit terkejut dengan respon yang di berikan Dimitri, bahkan raut wajahnya sangat datar. Ini merupakan kesempatan langka karena bisa bertemu secara tak sengaja dengan Dimitri, jadi ia tak akan membiarkan kesempatan ini hilang begitu saja.


“Kenapa nggak? Bukannya kita udah sama-sama bercerai? Kamu bisa menemuiku untuk urusan bisnis, ataupun pribadi. Aku dengan senang hati akan membantu.”


Dimitri sama sekali tak mengerti dengan jalan pikiran wanita ini, sekalipun Dimitri belum menikah, ia tak akan memilih wanita seperti ini untuk mendampingi dirinya. Hanya ada Liliana di hatinya sampai kapanpun.


**


“Aku akan ke Berlin selama satu minggu ini,” ucap Enzo.


Liliana menatap Enzo dengan alis terangkat. “Kau tak sedang meminta izinku, kan?” tanya Liliana dengan geli. Hubungan mereka belum sejauh itu untuk saling meminta izin melakukan sesuatu.


Enzo tertawa. Ketika ia di beritahu untuk menyelesaikan pekerjaan lain di Berlin, orang pertama yang terlintas di benaknya adalah Liliana. Agak sedikit konyol memang, bahkan ia tak memberitahu Katherine untuk hal seperti ini.

__ADS_1


“Aku hanya memberitahu, jadi kalau kau merindukanku, kau tak perlu bingung mencariku.” Enzo mengedipkan sebelah matanya pada Liliana.


Mau tak mau Liliana tersenyum karena hal itu. Enzo selalu mampu membuatnya tersenyum karena hal-hal kecil seperti itu, dan Liliana selalu bersyukur karena hal itu. Kebahagiaan kecil seperti ini sangat berharga untuknya, ia selalu menekankan itu untuk dirinya sendiri. Ia kembali menyuapi Elang yang sudah duduk manis di kursi khusus bayinya, beruntung ada makanan bayi yang juga di jual di restoran ini.


“Bagaimana dengan pria itu ketika aku di Berlin?”


Dimitri. Untuk sesaat Liliana bahkan sudah melupakan nama itu, lalu kenyataan kalau pria itu akan melakukan pekerjaan di sini kembali menghantamnya. Setidaknya pria itu akan menetap untuk waktu lama di sini, hal itu benar-benar tak baik untuk dirinya. Tapi, ia juga tak bisa mengandalkan Enzo untuk selamanya, pada akhirnya pun, ia juga harus menghadapi pria itu sendirian.


“Memangnya kenapa dia? Aku tak masalah dengan pria itu, kau bisa pergi ke Berlin dengan tenang. Kami hanya teman lama.”


Enzo tahu bukan itu yang di maksud Liliana, ia selalu menemukan Liliana yang langsung menegang ketika melihat pria itu dari jarak yang cukup jauh. Mereka bukan hanya sekedar teman lama, Enzo sangat pasti dengan opininya kali ini, tapi ia cukup tahu diri untuk tak melewati batas dan menanyakan masalah pribadi wanita ini.


“Atau kau bisa ikut aku ke Berlin,” ucap Enzo asal.


Liliana membulatkan matanya menatap Enzo. Pria ini pasti bercanda, kan?


“Aku hanya bercanda, kenapa wajahmu sangat serius?” tanya Enzo dengan geli.


Liliana segera memalingkan wajahnya mendengar ucapan Enzo tadi, tangisan Elang juga yang membuatnya memalingkan wajahnya. Makanan bayi di hadapan putranya juga sudah habis. Ada kebiasaan aneh yang di miliki sang putra mungilnya ini, ia akan tertidur setelah menyantap makanannya. Dan sepertinya ia ingin tidur jika sudah menangis seperti ini.


“Ada apa?” tanya Enzo khawatir. “Apa dia membutuhkan sesuatu?”


“Dia hanya ingin tidur, sudah kebiasaannya seperti ini.”


“Kau ingin aku menggendongnya? Kita bisa pulang setelah itu.”


“Ah, tak perlu, aku tak ingin merepotkanmu.”


Enzo segera menyerahkan dompetnya pada Liliana. “Kau yang bayar makanannya, aku akan menggendong Elang.”


“Tapi—“


Tanpa menunggu Liliana menyelesaikan ucapannya, Enzo segera mengambil Elang yang masih menangis dan memeluk bayi mungil itu di dadanya. Ia tak pernah belajar untuk menenangkan bayi atau bahkan menidurkan bayi, mungkin jika meniduri wanita, ia pernah melakukannya dulu.


Pada akhirnya Liliana mengikuti perintah Enzo, putranya bahhkan sudah tenang di pelukan Enzo. Hal yang sangat jarang terjadi, bahkan untuk Liliana sendiri membutuhkan waktu untuk membuat putranya ini tenang.


“Apa ia sudah tidur?” tanya Liliana. Ia sudah menyelesaikan pembayaran di kasir dengan dompet yang di berikan Enzo tadi. Semua hal ini semakin menambah rasa tak enaknya pada pria ini, dia sudah cukup banyak membantu Liliana untuk segalanya.


“Kita pulang sekarang.”


Liliana segera mengambil tasnya, lalu berjalan di samping Enzo yang menggendong Elang. “Kau bisa memberikan padaku jika tanganmu pegal, berat Elang belakangan ini semakin bertambah,” ucap Liliana khawatir.


“Aku bahkan bisa menggendongmu sekaligus jika ingin, Elang bukan apa-apa untukku,” balas Enzo dengan senyum. Untuknya yang tak pernah menggendong bayi, Elang cukup berat dan membuat tangannya pegal, bagaimana wanita ini bisa bertahan menggendong putranya ini seharian?


“Kenapa wajahmu memerah?” tanya Enzo lagi. Elang sama sekali bukan halangan untuknya menikmati wajah memerah Liliana di sampingnya, ia diam-diam tersenyum melihat kejadian itu.


Langkah Enzo terhenti ketika akan memasuki lift, begitupun Liliana, senyumnya juga seketika memudar. Ia kembali bertemu Dimitri, namun kali ini ada wanita lain di samping pria itu. Jadi pemikiran Liliana benar, Evelyn ada di sini bersama Dimitri.


**

__ADS_1


__ADS_2