Playboy

Playboy
#2# Take 21


__ADS_3

Kurangin emosinya, ya, masih puasa soalnya. Atau bacanya pas udah buka aja.


Happy reading^^


 



 


“Dari banyak orang yang bisa kamu temui, dan kamu milih buat ketemu aku?” tanya Nabila tak percaya.


Di hadapannya kini ada Richard yang katanya baru kembali dari Jerman dan mengatakan akan menetap lagi di Jakarta. Seharusnya pria ini menemui Dimitri atau siapa saja teman yang ia kenal, bukan justru menemui Nabila seperti ini. Bukan apa-apa, hanya saja ia tak sedekat itu untuk mengobrol dengan Richard, dan Richard juga sahabat Reno dulu.


“Anggap aja aku ikut bertanggung jawab untuk semua yang Reno lakuin ke kamu.”


“Kalau kamu mau tanggung jawab, kamu harus biayain hidupku dan juga anak-anakku sampai mereka besar nanti,” ucap Nabila tanpa rasa bersalah.


“Sebanyak itu? Kamu mata duitan atau gimana?”


Nabila mendelik mendengar kalimat balasan dari Richard. Memang dalam keadaan seperti ini siapa yang tak membutuhkan uang, sepertinya hampir semua orang membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Nabila juga salah satunya, ia harus kembali bekerja keras untuk membiayai hidupnya dan kedua anaknya. Ia masih memiliki tabungan, tapi akan terus terkikis habis jika ia tak mulai untuk bekerja.


Sekarang ini sudah hampir empat bulan perceraiannya, keadaan belum sangat membaik, ia masih dalam keadaan seperti ini. Sesekali masih meratapi pilihannya sendiri, tapi ia juga mulai menerima semuanya dan mulai menjalani hidup yang baik. Tak baik jika ia terus-terusan mengeluh, ia tak ingin di kalahkan begitu saja oleh hidup.


“Jadi gimana sama pacar atau tunangan kamu yang ada di Jerman itu?” tanya Nabila.


“Kami putus, apalagi memang yang mau di harapkan? Aku juga gak mungkin mau berlutut di hadapannya supaya dia nerima aku lagi.”


“Ah, jadi ini alasan kamu nemuin aku bukan Dimitri atau Liliana. Kamu takut mereka akan ngatain kamu.”


Richard hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pasrah. Ia tetap akan menemui sahabatnya itu, tapi nanti, suasana hatinya sedang tak bagus saat ini. Sebenarnya ia juga tak ingin meninggalkan Kate begitu saja di Jerman, hatinya tak akan bisa bohong jika ia masih sangat mencintai wanita itu.


Ia juga tak memiliki pilihan lain selain melepaskan Kate, ia juga sudah tahu alasannya. Michelle, adiknya itu kadang bisa sangat menyusahkan dan ya, Richard membenci fakta jika ia sangat mencinntai adik satu-satunya itu. Yang sangat di sayangkan adalah, kenapa Kate menyerah semudah itu. Bisa saja, kan, jika Kate mengatakan jika ia sangat mencintai Richard dan akan membuat Michelle untuk merubah pikirannya?


Harusnya seperti itu, jika Kate memang mencintainya, rasanya selama ini hanya Richard yang berjuang mati-matian dalam hubungan mereka. Sedangkan Kate, ia hanya menerima apa yang di berikan oleh Richard secara cuma-cuma, dan mereka bertahan selama tiga tahun ini dari semua itu.


“Jadi kamu udah nemuin alasan di balik putusnya hubungan kalian?” tanya Nabila.


“Ya, dan Kate sendiri yang milih untuk gak perjuangin hubungan ini. Aku pikir dia gak secinta itu sama aku,” jawab Richard.


“Bisa aja dia emang cinta banget sama kamu, tapi terlalu takut untuk memulai semuanya. Pikiran wanita memang serumit itu, dan kamu yang harusnya ngalah buat lebih memahami perasaan mereka.”


“Serumit itu, ya?”


“Beda-beda tergantung siapa kepribadian mereka juga, mungkin Kate-Kate ini kayak gitu.” Nabila menyuap kentang goreng yang ada di hadapannya. Ia sedang mendapatkan jam istirahatnya setelah makan siang berakhir.


“Tapi kalau menurutmu ini adalah keputusan terbaik kamu, ya udah, jangan terlalu kecewa. Kalau kata Afgan, ‘jodoh pasti bertemu’,” ucap Nabila geli.

__ADS_1


Ya, tentu saja jodoh pasti akan bertemu. Bagaimana menemukan jodoh jika mereka tak bertemu, kan? Hal-hal remeh seperti itu juga patut di perhitungkan. Untuk sesekali, Nabila sudah berhasil membuat status jandanya sebagai lelucon, dan terkadang ia juga membuat lelucon tentang pria dan koleksi wanitanya.


Ia tak ingin lagi untuk terlalu serius lagi menanggapi status dan pertanyaan tentang mantan suaminya. Pikirannya saja sudah sangat pusing untuk memikirkan banyak hal, jangan di tambah lagi dengan hal-hal yang tak ingin di bicarakan.


Memang apa salahnya menjadi ibu tunggal dan juga janda, mungkin Tuhan memang sudah menakdirkan jalan hidupnya seperti ini, yang perlu ia lakukan adalah untuk menikmati hidupnya saat ini dan belajar untuk menerima apapun yang di berikan padanya. Kadang, ini juga bisa menjadi salah satu alternatif, jalan yang Tuhan tunjukkan bahwa Reno memang bukan yang terbaik untuknya. Sama seperti ketika sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan lama, tapi harus berakhir juga, Richard contohnya.


Perpisahan itu selalu terjadi pada setiap manusia, hanya saja caranya berbeda-beda untuk setiap orang.


**


Liliana menyelimuti tubuh Elang, lalu mengecup kening putranya itu. “Selamat tidur, Elang,” ucap Liliana.


“Selamat tidur juga, Bu,” balas Elang dengan senyum merekah. Tak lama kemudian, putranya itu sudah menutup matanya untuk tidur.


Rutinitas malam yang selalu Liliana lakukan dengan putranya itu selalu membuat Liliana tersenyum lebar. Mengantarkan Elang menuju alam mimpinya, lalu menemani Dimitri yang mungkin saja saat ini masih mengerjakan sebagian pekerjaannya. Kehidupannya ini terlalu sempurna untuk ia nikmati seorang diri, ia takut jika terlalu


menikmati ini, ia akan kembali di hadapkan pada kenyataan pahit seperti beberapa tahun lalu.


“Kamu belum tidur?” tanya Liliana pada Dimitri yang masih berkutat dengan laptopnya di atas ranjang.


“Nungguin kamu, Elang udah tidur?”


“Baru aja tidur, kamu gak ngerjain kerjaan kamu lagi? Biasanya juga bisa sampai tengah malam,” ucap Liliana. Ia segera naik keatas ranjang itu dan bersandar di kepala tempat tidur.


“Kayaknya kalau aku ngelakuin itu lagi, istriku yang sensitif ini bisa jadi makin sensitif.” Dimitri menutup laptopnya, dan meletakkannya di nakas samping tempat tidur mereka. Ia merentangkan tangannya dan membawa Liliana masuk dalam dekapannya.


“Aku nyebelin banget, ya, kalau lagi kayak gitu? Tapi itu beneran gak sengaja, kok.”


“Al, aku ngerasa apa yang aku terima sekarang ini terlalu sempurna. Gimana kalau ternyata kejadian kayak dulu bakal terulang lagi?”


“Kenapa kamu mikir kayak gitu?” tanya Dimitri.


Liliana memainkan ujung piyama yang di kenakan oleh Dimitri, ia juga tak tahu kenapa selalu bisa memikirkan hal-hal seperti itu. Tapi, pikirannya tentang hal itu juga tak pernah lepas dan kadang selalu melewati kepalanya. Tak baik memang jika terlalu banyak berpikir, apalagi untuk sesuatu yang belum tentu terjadi, semua ini berawal dari hubungan Nabila yang berakhir begitu saja.


“Mungkin karena aku ngerasaian apa yang sekarang sedang di rasain Nabila. Aku tahu Nabila gak baik-baik aja, ia cuman berusaha untuk kuat dan selalu tertawa. Aku bisa ngerasain gimana putus asanya dia saat ini,” jawab Liliana.


“Kamu takut aku kembali ngelakuin kesalahan kayak dulu, atau kamu belum sepenuhnya percaya sama aku?” Dimitri membelai rambut Liliana dengan sayang, ia juga takut jika suatu saat nanti ia akan kembali mengecewakan Liliana dan juga anak-anaknya seperti yang di lakukan Reno. Tapi, itu semua tak akan terjadi jika kita memang tak mengizinkan hal seperti itu terjadi, kan?


“Kalau aku jawab iya, apa kamu bakal marah?”


Dimitri tersenyum di puncak kepala Liliana. Sudah berapa kali Dimitri mengecewakan Liliana dan wanita ini tetap kembali padanya? Entah Tuhan yang terlalu bermurah hati padanya atau bagaimana, tapi Dimitri selalu mensyukuri semua itu. Dimitri tak berhak untuk marah atau tak terima jika Liliana mengatakan bahwa ia belum sepenuhnya percaya pada dirinya.


“Untuk apa aku marah? Kamu berhak untuk jawab ‘iya’ terlepas dari aku akan marah atau nggak. Dengan kamu kembali sama aku aja, itu udah jadi kado trebaik yang pernah aku terima, Li, jadi jangan terlalu memikirkan banyak hal. Fokus pada kehamilan kamu aja.”


Liliana tersenyum. Sejujurnya, ia memang belum sepenuhnya percaya pada Dimitri. Tak banyak orang yang bisa menerima untuk kembali pada hubungan yang rusak, tapi Liliana memutuskan untuk kembali karena berbagai alasan yang ia miliki, dan yang terjadi pada mereka juga karena kesalahpahaman. Tak ada alasan untuk Liliana


menolak Dimitri lagi, karena ia juga masih mencintai pria ini.

__ADS_1


“Aku gak akan menjanjikan kalau rumah tangga kita akan selalu mulus, pasti ada masalah yang akan kita hadapi nantinya. Yang harus kamu tahu, aku gak akan melakukan kesalahan seperti dulu. Aku akan tetap mencintai kamu dan Elang, dan juga calon anak kita di sini.” Dimitri kini mengelus perut Liliana yang sudah ada tonjolan tak terlalu besar, menandakan ada kehidupan di sana.


“Kamu bisa sepenuhnya percaya sama rasa cintaku untuk kalian, itu hal yang harus kamu percaya,” ucap Dimitri lagi.


Liliana sudah sangat sering mendengar kalimat ini, tapi rasanya menenangkan ketika ia kembali mendengarkan kalimat itu langsung dari Dimitri. Ia harap Dimitri bisa terus mengatakan kalimat itu untuknya setiap saat.


**


Reni menyetujui keputusan ayahnya yang akan menjodohkan dirinya dengan anak dari salah satu kolega yang ia miliki. Tak sepenuhnya menyetujui karena Reni sendiri tak bisa menolak keputusan sang ayah, tidak jika ia tak ingin di coret dari anggota keluarga. Jadi, ia duduk di salah satu kafe yang menjadi tempat janjian mereka, Reni sampai lebih dulu jadi ia bisa merangkai kalimat untuk menolak pria itu nanti.


Bukan tentang pria itu jelek atau sebagainya, pilihan ayahnya selalu yang terbaik, Reni tahu itu. Tapi, jika ia tak menyukainya, apa boleh buat? Reni sendiri yang akan memastikan jika pria itu menolaknya.


“Hai, apa aku telat?” sapa seorang pria.


Reni mendongak, dan menemukan seorang pria dengan kacamata berdiri di hadapannya. Wajahnya persis seperti yang ayahnya tunjukkan di foto kemarin, tak buruk memang, aslinya bahkan lebih tampan. Dan Reni juga sangat yakin jika pria ini adalah tipe pria baik-baik yang sangat terpelajar. Pasti nanti Reni akan merasa sangat bersalah karena menyakiti pria sebaik ini.


“Gak telat, kok, aku juga baru nyampe,” ucap Reni dengan senyum merekah.


Ada semburat merah yang muncul di pipi pria di hadapannya ini. Itu terlihat cukup menggemaskan memang, tapi sayang sekali karena pria ini bukan tipe Reni, dan tak ada debaran jantung yang berlebihan ketika melihat pria ini. Debaran, rasa suka cita sangat di perlukan dalam sebuah awalan hubungan, Reni memang cukup berengsek, tapi ia juga memiliki hati seperti wanita kebanyakan.


Namanya Aldo, sudah menjadi jaksa muda di pemerintahan. Aldo ini salah satu anak dari kolega terdekat ayah Reni, dan menjadi favorit ayah Reni juga. Siapa yang tak menginginkan pria baik-baik seperti ini untuk jadi menantunya? Jika menjadi orang tua pun, Reni pasti akan langsung memilih pria seperti ini tanpa pikir panjang. Tapi, kali ini ia yang menjadi korbannya, ia tak akan membuat kedua orang tuanya menang begitu saja.


Hampir satu jam mereka saling mengobrol satu sama lain, tentang kesukaan, hobi, pekerjaan, serta hal-hal dasar dalam perkenalan. Setidaknya Aldo sedikit nyambung untuk di ajak membicarakan hal-hal seperti ini, dan ya, cukup menyenangkan. Reni sangat ingin mengatakan jika ia dulu di pecat dari pekerjaannya karena selingkuh dengan suami orang, tapi urung ia lakukan. Setidaknya ia masih memiliki harga diri.


Jika saja Reni mengatakan semua itu, sudah di pastikan jika Aldo pasti langsung menolak perjodohan ini, dengan resiko ayah Reni yang akan murka. Pilihan itu bukan yang terbaik, masih ada cara lain lagi agar Aldo tak menyukainya.


“Aku mengundang salah satu sahabat baikku kemari, tak masalah, kan?” tanya Reni.


“Ah, tak masalah. Akan menyenangkan kalau aku bisa mengenal sahabatmu juga.”


Tak lama setelah itu, Reni melambaikan tangannya pada seseorang yang baru saja memasuki pintu masuk kafe. Ini adalah senjata terakhir yang ia miliki agar Aldo menolak perjodohan ini dengan sukarela.


“Hai, No,” ucap Reni.


Ya, sahabat yang di maksud adalah Reno. Ia sudah melakukan kesepakatan kemarin dengan sahabatnya ini, dan Reno dengan senang hati menyetujuinya. Tentu saja Reno menyetujui, karena isi dari kesepakatan itu adalah ‘Reni akan menjauhi Reno dengan senang hati jika Reno berhasil membuat Aldo menolaknya’.


Reno memberikan senyum tipis pada Aldo, dalam hati, ia merasa sedikit kasihan pada pria itu. Pria itu terlihat sangat baik hati dan juga tak ada yang salah dengan pria ini jika saja Reni mau menerimanya.


“Jadi, kalian akan di jodohkan?” tanya Reno.


“Belum sampai tahap itu, kami hanya di minta untuk saling mengenal terlebih dahulu,” jawab Aldo dengan semburat merah di pipinya.


Reno tak tega jika harus mengatakan ini pada Aldo, ia takut akan ada karma yang menghampiri mereka jika sampai Reno menyakiti hati pria selembut Aldo ini. “Jadi tak masalah jika aku meluruskan kesalahpahaman di sini, kan?” tanya Reno lagi.


Aldo hanya mengangkat kedua alisnya, penasaran dan juga menunggu kesalahpahaman apa yang sedang di bicarakan sahabat Reni ini. “Sebenarnya aku dan Reni bukan sahabat, kami kekasih. Keluarga kami belum memberi kami restu, karena itu ayah Reni mulai untuk menjodohkan dia.”


Wajah Aldo tak bisa menyembunyikan jika ia sangat terkejut, ia menatap kedua orang di hadapannya dengan bergantian. “Maaf, Al. Aku gak bermaksud untuk menyakitimu, kamu pria baik tapi aku mencintai Reno,” ucap Reni. Mencoba untuk meyakinkan Aldo dengan wajah itu.

__ADS_1


Tak ada kalimat yang Aldo ucapkan lagi, ia segera beranjak dari kursinya dan meninggalkan kedua sahabat atau juga kekasih itu begitu saja. Reni terlihat lega, tapi Reno justru merasa sedikit bersalah. Entah apa yang membuat Reni berubah menjadi seperti ini, dulu, Reni sangat berbeda dan selalu ceria di setiap kesempatan. Ia hanya berharap Tuhan akan kembali mengampuni dosanya yang sudah sangat banyak karena ulah Reni.


**


__ADS_2