Playboy

Playboy
#29. Thank You For Goodbye


__ADS_3

****Hai, rabu nanti bakal jadi episode terakhir playboy, apakah kalian se excited aku? Akhirnya penderitaan mereka berakhir juga setelah sekian lama. Ayo dong komen mumpung detik-detik terakhir ini 😁


Happy monday, happy reading 🤗**


**


Sudah satu bulan sejak Cecilia di rawat di rumah sakit dengan penjagaan ketat dari kepolisian Jerman. Belum ada perubahan, Enzo juga masih belum bisa untuk masuk dan menjenguk wanita itu. Enzo masih berharap bisa melihat wanita itu agar perasaan yang ada di hatinya sedikit membaik.


Sir Nicholas selalu rutin memberikan perkembangan terkini tentang kondisi Cecilia. Tapi, hal itu tak membuat hati Enzo lega sedikitpun. Kedua orang tuanya bahkan sudah mendengar tentang berita ini. Tak ada tanggapan yang mereka berikan, masalah ini sudah lewat tujuh tahun dan otak dari semua masalah ini juga sudah tiada. Entah mereka harus bahagia atau sedih, atau merasa kembali tersakiti. Toh, semua itu tak akan membuat Allisa kembali bangun dari kematiannya.


"Apa sama sekali tak ada cara untukku bisa menjenguk Cecilia?" tanya Enzo untuk kesekian kalinya.


Sir Nicholas menatap Enzo dengan rasa bersalah. Ia tak bisa melanggar permintaan kliennya.


"Setidaknya biarkan aku melihat dari jauh, aku hanya ingin melihatnya saja," pinta Enzo lagi. Ini permohonan pertama kalinya, dan ia hanya benar-benar ingin melihat wanita itu. Dari jauh juga sudah sangat cukup untuknya.


"Baiklah, pastikan Cecilia tak melihatmu."


Akhirnya Sir Nicholas membawa Enzo pada sebuah ruangan yang terhubung dengan ruang ICU tempat Cecilia di tempatkan. Dari sini saja Enzo bisa melihat dengan jelas Cecilia yang terbaring lemah, berbagai alat-alat dari kedokteran terpasang di tubuh wanita itu.


Enzo tak pernah berharap ia akan bertemu lagi dengan Cecilia dalam keadaan seperti ini. Sangat jauh dari bayangan Enzo. Jika saja ia bertemu Cecilia yang dalam kondisi baik-baik saja dan bahagia, mungkin Enzo akan memiliki alasan yang semakin besar untuk membenci wanita itu dan mungkin sedikit pembalasan dendam.


Tapi semua ini sangat jauh dari perkiraan Enzo. Ia ingin membenci Cecilia untuk semua hal yang sudah wanita ini torehkan dalam hidup Enzo, tapi ia tak tahu bagaimana melakukannya. Ia sadar jika kebencian itu berasal dari perasaan cinta yang belum hilang. Ia ingin percaya bahwa semua yang Cecilia lakukan bukanlah sandiwara, melainkan tulus dari hatinya.


"Kemungkinan Cecilia untuk sembuh hanya sepuluh persen, dia sudah berjuang melawan penyakitnya sejak setahun belakangan. Bahkan dokter sudah angkat tangan dan hanya ini yang mampu ia lakukan. Setidaknya alat bantu kehidupan itu mampu membuatnya untuk bertahan hidup sedikit lebih lama."


Itu yang di ucapkan Sir Nicholas ketika pertama kali Enzo mengetahui rekam medis Cecilia. Kondisi wanita itu kritis, hanya berharap ada sebuah keajaiban yang datang padanya. Tapi, jenis keajaiban apa yang di harapkan Enzo ketika wanita itu juga sudah menyerah atas hidupnya?


Enzo meletakkan tangannya di kaca, berharap tangannya ada di sana, menggenggam jemari kurus itu untuk memberikan semangat. Ia ingin wanita itu tahu jika Enzo di sini akan menunggunya hingga sembuh, dan juga akan menunggu hingga wanita itu menyelesaikan hukumannya nanti. Ia bisa menunggu selama apapun asalkan Cecilia bertahan.


Bulir air mata Enzo menuruni pipinya. Terakhir kali ketika tahu bahwa Cecilia memanfaatkannya, ia juga hampir gila. Ia sudah memberikan seluruh cinta dan juga hatinya kepada wanita itu, dan hanya pengkhianatan yang ia dapatkan sebagai balasan.


Tak apa, ia akan merelakan memori itu menghilang dari kepalanya, asal wanita itu mampu bertahan. Mata wanita itu masih tertutup, apa sudah seperti itu sejak kemarin?


Enzo memutuskan untuk beranjak dari tempatnya melihat wanita itu, ia tak akan sanggup jika bertahan lebih lama di sana.


"Apakah kau memiliki waktu sebentar? Aku ingin menyampaikan sesuatu," ucap Sir Nicholas. Ia menahan Enzo yang sudah akan beranjak pergi.


**


"Sejak kejadian tujuh tahun lalu, Cecilia tak pernah kembali pada Ayahnya. Ia memutuskan untuk tinggal sendiri dan melakukan apapun untuk bertahan hidup tanpa melibatkan sang Ayah. Awalnya semua yang Cecilia lakukan murni karena perintah sang Ayah, tapi pada akhirnya dia jatuh cinta padamu dan menentang sang Ayah. Semuanya berubah setelah itu. Cecilia memilih pergi dengan harapan bisa membuat perasaan itu menghilang. Ia baru kembali pada Ayahnya setelah mendapat kabar kematian itu."


Enzo memutar kalimat Sir Nicholas itu berulang kali di otaknya. Jika benar seperti itu kisahnya, maka semua kebencian yang Enzo miliki sangat sia-sia.


"Kenapa anda menceritakannya pada saya?" tanya Enzo.


"Aku yang membantu Cecilia selama ini, dan berada di sampingnya di saat-saat sulitnya, dan aku juga menyaksikan semua rasa sakit yang selalu berusaha ia kubur. Dia memintaku untuk menceritakan ini padamu, jika nanti ia menghadapu kenyataan terburuknya. Ia sudah tahu jika penyakit itu tak akan sembuh, ia juga tak pernah berusaha untuk sembuh. Aku juga tak mengerti dengan jalan pikirannya yang sangat aneh itu," lanjut Sir Nicholas.


Sir Nicholas adalah pria paruh baya, yang mungkin seumuran dengan Ayah Enzo. Pengalamannya pasti sudah sangat banyak menyangkut dunia hukum.

__ADS_1


"Jadi maksudnya ia benar-benar tak akan bangun lagi?"


"Aku belum tahu pasti, hampir semua dokter yang sudah menangani Cecilia, mereka mengatakan hal yang sama."


Enzo menghentikan mobilnya di bahu jalan, pikirannya mendadak kosong. Jadi, apa arti kebenciannya selama tujuh tahun ini? Kenapa kenyataan seperti ini baru ia ketahui ketika rasa benci sudah menggerogoti jiwa? Lalu kini ia di hadapkan lagi pada kenyataan bahwa ia masih mencintai Cecilia.


Seharusnya, waktu itu, Enzo tak perlu mencintai wanita itu sedalam ini. Rasa sakit yang kini ia rasakan kembali, bertambah berkali-kali lipat.


**


Liliana sudah memutuskan, untuk kesekian kalinya. Ia kembali ke Indonesia, bukan karena hal lain, ia hanya ingin pulang dan bertemu dengan orang tuanya serta Nabila, dan mungkin juga bertemu dengan orang tua Dimitri. Tak ada yang memintanya, ia hanya merasa memiliki kewajiban untuk hal itu.


Ia tak memberitahukan siapapun jika ia pulang, bukan berarti kejutan atau sebagainya. Ini kepulangan pertamanya tanpa permintaan atau permasalahan apapun, benar-benar murni dari keinginannya sendiri.


Tempat pertama yang menjadi tujuannya adalah rumah orang tuanya tentu saja. Ia merasa sudah terlalu egois dengan meninggalkan kedua orang tuanya hanya demi perasaan sakit hati. Setidaknya saat ini, perasaannya sudah membaik, ia sudah tak memiliki beban seberat sebelumnya.


Liliana mengetuk pintu rumah orang tuanya, berharao mereka ada di rumah. Ini sudah cukup sore untuk mereka bepergian, jadi mereka pasti ada di rumah.


Pintu terbuka dari dalam, menampilkan Ibunda tercintanya dalam balutan daster. Liliana tersenyum lebar melihat itu.


"Lili!" teriak sang Ibu dengan histeris. "Ini bener kamu, Nak?" tanya sang Ibu lagi. Masih dengan teriakan histeris, ia ingin memeluk Liliana, tapi terhalang dengan Elang yang ada di gendongan depan Liliana.


"Iya, Bu, ini Lili. Masa Ibu lupa sama anak sendiri," balas Liliana dengan senyum lebar. Setelah melihat langsung sang Ibu seperti ini, ia baru sadar betapa ia sangat merindukan mereka.


"Pak, Lili pulang, Pak!" teriak Ibu.


"Kamu kenapa gak bilang-bilang kalau pulang, Bapak, kan bisa jemput kamu," ucap Bapak.


"Sengaja, Pak, biar jadi kejutan."


Elang yang tadi tertidur, kini terbangun dan terlihat bingung menatap mereka bertiga.


"Udah, ayo kita masuk. Kamu pasti capek, kan? Elang juga pasti capek, ya, Nak?" ucap Ibu pada Elang. Yang di ajak berbicara justru hanya menatap tak mengerti.


Malam itu, Liliana beserta Bapak dan Ibunya menghabiskan waktu dengan bercerita, di selingi dengan ocehan Elang yang tak di mengerti oleh siapapun. Tapi, malam itu, kebahagiaan kembali terpancar dari mereka semua. Tak ada lagi Liliana yang pendiam seperti terakhir kali, sekarang hanya ada Liliana yang sudah kembali menemukan dirinya yang hilang setahun lalu.


**


Setelah menghabiskan dua hari bersama kedua orang tua, Liliana memutuskan untuk membawa kedua orang tuanya ke Jakarta. Ia juga ingin membawa Bapak dan Ibu untuk berlibur ke Jakarta. Belum ada rencana untuk kembali menetap di Jakarta, jika nanti Liliana sudah menemukan alasan, mungkin ia akan menetap.


"Ibu seneng liat kamu udah ceria kayak gini," ucap Ibu. Mereka baru saja sampai di apartemen Liliana.


"Lili juga seneng, Bu."


Elang sejak berada di kereta tak bisa diam dan kini ia bersama Bapak sedang mondar mandir untuk melihat apapun yang ingin balita itu lihat.


"Bagaimana dengan Dimitri?" tanya Ibu.


"Baik, Bu. Dia beberapa kali ke Jerman untuk jenguk Elang, semuanya baik-baik aja, Bu." Liliana tersenyum pada Ibu.

__ADS_1


Sejak kemarin, tak ada satupun yang mengangkat topik tentang Dimitri. Mungkin Ibu beranggapan jika Liliana masih trauma dengan nama itu, dan Liliana tak mempermasalahkan hal itu sama sekali.


"Nanti, Lili mau ke rumah Mama Ina. Ibu mau ikut?"


Ibu mengerutkan kening. Ia sempat membenci Dimitri karena perceraian yang terjadi, ia bahkan sempat beberapa kali mengusir pria itu ketika ingin meminta maaf dengan apa yang sudah terjadi, tapi sama sekali tak di terima olehnya. Dimitri lah penyebab putrinya hingga pergi sejauh itu, bahkan mengurus anaknya seorang diri. Ia sangat membenci mantan menantunya itu.


"Kenapa kamu kamu ke sana?" tanya Ibu sedikit tak suka.


Mendengar nada suara itu keluar dari sang Ibu, Liliana menduga jika bukan hanya kedua orang tua Dimitri saja yang membenci pria itu, tapi juga orang tua Liliana. Pria itu di benci sebegitu besarnya.


"Bu, Lili udah baik-baik aja, Lili juga udah ada di sini. Maafin Dimitri untuk semua sifatnya, semua juga udah terjadi, dan dia udah menjelaskan semua yang terjadi. Jadi, Ibu bisa berhenti buat benci Dimitri."


Ibu menatap Liliana dengan tatapan tegas, ini tak mudah. Orang tua mana yang akan memaafkan pria yang sudah menyakiti hati putrinya?


"Ini kesalahan kami berdua, Bu, dan ini juga keputusan Lili untuk bercerai. Gak apa-apa, Lili udah ikhlas, mungkin memang ini jalannya. Kalau di pertahankan juga tak akan baik untuk kami berdua, Bu," ucap Liliana lembut.


Ia yakin Ayahnya juga memikirkan hal yang sama, hanya saja sang Ayah lebih pendiam di banding Ibu. Liliana memutuskan untuk move on, dan memikirkan masa depannya dan juga Elang. Rasa sakit itu jika semakin lama di pikirkan, maka tak ada hasil yang di dapat. Hanya semakin menggerogoti hati dan menimbulkan sakit yang lain.


Tak apa untuk bersedih dan membiarkan kesedihan itu mengambil alih diri kita. Hanya jangan biarkan berlarut-larut, semuanya pasti akan bahagia dan indah jika waktunya sudah tepat. Tuhan tak pernah memberi ujian melebihi kemampuan umatnya. Kita hanya perlu menunggu dan bekerja lebih keras, Tuhan lebih dari mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan seluruh doa dan harapan kita.


**


'Aku di rumah orang tuamu.'


Pesan singkat itu mampu membuat Dimitri terlonjak dari kursinya. Itu pesan singkat dari Liliana. Ia bahkan tak mengetahui kapan wanita itu sampai di Indonesia, dan kini sudah ada ada di rumah orang tuanya.


Ini sudah jam tujuh malam, dan hanya ada Dimitri di kantor itu. Tanpa menunggu apapun lagi, ia segera menyambar kunci mobilnya dan bergegas turun. Ini bukan jam biasa ia pulang dari kantor, Dimitri bisa ada di kantor itu hingga pukul sepuluh atau sebelas malam. Selama ini, dia juga tinggal di apartemen miliknya. Jadi, tak ada alasan untuknya pulang lebih cepat dari yang seharusnya.


Dimitri sampai hanya dengan tiga puluh menit berkendara, ia menghemat lima belas menit dengan kemampuan mengemudinya. Di saat-saat seperti ini, kemampuan itu sangat di butuhkan. Ia membuka pintu rumah tersebut tanpa repot-repot mengetuknya, nanti ia akan meminta maaf atas ketidaksopanannya itu, jika orang tuanya sudah ingin berbicara dengannya.


Semua yang ada di ruangan itu kaget dengan suara pintu yang di buka secara tiba-tiba dan juga kemunculan Dimitri. Dari semua orang di ruangan itu, hanya Liliana yang memberikan senyum tipisnya.


Dimitri juga sama kagetnya melihat siapa saja yang ada di ruangan itu, ada kedua orang tua Liliana juga.


"Selamat malam, Ma, Pa." Dimitri menundukkan kepalanya dan berjalan menuju kedua orang tuanya, mencium tangan keduanya. Lalu beralih pada kedua orang tua Lila.


Mereka tak menolak itu, hanya saja suasana menjadi canggung setelah kehadiran Dimitri yang juga tak di sangka-sangka itu. Dimitri duduk di sebelah Liliana setelah mendapat kode dari wanita itu. Ada Elang yang berada di pangkuan Mama Dimitri.


"Lili yang minta Dimitri dateng, semoga Mama dan Papa juga Ibu sama Bapak gak keberatan," ucap Liliana.


Tak ada jawaban dari para orang tua, mereka hanya membuang pandangan ke arah lain. Dimitri menyadari itu dan semakin merasa tak enak. Ternyata kebencian para orang tua masih sama, dan Dimitri tak bisa melakukan apapun untuk menghalangi perasaan itu.


"Maaf kalau perceraian kami membuat kalian saling membenci, kami juga bersalah karena tak membicarakannya pada kalian. Bukan hanya Dimitri yang bersalah, tapi Lili juga. Seharusnya kami membicarakan masalah kami dengan kepala dingin, alih-alih memilih untuk bercerai," ucap Liliana.


Ketika mereka menikah, dua keluarga saling bertemu dan membicarakan apa yang harus di lakukan oleh keduanya, dari segala hal. Harusnya mereka juga saling membicarakan ketika akan bercerai. Liliana diam soal masalah mereka, dan Dimitri melakukan hal yang sama, seolah dengan kediaman mereka, masalah akan terselesaikan dengan sendirinya.


"Dimitri juga minta maaf, gak seharusnya kami seegois ini. Dimitri minta maaf kalau udah mengecewakan kalian."


**

__ADS_1


__ADS_2