
Hai, apa kabar kalian? semoga baik, ya. Apa ada yang maasih nunggui playboy? aku minta maaf banget karena ngaret banget , soalnya kerjaanku emang lagi banyak dan aku juga musti ngurus orang tua. Karena aku kangen kalian, aku usahain biar apdet lagi, dan rutin. Maafin aku ya yang banyak minta ini.
Happy reading!
***
Perang dingin antara Dimitri dan juga Liliana masih berlangsung hingga kini, Elang yang tak mengerti apa-apa hanya melakukan kegiatan bermainnya seperti biasa. Memang apa yang akan di mengerti oleh balita usia tiga tahun? Ia hanya mengerti soal bermain dan juga bermain, serta makan mungkin.
Ini akhir pekan, dan mereka bertiga berkumpulnbersama di ruang keluarga menyaksikan kartun kesayangan Elang, bus-bus serta mobil-mobil yang bisa berbicara serta bernyanyi, kartun yang berasal dari Korea Selatan. Elang dengan ceria menggoyangkan tubuhnya dan tertawa dengan sangat antusias sembari menonton kartun itu. Sedangkan Dimitri dan juga Liliana hanya terdiam dengan sesekali menanggapi Elang tanpa interaksi dari keduanya.
Sudah hari keempat dari perang dingin mereka, Dimitri ingin mengakhirinya karena memang ia sudah sangat tak terbiasa dengan posisinya yang mendiamkan Liliana. satu hari saja rasanya sudah seperti satu bulan, bagaimana dengan empat hari yang terasa seperti berbulan-bulan?
“Aku ada pekerjaan di luar kota selama tiga hari, kamu mau ikut?” tanya Dimitri membuka obrolan.
Tak ada jawaban selama satu menit. Dimitri sudah pasrah ketika Liliana tak menjawab ajakannya. Ini memang bagian dari permintaan maafnya, setidaknya ada salah satu kata yang keluar dari mulut Liliana, tak harus mengiyakan. Mungkin hanya dengan kata ‘iya’ sudah mampu mencairkan dinding beku di antara mereka.
“Dimana?”
Rasanya Dimitri ingin berlari mengelilingi ruang keluarga rumahnya atau mungkin seluruh pekarangan rumahnya karena satu kata yang keluar dari mulut istrinya itu. Baru kali ini ia merasa begitu bunga hanya karena satu kata yang keluar itu.
“Bandung. Aku berharap bisa pulang dalam semalam, tapi pekerjaanku dan juga ra—“
“Aku ikut.”
“—pat yang cu—Apa?”
Liliana mengalihkan perhatiannya pada Elang yang tengah fokus pada kartun favoritnya di televisi itu. “Elang mau cemilan apa?” tanya Liliana.
Hanya gelengan yang Elang berikan, ia sama sekali tak menatap Ibunya yang sedang menanyainya. Keduanya juga sangat tahu jika Elang tak akan peduli jika sedang menonton kartun favorit itu.
“Kamu mau ikut?” tanya Dimitri.
Liliana berpura-pura kaget dengan pertanyaan yang di ajukan Dimitri. Kenapa tiba-tiba ia merasa malu hanya karena pertanyaan yang di ajukan suaminya itu? Faktor pertengkaran dingin mereka mungkin sangat mempengaruhi rasa malu itu. Rasanya Liliana kembali seperti masa remajanya atau masa kuliah yang mampu membuat pipinya memerah hanya karena satu pertanyaan saja.
“Aku gak boleh ikut?”
“Boleh banget, tujuan aku ngajak kamu memang supaya kamu ikut,” jawab Dimitri.
“Tiga hari aja?”
Jika Elang bisa mengabaikan kedua orang tuanya karena kartun favoritnya, maka Liliana dan juga Dimitri juga biisa mengabaikan anaknya untuk sesaat hanya karena keduanya sudah mulai kembali dari pertengkaran mereka. Liliana selalu merasa dejavu jika sudah seperti ini. Sudah tak terhitung berapa banyak mereka merasa pipi mereka yang memerah atau kupu-kupu yang menghinggapi perut keduanya.
“Kamu tahu gak sih, kita udah empat hari diem-dieman?” tanya Liliana.
“Kamu tahu gak, sih, kalau aku ngerasa tersiksa banget karena kita diem-dieman?” tanya Dimitri.
Keduanya kembali tersenyum karena pertanyaan masing-masing. Dimitri benar-benar tak bisa untuk menjauh dari Liliana, ia sudah sangat, sangat mencintai istrinya itu. Perpisahan yang dulu pernah berkali-kali terjadi, sudah mengajarkan Dimitri untuk semakin mencintai Liliana dan tak melepaskan wanita itu untuk kesekian kalinya.
Sekali kehilangan sudah hampir membuatnya gila, kedua kalinya sudah mampu membuat kewarasannya hampir hilang, Dimitri tak pernah membayangkan jika harus kehilangan wanitanya untuk ketiga kalinya. Untuk sekadar muncul di pikirannya pun tak pernah. Pertengkaran-pertengkaran kecil mungkin memang tak bisa di hindari, tapi jika mereka bisa kembali untuk memperbaikinya, maka tak akan ada masalah besar. Inti permasalahan dari pasangan memang komunikasi, hal yang sangat krusial.
__ADS_1
“Bu, Elang mau kentang goreng,” ucap Elang secara tiba-tiba, yang membuat tatapan sepasang suami istri itu langsung terputus.
Elang kadang memang bisa memecahkan suasana apapun dengan semua tingkahnya yang polos dan tak mengetahui apa-apa.
**
Jantung Nabila berpacu dengan kencang, seiring dengan langkah besarnya yang berlari sepanjang lorong rumah sakit. Terakhir kali Nabila mengunjungi rumah sakit dan berlari dengan kepanikan yang sangat luar biasa seperti ini ketika Aidan mengalami demam. Kali ini juga sama, dengan masalah yang berbeda. Aidan kecelakaan.
Nabila sama sekali tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi, harusnya siang ini memang ia yang menjemput Aidan, tapi karena rapatnya berjalan satu jam lebih lama, Nabila terlambat menjemput putra sulungnya itu. Andai saja ia tak terlambat menjemput anaknya itu, mungkin kecelakaan itu tak akan terjadi.
Sesampainya Nabila masuk ke ruang rawat tempat Aidan terbaring, ia segera menghela nafasnya kasar. Ada perban dengan ukuran sedang di pelipis kanan Aidan, serta siku tangannya yang di perban, dan juga pergelangan
tangan yang tak terlewatkan oleh perban itu. Separah itu kondisi putranya?
Tanpa menunggu dua kali, Nabila segera berlari menghampiri ranjang putranya itu dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Melihat Aidan demam saja sudah membuat jantung Nabila serasa di remah, lalu perban-perban yang menghiasi tubuh putranya itu kembali meremas jantungnya dengan sangat kuat.
“Aidan, sayang. Maafin mama karena telat jemput kamu,” ucap Nabila pada putranya yang masih tertidur.
Tak ada jawaban dari sang putra, walaupun dokter mengatakan jika tak ada luka serius yang di derita, tapi Nabila tetap tak bisa tenang ketika menyaksikan putra sulungnya terbaring tak berdaya seperti ini.
Selang beberapa menit, pintu ruang rawat Aidan terbuka menampilkan Reno dengan raut wajah yang juga tak jauh berbeda dari Nabila. “Kenapa Aidan bisa seperti ini?” tanya Reno. Ia tak menujukan pertanyaan itu untuk Nabila, entahlah, ia hanya merasa panik karena melihat putranya seperti ini.
Suasana canggung mendadak tercipta di ruangan yang hanya di batasi oleh tirai dengan pasien lainnya. Mereka sama-sama khawatir, tapi mereka tak bisa dengan leluasa untuk saling mengeluarkan pendapat mereka. Nabila bahkan sudah menghapus air matanya dan memilih hanya menggenggam jemari mungil itu. Tak perlu untuk menunjukkan air matanya di hadapan sang mantan suami.
Seorang suster berhasil mencairkan suasana di antara keduanya, ia masuk untuk memeriksa keadaan Aidan yang masih tertidur di ranjang rumah sakit.
“Sus, bagaimana keadaan Aidan saat ini?” tanya
“Apa Ibu wali dari anak ini?” tanya suster tersebut dengan lembut.
“Iya, saya Ibunya. Apa luka yang di alami Aidan parah?”
Sebelum Nabila memasuki ruang rawat Aidan tadi, ia sudah berbicara pada dokter yang ia temui di luar. Tapi, rasanya ia belum puas dan masih ingin terus bertanya tentang keadaan Aidan saat ini pada siapapun yang ia temui. Ia butuh di tenangkan dan dokter yang merawatnya akan mengatakan jika putranya itu baik-baik saja.
“Tak ada luka parah, hanya tergores di beberapa bagian. Mungkin karena pengaruh cairan infus tadi membuat putra Ibu tertidur saat ini. Semuanya baik-baik saja, Ibu tak perlu khawatir.” Suster tadi tersenyum dengan sangat menenangkan.
Selanjutnya, Nabila membiarkan suster tadi untuk memeriksa keadaan putranya. Sudah dua orang yang mengatakan jika Aidan baik-baik saja dan ia tak perlu khawatir, ia merasa sedikit tenang walau masih tersisa kepanikan di dalam hatinya. Tak ada yang bisa membuat Nabila lebih panik dari ini, ia merasakan tanggung jawab yang ada di pundaknya jika terjadi hal buruk pada putranya.
“Setelah cairan infus ini habis, putra Ibu sudah bisa di bawa pulang. Boleh saya meminta perwakilan salah satu dari kalian untuk mengurus administrasi rumah sakit?”
“Saya yang akan mengurusnya.”
Nabila sama sekali tak memprotes ketika Reno menawarkan diri untuk membayar biaya rumah sakit Aidan. Tak ada waktu untuk menunjukkan protesnya karena memang Nabila sudah tak mampu memikirkan hal lain lagi.
Ketika hanya ada Nabila di dalam ruangan itu, ia kembali menggenggam tangan Aidan yang sangat mungil. Bagaimana putranya yang semungil ini bisa mengalami kejadian yang sangat mengerikan itu. Pasti tadi Aidan sangat ketakutan dan kaget, jika sudah seperti ini, hanya penyesalan lagi yang kembali tercipta di kepalanya. Penyesalan yang sudah tak bisa di tebus lagi kecuali ia bisa memutar waktu.
Bahkan kalau waktu bisa di putar, sepertinya Nabila akan tetap memilih untuk bercerai dengan Reno, atau mungkin ia akan kembali pada waktu ketika Reno melamarnya dan ia tak menerimanya. Pria yang dulu sangat ia agung-agungkan ini karena semua kebaikan dan juga kepolosan yang ada, ternyata tak lebih baik dari semua pria berengsek yang pernah Nabila tahu.
**
__ADS_1
Seharusnya ciuman itu tak bermakna apapun untuk dirinya, malam itu juga tak berarti apapun untuk Elle. Jika saja ia bisa terus-terusan menyugesti itu dalam dirinya, tapi tak bisa. Bayangan Enzo yang menciumnya dengan semua kelembutan yang pernah Elle rasakan, berhasil membuainya dalam perasaan asinng yang mulai tumbuh dengan baik di hatinya. Perasaan yang sudah ia usahakan untuk hilang, tapi tak pernah bisa.
Ciuman sudah sangat umum di negara sebebas Eropa, bahkan Indonesia. Lalu kenapa ia harus uring-uringan hanya karena sebuah ciuman? Karena itu adalah ciuman terpanjang dan juga terlembut yang pernah Elle rasakan, tak pernah ada pria lain yang memperlakukannya selembut itu. Bahkan Brian belum pernah menyentuhnya.
Sudah pernah di katakan jika sebenarnya Brian itu adalah pria baik yang licik, kan? Ia memang sudah memutuskan untuk memiliki Elle, suka ataupun tidak. Tak peduli jika orang lain atau bahkan Elle sendiri menganggapnya gila atau obsesif, ia sudah memastikan jika Elle akan menjadi miliknya. Hanya butuh beberapa langkah lagi hingga ia akan memiliki Elle seutuhnya..
Hanya satu hal yang tak Brian lakukan pada Elle, menyentuh wanita itu. Itu artinya, masih ada sedikit sisi baik yang si miliki Brian, untuk mengimbangi semua sifat jahat dan juga licik yang ia miliki.
Selang satu hari setelah kejadian ciuman malam itu, Enzo bersikap biasa saja pada Elle. Seolah memang tak ada yang terjadi. Elle sedikit kecewa dan juga lega, yang semakin membuatnya uring-uringan. Biar Elle jabarkan apa saja yang sudah membuatnya begitu menyukai dan juga ingin menolak sentuhan Enzo malam itu.
Pertama, ciuman itu sangat tiba-tiba. Kedua, ciuman itu memberikan zat adiktif untuk Elle karena keesokan harinya ia masih dengan sadar meninginkan hal yang sama kembali terjadi. Ketiga, ciuman itu sangat salah dan memang tak boleh terjadi. Masih ada rasa bersalah yang di rasakan Elle terhadap Enzo, karena permintaan Brian tempo hari.
“Apa kita memiliki jadwal lain setelah ini?” tanya Enzo tanpa menatap Elle di hadapannya. Ia sibuk menandatangani kertas di hadapannya.
“Makan malam dengan Sir Nicholas dari Gold Leave Industry.”
Seketika coretan Enzo di kertas itu berhenti, ia langsung menatap Elle dengan tegang, atau itu adalah raut ketidaksukaan? Tak ada yang bisa memastikan.
“Malam ini juga?” tanya Enzo.
“Ya, pukul delapan. Apa anda ingin menggantinya di hari lain atau membatalkannya?”
Sir Nicholas adalah pria tua licik lainnya yang juga merupakan pesaing Enzo di industri yang mereka geluti ini. Bukan hanya sekali Enzo bertemu dengan pria tua itu, itulah sebabnya ia sangat tak menyukai ide untuk makan malam ini. Siapa yang merekomendasikan jadwal seperti ini?
“Aku tak pernah merasa akan menandatangani perjanjian kerja apapun dengannya,” lanjut Enzo lagi.
“Tuan Gioto yang memintanya, Pak.”
Enzo langsung memijit pelipisnya. Jika ayahnya sudah bertindak sejauh ini, berarti memang tak ada pilihan lain untuk menolak ataupun berkelit. Enzo sangat membenci ide ini. “Bagaimana, Pak?”
“Baiklah. Kau juga harus bersiap-siap.”
Tak ada kalimat lain lagi yang Elle ucapkan, ia juga tak ingin menolaknya. Anggap saja ini sebagai bagian dari dirinya yang masih ingin untuk semakin lebih dekat dengan Enzo. Ah, pikiran itu sangat mengganggunya. Menyukai seseorang seperti ini sangat menyesakkan, dan Elle juga tak pantas memiliki perasaan ini pada Enzo, ia tak boleh. Itu adalah hal terlarang lain yang tak boleh ia lakukan.
Tepat pukul delapan malam, Enzo dan juga Elle sudah duduk di hadapan Sir Nicholas yang tersenyum penuh arti pada Enzo. Ketahuilah jika Enzo sangat membenci dan juga muak dengan wajah dan juga senyuman itu.
“Kupikir aku mengatakan jika ini hanyalah pertemuan di antara kita saja, apa kamu snagat perlu untuk membawa wanita cantik kemari,” ucap Sir Nicholas.
“Jika dia pulang, maka aku juga akan pulang.” Enzo menaikkan bahunya tak peduli. Memangnya siapa pria ini hingga mampu mendikte apa yang harus dan tak harus Enzo lakukan.
Elle hanya duduk di kursi itu dengan gugup dan juga tegang. Sepertinya ini bukan seperti pertemuan bisnis yang biasa iia ikuti. Aura yang tercipta di dalam ruangan restoran ini snagat pengap dan semuanya sangat negatif. Seharusnya Elle menolak saja ajakan itu sejak awal.
Bunyi ponsel yang berdering memecahkan suasana canggung yang ada di sana. Itu adalah milik Sir Nicholas, dan ia segera meminta izin untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Santai saja, aku akan melindungimu jika pria tua ini mengganggumu,” bisik Enzo di telinga Elle.
Lagi, tak ada jawaban yang mampu Elle ucapkan, hanya mendengar suara pria itu dengan volume yang sangat rendah, sudah berhasil menghantarkan arus listrik yang membuat kupu-kupu berterbangan di perutnya. Sangat berlebihan, kan? Hingga Elle menoleh ke arah pria itu, yang ia lihat hanya mata indah Enzo dan wajah pria itu yang sangat dekat di hadapannya.
Ia benar-benar butuh jantung buatan untuk mengantikan jantungnya saat ini yang belum siap untuk menahan semua sikap dirinya sendiri pada Enzo. Ini memang sedikit melukai harga dirinya karena dengan lancangnya mulai terlena pada mata gelap itu, tapi ia juga tak bisa menolak. Tak ada satupun wanita yang akan menolak pria ini dengan sadar. Enzo hanya terlalu sempurna untuk di lewatkan.
__ADS_1
**