Playboy

Playboy
#2# Take 48


__ADS_3

Happy monday semuanya, semoga hari senin ini lebih baik dari senin sebelumnya. Semangat buat kalian jalanin hari ini. Happy reading^^



Juna tak benar-benar bahagia dengan apa yang ia lakukan saat ini terhadap dirinya sendiri dan juga Nabila. Berbagai hal sudah ia lakukan untuk menghindari segala pikiran tentang wanita itu, tapi hati tak mampu berubah secepat itu. Arlina juga sama sekali tak membantunya, ia justru merasa terganggu dengan keberadaan wanita itu. Tujuan Juna mendekati Arlina hanya untuk memprovokasi Nabila, berharap sedikit saja jika nantinya Nabila akan cemburu. Tapi sepertinya mustahil.


Sama sekali tak ada yang bisa menggantikan Nabila untuknya, walaupun hanya sebentar ia akrab dengan wanita itu. Helaan napas Juna kembali memberat ketika memikirkan Nabila. Kenapa ia tak bisa membuat Nabila berada di sampingnya? Kenapa sesulit itu menghadapi Nabila?


“Kamu kenapa, Jun? Makanannya gak enak, ya?”


Ah, Juna hampir saja melupakan fakta bahwa ia kini sedang makan malam dengan Arlina. Berbicara dengan Arlina adalah hal yang paling membosankan yang pernah ia lakukan, tapi yang ia lakukan juga bukan berbicara, karena selama ini yang lebih banyak berbicara hanya Arlina. Bayangkan ketika hampir tiga jam penuh, Juna terpaksa mendengarkan semua keluhan dan juga ketertarikan wanita itu akan sesuatu.


Semua hal yang di bicarakan Arlina hanyalah tentang dirinya, entah itu yang di sukai olehnya atau tentang belanjaan yang ia beli dengan harga selangit. Yang jelas, semua itu tak termasuk dalam hal yang di inginkan oleh Juna untuk di bicarakan. Juna akan lebih memilih untuk berbicara dengan sahabat-sahabat Nabila seperti waktu itu.


Lihat, kan? Seberapa keras pun ia mengabaikan pikiran tentang Nabila, pikirannya dengan sendiri kembali untuk memikirkan wanita itu.


“Enak, kok. Kamu pintar milih restoran,” puji Juna.


Hal lain yang juga sangat di benci oleh Juna, semua tentang kemewahan. Ia yakin seratus persen jika Arlina tak akan mau jika di ajak untuk makan di warung pinggir jalan. Bagaimana caranya Juna bisa menyukai Arlina jika seperti ini? Inilah kenapa ia hanya dekat dengan Nabila, dan betah berada di dekat wanita itu.


Sulit untuk menemukan wanita sesederhana Nabila, semua yang ada pada Nabila sangat Juna sukai, ia bahkan tak bisa menemukan satu hal yang tak ia sukai. Kecuali fakta bahwa usianya yang terpaut empat tahun lebih muda, tapi itu hanya empat tahun, apa yang salah dengan itu? Apa merupakan kesalahan besar untuk saling mencintai ketika usia mereka hanya terpaut empat tahun?


“Dari kecil, aku sama keluargaku udah langganan makan di restoran ini. Restoran bintang lima yang gak semua orang bisa dateng ke sini.” Arlina tertawa kecil di akhir kalimatnya.


Juna hanya memberi anggukan persetujuan untuk kalimat itu. Di kehidupan selanjutnya pun, ia tetap tak akan memilih Arlina menjadi pasangannya. Ia ingin setidaknya Nabila sudah mengetahui kedekatan mereka dan Juna juga bisa membuktikan pada Nabila jika ia tak cocok dengan Arlina.


“Apa yang kamu suka dari aku?” tanya Juna.


“Tumben kamu nanya kayak gini?”


“Cuma pengen tahu aja.” Juna menaikkan bahunya. Ia tak memiliki topik lain untuk di bicarakan, dan ia juga sudah bosan mendengar kisah tentang diri Arlina yang sama sekali ia tak ingin tahu.


“Udah jelas, kan? Kamu tampan dan memang tipe cowok yang menjadi idaman semua perempuan, seenggaknya di kantor kita. Bukan cuma aku sebenarnya, masih banyak perempuan lain yang berpikiran kayak gitu.”


Sangat klasik. Apa ‘tampan’ selalu menjadi acuan tipe pria idaman? Mungkin ya, tapi apa faktor lain tak ada? Ia tak bermaksud untuk sombong, tapi alasan seperti itu sangat klise, kan?


“Kalau gitu kita gak bakalan cocok.”


“Kenapa? Kamu tahu darimana kalau kita gak akan cocok?”


“Prinsip kita gak sejalan, kamu ngebosenin, dan kamu bukan tipeku.”


Keterkejutan itu sangat tergambar jelas di wajah Arlina, kenapa kalimat kejam itu bisa keluar dari mulut Juna? Apa harus pria ini mengatakannya dengan sangat jujur seperti ini? Matanya mendadak berkaca-kaca menahan tangis, padahal selama dua minggu ini mereka baik-baik saja dan rasa suka Arlina pada Juna mulai meningkat.


“Apa cuma Mbak Nabila yang cocok sama kamu? Kamu pikir dia lebih baik dari aku?” tanya Arlina berapi-api. Ia sangat tak menerima bahwa tak ada yang ingin bersamanya ketika ia mempunyai segalanya.


Awalnya, Juna sama sekali tak memiliki niat untuk menyakiti Arlina. Ia hanya ingin sedikit mengetes sifat wanita ini, lalu tanpa usaha besar, wanita ini mulai menunjukkan sifat aslinya. Mereka benar-benar tak cocok sama sekali.

__ADS_1


“Kenapa kamu harus bawa-bawa orang lain karena masalah ini?” tanya Juna tenang.


“Itu memang kenyataan. Udah berapa banyak Mbak Nabila nyuci otak kamu? Dia gak munngkin cuma diam aja sama kamu. Seluruh kantor juga tahu kalau kamu gak cocok sama dia.”


Jadi seperti ini? Ia dan Nabila sudah menjadi bahan pembicaraan satu kantor, dan itu tentang hubungan mereka. Pantas saja Nabila bersikeras mendorong dirinya menjauh, ia bisa mengerti sebanyak apa rasa tak nyaman yang di rasakan wanita itu. Juna tertawa kecil ketika ia berhasil memahami semua kalimat Arlina.


“Kamu tahu, pernyataan kamu tadi berhasil bikin aku semakin yakin kalau kamu memang gak cocok sama aku, bahkan gak sedikitpun.”


“Aku pastiin kamu bakal nyesel karena udah nyakitin aku kayak gini.


Arlina bangkit dari duduknya dan membereskan barang yang ia bawa, lalu setelahnya ia segera pergi dari kafe tempat mereka bertemu itu. Juna bahkan sama sekali tak mempedulikan kepergian Arlina, bagus seperti itu, karena ia juga sudah sangat muak dengan wanita itu. Dan akan ia pastikan untuk tak menyesali apapun yang sudah ia buat, untuk apa menyesali wanita yang bahkan sudah membuat dirinya makin ingin membangun tinggi benteng anti sosial? Ia tak menyukai wanita cerewet seperti Arlina ini.


**


Setelah menyadari perasaannya pada Elle, Enzo tahu jika ia tak bisa hanya berdiam diri dan membiarkan Brian berada di sekeliling Elle lagi. Tapi, ia juga belum ingin memperlihatkan jika ia secara terang-terangan melindungi wanitanya itu. Ia masih ingin berharap Brian belum mengetahui apapun tentangnya, walaupun ia sangat yakin jika itu sangat tak mungkin. Mustahil, kan, jika pria yang memiliki kuasa seperti Brian tak mengetahui apapun dan tetap menjalankan rencananya untuk mengambil alih saham yang ada di perusahaan Enzo.


Tapi, siapa yang tahu? Tak semua penguasa seperti itu di bekali dengan otak yang cerdas, ada yang memang hanya terlahir dengan otak pas-pasan tapi memiliki taktik yang sangat cerdas. Jika pun begitu, seharusnya dari awal Brian juga sudah menyadari rencana yang sudah Enzo susun.


“Bagaimana kalau aku bisa membuat Brian pergi dari hidupmu, apa kau bisa menerimaku?”


“Bukan Brian yang membuatku tak bisa menerimamu, jadi jangan mengharapkan banyak hal dariku.”


“Kau tak ingin memberiku kesempatan? Aku janji akan melakukan apapun agar kau menerimaku.”


Kalimat itu masih terngiang-ngiang di telinga Elle setelah satu minggu pertemuannya dengan Enzo. Ia menyadari kegigihan pria itu dalam mengejarnya, tapi masih ada yang belum bisa Elle terima, bahkan jika pria itu sudah mengorbankan hidupnya. Menerima pria itu masuk ke dalam hidupnya hanya membuatnya semakin berbahaya.


Bagaimana jika hal buruk terjadi antara Enzo dan Brian hanya karena dirinya? Bukankah itu akan menjadi salah satu hal yang tak masuk akal? Dua orang berpengaruh di dunia pengusaha akan saling menjatuhkan hanya karena seorang wanita, lalu akan banyak wartawan yang meliput berita itu dan menjadikannya sebagai tajuk berita. Dan sudah dapat di bayangkan betapa banyaknya sorotan yang akan ia dapatkan, dan akhirnya sudah dapat di bayangkan.


“Apa lagi? Aku memikirkan cara untuk menjadi kaya dalam waktu singkat, tapi tetap tak menemukan caranya.”


Caroline tergelak dengan kalimat datar tanpa jiwa yang terucap dari bibir putrinya itu. Hubungan mereka belum terlalu dekat, tapi sudah menunjukkan tanda-tanda harmonis seiring berjalannya waktu. Dan Elle memang resmi berhenti dari pekerjaannya menjadi sekretaris, lalu menjadi anak berbakti dengan berdiam diri di rumah untuk mengurus apartemen kecil mereka selagi ibunya bekerja.


“Tinggal kau nikahi Brian atau Enzo, aku yakin kau langsung kaya dalam sedetik.”


“Kau sama sekali tak menyayangi putrimu ini, kan? Bagaimana bisa kau mengorbankan aku pada dua pria itu?”


“Ya, selagi aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan dari kedua pria itu. Jadi, kau akan memilih yang mana?”


Elle menyerahkan koran yang sejak tadi ada di bawah lipatan tangannya. Tajuk berita hari ini sungguh membuatnya tak mempercayai penglihatannya, rasanya ia harus memeriksakan dirinya ke spesialis mata untuk mendapatkan pertolongan pertama pada mata minusnya.


KEY EAST CORPORATION MEMBATALKAN SAHAM MILIK GOLD METALIST KARENA DI DUGA ADA KECURANGAN DARI PIHAK GOLD METALIST.


Gold Metalist adalah perusahaan yang di pimpin oleh Brian, Elle tak mengetahui berapa banyak saham yang di miliki Brian di Key East Corporation, tapi dari berita yang baru ia baca, bisa di pastikan bahwa Brian berada dalam masalah besar. Itu akan mencoreng nama Brian dan membuat banyak pihak berspekulasi atas apa yang terjadi.


“Jadi, apa Brian akan jatuh kali ini?” tanya Caroline.


“Ia tak akan jatuh secepat itu.”

__ADS_1


“Kau tak ingin membalaskan dendam ayahmu? Sepertinya ini akan menjadi saat yang tepat. Dia memang tak akan jatuh secepat ini, tapi semakin banyak tekanan dari berbagai pihak, bukankah akan semakin menyulitkannya?”


Elle menatap ibunya dengan seksama. Ada benarnya apa yang di katakan Caroline, tapi apa yang bisa ia lakukan, tak ada sedikitpun bukti yang bisa membuatnya untuk menjatuhkan pria itu. Brian sendiri yang dengan kejam melenyapkan bukti-bukti itu.


“Apa yang bisa kulakukan? Aku tak memiliki kuasa untuk itu.”


“Lalu untuk apa Enzo ada di dekatmu? Manfaatkan pria itu sebaik mungkin, atau minta bantuan pria itu secara terang-terangan. Pria itu jelas menyukaimu dan akan melakukan apapun untukmu,” ucap Caroline dengan percaya diri.


Tak ada yang salah dengan ucapan ibunya, hanya Elle yang masih ragu. Ia memang bisa melakukan hal itu, tapi bagaimana jika Enzo akan semakin menyukainya? Ia tak ingin pria itu terlibat terlalu jauh pada kehidupan pribadinya. Ia ingin menyukai pria itu dengan wajar, seperti wanita-wanita lain di luar sana.


**


Reno sudah kembali ke rumah yang ia tinggali bersama Reni, raut wajahnya sudah menjadi lebih baik dan mulai banyak tersenyum. Menghabiskan satu minggu bersama putranya, membuat energy baik banyak berkumpul di


sekitarnya, ia juga berhasil untuk meyakinkan putranya ittu tentang keadaan kedua orang tuanya. Walau masih ada sedikit keyakinan bahwa Aidan tak sepenuhnya menerima penjelasan dirinya itu.


Walau baru akan menginjak usia enam tahun, Reno tahu jika putranya itu sangat pintar dan mulai mengerti beberapa hal yang orang dewasa lakukan. Ada sisi positif dan juga negatif yang bisa ia rasakan sebagai seorang Ayah. Ketakutannya akan trauma yang akan menimpa kedua anaknya semakin bertambah, dan Aidan akan lebih berpotensi akan hal itu. Seandainya ia bisa sedikit lebih baik dalam menjadi seorang ayah.


Hal pertama yang Reno temukan ketika membuka pintu rumahnya adalah Reni. Wanita itu sedang duduk di sofa ruang tengah dengan televisi yang menyala dengan volume rendah. Ini juga salah satu yang akan menjadi bagian dari trauma Aidan, karena Reni pasti akan kembali menyentuh putranya itu, dalam bentuk apapun.


“Bagaimana Aidan?”


“Aku lelah, aku akan istirahat di atas.” Reno mengabaikan Reni yang sepertinya memang sudah duduk untuk menunggunya. Tak ada yang ingin Reno bicarakan, ia juga tak ingin mengatakan apapun pada wanita itu.


“Tentang perceraian itu, dan dokter Aluna. Aku akan melakukannya.”


Langkah Reno terhenti, tapi ia tak membalikkan tubuhnya. Bagus jika seperti itu, artinya Reno akan mulai untuk mengubah wanita itu. Bukan untuk mencintai Reni, ia melakukan ini atas dasar sesama sahabat. Setidaknya ada hal baik yang ia tinggalkan sebelum benar-benar meninggalkan wanita itu sendiri.


“Dengan syarat, tak ada perceraian.”


Kini tubuh Reno berbalik untuk menatap wanita itu seutuhnya. “Apa maksudmu?”


“Kamu mau menunda perceraian yang sudah kuajukan sejak kemarin dengan alasan ingin membantuku lepas dari masalahku, dan aku akan melakukan. Selama waktu itu berjalan, aku juga akan membuatmu melihatku sebagai


wanita yang bisa kamu cintai.”


Pandangan Reno menyipit. Ia tahu wanita ini licik, ia hanya tak tahu seberapa banyak kelicikan yang di miliki oleh Reni, dan kini ia tahu. Dadanya kembali bergemuruh karena amarah, kenapa kebaikannya kembali di salah gunakan ketika ia hanya ingin membantu sesama sahabat? Bahkan hingga saat ini, Reno masih menganggap Reni sahabatnya, terlepas dari berbagai kesalahan yang sudah di buat wanita itu. Sungguh mulia sekali hati Reno.


“Sampai kapanpun aku tak akan mencintaimu, aku hanya ingin membantu sebagai sesama sahabat. Jangan pernah mengharapkan hal yang lebih dari ini,” ucap Reno.


“Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan saat ini? Kamu memberiku kesempatan untuk masuk ke dalam hidupmu secara tak langsung. Aku sudah memberimu kebebasan untuk bercerai, tapi kamu menolak. Lalu kini, ketika aku mengatakan hal ini, kamu kembali menjatuhkan segalanya.”


Kalimat yang di ucapkan Reni sarat akan luka, Reno bisa mengetahuinya. Yang membuatnya semakin yakin, kondisi mental Reni dalam keadaan yang tak stabil. Wanita ini butuh pertolongan, dan tak akan ada yang menolongnya kecuali Reno. Kedua orang tuanya sekalipun, sudah sangat di pastikan tak akan peduli.


“Aku tak pernah memberimu harapan, kamu yang menciptakan harapan itu seolah aku akan mencintaimu. Hentikan semua pikiranmu itu, Ren. Aku hanya akan membantumu sebagai sahabat, tak lebih, kamu sangat tahu jika yang kucintai hanya Nabila.”


Reni bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati Reno yang masih memasang wajah penuh amarah itu. “Aku tak peduli, ini pikiranku. Aku yang menentukan apa yang harus kuciptakan untuk pikiranku sendiri.”

__ADS_1


Entah kegilaan seperti apa lagi yang akan terjadi, Reno baru saja membangkitkan iblis dalam diri Reni, iblis yang justru mungkin akan melahap abis kebaikan yang sudah Reno berikan.


**


__ADS_2