Playboy

Playboy
#2# Take 30


__ADS_3

Happy reading^^


 



 


Nabila menerima ajakan Juna yang memintanya untuk makan malam berdua. Ini bukan sesuatu yang besar, mereka hanya makan malam dan mungkin sedikit obrolan satu sama lain, entah itu pekerjaan atau apapun. Nabila sangat tahu maksud dari makan malam ini, tapi untuk saat ini biarkan saja semuanya mengalir. Tak salah juga jika harus akrab dengan salah satu rekan kerja, apalagi mereka berhadapan secara langsung di kantor.


Keduanya memasuki Steak and co. yang letaknya hanya berseberangan dengan kantor mereka, musik-musik klasik instrumental seketika menyambut mereka dengan suasana yang juga sangat hangat. Memang sangat cocok untuk makan malam, interior restoran ini juga sangat klasik dengan furnitur yang kebanyakan terbuat dari kayu dan dinding yang di cat dengan warna krem dan coklat muda.


Pantas saja jika ini di sebut sebagai salah satu restoran premium, dari pintu masuk saja mereka sudah di sambut dengan begitu mewah seperti ini.


“Meja kita di lantai dua, Mbak,” ucap Juna. Ia yang memimpin jalan di hadapan Nabila yang masih terkagum-kagum dengan interior restoran tersebut.


Ini bukan pertama kalinya untuk Nabila mengunjungi restoran seperti ini, hanya saja rasanya sangat menenangkan ketika pandangan kita di suguhi dengan pemandangan seperti ini. Lain kali, ia akan mengajak kedua anaknya dan juga sang ibu untuk makan di sini.


“Kamu udah reservasi sebelumnya?” tanya Nabila.


Lantai dua ini sama dengan lantai satu, meja dan kursi tersusun seperti  rapi. Bedanya, lantai dua ini menyuguhkan


pemandangan langsung dengan langit malam dan juga lampu-lampu jalanan di bawah sana. Tak ada atap yang menaungi, jika melihat ke atas, kita langsung di suguhkan dengan bintang-bintang yang gemerlap, lalu jika beruntung maka akan ada bulan yang memperindah langit malam.


Ada juga lampu-lampu kecil yang menghiasi tepian tembok pembatas dan juga tersusun dengan rapi di atas mereka. Secara keseluruhan, suasana di lantai dua ini sangat romantis dan intim. Nabila menyukainya, tapi sepertinya akan lebih baik jika mereka berada di lantai satu saja. Lantai dua ini lebih cocok di tujukan untuk sepasang sejoli yang baru memulai hubungan atau mungkin pengantin baru. Nabila hanya berharap Juna tak salah arah membawanya ke lantai ini.


“Iya, takutnya rame kalau gak di reservasi. Karena ini restoran baru, peminatnya masih banyak banget, jadi persaingan ketat banget buat dapetin kursi di sini,” jawab Juna.


“Udah kayak pemilu aja kamu.” Nabila tertawa geli dengan pemilihan kata yang di gunakan oleh Juna.


Juna juga tersenyum mendengar suara merdu milik atasannya itu. Tak ada yang salah jika ia menyukai atasannya, kan? Cinta benar-benar tak bisa di tebak akan menghampiri siapa saja, dan dalam kasus Juna ini, cinta itu sudah menghampiri hatinya dalam wujud Nabila. Tapi, ia juga tahu jika Nabila bukan wanita yang mudah.


“Mbak orang pertama yang nemenin aku dan juga aku ajak ke sini,” ucap Juna.


“Oh ya? Tapi gak tahu kenapa susah banget buat aku percaya kalimat itu.”


“Emang keliatan banget kalau aku ini tampang-tampang playboy, Mbak?”


Nabila pura-pura berpikir dan memperhatikan wajah Juna dengan seksama. Jika di perhatikan lekat-lekat, wajah Juna tak menunjukkan apapun, ia hanya pria dengan penuh candaan dan juga keceriaan. Nabila sendiri pun tak tahu bagaimana wajah playboy itu, apa tertulis di dahi mereka? Nabila hanya ingin mereka dekat, tapi tanpa melibatkan perasaan apapun.


“Lumayan. Waktu aku seumuran kamu, aku sering banget nemu tipe cowok kayak kamu gini,” ujar Nabila.


“Kalimatnya gak bisa di ganti gitu, Mbak? Kayak keliatan banget jarak umur kita.”


“Memang kenyataan, kan? Salah kamu sendiri ngajakin orang tua nongkrong di sini.”


Keduanya tertawa bersamaan. Hingga makanan mereka di sediakan pun, suasana di antara mereka tetap hangat. Juna sama sekali tak kehabisan bahan untuk di lontarkan pada Nabila. Semakin larut malam, tempat itu mulai di penuhi banyak tamu, suara alunan musik instrumental masih menjadi latar, obrolan serta tawa dari tamu lainnya juga menambah keceriaan suasana malam itu.


**

__ADS_1


Makan malam itu berjalan dengan lancar, dan banyak hal baru yang mereka tahu dari masing-masing. Terutama Juna yang kini semakin antusias untuk mendekati atasannya ini, ia tahu jika usaha tak akan pernah mengkhianati hasil, dan ia akan berusaha hingga hati wanita di sampingnya ini luluh.


Obrolan mereka sudah berakhir, malam juga semakin larut, dan keduanya memutuskan untuk menyudahi obrolan panjang mereka. Juna berjalan di hadapan Nabila yang menuruni tangga, tangan pria itu terulur untuk memastikan Nabila tak tergelincir dengan sepatu dengan tumit tujuh senti yang ia kenakan. Tangga itu sendiri cukup sempit dan hanya bisa di lalui oleh satu orang, tak bisa secara berdampingan.


“Aku ngerasa jadi kayak putri raja gara-gara kamu,” ucap Nabila.


Juna hanya tersenyum saja, hingga mereka sampai di anak tangga terakhir pun Juna tetap mengulurkan tangannya guna memastikan jika Nabila selamat hingga ia memijak tangga terakhir. Tapi, tidak. Nabila sedikit tergelincir ketika akan memijak lantai di bawahnya, dan hampir terjerembab di lantai jika Juna tak menahan punggungnya.


Ini benar-benar persis sama dengan adegan sinetron yang sering di tonton oleh Ibu Nabila di rumah. Juna masih menahan punggung Nabila hingga wanita itu sudah berdiri tegak di hadapannya, dan Nabila hanya bisa terpaku dengan wajah Juna yang sedang menatapnya. Apa ia terlihat sangat memalukan saat ini? Apa pipinya berubah warna karena tatapan Juna? Karena ia bisa merasakan pipinya yang menghangat dan jantungnya yang juga berdetak kencang. Perpaduan antara kaget dan juga tatapan Juna.


“Mbak gak apa-apa?” tanya Juna.


Nabila segera menyadarkan dirinya dan melepaskan diri dari Juna. “Makasih.”


“Makanya aku dari tadi pegangin tangan Mbak. Kalau nggak, mungkin dari atas tadi Mbak bisa kegelincir,” balas Juna dengan sedikit canggung.


Jantungnya benar-benar berdetak dengan kencang karena berada dalam jarak yang sedekat tadi dengan Nabila. Ia benar-benar sudah di kategorikan sebagai pria yang sedang jatuh cinta. Sedikit merasa kehilangan ketika Nabila melepas pegangannya tadi, tapi tak mungkin juga mereka terus berpelukan di tempat umum seperti tadi.


Nanti, ia akan memastikan untuk memeluk Nabila dengan erat.


Keduanya melanjutkan langkah lagi dengan sedikit canggung, hingga langkah Nabila terpaksa berhenti. “Kenapa, Mbak?”


Tak ada jawaban yang terucap dari bibir Nabila, pandangannya terpaku pada dua sosok yang juga sedang berdiri di tengah restoran ini. Mereka saling menatap, lebih tepatnya Reno dan Nabila yang saling menatap. Di depannya, yang hanya berjarak beberapa langkah, ada Reno dan juga Reni. Kedua pengantin baru itu.


Mungkin jika keduanya berpapasan tanpa harus bertemu muka seperti ini, akan mudah untuk menghindari. Tapi, jika sudah saling menatap seperti ini, bagaimana cara untuk menghindari? Apa mereka bisa hanya berlalu begitu saja? Tapi, apa sapaan juga di perlukan? Hubungan mereka bukan lagi seperti itu, sangat jauh dari semua


keakraban itu.


“Gak nyangka ketemu di sini, Bil,” sapa Reni dengan wajah polos tanpa dosa.


Betapa Nabila kini ingin mencakar wajah itu, tapi ia menahan. Tangannya terlalu bersih untuk sekadar mencakar wajah wanita perusak rumah tangganya ini. Nabila melebarkan senyumnya, lalu menatap keduanya.


“Kalian makan malam di sini juga? Waktu itu aku belum sempat kasih selamat buat kalian karena suasana yang gak memungkinkan.” Nabila mengulurkan tangannya, ia tak menujukan itu pada Reno, tak juga pada Reni. Ia hanya acak saja mengulurkan tangannya itu.


Reni menerima jabatan tangan itu dengan senyum, Reno hanya mampu menatap wajah Nabila dengan berbagai tebakan-tebakan yang bermunculan di kepalanya. Bertemu secara tak sengaja seperti ini selalu menimbulkan efek yang tak begitu baik untuk hatinya, jika bisa, ia rasanya ingin memeluk wanita ini dengan erat dan tak melepaskan lagi.


“Kalau kalian mau makan malam, sebaiknya pilih yang di lantai dua, suasananya bener-bener cocok buat pengantin baru kayak kalian,” ucap Nabila. “Aku duluan, ya.”


Juna mengikuti wanita itu yang berlalu dari kedua pasangan ini, ia tak mengenal siapa pasangan itu, tapi wajahnya tak asing dan seperti ada sesuatu di antara mereka berdua. Bahkan dari cara Nabila berbicara saja sudah sangat berbeda..


“Mereka teman Mbak?” tanya Juna ketika sudah berhasil menyamakann langkahnya dengan Nabila.


Nabila sedikit menimbang. Haruskah ia memberitahu Juna atau membiarkan begitu saja? Tapi Juna juga bukan seseorang yang seharusnya mengetahui tentang cerita ini. Mereka hanya makan malam dan tak ada yang perlu di banggakan dengan hal itu.


“Mereka pengantin yang kita datangin kemarin, kamu gak inget?”


“Ah, pantes aja, wajah mereka kayak familiar banget tapi susah banget buat inget.”


“Kalau gitu, aku duluan, ya. Makasih buat makan malam hari ini.” Nabila tersenyum pada Juna dan segera melangkah ke arah mobilnya.

__ADS_1


Ya,mereka tak akan pulang bersama seperti yang terjadi di sinetron. Juna menyayangkan itu, karena ia sangat ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Nabila. Juna merasakan itu, tembok yang sudah di bangun kokoh oleh Nabila. Mereka memang mengobrol dengan akrab, bahkan saling melemparkan candaan satu sama lain, tapi


Juna tahu jika ada sesuatu yang menahan wanita itu untuk melakukan lebih.


Pengalaman cinta Juna memang tak banyak, tapi dari semua itu, hanya Nabila yang berbeda dan membuatnya ingin membawa wanita itu dekat ke dalam dirinya.


**


Jika tadi Nabila mengatakan lantai dua ini sangat cocok untuk mereka yang pasangan baru, maka apa yang ia lakukan bersama pria tadi di lantai dua ini? Apa mereka juga pasangan baru? Kenapa hati Reno sedikit perih membayangkan hal itu terjadi? Nabila dan pria baru, mereka juga sangat serasi, ia sudah melihat bagaimana tatapan pria itu ketika membantu Nabila turun dari tangga tadi dan bagaimana pria itu juga menangkap Nabila yang hampir terjatuh.


Reno menyaksikan semua kejadian tadi, serta bagaimana Nabila tersenyum menyelamatinya. Tak masalah jika mereka seperti itu, kan? Mereka sudah bercerai dan tak memiliki hubungan apapun kecuali anak mereka yang menjadi penghubung di antara mereka. Ia juga sudah menikah lagi, dan ia yakin Nabila pun sudah menemukan seseorang di sampingnya.


Tapi, jauh di dalam hati Reno, ia masih merasa jika ini tak benar. Kejadian ini dan semua hal yang terjadi di dalamnya sangat tak benar. Reno tak seharusnya menikah, dan Nabila pun tak seharusnya memiliki pria lain di sampingnya. Bagaimanapun inginnya hati ini untuk menahan Nabila tetap di sampingnya, semua itu tak akan


bisa, karena memang mereka sudah tak bisa bersama lagi.


“Kamu mikirin Nabila tadi?” tanya Reni.


Reno juga tak mengerti kenapa ia justru berada di sini bersama Reni dalam ikatan pernikahan dan menjadi suami istri. Ini juga tak benar, tak seharusnya ia menikah. Kalaupun ia sudah bercerai dengan Nabila, harusnya ia menghabiskan waktunya untuk merenungi kesalahannya dan hanya menghabiskan waktu bersama kedua anaknya.


“Kamu udah pesen?” Reno tak ingin membahas Nabila bersama Reni. Mereka tak pantas melakukan itu setelah menyakiti wanita itu sangat dalam.


“Kamu masih cinta sama Nabila.”


Apa pernyataan itu perlu Reno lebih tegaskan lagi? Bahkan hingga saat ini masih banyak penyesalan di hatinya atas apa yang sudah terjadi di rumah tangganya. Belum selesai penyesalan itu, ia kini sudah di hadapkan pada rumah tangga baru yang tak tahu akan seperti apa jadinya nanti. Ia merasa sudah melakukan pengkhianatan besar pada Nabila.


“Tapi ngeliat dia udah pelukan sama pria lain, aku yakin dia udah mulai ngelupain kamu,” lanjut Reni lagi.


“Kamu seolah-olah tahu apa isi hati orang lain, yang kamu lihat di luar gak pernah sama dengan apa yang ada di hati mereka,” balas Reno dengan tajam.


Reni membuang pandangannya, ia pun sama. Ia sama seperti wanita lain, apa yang mereka lihat di luar ini tak seperti apa yang ada di hatinya. Sudah banyak orang yang menganggap bagaimana licik dan busuk hatinya, lalu ia harus bagaimana? Membuat pencitraan yang sangat bukan dirinya? Jika memang seperti itu, maka ia selalu memilih opsi untuk menunjukkan bagaimana hati yang busuk sebenarnya.


“Aku tahu kamu terpaksa ngelakuin ini, tapi seenggaknya kamu bisa sedikit manis sama istri kamu.”


Tak ada jawaban dari Reno, ia sudah tak jauh berbeda seperti robot yang di gerakkan oleh orang lain. Ia sangat ingin lari dari situasi ini dan menjelaskan pada Nabila tentang semuanya, bahwa ia tak benar-benar rela dengan pernikahan ini, dan ia juga terpaksa menjalani pernikahan ini. Ia juga ingin mengatakan pada Nabila bahwa ia tak menyukai pria lain yang memeluk dirinya.


“Jangan memintaku untuk melakukan banyak hal, karena aku tak akan melakukannya. Kita menikah seperti yang kamu inginkan, jangan harapkan aku untuk melakukan sesuatu yang lebih dari ini lagi.”


“Apa aku seburuk itu di matamu?” tanya Reni.


“Setidaknya, aku lebih menyukai Reni ketika ia kuliah dulu. Kamu yang sekarang duduk di hadapanku, bukan Reni yang sama.”


“Kamu gak mengerti tentang seberapa banyak hal yang sudah terjadi, aku gak mungkin tetap sama lagi setelah semua hal ini.”  Reni menatap Reno dengan wajah yang terluka.


Banyak hal yang sudah terjadi di hidupnya, dan sahabatnya ini tak akan mengerti karena mereka sangat berbeda. Reno sangat di cintai oleh banyak orang, ia memiliki istri dan anak, keluarga kecil mereka bahagia. Sedangkan Reni, ia harus mengemis kasih sayang pada orang lain untuk di cintai, ia harus memberikan timbal balik yang setimpal untuk mendapatkan kasih sayang fana itu.


“Itu bukan alasan untuk kamu ngelakuin tindakan kayak gini, kamu merusak diri kamu sendiri.”


“Itulah kenapa aku bawa kamu masuk ke neraka yang aku ciptakan untuk diriku sendiri, kamu sahabatku dan sekarang sudah menjadi suamiku. Aku ingin kamu sedikit mengerti tentang perubahan apa saja yang sudah terjadi padaku. Impas, kan?”

__ADS_1


**


__ADS_2