Playboy

Playboy
#2# Take 24


__ADS_3

Mau ngomong apa, ya? Cuman mau bilang kalo kalian luar biasa, luar biasa antusiasnya buat cerita pelakor. Emang ye semua tentang pelakor tuh bawaannya pengen nabok aja. Lanjutkan deh, ya. Aku gak bertanggung jaawab kalo kalian pada darh tinggi selesai playboy ini ;D


Happy reading^^


 



 


Sepertinya Richard nanti harus kembali berbicara dengan Nabila tentang bagaimana ia bisa memprediksi sesuatu, apa ia salah satu keturunan Mama Lauren? Atau justru ia memiliki pekerjaan sampingan sebagai seorang cenayang? Karena Nabila ini selalu memiliki opini yang menjadi nyata. Ingat, kan, kalimatnya kemarin sabtu yang


mengatakan untuk hati-hati jika nanti bertemu mantan di tempat umum?


Richard menjawab dengan lantangnya jika itu tak mungkin terjadi karena mantan satu-satunya hanya Kate dan wanita itu juga tinggal di Jerman. Kemungkinannya hanya akan terjadi jika Richard yang berkunjung ke Jerman atau Kate yang mengunjunginya, baru mereka bisa bertemu. Lalu siang ini, ia benar-benar di kejutkan oleh sesuatu yang sangat luar biasa.


Kate ada di Jakarta, tepatnya di lokasi pembangunan mal yang baru akan mulai di kerjakan, yang memang salah satu proyek dari perusahaan Kate. Masuk akal jika di pikirkan lagi, Kate yang ada di lokasi proyeknya sendiri. Oke, mari tak memikirkan hal lain dan anggap saja ini hanya kebetulan lain yang terjadi. Serta ingatkan Richard untuk bertanya pada Nabila nanti, wanita itu juga harus bertanggung jawab.


Lalu kenapa sebenarnya Richard ada di lokasi yang sama? Karena janjinya pada ayah Kate untuk sesekali meninjau lokasi proyek ini jika kebetulan memiliki waktu senggang, dan siang ini ia memang cukup senggang. Nabila juga yang kini menjemput putranya, jadi ia cukup senggang. Semesta seolah mendukung pertemuan ini.


Rasanya tak secanggung yang di katakana oleh Nabila, Richard justru menyukai pertemuan tak terduga ini. Kerinduan yang selama ini ia rasakan rasanya sudah terbayar hanya dengan menatap Kate dari kejauhan seperti ini. Wanita itu tetap cantik, bahkan lebih cantik sejak pertemuan terakhir mereka. Apa Richard masih bisa


memiliki Kate lagi?


“Oh, Pak Richard sudah menunggu?” ucap salah seorang pria berjas yang matanya terarah pada Richard. Jarak mereka tak terlalu jauh hingga Richard bisa mendengar kalimat itu.


Mata Kate yang sedari tadi fokus dengan penjelasan pria-pria di hadapannya, kini berpindah pada Richard yang tengah berdiri menatap mereka. Jantungnya juga mendadak berpacu dengan kencang, apa sedang di adakan lomba lari di dalam sini? Kenapa sangat kencang?


Richard berjalan menghampiri kerumunan pria-pria paruh baya dan juga Kate itu, tadinya ia ingin melarikan diri saja, tapi rasanya terlalu kekanakkan. Biasa saja, tak perlu terlalu gugup, ini bukan ujian masuk perguruan tinggi.


“Selamat siang, semuanya,” sapa Richard.


Mereka saling bergantian berjabat tangan dan saling menyapa. “Maaf saya sedikit terlambat, ada beberapa hal yang harus di selesaikan sebelum menuju kemari.”


“Kalian tidak pergi bersama?” tanya pria paruh baya yang juga menyadari lebih dulu kehadirannya tadi.


Richard tak tahu jika pria-pria ini juga cukup penasaran dengan kehidupan asmaranya. Jadi Richard hanya memberikan senyum tipisnya, berbasa basi sebentar sebelum membawa Kate pergi dari lokasi itu. Ya, ia bersama Kate saat ini dalam kondisi yang canggung.


Kali ini ia akan meralat ucapannya tadi yang mengatakan jika bertemu mantan tak akan secanggung dugaannya. Memang tak canggung jika hanya menatap dari kejauhan, tapi akan berbeda hasilnya jika sudah duduk berdampingan di dalam mobil yang tak terlalu luas ini. Lagipula kenapa tadi ia berinisiatif untuk membawa Kate


pergi dari sana? Oke, otaknya benar-benar sudah tak tertolong lagi rasanya.


“Maaf menarikmu begitu saja, kau membawa kendaraan kemari?” tanya Richard.


“Tak masalah. Kau tak ingin mengajakku makan siang?” tanya Kate. Ia tersenyum seperti biasa, tapi percayalah jantungnya benar-benar sudah tak tertolong lagi.


“Kau belum makan siang?”


“Aku sudah di rekomendasikan beberapa restoran yang cocok di sini, tapi kupikir karena bertemu denganmu, kenapa tak mengajakku mengenal Jakarta.” Kembali senyum itu terbit di bibir Kate.

__ADS_1


Memang benar jika seseorang sudah tak menjadi milik kita, dia akan lebih terlihat cantik dan juga bersinar. Jadi, apa Richard menyesal sudah memutuskan hubungan mereka? Ya dan tidak. Ya, karena mereka mungkin membutuhkan ruang untuk bisa saling berpikir dengan jernih. Tidak, karena ia jelas masih mencintai Kate.


“Baiklah, kalau begitu aku akan menunjukkan padamu seberapa menariknya kota yang padat ini.”


Kate tersenyum. Semuanya memang akan lebih baik tanpa rencana, pertemuan tak terduga seperti ini juga sangat menyenangkan di banding pertemuan yang sudah di atur dan dalam suasana yang sangat serius. Ia mungkin harus berterima kasih pada Liliana yang sudah memberinya kekuatan untuk bertemu dengan Richard. Ia juga belum sempat bertemu dengan putra Liliana yang menggemaskan itu, pasti sekarang bocah itu sudah tumbuh semakin besar.


**


Hubungan Elle dan Enzo kini semakin dekat, seperti yang di inginkan oleh Brian. Elle tak melakukan banyak hal untuk mendekatkan diri dengan Enzo, ia hanya melakukan seperti biasa, masih mengobrol dengan nada yang tajam. Elle terpaksa harus melakukan ini jika ingin utang-utang itu sedikit banyak berkurang, tapi ia juga memiliki firasat jika Brian tak akan semudah itu untuk membebaskan utang milik Elle.


Sedikit banyak, Elle sudah sangat mengerti dengan jalan pikiran pria licik itu. Brian bisa memiliki seribu cara untuk kembali menekan orang lain, dari cara yang bersih,  maupun cara yang kotor.


Untuk membuat kalian lebih mengerti lagi. Ayah Elle, Bramantyo Danuwijaya memulai untuk membangun perusahaannya ini dari bawah dan menjadi semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Brian adalah tangan kanan Danuwijaya yang sangat di percaya, hingga suatu waktu Brian memiliki maksud lain dengan menanamkan saham di perusahaan yang di miliki Danuwijaya. Brian ingin menguasai perusahaan itu, dan juga sang putri tunggal yang menjadi mutiara d keluarga Danuwijaya.


Selang waktu berjalan, rencana yang di buat oleh Brian mampu berjalan dengan mulus. Danuwijaya juga mulai mempercayakan semua hal pada Brian, hingga Danuwijaya pada akhirnya mulai mengerti dengan rencana yang di buat Brian. Itulah puncak dimana Brian mulai merekayasa kematian Danuwijaya menjadi sebuah kecelakaan lalu lintas, padahal itu murni pembunuhan.


Bagaimana Elle bisa mengetahui semua itu? Brian sendiri yang menceritakan kisah itu dan mulai menjadikan Elle sebagai tawanan berkedok pembayaran utang. Semua harta yang di miliki Danuwijaya berhasil di pindahtangankan ke tangan Brian, tersisa sang istri Danuwijaya yang memilih untuk menjadi wanita penghibur dan Elle yang harus memulai semuanya dari awal.


“Kau sudah membuat janji untuk pertemuan dengan Brian minggu ini?” tanya Enzo.


“Minggu ini, ya? Aku akan mengaturnya. Lalu, kau akan benar-benar membiarkan ia melakukan investasi di perusahaanmu?” Elle kembali menatap Enzo dengan tatapan penasaran.


“Ada apa denganmu dan pria kepercayaan ayahmu itu?” tanya Enzo menyelidik.


Elle tahu ia tak boleh gegabah dan justru mengatakan hal yang aneh. Enzo tak boleh mengetahui jika ia mengenal Brian, dan Brian juga tak boleh mengetahui jika Enzo sudah mengetahui siapa Elle sebenarnya. Rumit memang, Elle sangat ingin kembali ke Indonesia, ia rela menjadi apapun dan bekerja sebagai apapun asal lepas dari


lingkaran setan ini.


“Hanya jadwalkan saja pertemuan kami, kau tak perlu ikut.”


Elle mengurungkan niatnya untuk berbalik dan keluar dari ruangan itu. “Kenapa? Bukankah aku di butuhkan di sana?”


“Brian menyukaimu. Walaupun ia mengatakan bahwa ia sudah di jodohkan dengan putri Danuwijaya, aku tetap tak bisa mengerti, apa kalian tak pernah bertemu sebelumnya?”


Semua pengusaha di Jerman ini sudah mengetahui betapa cerdasnya Enzo dalam menjalankan bisnisnya. Lihat saja dengan kesuksesan yang ia raih seorang diri tanpa bantuan ayahnya, jadi tak mungkin untuk mengelabui Enzo seperti ini. Tapi, harus di coba, kan? Tapi, Elle juga yakin jika Enzo pasti sudah menyelidiki tentang latar belakang Brian, tak mungkin Enzo se-lengah itu.


“Sudah kubilang jika aku tinggal terpisah dengan kedua orang tuaku, mereka hanya mengunjungiku jika ada acara tertentu. Sisanya aku hanya menjalankan hidup sebagai putri manja yang sangat boros.”


“Ya, kau sangat cocok dengan julukan itu,” ujar Enzo. Masih ada raut tak percaya di wajah itu.


“Jadi?”


“Jadwalkan seperti yang sudah seharusnya, kau hanya tinggal siapkan apa saja yang harus kubawa, karena kau tak boleh ikut dalam pertemuan ini,” ucap Enzo final.


“Hanya karena menurutmu dia menyukaiku?”


“Bukan hanya menurutku, tapi tatapan matanya sangat jelas jika ia menyukaimu.”


Elle bukan ingin menyombongkan hal ini, ia juga tahu jika Brian menyukainya dan sangat menginginkan ia untuk menjadi kekasihnya. Tapi, itu alasan konyol untuk sebuah pengecualian ia tak boleh ahdir di pertemuan itu. Seharusnya memang ia bersyukur karena tak akan bertemu dengan Brian, tapi ia juga ingin tahu apa yang sedang di rencanakan pria itu.

__ADS_1


“Kau sendiri yang selalu meyakinkanku untuk tak menerima dia menjadi investor, apa kau jangan-jangan menyukai pria seperti dia?” tanya Enzo.


“Baiklah. Aku akan mengatur jadwalnya, dan aku tak akan ikut dalam pertemuan itu.”


Elle segera membalikkan tubuhnya menuju pintu keluar. Anggap saja ini merupakan bonus karena tak perlu bertemu dengan Brian. Pria itu juga akan seenaknya masuk ke apartemennya, jadi ia juga cukup muak untuk melihat wajah itu lagi.


**


Menjadi editor untuk majalah mode bukan cita-cita Nabila sebenarnya, ia hanya menyukai berbagai jenis mode yang di kenakan oleh wanita, ia suka menulis untuk menyuarakan pendapatnya, ia juga pernah mengambil bagian sebagai wartawan kampus. Semua hal itu membawanya pada pekerjaan ini.


Awalnya memang berat, ia bahkan sangat sering mengeluh karena banyaknya pekerjaan yang ia lakukan dulu untuk sampai ke tahap ini. Menjadi asisten perancang busana yang mendampingi para model untuk pemotretan, belum lagi menjadi asisten editor yang selalu menjadi pusat kemarahan kepala editor, yah, ia sudah melewati


banyak tantangan sebelum benar-benar menjadi seorang editor.


Ia juga sempat mengundurkan diri ketika kelahiran Aidan, dan fokus untuk merawat anaknya, serta menjadi penulis lepas di blog miliknya yang sudah cukup memiliki banyak pengunjung setia. Nabila hanya seorang wanita yang sangat ingin terus bergerak tanpa ada yang membatasi, ia tak bisa jika hanya diam di tempatnya tak melakukan apapun. Ia tak menyesal pernah mengundurkan diri untuk fokus pada keluarga kecilnya, mungkin yang ia sesali hanya, kenapa keluarga kecilnya bisa hancur seperti ini?


Setelah memutuskan untuk kembali bekerja sebagai editor, ia seperti mendapatkan kembali kebebasannya. Tapi, ia tak bisa bekerja terlalu keras di sini karena ada dua anaknya yang juga butuh perhatian darinya. Rumah tangganya boleh gagal, tapi ia tak ingin kembali gagal untuk menjadi ibu tunggal untuk anak-anaknya.


“Serius banget, Mbak, ngerjainnya. Monitor itu gak bakalan ilang, kok.”


Itu suara Juna, asistennya. Pria, dua puluh lima tahun, dan sangat menyukai jika ia bisa mengganggu pekerjaan Nabila. Juna ini baik, semangat kerjanya sangat tinggi, dan juga tak pernah menentang semua perintah Nabila tentunya. Kualifikasi yang bisa Nabila terima untuk menjadi asistennya.


“Kerjaan yang tadi udah selesai kamu kerjain?” tanya Nabila datar.


“Udah, Mbak. Udah aku email juga, di jamin aman dari segala kesalahan.”


Nabila tersenyum tipis. Semua rekan kerjanya sangat baik dan ramah, satu dua orang yang mencari muka untuk pekerjaannya sudah mampu Nabila maklumi, selain itu semuanya baik. Energinya seperti bertambah jika ia sudah memasuki kantornya dan bertemu semuanya, termasuk Juna ini.


Dalam lingkup pekerjaan, sebisa mungkin Nabila memberi batas yang cukup wajar untuk keprofesionalan. Jadi, jika Nabila terlihat sangat datar dan tanpa emosi ketika menanggapi rekan lainnya, itu hal yang wajar. Di luar pekerjaan, Nabila akan menjadi sosok yang menyenangkan untuk rekan-rekannya. Hanya Juna yang selalu santai ketika menghadapi Nabila, bahkan mengajaknya bercanda ketika wajah Nabila sedatar tembok.


“Gimana kalau ternyata aku nemuin kesalahan di tulisan kamu ini?” tanya Nabila.


“Aku bakal traktir Mbak makan malam.”


Nabila mengangkat kedua alisnya, ia tak semurah itu jika hanya di hargai dengan sebuah makan malam dan resiko banyak kesalahan di dalam tulisan yang di buat Juna. Itu tidak mungkin terjadi sih, karena Nabila sangat mengakui seni penulisan Juna yang sangat baik dan tanpa kesalahan yang berarti.


“Di Steak and co..”


Tatapan keduanya beradu, dan Juna menaikturunkan alisnya untuk menggoda Nabila. Steak and co. adalah restoran steak premium yang letaknya hanya tinggal menyeberang jalan besar di hadapan kantor mereka. Menu yang di sediakan sudah pasti sangat mengguggah selera, rasa terjamin, dengan harga yang cukup menguras kantong.


Nabila sangat cocok dengan menu yang di sediakan di sana, hanya saja ia tak mungkin menghamburkan uangnya begitu saja hanya untuk satu porsi daging. Ia ibu dari dua anak, jika ia ingin bersenang-senang, ia harus memikirkannya dengan sangat matang. Tak adil rasanya jika ia hanya menikmati makanan lezat itu seorang diri


tanpa kedua anaknya.


“Kalau itu jaminannya, aku mungkin bisa percaya. Jangan menarik kalimatmu,” ucap Nabila dengan tersenyum. Ia juga penggila makanan gratis, untuk kalian tahu. Lagipula siapa yang akan menolak makanan gratis?


Juna tersenyum ketika melihat Nabila yang juga memberinya senyum, lalu ia kembali ke meja kerjanya lagi. Walaupun baru sekitar empat bulanan ini bekerja bersama Nabila, tapi ia banyak mendapatkan hal-hal baru, berbeda dengan editor sebelumnya yang sangat pemarah dan kaku. Nabila sangat jauh dari hal-hal seperti itu, dan jangan lupakan senyum manis itu yang sangat jarang terlihat di kantor.


Mungkin ini sudah di mulai sejak pertemuan pertama mereka. Dari awal perkenalan saja, Juna sudah terpesona dengan senyum tipis yang di berikan Nabila, di lanjutkan dengan pekerjaan yang hampir mereka habiskan bersama. Apa ia sedang jatuh cinta?

__ADS_1


Jika cinta itu berwujud Nabila, maka Juna akan dengan senang hati menerimanya tanpa penyangkalan sedikitpun. Nabila adalah tipe wanita yang sangat mudah di terima oleh siapapun.


**


__ADS_2