
Aku cuma mau bilang, kalau kalian nemubtypo atau kalimat apapun yang gak sinkron, maapkeun ya, mungkin lagi khilap pas nulis tadi.
Happy reading^^
“Tapi serius, kenapa kamu bisa cerai sama Reno? Aku pikir kalian baik-baik aja,” ucap Dimitri.
“Mungkin karena kami baik-baik saja, hingga perceraian itu terjadi.” Nabila membelai lembut punggung Alya yang sudah tertidur pulas.
Jika Reno melakukan kesalahan lain, mungkin ada kemungkinan Nabila akan memaafkan. Selingkuh adalah hal terakhir yang pernah muncul di benak Nabila, rumah tangga mereka baik-baik saja, benar-benar tak ada masalah apapun. Dari segi keuangan, dan komunikasi mereka juga baik. Reno yang selalu pulang terlambat tak pernah
menjadi masalah untuk Nabila, ia mengerti bagaimana pekerjaan Reno yang harus menyelamatkan banyak nyawa. Nabila mengetahui pahitnya menikahi seorang dokter.
Sampai tahap itu, semuanya baik-baik saja. Hingga ia tak sengaja melihat Reno yang sedang berpelukan dengan wanita lain, rekan sesama dokter yang juga pernah Nabila temui beberapa kali. Dunia memang sesempit itu.
“Coba tanyakan pada pasangan yang ada di sini, bagaimana mereka bisa bercerai lalu kemudian rujuk lagi,” ucap Nabila lagi.
Pandangan Richard dan Nabila sudah beralih pada Liliana dan juga Dimitri yang menyaksikan obrolan orang patah hati itu. Lucu memang, ketika mereka sudah kembali akur, kini justru sahabat-sahabatnya yang mengalami kejadian yang sama itu. Apa karena mereka sahabat hingga kejadian seperti ini memang wajar terjadi? Biasanya seperti
itu, kan?
“Kami hanya melakukan kesalahan, dan semuanya sudah lebih baik sekarang,” jawab Liliana. Hanya itu yang ia tahu, tak ada kalimat lain untuk menggambarkan perceraian mereka dulu. Saat ini juga mereka sudah lebih terbuka untuk membicarakan hal itu, perceraian mereka memang hal pahit untuk di kenang, tapi bisa di jadikan pembelajaran.
“Kalau gitu, seharusnya kamu juga bisa memperbaiki kesalahan itu, Bil. Kamu bisa selesain masalah dulu sama Reno tanpa harus bercerai. Memang cerai segampang itu, ya?”
Kali ini semua mata tertuju pada Richard. Richard dan Nabila ini sifatnya tak jauh berbeda, apalagi Dimitri yang pernah menjadi korban kekejaman kalimat Richard itu. Nabila juga menatap Richard dengan sengit.
“Dan kamu ngomong kayak gitu seolah-olah kamu gak berkaca sama dirimu sendiri. Kamu juga bisa ngomong baik-baik sama siapapun wanita yang mutusin kamu itu, tanpa membuat hubungan kalian berakhir,” ujar Nabila.
Liliana dan Dimitri hanya bisa menatap satu sama lain, apa yang harus mereka lakukan sekarang? Perpaduan antara Nabila dan Richard yang beradu argumen mungkin akan memanas karena sifat keduanya yang tak mau mengalah. Hal seperti ini belum pernah terjadi, tapi hanya melihat dari tatapan mata keduanya sudah bisa di pastikan apa yang akan terjadi.
“Aku akan melakukan itu kalau dia memberiku kesempatan untuk setidaknya membicarakan semuanya baik-baik. Tapi, dia hanya memberi alasan tak logis untuk putus denganku.”
“Selalu ada alasan logis, kamu aja yang gak peka untuk cari tahu. Kamu hanya bisa kecewa karena dia putusin kamu gitu aja, gimana kalau justru ada tekanan lain yang dia terima.”
Benar, kan? Nabila dan Richard tak mungkin mengakhirinya begitu saja, setidaknya harus ada satu orang yang kalah dan mengaku salah. “Bil, Alya mau aku pangkuin aja, gak?” tanya Liliana lirih.
Kasihan Alya jika tidurnya terganggu hanya karena pertengkaran tak ada ujungnya itu. “Sebenarnya keputusan kalian gak ada yang salah, kita selalu punya cara masing-masing untuk membentengi diri dari rasa sakit. Jadi, pilihan kalian gak ada yang salah.” Dimitri akhirnya angkat bicara setelah hanya melihat kedua sahabatnya itu berdebat.
Nabila dan Richard menatap Dimitri sengit. “Apa? Aku benar, kan? Aku juga menganggap perceraianku dulu dengan Liliana adalah pilihan terbaik untuk menghindari rasa sakit, karena jika tetap bersama, kami hanya saling menyakiti saja. Kita juga kadang butuh waktu sendiri untuk memilah perasaan kita,” ucap Dimitri lagi.
__ADS_1
Liliana tiba-tiba menggenggam tangan Dimitri yang ada di atas meja. Suaminya ternyata sudah sangat dewasa, semoga selamanya akan tetap seperti ini. “Aku setuju. Jadi, sebaiknya hentikan perdebatan kalian, ada anak-anak di sini,” timpal Liliana.
Richard membuang pandangannya ke samping, ia terlalu terbawa emosi dengan keputusan sepihak Kate, tapi ia juga tak menyalahkan kalimat Nabila tadi. Justru ia merasa berterima kasih karena ia jadi memikirkan banyak kemungkinan tentang Kate. Ia sangat senang ketika pertama kali Reno mengenalkan Nabila sebagai pacar dan juga calon istrinya. Ia menyukai sifat Nabila yang ceplas ceplos dan juga apa adanya, sama sekali tak jaim seperti kebanyakan wanita lainnya, dan juga sederhana. Entah apa yang di pikirkan Reno ketika menyetujui perceraian ini.
“Maafkan aku, sepertinya aku terbawa suasana dan emosi,” ucap Richard pada akhirnya.
“Aku tak akan meminta maaf, karena ucapanku adalah kenyataan. Sebaiknya bicara lagi pada wanitamu, mungkin saja kalian bisa kembali bersama lagi.”
“Inilah alasanku kenapa betah bersahabat dengan Nabila,” ucap Liliana.
“Ya, aku harap kamu masih tahan hadapin galauku kali ini. Kamu gak mau ngomong apa-apa, Dimitri?”
“Apalagi yang mau di omongin? Kamu mau aku muji-muji kamu juga?” Dimitri mengangkat bahunya tak acuh.
“Lain kali kalau kamu mau cerai lagi sama Dimitri, jangan pernah mau rujuk lagi, Li.”
“Omongannya, Nabila!” Liliana berdecak mendengar kalimat yang baru keluar dari mulut Nabila itu. Apakah cerai menjadi hal yang sangat mudah saat ini? Perceraian tak semudah itu.
**
Ingin tahu bagaimana awal Elle bisa menjadi seperti ini? Dengan ayah yang sudah pergi lebih dulu, lalu sang ibu yang memilih hidupnya sendiri dengan menjual dirinya sendiri, serta para rentenir atau mafia-mafia yang siap menangkap Elle hidup atau mati untuk melunasi hutang yang sangat banyak jumlahnya itu.
Untuk bagian sang ibu, hingga kini Elle tak pernah mengetahui kenapa wanita yang sangat ia banggakan dulu bisa lebih memilih menjadi gundik untuk orang-orang kaya lain. Gila harta dan juga uang mungkin bisa di jadikan alasan, tapi tetap tak bisa membuat Elle mengerti. Bagaimana wanita itu bisa dengan teganya membuang Elle dan memilih hidupnya sendiri?
Tentu saja Elle merasa terbuang setelah banyak hal yang ia lalui, ia tak memiliki keluarga atau sanak keluarga serta kerabat di Frankfurt yang sangat luas itu. Ia benar-benar sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri juga. Untuk apa bergelimang harta, jika pada akhirnya ia hanya akan terbuang seperti ini?
Danuwijaya adalah otak yang memikirkan semua teknik, serta langkah apa saja yang akan mereka terapkan untuk menyukseskan proyek tersebut. Gold Comittee adalah perusahaan yang di pimpin oleh orang kepercayaan Danuwijaya tadi, Brian Dennis Park. Pria itu masih di awal empat puluhan dan merupakan keturunan Eropa-Korea.
Insting bisnisnya tajam, ia juga terkenal licik dan pria yang bisa meledakkan senjatanya kapan saja.
Mungkin ia terlihat pendiam dan tak banyak bicara, tapi ia juga mengatur strategi miliknya sendiri di dalam kepalanya. Pria itu juga yang berhasil menjebak Danuwijaya, menghancurkan nama itu di mata para pengusaha, serta mengkhianati kepercayaan Danuwijaya hanya untuk sebuah pengakuan dan mengambil alih apapun yang di miliki Danuwijaya.
Elle mengetahuinya, bagaimana keluarganya hancur di tangan seorang pria yang sudah di percaya oleh sang ayah. Elle bisa bebas dari semua penderitaan ini jika ia mau menikahi pria bengis itu, yang langsung di tolak mentah-mentah tentu saja. Ia tak akan mengkhianati sang ayah dengan berurusan dengan pria ini.
“Kau pulang sedikit larut.”
Elle berjengit mendengar suara itu, suara yang benar-benar sangat memuakkan dan terdengar menjijikkan di telinga Elle. Brian Dennis Park. Darimana datangnya semua hutang-hutang yang harus ia lunasi, serta seluruh gajinya yang tak bersisa itu? Jawabannya adalah pria ini, ia dengan paksa merampas semuanya dari Elle dengan harapan Elle akan menyerah dan menyerahkan seluruh hidupnya pada pria ini.
“Orang Asia terkenal dengan sopan santunnya, hanya kau yang tak memiliki hal itu sepertinya,” jawab Elle dingin.
Pria itu bahkan bisa mengetahui kode sandi apartemennya, apa yang tak ia ketahui? Mungkin ukuran pakaian dalam Elle pun ia bisa tahu. Pria itu adalah psikopat yang sangat terobsesi dengan Elle, dan memiliki kekuasaan besar di tangannya.
“Ah, aku sangat merindukan Elle yang sangat manis ini, dan semua kalimat sarkasmu.” Pria itu bangkit dari sofanya dan menghampiri Elle yang masih berdiri di tengah ruangan itu. “Apa kau belum ingin menyerah?” tanyanya.
Elle membuang pandangannya. Pria itu berdiri tepat di depan tubuhnya, lalu menyejajarkan wajah mereka. Jika pria ini normal, mungkin Elle bisa jatuh cinta dengan tatapan itu. “Kita lihat saja nanti siapa yang akan menyerah lebih dulu,” tantang Elle. Kini ia berani menatap mata pria itu.
__ADS_1
“Benarkah? Apa kau sangat percaya diri jika aku akan menyerah? Atau karena pria yang menjadi atasanmu itu? Kau jatuh cinta padanya?” Brian mencengkeram dagu Elle dengan paksa, membuat Elle sedikit meringis.
“Aku tak akan pernah menyerah, dan akan memastikan dengan sendiri kau akan menyerah dan jatuh ke dalam pelukanku,” ucap Brian. Ia melepaskan cengkeraman itu dengan paksa dan berjalan keluar dari apartemen itu.
Elle menghembuskan nafas yang ternyata sudah ia tahan sejak tadi. Pria itu yang membuatnya ingin kabur dan pergi sejauh apapun, walau pada akhirnya pria itu tetap akan menemukannya. Alasan dari semua penderitaan ini, dan alasan kematian sang ayah serta keluarganya yang hancur berantakan. Ia sangat ingin membalas dendam, tapi ia tak memiliki kekuasaan itu, tidak dalam kondisi yang ia saja tak bisa mendeskripsikan.
**
Liburan dua minggu Richard sudah berakhir, dan ia akan kembali ke Jerman untuk kembali bekerja—menemui Katherine—dan melanjutkan semua yang tertunda selama kepergiannya. Hal pertama yang sudah pasti akan terjadi adalah, bertemu dengan Katherine. Itu sudah pasti akan terjadi, dan Richard masih berkutat dengan perasaan galaunya. Coba bilang padanya siapa yang tak akan galau jika di tinggalkan oleh wanita yang di cintainya tanpa alasan jelas, dan mereka berakhir begitu saja?
Andai saja ia masih menjadi seorang dokter, setidaknya ia tak akan bertemu dengan Kate di negara yang sejauh ini. Andai saja ia juga tak menerima usulan ayah Kate untuk menunangkan keduanya. Banyak hal yang ia andaikan, tapi ia juga tak bisa melakukan apapun.
Setelah beristirahat selama satu hari, Richard memulai kembali pekerjaannya. Kali ini, ia akan menemui Kate. Benar, kan, jika mereka memang sudah di takdirkan untuk bertemu, lagi dan lagi? Ini adalah hal yang sangat sulit jika memiliki hubungan dengan rekan kerja sendiri. Apa yang harus Richard lakukan? Berpura-pura seperti tak ada yang terjadi, atau mengkonfrontasi Kate sendiri seperti yang di katakan Nabila?
Richard memasuki ruang rapat bersama sang sekretaris. Ruang rapat itu sudah di penuhi orang, termasuk Kate di antaranya. Tentu saja, karena Kate adalah ketua yang sudah di tunjuk untuk proyek yang sedang mereka jalankan.
Selama rapat itu berlangsung, Richard hanya memperhatikan Kate dan sesekali menjawab apa yang perlu ia jawab dari pertanyaan yang di berikan. Mungkin rapat hanya kedoknya, ia bisa saja tak hadir, tapi ia sangat ingin melihat Kate, itu sebabnya ia menghadiri rapat ini dengan segala rasa lelah di tubuhnya akibat perjalanan jauh.
Setelah satu jam yang terasa seperti satu abad itu, rapat berakhir dan menyisakan Richard dan Kate di ruangan itu. Belum ada yang membuka mulut sejak tadi, mungkin mereka juga takut karena tak ingin saling merindukan jika merek membuka mulutnya.
“Bagaimana Indonesia?”
“Bagaimana kabarmu?”
Keduanya berucap dengan bersamaan, lalu tersenyum canggung karena atmosfer yang tercipta. “Kau duluan,” ucap Richard.
“Apa Indonesia masih menyenangkan?”
Tidak, karena kau tak ada di dalamnya. Kalimat itu hampir meluncur dari mulutnya, jika saja Richard tak menahannya. Ia juga tak ingin terlihat sangat menyedihkan di hadapan Kate. Mungkin ucapan Nabila kemarin ada benarnya, yang meminta Richard untuk menanyakan lagi hubungan mereka. Patah hati pun butuh kepastian juga. Jangan menjadi orang yang menyebalkan dengan menyimpan semua rasa sakit sendirian, setidaknya ada satu
orang yang akan menjagamu.
“Masih sama seperti biasanya, tak ada yang spesial.”
Hening lagi. Ini seperti pertanda untuk sesuatu lebih besar yang akan terjadi. Atau mungkin juga tindakan yang tak di inginkan keduanya. Tak ada timbal balik dari pertanyaan yang di ajukan Kate tadi pada Richard, diam tetap yang mendominasi.
Kate juga tak tahu harus mengatakan apa lagi. Kebodohannya ini dengan memutuskan hubungan mereka saja sudah sangat salah. Penyesalan itu memang sudah harusnya ada sejak Kate masih memainkan permainan ini. Anggap saja ini sebagai permainan yang harus di penuhi Kate untuk mengetes seberapa cocok mereka.
“Apa ada lagi yang ingin di bicarakan? Jika tidak, aku masih memiliki janji dengan orang lain,” ujar Richard. Ia bahkan langsung berdiri tanpa menunggu jawaban Kate.
“Aku minta maaf.”
Langkah Richard terhenti, hanya mendengar kata maaf saja sudah membuatnya berdiri mematung. Lihatlah bagaimana Kate mempengaruhi otaknya saat ini. “Untuk apa? Perpisahan ini?”
“Jika kau memang ingin minta maaf, maka kau bisa mengatakan alasan dari semua ini,” ucap Richard lagi.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Kate, dan Richard menganggap ini sebuah jawaban dari pertanyaannya selama ini ia harapkan. Tak peduli apa yang di katakan Nabila, hatinya sudah tak sanggup untuk menatap Kate dalam waktu lama.
**