Playboy

Playboy
Playboy take #2# The Real Playboy


__ADS_3

Jadi sebenarnya Arjuna Dwi Anggara adalah seorang pemain wanita di masa sekolah menengahnya. Dengan wajah yang tampan tanpa celah, banyak siswi dan mahasiswi yang pada akhirnya menaruh hati pada sang cassanova. Tak perlu menebarkan gombalan tanpa isi yang membuat semua wanita menyukainya, hanya dengan sebuah senyum, yakinlah para wanita akan langsung mengantri tanpa diminta.


Arjuna adalah pria seperti itu, dan masih akan seperti itu. Pria, wanita, cinta, komitmen, kepercayaan tak pernah ada dalam hidupnya, setidaknya itu yang masih ia percayai hingga sedewasa ini. Ditambah label anak haram yang melekat padanya juga tak akan lepas begitu saja. Walaupun hanya keluarganya yang tahu semua hal itu, tetap saja itu menjadi beban yang akan ia tanggung hingga akhir hayatnya.


Lalu untuk apa ia berpacaran dan bermimpi menikah? Tak akan ada yang ingin berhubungan dengan seorang anak yang lahir dengan cara hina.


“Kamu kenal dia, kan?”


Clara menyodorkan foto gadis di hadapan Juna, lalu ia langsung duduk begitu saja, mengabaikan tatapan dingin adik tirinya itu—secara tak formal—itu yang di percayai Clara hingga kini. Keduanya sudah tinggal terpisah sejak Juna memulai tahun pertamanya sebagai mahasiswa.


“Kenapa dia?”


Itu adalah foto rekan kerja wanitanya di kantornya yang sekarang, wanita yang cantik memang dengan hati yang tak indah. Awalnya ia berniat untuk menggoda wanita itu lalu menikmati satu malam indah bersama. Sepertinya hampir semua rekan kerja yang berjenis kelamin wanita memikirkan hal yang sama diotak mereka ketika menatap Juna.


“Mama mau jodohin kamu sama dia,” ucap Clara. Clara dan mamanya adalah keluarganya yang memiliki pandangan berbeda dalam bersosialisasi dengan Juna.


Juna tak yakin Clara menyayanginya dengan tulus sebagai saudara tiri, tapi mamanya sudah sangat jelas membencinya sejak pertama kali Juna masuk kekeluarga tersebut. Juna bahkan sudah sangat bersyukur dibesarkan dengan baik walau tanpa kasih sayang orang tua. Hidupnya memang sangat miris sejak dulu.


“Aku gak suka, lagian dia bukan cewek baik-baik, dari mukanya aja udah keliatan,” tolak Juna dengan tegas.


“Memangnya kamu bisa milih mau perempuan baik-baik atau nggak? Walaupun memang bener sih, aku juga nggak suka liat mukanya. Perhatiin bibir sama hidungnya, deh, pasti dia rutin suntik botox.”


Mau tak mau Juna tertawa dengan ucapan kakaknya yang sangat jujur. Bagi Clara, semua wanita memiliki kekurangan kecuali dirinya, dia yang menggembor-gemborkan jika wanita itu harus cantik alami, tapi dia juga yang sangat tergila-gila dengan riasan.

__ADS_1


“Kalo kakak tahu, ngapain mau jodohin aku sama dia? Kakak mau punya adik ipar kayak dia?”


“Ngebayanginnya aja aku ngeri. Tapi pokoknya kamu harus mau sama dia, kesepakatan bisnis kita cuma akan berhasil kalau kalian berhasil berjodoh.”


Juna menghembuskan nafas kasar. “Aku dijual lagi untuk bisnis kakak?” Juna meletakkan ponselnya di meja dan menatap kakaknya serius.


“Tahu lah gimana kelakuan mama kamu, bahkan dengan jabatan Direktur Utama, tetep masih ada yang diatasku, dan itu Nyonya Anggara.” Clara mengedikkan bahunya.


Setelah kematian sang ayah, pemilik bisnis makanan kaleng yang sudah besar dan memiliki nama di Jakarta, mungkin satu Indonesia juga sudah mengenalnya. Wijaya Anggara. Pabrik itu sendiri sudah diwariskan kepada Clara dan Arjuna secara resmi, tapi Arjuna menolak warisan tersebut dan lebih memilih hidup sebagai Arjuna, bukan putra Wijaya Anggara. Lagipula ibu tirinya tak menyukai hal tersebut, tapi karena warisan itu juga di sahkan oleh kuasa hukum keluarga Anggara, tak ada yang bisa dilakukan oleh nyonya Anggara.


“Mama bahkan selalu benci sama aku, tapi masih mau libatin aku untuk bisnisnya? Aku bahkan dengan sukarela gak menerima sepeser uangpun dari keluarga Anggara,” ucap Juna.


“Kamu tetap bagian keluarga Anggara yang sah, warisan itu juga sah, coba aja kenalan dulu. Dia juga kerja ditempat kamu, kan?” Clara menaikturunkan alisnya, mencoba untuk meyakinkan adiknya ini.


“Sampai kapan kamu mau hidup bebas kayak gini? Setidaknya berpikir untuk kedepannya. Kamu udah diusia yang cukup matang untuk mulai cari pasangan,” bujuk Clara.


“Kak, kamu aja udah ngelewatin kepala tiga, gak punya pacar, tiap akhir pekan juga masih main ke klub. Kakak juga udah diusia yang sangat sangat matang buat nikah, jadi kenapa—”


“Oke oke, aku tahu,” potong Clara kesal. Ia sangat tahu jika sang adik sangat jago berdebat dan sangat keras kepala, juga selalu tahu celah untuk mengalahkan lawan, yang sangat membuat Clara kesal.


“Aku juga udah punya pacar, aku gak butuh perjodohan.”


Clara menyipitkan matanya mendengar kata ‘pacar’ yang keluar dari mulut adiknya. Yang ditatap kembali menyibukkan diri dengan ponselnya. Ia tidak perlu menjelaskan pacar yang kini dimilikinya, karena tanpa seizin Juna, orang-orang mama dan kakaknya ini pasti sudah lebih dulu mencari tahu.

__ADS_1


“Janda itu?”


Lihat, kan? Tak ada yang namanya privasi jika itu sudah menyangkut Arjuna.


“Kalau hanya main-main seperti yang sebelumnya, lebih baik kamu berhenti dan lakukan perjodohan ini. Kamu tahu, akhir dari semua ini gak akan baik kalau kamu paksakan, dan lagi, dia lebih tua dari kamu dan kamu harusnya tahu tentang gagalnya rumah tangga dia yang sebelumnya. Jun…,”


Tangan Juna mengepal mendengar omongan sang kakak. Ia sudah tahu semua itu, juga kisah dibalik wanita tangguh yang sangat sulit didekati itu. Juna sudah tahu semuanya, tapi bahkan, semua hal yang ia ketahui justru semakin membuatnya ingin memiliki wanita itu. Bukan untuk satu malam, juga bukan untuk memanfaatkannya, tapi ia ingin memiliki wanita itu seutuhnya dengan semua kekurangannya.


Untuk kedua kalinya, perasaan yang sudah lama terpendam jauh didasar jiwanya kini muncul. Perasaan yang seharusnya sudah tak bisa ia rasakan lagi, tapi bisa ia rasakan lagi melalui Nabila. Dan mendengar ucapan Clara benar-benar membuatnya marah.


“Kayaknya itu juga bukan urusan kalian, dan kalian juga bisa berhenti untuk ikut campur semua masalah pribadiku,” ucap Juna berapi-api.


Melihat Juna yang menunjukkan ekspresi marahnya membuat Clara terkejut, karena adiknya ini bisa dibilang sangat jarang menunjukkan emosinya. Juna ini walaupun terlihat ramah dan juga tak pernah serius menghadapi masalah, tapi ketika ia sedang serius, maka ia sungguh-sungguh melakukannya.


“Oke, walaupun kamu kali ini serius dengan wanita ini, kamu pikir mama akan tinggal diam? Aku ngomongin kebenarannya, dan dia memang wanita karier yang sukses, prestasi kerjanya bagus, tapi gimana dengan latar belakang kehidupannya? Kalau memang dia wanita yang kamu cintai, just go ahead, kalau itu yang terbaik aku dukung. Tapi mama bukan orang yang seperti itu, kamu sangat tahu hal itu.”


Clara benar, walaupun kakaknya ini tak benar-benar tulus menyayanginya, setidaknya ia tidak bermuka dua dan selalu menjelaskan semuanya agar tidak ada kesalahpahaman. Keluarganya sangat rumit, ini hanya keluarga inti, kedepannya tentu ia akan menghadapi keluarga lainnya. Kerabat jauh yang juga mengincar harta yang diwariskan kepadanya dan Clara.


“Aku mau sendiri, kak,” ucap Juna.


Tanpa mengatakan hal lain, Clara bangkit dari duduknya dan meninggalkan apartemen Juna. Arjuna lah yang paling banyak menderita, secara emosi. Walaupun sudah lebih dari dua puluh lima tahun Juna tinggal dan membiasakan diri sebagai bagian dari Anggara, Clara tahu jika adiknya itu tak pernah bahagia.


**

__ADS_1


Gimana nih pembukaannya? Kalo responnya rame besok bakal langsung di up nih. Jangan lupa like dan komennya ya, yang blm tambahin ke favoritnya, langsung tambahin ya biar langsung dapet notif kalo ada update terbaru 😉😉


__ADS_2