
Maaf banget ya baru bisa updatenya agak lama, mungkin sampe abis lebaran bakal kayak gini. Harap bersabar ya, aku nyoba banget buat gak kelamaan update, semoga bisa ya. Sengaja Reni gak di munculin biar menjaga amarah kalian. Happy reading^^
Setelah mendapat panggilan telepon dari Reno, Nabila segera membatalkan rencana makan siang dengan rekan-rekan kerja yang lain. Ia tak terlalu ingin bertemu dengan Reno, tapi ini tentang Aidan. Putranya itu tak pernah mengatakan jika menginginkan acara apapun yang melibatkan ia dan juga Reno, ia hanya sering bertanya kenapa kedua orang tuanya tak tinggal bersama lagi.
Resiko yang di dapat ketika bercerai adalah seperti ini, apalagi dengan seorang anak yang masih dalam tahap penuh dengan rasa ingin tahu yang cukup banyak. Beruntung Alya masih belum mengerti banyak hal, jika Alya sudah seumuran dengan Aidan, entah apa yang akan terjadi pada Nabila. Di pastikan akan banyak hal yang terjadi dan banyak pertanyaan seperti sebelumnya.
Nabila memasuki restoran cepat saji itu dengan sedikit buru-buru, tahu sendiri bagaimana macetnya jalanan Jakarta dan juga jarak yang cukup jauh dan banyak faktor lain yang membuatnya terlambat. Jam makan siangnya juga sudah terpotong banyak, dan ia tak mempunyai banyak waktu untuk menemani Aidan. Bagus sebenarnya, jadi ia tak perlu berlama-lama untuk bertemu Reno.
“Hai, sayang,” ucap Nabila setelah menemukan putra dan juga mantan suaminya duduk. Ia memberikan senyum tipis pada Reno. Nabila tak akan melepaskan rasa canggung setiap bertemu dengan mantan suaminya ini.
“Mama telat,” rajuk Aidan. Ia menyilangkan tangannya di dada dengan cemberut.
“Maafin Mama, ya? Yang penting mama udah ada di sini, kan?” Nabila mengecup kening putranya itu dengan sayang.
“Aidan kangen makan bareng mama sama papa, lagian kenapa, sih, kita harus tinggal terpisah?”
Reno dan Nabila saling berpandangan, masih dengan tatapan canggung di antara keduanya. Nabila selalu tak memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan yang di ajukan Aidan, jadi ia tak bisa menjawab untuk saat ini. Begitupun dengan Reno yang sama sekali tak memiliki pikiran jika Aidan akan penuh dengan rasa penasaran seperti ini. Tak pernah ada yang bisa menjelaskan tentang perceraian pada seorang anak berusia lima tahun.
“Aidan mau makan apa? Es krim?” tanya Nabila berusaha mencoba mengalihkan perhatian putranya itu.
Nabila tahu jika putranya ini sangat lemah pada es krim, walaupun ia juga sangat melarang putranya untuk mengonsumsi pencuci mulut itu, tapi pengecualian untuk hari ini. Terdengar sangat tak bertanggung jawab, tapi tak apa, hanya untuk hari ini.
“Aidan mau es krim yang banyak, mama gak boleh marah.” Aidan masih mempertahankan wajah cemberutnya dan tangan yang masih terlipat di dada.
“Aidan boleh makan es krim sepuasnya hari ini, tapi hanya hari ini,” tegas Nabila.
“Hore!”
Reno tertawa mendengar antusiasme dari sang putra yang sangat menggemaskan itu. Siapa yang menyangka jika keluarga kecil ini bukan lagi sebuah keluarga. Jika Reno kembali memutar kalimat ‘seandainya’, rasanya sangat muak. Masa lalu dan semua kesalahan yang ia perbuat sudah tak bisa di tebus lagi, apa yang ia harapkan?
“Kalau gitu papa pesenin dulu, ya? Kamu mau apa, Bil? Biar sekalian.”
Reno bangkit dari duduknya, ia belum siap untuk melihat Nabila dan putranya yang sangat menggemaskan itu. Keinginan untuk kembali mengambil apa yang ia miliki kembali berkobar di hatinya, dan ia tahu itu sangat tak mungkin.
“Nasi sama ayam aja.”
Sudah berapa lama mereka bercerai? Sekitar enam bulan, atau mungkin lebih, yang pasti itu belum mencapai angka satu tahun. Selama itu pula, Nabila belum terbiasa dengan pertemuan yang tercipta di antara keduanya, baik itu di sengaja maupun tak sengaja. Rasa benci dan muak itu masih tersimpan di hatinya, apalagi setelah pertemuannya dengan Reni kemarin. Ia hanya tak habis pikir, kenapa Reno bertahan dengan wanita seperti itu?
Serta pernikahan mereka yang hanya selang beberapa bulan setelah perceraian Reno, rasa dendam dan terkhianati itu semakin membesar di hati Nabila. Itu sama saja artinya dengan mereka yang sudah bermain di belakang Nabila lebih lama dari yang Nabila sendiri tahu. Ya, mereka memang bersahabat, semuanya terasa sangat memuakkan.
Jadi, jangan harap Nabila bisa melupakan semua ini dengan sangat cepat. Mungkin justru tak akan terlupakan. Ini sakit hati pertama, dan sangat membekas di hati Nabila, tak mungkin ia bisa dengan senang hati melupakan?
Setelah semua yang terjadi, Reno juga terlihat baik-baik saja. Hanya ia yang merasakan semua perasaan itu, kan?
Tak berapa lama kemudian, Reno muncul dengan satu nampan penuh makanan. Ada total tiga es krim khusus untuk Aidan yang wajahnya sudah sangat berbinar sejak tadi. Tiga es krim itu tak mungkin habis sendiri oleh Aidan, Reno hanya sengaja memesannya agar putranya gembira dan membuatnya lupa pada apapun yang coba di tanyakan sejak tadi. Pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan Aidan terdengar sangat mengerikan untuk kedua orang dewasa yang ada di kursi itu.
“Pelan-pelan, sayang,” ucap Nabila.
__ADS_1
Makan siang itu berjalan dengan lancar, tak ada obrolan berart antara Reno dan juga Nabila. Keduanya hanya mendengarkan seluruh ocehan yang di lontarkan Aidan dan tertawa dengan tingkah menggemaskan putra mereka. Tak ada yang bisa mereka lakukan pada situasi seperti ini, tetap bungkam adalah pilihan terbaik, walau sangat tak adil untuk Aidan.
**
“Aku gak pernah tahu kalau senyum kamu bisa selebar itu, Richard,” ucap Liliana tak percaya.
Ini pertemuan rutin mereka, dan ada anggota baru yang di ajak Richard. Tebak itu siapa? Ya, sudah sangat jelas jika itu Kate. Wanita itu belum kembali ke Jerman, dengan dalih mengonntrol pembangunan yang ada di Jakarta. Semua orang sangat paham jika itu hanya alasan saja, mungkin setengahnya benar, tapi setengah lainnya, ada hal lain lagi.
Lihatlah pasangan yang sepertinya sedang kasmaran itu, mereka dengan tak tahu malunya menunjukkan bentuk kasih sayang mereka. memang hanya Liliana dan Dimitri yang menjadi saksi semua hal itu, tetap saja rasanya sangat aneh dan menggelikan tentunya.
“Kita semua kayak gitu, kamu juga pasti kayak gitu sama Dimitri—“
“Ya ya baiklah, kali ini aku toleransi,” potong Liliana.
“Mau kubantu, Li?” tawar Kate.
“Santai aja, Kate, kau tamu di sini. Kami sudah biasa melakukan seperti ini.”
Liliana menata buah ke piring yang cukup besar. Usia kehamilannya sudah semakin besar dan kadang membatasi ruang geraknya, tapi hal itu justru membuatnya semakin lincah. Dimitri bahkan sudah sangat lelah mengingatkan sang istri untuk tak melakukan pekerjaan berat. Suaminya itu semakin hari semakin protektif saja, walau memang untuk hal baik.
“Sepertinya sangat asik melakukan hal seperti ini rutin, sangat menyenangkan, kan?” ujar Kate.
“Menyenangkan? Mereka justru sangat berisik, kadang membuat sakit kepalaku semakin menjadi. Tunggu sampai nanti kau melihat semuanya nanti.”
“Nabila datang bersama prianya juga, kan?” Dimitri muncul dengan satu kotak Mac n Cheese yang sepertinya baru saja di keluarkan dari oven dengan lelehan keju mozarela di atasnya. Baunya bahkan sudah menggoda lebih dulu di banding perkara telepon ini.
“Oh ya, Chad. Coba hubungin Nabila, kali aja dia batalin acara ini gara-gara gak mau ketemu sama kamu,” ujar Liliana.
Tak lama kemudian, pintu depan rumah Liliana di ketuk dan Nabila muncul dengan pria muda yang mengekor di belakangnya. Liliana memang suda berpesan untuk langsung masuk ke rumahnya jika sudah sampai, jadi tak perlu repot-repot untuk siapapun membukakan pintu ruang depan.
Semua kegiatan benar-benar terhenti, dan mereka hanya menatap Nabila dengan pria yang masuk bersamanya. Wanita itu benar-benar membawanya, Liliana sangat tak menyangka, apalagi Richard yang sepertinya sangat syok karena hal yang satu ini. Nabila benar-benar tak bisa di prediksi.
“Kalian kenapa? Kayak liat hantu gitu?” tanya Nabila dengan santai.
“Hai, Bil.” Itu Dimitri yang pertama kali muncul dan bertanya pada Nabila, ia kembali membawa satu mangkuk salad dari dapur yang sudah di buat oleh Liliana tadi.
“Dim, kenalin ini Juna.”
Dimitri berdiri di hadapan pria muda itu dan menyalaminya, wajahnya sudah berubah lebih santai walau ada sebersit raut dingin di wajahnya. Kebiasaan yang selalu muncul ketika ia mengenal orang baru.
“Wah, kamu bener-bener sesuatu, Bil,” sahut Liliana dari balik tubuh Dimitri.
Nabila hanya tertawa saja karena ucapan itu. Tadi, sebelum sampai ke rumah Liliana, ia sudah berpesan pada Juna untuk tak terlalu kaget pada apapun yang terjadi di rumah ini. Ia sedikit banyak merasa bersalah pada Juna karena sudah membawanya masuk ke dalam lingkaran pertemanannya yang bisa di bilang sedikit liar, khususnya pada pria bernama Richard ini.
Yang ada di sana bergantian berkenalan dengan Juna yang masih sedikit sungkan dengan lingkungan baru itu. Senyum jahil yang biasa sering Juna tunjukkan untuk Nabila benar-benar sudah hilang. Wajahnya benar-benar di penuhi oleh rasa terkejut dan canggung.
“Santai aja, Jun, kami di sini gak gigit, kok,” ucap Richard.
“Asik ya, kalau rame kayak gini. Besok-besok formasinya harus kayak gini lagi, nih.” Dimitri menimpali.
__ADS_1
“Ngejek banget kayaknya, Dim. Minggu depan Kate udah balik ke Jerman.”
“Kita bisa ke Jerman, kok. Kalian berdua tinggal nyiapin tiket aja.” Sudah di pastikan jika itu adalah Liliana yang berbicara, Liliana dan tiket gratisnya.
“Inget perut, Li. Gak sadar banget itu udah mau lahiran,” ejek Nabila.
**
Keempat tamunya sudah pulang, sisa-sisa kekacauan yang di perbuat di dapur serta ruangan tamu juga sudah di bereskan. Kali ini Elang menginap di rumah kakek neneknya, jadi Liliana bisa langsung beristirahat di kamarnya. Jalannya kali ini sudah mendadak menjadi lambat karena efek dari perutnya yang semakin membesar.
Minggu kemarin ia sudah melakukan pemeriksaan rutin, dan ia melewatkan kesempatan untuk mengetahui jenis kelamin sang jabang bayi. Ia bisa saja mengetahuinya, tapi ia ingin kali ini menjadi kejutan hingga proses melahirkan nanti. Dimitri hanya bisa mengiyakan, tapi sudah banyak yang menebak jika kali ini bayinya adalah
perempuan.
Entahlah, bagaimana semua orang bisa menebak seperti itu, bahkan ayah dan ibunya juga melakukan tebakan yang sama.
“Kalau di lihat dari bentun perut kamu, terus kamu yang rajin masak-masak kayak begini, kemungkinan bayinya perempuan, Nak.” Itu yang di katakan ibunya ketika mereka berkunjung.
Liliana masih tak mengerti dimana korelasi antara bentuk perut dan dirinya yang rajin memasak. Sebelum hamil juga Liliana sudah melakukan hal itu, tapi ia hanya mengiyakan saja. Apapun jenis kelaminnya nanti, yang terpenting adalah kesehatan sang bayi itu sendiri dan juga ibunya.
“Gimana menurut kamu pria yang sama Nabila tadi?” tanya Liliana. Keduanya sudah berbaring dengan nyaman di ranjang mereka, sudah bersiap untuk menjemput kantuk.
“Juna, ya? Gak gimana-gimana, sih. Dia keliatan baik dan asik juga, gak keliatan juga kalau umurnya jauh lebih muda dari kita.”
Liliana tersenyum sendiri dengan ucapan suaminya yang ia iyakan dalam hati. Ia juga memikirkan hal yang sama, dan jika memang benar Juna ini menyukai Nabila, maka ia akan dengan senang hati memberikan restu. Tapi, itu kembali lagi bergantung pada Nabila. Kalaupun memang Juna sudah sangat menyukainya, tapi Nabila masih
belum bisa kembali memulai lagi, apa yang bisa ia lakukan?
“Aku sebenarnya sangat menentang perceraian Nabila dulu, dia udah menikah lebih lama di banding kita, terus ada Aidan sama Alya juga. Aku pikir semuanya bakal lebih berat kalau Nabila cerai, tapi toh, terjadi juga perceraian itu.”
“Itu pilihan dia, kan? Aku yakin sahabat kamu itu bisa laluin semuanya. Nabila sama kamu itu satu versi sebenarnya, kamu pasti gak sadar, kan?”
Liliana mengangkat kedua alisnya. “Tapi, dia jauh lebih tegar. Bayangin aja mantan suaminya langsung nikah padahal baru beberapa bulan setelah perceraian mereka. Kalau itu kamu, aku gak bisa bayangin, deh.”
Dimitri tertawa kecil, ia menatap istrinya yang masih berada di awang-awang itu. Liliana juga salah satu sosok paling tegar yang pernah ia temukan. Ia kabur ke negara orang sendirian dengan perut besar seperti sekarang, lalu melahirkan seorang diri dan harus bekerja. Dimitri tak bisa memikirkan banyak hal lain tentang siapa sosok wanita yang paling kuat untuknya. Ibunya juga termasuk dalam hal ini.
“Apa yang bakal kamu lakuin kalau aku dulu juga ngelakuin itu?” tanya Dimitri.
“Kalau kamu tiba-tiba nikah, ya? Keterlaluan banget, sih, kamu tahu dengan sangat jelas kalau surat cerai itu belum di tanda tanganin dan kamu langsung nikah. Kamu berkali-kali lipat lebih buruk dari Reno, sih.”
Tawa lepas dari mulut Dimitri mendengar omelan Liliana. Jika di ingat-ingat lagi, ia sangat pintar dulu karena tak menandatangani surat cerai mereka. Walaupun pada akhirnya mereka juga tetap bercerai. Keputusan tergila yang pernah ia buat dulu dan sangat nekat memang. Saat itu, yang ada di kepalanya benar-benar hanya Liliana dan calon anaknya, dan ia selalu memiliki keyakinan jika mereka pasti akan bertemu lagi, walau akan memakan waktu yang lebih lama.
“Kamu tahu, setiap kita bepisah, aku selalu memiliki keyakinan kalau kita pasti akan ketemu lagi. Walaupun butuh waktu lama, aku selalu yakin kita akan bertemu, itulah kenapa aku selalu nungguin kamu.”
Tatapan Liliana tertuju pada pria di sebelahnya. “Pantas aja, aku selalu nemuin kamu di saat yang gak terduga.”
“Tapi kamu juga suka.”
“Pasti, memang itu yang seharusnya pria lakukan.”
__ADS_1
Keduanya menutup malam itu dengan tawa yang meluncur dari mulut mereka berdua, sedikit mengenang semua hal yang terjadi di masa lalu dan juga kisah-kisah mereka yang jika di ceritakan lagi maka akan sangat menggelikan. Masa muda mereka yang sangat penuh dengan berbagai masalah, semua hal itu terasa menggelikan memang jika di ceritakan lagi.
**