
Kembali terbaring di rumah sakit tak pernah menjadi pilihanku, walaupun aku ingin. Tapi, nyatanya aku kembali ke rumah sakit. Hal terakhir yang kuingat adalah Evelyn yang menemuiku, lalu aku pingsan. Kalimatnya sangat jelas kuingat di kepalaku, bahkan tanpa perlu susah payah mengingat.
Aku sedang dalam fase tak bisa mempercayai sesuatu begitu saja, pikiranku sangat mudah terpengaruh. Dan kini kepercayaan yang kumiliki pada Dimitri mulai kembali berkurang. Aku tak tahu siapa yang mengatakan kebenaran dan siapa yang berbohong.
Terdengar suara perdebatan kecil yang sayup-sayup kudengar sebelum pintu ruang rawatku terbuka. Ibu mertuaku masuk dan segera menghampiriku dengan panik. Hal kesekian yang paling kubenci adalah ketika melihat Ibu mertuaku khawatir seperti ini, aku seperti melihat Ibuku.
“Kamu gak papa, sayang?”
Aku menganggukkan kepala dengan senyum tipis. “Lili gak papa, Ma. Ini mungkin karena Lili kecapekan aja.”
“Harusnya kamu gak usah datang ke toko, kamu masih hamil muda, kamu gak boleh capek-capek. Kamu beneran gak papa?” tanya Mama sekali lagi.
Aku mengambil tangan Mama lalu menggenggamnya, setidaknya aku memiliki mertua yang sangat baik dan juga perhatian. Tak ada jarak antara menantu dan mertua, aku diperlakukan dengan sangat baik walaupun aku tak setara dengan keluarga Dimitri yang sangat kaya. Jika di bandingkan dengan Michelle yang dulu di jodohkan
dengan Dimitri, perbedaan kami cukup baik. Beruntung aku memiliki jabatan yang cukup baik di kantor.
“Mama kenapa bisa tahu aku di sini?”
“Mama tadi mau mampir ke toko kamu, tapi pemilik toko di gedung sebelah kamu bilang kalau kamu di bawa ambulan setelah pingsan. Suami kamu bahkan sama sekali gak tahu soal ini.”
Aku bahkan baru menyadari kalau ada Dimitri di belakang Mama, dia terlihat sama khawatirnya dengan Mama. Tapi ingatan tentang wanita culas tadi belum sepenuhnya hilang dari kepalaku. Aku sudah membayangkan berbagai macam kemungkinan di otakku sendiri.
“Mama gak perlu khawatir, Lili baik-baik aja, kok. Setelah keluar dari rumah sakit, Lili akan istirahat di rumah.” Aku memberikan senyumku pada Mama agar raut khawatir itu segera hilang dari wajah cantiknya.
“Mama sendiri nanti yang akan pastiin kalau kamu beneran istirahat di rumah.”
Aku menganggukkan kepala dengan semangat, membuat Mama kembali tersenyum. “Mama gak bisa lama-lama, Papamu di undang ke acara makan malam dengan kliennya. Telepon Mama kalau terjadi sesuatu, ya?”
Setelah mencium keningku, Mama beranjak menuju pintu keluar di temani dengan Dimitri. Aku menyandarkan punggungku ke belakang, rasanya sangat lelah secara batin. Perlahan aku meraba perut rataku yang saat ini sudah mulai ada tonjolannya. Aku sempat tak mempercayai diriku sendiri ketika tahu bahwa aku hamil, aku membawa
nyawa lain di tubuhku da nada perasaan hangat ketika aku memikirkannya.
Hari sudah gelap, sepertinya aku cukup lama berada di rumah sakit ini. Pintu ruang rawatku kembali di buka lagi, dan kali ini Dimitri yang muncul. Dia berjalan menghampiriku lalu duduk di pinggir ranjang.
“Dokter bilang ada pendarahan kecil di rahim kamu, untungnya gak parah. Apa yang terjadi sama kamu tadi?”
Aku menolak menatap Dimitri, aku lebih betah memandangi jendela di samping tempat tidurku walaupun lebih dominan gelap. Entahlah, aku belum bisa menatap Dimitri dengan tatapan yang sama ketika aku masih bisa mengingat dengan jelas ucapan wanita itu.
“Kamu mau makan sesuatu?” tanya Dimitri lagi.
“Aku baik-baik aja, kamu istirahat aja. Suster juga sebentar lagi bawain makan malam,” ucapku.
Terdengar helaan nafas Dimitri. Aku tak ingin menduga-duga, tapi jika itu helaan nafas lelah, aku sangat kecewa. “Mbak Tari bilang kamu pingsan setelah kamu ketemu sama seseorang, apa aku boleh tahu siapa orang tersebut?”
Aku ingin dengan lantang menjawab kalau itu adalah Evelyn. Klien yang entah memiliki hubungan apa dengan Dimitri. Aku ingin percaya kalau mereka sama sekali tak memiliki hubungan apapun dan hanya sebatas profesionalitas, tapi entah kenapa sangat sulit. Aku benar-benar terombang-ambing di tengah kedua pilihan.
“Aku mau tidur, kamu bisa bangunin aku kalau makan malamku udah datang.”
__ADS_1
Tak ada yang berjalan seperti yang kubayangkan sejak wanita itu muncul di tengah-tengah kami. Aku benar-benar lelah, dan yang kuinginkan hanyalah kedamaian dan sedikit kalimat penghiburan. Calon bayiku juga belum terlalu kuat untuk menghadapi apa yang sedang ada di pikiranku, tapi pada akhirnya ia juga harus menanggung beban yang kutanggung.
Aku berbaring miring memunggungi Dimitri dan mengelus perutku dengan teratur, mencoba untuk menenangkan anakku di dalam sini. Menjadi Ibu yang kuat dan tegar adalah salah satu impianku, walaupun banyak rintangan yang menghalangi, aku ingin sekuat itu. Tapi, jauh di dalam lubuk hatiku, aku benar-benar tak mampu menghadapi ini. Jika aku bisa lebih bahagia dengan mengakhiri semua ini, maak akan kuakhiri.
**
“Kamu kenapa, sih, gampang banget keluar masuk rumah sakit kayak gini? Aku aja gak bisa dateng ke rumah sakit lebih dari dua jam,” omel Nabila.
Aku hanya mampu tertawa mendengar kalimat pertama yang di ucapkan Nabila ketika pertama kali masuk ke ruang rawatku. Jika sudah di kunjungi Nabila seperti ini, aku pasti akan mendapatkan banyak omelan, serta kalimat-kalimat penuh petuah dari seorang Nabila. Terkadang aku agak menyesali kenyataan kalau dia memiliki sifat seperti ini, tapi beruntung karena dia adalah sahabatku.
“Pulang sana, aku juga gak butuh kamu di sini,” balasku dengan sewot.
Nabila justru menunjukkan senyum manisnya dan mulai menata makanan bawaannya di meja yang kugunakan untuk menyantap makanan. “Kamu harus makan yang banyak, Li, kasian anak kamu harus masuk rumah sakit terus.”
“Reno tahu gak, sih, sama sifat kamu yang kayak gini? Kok dia masih betah aja sama kamu?”
“Omongannya, Li. Kalo dia gak betah sama aku, gak mungkin sampe kami punya dua buntut.”
Dulu aku pernah berpikir, tak masalah jika aku tak menikahi seorang pria, aku akan bertahan dengan semua omongan pedas dari Nabila beserta semua kalimat petuahnya. Saat ini, aku sangat merasa bahagia dengan kehadirannya setelah melewati banyak rintangan.
“Kamu kenapa pake acara nangis?”
Aku bahkan tak sadar dengan air mata yang tiba-tiba mengalir, aku hanya terlalu merindukan beberapa kenangan bahagia. Bukan berarti aku menyesali pernikahanku dengan Dimitri, hanya saja, seperti terlalu banyak masalah yang datang dan pergi. Aku seperti berada di tepian gedung tinggi, lalu seseorang berusaha untuk menarikku menuju tempat yang aman, tapi ada juga seseorang lain yang mencoba terus untuk menjatuhkanku ke dasar.
“Dimitri nyakitin kamu?”
“Aku kadang berpikir buat cerai, rasanya susah banget buat percaya penuh sama Dimitri,” ucapku setelah tangisku sedikit reda.
Nabila berpindah ke tepian tempat tidur untuk memelukku. “Apa seberat itu?”
Aku memeluk erat Nabila, hanya Nabila yang benar-benar ada di pihakku dan selalu ada untukku. Itulah kenapa aku benar-benar berepikir keras sebelum menerima lamaran Dimitri. Aku benar-benar takut jika akan berakhir seperti ini, dan kepercayaan diriku untuk kembali mempercayai pria juga tak sebanyak itu.
“Sebanyak apa Dimitri nyakitin kamu sampai kamu berpikir kayak gini?” tanya Nabila lembut.
Aku melepaskan pelukan kami dan menatap Nabila. “Aku udah coba untuk mulai percaya sama Dimitri lagi, tapi wanita itu tiba-tiba datang dan bilang tentang hubungan spesial mereka,” ucapku.
Nabila mendengarkan dengan serius ketika aku menceritakan semua yang terjadi padaku, tanpa ada sedikitpun yang tertinggal. Setelah ini, aku akan merasa lega. Bebanku sudah sedikit terangkat dengan menceritakannya pada Nabila, serta tangisanku. Aku tak berani menceritakan hal ini pada orang tuaku, apalagi orang tua Dimitri.
Entah apa yang akan mereka pikirkan jika aku menceritakan semua ini, sementara aku butuh seseorang yang mampu memberiku saran dan juga menenangkanku.
“Fokus dengan kehamilan kamu sekarang, Li, ini yang lebih penting dari apapun. Kamu tahu, kamu lagi di trisemester awal yang rawan banget, ini bahkan kedua kalinya kamu ada di rumah sakit. Aku tahu Dimitri juga ganggu pikiran kamu, tapi kamu sebaiknya jangan terpaku sama masalah itu. Aku pasti akan bantu sebisaku.”
Nabila menggenggam kedua tanganku, mencoba menyalurkan kekuatannya padaku. “Aku gak mau bela Dimitri, tapi wanita itu sendiri juga keterlaluan. Bisa aja dia sengaja nemuin kamu dan ngarang semua cerita ini. Kamu tetep harus bicara sama Dimitri untuk masalah ini, komunikasi yang terpenting.”
Aku hanya menganggukkan kepalaku mendengar semua kalimat Nabila, aku sangat tahu dia lebih dewasa dariku dan selalu lebih banyak memberiku nasihat. Walaupun kadang suka membuatku kesal, lika liku sebuah hubungan persahabatan. Setelah sekian lama pun, aku sangat bersyukur hubunganku mampu bertahan selama ini.
**
__ADS_1
Aku kembali harus menginap di rumah sakit selama empat hari, setidaknya ini lebih cepat di bandingkan yang sebelumnya. Kali ini Dimitri menemani dan juga menjemputku di rumah sakit. Ia benar-benar tak meninggalkan sisiku selama di rumah sakit, ia hanya pergi untuk bekerja, selebihnya ia menemaniku di rumah sakit, walaupun kami hanya saling diam.
Perasaan bersalah itu cukup menghantuiku, Dimitri sama sekali tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku kembali bersikap kekanakan karena hal ini. Selama berkendara menuju rumah pun, kami juga tak berbicara sama sekali. Canggung, tapi aku justru merasa ini lebih baik. Aku sudah terbiasa melarikan diri dari masalah, jadi aku lebih merasa nyaman jika masalah ini justru tak di ungkit.
“Orang yang menemuiku waktu itu adalah Evelyn.”
Kami baru saja sampai di kamar utama. Sepanjang perjalanan tadi, aku sudah memutuskan untuk bicara. Apapun hasilnya, komunikasi adalah hal terpenting. Jika akhirnya juga harus berpisah, setidaknya aku sudah membicarakan ini padanya. Yang kubutuhkan adalah kejujuran dari semua hubungan pelik mereka.
Aku tak pernah masalah jika memang wanita itu adalah Evelyn, selama semua pekerjaan itu di kerjakan dengan profesional tanpa embel-embel perasaan pribadi. Aku juga bukan tipe istri yang posesif, jika itu terbaik untuk karier perusahaan suamiku, kenapa aku harus melarangnya?
Dimitri tak mengatakan apapun, ia hanya menatapku dengan datar, tanpa ekspresi sedikitpun. “Dia bilang tentang hubungan kalian…”
Aku tak bisa melanjutkan kalimatku, rasanya lidahku sangat kelu untuk melanjutkan kalimat yang sama persis seperti ucapan Evelyn kemarin. “Aku benar-benar gak bisa melihat kamu seperti yang seharusnya ketika mengingat semua perkataan Evelyn kemarin. Aku bahkan gak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian.”
“Kami hanya rekan kerja, Li. Tak lebih dari itu.”
“Bagaimana kalau wanita itu mengartikan hubungan kalian secara lain? Aku tak masalah jika dia menjadi klienmu, tapi kenapa harus kayak gini. Dia selalu ada di sekitar kita, dan dia gak pernah ngeliat aku sebagai istri kamu. Kamu gak sadar semua itu?” tanyaku. Aku masih berusaha meredam emosiku agar tak meluap-luap. Aku harus
ingat untuk mengutamakan calon bayiku melebihi apapun.
“Kamu sebaiknya istirahat, Li,” ucap Dimitri datar.
Lihatlah betapa berubahnya sikap Dimitri ini. Kemarin dia menjadi suami idaman semua orang ketika liburan kami, tapi hanya dalam waktu singkat ia langsung berubah. Entah bagian mana yang salah di sini. Apa aku tak cukup baik di sini?
“Kamu bilang hatimu tak bisa berubah semudah itu, kamu bilang aku yang paling berharga, yang paling kamu cinta, dan kamu gak semudah itu ngelepas aku. Tapi kenapa sekarang kamu bisa berubah secepat ini? Aku gak akan kayak gini kalau kamu mau bicara, aku butuh penjelasan kamu, dan aku gak mau ini berlarut-larut,” ucapku putus asa.
Aku ingin menjalani kehamilanku dengan tenang, aku ingin ketika lahir nanti bayiku sehat, dan tak ada kendala ketika kehamilanku semakin membesar. Hanya hal-hal kecil seperti itu, apa aku juga tak bisa mendapatkannya?
“Kita bicara lagi setelah kamu benar-benar pulih, sayang. Kamu gak boleh banyak berpikir dan emosi kayak gini,” ucap Dimitri.
Tidak tahukah Dimitri, kalau aku seperti ini juga karena dirinya?
“Gak ada yang berbeda kalau kamu menunda penjelasan kamu,”
“Aku bener-bener gak punya hubungan apapun sama Evelyn, dia benar-benar hanya klienku, gak lebih dari itu,” ucap Dimitri. Ia menatap lurus ke mataku. Mungkin karena aku belum bisa melupakan kalimat Evelyn begitu saja, aku bahkan tak bisa mengenali tatapan suamiku sendiri.
Hati manusia sangat mudah untuk berubah, kan? Begitupun dengan perasaan. Sepertinya persahabatan kami yang sudah sangat lama pun tak bisa membuat kalau Dimitri benar-benar akan mencintaiku sampai nanti.
“Aku tidur di kamar tamu.” Aku segera beranjak dari dudukku dan langsung keluar menuju lantai satu rumah kami.
Aku tak bisa berpikir dengan jernih jika berada di tempat yang sama dengannya. Ada yang lebih penting di banding seluruh rasa cemasku, aku juga tak ingin menahan perasaan ini lebih jauh. Hanya menjadi beban pikiran, aku bisa stres, lalu akan membahayakan calon bayiku. Semua kalimat Nabila sangat benar, aku harus fokus pada kehamilanku.
Kalaupun Dimitri mengatakan kebohongan, aku bisa dengan mudah mengetahuinya. Dan baru saja, Dimitri tak mnegatakan kalimat kebohongan, hanya saja ada sesuatu yang sepertinya ia sembunyikan. Tanpa di ceritakan lebih jauh, aku tak ingin mendengar apapun itu yang di sembunyikan. Aku takut akan jatuh semakin dalam, sementara masih ada nyawa lain yang harus kujaga.
Beban pikiranku benar-benar banyak dan memenuhi seluruh sel otakku, aku hanya perlu mengendalikannya. Masih banyak alasan untuk mempertahankan rumah tangga kami, tapi ada juga satu alasan yang mungkin bisa saja membuatku lepas dari Dimitri dengan mudah. Hidup itu pilihan, kan?
Aku hanya perlu memilih yang menurutku sangat terbaik untukku, dan bayiku. Tak ada lagi hal lain yang bisa kupikirkan.
__ADS_1
**