
SURPRISE!
Kaget, gak, kalian?
Katherine menatap dengan serius presentasi yang sedang berlangsung di ruang rapat itu. Dua tahun sudah berlalu, dan selama waktu itu ia mulai mendapatkan banyak ilmu dan juga pelajaran tentang bisnis dan manajemen. Hingga enam bulan lalu, sang Ayah mulai menunjuk Katherine untuk menggantikan dirinya dalam mengatur perusahaan dan merek dagang yang sudah di miliki sejak bertahun-tahun itu.
Bukan hal mudah tentu saja, karena banyak yang harus ia urus dengan semua itu, banyak tanggung jawab yang ia pikul sendirian. Kesimpulannya, hidup Katherine menjadi lebih berwarna dengan banyaknya pekerjaan yang ia kerjakan. Beruntung masih ada Richard yang setia menemaninya hingga saat ini.
Keduanya sudah sangat dekat dan selalu bersama dalam semua acara yang diadakan. Sudah lebih dari dua tahun berlalu, dan mereka masih dalam hubungan pertunangan. Mereka belum menikah selama waktu yang cukup panjang itu.
Satu jam kemudian, presentasi itu selesai. Keputusan yang di ambil juga sudah bulat. Semua itu bisa terjadi ketika para pemegang saham dan semua karyawan yang ikut ambil bagian dalam proyek itu saling bekerja sama dan melakukan banyak koreksi. Katherine tak perlu terlalu khawatir karena semua pihak membantunya, dan ia bukan tipe pemimpin yang dictator dan hanya mementingkan pendapat pribadi saja.
Terdengar sangat mustahil untuk seorang wanita yang di kenal sangat dingin dan cerewet, dan terlalu sempurna. Tapi, memang hal itu yang sebenarnya terjadi. Setidaknya masih ada seorang pemimpin yang mampu di andalkan di tengah kejamnya dunia bisnis.
Ponsel Katherine berdering ketika ia dalam perjalanan menuju kembali ke ruangannya yang berada di lantai sepuluh. Wanita itu tersenyum melihat nama kontak yang tertera di layar ponsel sebelum menjawab. Dari pria yang sejak tadi sudah ia pikirkan, Richard.
“Acara reuni malam ini jadi, kan?” tanya Richard di seberang sana.
“Aku gak suka acara itu, tapi, ya aku harus tetap datang. Kau bisa menemaniku, kan?”
“Bagaimana, ya? Apa aku harus menemanimu? Apa aku di butuhkan di sana?” tanya Richard lagi dengan nada candaannya.
Katherine menghela nafas mendengar kalimat di seberan sana. Dua tahun adalah waktu yang cukup lama untuknya semakin mengenal pria ini. Pada akhirnya Katherine memutuskan untuk menyerah pada perasaan yang ia miliki dan hanya mulai jujur pada Richard. Berpura-pura tak memiliki perasaan juga sudah cukup melelahkan, memang hal terbaik adalah jujur dan menghilangkan gengsi serta ego.
Richard sudah kembali pada pekerjaan awalnya sebelum terjebak bersama Katherine, tapi ia masih memiliki tanggung jawab untuk mengawasi Katherine dan semua proyek yang di lakukannya. Katherine juga mengetahui hal itu, dan ia menerimanya dengan baik. Setidaknya ia tak perlu gugup akan melakukan kesalahan, dan Richard memantau pekerjaan di Indonesia melalui Jerman dengan sesekali ia pulang ke Indonesia.
Alasan Katherine belum ingin menikah adalah, ia belum bisa mengikuti Richard untuk tinggal di Indonesia. Jika mereka menikah, Katherine harus merelakan pekerjaan di Jerman dan mulai mengurus cabang perusahaan mereka yang ada di Indonesia. Semua hal sudah di persiapkan secara matang, hanya Katherine yang masih belum mampu meninggalkan Jerman. Ia masih menikmati saat-saat awalnya dalam memimpin sebuah perusahaan besar. Lagi-lagi ini masih tentang ego mereka yang masih besar satu sama lain.
“Kau rela jika aku datang sendiri ke acara reuni itu? Bagaimana jika aku bertemu dengan mantan kekasihku dan ia mengajakku kembali berkencan?”
Itu adalah acara reuni kampus Katherine dulu, dan acara itu akan berlangsung dengan cukup mewah dan besar-besaran tentu saja. Acara tersebut akan menjadi reuni gabungan beberapa angkatan, skalanya cukup besar. Tak mungkin jika Katherine datang sendirian tanpa tunangan tercinta, kan?
“Ah, aku lupa jika kekasihku ini adalah wanita yang sangat popular. Sepertinya aku harus menyiapkan banyak kesabaran nanti malam, agar tak perlu terbakar api cemburu.”
Katherine tersenyum mendengar kalimat Richard. Jika biasanya rasa cinta seseorang semakin berkurang karena lama hubungan mereka, maka hal itu tak terjadi pada Katherine. Wanita itu justru semakin mencintai Richard, semua tentang pria itu adalah yang terbaik yang pernah Katherine tahu. Tak ada rasa bosan yang wanita itu rasakan sedikitpun.
“Berdandanlah dengan cantik malam ini, dan buat semua teman-temanmu terpana. Aku akan menjemputmu nanti,” ucap Richard. Dan sambungan itu segera berakhir.
Setelah panggilan itu berakhir, Katherine masih tersenyum di tempatnya berdiri. Jantungnya berdebar untuk alasan tertentu, hal itu biasa terjadi jika ia menjadi terlalu bahagia. Hal itu juga hanya terjadi jika sudah berkaitan dengan
Richard dan semua janji temu yang selalu mereka lakukan. Sebelum Richard, tak ada pria yang berhasil membuat Katherine seperti ini.
Kebahagiaan miliknya sudah sangat sempurna, tapi ia juga tahu ada hal yang masih harus di sempurnakan lagi. Pernikahan mereka, pembahasan yang selalu Katherine hindari.
**
__ADS_1
“Elang, bangun sayang.” Liliana mengelus pipi balita itu dengan lembut. Sudah pukul enam pagi, dan seperti rutinitas pagi lainnya, Liliana akan mulai membangunkan Elang, menyiapkan sarapan dan juga keperluan Elang lainnya untuk bersekolah.
Terhitung sudah hari keempat sejak Liliana memasukkan Elang ke sekolah PAUD, usianya sudah akan memasuki empat tahun dalam beberapa bulan lagi. Elang juga sudah menunjukkan antusiasnya dalam pendidikan usia dini ini. Liliana sendiri yang memastikan jika balita mungilnya ini sudah saip untuk memasuki dunia sosialisasi dengan balita lainnya, dan dengan izin suami tercinta juga.
Sudah memasuki bulan keenam sejak pembatalan cerai Liliana dan Dimitri di lakukan, dan kini, mereka kembali menjadi suami istri setelah dua tahun lebih yang Dimitri gunakan untuk kembali mengambil hati Liliana. Liliana mengiyakan keputusan itu dengan pikiran yang benar-benar matang dan Elang adalah pertimbangan terbesar yang ia miliki.
Soal hati dan juga perasaannya adalah hal kedua yang Liliana pikirkan setelah Elang. Liliana juga ingin memperbaiki kesalahan yang ia perbuat dahulu, hal baik ketika kedua orang tuanya juga cukup mendukung, meski di awal sedikit menentang. Orang tua mana yang akan membiarkan putri satu-satunya kembali pada pria yang sudah menyakiti hatinya, setidaknya hal itu yang di percayai oleh kedua orang tua Liliana.
Elang menggeliat dengan malas di ranjang mini miliknya, ia membuka matanya sedikit dan menatap sang Ibu yang tersenyum padanya. “Hali ini sekolah?” tanya Elang.
Untuk ukuran balita yang baru akan memasuki usia empat tahun, pelafalan kalimat Elang sudah cukup bagus, ia hanya belum bisa mengucapkan huruf ‘r’ dengan benar. Selain itu, semuanya sangat bagus. Elang cepat mempelajari hal baru, dan Liliana juga selalu mengajarkan banyak hal pada Elang. Liliana sudah tak bekerja lagi, dan hanya fokus pada pertumbuhan sang putra. Ia hanya tetap mengelola Lili’s Florist hingga saat ini.
“Iya, sayang. Ayo bangun,” ucap Liliana dengan lembut.
“Ayah…,” Elang merentangkan tangannya untuk memeluk Liliana, dan ia juga mengucapkan kata ayah dengan manja. Hal yang sudah menjadi rutinitas Elang, ia akan mandidengan sang ayah.
“Itu Ayah, ayo mandi.”
Dimitri memasuki kamar putranya dengan kemeja rapi dan juga celana kain yang membungkus kaki panjangnya. Ia sudah mengetahui rutinitas baru di setiap paginya, jadi ia tak akan kaget lagi. Dimitri mencuri kecupan kecil di bibir Liliana sebelum mengangkat Elang dari gendongan Liliana.
“Anak ayah, ayo kita mandi!”
Mulai terdengar teriakan kegirangan dari arah kamar mandi, itu artinya Elang sudah benar-benar terbangun. Liliana tersenyum mendengar hal itu, ia segera bergegas ke dapur unttuk menyiapkan sarapan, rutinitas baru yang sangat ia nikmati saat ini. Ketakutan akan kejadian lalu kadang suka menghampiri kepalanya, tapi ia berusaha keras untuk menepis semua pikiran itu.
Sangat wajar jika terjadi percekcokan atau pertengkaran kecil dalam rumah tangga, semua hanya tentang bagaimana kedua orang yang terlibat menyikapi permasalahan tersebut. Liliana dan Dimitri sudah sepakat untuk kembali berjuang dan memperbaiki kesalahan mereka, agar tak terjadi kesalahan lain lagi. Tak ada
membesarkan tekat dan juga hatinya, ia akan mencoba lagi peruntungannya.
Semua ini juga demi kebaikan Elang, putranya itu membutuhkan kedua orang tua yang lengkap agar bisa tumbuh menjadi anak lelaki yang membanggakan. Liliana tak ingin egois dan mengorbankan masa-masa membahagiakan putra kecilnya.
Tak lama kemudian, sudah terdengar gelak tawa dari ayah dan anak yang baru saja keluar dari kamar. Dengan langkah-langkah kecilnya, Elang berlari menuju sang Ibu yang masih berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan. Elang memeluk kaki Liliana, meminta perhatian dari sang Ibu.
“Anak Ibu udah wangi.” Liliana menundukkan tubuhnya, dan segera mencium putranya yang sudah rapi dengan seragam dengan motif kotak-kotak berwarna biru.
Liliana benar-benar mengurus anak dan suaminya seorang diri tanpa bantuan dari pengasuh. Hanya seorang Bibi yang datang setiap siang untuk membantu Liliana membersihkan seluruh rumah, sisanya adalah urusan Liliana. Untuk itu, ia membagi tugas mengurus keperluan Elang bergantian dengan Dimitri. Setiap pagi, ketika Liliana akan berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan, maka tugas Dimitri adalah mengurus Elang.
Liliana membawa Elang dalam gendongannya sembari menciumi gemas wajah Elang, lalu mendudukkan di kursi khusus milik balita itu. “Elang mau sarapan apa?” tanya Liliana.
“Loti bakal, Elang mau yang cokelat!” jawab Elang dengan kegirangan. Belakangan Elang memang sangat menyukai semua hal yang berbau cokelat, sebelum itu pun Elang sangat menggilai apapun yang berhubungan dengan stroberi. Selera balita itu masih suka berubah-ubah yang kadang membuat Liliana sedikit kewalahan
mengimbanginya.
“Tapi sebelum itu, Elang harus makan apel dulu. Kalau apelnya habis, Elang boleh makan roti bakar cokelat.”
Raut wajah Elang mendadak cemberut mendengar kalimat yang Liliana ucapkan. Elang sangat jarang, bahkan hampir tak pernah memakan buah-buahan ataupun sayur, hanya beberapa sayur dan buah tertentu yang Elang makan. Itulah yang membuat Liliana sedikit kesulitan, dan apapun yang di sukai oleh Elang, Elang hanya akan
mengkonsumsi makanan yang sama selama kuurang lebih satu minggu. Seperti itu terus-menerus hingga ia bosan sendiri.
__ADS_1
“Elang ndak mau banyak-banyak makan apelnya,” jawab Elang dengan wajah cemberut dan tangan yang terlipat di dada.
Liliana tersenyum mendengar kalimat polos dari mulut Elang, dan segera kembali ke meja dapur untuk mengambil apel yang memang sudah di siapkan sejak tadi. “Elang makan ini dulu, Ibu siapin dulu roti bakarnya, ya?”
“Kamu gak tanyain aku?” tanya Dimitri. Pria itu baru memasuki dapur, dan segera menghampiri sang istri yang masih berkutat di meja dapur.
Liliana menolehkan wajahnya, dan tersenyum dengan kehadiran Dimitri yang sudah rapi dengan dasinya. “Aku rasa, kamu akan makan semua yang aku bikin.”
Dimitri tertawa mendengar jawaban itu. Memang benar. Entah karena dia memang sangat mencintai istrinya itu, atau benar-benar menyukai masakan Liliana. Dimitri menghampiri Liliana, ia mencium pelipis wanita itu dan tersenyum.
“Aku juga mau loti bakal cokelat.”
Keduanya tertawa dengan kalimat singkat Dimitri yang menirukan anak mereka. Beruntung Elang sedang fokus pada apel di hadapannya, jika tidak, akan sulit untuk membujuk Elang yang merajuk akibat di goda oleh ayah dan juga ibunya ini.
**
Sudah dua tahun berlalu sejak kematian Cecillia, tak ada yang berubah pada Enzo. Dia masih menjadi pria dingin tanpa ekspresi seperti seharusnya, mungkin hatinya yang saat ini bertambah semakin dingin. Itu adalah waktu tersulitnya setelah kali pertama Cecillia meninggalkannya. Mereka kali ini terpisahkan oleh sesuatu yang tak mungkin bisa kembali apapun yang terjadi, tak ada lagi yang bisa di benci oleh Enzo. Kali ini ia lebih merasakan hampa dan kosong.
Enzo hanya semakin bekerja keras untuk pekerjaannya, ia meraih kesuksesan yang lebih baik di banding tahun-tahun sebelumnya. Itu hal bagus, hanya saja tak bisa mengurangi kehampaan yang bersarang di hatinya. Sang Ayah bahkan sudah mengenalkan banyak wanita padanya, tapi tak ada satupun yang mampu menggerakkan
hati Enzo.
Apa butuh tujuh tahun lagi untuk kembali merelakan perasaan ini? Tapi, bukankah terlalu lama? Bagaimana bisa menghapus satu-satunya wanita yang pernah masuk sangat dalam ke hatinya? Banyak yang sudah mereka lalui, dan hanya Enzo yang tersisa untuk mengenang semua kenangan manis itu. Semua itu sudah tak memiliki
rasa manis di dalamnya.
“Permisi, Pak. Ini adalah berkas-berkas lamaran calon sekretaris yang akan mengikuti wawancara siang ini.”
Sekretaris Enzo, seorang wanita di awal empat puluhan memberikan beberapa berkas yang berisi data-data calon pelamar. Dalam satu bulan, sekretaris Enzo yang saat ini ada di hadapannya akan mengundurkan diri, karenanya sejak sekarang Enzo sudah mulai melakukan wawancara kerja. Tak mudah untuk mencari sekretaris yang
kompeten dan mampu mengimbangi sifat Enzo dan semua permintaan yang terkadang bisa menjadi aneh.
“Jam berapa wawancaranya akan di mulai?” tanya Enzo.
“Setelah makan siang, pukul dua. Hanya akan ada lima kandidat untuk sementara untuk hari ini, sisanya akan di lakukan keesokan hari agar Bapak bisa lebih leluasa menilai mereka.”
Inilah yang di sukai Enzo dari sekretarisnya. Wanita itu sangat cekatan dan mengurus semua jadwal Enzo dengan baik tanpa perlu di beritahu dua kali. Menemukan sekretaris baru, itu artinya akan ada penyesuaian lebih dahulu agar memenuhi standar yang di inginkan Enzo. Akan sangat sulit di awal, tapi semoga semuanya berjalan dengan lancar, Enzo sangat mengharapkan hal itu untuk terjadi.
Enzo membuka lima map yang baru saja di serahkan, ia meneliti wajah-wajah dan juga data para pelamar ini, berusaha untuk menemukan kecocokan agar tak terlalu awam ketika berada di sesi wawancara nanti.
Satu berkas berhasil menarik perhatian Enzo. Wanita dalam foto yang ada di berkas itu seperti tak asing untuknya, tapi ketika membaca semua data diri milik wanita itu, ia tak menemukan apapun yang menjadi petunjuk. Tapi, wajah wanita itu sangat familiar untuknya. Dimana mereka pernah bertemu?
Elleanor Caroline Danuwijaya, dua puluh tujuh tahun. Atau karena ada nama Indonesia yang terselip di nama wanita itu? Enzo selalu merasa dekat jika sudah menemukan satu orang yang juga berasal dari Indonesia, mungkin karena itu.
Jika di lihat dari data-data yang tertulis itu, Enzo cukup tertarik. Apa ia bisa memilih wanita ini saja agar semua penderitaan itu segera berakhir? Hanya candaan saja, tapi setidaknya Enzo memiliki sesuatu yang bisa membuat banyak orang mendengarkan semua ucapannya.
**
__ADS_1