
**Hai, makasih buat semua komentar kalian di part sebelumnya, maaf banget gak bisa balas satu-satu tapi aku baca semuanya kok. Makasih juga atas respon kalian yang luar biasa banget dan tetep dukung playboy. Aku bakal nulis terus supaya kalian gak kecewa sama playboy ini.
Selamat puasa juga bagi yang menjalankan, semoga kita semua sehat-sehat terus ya. Happy reading 😊**
***
“Jadi pria itu yang mulai kau sukai?”
Elle terlonjak dengan kalimat itu yang terdengar tiba-tiba, ia segera menyalakan lampu di apartemen studio itu. Tak kaget lagi jika ia menemukan Brian yang duduk di sofa ruang tamunya. Pria itu memiliki banyak keuntungan untuk masuk dengan seenaknya di apartemen kecil ini, dan Elle tak bisa melakukan banyak hal. Brian memiliki semua kekuasaan untuk mengatur dan juga mengontrol Elle, hidup Elle bergantung pada pria ini.
“Bukankah kau juga mendekati pria itu untuk semua rencanamu? Kau juga sengaja mengatur pertemuan tempo hari untuk mengetahui pria itu?” tanya Elle dengan dingin.
Kadang, Elle selalu memiliki keberanian dalam dirinya untuk membalas semua kalimat Brian, kadang ada saatnya ketika ia tak bisa berkutik di hadapan pria itu. Selama dua tahun ini ia hidup, ia sudah seperti robot.
Kemanapun ia pergi, akan selalu ada bayangan Brian di semua sudut rumah yang ia tinggali. Pria ini bukan pria biasa, ia yan memastikan semua itu.
“Ya, itu juga bagian rencanaku. Sepertinya ia juga tak keberatan sama sekali, ia juga belum mengetahui siapa dirimu, kupikir ia pria yang sangat bodoh.”
Elle diam. Ia tak ingin memberitahu jika Enzo sudah mengetahui apa yang seharusnya tak ia ketahui. Entah siapa yang bodoh di sini, atau berpura-pura bodoh, tak ada yang bisa Elle percayai juga. Bagaimana menjelaskan tentang Enzo? Awalnya hubungan mereka hanya sekretaris dan atasan pada umumnya, lalu setelah rahasia itu terbuka, hubungan mereka seperti ini. Elle tak ingin menduga kalau Enzo menyukainya, hanya karena semua hal yang terjadi belakangan ini.
Ia bukan wanita yang sentimentil untuk hal seperti ini, yang hanya karena hal kecil saja sudah mulai menduga-duga banyak hal. Jika ada wanita seperti itu, maka sudah di pastikan jika ia sangat bodoh. Jangan menyakiti diri sendiri dengan semua dugaan yang ada, tak akan ada yang menjamin semua akan baik-baik saja, jadi, berbaik hatilah pada diri sendiri.
“Jangan libatkan aku dalam semua rencanamu,” ucap Elle.
Brian tiba-tiba sudah ada di sampingnya, ia mendekatkan tubuhnya pada Elle. Ada satu hal positif yang ada di diri Brian, hanya satu hal itu saja yang pria itu miliki. Brian tak pernah menyentuhnya dengan sembarangan atau melecehkan secara seksual, mungkin jika pelecehan secara verbal, Elle sudah sangat sering mendapatkan.
“Tadinya aku hanya ingin mengetesmu dan juga mungkin bermain sedikit dengan pria itu, tapi aku mencabut semua keputusan itu setelah melihat matanya yang menatapmu,” bisik Brian di telinga Elle.
Elle menahan nafasnya, bukan karena jantungnya yang berdebar dengan kencang. Ini sebagai bentuk antisipasi dari dirinya ketika Brian berada dalam jarak sedekat ini. Ia takut dengan eksistensi pria ini, tapi ia harus tetap terlihat tangguh agar Brian tak semakin semena-mena padanya.
“Sangat terlihat jelas di matanya jika ia sangat menyukaimu, apa kau sadar akan hal itu? Atau kau akan pura-pura tak mengetahuinya, lalu kalian akan bersatu seperti apa yang terjadi di telenovela atau novel romantis yang kau baca itu?” tanya Brian.
Jika itu benar, maka Elle akan
menyangkalnya. Jika itu salah, maka Elle akan sangat bersyukur. Ia tak ingin pria lain yang menyukainya, ia tidak dalam keadaan untuk saling menyukai dengan siapapun itu. Tak ada harapan hidup untuknya, tak ada masa depan yang bisa ia lihat atau ia rasakan, semua benar-benar hanya ilusi untuknya. Seluruh hidup yang ia jalani saat ini adalah milik pria yang selalu seenaknya itu. Tidak, Elle tidak mencintai atau bahkan menaruh hati pada pria ini, semua ini karena ancaman dan juga hutang-hutang itu.
Pada akhirnya, Elle sama sekali tak bisa lepas dari pria ini. Ada tali tak kasat mata yang mengekang tubuhnya untuk melakukan banyak hal, hidupnya di awasi secara diam-diam. Brian juga bisa dengan bebas memasuki apartemennya seperti ini, apa yang bisa Elle harapkan untuk masa depannya? Pria yang akan menyelamatkannya dari jeratan Brian?
Bermimpi saja jika begitu.
Elle yang akan merasa bersalah jika ada pria lain yang di sakiti Brian karena mendekati dirinya, termasuk Enzo. Brian pasti mengetahui jika minggu kemarin ia dan Enzo pergi bersama atas paksaan Enzo yang tiba-tiba muncul di depan apartemennya.
“Kau setuju dengan pendapatku, kan? Aku tahu, kau mengetahui perasaan pria itu, aku hanya tinggal menunggu hingga ia menyatakan perasaannya padamu,” ujar Brian. Ia sudah kembali duduk di sofa tadi.
__ADS_1
“Jangan sakiti Enzo!” teriak Elle.
Brian memberikan seringai yang mencurigakan di wajahnya. “Kau takut jika aku menyakitinya?”
“Dia sama sekali tak ada hubungannya dengan urusan kita, jadi, jangan pernah libatkan dia.”
“Begitu? Cepat atau lambat dia juga akan mengetahui semuanya.” Brian mengangkat kedua bahunya tak acuh. Rasanya sangat menyenangkan jika ada orang lain yang tunduk pada semua perintahnya, membuat Brian merasakan bangga pada semua hal yang sudah ia lakukan hingga sejauh ini.
“Kalau begitu, kau harus melakukan semua hal yang sudah kusiapkan untukmu. Pastikan kau berhasil, lalu aku akan membebaskanmu,” ucap Brian. Ia segera pergi meninggalkan ruangan kecil itu.
Elle masih terdiam di tempatnya, mencoba untuk mencerna apa yang sedang terjadi kali ini. Ia menyangga tubuhnya yang tiba-tiba lemas pada dinding di dekatnya. Apa lagi yang sedang di rencanakan pria itu?
**
“Gila, ya? Aku nunggu kamu sampai satu jam lebih cuma buat ketemu kamu, kayaknya aku udah mulai cinta banget sama kamu,” omel Liliana.
Jam makan siang kali ini terpaksa Liliana relakan untuk ia habiskan bersama sahabatnya ini, dan mereka telat hampir dua jam karena Liliana harus menunggu Nabila untuk menyelesaikan tugasnya.
“Kamu tahu sendiri gimana padatnya kerjaan aku, Li. Kejam mana sama kamu yang nyembunyiin kehamilan kamu dari aku?” balas Nabila.
Liliana menghembuskan nafas dengan berlebihan. Entah kapan ia bisa memenangkan perdebatan dengan Nabila, sahabatnya ini sangat tangguh dalam hal mendebat orang lain. Apalagi jika orang yang ia ajak berdebat memiliki kekurangan dan membiarkan celah kosong itu tak di ketahui, lalu Nabila akan mengambil celah kosong itu untuk ia isi dengan argumen apapun yang ia miliki. Sudah seperti itu sejak mereka kuliah.
“Harusnya kamu itu masuk fakultas hukum tahu, gak, sih? Jadi editor aja gak cukup buat kamu, kamu lebih cocok jadi pengacara atau hakim, atau mungkin jaksa.”
Tawa kecil lolos dari bibir Nabila. Beruntung Liliana selalu memiliki waktu untuknya, sekadar berbincang tentang hal tak penting seperti ini sudah mampu membuatnya kembali seperti semula. Belakangan ini sangat berat untuknya, kan? Aidan yang sakit, lalu pertemuan tak di sengaja dengan Reni.
Jika di pikir-pikir lagi, hidup Nabila sangat sempurna luar dalam. Tak ada keretakan berarti, tak ada sama sekali, ia hanya menjalankan semuanya dengan baik. Hingga perceraian ini terjadi, yang menjadi titik baliknya saat ini.
“Aku kayaknya harus traktir kamu makanan enak hari ini, kamu bikin aku hari ini tertawa. Aku juga salut sama kamu yang bisa bertahan sama Dimitri setelah lama di sakiti, hingga kalian bisa rujuk kayak gini,” ucap Nabila.
Liliana menghentikan suapannya mendengar ucapan Nabila. Jika saja Liliana juga bisa berterima kasih karena dulu ia turut andil juga dalam keputusan yang Liliana buat. Nabila juga menyelamatkannya dulu dan bertahan dengan segala hal yang ada, membantunya dari jarak yang sangat jauh. Nabila menyelamatkannya hidupnya juga dulu.
“Memang itu tujuan kita jadi sahabat, kan? Kamu lupa kalau kamu juga nyelamatin aku dulu?”
Nabila tertawa kecil. Setidaknya persahabatan yang ia buat dengan Liliana memiliki ikatan yang sangat baik. Ketika semua masalah terlihat menghampirinya, ia masih memiliki Liliana yang akan selalu mendukungnya.
“Aku ketemu sama Reni kemarin,” ucap Nabila.
“Reni yang jadi selingkuhan Reno itu? Buat apa kalian ketemu?”
“Lebih tepatnya, kami gak sengaja ketemu, dan dia mau ngomong sama aku.” Nabila mengangkat kedua bahunya.
“Aku yakin di pasti ngomong yang nggak-nggak sama kamu. Kamu tahu, cewek-cewek kayak gitu kebanyakan gak tahu diri. Kamu inget sama Evelyn yang dulu deketin Dimitri, kan? Kalau aku inget dia, bawaannya pengen aku cakar-cakar mukanya,” omel Liliana.
__ADS_1
“Harusnya aku bawa kamu kemarin, ya? Lumayan banget buat nakutin dia,” balas Nabila dengan tawa di bibirnya.
“Aku kayaknya siap, deh, kalau kamu mau ngajakin aku ketemu dia. Dia pantes buat dapetin seenggaknya satu atau dua pelajaran, atau bahkan tiga pelajaran.”
Kembali tawa lolos dari bibir Nabila. “Apa ini karena faktor kehamilan kamu? Aku gak pernah tahu kamu bisa kayak gini.”
“Kamu tahu? Aku sebenarnya kasihan sama Dimitri belakangan ini, dia selalu jadi korban semua keanehan aku dan semua hormon kehamilan aku kali ini,” ucap Liliana dengan sedih.
“Aku bisa banget ngerasain gimana tertekannya Dimitri saat ini.”
Keduanya tertawa lagi dengan obrolan mereka siang itu, lalu mereka melanjutkan obrolan mereka dengan topik acak yang berhasil mereka temukan. Selalu seperti itu sejak dulu, mereka akan memulai dengan topik apapun yang terlintas di benak mereka dan membuatnya menjadi obrolan menarik. Sekali dua kali mereka juga berhasil menggosipkan teman kuliah mereka dulu yang tak sengaja mereka temui, hal seperti saja sudah membuat mereka bahagia.
**
Setelah di pecat dari rumah sakit, Reni belum memiliki hal lain untuk di kerjakan. Ia sebenarnya bukan seseorang yang tak memiliki koneksi ataupun hal lain dengan suatu perusahaan. Orang tua Reni merupakan salah satu orang terkaya di Jakarta ini dan juga salah satu pengusaha yang sukses, tanpa ia bekerja juga hidupnya sudah sangat tercukupi dengan baik. Istilahnya ia bekerja hanya untuk mengisi waktu luang.
Salah satu dari banyak hal yang ada di hidupnya yang snagat ia sesali terlahir dalam keluarga ini sebenarnya. Kedua orang tuanya tak pernah peduli dengannya sejak dulu, mereka hanya peduli dengan nama baik keluarga dan akan sangat mengutuk orang lain yang berhasil mencemarkan nama baik mereka.
Kadang, tak jarang Reni selalu membuat onar di sekolahnya hanya untuk membuat kedua orang tuanya memperhatikan dirinya. Bukan masalah seberapa banyak uang saku yang ia terima, tapi tentang seberapa banyak kasih sayang yang mampu ia terima dari ayah dan juga ibunya. Tapi, tetap saja tak berhasil. Reni, bagi mereka hanyalah sebuah properti yang bisa mereka gunakan di masa depan.
“Papi dengar kamu di pecat dari rumah sakit, masalah apa yang kamu buat kali ini?” tanya sang ayah.
Reni mungkin akan sangat lega jika yang di lakukan ayahnya adalah meneriaki atau memakinya, tapi hal itu tak pernah terjadi, yang harus membuat Reni harus kembali kecewa. Ia ingin seperti anak-anak lain yang selalu di perhatikan dan di beri kasih sayang yang memang seharusnya mereka dapatkan.
“Reni tidur sama suami orang yang juga dokter di sana.”
Gantian sang Ibu yang kini menghela nafas dengan lelah. Inilah kenapa ia dulu sangat menginginkan anak lelaki di banding anak perempuan, tak ada yang bisa ia harapkan dari seorang anak perempuan yang bahkan tak bisa meneruskan perusahaan mereka. Anak perempuan juga sangat senang membuat masalah, sudah berapa banyak masalah yang di timbulkan Reni sejak saat itu hingga saat ini.
“Kamu harus mulai mikirin masa depan, sampai kapan kamu mau seperti ini?” tanya Ibu Reni.
“Jenis masa depan kayak gimana yang harus Reni pikirin, Mi?”
“Papi gak mau berita ini sampai ke telinga wartawan, kamu gak tahu seberapa banyak mereka ingin menjatuhkan keluarga kita.”
Lihat, kan? Mereka hanya peduli pada citra keluarga ini, tak pernah sekalipun mereka peduli pada perasaan Reni sendiri. Atau sebenarnya mereka juga tak menyukai kehadiran Reni sendiri di sini. Tak salah, kan, jika ia menginginkan kasih sayang yang bisa ia dapatkan dari tempat lain dan juga orang lain? Ia hanya wanita yang kekurangan kasih sayang dari ayah dan juga ibunya.
“Papi akan menjodohkan kamu dengan anak rekan kerja Papi, dan kamu gak boleh nolak untuk semua ini.”
Bagaimana Reni bisa menolak? Memangnya ia memiliki pilihan lain selain menerima? Orang tuanya selalu tahu bagaimana membuatn putrinya tersudut dan tak memiliki pilihan lain, itu seperti bakat terpendam yang sangat mereka banggakan. Bukan hanya putri mereka yang tak berkutik, tapi juga lawan bisnis mereka yang tak bisa melakukan apapun lagi selain untuk menerima apapun itu yang orang tuanya tawarkan.
Reni hanya menganggukkan kedua kepalanya. Jika ia memiliki pilihan, ia akan sangat senang jika harus menikahi Reno. Toh, pria itu sudah bercerai dan Reni berhak atas pria itu. Masa bodoh dengan mantan istri Reno yang juga teman mereka, ia memang menjadi orang yang merusak rumah tangga mereka, tapi jika hanya karena masalah ini mereka bercerai, itu artinya cinta mereka tak sekuat itu, kan?
Seharusnya Nabila menjaga suaminya dengan baik agar tak ada wanita lain yang bisa mendekati sang suami. Pria mana yang akan menolaknya begitu saja, Reni sangat tahu bagaimana bejatnya kelakuan seorang pria, ia bisa menjadi saksi untuk semua itu. Reno hanya sedang tak beruntung saja saat itu.
__ADS_1
Reno bukan pria bersuami yang dekat dengan Reni sebenarnya, ia juga pernah berhubungan dengan pria seperti itu di masa lalunya, dan mereka tak ketahuan. Setidaknya pria itu cukup beruntung, dan Reni juga sudah tak pernah mengganggu kehidupan pernikahan pria itu, mungkin pernah sekali atau dua kali pria itu yang menghubungi lebih dulu. Tak ada yang bisa menolak Reni dan pesonanya.
**