
Hai, apa kabar kalian hari ini? Semoga baik-baik aja ya. Udah hari jumat, Happy weekend ya^^
Katherine masih mendiamkan Richard setelah kejadian terakhir kali, padahal tak seharusnya ia melakukan hal itu. Tak mungkin jika antara Richard dan Liliana memiliki perasaan tertentu, kan? Sangat konyol sekali sepertinya. Tapi, itu semua membuat Katherine cemburu dan mendiamkan Richard. Anggap saja ini balasan untuk pria itu, dan ya, alasan kecil untuk kabur sejenak dari pria itu.
“Kau akan terus mendiamkanku?” tanya Richard. Pria itu ada di ruangannya sekarang, mereka sedang membahas salah satu laporan keuangan yang baru saja di keluarkan oleh manajer keuangan.
Ya, tentu saja mereka masih bekerja dalam ruangan yang sama. Memang bagaimana lagi mereka harus bekerja? Katherine harus profesional menghadapi semua itu, jika tidak, sia-sia saja yang ia lakukan selama ini dengan mendiamkan pria itu.
“Aku menemukan kejanggalan di tanggal dua puluh lima, coba kau periksa, aku tak yakin kenapa bisa seperti itu.”
Richard tak suka jika ia tak mengerti apapun, lalu di diamkan seperti ini. Entah di bagian mana ia salah, harusnya Katherine memberitahu agar bisa di perbaiki. Ah, ia lupa, wanita ini juga tak terlalu menyukainya. Bisa saja, kan, semua terjadi karena kesengajaan.
“Kau sengaja melakukan ini?” tanya Richard.
“Kau sudah menemukan apa yang janggal?” tanya Katherine.
Keduanya bertatapan. Tak ada yang ingin mengalah. “Berhentilah bersikap kekanakan dan beritahu apa yang salah?” tanya Richard dingin.
Katherine tak gentar melihat wajah dingin itu. Tak mungkin dengan jelas ia mengatakan jika cemburu dengan kedekatan Richard dan Liliana, bisa besar kepala pasti Richard nantinya. “Taruhan itu, aku tak bisa menunggunya selama enam bulan,” ucap Katherine. Ia tak mampu menemukan kalimat yang lebih baik lagi selain ini.
Richard mengangkat kedua alisnya penuh tanya, dan menatap Katherine dengan saksama. “Kau takut jatuh cinta padaku, atau memang sudah jatuh cinta padaku?” tanya Richard geli. Ada senyum jahil di matanya ketika mulai mengetahui masalah yang sedang di bicarakan Katherine.
“Kenapa kau sangat percaya diri sekali?”
“Karena memang itu yang sedang terjadi. Kau tak ingin mengakuinya? Tubuhmu selalu memberi reaksi yang sangat jelas ketika berada di sekelilingku. Semua itu terjadi begitu saja.” Richard menaikkan bahunya tak acuh. Ia sangat menikmati wajah wanita itu yang mulai memerah, kali ini ia yang kekanakan, tapi memang semua itu sangat menarik.
“Begitu?” ucap Katherine lirih. Tak mungkin jika wanita itu hanya diam saja, kan? Sangat bukan Katherine. “Tapi aku tak bisa mencintai satu pria begitu saja. Kau tahu, aku bisa memilih pria-pria brengsek sepertimu di luar sana tanpa masalah sedikitpun. Aku tak bisa jika hanya mencintaimu saja.”
“Apa ini pengakuan?” tanya Richard.
“Bukannya kau harus tahu soal tunanganmu? Seperti inilah aku, lalu kau berharap aku bisa mencintaimu seperti kisah romeo dan Juliet?”
Richard tak mengerti kemana pembicaraan ini akan mengarah, ia juga sangat tahu betapa sulitnya Katherine melakukan ini. Ia sangat keras kepala dan tak pernah mengiyakan saja tentang sesuatu, karena itulah, ia akan menaklukan Katherine yang sudah mencintanya ini. Ia hanya butuh kejujuran wanita ini saja.
“Itulah kenapa aku memberimu enam bulan. Aku tahu kau sudah mencintaiku, aku hanya butuh kejujuranmu saja,” ucap Richard. Setelah itu ia fokus lagi pada berkas di hadapannya.
Katherine kalah lagi oleh pria ini, dan semua ucapan pria itu memang benar. “Baiklah, aku memang mencintaimu dan sangat menyukaimu. Itu yang ingin kau dengar, kan?” ucap Katherine datar. Sama sekali tak ada emosi dalam kalimat tersebut.
Keduanya kembali saling menatap, tak ada rasa membuncah ketika Katherine mengatakan itu semua, walau memang itu yang ingin ia dengar. Apa wanita memang sesulit ini? Itulah kenapa ia tak pernah mendekati para wanita, bukan karena tak ingin, tapi memang ia tak ingin berhadapan dengan kerumitan. Hidupnya saja sudah rumit, ia tak ingin menambah lagi.
“Jika bukan karena Ayahmu, maka aku tak akan berada di sini bersamamu.”
Katherine tersentak, kalimat itu pernah ia dengar walau dalam urutan yang berbeda. Ia tak tahu apa yang coba di sampaikan oleh Richard, ia tak ingin tahu, bagaimana kalau buruk? Matanya memerah menatap Richard. Apa ia keterlaluan? Jika di pikir lagi, sejak awal Katherine tak pernah menerima pertunangan ini walau sangat menyukai Richard.
Ya, wajar saja Richard mengatakan itu. Memang ia sengaja memancing emosi pria itu agar pertunangan ini batal. Triknya sangat berhasil kali ini.
“Kalau begitu, batalkan saja pertunangan ini,” ucap Katherine.
__ADS_1
Richard tak membalas kalimat itu, ia hanya berlalu dari ruangan Katherine tanpa mengatakan apapun. Membuat Katherine merasa sedikit bersalah, matanya yang sudah memanas sejak tadi mulai mengeluarkan air mata.
**
Dimitri akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia, ia sudah cukup lama berada di Jerman. Ia takut jika terlalu lama menetap di sini, hasrat untuk membuat Liliana muncul lagi. Toh, cintanya sama sekali belum pudar, ia hanya tak tahu bagaiamana dengan Liliana. Wanita ini sudah memiliki kekasih, dan ia harus menerimanaya mau tak mau.
Selama wanita ini bahagia, dan juga Elang bahagia, maka itu semua sudah cukup. Mereka tetap bisa berhubungan dengan baik, memulai kembali menjadi teman mungkin, seperti dulu. Ia tak akan memaksakan keinginannya, ia hanya akan bahagia jika Liliana dan putranya bahagia. Buktinya setelah perceraian ini, keduanya bisa berhubungan dengan baik, walaupun sedikit canggung.
“Semoga penerbanganmu lancar,” ucap Liliana. Ia dan Elang mengantarkan kepergian Dimitri ke Bandara malam itu, atas inisiatif Liliana sendiri. Hal kecil yang membuat hati Dimitri kembali menghangat dengan harapan kosong.
“Ya, kamu juga hati-hati. Makasih juga karena mau repot nganterin aku.”
Ini hanya tindakan impulsif Liliana yang ingin mengantarkan kepulangan Dimitri, ia juga tak mengerti kenapa dirinya melakukan hal seperti ini. Awalnya karena perasaan ingin memulai hubungan baik dengan mantan suaminya ini, ia tak ingin ada rasa canggung di antara mereka. Padahal cara yang baik untuk melupakan perasaan cinta yang masih ada, adalah dengan menjauh dari sumbernya sendiri. Tapi, yang Liliana lakukan justru sebaliknya. Hatinya mengatakan seperti itu, ia hanya mengikuti.
“Apa aku boleh rutin berkunjung kemari? Untuk menjenguk Elang,” tanya Dimitri. “Mungkin setiap pergantian musim, bisa lebih cepat, tergantung pada pekerjaanku.”
Liliana menatap Dimitri, ide itu terdengar bagus. Tapi, bagaimana dengan hati Liliana? Kenapa semuanya jadi baik-baik saja seperti ini setelah perpisahan mereka? Pria ini menjadi lebih lembut dan perhatian. Mereka tak terlihat seperti baru saja bercerai, mereka seperti keluarga kecil yang terlihat bahagia. Apa tak masalah seperti ini?
Pada akhirnya, Liliana hanya memberikan senyuman tanpa mengiyakan atau menolak, ia masih tak yakin dengan hatinya sendiri. Tapi, semua ini sekarang tentang Elang, tak ada alasan untuk menolak, kan?
“Sampaikan salamku pada Mama dan Papa,” ucap Liliana.
Dimitri tersenyum getir. “Sejak satu tahun yang lalu, ketika aku memberitahu perceraian kita, mereka sedikit membenciku. Hubungan kami tak baik sejak saat itu, tapi akan aku sampaikan.” Dimitri memberikan senyum terbaiknya, ia tak ingin terlihat tak baik-baik saja di hadapan Liliana ketika membicarakan oang tuanya.
Liliana tak mengetahui kisah itu, jika orang tua Liliana yang membenci Dimitri, ia mengetahuinya. Tentu saja, orang tua mana yang menginginkan anaknya berpisah. “Maaf, aku gak tahu soal itu,” ucap Liliana.
“Aku pergi.” Setelah mencium Elang, dan berpamitan dengan jagoan kecilnya, Dimitri berjalan menjauhi kedua orang yang sangat di cintainya itu.
Setelah pria itu tak terlihat lagi di jarak pandangnya, Liliana juga melangkah keluar. Saat ini, pikirannya sudah lebih baik, ia tak memikirkan banyak hal lagi setelah perceraian itu. Ia tak pernah berpikir akan berhubungan baik dengan mantan suaminya setelah semua hal yang terjadi. Hatinya sedikit goyah, apalagi semenjak kemarin, ketika Enzo melamarnya.
“Kenapa?” tanya Liliana.
“Kau tahu dari awal kalau aku menyukaimu, mungkin waktunya tak tepat, tapi aku serius kali ini. Aku ingin menikahimu, aku ingin kau menjadi istriku dan selalu berada di sampingku,” jawab Enzo.
Malam itu, semua kalimat yang di lontarkan Enzo, dan juga tatapan matanya sangat serius. Sama seperti pertemuan pertama mereka. Liliana tahu perasaan pria itu, ia tak bermaksud untuk memberi harapan pada pria itu, ia hanya ingin berteman baik. Apa tindakannya juga berlebihan kali ini?
“Aku…Aku…”
“Aku tak terburu-buru, ambil waktumu untuk berpikir, aku akan menunggu jawabanmu.”
Enzo bangkit dari duduknya, berniat untuk keluar.
“Enzo, aku… belum bisa. Maaf jika sikapku selama ini membuatmu salah paham, aku hanya ingin berteman denganmu. Tak pernah ada perasaan lebih yang terlibat di sini,” ucap Liliana dengan gugup.
“Apa kau masih mencintai pria itu?”
Liliana diam. Apa ia masih mencintai pria itu? Dimitri? Ya, perasaan itu tak mudah untuk hilang. Ia juga tak tahu bagaimana caranya untuk mulai menghapus perasaan ini, atau ia hanya tak ingin menghapusnya?
“Aku akan tetap menunggumu.” Enzo memberikan senyumnya pada Liliana sebelum berjalan keluar dari apartemen Liliana.
__ADS_1
Enzo adalah pria yang sangat baik, Liliana sadar akan hal itu. Tapi ia tak bisa begitu saja menerimanya, tak bisa ketika perasaannya masih seperti ini. Ia ingin menikmati kesendiriannya lebih dulu, dan menikmati kebersamaannya pada Elang. Hanya itu saja yang sedang di pikirkan di dalam hatinya.
**
Enzo tahu akan seperti ini akhirnya. Mata Liliana tak bisa membohonginya, ia masih mencintai mantan suaminya. Enzo hanya mengungkapkan perasaan yang sedang melingkupi hatinya, ia juga tak mengetahui kisah di balik perceraian keduanya. Tak banyak yang bisa ia ketahui dari Liliana, kecuali fakta jika ia sudah bercerai.
Dari awal pun, Liliana sangat menutup diri dan selalu membatasi Enzo untuk melewati tembok yang sudah di bangun kokoh itu. Tapi, tak ada salahnya untuk mencoba, kan? Ia juga harus berusaha untuk memenangkan hati wanita itu, perlahan, ia akan melakukan secara perlahan.
“Enzo.”
Panggilan itu membuat Enzo mendongak, dan menemukan seseorang yang tak ingin ia temui lagi. Sumber dari semua rasa bersalahnya, yang sudah membuat hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Cecilia. Wanita ini muncul ketika ia sudah tak ingin bertemu lagi, ia tak muncul ketika Enzo mengharapkan wanita ini untuk menjelaskan segalanya tujuh tahun lalu.
Keduanya diam, saling menatap satu sama lain. Enzo sangat terkejut, tapi ia mencoba untuk menguasai diri sendiri, ia memasang wajah dinginnya.
“Kupikir kita tak memiliki janji,” ucap Enzo dingin.
Wanita yang bernama Cecilia terlihat gelisah di tempatnya berdiri, tak seharusnya memang ia muncul setelah sekian lama di hadapan pria ini. Setelah semua kesalahan yang ia lakukan, dan setelah semua yang terjadi, seharusnya ia menghilang saja. Tapi, rasa bersalah dalam dirinya semakin menggerogotinya, dan ia tak tenang menghadapi semua itu.
“Aku…Apa aku bisa berbicara padamu?” tanya Cecilia gugup.
Wanita ini sangat berbeda dari tujuh tahun yang lalu. Tubuhnya jauh lebih kurus, rambut panjangnya hanya diikat satu, kulit putihnya masih sama, hanya lebih pucat. Tak ada raut cerah di wajahnya seperti tujuh tahun lalu. Enzo masih sempat berharap jika semua yang wanita ini lakukan tak berhubungan sama sekali, tapi wanita itu tak pernah muncul.
“Apa masih ada yang perlu kita bicarakan lagi? Kesempatan itu sudah hilang tujuh tahun lalu.”
Ya, Cecilia sangat sadar akan hal itu. Walaupun sangat terlambat, setidaknya ia bisa meminta maaf atas segala kesalahan yang ia perbuat. Bukan inginnya melakukan semua itu pada Enzo, walaupun Enzo mungkin tak akan mempercayai semua kalimatnya, setidaknya ia mencoba.
“Beri aku sepuluh menit untuk menjelaskan semuanya, setelah itu aku akan menghilang dari hadapanmu,” pinta Cecilia.
“Apa dengan semua penjelasanmu itu, mampu mengembalikan adikku yang sudah meninggal? Apa dengan menjelaskan semuanya sekarang, mampu mengembalikan hatiku yang sudah hancur?!” bentak Enzo.
Beruntung ini masih pagi, pengunjung hanya terlihat satu dan dua orang. Enzo juga tak peduli sebenarnya, mungkin ini juga bisa menjadi tempat yang tepat untuk mempermalukan wanita ini. Ia belum sempat melakukan balas dendam terhadap keluarga Cho yang sudah menghilangkan kebahagiaan dalam keluarga Enzo. Bahkan sampai
sekarang, Ayah wanita ini belum tertangkap, dan belum di jatuhi hukuman atas semua tindakannya. Mereka seolah menghilang tanpa jejak.
Kali ini, sang anak menyerahkan dirinya ke kandang singa. Entah apa yang akan di perbuat Enzo ketika suasana hatinya kembali suram seperti ini.
“Pergi dari hadapanku, sebelum aku berubah pikiran!”
Cecilia menjatuhkan tubuhnya, bertumpu pada lututnya di lantai. “Aku tahu ini semua tak akan mengubah apapun. Kau boleh memakiku, memukulku, lakukan apapun yang kau inginkan untuk menebus semua kesalahan Ayahku. Aku akan menyerahkan diriku pada polisi setelah ini, aku pantas mendapatkannya.”
Enzo menatap tak percaya wanita ini, ia tersenyum mengerikan. Semua pikirannya tentang wanita ini serta semua penyesalannya sudah hampir lenyap, tapi ketika melihat wanita ini dengan sukarela datang padanya, emosinya kembali muncul. Ia bangkit dari duduknya.
“Apa kau berharap dengan seperti ini aku akan memaafkanmu? Semua kalimatmu sama sekali tak membuatku tersentuh. Jika kau memang ingin menebus semua kesalahanmu, serahkan dirimu ke kantor polisi beserta Ayahmu. Bahkan penjara masih terlihat lebih baik darimu.”
Air mata menuruni wajah pucat Cecilia, ia sangat pantas atas semua kalimat kasar itu. Sampai kapanpun, pria itu tak akan menerima maafnya. Tak apa, ia akan menanggung semuanya, ini memang kesalahannya. Sebentar lagi, ia akan bisa menebus kesalahan masa lalunya.
**
Ayo ayo, di tunggu komen, kritik, dan sarannya!
__ADS_1