Playboy

Playboy
#7. I Like You


__ADS_3

Oke, kali ini aku gak akan minta kalian buat milih. Menurut kalian sejauh ini ceritanya gimana? Komen ya di bawah 😊 happy reading^^


**


Setelah memasuki gedung apartemen, Liliana segera melepaskan rangkulan Enzo di bahunya.


“Maafkan saya karena lancang, ini tak akan terjadi lagi,” ucap Liliana.


Karena Dimitri tak mungkin berkunjung ke negara ini dalam waktu dekat, Liliana setidaknya bisa bernapas lega. Ia tak tahu sebenarnya, hanya menebak saja. Pria itu tak mungkin datang lagi setelah semua yang terjadi, kan? Setidaknya Liliana sudah memberikan sedikit petunjuk tentang apa yang sudah terjadi padanya.


Sudah ada Enzo di sampingnya, walau itu hanya berpura-pura, kemarin juga pria ini melakukan hal yang sama. Ini bukan bagian balas dendam yang di rencanakan olehnya, semuanya terjadi begitu saja, kan?


“Apa pria itu kekasihmu?” tanya Enzo.


Sebelum Liliana sempat menjawab, pintu lift di hadapan mereka sudah terbuka. Ada rasa kelegaan di hatinya karena terselamatkan oleh bunyi dentingan kecil itu. Yang ia suka dari negara asing adalah mayoritas masyarakatnya yang individualis, tak banyak orang yang peduli satu sama lain, kecuali mereka sangat akrab.


Suasana canggung kembali menyelimuti ruangan persegi itu yang masih memiliki ruang sedikit luas. Hanya Elang yang tampak tenang dalam gendongan Liliana, seolah tak terjadi apapun.


“Kau belum menjawab pertanyaanku.”


“Ah, itu… Ah, saya hampir lupa, tadi Katherine menyampaikan kalau ia tidak ada di apartemennya karena akan berkunjung ke salah satu temannya,” jawab Liliana gugup.


Liliana tak akan menceritakan kisahnya pada siapapun, apalagi di negeri orang seperti ini. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di sini, dan Liliana juga hanya sendiri tanpa keluarga. Hanya ingin memastikan kalau ia tak salah memasuki lingkup teman dekat. Tapi, bisakah Enzo ddi sebut teman? Pria ini hanya atasannya.


Tak ada jawaban dari Enzo, Liliana melirik dari ekor matanya, takut-takut pria ini marah padanya. Ia tak salah, tapi, siapa yang tahu temperamen seorang Enzo ini? Salah-salah ia bisa di bunuh ataupun di pecat, yang lebih mengerikan, jika pria ini mengembalikannya ke Indonesia.


“Kau sudah makan malam?” tanya Enzo.


“Belum…,”


“Bagus, kita bisa makan bersama.”


“Tapi—“


Belum sempat Liliana menjawab, Enzo sudah keluar dari lift yang berhenti di lantai lima. Ia memang belum makan malam, tapi maksudnya bukan akan makan malam bersama atasannya. Liliana segera berlari kecil untuk menyusul Enzo, pria itu dengan jelas melihat Elang yang ada di gendongannya.


“Kita harus makan malam di rumah atau di luar?” tanya Enzo santai. Ia berakting seolah tak terjadi apapun. Lagipula ia juga sangat tahu bagaimana Liliana, mereka belum lama mengenal, tapi dari semua sikap yang wanita itu tunjukkan, Enzo sudah dapat menyimpulkan.


“Maaf, Herr, saya—“


“Anggap ini sebagai bayaran yang tadi di luar, aku tak akan meminta apapun lagi.” Potong Enzo. Ia menatap Liliana tepat di matanya, mata itu sangat indah, tapi tak ada binar-binar kebahagiaan di sana.


Ini bukan urusannya, hanya saja, Liliana sudah menyita perhatiannya sejak pertama kali bertemu. Enzo ingin mengetes hatinya ini, hanya saja, sudah empat tahun berlalu. Liliana adalah wanita yang menarik, dan mampu membuat jantungnya berdetak dengan cukup pelan. Bukan debaran yang sangat luar biasa, hanya Enzo mampu merasakan jantungnya yang kembali hidup.


Tak ada pilihan bagi Liliana untuk menolak. Hanya makan malam, kan?


**


Kedatangan Enzo sangat tak terduga, karenanya ia hanya menyiapkan pasta yang lebih praktis di banding apapun. Setelah menidurkan Elang di kamar, Liliana segera bergabung dengan Enzo yang sepertinya masih sibuk dengan ponselnya. Tipe pria sibuk. Liliana tak ambil pusing, ia segera menyantap bagiannya dengan tenang.


“Apa kau selalu sedingin ini pada orang lain?” tanya Enzo.

__ADS_1


Entah sejak kapan ponselnya sudah di letakkan di meja, Liliana tak menyadari, ataupun mempedulikannya. Apa hanya karena pria ini memiliki darah Indonesia, hingga membuat ia merasa dekat dengan Liliana? Sangat konyol tentunya, memangnya kenapa kalau dia juga orang Indonesia?


“Ya, kurang lebih seperti itu. Tapi, memang seperti itu, kan? Maaf kalau saya lancing, tapi kita tak sedekat itu untuk saling mengenal atau bertanya masalah pribadi.”


Enzo seperti menemukan belahan jiwanya yang telah lama hilang, sifat mereka hampir serupa, bahkan lebih ekstrem. Ia menyunggingkan senyum tipisnya, setelah hari itu, tak ada lagi yang membuatnya seperti ini. Apa ini juga bagian dari takdir yang ia cari selama ini?


“Kau bisa santai padaku jika sedang tak bekerja, lagipula pamanku masih memimpin NewYorker secara langsung, aku hanya membantu saja. Jangan terlalu formal padaku.”


Liliana tak menanggapi kalimat itu. Mungkin jika keadaan Liliana tak seperti ini, ia akan menyukai Enzo langsung. Tak ada satupun dalam diri Enzo yang mampu membuat Liliana menolaknya, di luaran sana pasti banyak wanita yang mengantri untuk pria ini. Katherine sempat mengatakan juga kalau Enzo sering di jodohkan


Bukannya Liliana sangat cepat dalam menarik informasi yang di berikan Katherine, ia hanya terlalu cepat memproses segalanya, dan menyimpannya di dalam memori otaknya. Liliana sama sekali tak berniat untuk menyimpan informasi seperti itu, karena tak ada gunanya juga.


“Apa kau sedang menggodaku?” tanya Liliana menyelidik.


“Apa sangat terlihat jelas? Padahal aku sudah membuatnya sehalus mungkin agar kau tak menyadarinya.”


Mau tak mau Liliana memberikan senyum tipisnya. Oke, setidaknya setelah beberapa hari yang melelahkan dan menguras emosi, ada satu hal yang masih bisa membuatnya tertawa. Bukan karena Enzo, ini murni karena Liliana sendiri. Atau ini memang karena Enzo?


“Kupikir kau tak bisa menunjukkan senyum,” ucap Enzo geli.


Senyum wanita ini manis, jantungnya belum berdebar kencang. Senyuman itu hanya menghangatkan salah satu sudut hatinya yang sudah membeku sejak saat itu. “Aku suka masakanmu, apa aku bisa mampir lain kali?”


Liliana menatap Enzo terkejut. Sepertinya ini pertanda buruk. ‘Lain kali’ bisa bermakna banyak hal, yang jelas itu adalah suatu bentuk pengharapan untuk kesempatan lain. Dan Liliana tak menginginkan ‘lain kali’, ia ingin hubungan ini tetap sebagai profesional atau tak berhubungan sama sekali.


“Kuharap tak ada kesalahpahaman di antara kita, tapi makan malam ini hanya sebagai bentuk terima kasih saja, aku tak mengharapkan hal lain,” ucap Liliana berhati-hati.


Enzo menatap Liliana yang fokus pada pastanya, walaupun sudah tak tersisa sedikitpun makanan di piring itu. Apa Enzo juga mengharapkan hal lain? Kalimat itu tiba-tiba saja keluar dari mulutnya, tapi kalaupun ada kesempatan lain, ia tak akan menolak. Semua ini tak harus mengarah pada hubungan romantis.


“Aku tak salah paham, kita bisa menjadi teman dan saling membantu. Aku tak tahu apa hubunganmu dengan pria tadi, tapi aku bisa membantumu lagi jika pria itu muncul,” ucap Enzo serius.


“Bukankah itu terlalu berlebihan? Ia tak akan muncul di sini lagi, jadi kita tak perlu melakukan hal seperti ini lagi. Tadi hanya kesengajaan, dan tak akan terulang lagi.”


Enzo melihat sorot yakin itu, walaupun ada sedikit keraguan di mata itu, entah di bagian mana yang membuatnya ragu. “Bukankah yang kamu lakukan saat ini hanya semakin menambah rasa sakit di hatimu? Dan kamu masih tetap akan melanjutkan seperti ini?”


Jika percakapan ini di lanjutkan, tentu saja akan memakan waktu yang sangat lama.


“Sudah malam, aku harus menemani putraku, kau juga sebaiknya pulang,” ucap Liliana. ia beranjak dari duduknya, tapi dengan sigap Enzo menahan lengan Liliana.


Ini bukan bagian dari skenario milik Enzo, ia melakukan ini benar-benar karena sifat impulsif miliknya. Seluruh sifat dingin dan keras kepala Liliana ini mengingatkan Enzo akan kejadian masa lalu yang masih membekas jelas di benaknya.


“Bagaimana jika kukatakan, kalau aku menyukaimu.”


**


Pekerjaan yang di kerjakan Dimitri tak pernah habis, lebih tepatnya ia yang tak ingin menghabiskan harinya hanya dengan berdiam diri. Jika ia sibuk, setidaknya pikirannya bisa teralihkan sejenak, hanya sekitar lima hari ia berada di Frankfurt, tapi sudah banyak hal yang terjadi. Bahkan ketika ia kembali, beban pikirannya semakin bertambah.


Tentang putranya yang bernama Elang, lalu pria yang merupakan kekasih Liliana, entah itu benar atau tidak. Ia tetap berharap kalau pria itu bukan kekasih Liliana, walaupun mereka terlihat sangat akrab dan dekat, bahkan pria itu juga mengunjungi Liliana ke apartemennya. Jika bukan kekasihnya, lalu apalagi?


“Gimana Jerman?” tanya Richard. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba pria itu sudah berada di dalam ruangannya.


“Biasa aja, gak ada yang spesial.”

__ADS_1


Richard menghampiri Dimitri yang tengah sibuk dengan kertas-kertas dan juga laptopnya. “Apa kamu gak ketemu cewek-cewek cantik di sana?” tanya Richard dengan mata yang menggoda.


Ya, ia bertemu wanita cantik di sana, wanita yang paling cantik di antara yang lainnya, tapi sayang wanita itu sudah menjadi mantan istrinya, jerit batin Dimitri.


“Kamu gak punya kantor apa gimana? Kenapa harus bolak balik ke sini?” tanya Dimitri datar.


Richard mengangkat kedua bahunya. “Aku bisa kerja di mana aja yang aku mau, aku gak pernah ngalamin kerugian kayak kamu soalnya.”


Dimitri langsung melemparkan pulpen yang ada di dekatnya pada Richard. Pertengkaran kecil seperti ini sudah terbiasa terjadi pada mereka, dan mereka tak pernah menganggap ini serius. Lagipula Dimitri selalu menerima sindiran Richard dengan lapang dada, karena semua itu memang benar terjadi.


Proyek klien yang berasal dari Jerman ini pun juga atas bantuan Richard, jadi Dimitri banyak berhutang budi pada sahabatnya ini. Richard yang memperkenalkan klien ini pada Dimitri satu bulan yang lalu, dan mereka mulai membicarakannya sudah cukup lama. Ketika tiba pada penandatanganan kontrak, Dimitri memang sengaja terbang ke Jerman bersama sekretarisnya, untuk memudahkan sang klien. Anggap saja sebagai pelayanan perusahaan Dimitri.


“Tapi kayaknya kamu harus tinggal di Jerman untuk beberapa waktu sampai semua pengerjaan itu selesai. Kamu bisa ngirim anak buah kamu, tapi semua akan semakin mudah kalau kamu sendiri yang menanganinya, kan?”


Dimitri menatap Richard dengan ngeri. Bukan masalah tinggal di Jerman yang membuatnya sedikit kaget, hanya saja, jika ia kembali lagi ke negara itu, ia juga akan kembali bertemu dengan Liliana. Membahagiakan untuknya, tapi juga sangat sulit untuknya. Wanita itu sudah dengan jelasnya mengatakan kalau ia tak ingin bertemu Dimitri lagi, lalu apa yang akan ia lakukan jika bertemu lagi?


“Mungkin aku akan kirim anak buah aja, kerjaan di sini juga butuh perhatian. Aku gak mungkin ninggalin banyak kerjaan hanya untuk satu kerjaan, kan?”


Richard menatap Dimitri yang sejak tadi bahkan tak bertatapan dengannya. Ada yang berbeda dari sahabatnya ini. Walaupun mereka terpisah cukup lama, tapi mereka juga saling mengenal untuk waktu yang lama. Sedikit banyak, gerak gerik Dimitri mampu terbaca olehnya.


“Ada yang terjadi di sana, kan?” tanya Richard.


Ketikan jari Dimitri di atas kertas laptop berhenti. Apa ia harus mengatakan semuanya pada Richard? Ia yakin Liliana tak akan menyukai semua ini.


“Jangan bilang kamu nidurin salah satu klien kamu lagi?”


Dimitri menatap Richard dengan kesal. Setelah banyak kesalahan yang ia lakukan, ia kembali mengulanginya? Dia benar-benar akan di cap ******** brengsek, bahkan jika Liliana mengetahui semua ini, akan di pastikan untuk seumur hidupnya ia tak akan bertemu putranya.


“Aku ketemu Liliana.”


Dimitri diam untuk menanti reaksi yang akan di berikan oleh Richard, tapi selama lima belas detik, sahabatnya itu sama sekali tak mnegeluarkan kalimat apapun.


“Liliana di Jerman?” Wajah Richard benar-benar kaget dengan semua itu, seperti menemukan harta karun tersembunyi. “Liliana mantan istri kamu?” tanya Richard lagi untuk memastikan.


“Kamu pikir aku punya berapa banyak mantan istri?” Kali ini Dimitri kesal dengan pertanyaan yang di ajukan Richard.


“Berarti kamu harus kembali ke Jerman lagi, ternyata proyek ini bisa bikin kamu bersatu lagi sama Liliana.”


Awalnya Dimitri juga berpikir seperti itu. Inilah awal kesempatan untuk memperbaiki segalanya, sudah ada anak di antara mereka, dan semuanya sangat sempurna. Lalu, bayangan wajah datar Liliana yang berhadapan dengan Dimitri kembali menghantuinya, dan juga pria dengan senyum hangat yang merangkul bahu Liliana dengan mesra. Lalu apa yang akan Dimitri harapkan lagi?


“Dia udah punya pacar,” ucap Dimitri lirih.


Senyuman yang tadi muncul di wajah Richard karena membayangkan pertemuan sahabatnya langsung buyar. Pantas saja wajah Dimitri sedari tadi tak menunjukkan kebahagiaan sekali, wajahnya yang dingin, semakin dingin karena yang terjadi. Ia tahu kisah sahabatnya ini sangat rumit, ia juga tak bisa membantu banyak.


Menjadi penengah untuk rumah tangga orang lain sangat sulit, apalagi jika sang penengah sama sekali tak memiliki pengalaman dalam kehidupan yang sama. Jika saja keduanya masih dalam hubungan pacaran, mungkin akan sedikit mudah. Bahkan rumah tangga orang tuanya pun sama berantakannya, walau tak terlihat.


Diam sepertinya lebih baik, di banding jika hanya mengatakan kalimat yang salah. Tapi, ia juga tak bisa hanya diam saja mengetahui apa yang baru saja terjadi.


“Dan kamu cuman bakal diem aja setelah semua ini? Itu sama artinya kamu gak bener-bener cinta sama Liliana. Kamu bisa buktiin gimana kamu cintanya sama dia, kalau aku jadi kamu, aku bakal pergi ke Jerman sekarang juga, dan menebus kesalahan, lalu bisa kemabli bersama. Mereka hanya pacaran, bukan menikah.”


Dimitri tak salah mencari seorang sahabat, tapi kalimat akan lebih mudah di ucapkan di banding di lakukan. Ia juga bisa mengatakan semua itu, tapi bagaimana dengan yang akan di lakukannya nanti? Sedangkan menatap Liliana kemarin adalah hal terberat yang pernah ia lakukan.

__ADS_1


“Begitu? Aku akan mencoba.”


**


__ADS_2