
Yok sama-sama berdoa biar aku bisa nulis setiap hari ;)
Happy reading^^
Elleanor Caroline Danuwijaya adalah wanita yang berkecukupan dan sang Ayah yang memiliki banyak bisnis di Eropa. Awalnya mereka tinggal di Indonesia hingga pertengahan semester tiga kuliah Elleanor, hingga sang Ayah membawa keluarga kecil itu menuju Eropa, tepatnya Jerman. Bisnis sang Ayah berkembang dengan baik dan
pesat hanya dalam waktu satu tahun. Waktu yang cukup singkat untuk membuat sebuah perusahaan cukup berkembang.
Tapi itu sembilan tahun lalu, kini semuanya berbeda. Ayahnya sudah meninggal dua tahun lalu, bisnis yang di kelola oleh sang Ayah juga sudah berakhir saat itu juga. Kini Elleanor harus menghidupi dirinya sendiri di negara sebesar Jerman seorang diri. Jika bisa, ia ingin kembali ke Indonesia dan melanjutkan hidup di negara sendiri, tapi ia belum memiliki tabungan yang cukup. Bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk sekadar membeli makanan adalah hal terbaik yang ia miliki.
Dunianya benar-benar semengerikan itu saat ini, semuanya di mulai juga karena sang Ayah. Ibunya, wanita cantik yang sudah cukup paruh baya itu memilih untuk meninggalkan Elleanor seorang diri bersama pria kaya yang ia temui. Dari segi fisik dan wajah, Ibunya memiliki cukup modal untuk bertahan di negara besar ini.
Elleanor sendiri tak ingin mengikuti jejak sang Ibu. Mungkin untuk sesekali ia pernah berpikir seperti itu, dan ia juga tak sepolos itu. Sejak masih di Indonesia pun, ia sudah lebih awal mengetahui hal-hal liar seperti itu, tak perlu di
jelaskan hal ‘liar’ itu maksudnya apa, kan? Karena semua orang sudah sangat pasti mengetahui hal itu.
Menghadapi masalah sang Ayah saja sudah membuat kepalanya sangat pusing, ia tak ingin menambah masalah baru. Dunia yang menjanjikan pengalaman serta kenikmatan duniawi itu memang kadang memaksanya untuk menyelami kembali, tapi beruntung akal sehat masih bekerja. Menjadi pramuniaga dengan gaji yang sangat pas-pasan sudah lebih dari cukup, untuk saat ini.
Berkat rekan kerjanya yang cukup baik hati itu, Elleanor memutuskan untuk melamar posisi sekretaris di sebuah perusahaan pertambangan terbesar di Jerman, Grand Kohle. Gaji yang di tawarkan cukup menjanjikan, hanya itu yang menjadi fokus Elleanor, dan sedikit banyak ia bisa mengerti tugas-tugas atau pekerjaan seperti apa yang di kerjakan oleh para sekretaris perusahaan besar. Mungkin ia tak akan sesantai ini, tapi demi gaji yang cukup banyak, ia akan melakukan apapun. Bukan materialistis, tapi semua orang membutuhkan uang, hanya mencoba
untuk realistis.
Elleanor berdiri di depan gedung pencakar langit di hadapannya, Grand Kohle, perusahaan yang akan mewawancarainya. Kemeja putih yang ia kenakan bersama dengan rok pensil di bawah lutut, serta sepatu fantofel setinggi lima senti sudah siap untuk menunjang penampilannya. Gedung seperti ini sudah sangat tak asing untuknya dua tahun lalu atau lima tahun lalu, kali ini, gedung ini mampu membuatnya gugup.
“Kamu pasti bisa, Elle! Demi hidup yang lebih baik,” ucap Elleanor pada dirinya sendiri.
Baru kali ini merasa kepercayaan dirinya sangat rendah. Apa karena dua tahun ini ia sudah menjadi Elleanor yang sederhana? Roda benar-benar berputar untuk kasusnya kali ini, dan sangat drastis serta tak memberi kesempatan Elleanor untuk sekadar bernafas dengan benar.
Elleanor sudah memasuki ruangan besar yang menjadi ruangan pemimpin perusahaan Grand Kohle. Ya, pemimpin perusahaan itu sendiri yang akan mewawancarai calon pelamar. Elleanor berada di urutan nomor tiga setelah dua calon lainnya memasuki ruangan ini tadi. Menurut percakapan wanita-wanita lainnya tadi, wawancara ini tak terlalu mengintimidasi, juga karena sang pemimpin yang terlihat sangat tampan dan juga muda.
Oke, anggap saja ketampanan itu sebagai bonus. Elleanor sama sekali tak memiliki kesempatan untuk mengagumi atasannya, ia hanya perlu mendapatkan pekerjaan ini. Jadi, ia tak perlu bertanya-tanya lagi bagaimana ia harus bertahan untuk esok hari.
“Apakah kau lama menunggu?” tanya sebuah suara yang membelakangi Elleanor. Elle membalikkan tubuhnya dan menemukan pria tampan yang baru saja memasuki ruangan itu.
“Ah, tak masalah,” jawab Elle gugup.
Ya, pria itu memang tampan dan terlihat sangat datar tanpa ekspresi. Tapi, kenapa wajah itu terlihat tak asing untuknya. Elle mengerutkan kening tanpa sadar, berusaha mengingat pria ini. Sepertinya bukan dari kalangan kolega sang Ayah, bukan juga dari barisan pria-pria yang pernah di jodohkan untuknya. Lalu siapa pria ini?
“Bisa kita mulai sekarang?”
Nada suara itu terdengar sangat ramah, tapi wajah itu tetap datar tanpa ekspresi. Elle bertanya-tanya tentang apa yang di pikirkan pria ini. Tapi, kenapa jadi itu yang penting? Ia harus memastikan dirinya lolos dalam wawancara ini,
mengenal pria ini juga bukan salah satu keuntungan yang bisa menjamin ia di terima bekerja di sini.
“Bagaimana aku harus memanggilmu?” tanya Enzo lagi.
“Cukup Elle saja."
“Santai saja, Elle. Aku tak ingin membuat calon sekretarisku kabur karena hal ini.” Ada senyum tipis yang terbit dari bibir Enzo. Hal itu tak luput dari pandangan Elle, mungkin jika Elle tak memperhatikan hal itu, Elle akan melewatkan hal indah hari ini.
**
__ADS_1
“Aku mungkin akan telat, kau tak masalah jika harus bertemu dengan Michelle lebih dulu, kan?” tanya Richard memastikan di ujung telepon.
Untuk pertama kalinya, Katherine akan menemui adik dari Richard yang bekerja sebagai seorang model itu. Richard sudah menceritakan tentang bagaimana sifat adik satu-satunya itu, dan pekerjaan apa yang sedang ia jalani, juga foto yang sudah di tunjukkan oleh Richard kemarin. Semuanya sudah lengkap, hanya tinggal pertemuan itu saja.
“Tak masalah, asal kau tak lebih mementingkan pekerjaanmu itu di banding pertemuan ini,” jawab Katherine.
“Kau juga sering melakukan itu padaku. Adikku sedikit menyebalkan, tapi aku sangat yakin kau bisa mengatasi hal itu.”
Katherine memutar bola matanya, Richard tak mungkin melihat hal yang sedikit kurang sopan itu. Entah kenapa ia bisa tahan berada dalam hubungan ini selama lebih dari dua tahun dengan Richard? Sifat cerewet Richard kadang bisa mengalahkan Katherine sendiri. Cinta benar-benar bisa mengubah seseorang, mungkin itu hal baik untuk
Katherine. Beberapa kali, pikiran tentang hubungan mereka selalu masuk dalam pikiran Katherine, dan itu untuk sesuatu yang bisa di bilang cukup buruk.
Seharusnya dua tahun sudah cukup untuk mereka melanjutkan pada tahap yang lebih serius, tapi hal itu tak pernah terjadi. Lebih tepatnya, Katherine yang selalu menghindari topik tersebut. Tak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan kita, kan? Dan menjalani pernikahan juga tak akan seindah itu dan semudah itu. Jika mudah, maka banyak orang lain akan menjalani hal itu, tapi tak semua orang bisa menjalani pernikahan dengan baik.
“Lanjutkan pekerjanmu saja, jangan khawatirkan aku.”
Setelah itu, Katherine menutup sambungan telepon itu dan menanti Michelle seperti yang di minta oleh Richard. Perasaannya mengatakan jika ini tak akan baik, ia hanya merasa seperti itu. Dalam hidupnya, ia tak pernah membayangkan menjalin hubungan serius dengan satu orang pria hingga dua tahun lamanya. Sangat aneh dan juga sangat baru, seperti menantang hal baru, lalu kini ia akan bertemu dengan adik Richard.
Katherine benar-benar sudah berbeda dan berubah. Mungkin jika teman-temannya tahu mengenai perubahan drastis ini, mereka juga tak akan menyangka. Karena terlarut dalam pikirannya sendiri, Katherine tak menyadari jika ada seorang gadis yang baru saja menghampiri meja itu. Gadis itu mengetuk meja di hadapan Katherine.
“Apa aku berada di meja yang benar?” tanya gadis itu dengan datar.
Katherine mendongak, dan mendapati gadis berwajah oriental yang terlihat sangat dingin dan juga datar. Raut wajahnya sangat mirip dengan Richard, ini pasti Michelle. Katherine segera melebarkan senyumnya, dan memperhatikan wajah gadis itu sebentar. Ada tato bunga mawar biru di lengan kanan gadis itu, rambut hitamnya
tergerai dengan indah. Entah kenapa Katherine melihat dirinya dalam diri Michelle, gadis itu hanya mengenakan crop top tanpa lengan dan juga celana jins.
Jerman sedang musim panas, jika bisa, Katherine juga akan mengenakan busana yang sama dengan Michelle, tapi Richard pasti akan membunuhnya.
Michelle tak menjawab sapaan itu, ia langsung duduk di hadapan Katherine dengan wajah yang masih datar. Beruntung ia memang sedang ingin berlibur ke Eropa, dan karena ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan di sini. Yang lebih penting, ia tak bisa menolak permintaan sang kakak untuk bertemu dengan tunangannya.
“Apa yang ingin kau pesan?” tanya Katherine lagi.
“Apa saja yang bisa menyegarkan.”
Perasaan Katherine tak pernah salah, menemui Michelle sepertinya bukan ide yang baik. Ia memang melihat dirinya dalam diri Michelle, tapi tatapan itu mengatakan hal lain yang membuat Katherine tak nyaman bersama gadis itu.
Setelah mengatakan pesanannya pada sang pelayan, Katherine kembali menghadapi Michelle. “Jadi, bagaimana kabarmu? Richard banyak menceritakan tentang pekerjaanmu sebagai model dan juga tinggal di New York seorang diri, apa itu menyenangkan?”
“Aku tak menyukaimu. Aku juga tak menyukaimu sebagai tunangan kakakku.”
Katherine cukup kaget dengan jawaban yang tiba-tiba itu, yang bahkan bukan jawaban yang Katherine harapkan. Ia tak bisa berkata-kata untuk sesaat. Seorang Katherine di kalahkan oleh gadis yang lebih muda beberapa tahun di bawahnya, harga dirinya seperti tersentil.
“Apa maksudmu?” tanya Katherine.
“Apa kurang jelas? Aku tak menyukaimu, dan kuharap pertunangan kalian segera di batalkan. Richard berhak mendapatkan yang lebih baik darimu,” jawab Michelle dengan datar.
Kali ini, biarkan ego Katherine mengalah. Pernyataan itu terlalu tiba-tiba, hingga tak bisa membuat Katherine menyiapkan kalimat apapun. Jadi, biarkan Katherine dan juga harga dirinya yang sangat berharga itu mengalah untuk saat ini.
**
Bagaimana kehidupan pernikahan Liliana dan Dimitri setelah rujuk kembali dan pembatalan perceraian mereka enam bulan yang lalu? Atau tujuh bulan yang lalu?
Jawabannya, sama seperti kehidupan pernikahan lain pada umumnya. Mereka bahagia, banyak hal-hal baru yang mereka mulai terapkan dalam kehidupan mereka. Mereka bahagia, dan mulai untuk mengerti satu sama lain, tak hanya memikirkan ego satu sama lain. Kesalahan terjadi untuk saling mengingatkan dan kembali mempelajari apa
__ADS_1
yang sudah mereka lewatkan, dan membuatnya menjadi kesempurnaan yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Liliana menggandeng dengan riang Elang yang baru saja menyelesaikan pelajarannya di TK tadi. Sudah menjadi rutinitas Liliana untuk menjemput putranya itu, kadang Dimitri juga akan mengantarnya jika tak banyak pekerjaan yang sedang di tangani. Siang ini, sang suami memiliki rapat dengan salah satu klien yang tak bisa di tunda atau di jadwal ulang.
Sekolah Elang berakhir pada pukul sepuluh pagi, biasanya Liliana akan membawanya ke toko bunga miliknya atau juga ke rumahnya. Di jam makan siang, kadang Liliana berkunjung ke kantor Dimitri untuk mengantarkan makan siang. Hal-hal kecil seperti itu sangat Liliana nikmati, ia merasa sudah sangat sempurna menjadi seorang Ibu dan juga istri.
“Pak Dimitri ada di dalam?” tanya Liliana pada sekretaris sang suami.
“Pak Dimitri masih rapat, Bu, mungkin sebentar lagi selesai. Ibu mau nunggu di dalam?”
Liliana membalas senyum ramah yang di berikan oleh sekretaris Dimitri itu. Sejak pertama kali Dimitri merintis perusahaan ini, wanita ini—Risa—sudah menjadi sekretaris sang suami. Mungkin sudah terhitung hingga lima tahun, Liliana tak tahu pasti, sejak saat itu Risa setia menjadi sekretaris Dimitri. Ia juga bukan tipe sekretaris penggoda yang selalu mengenakan pakaian ketat dan kekurangan bahan. Dimitri sudah sangat mempercayai Risa, begitupun dengan Liliana.
“Boleh. Elang, ayo kasih salam buat tante Risa,” pinta Liliana.
“Halo, selamat siang tante Lisa,” ucap Elang dengan logat cadelnya. Tak lupa Elang juga membungkukkan tubuhnya.
Liliana dan Risa tertawa melihat hal itu, setidaknya Liliana tak salah mendidik anaknya, karena Elang tumbuh menjadi anak yang penurut dan sopan, dan tentu saja menggemaskan.
“Kami ke dalam dulu, ya.”
“Ibu mau minum apa?” tawar Risa.
“Gak usah, kamu lanjutin kerjaan kamu aja.” Liliana tersenyum lagi sebelum masuk ke dalam ruangan Dimitri yang hanya berjarak beberapa langkah dari meja sekretaris.
Ruangan kerja itu sekarang sudah menjadi sangat familiar untuk Liliana, karena intensitas kunjungannya yang sudah semakin sering. Ternyata hal kecil seperti mengantarkan makan siang untuk sang suami bisa membuat hatinya membuncah seperti ini. Dulu, awal pernikahan mereka, Liliana juga sering berkunjung. Untuk makan
siang bersama, atau hanya sekadar mengunjungi Dimitri karena bosan, tapi, rasanya berbeda dengan saat ini.
Liliana juga tak bisa memastikan perasaan apa yang sedang di rasakan saat ini, ia hanya bahagia. Itu adalah satu hal yang penting, setelah satu tahun yang di penuhi dengan berbagai rasa sakit dan penderitaan yang tak berujung. Ada satu hal yang selalu masuk ke dalam pikiran Liliana jika mengingat semua hal yang sudah terjadi itu.
Rasa sakit, kebahagiaan, putus asa, dan semua perasaan yang muncul, semua itu bisa di kontrol dann tergantung dengan bagaimana alam bawah sadar kita menginginkan semua perasaan itu terjadi.
“Kamu udah lama, ya?”
Liliana mendongak mendengar suara itu, lalu tersenyum ketika melihat Dimitri yang sudah masuk ke ruangan itu. Ia tak sadar sudah berapa lama, Elang bahkan sudah tertidur di pangkuannya dengan damai.
“Gak, kok. Aku bawain kamu makan siang, kamu udah makan?”
Dimitri berjalan mendekati istri dan anaknya itu. Seperti biasa, ia mencuri ciuman kecil di bibir Liliana lagi, kebiasaan baru yang muncul entah sejak kapan, tapi, Dimitri menyukainya.
“Ini masih di kantor, Al,” gerutu Liliana. Tapi senyum yang beriringan dengan gerutuan itu tak bisa berbohong.
“Aku belum makan, dan aku laper banget. Kamu sama Elang udah makan?”
“Udah, Elang jangan di tanya. Porsi makannya semakin banyak sekarang.”
“Itu semua karena istriku ini yang semakin jago masak, lama kelamaan aku juga bisa makin buncit kalau gini caranya,” ucap Dimitri. Ia mengedipkan matanya pada sang istri.
Pipi Liliana menghangat mendengar pujian dari Dimitri. Ini bukan pujian pertama, tapi selalu bisa memberikan efek yang sangat luar biasa untuk pipi dan jantungnya.
“Kamu harus tahu kalau aku sangat beruntung bisa membawa kamu kembali. Aku gak bisa janji kalau rumah tangga kita akan berjalan mulus, tapi aku bisa janji untuk selalu berada di sisi kamu dan membuat semuanya berjalan dengan baik,” lanjut Dimitri. Untuk kesekian kalinya, Dimitri kembali mencuri ciuman selagi Elang masih tertidur dengan lelap.
**
__ADS_1