Playboy

Playboy
#2# Take 27


__ADS_3

Tenang sebelum badai ;D besok ada yang mau ikutan Nabila kondangan di tempat duo r? Lumayan buat makan gratis, sekalian bawain kado buat calon pengantin ;)


Happy reading^^


 


***


 


Nabila sudah menceritakan tentang Juna pada Liliana, tebak bagaimana reaksi sahabatnya itu? Tentu saja ia tertawa dengan sangat keras, bahkan sepertinya Nabila baru saja menambahkan daftar kebahagiaan untuk wanita itu. Menyebalkan memang, tapi itulah yang terjadi dan selalu akan terjadi jika menurutnya lucu.


“Jadi kamu udah jadi idola berondong sekarang?” Liliana masih belum bisa menghentikan tawanya yang sulit untuk berhenti, karena itu memang sangat lucu untuknya.


Bukan soal di dekati oleh berondong hingga itu menjadi hal yang sangat memalukan, hanya tak pernah terbayangkan oleh Liliana sebelumnya jika dari banyaknya pria di sini, salah satunya adalah berondong yang mencoba mencari perhatian Nabila.


“Nyesel tahu, gak, sih,  cerita sama kamu,” gerutu Nabila.


Liliana berusaha menenangkan dirinya dan menghentikan tawa itu. “Oke, jadi Juna-Juna ini sering banget ngerecokin kamu dan bahkan suka gombalin kamu?”


Kali ini hanya ada mereka berdua, tanpa Dimitri dan juga Richard. Mungkin jika ada Richard, pria itu akan lebih keras menertawakan dirinya. Ya, ia juga tak bisa meminta untuk tak mendekatinya, memang siapa dirinya hingga merasa sespesial itu. Ia tak bisa mengontrol orang lain untuk mendekatinya atau tak mendekatinya, itu akan lebih buruk lagi. Mungkin banyak wanita di luaran sana yang akan mengutuknya.


“Ini cuman perasaan aku, tapi ya, aku ngerasa dia ngelakuin itu. Aku gak pernah cerita ini karena memang aku biasa aja dan gak nanggepin secara berlebihan …”


“Dan sekarang kamu mulai ngerasa gak biasa karena udah kamu ceritain sama aku?” potong Liliana.


Nabila mengangkat bahunya. Sejujurnya ya, tapi ia juga tak se-geer itu untuk mengatakan jika Juna ini memang menyukainya. Di kantornya itu sangat banyak wanita muda yang mungkin seumuran dengan Juna dan juga cantik, ia yakin ada beberapa yang menaruh perhatian berlebih pada asistennya itu. Lalu kenapa pria itu justru menghabiskan banyak waktu hanya untuknya?


Karena mereka adalah atasan dan bawahan secara langsung, itu jawaban yang sangat tepat. Tapi lagi, menurut Nabila, Juna sudah melewati batas yang tak seharusnya ia lewati, atau tak ingin di lewati oleh siapapun. Menjadi ibu tunggal saja sudah memegang tanggung jawab yang cukup besar, bagaimana jika di tambah dengan di incar oleh berondong?


Mungkin sebagian orang tak akan mempermasalahkan, atau bahkan tak mempedulikan, tapi bagaimana dengan sebagian lain yang merasa jika hal itu sangat salah dan tak pantas? Orang memiliki banyak sifat beragam, dari yang ia tunjukkan pada khalayak, maupun yang ia tutupi dari khalayak.


“Kalau kamu gak nanggepin secara berlebihan, dia juga pasti tahu batas, kan?” tanya Liliana lagi.


“Dia ngajakin aku pergi berdua untuk undangan Reno.”


Kali ini Liliana menatap Nabila tak percaya. “Dia bilang Ibunya satu geng arisan sama ibunya Reni, jadi dia juga di undang, dan dia juga gak sengaja ngeliat undangan aku tadi.” Nabila bisa melihat dengan jelas apa yang sedang di


pikirkan Liliana.


Liliana menggaruk keningnya pelan, karena memang tak gatal, ia hanya sedang berpikir. Ia juga tak pernah di dekati oleh berondong, jadi ia bingung harus bereaksi seperti apa. Berondong dan juga ibu tunggal adalah perpaduan yang sangat mencolok, sudah bisa terlihat bagaimana bentuk masa depan Nabila jika memang benar Juna ini mendekati sahabatnnya dengan maksud seperti itu.


Tantangan pertama adalah orang tua. Tak ada satu orang tua pun di dunia ini yang menginginkan anaknya untuk berhubungan dengan wanita yang menjadi janda dan juga memiliki anak. Mari berpikir lebih dalam lagi, karena ini memang harus di pikirkan dengan dalam sebelum semuanya terlanjur terjadi.


“Jadi kamu gak perlu Richard lagi?”


“Atau aku bawa Dimitri aja?”


Liliana mendelik menatap Nabila. Tak masalah membawa Dimitri sebenarnya, tapi Reno juga sudah tahu jika Dimitri sudah rujuk dengan Liliana, lalu apa gunanya? Nabila hanya tertawa melihat sahabatnya yang sudah menunjukkan ekspresi tak bersahabat. Ia sedikit merasa depresi sebenarnya dengan perlakuan Juna, ia bisa saja mengabaikan, tapi bagaimana jika pikirannya benar? Ia akan lebih depresi lagi.

__ADS_1


Nabila benar-benar ingin menganggap biasa saja semua perlakuan Juna itu dan hanya menganggap Juna sebagai asisten dan juga rekan kerjanya, sama seperti yang lain. Tapi, otaknya justru mengatakan hal lain, ia tak bisa membiarkan ini berlarut-larut.


“Atau aku coba aja?” tanya Nabila.


“Terserah kamu, asal kamu bisa ngadepin sisanya, dan anggap aja ini karena kesamaan yang tiba-tiba karena menurutnya kamu juga kenal sama pengantinya, lalu kenapa enggak?”


Semua akan baik-baik saja jika kita membiarkan pikiran kita memikirkan hal-hal positif, seharusnya memang seperti itu. Pikiran wanita itu sangat rumit dan selalu memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi di masa depan, kadang itu sangat baik tapi juga bisa jadi sangat mengganggu. Dan yang lebih besar adalah yang mengganggu, pikiran berlebih juga membuat orang lain mudah terserang sakit kepala.


Untuk apa juga memikirkan hal yang belum tentu terjadi saat ini, jika sudah seperti ini, Nabila akan sangat iri pada para pria. Mereka bisa dengan mudahnya memutuskan sesuatu tanpa membaca dampak apa yang akan di sebabkan. Sama seperti Juna, yang mungkin sudah memutuskan untuk mendekati Nabila tanpa mempedulikan


dampak apa di masa depan yang akan menantinya.


Hanya dengan memikirkannya sangat mudah, tapi ketika sudah tiba untuk menjalankannya, semua akan terasa menjadi beban. Saat ini, semua hal yang terpikirkan oleh Nabila adalah beban, pengecualian untuk kedua anaknya, karena mereka memang tanggung jawab Nabila dan juga penyelamatnya di kala hari terasa sangat berat.


**


Kate sudah bisa bernafas sedikit lega ketika kembali ke Jerman, walaupun kali ini ia harus berhubungan jarak jauh dengan Richard, setidaknya ada kejelasan yang sangat ia inginkan sejak beberapa bulan yang lalu. Hatinya lebih ringan saat ini dan ia bisa bekerja dengan baik lagi, seharusnya sudah ia lakukan sejak dulu, kan? Karena memang membicarakan segalanya dengan pasangan memang solusi yang paling tepat. Ini juga nasehat untuk banyak pasangan si luar sana, komunikasikan apapun permasalahan yang ada dengan pasangan, yakinlah semua akan


baik-baik saja setelah itu.


“Lisa, jika ada pesan penting atau berkas penting yang harus aku tanda tangani, segera bawa masuk ke dalam, ya?” pinta Kate pada Lisa, sekretarisnya.


Ia sedikit mengalami jetlag karena melakukan perjalanan panjang dari Jakarta, tapi ia tak bisa begitu saja


beristirahat, karena pekerjaan sudah menantinya. Hidupmu benar-benar berubah ketika memiliki tanggung jawab baru yang memang harus di pertanggungjawabkan. Jika seperti ini, harusnya Kate dulu tak perlu susah payah mencoba untuk bekerja seperti ini dan tinggal menjadi tunangan Richard saja.


“Ah, kemarin ada seorang wanita muda yang menitipkan kartu namanya dan meminta Ibu untuk segera menghubunginya.” Lisa menyerahkan kartu persegi panjang pada Kate.


“Apa ada pesan penting lain selama aku pergi?” tanya Kate lagi.


“Tidak ada.”


“Baiklah, terima kasih. Aku akan ke ruanganku.” Kate melemparkan senyum pada Lisa sebelum masuk ke dalam kamtornya. Sepertinya jetlag yang ia rasakan kali ini akan bertambah buruk lagi dengan kehadiran Michelle.


Setelah menghubungi kartu nama yang di berikan Lisa, Kate kini sudah berada di sebuah restoran yang menyediakan berbagai jenis makanan untuk makan siang. Ia sangat lapar, dan juga penasaran dengan Michelle yang meminta untuk bertemu dengannya, perasaannya sudah tak enak sejak menerima kartu nama itu tadi.


Ia tak takut dengan Michelle, ia hanya ingin menjaga hubungan baik dengan adik dari kekasihnya. Itu adalah hal yang paling penting. Kate sudah pernah bertemu dengan kedua orang tua Richard, dan mereka adalah orang yang sangat baik dan juga ramah, sangat berbeda jauh dengan Michelle yang terlihat lebih liar dan dingin. Bagaimana bisa dua saudara kandung memiliki sifat yang sangat bertentangan seperti itu?


Kate melihat Michelle memasuki pintu masuk restoran dengan sangat anggun dan elegan di balik kacamata hitam yang ia kenakan. Ia seorang model, wajar saja jika ia sangat anggun. Mungkin Kate bisa menjadi teman baik untuk Michelle jika saja wanita muda itu mau menerimanya dengan baik alih-alih bersikap dingin terus-terusan. Apa Kate tak memiliki karakteristik kakak ipar idaman?


Hingga Michelle duduk di hadapan Kate, semua di lakukan dengan sangat anggun. Jika mereka bisa berteman dengan baik, mungkin hal pertama yang mereka bicarakan adalah tentang mode yang sedang tren akhir-akhir ini. Kate sangat jago dalam urusan tersebut, jika saja Michelle ingin membuka diri padanya.


“Kau sedang ada pekerjaan di Jerman?” tanya Kate. Ia tahu bertanya kabar hanya akan menjadi kalimat pembuka yang sangat basi, dan Michelle tak akan menerima itu.


Michelle membuka kacamata hitamnya dan menampilkan wajah dingin khas yang hanya di miliki wanita itu. “Ya, kebetulan aku memiliki beberapa pemotretan di sini dan memutuskan untuk menyapa.”


“Kupikir kita tak sedekat itu untuk saling menyapa,” ujar Kate. Ia akan mengikuti Michelle, jika menjadi lembut tak akan meluluhkan hatinya, maka ia juga harus menjadi dingin.


“Kudengar kau putus dengan Richard.”

__ADS_1


“Ya, itu beberapa bulan yang lalu. Aku baru saja kembali dari Jakarta untuk memperbaiki hubungan kami, apa kau kecewa?”


Seringai Michelle terbit di bibirnya, lalu ia mengangkat bahunya. “Aku tak tahu kau segigih itu, kupikir kalian hanya akan putus dan menjalani kehidupan masing-masing. Itu yang biasa kau lakukan dengan mantan-mantanmu, kan?”


Ternyata Michelle sudah menggali tentang dirinya begitu jauh, apa ini bisa di katakan sebagai bentuk kasih sayang adik kepada kakaknya? “Setiap orang berubah, aku juga begitu. Jika semuanya lancar, mungkin aku akan meminta Richard untuk menikahiku,” ucap Kate.


Kate tak salah lihat, kan? Ia baru saja melihat senyum kecil terbit di bibir Michelle, walau tak bisa terlalu jelas karena tertutup dengan wajah dingin wanita itu. Tapi, Kate tetap yakin jika Michelle baru saja tersenyum dengan


kalimatnya itu.


“Baguslah.”


Kali ini Kate benar-benar menganga dengan kalimat yang di ucapkan sangat lirih itu. Apa ini tandanya Michelle sudah merestuinya dan menerimanya sebagai kekasih dari kakaknya? Semudah itu? Apa ini benar Michelle yang sama yang pernah ia temui kemarin?


**


Akhir pekan kali ini akan Liliana dan Dimitri habiskan di rumah orang tua Dimitri. Biasanya mereka rutin mengunjungi rumah mertua Liliana setiap minggu, tapi karena kesibukan yang ada dan juga kehamilan Liliana yang semakin membesar membuat agenda itu agak molor. Jadilah akir pekan itu mereka akan mengunjungi rumah mertua Liliana, Elang sudah berteriak dengan antusias karena hal itu.


Elang sangat menyukai jika harus bertemu kakek dan neneknya, karena ia akan sangat di manjakan. Ia sangat menyukai kakek dan neneknya, dan juga kakek dan neneknya yang ada di Jogja. Walau jarang bertemu, Elang akan menjadi sangat antusias karena hal itu. Bahkan ketika mobilnya baru saja berhenti di pekarangan rumah


kakek dan neneknya saja, Elang langsung menghambur keluar dengan antusias membuat Liliana dan juga Dimitri hanya menggelengkan kepalanya dengan pasrah.


“Kalian udah lama banget gak kesini, sih, liat itu Elang sampai kayak gitu.” Mama menyambut  anak dan menantunya dengan senyum lebar. Hubungannya dengan Dimitri perlahan mulai mencair dan akrab lagi, karena andil menantu kesayangannya itu tentu saja.


“Iya, Ma. Dimitri lagi banyak banget kerjaan, Lili juga udah mulai kerepotan.”


Mereka semua berjalan memasuki rumah dengan beberapa bawaan dan celoteh riang Elang dan juga kakeknya. Dimitri juga mulai bergabung dengan Papa dan juga anaknya itu.


“Kamu mau Mama cariin orang buat bantu-bantu kamu lagi, Mama gak mau menantu sama calon cucu Mama ini kerepotan lagi.”


Mama Ina mengelus perut Liliana yang kini sudah semakin membesar, usia kehamilan Liliana sudah memasuki usia dua puluh satu minggu. Minggu depan ia akan menjalani cek kesehatan rutin dan mulai melakukan USG untuk melihat jenis kelamin bayi.


“Gak perlu, Ma. Udah ada Bibi. Lili juga masih bisa ngurus semuanya sendiri, Mama tenang aja.”


Semenjak ia rujuk dengan Dimitri, Mama Ina menjadi sosok yang lebih perhatian dan bahkan protektif. Ia sangat memastikan jika semuanya baik-baik saja dan Dimitri tak melakukan kesalahan yang sama lagi. Bukan dalam artian ikuut campur, hanya seperti menjadi lebih saling terbuka dan saling menceritakan jika ada masalah yang mungkin mengganggu rumah tangga mereka.


“Kamu tahu, sekarang lagi marak banget, tuh, pelakor yang suka deketin suami orang. Mama heran, deh, kok masih ada gitu yang gangguin rumah tangga orang. Kayak laki-laki di dunia ini udah punah aja,” ucap Mama suatu kali, ketika awal-awal Liliana dan Dimitri baru saja rujuk.


“Kalau kata cewek-cewek jaman sekarang, Ma, suami orang lebih menggoda,” balas Liliana dengan tawa geli.


Liliana segera membantu mertuanya yang sedang menyiapkan makan siang untuk mereka semua, di bantu juga dengan asisten rumah tangga. Mama Ina selalu melarang Liliana jika ingin membantu di dapur, ia tak ingin menantunya itu kelelahan karena usia kehamilannya


“Udah, kamu duduk aja, tungguin semua makanannya mateng. Atau panggilin itu pria-pria yang asik sendiri di ruang tengah,” ucap Mama Ina untuk kesekian kalinya ketika Liliana mencoba untuk masuk ke dapur.


Liliana tertawa dengan julukan yang di berikan sang mertua itu. Ada tiga pria yang sangat asyik dengan dunianya menemani bocah kecil itu bermain. Setelah banyak pengusiran yang lain, akhirnya Liliana mengalah dan hanya duduk di meja makan. Kehidupannya benar-benar sudah berubah sekarang, dan ia hanya di kelilingi oleh hal-hal


baik.


Sepanjang siang itu juga hanya mereka habiskan untuk saling mengobrol dan tertawa, melihat tingkah dan pola Elang yang mencoba untuk berbicara dengan lancar walaupun terhalangi oleh cadelnya itu. Siang itu benar-benar di habiskan dengan sempurna.

__ADS_1


**


__ADS_2