
Ciee pada nebak reni hamil, tidak semudah itu teman-teman. kalian harus emosi dulu baru ntar reni beneran hamil ;D
Happy reading^^
“Gimana keadaan Aidan sekarang? Aku minta maaf banget karena gak bisa ngejenguk dia secara langsung,” ucap Liliana dengan rasa bersalah.
“Santai kali, Li. Lagian mau ngapain juga kalau emang keadaannya udah kayak kemaren. Yang penting sekarang anaknya udah baik-baik aja.”
Liliana mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan hanya dengan membayangkan anak sekecil itu yang kesakitan sudah mampu menimbulkan rasa ngilu di sekujur tubuhnya. Sama dengan membayangkan Elang yang terluka.
“Reno gimana? Dia hubungin kamu?”
“Gak ada masalah sama Reno, kok. Kami semuanya baik.”
Liliana kembali menatap Nabila dengan lekat. Ada yang berbeda dengan sahabatnya ini, wajahnya tak seceria sebelumnya dan raut kecewa itu sudah menghiasai wajahnya sejak ia muncul tadi. Sudah bertahun-tahun sejak mereka saling mengenal, jadi tak mungkin jika Liliana salah melihat perubahan tersebut.
“Tapi jelas kamu lagi ada masalah, kamu gak mau cerita?” bujuk Liliana.
Tawa kecil lolos dari bibir Nabila, bagaimana caranya untuk meloloskan diri dari ssahabatnya ini? Liliana memang sangat peka seperti itu, hanya dengan melihat raut wajah seseorang saja, otaknya sudah mampu mencerna kalimat lain.
“Kapan, ya, kamu bisa ngelepas aku dari jerat kepekaan kamu itu? Kadang-kadang aku ngeri sendiri kalau kamu bisa tahu hanya dari wajahku aja.”
“Jadi?”
Liliana memang seperti ini. Ia selalu sangat peka dengan permasalahan yang menimpa sahabatnya, bahkan mampu membuat orang lain selain sahabatnya menceritakan dengan sukarela masalahnya. Tapi, ketika ia
sendiri memiliki masalah.ia akan kebingungan dan akan mengunci rapat-rapat mulutnya. Itu adalah keadaan yang sangat tak adil dan juga sangat menyebalkan.
“Juna nembak aku kemarin,” lirih Nabila.
Entah Liliana harus kaget atau justru tertawa dengan senang, karena ia juga sudah menduga hal ini akan terjadi. Tapi, melihat dari raut wajah Nabila ketika mengatakannya, ada sesuatu yang pahit terjadi, karena juga tak mungkin Nabila hanya duduk diam di tempatnya ketika ada sesuatu yang tak beres. Pengungkapan perasaan Juna pasti tak beres untuknya.
“Dan kamu nolak dia?”
“Harusnya kayak gitu, Li. Kami memang gak cocok sama-sama dan memang gak bisa bersama, kamu sendiri yang bilang.”
Ada beberapa hal yang Liliana yakini sudah Nabila lakukan tanpa sepengetahuannya, melupakan Reno dan mulai membuka hatinya. Hanya saja dalam prosesnya untuk kembali membuka hati untuk pri lain, pasti memiliki banyak rintangan, dan juga tak akan mudah. Bagaimana mengobati hati yang sudah hancur hingga berkeping-keping?
Walaupun Juna muncul dengan angin segar di wajahnya dan mampu memberi semangat baru pada Nabila, ada beberapa hal yang tak bisa di lakukan pria muda itu. Seperti memasuki hati Nabila dengan cepat dan juga teliti, tanpa menimbulkan goresan lain.
“Aku pernah bilang sama kamu buat nyoba, semuanya gak harus dalam bentuk keseriusan, kamu bisa mencoba kenalan lagi dari awal, dan aku yakin dia gak seburuk itu walaupun berondong,” ucap Liliana dengan hati-hati.
“Justru karena aku janda dan dia berondong, kami gak seharusnya bersama, Li. Terlalu banyak perbedaan, dan aku memang gak cocok sama dia, kami gak seharusnya kembali bersama.”
Kenapa kalimat itu terdengar sangat menyakitinya? Hanya karena perbedaan yang ada, lantas kita tak boleh untuk bersama? “Siapa yang bilang kayak gitu? Gak positif banget kalimat yang kamu bikin, Bil. Kamu gak akan tahu sebelum nyoba.”
__ADS_1
“Dan jadi bahan gosip sekantor?”
Kini Nabila sudah sangat murung dan tertekan. Kini Liliana semakin yakin dengan pemikirannya bahwa ada hal lain yang belum Nabila ceritakan padanya. Segala hal pasti memiliki pemicu yang menyebabkan kisah ini untuk berakhir dengan yang tak di inginkan oleh siapapun.
Bagaimana Nabila bisa tenang untuk menerima cinta Juna ketika satu kantor menggunjingkannya, mungkin bahkan sudah menyebabkan kisah yang berbeda dari yang seharusnya. Dari nada bicaranya kemarin, ia yakin jika Arlina meiliki perasaan lebih untuk Juna.
“Maaf, Bil. Aku gak tahu soal masalah itu, kamu mau aku peluk? Aku buka jasa peluk gratis khusus buat kamu.”
Nabila pura-pura mendengus, tapi tetap masuk ke dalam pelukan sahabatnya. Kali ini ia butuh untuk benar-benar di temani seperti ini dan hanya di peluk. Jika ia kembali menceritakan apa yang terjadi di kantornya, mungkin ia akan berakhir dengan tangisan. Hidupnya memang jadi semengerikan itu dan juga sangat menyakitkan.
**
Serangan panik. Malam itu, pada acara makan malam yang di adakan oleh sang ayah, Reni mengalami serangan panik ketika Reno menemuinya. Hal itu memang sering terjadi pada dirinya dalam beberapa tahun ini, tapi malam itu, rasanya serangan panik yang ia lakukan lebih parah dari biasanya karena lama durasi dari serangan panik itu.
Menemukan Reno di samping ranjangnya yang tengah tertidur dengan posisi duduk itu adalah salah satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Andai saja setiap hari mereka bisa melakukan hal ini, dan juga hal lain selayaknya pasangan suami istri yang lainya. Bisakah ia untuk meminta hal itu dan mengabulkan apa yang sedang terjadi? Orang jahat sekalipun, selalu mengharapkan untuk di cintai, termasuk dirinya.
Reni sangat sadar apa yang ia alami tadi malam, ia juga manusia biasa terlepas dari apa yang ia lakukan. Ia juga memiliki luka yang tak pernah orang lain ketahui, kecuali mungkin Reno, karena sejak kuliah hanya Reno yang menjadi teman dekatnya. Lucu sekali rasanya hidup yang ia jalani saat ini.
“Kalian lihat tadi si Reni datang sama suaminya? Kalau aku jadi dia, aku gak bakalan punya muka untuk datang ke setiap acara di tempat umum kayak gini,” ucap seorang wanita yang sedang memegang gelas bertangkai yang berisi anggur.
“Aku lebih bingung sama suaminya, kenapa dia mau sama cewek gak bener kayak gitu. Reni ini cuman karena orang tuanya pengusaha kaya dan punya segalanya, bayangin kalau dia bukan siapa-siapa,” timpal salah satu wanita lainnya dengan lipstik berwarna merah menyala.
“Pelakor kayak dia gak akan pernah punya malu, liat aja tingkahnya yang sok polo situ.” Wanita dengan gaun emas itu juga tak mau kalah dengan opininya.
“Kira-kira karma kayak apa yang bakal dia dapetin nanti? Gak sabar banget ngeliat kehancuran dia dan juga keluarganya itu.”
Reni tak pernah tahu jika kalimat seperti itu mampu membuatnya mendapatkan serangan panik yang sudah lama tak ia dapatkan. Sudah sejak lama rasanya ketika terakhir kali ia mengalami serangan panik, atau mungkin sejak ia tak mengkonsumsi obat penenang seperti yang di resepkan.
Tak ada yang melihat semua itu kecuali dirinya sendiri, bahkan Reno pun mungkin juga sama seperti yang lainnya. Tak apa, Reni mampu melewati semua itu, ia hanya butuh kesabaran lebih banyak lagi dan mungkin kesabaran lebih banyak lagi.
“Kamu udah bangun?” tanya Reno dengan suara serak.
Reni menatap Reno yang baru saja bangun dan menatapnya dengan wajah kusut, sekarang ia bingung bagaimana menghadapi suaminya ini. Pria ini belakangan hanya melihat sisi jahat yang ia miliki, lalu di saat seperti ini ia tak bisa hanya sekedar untuk menatapnya.
“Kamu gak kerja?” tanya Reni.
“Aku siapin sarapan buat kamu dulu, kamu istirahat dulu di sini.”
Reno bangkit dari duduknya, lalu meregangkan tubuhnya sebelum melangkah keluar kamar Reni. “Gak perlu, aku udah baik-baik aja,” balas Reni.
“Sejak kapan kamu minum obat penenang itu?” Reno berbalik untuk menatap Reni yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Bukan urusan kamu juga, kita juga gak perlu saling peduli kayak gini kecuali di depan umum. Jadi, jangan pernah pedulikan aku, Reno.”
Semua orang sudah tahu betapa keras kepalanya Reni, mungkin Reno sudah khatam untuk menghitung seberapa besar keras kepala yang ada di diri Reni. Tak penting seberapa dekat atau seberapa lama mereka bersahabat, tetap ada rahasia yang tak Reno ketahui di sini.
“Setidaknya lihat perhatianku ini sebagai sahabat, aku tahu—“
__ADS_1
“Kamu gak tahu, kamu gak tahu seberapa dalam luka yang ada. Jadi sebaiknya kamu tak perlu mencari tahu, jangan masuk lebih dalam ke kehidupanku,” potong Reni.
Luka batin tak pernah bisa terlihat oleh orang lain, semua itu selalu bisa di sembunyikan dengan baik oleh orang yang sudah memiliki luka itu sejak lama. Bisa saja di perlihatkan kepada dunia agar semua orang mengetahuinya, tapi apa poin utamanya? Apa orang lain akan peduli? Apa mereka akan simpati, lalu membantunya hingga masalah itu tuntas?
Belum pernah ada yang seperti itu, orang lain juga tak akan ada yang peduli. Luka batin itu tetap hanya kita yang paling mengerti dan mampu mengobati.
**
Tekad itu sudah bulat ada di hati Elle, ia akan mengakhiri pekerjaannya dengan Enzo dan benar-benar memulai hal baru denganibunya. Ia tak bisa hanya tetap seperti ini dan berharap nasib akan berpihak padanya. Takdirnya selalu buruk dan tak pernah berpihak padanya, jadi tak ada alasan untuknya bertahan lebih lama di sana.
“Bukankah aku sudah mengatakan jika aku tak menerima surat ini?” tanya Enzo ketika Elle menyerahkan surat pengunduran dirinya—lagi.
“Aku akan membayar denda yang tertulis di kontrak, semuanya tanpa terkecuali.”
Enzo menatapnya tak percaya. Dari semua wanita yang pernah ia temui, Elle adalah yang tersulit yang pernah ia temui. Tapi ia juga tak tahu jika akan sesulit ini. Dari semua hal yang sudah ia lakukan secara terang-terangan untuk meminta wanita itu tinggal di sisinya, tak ada satupun yang wanita ini tangkap dengan baik. Atau memang Elle hanya tak ingin bersamanya.
Ia bangkit dari duduknya, berdiri di hadapan Elle yang juga tengah menatapnya. Enzo bersandar di meja kerjanya dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celananya. “Kau benar-benar tak tahu, atau kau hanya tak ingin tahu tentang perasaanku?”
“Perasaan seperti apa? Selama ini kita hanya atasan dan bawahan, perasaan apa yang kau maksud?”
Keduanya saling bertatapan dengan wajah datar, berusaha untuk mengetahui perasaan masing-masing lewat tatapan itu. Jika bukan karena tekat kuat yang Elle miliki, ia tak mungkin berani menatap bola mata kelam itu tanpa gentar seperti ini. Bola mata itu adalah kelemahannya, ia mampu hanyut untuk waktu yang lama hingga terjebak dalam tatapan itu.
“Apa ada atasan dan bawahan yang saling mencium dengan segenap hatinya? Dan aku tak pernah mencium wanita tanpa alasan yang jelas.”
Elle menyeringai, raut wajahnya saja sudah dingin, seringai itu hanya menambah tingkat kekejaman wajah cantik itu. “Kau memang orang yang kuno seperti ini, ya? Zaman sekarang ini, ciuman adalah hal yang lumrah. Seperti dua orang asing yang bertemu di klub malam lalu mereka berakhir di kamar hotel, apa mereka butuh alasan? Mereka hanya menyalurkan nafsu saja, tak ada hal spesial.”
Satu hal yang sangat Enzo benci, wanita ini cukup sulit untuk di baca. Bola mata coklat itu sama sekali tak bergetar ketika bertemu dengan matanya, dan ekspresi wajah itu sama sekali tak menunjukkan apapun. Membuatnya sangat penasaran dan ingin mengetahui lebih dalam apa yang di pikirkan gadis ini.
“Kalau begitu beri alasan kenapa aku harus menerima surat pengunduran dirimu.”
“Urusan pribadi. Apa harus kuberitahukan semuanya padamu? Apa kau selalu seperti ini pada setiap sekretarismu?”
“Apa karena Brian? Atau ibumu? Atau mungkin hutang-hutangmu yang menumpuk sangat banyak itu? Beri aku alasan agar aku bisa menerima surat ini.”
Wajah Elle seketika menegang. Selama ini Enzo terlihat sama sekali tak peduli dengan hidupnya, pria ini juga tak menunjukkan ketertarikannya pada kehidupan sehari-seharinya, kecuali fakta bahwa ia hanya sekretarisnya. Sebenarnya, jika di pikir-pikir lagi, tak mungkin seorang Enzo tak mengetahui apapun tentang dirinya, itu salah satu hal mustahil yang pernah ada.
Ia tahu. Pria ini sengaja memegang seluruh kartu as yang ia miliki, lalu mengeluarkannya pada saat genting untuk mengancam. Pria kaya memiliki trik yang serupa, Elle juga sangat tahu akan hal itu.
“Sejauh apa yang kau tahu?” Elle berusaha untuk menahan tangisnya yang hampirpecah dengan senyuman kecil. “Ah, aku tahu. Kau sengaja melakukan ini padaku, kalau begitu apa yang kau inginkan dariku? Tubuhku? Aku tak
memiliki hal lain juga untuk di berikan selain tubuhku.”
Memikirkan orang lain mengetahui semua rahasianya saja sudah sangat menyakitkan, dan orang lain itu adalah Enzo. Satu dari banyaknya pria yang ia harapkan tak mengetahui apapun tentang hidupnya, tapi lagi-lagi ia tertipu oleh wajah tampan tanpa dosa itu. Dunia yang ia miliki saat ini sama sekali sudah tak memiliki arti apapun, tapi jika di pikir lagi, dunia mana yang ia miliki?
“Lagipula semua pria seperti kalian memang sama saja, kan? Selalu mengintimidasi orang lain dengan kelemahan yang diam-diam ia ketahui. Jadi, apa?”
Ia biarkan air mata itu mengaliri pipi putihnya, pria ini sudah mengetahui rahasianya, jadi biar kali ini ia meledak di hadapan pria ini juga. Ia juga lelah menahan semua perasaan yang tak bisa ia ungkapkan dengan leluasa. Ia sangat lelah.
__ADS_1
Enzo melangkah mendekati Elle, lalu membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukannya tanpa mengatakan apapun. Perasaannya nyata, dan ia juga menginginkan wanita ini. Melihatnya hancur seperti ini, membuat sudut hatinya terluka, ia tak bermaksud untuk melukai wanita yang ia cintai, ia hanya ingin wanita ini tahu perasaan yang sebenarnya ada di dirinya. Enzo ingin perasaannya terbaca dengan jelas oleh wanita ini.
**