
Rapat yang diadakan oleh kliennya di Jerman sudah berakhir, tapi Dimitri masih memandangi dengan kosong kertas-kertas di hadapannya. Rangkaian ingatan tentang kejadian kemarin masih berputar-putar di kepalanya. Dimitri tak akan seperti ini jika saja pria yang tak di kenal itu memperkenalkan diri sebagai orang lain, alih-alih kekasih Liliana.
Ia sudah tak memliiki hak atas Liliana, itu yang sedang sangat ia pikirkan. Tak ada yang salah, kan, ketika kita masih mengharapkan mantan istri kita sendiri? Perasaan itu masih tersimpan di hatinya dengan sangat rapi, dulu adalah kesalahan, karenanya penyesalan yang ada di hati semakin menjadi-jadi. Ia bahkan belum sempat menanyakan apapun tentang Liliana, karena wanita itu langsung memutus kesempatan yang ada.
“Kekasih?” tanya Leah tak percaya.
Dimitri juga menanti untuk jawaban itu lebih lanjut, ia sangat kaget ketika seorang pria tak di kenal memeluk Liliana, lalu mendeklarasikan kalau Liliana adalah kekasihnya. Lelucon macam apa yang baru ia hadapi saat ini?
“Maaf harus mengatakan ini, tapi sejak tadi aku merasa tak nyaman denganmu. Aku sebenarnya memiliki janji dengan kekasihku, tapi karena ini perintah Ayahku untuk menemuimu, aku tak bisa menolak hal itu,” ucap Enzo percaya diri.
Liliana benar-benar tak mengerti dengan situasi membingungkan ini, apalagi pelukan Enzo yang mengerat. Ia sama sekali tak mengetahui siapa wanita ini, ia juga tak peduli, tapi kalimat yang baru di sampaikan Enzo tadi rasanya sangat menyakitkan. Walaupun wanita ini misalnya adalah seorang pengganggu, tetap saja menyakitkan, kan?
“Kau benar-benar kekasihnya?” tanya Leah. Matanya menatap Liliana cukup tajam.
Enzo meremas pinggul Liliana, tak terasa sakit, Liliana hanya sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan Enzo. Ekor mata Liliana menatap Dimitri yang sama terkejutnya dengan wanita tak di kenal ini. Mungkin tak masalah jika Liliana melakukan ini, setidaknya bisa membantu Dimitri untuk tak menemuinya lagi.
“Ya, aku kekasihnya.” Liliana bahkan membuat semua itu terlihat nyata dengan semakin merapatkan tubuhnya pada Enzo. Tak masalah jika ia akan di pecat karena ini, toh bukan dia yang memulai semua ini.
Dimitri menggelengkan kepalanya dengan gusar, ingatan hari itu benar-benar mampu menguras pikirannya. Tapi mereka juga sudah bercerai, apa lagi yang akanDimitri harapkan lagi? Liliana juga sudah tak ingin berdekatan dengannya.
“Permisi, Pak. Rangkuman rapat hari ini akan saya kirimkan ke email bapak, beserta lampiran cetaknya, serta proposal yang di minta oleh pihak mereka akan saya siapkan.
Dimitri terkesiap dengan kalimat sekretarisnya. Ia bahkan sempat melupakan kalau sedang menghadiri rapat dengan salah satu kliennya. Ya, ia melakukan terobosan besar dengan terbang jauh-jauh ke Jerman untuk menandatangani kontrak perjanjian kerja. Jika saja bisa datang ke Indonesia, mungkin Dimitri tak perlu terbang
sejauh ini.
Hanya satu hal baik atas dampak pekerjaannya ini, ia bertemu Liliana. Sisanya ia sudah tak peduli lagi, saat ini ia hanya perlu memikirkan cara untuk bisa berbicara pada Liliana. banyak hal yang ingin ia bicarakan, termasuk anak
mereka. Dimitri bahkan tak mengetahui apakan itu putra atau putri. Ayah yang sangat buruk, kan? Tak perlu di ingatkan, ia sudah sangat menyadarinya.
“Baiklah, kita kembali ke hotel saja.”
**
Setelah kejadian kemarin, Liliana tak bisa fokus dalam pekerjaannya. Banyak hal berputar-putar di kepalanya, pertemuan mengejutkan dengan Dimitri, Enzo yang tiba-tiba mengakuinya sebagai kekasih, lalu Dimitri yang tak sengaja menyaksikan itu semua. Ketiga hal itu selalu berputar-putar sejak tadi malam, yang paling mendominasi tetap Dimitri.
Ini baru satu tahun sejak perpisahan mereka, bahkan Liliana harus berlari sampai sejauh ini, dan ia masih bisa bertemu dengan Dimitri. Entah lelucon macam apa yang sedang terjadi saat ini. Jika Dimitri sudah mengetahui keberadaannya, itu artinya ada kemungkinan besar Dimitri akan berkunjung ke Jerman lagi. Mungkin lain kali bukan sebagai klien, tapi sebagai Ayah dari putranya.
Liliana tak ingin dengan percaya dirinya mengatakan kalau Dimitri masih mencintainya, itu pendapat tak berdasar, dan Liliana juga tak ingin menebak-nebak. Bisa saja, kan, jika Dimitri sudah menikahi Evelyn, lalu setelah mengetahui keberadaan dirinya, ia akan merebut putra yang Liliana kandung dengan penuh usaha berat.
Ya, bisa saja seperti itu. Mungkin Liliana harus menyiapkan pengacara lagi untuk melawan ini semua.
“Elang sakit lagi?” tanya Florence. Ia sudah sejak tadi mendapati Liliana dalam berbagai kesempatan ketika belum banyak pengunjung, melamun seperti ini dengan pandangan kosong.
“Ah, Frau, tidak, Elang baik-baik saja. Aku hanya berpikir harus memasak apa nanti malam,” jawab Liliana kikuk.
Setidaknya Florence sudah mengetahui kalau Liliana sudah bercerai dari suaminya dan terbang jauh-jauh ke Jerman hanya untuk memulai kehidupan baru. Florence hanya mengetahui seperti itu, walaupun ia sangat ingin tahu tentang alasan Liliana melakukan itu, tapi ia menahannya. Mereka hanya rekan kerja, dan Liliana juga tak menceritakannya, semua itu berarti Liliana tak ingin orang lain mengetahui alasan tersebut.
__ADS_1
“Padahal aku ingin menyuruhmu pulang jika memang putramu sedang sakit.”
“Tidak perlu, Frau. Gajiku sudah terlalu di potong sepertinya, aku akan mencuci wajahku lalu kembali,” jawab Liliana dengan senyum tipis.
Ternyata waktu juga tak selalu bisa menyembuhkan segalanya, atau mungkin butuh waktu sedikit lebih lama lagi untuk sembuh dari semua ini? Liliana sudah berkali-kali mengalami hal seperti ini, rasanya sudah sangat muak, tapi juga sepertinya ini adalah jalan takdir dari semua skenario Tuhan
Liliana lelah tentu saja, harus berlari dari segala hal yang ada. Tapi, ini semua sudah berakhir, kisahnya dan Dimitri sudah berakhir satu tahun lalu. Hanya Elang yang menghubungkan mereka saat ini, dan ia belum siap untuk mempertemukan Dimitri dan juga Elang. Ia ingin, ketika keduanya di pertemukan, perasaan Liliana sudah berubah.
“Ya, Ma. Aku sudah memutuskan untuk bekerja di sini seperti yang di perintahkan oleh Enzo, sepupu menyebalkan itu,” gerutu Katherine.
Liliana memasuki toilet dan melihat Katherine sedang menelepon seseorang, mungkin Ibunya, karena Liliana sempat mendengar kata ‘Ma’ tadi. Semoga setelah ini, Katherine tak kembali curhat padanya. Oke, wanita itu sangat ceria, dan semua hal yang ada di diri wanita itu mengingatkannya pada Nabila, cukup kemarin saja Liliana memiliki keterkaitan dengan Enzo. Entah apa yang akan terjadi jika Katherine juga akan mengakrabkan diri padanya.
“Aku akan melakukan semua keinginan Ayah, tapi dengan syarat, tidak ada perjodohan dalam bentuk apapun… Ya, katakan juga pada Ayah… Aku akan pulang akhir pekan ini… Sudah, ya, aku harus kembali bekerja.”
Tanpa menunggu jawaban sang Ibu, Katherine memutuskan panggilan tu secara sepihak. Ia sangat tahu adab sopan santun pada orang tua, hanya saja, ia tak ingin mendengar ceramah Ibunya lagi.
“Kau pernah di jodohkan?” tanya Katherine.
Liliana mendongak, ia menatap Katherine dari pantulan kaca wastafel. Walaupun sikapnya sudah sangat dingin ketika menanggapi semua ocehan Katherine, wanita itu tetap mengajaknya ngobrol. Tak aneh, hanya saja, Liliana bingung harus memberikan sifat dingin yang seperti apa lagi agar wanita ini menghentikan semua aksinya?
“Pernah, dan aku menyesal tak menerima perjodohan itu.”
Dan bodohnya Liliana, ia tetap menjawab pertanyaan Katherine, seharusnya ia diam saja. “Kenapa?”
“Well, cinta tentu saja,” ucap Liliana dengan senyum getir. Seandainya dulu ia menerima Dewa saja, mungkin kisahnya tak akan semenyedihkan ini. “Jangan porsikan cinta terlalu banyak ketika kau menikahi seseorang, karena ada banyak faktor lain yang harus di tambahkan di dalam pernikahan itu. Pastikan semuanya pas agar pernikahan lancar.”
Katherine menganga mendengar kalimat Liliana, bisa di bilang ini adalah kalimat terpanjang yang wanita itu sampaikan pada Katherine. “Apa itu menjawab pertanyaan, kenapa kau tak terlihat mengenakan cincin pernikahan dan juga seorang bayi?”
“Err… Apa kau bisa menolongku?”
Liliana membalikkan tubuhnya dan menatap Katherine. “Aku akan pergi setelah jam bekerja selesai, jika Enzo mencariku, katakan saja aku sedang di rumah temanku,” ucap Katherine.
“Kenapa aku harus melakukan itu?”
Katherine menatap Liliana dengan nanar, wanita ini lebih tangguh dari yang sebenarnya. Ia pikir selama ini hanya Enzo saja yang memiliki sifat dingin, tapi ada wanita yang lebih mengerikan dari Enzo.
“Aku hanya meminta tolong sebagai sesama wanita, tak masalah jika kau tak melakukannya. Jika kau memiliki hati pasti bisa melakukan itu.” Jawab Katherine sama dinginnya.
Liliana tak mengatakan apapun, ia hanya segera membalikkan tubuhnya dan pergi dari toilet itu. Liliana benar-benar sangat tangguh untuk ukuran wanita yang sudah berkali-kali di sakiti. Padahal hatinya serapuh itu, dan ia masih mencoba untuk selalu kuat. Bagaimana bisa ada gadis sekuat itu?
**
Sepertinya kartu keberuntungan Liliana memang sudah tak tersisa sedikitpun, sore itu, Liliana melihat Dimitri berada di depan gedung apartemennya. Orang bodoh pun pasti akan mengetahui kalau Dimitri sedang menunggu dirinya, memang siapa lagi yang di kenal oleh Dimitri di Jerman ini selain Liliana?
Liliana berjalan dengan ragu menghampiri gedung apartemennya—Dimitri—seolah tak terjadi apapun. Setelah kemarin, Liliana sangat yakin kalau pertemuan mereka belum berakhir, dan terbukti dengan kehadiran pria itu.
“Ada apa kemari?” tanya Liliana ketika sudah ada di hadapan Dimitri.
__ADS_1
Basa-basi sepertinya sudah tak di perlukan lagi, keduanya sudah mengerti apa yang kurang di antara mereka. Lalu untuk apa untuk kembali berpura-pura untuk mengerti? Ketika semuanya selesai lebih cepat juga akan bagus untuk mereka berdua.
“Aku kembali ke Indonesia besok,” ucap Dimitri.
Mereka berdua terdiam lagi, suasana canggung kembali menguar di antara mereka. “Berhati-hatilah.”
Keduanya bertatapan lagi, karena banyak masalah hasil perbuatan Dimitri, ia sangat merasa bersalah. Perasaan itu tak bisa ia abaikan begitu saja, membuatnya tak bisa mengatakan apapun ketika sudah berhadapan dengan Liliana seperti ini.
“Nabila juga belum tahu keberadaanmu, kamu gak mau sampaikan salam buat dia?”
Liliana sangat tahu betapa gugupnya Dimitri saat ini, dan canggungnya mereka saat ini. Jantung Liliana sudah berdebar tak karuan, tapi ia masih belum bisa memastikan perasaan berdebar ini apa. Karena jika ini rindu, Liliana tak mengerti bagaimana harus menghadapi. Ia ingin perasaan apapun yang masih tersimpan pada Dimitri segera
menghilang. Rasa rindu yang bercampur rasa sakit sangat menyesakkan, ada rindu yang menggebu-gebu, tapi rasa sakit itu juga mendominasi, membuatnya tak bisa lepas merasakan rindu itu.
“Seorang putra, namanya Elang.”
Dimitri menatap Liliana terkejut, itu anak mereka, kan?
“Aku menghormatimu sebagai Ayahnya, tapi aku hanya bisa melakukan sampai di sini. Dia akan bertemu denganmu ketika…”
Liliana tak melanjutkan kalimatnya, tak mungkin jika ia mengatakan kalau harus menunggu hatinya siap, kan? Pria ini tak boleh mengetahui apapun tentang dirinya, anggap saja sebagai hukuman atas semua yang terjadi.
“Lebih baik kamu pulang, kamu harus istirahat untuk penerbangan panjang.”
Liliana berbalik untuk meninggalkan Dimitri, hatinya tak benar-benar siap menghadapi pria ini. Bertemu Dimitri sama dengan menguak masa lalu dan semua permasalahan yang ada di dalamnya, dan permasalahan itu harusnya sudah selesai. Yang di maksud adalah perasaan mereka. Di mata hukum dan agama mereka sudah berpisah, tak ada lagi masalah yang mengikuti mereka, karena tak ada tuntutan yang di berikan dari kedua pihak. Semuanya selesai dengan baik. Hanya hati mereka yang masih terikat oleh sesuatu.
“Li…”
“Lili!”
Liliana menolehkan wajahnya lagi, dan lagi-lagi Enzo berada tak jauh darinya dengan senyum lebar. Pria itu lagi, ah, Liliana baru mengingat tentang obrolannya dengan Katherine tadi siang. Liliana melirik Dimitri dari ekor matanya, yang wajahnya sudah berubah menjadi datar. Salahkah semua ini?
Enzo berjalan dengan senyum manis yang di tujukan pada Lilliana, mau tak mau Liliana juga membalas senyum itu. Harus totalitas, kan? Semuanya terjadi secara tak sengaja, jika dengan cara ini Dimitri bisa melepaskannya, maka ia akan melakukan apapun.
Sekeras apapun Liliana berusaha menepis tentang perasaan yang tergambar jelas di mata Dimitri, Liliana masih bisa melihat cinta itu. Sangat menyebalkan ketika kita berpisah dalam keadaan masih saling mencintai, bersikap seolah-olah kita sudah tak mencintai satu sama lain sangat menyakitkan. Tapi apa lagi pilihannya? Memang ini jalan mereka.
“Aku mencarimu kemana-mana, dan katanya kamu sudah pulang,” ucap Enzo lembut.
Rasanya semakin aneh ketika mendapati pria dengan wajah datar ini mengucapkan kalimat dengan lembut. Rasanya sangat tak cocok.
“Ya, pekerjaan selesai lebih cepat hari ini.”
“Oh, kau di sini lagi hari ini?” tanya Enzo pada Dimitri.
“Ya, aku hanya mengucapkan selamat tinggal, besok aku akan kembali ke Indonesia,” jawab Dimitri dengan getir. Bukan ini yang ia harapkan ketika bertemu kembali dengan Liliana, lagipula semua sangat tiba-tiba, apalagi yang harus di protes.
Enzo memberikan senyumnya yang hanya di balas dengan anggukan oleh Dimitri. Ia mengucapkan selamat tinggal sebelum berbalik pergi. Setelah berjalan beberapa langkah, ia kembali membalikkan badan, dan menemukan Liliana yang sudah berada di pelukan pria itu. Pemandangan yang sangat menyakitkan, salah satu dari mimpi terburuk yang pernah ia alami. Besok, ketika ia bangun, semoga semuanya sudah kembali seperti semula.
__ADS_1
Bertemu dengan Liliana adalah hal terbaik yang pernah terjadi, tapi tidak dengan pria itu. Apakah Liliana bahagia bersama pria itu? Apa pria itu bisa menerima anak mereka? Apa pria itu memperlakukan keduanya dengan baik? Semua itu berputar-putar di kepalanya, setelah semua ini, ia tak yakin bisa menjalani kehidupan dengan baik.
**