
Hai, aku pengen tahu, sejauh ini kalian baca playboy, ngerasa bosen gak sih? Atau mungkin mikir, 'ini kenapa kisah cintanya ribet banget sih, gak kelar-kelar dari kemaren', pernah gak sih mikir gitu?Ceritain ya
Happy reading^^ Happy monday juga, semoga seninnya lancar-lancar aja ya^^
Buat kalian yang nebak Dimitri di part sebelumnya, mungkin kalian terlalu benci sama Dimitri, atau kalian bucinnya Dimitri ;)
Liliana menoleh mendengar panggilan itu di keramaian, dan menemukan Katherine yang berjalan mendekati keduanya.
“Sudah waktunya untuk menyampaikan sambutanmu,” ucap Katherine. Ia menepuk bahu Enzo seperti tak terjadi apapun.
“Pastikan selalu di samping Liliana, kau bertanggung jawab atas dirinya malam ini,” ucap Enzo sebelum pergi.
Katherine hanya mencibir ucapan sepupunya. “Dia menyebalkan, kan? Apa jas ini miliknya juga? Pria itu benar-benar! Apa dia tak tahu mode sama sekali.”
Liliana hanya tersenyum melihat Katherine yang mengomeli sepupunya yang kini sudah berada di atas panggung. Hanya tersisa kemeja putih lengan panjang dan juga vest berwarna hitam, walaupun begitu dia tetap tampan. Apa sekarang Liliana sudah terlihat seperti wanita yang berselingkuh dari suaminya? Karena itu adalah kenyataan yang harus di hadapi.
Ia menatap Enzo yang sedang memberi sambutan dengan senyum getir, ia tak sedang jatuh cinta dengan Enzo, tak akan semudah itu untuk jatuh cinta lagi setelah semua hal yang terjadi. Belum ada solusi yang bisa ia temukan untuk semua ini, hidupnya seolah terikat oleh belenggu yang tak terlihat. Ia ingin melangkah lebih jauh, tapi ada yang menahannya, itulah kenapa mereka di pertemukan kembali saat ini. Karena ada yang belum selesai di antara mereka.
“… ya, kan?”
Liliana menolehkan kepalanya, ia seperti mendengar Katherine menanyakan sesuatu. “Kau mengatakan sesuatu?”
“Sepertinya kau sangat ingin pulang, ya? Kau sudah tak fokus lagi,” ucap Katherine.
“Tidak, hanya…”
“Setelah sambutan Enzo kita akan pulang, aku juga tak bisa berlama-lama di sini, aku adalah orang yang sangat bertanggung jawab, tak perlu terlalu khawatir.”
Liliana hanya mengiyakan saja, pikirannya memang sedang penuh dengan banyak hal, dan belum ada satu jalan keluar pun yang mampu ia temukan. Otaknya mendadak tumpul jika memikirkan masalah baru, kapan semua ini bisa berakhir?
Lamunan Liliana kembali terusik dengan tepukan meriah dari para tamu ketika Enzo menyelesaikan sambutannya, Liliana yakin itu sambutan yang keren karena semuanya dalam bahasa Jerman. Ia tak ingin tahu apa isinya, karena tak berhubungan dengannya.
“Sepertinya kami akan pulang,” ucap Katherine ketika Enzo kembali menghampiri mereka.
“Kau harus tetap tinggal, bagaimana dengan Paman dan Bibi?”
“Aku sudah berbicara dengan mereka, tak ada yang serius. Lagipula aku sudah berjanji pada Liliana untuk mengantarnya pulang.”
Enzo memperhatikan Liliana sebentar. “Aku antarkan sampai depan.”
Ketiganya berjalan menuju pintu depan, sesekali berhenti untuk menyapa para tamu yang di kenal Enzo, sampai langkah mereka berhenti ketika hampir sampai di pintu yang di maksud. Bukan hanya Liliana dan Enzo, Katherine juga melakukan hal yang sama. Apa mereka juga mendapatkan undangan untuk menghadiri pesta ini? Richard
dan Dimitri.
“Oh, hai Liliana, gak nyangka kita ketemu di sini.” Richard adalah orang pertama yang mencairkan suasana canggung di antara mereka. Ia berjalan mendekati Liliana, lalu mengulurkan tangannya.
“Ya, kebetulan yang gak pernah di sangka,” ucap Liliana. ia menerima uluran tangan Richard di hadapannya.
“Tunggu, kalian saling kenal?” tanya Katherine penasaran. Ia sangat kaget dengan interaksi tak biasa itu, dan juga bahasa yang di gunakan, Katherine juga cukup familiar dengan bahasa tersebut.
Semua mata menatap Katherine saat ini dengan tak kalah penasarannya. Richard tahu, ia bahkan sangat ingat dengan wanita yang berada di sebelah Liliana ini, bagaimana ketika wanita itu tiba-tiba meninggalkannya di hotel tanpa pesan apapun, lalu seluruh hinaan—menurutnya—yang ia terima malam itu. Richard ingat semua hal itu
tanpa terlewat sedikitpun.
“Aku hampir menikahinya dulu,” jawab Richard. “Jadi bisa di bilang wanita ini adalah mantan kekasihku.” Richard menjawab semua itu dengan bahasa Jerman yang sudah lebih baik di banding malam itu. Semua kuncinya hanya belajar, dan semua hal bisa kita pelajari dengan mudah.
__ADS_1
“Ah, dia ini teman dari Indonesia, kalian juga sudah kenal?” tanya Liliana.
“Ya.”
“Tidak.”
Katherine dan Richard mengucapkan jawaban itu secara bersamaan, dan yang lain kini memandang mereka dengan aneh. Liliana bahkan melupakan pertanyaan tentang kenapa pria ini bisa ada di sini, walaupun tetap jawabannya sudah jelas, Dimitri ada di sini dan mereka bersahabat. Itu semua sudah cukup jelas untuk mendapatkan jawaban.
“Kau ingin di sini lebih lama, Kate?” tanya Enzo.
“Well, kau benar, kita harus pulang, Liliana.” Katherine masih terlihat gugup karena pertemuan tak terduganya. Ia akan berterima kasih lain kali pada Enzo karena sudah menyelamatkannya.
“Kamu udah mau pulang, Li?” tanya Richard.
“Ya, aku harus pulang…,”
Ucapan Liliana seperti masih memiliki kelanjutan, ia menatap Dimitri dari ekor matanya yang masih berdiri di tempatnya sejak tadi. Liliana tak berniat untuk menyapa atau melemparkan senyum, untuk apa semua itu ketika hatinya saja masih kalut.
Liliana ingin melepas jas yang di pakainya, tapi Enzo yang berada di belakangnya kembali menahan gerakan tangan itu. “Aku akan mampir nanti ketika acara selesai untuk mengambil jas ini,” ucap Enzo.
Gerakan kecil dan kalimat Enzo tak lepas dari pandangan ketiga orang yang juga berdiri di sana. Mungkin Enzo memang sengaja melakukan hal itu karena Dimitri berdiri di sana, atau Enzo memang ingin melakukan hal itu. Entahlah, apapun itu, Dimitri sangat tak menyukainya.
**
Setelah mengantarkan Liliana pulang, Katherine tak langsung kembali ke apartemennya. Pertemuan tadi dengan pria yang beberapa hari lalu baru ia temui juga, dan ia tinggalkan begitu saja dini hari itu ternyata bernama Richard dan juga berasal dari Indonesia. Kebetulan yang cukup aneh sebenarnya, dan lebih aneh karena Katherine yang justru menemui pria itu.
Akan lebih baik jika ia menutup malam ini dengan sedikit tegukan minum di klub, sedikit tarian, dan mungkin seorang pria lagi. Setelah menemui Ayahnya tadi pun, ia sudah merasakan stres yang mendera jiwanya. Seperti biasa, akan ada kencan yang kembali di atur Ayahnya dan permintaan untuk kembali ke Berlin dan mulai mengurus perusahaan.
Yang benar saja! Masih ada Enzo, kenapa harus dirinya?
buatkan khusus untuknya. Ia tak ingin memikirkan hari esok, perusahaan, atau kencan lain, ia hanya akan berbahagia seperti biasa untuk malam ini, lalu jika memungkinkan, untuk malam-malam selanjutnya juga.
Setelah menyelesaikan satu lagu, Katherine kembali ke kursinya untuk cocktail yang telah menunggu. Sebenarnya
ada yang kosong dalam hatinya setelah melakukan semua ini, tapi ia tetap melakukan seolah-olah ia tak masalah dengan semua ini, ia belum menemukan sesuatu yang mampu menyentuh hati terdalamnya.
“Kau bisa menjadi penari profesional setelah ini.”
Katherine hampir terjatuh dari kursi mendengar suara di sebelahnya, ia menoleh, dan benar saja, pria yang ia pikirkan sejak tadi sedang menatapnya dengan penuh senyum. “B—Bagaimana kau bisa ada di sini?”
“Ini tempat umum, wajar saja aku ada di sini.” Richard masih bertahan pada posisinya yang menatap Katherine dengan senyum. Siapa yang menyangka jika mereka kembali bertemu secara tak sengaja?
“Kau sangat menyukai klub malam?” tanya Richard.
“Apa kau sedang menggodaku?”
Richard tertawa mendengar pertanyaan alih-alih jawaban, ia merasa jika wanita ini cukup lucu. Tapi, kenapa ia bisa selepas ini, ia tak pernah merasa sebaik ini ketika berhadapan dengan wanita asing.
“Terakhir kali, kau yang menggodaku, jadi mari bertukar peran. Apa kau sudah cukup mabuk? Aku bisa mengantarmu pulang atau mungkin menginap di hotelku lagi.”
Katherine hanya memberikan senyum miringnya. Ia tak pernah tertarik pada pria seperti Richard ini, tak ada tantangan di dalamnya. Apa mereka harus kembali ke hotelnya, lalu menciptakan momen panas dalam satu malam? Tak ada yang menyenangkan dalam pola seperti itu, Katherine juga tak akan butuh waktu lama untuk mendapatkan pria yang seperti ini.
“Aku sedang tak ingin bermain, pergilah,” usir Katherine.
Seorang Richard di tolak, ini untuk keberapa kalinya? Karena terakhir kali Liliana yang menolaknya, bahkan wanita ini tak lebih baik darinya, tapi dengan sesederhana ini Richard kembali di tolak. Yang benar saja!
Jika seorang wanita sudah menolaknya, maka Richard tak pernah berbuat lebih jauh, ia sebenarnya ingin menggoda lebih jauh, tapi wanita ini sepertinya memang sedang tak ingin di ganggu. Tujuannya juga untuk bersenang-senang di sini, jika wanita ini sedang menghadapi situasi yang serius juga, lebih baik menghindarinya.
__ADS_1
“Ini kartu namaku, kau bisa menghubunginya kapanpun,” ucap Richard. Ia sudah berdiri dari duduknya dan menyerahkan kartu nama di hadapan Katherine.
Setelah merasakan kekosongan di sebelahnya, Katherine melirik untuk mendapati ruang kosong. Apa ia terlalu dingin tadi? Kenapa pria itu tak memiliki usaha sedikitpun untuk memenangkan hatinya? Tak perlu berlebihan, hanya sedikit saja.
Katherine tetap mengambil kartu nama yang di letakkan di meja oleh pria itu. Nanti jika ia benar-benar penasaran dengan pria ini, ia akan meneleponnya.
**
Liliana kembali berhadapan dengan Dimitri, ia sudah tak memiliki kekuatan untuk memndam segalanya sendirian. Belum ada topik yang Liliana persiapkan untuk menghadapi sang mantan suami, yang sayangnya belum menjadi mantan. Kenapa mereka pada akhirnya masih memiliki hubungan yang tak di ketahui, setelah setahun berlalu?
“Kenapa kamu ngelakuin itu?” tanya Liliana. Tak ada Elang di antara mereka, karena ini memang bukan tentang Elang.
Dimitri sudah menduga pertanyaan seperti ini akan keluar dari mulut Liliana, ia gugup, tapi tak segugup itu untuk menjawab interogasi sang istri siang ini.
“Aku tak menginginkan perceraian itu, aku bahkan masih mencintaimu hingga saat ini, aku—“
“Tapi kamu yang meminta itu sejak awal, apa yang kamu mau sebenarnya?”
Bagaimana mengatakannya? Rasa cinta itu masih ada di hati Liliana, tapi sudah terbalut dengan luka yang pria ini buat. Saat ini hanya ada rasa muak dan juga lelah, belum ada niat untuk Liliana menikahi pria lain lagi, ia hanya lelah dengan drama yang terjadi di hidupnya, ia ingin hidup bersama sang putra saja hingga nanti.
“Aku tahu ini salah, tapi aku masih berharap bisa kembali lagi denganmu. Yang terjadi dulu adalah kesalahpahaman, dan aku akan menebus semua itu,” ucap Dimitri. Ia sudah sering mengatakan jika akan melakukan apapun untuk Liliana, kan? Kali ini ia benar-benar bertekad.
Mungkin memang benar, jika perceraian bukanlah jalan satu-satunya untuk mengakhiri semuanya, itu yang di percayai Dimitri. Bagaimana dengan Liliana? apa ia juga merasakan hal yang sama? Mereka masih saling mencintai, waktu juga tak semudah itu untuk menghapus perasaan mereka begitu saja.
“Apa yang bisa berubah jika kita bersama?” tanya Liliana. Wajah dinginnya sudah kembali, artinya sudah tak ada yang tersisa lagi.
Dimitri diam. Di hadapannya, bukan Liliana yang penuh senyum seperti kemarin mereka bertemu, wanita ini lebih dingin dari yang ia duga. Untuk yang satu ini, Dimitri tak menduga, ia pikir memang lebih baik untuk mengungkapkan perasaannya lebih awal agar semuanya jelas, lalu hubungan Liliana dengan pria Jerman itu
juga tak terlalu jauh.
“Kupikir kamu sudah bertindak terlalu jauh, Dimitri. Apa kamu pikir bisa seenaknya menguasai perasaanku dengan begitu mudahnya? Walaupun semua yang terjadi adalah salah paham, kamu juga bersalah di sini.”
“Aku tahu, Li, dan aku menyesalinya…,”
“Kamu pikir rumah tangga hanya bualan untukmu? Aku sudah melakukan semua tugas sebagai seorang istri, aku benar-benar berusaha menjaga agar tak terjadi perpisahan, tapi pada akhirnya kamu yang meminta itu, lalu ketika aku sudah menyetujuinya, kamu justru mempermainkan aku dan juga orang tuaku. Kamu terlalu jauh, Dimitri!”
Beruntung pengunjung restoran sepi, dan mereka juga bertengkar dengan menggunakan bahasa Indonesia, tak akan ada yang mengerti walaupun mereka bertengkar dengan pisau tajam.
Dimitri benar-benar terdiam dengan ucapan Liliana, mereka saling menatap dengan perasaan masing-masing. Rasa bersalah dan juga amarah. Mereka berjuang selama satu tahun dengan perasaan masing-masing, mereka bertahan dengan pikiran dan keyakinan yang mereka yakini, mengharapkan yang terbaik, tapi justru ini yang terburuk.
“Aku belum bisa menghilangkan perasaan egois ini, setelah melihat Elang, aku semakin memiliki keyakinan untuk memintamu kembali. Aku hanya ingin kembali padamu dan Elang, lalu membangun kehidupan bersama kalian lagi,” ucap Dimitri lirih.
Setitik air mata Liliana jatuh di pipinya, benar-benar menyakitkan ketika harus kembali pada rasa sakit yang ia pikir sudah sembuh. “Kenapa hanya aku yang terlihat seperti antagonis di sini? Kamu merencanakan semua ini?” tanya Liliana dengan air mata yang berhenti.
“Apa kamu tahu berapa banyak kesakitan yang kurasakan? Apa kamu mengetahui berapa banyak hal yang kulalui seorang diri demi menyembuhkan lukaku?” tanya Liliana lagi.
Dimitri benar-benar bungkam dengan semua rasa bersalahnya, ia menatap wajah yang sudah berlinang air mata itu dengan perasaan tak menentu. Ia tak tahu jika sudah menyakiti Liliana sedalam ini.
“Maafkan aku, Li.”
Liliana menghapus air mata di pipinya dengan kasar. Ini menjadi tangisan yang kesekian kali untuknya, dan ia tak masalah, jika ingin, Liliana ingin mengeluarkan semua rasa sakit di hatinya agar pria ini tahu. Kembali setelah semua rasa sakit yang bahkan belum terhapus sempurna, tak bisa semudah itu. Hati yang sudah retak, kepercayaan yang sudah terkhianati, tak akan semudah itu untuk mengembalikannya seperti semua. Rasanya sama seperti ketika kita berusaha untuk menyatukan gelas yang sudah retak, tak akan pernah kembali sama.
“Kumohon, ceraikan aku…,”
**
**Ayo di persilahkan juga yang mau ngeluarin uneg-unegnya. **
__ADS_1