Playboy

Playboy
#2# Take 14


__ADS_3

*Sebenernya sejak bikin outline ini, aku gak punya rencana buat bikin cerita Nabila, karena emang Nabila itu cuman kayak pelengkap aja dan gak bakal ada kisah fullnya. Tapi karena kalian tiba-tiba pada emosi dan pengen cerita full Nabila jadi aku bikin ajalah ya. Anggap aja aku udah khatam banget di dunia perselingkuhan bahasanya.


Jadi selamat beremosi ria ya. Kalo darah tinggi udah naik, bisa langsung konsultasi ke dokter Reno, dia buka praktek 24 jam ;)**


 



Tahu apa yang paling krusial dalam sebuah kehamilan? Kesehatan tentu saja adalah yang terpenting dari semuanya, tapi masih ada satu hal lagi yang wajib menjadi momok bagi para suami-suami. Ngidam. Tahapan ngidam seseorang itu bermacam-macam, dari yang sangat mudah, cukup sulit, hingga sangat sulit sekali. Tak masalah jika ada di tahapan pertama, yang menjadi masalah adalah yang ada di tahapan ketiga.


Itu yang sedang di alami oleh Dimitri. Malam itu, sekitar pukul sepuluh malam ketika ia baru saja menyelesaikan pekerjaan yang sempat ia bawa kerumah dan akan segera tidur bersama Liliana, ia mendapat permintaan yang sangat sulit.


“Al, aku tiba-tiba mau makan sate ayam,” ucap Liliana.


Dimitri kembali melebarkan matanya yang hampir saja menutup. Ia menatap Liliana yang ada di sampingnya, oke, ini bagian dari ngidam yang pasti akan terjadi. Apalagi di usia kehamilan yang masih sangat muda itu, tiga minggu. Kehamilan pertamanya sepertinya tak ada acara mengidam di jam semalam ini.


“Ya udah, aku beliin sate ayam di depan komplek kita, ya?”


“Aku gak mau,” rengek Liliana.


Oke, ini bisa sedikit buruk. Sate ayam di jam seperti ini bukan hal yang sulit, di jam satu malam juga masih ada. “Aku mau yang ada di daerah Bekasi, yang pernah kita makan sama Elang waktu kamu ada acara makan siang itu.”


Dimitri ingat, karena itu baru saja terjadi sekitar bulan lalu, tapi tidak dengan di daerah Bekasi di jam semalam ini. “Kamu mau sekarang banget?” tanya Dimitri dengan horor.


Ini bukan permasalahan tak menyayangi Liliana atau sang jabang bayi, ini hanya sangat sulit, tapi ia juga tak bisa menolak. Ini tentang calon anak dan juga istrinya. “Ya udah, aku pergi sekarang, ya? Kamu mau nungguin, kan?” tanya Dimitri selembut mungkin.


Pengalaman pertama Dimitri ketika kehamilan pertama Liliana, walaupun hanya sebentar. Kehamilan benar-benar merubah mood dan juga hormon sang istri, jadi sebaiknya memang Dimitri hanya mengiyakan dan menuruti keinginan sang istri.


“Ini udah malem, kamu gak masalah ke Bekasi semalem ini?”


“Tapi kamu kepengen, kan? Nanti kalo anak kita pas lahiran ileran gimana, aku gak rela, Li.”


“Maafin aku, ya? Ini bener-bener bukan keinginan aku,” ucap Liliana.


Dimitri hanya mengelus pipi Liliana lembut, untung ia sangat mencintai istrinya ini. Rasa kantuk yang tadi sudah menghantui matanya seketika hilang, di gantikan dengan strategi bagaimana cara cepat untuk sampai di Bekasi agar ia juga beristirahat.


Itu hanya satu episode dari ngidamnya Liliana, masih banyak episode lain tentang ngidam yang tetap membuat Dimitri pusing. Tentu ada bagian yang menyenangkan dari semua itu yang tak sempat ia rasakan ketika kehamilan pertama Liliana dulu. Dimitri menikmatinya. Emosi Liliana yang naik turun, serta kebiasaan-kebiasaan aneh yang sangat baru juga mulai muncul, dan Dimitri harus menghadapi semua itu.


Pernah ia sesekali curhat tentang sikap Liliana yang mendadak berubah pada sang Bibi yang juga membantu mengurus rumah mereka. Dimitri sudah menganggapnya seperti orang tua ketiga, karena sejak rumah itu pertama kali ia tempati, Bibi Jum sudah bekerja di sana.


“Namanya juga hamil muda, Le, nikmatin aja. Anak sama mantu Bibi juga dulu kayak gitu, bisa lebih aneh mintanya.” Itu kalimat yang Bi Jum berikan pada Dimitri.


‘Le’ itu merupakan panggilan anak lelaki di adat Jawa, kependekan dari ‘tole’. Dimitri memang tak ingin di panggil dengan sebutan bapak, tuan, den, atau yang lain-lainnya. Sangat terdengar aneh di telinganya, dan juga sangat terlihat jarak antara majikan dan tuan. Dimitri tak ingin seperti itu. Sudah tahu, kan, jika Dimitri ini sangat menghormati wanita, apalagi jika itu lebih tua dengannya? Tolong untuk kali ini jangan kaitkan hal itu dengan sifatnya dulu yang suka mempermainkan wanita. Di pikirkan sampai pusing juga korelasinya tak akan di dapatkan.


“Kamu nanti pulang mau di bawain apa, Li?” tanya Dimitri. Mereka bertiga sedang sarapan pagi itu sebelum Dimitri berangkat ke kantornya, padahal itu hari sabtu.


Liliana berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk menjawab. “Nanti aku telepon kamu aja, deh. Sekarang belum kepengen apa-apa, kok.”

__ADS_1


“Biasanya kalau kayak gini, kamu bakal minta gudeg yang langsung di datengin dari Jogja, nih, bukan yang kalengan tapi yang bener-bener di jual sama Mbok-Mbok di sana,” ledek Dimitri.


“Jadi kamu gak ikhlas selama ini nyariin semua makanan itu?” balas Liliana.


Dimitri hanya memberikan cengiran lebarnya. Ia tak akan membalas, akan panjang perdebatan pagi ini jika di lanjutkan. “Elang mau di bawain apa?” tanya Dimitri pada putranya yang sedang fokus pada roti lapis di tangannya.


Elang terlihat berpikir dengan wajah menggemaskan. Balita itu memang sedang lucu-lucunya, tanpa di katakan menggemaskan pun, ia memang sudah menggemaskan secara alami. Liliana segera membisikkan sesuatu kepada Elang sembari putranya itu terus memasang wajah berpikir.


“Kata Ibu, vouchel belanja sama jalan-jalan, tapi Elang maunya mobil-mobilan lagi, Yah,” rengek Elang.


Liliana menatap tak percaya pada putranya, ia bukan ingin marah, ia hanya merasa terkhianati oleh putranya sendiri. Dimitri bahkan sudah tertawa di kursinya melihat ucapan Elang yang sangat polo situ. Perbendaharaan kata yang di miliki Elang sudah cukup banyak untuk usia tiga tahun, hanya mengucapkan huruf ‘r’ yang masih sulit untuknya. Semua itu juga berkat Liliana yang bersikeras mengajari Elang sendiri sejak dini.


Pendidikan pertama dan terbaik adalah orang tua, kan? PAUD dan TK hanyalah tempat untuk putranya belajar bersosialisasi, itu yang Liliana terjemahkan dari apa yang ia pikirkan selama ini.


“Iya, nanti Ayah bawain mobil-mobilan lagi.”


Kalimat Dimitri barusan berhasil di hadiahi pelototan tak terima dari Liliana. Ia tahu Dimitri sangat menyayangi Elang, tapi terlalu memanjakan juga bukan hal yang baik, kan? Usia Elang memang memasuki usia yang sedang sangat mencintai banyak mainan, tapi tidak secara terus-terusan seperti ini.


Sebagai gantinya, Dimitri hanya tersenyum kepada Liliana. Mencoba untuk mengatakan melalui gerakan bibirnya jika itu tak apa-apa. Itulah yang membuat Elang kini sangat menempel pada Dimitri.


**


Semuanya di awali sejak enam bulan lalu, seperti yang Nabila ceritakan. Pertama kali Nabila menyadari ada yang berbeda dari Reno, adalah setelah enam bulan mantan suaminya itu mengawali hubungan terlarang itu. Setelah enam bulan, Nabila baru mengetahui fakta yang ada. Senyum yang ia berikan pada Nabila masih sama seperti biasa, perhatian itu juga tak berkurang sedikitpun, bahkan terkesan jika Reno saat itu memberikan kasih sayang yang sangat lebih untuk Nabila dan juga kedua anaknya.


Nabila tentu saja bahagia, istri mana yang tak bahagia jika sang suami memberikan perhatian yang melebihi kapasitasnya setelah mereka melewati enam tahun pernikahan. Mungkin akan di total menjadi sepuluh tahun jika di tambahkan dengan masa pacaran mereka yang sudah di mulai sejak semester awal perkuliahan. Itulah kenapa banyak yang tak mempercayai jika seorang Reno mampu berselingkuh dari Nabila, mereka sudah seperti pasangan idaman semua orang, termasuk Liliana menghadapi naik turun hubungan asmara dengan Dimitri.


Terima kasih pada Dewi, salah satu perawat yang bekerja membantu Reno. Nabila juga mengenal Dewi dengan baik, wanita muda itu sangat baik dan juga sopan dan Nabila menyukainya. Nabila tak pernah mencurigai Reno tentang apapun karena ia sepenuhnya percaya pada sang suami, hingga siang itu Dewi yang mulai menceritakan kecurigaannya.


Mereka tak sengaja bertemu di supermarket ketika Nabila sedang melakukan kegiatan belanja bulanan, dan Dewi yang juga ternyata melakukan hal yang sama. Dewi adalah anak kos di Jakarta ini, orang tuanya tinggal di Bandung, dan ia belum memiliki kekasih hingga kini. Mungkin ada yang mau mendaftar untuk menjadi kekasihnya? Nabila bisa menjamin jika Dewi ini termasuk wanita idaman semua pria, baik dari segi sifat maupun penampilan.


Agenda belanja bulanan mereka selesai, dan berganti menjadi sesi makan siang ketika Dewi mulai menceritakan kekhawatirannya.


“Memangnya ada apa? Kamu punya masalah di rumah sakit? Atau jangan-jangan kamu punya masalah sama gebetan baru?” tanya Nabila dengan geli. Ia sama sekali tak memiliki firasat apapun tentang apa yang akan di ceritakan Dewi.


“Dokter Reno…Mbak, aku sama sekali gak punya maksud apapun saat ini, beneran, deh”


Nabila kini mengerutkan keningnya mendengar nama Reno yang di sebut. Ada apa dengan suaminya itu? Apa ada masalah di rumah sakit yang tak di ceritakan oleh Reno sendiri?


“Kenapa sama Reno? Ngomong aja, Wi. Kamu kayak sama siapa aja,” ucap Nabila.


Dewi tak lepas memandangi wajah Nabila yang terlihat santai dan tertawa seperti biasa, bagaimana ia bisa tega mengatakan ini pada wanita yang sudah sangat baik padanya dan sudah ia anggap sebagai kakak sendiri? Sejak awal mengenal Nabila, wanita itu sudah banyak membantunya dari beragam kesusahan yang ia terima, tanpa pamrih sedikitpun. Itulah kenapa ia sangat mengidolakan Nabila dan juga Reno. Ia benar-benar sangat berharap jika suatu saat nanti bisa memiliki pendamping hidup seperti Reno, dan juga rumah tangga yang damai seperti mereka.


“Aku pikir…Dokter Reno punya hubungan khusus sama dokter Reni,” ucap Dewi lirih. Sama sekali tak ada nada bercanda dalam kalimat Dewi, karena memang itu bukan candaan.


“Bercanda kamu, Wi. Mereka emang deket dari dulu, kamu juga tahu itu, kan?”


Nabila sedikit terkejut mendengar apa yang baru saja Dewi ucapkan, tapi ia berusaha menepis. Seorang Reno bermain api dengannya? Hal paling mustahil yang paling tak mungkin terjadi, jika memang benar, pasti Nabila bisa melihat perubahannya. Dewi pasti hanya asal mengasumsikan semuanya.

__ADS_1


“Aku serius, Mbak.”


Dewi mengeluarkan ponselnya, dan membuka galeri foto di ponselnya. Ia juga tak mengerti kenapa ia sempat-sempatnya melakukan hal itu, memotret atasannya secara diam-diam, dan itu bukan hanya satu atau dua foto, melainkan cukup banyak. Ia hanya merasa perlu melakukan hal itu.


“Mereka sering kayak gini, Wi. Reno juga selalu cerita dia pergi kemana aja, bahkan waktu seminar waktu itu pun dia—“ Nabila menghentikan ucapannya ketika menyadari sesuatu.


“—pergi bersama Reni.”


Nabila menatap Dewi tak percaya. Pikiran lain juga mulai menghantamnya, tentang Reno yang selalu menceritakan banyak hal tentang Reni padanya. Nabila hanya menganggap itu sebagai angin lalu karena memang kedua orang itu sudah menjadi sahabat sejak koas pertama mereka. Nabila bahkan menjuluki Reni sebagai kembaran Reno karena memiliki nama yang hampir sama. Semua tentang Reni tak pernah menjadi masalah besar untuk Nabila, karena ia juga mempercayai Reno dan tak ingin membatasi pertemanan suaminya itu dengan siapapun, termasuk Reni dan wanita-wanita lain yang mungkin dekat dengan Reno.


Sejak pertama mengenal Reno, hingga melakukan pendekatan dan resmi berpacaran, Reno adalah pria paling lurus yang pernah ia temui. Pria itu sangat serius pada jurusan kedokteran yang ia ambil, bahkan beberapa kali mengabaikan Nabila karena padatnya jadwal tugas serta praktikum. Hanya Nabila satu-satunya wanita di hati Reno.


“Aku harap tebakanku salah, Wi,” lirih Nabila.


**


Ternyata bukan hanya foto yang Dewi jadikan bukti atas ucapannya, ia juga menceritakan sesuatu yang benar-benar mengubah pandangan Nabila terhadap Reno. Pria itu bukan pria yang sama lagi, yang sangat lurus dan jauh dari kata perselingkuhan dan hubungan terlarang lainnya.


“Bukan cuma aku yang tahu tentang ini, Mbak. Beberapa dokter lain dan juga perawat yang kebetulan tahu dokter Reno dan juga dokter Reni juga mulai gosipin mereka. Semua orang tahu gimana pertemanan mereka, tapi mulai ada yang sadar kalau ada yang janggal,” ucap Dewi.


Nabila sudah tak sanggup lagi jika mendengar lebih lanjut tentang apa yang di ketahui oleh Dewi. Sudah satu jam mereka duduk di restoran itu, dan pembicaraan itu belum berakhir juga. Nabila merasakan pusing di kepalanya yang berusaha memproses banyak informasi baru, tapi ia juga masih ingin mendengarkan lebih lanjut. Ini tentang suaminya yang mungkin memang benar sudah mengkhianati dirinya. Selama enam bulan, lucu sekali rasanya.


“Mbak gak apa-apa?” tanya Dewi khawatir. Ia merasa bersalah sudah mengatakan hal ini, tapi ia akan merasa lebih bersalah lagi jika hanya menyimpan semua fakta sendirian. Ia juga wanita, secara tak langsung ia bisa merasakan rasa sakit itu.


“Gak papa, Wi. Lanjutin aja, aku mau denger semuanya.”


Mungkin jika siang itu, Nabila memilih untuk pulang dan tak mendengar penjelasan Dewi lebih lanjut, ia tak akan bercerai dengan Reno. Dengan konsekuensi ia akan terus di bodohi oleh suami dan selingkuhannya. Nabila tak pernah mempercayai julukan pelakor, hingga kini ia merasakannya sendiri. Bahkan seorang Reno melakukannya,


selama enam bulan tanpa di curigai oleh Nabila. Atau Nabila sendiri yang menutup mata atas perbuatan Reno.


Hingga Nabila menanyakan kebenarannya pada Reno, dan pria itu hanya membenarkan, dan juga merasa bersalah—memang sudah seharusnya.


“Kamu bahkan sama sekali gak menyangkal semua itu?” tanya Nabila kala itu.


Reno hanya menundukkan pandangannya, merasa bersalah. Ia tahu cepat atau lambat semuanya akan terbongkar. “Itu enam bulan yang lalu, aku berniat untuk mengakhirinya, dan semua itu hanya kesalahan sesaat, kami sudah—“


“Memang itu salahmu selama enam bulan menyembunyikan itu dariku, tapi kamu mengkhianati kepercayaanku, No,” potong Nabila.


“Aku akan mengakhirinya, Bil, jadi kumohon—“


“Lalu apa? Kamu berharap semuanya akan baik-baik saja setelah kamu mengakhirinya? Kenapa kamu sangat egois?”


Setelah Nabila memasukkan gugatan cerainya di Pengadilan Agama, Reno masih berusaha membujuk Nabila untuk membatalkan gugatan itu. Nabila akan percaya jika itu kesalahan dan Reno yang akan berubah, tapi hatinya tak lagi sama di detik pertama ia mulai mengetahui ada yang salah dengan suaminya, dan ketika pada akhirnya Reno juga mengakui semuanya.


Selingkuh tak pernah termaafkan oleh Nabila, atas alasan apapun. Tak seharusnya ada alasan di balik perselingkuhan, jika memang sudah merasa tak cocok ataupun tak bisa bersama lagi, seharusnya jujur. Bukan dengan berdalih dengan selingkuh. Bukan juga kesalahan jika itu terjadi selama enam bulan, tapi mereka sudah


menikmatinya. Tak memedulikan hati yang tersakiti dengan itu semua.

__ADS_1


**


Kalau ada salah penyebutan istilah tentang cerai-cerai atau apapun itu di part ini, mohon dikoreksi teman-teman :)


__ADS_2