Playboy

Playboy
#2# Take 3


__ADS_3

Hi again! Happy reading, ya :)


 


“Kamu yakin mau pakai gaun itu?” tanya Dimitri. Ia tiba-tiba muncul dan melihat Liliana yang sedang bersiap untuk acara malam itu.


Liliana bisa melihat Dimitri dari pantulan cermin tinggi di hadapannya. Ia sudah menduga ini akan terjadi, Dimitri dan keposesifannya. Sifat itu tak pernah berubah sejak dulu, dan Liliana hanya bisa memaklumi sifat yang satu itu.


Kadang juga Liliana menikmatinya, ia lebih menyukai Dimitri yang cerewet di banding Dimitri yang hanya diam.


Dimitri memiliki caranya sendiri dalam menunjukkan kasih sayangnya, dan ia tak terlalu suka dalam bentuk ungkapan. Pengecualian untu beberapa waktu belakangan ini, Dimitri sedikit berubah dan ia lebih banyak mengungkapkan rasa sayangnya. Bagaimanapun cara Dimitri mengungkapkan rasa cintanya, Liliana akan tetap menyukainya. Cinta memang kadang semengerikan itu, dan seindah itu juga.


“Bagus, kan? Teman Nabila yang ngerancang gaun ini, dan aku dapet kesempatan langka dengan jadi klien pertamanya. Kamu suka?” Liliana tersenyum. Ia tahu yang sedang terjadi, tapi ia akan berpura-pura mengabaikan hal tersebut.


Malam ini, mereka akan menghadiri sebuah pesta perayaan atas kesuksesan proyek yang sedang di jalankan oleh klien Dimitri dulu. Berada di tengah-tengah kalangan pengusaha memang menyenangkan karena memiliki banyak koneksi dan rekan-rekan yang berada di bidang yang sama. Hal yang buruk, ketika memenuhi undangan seperti ini. Baik Dimitri dan Liliana sama sekali tak menyukai pesta dalam bentuk apapun.


Dimitri berjalan menghampiri Liliana yang masih memasang senyum polos. Tak ada yang salah dari pemilihan gaun Liliana, maxi dress dengan lengan yang menutup hingga pergelangan tangan. Jika di lihat dari depan, gaun itu benar-benar indah dan sangat tertutup, tapi jika di lihat dari belakang, potongan gaun itu sama sekali tak menutupi punggung Liliana.


“Kamu tahu, aku rasanya mau ketemu sama temen Nabila itu dan bilang sama dia kalau gaun ini sama sekali gak layak pakai,” ucap Dimitri. Ia tepat berdiri di belakang Liliana, dan menyentuh punggung terbuka itu.


Hanya senyum manis yang Liliana berikan ketika mendengar ucapan Dimitri, ia berusaha keras untuk menahan tawanya agar Dimitri tak tersinggung. “Aku gak ngeliat ada yang salah, Al. Semuanya benar-benar sempurna.”


“Kamu gak tahu, Li. Di sana banyak banget tamu yang datang, dan mayoritas tamu adalah pria. Kamu pikir aku rela kalau pria-pria di sana perhatiin punggung kamu?”


Liliana membalikkan tubuhnya agar bisa melihat wajah tampan sang suami yang sudah mengeras itu dari dekat. Sangat tak bisa di percaya ketika melihat wajah Dimitri, sangat banyak yang sudah mereka lalui selama ini.


“Kamu akan selalu ada di sampingku, kenapa aku harus takut? Itu artinya, kamu harus selalu ada di sampingku, jangan sampai kamu punya waktu untuk perhatiin wanita lain selain aku,” ucap Liliana. ia membelai lembut pipi Dimitri.


“Apa kita gak usah pergi aja? Elang juga sama neneknya, pilihan yang paling baik cuma absen dari pesta ini.”


Tawaran yang sangat menggiurkan, tapi Liliana tak akan luluh begitu saja. Dimitri kadang bisa sangat manipulatif untuk keadaan-keadaan tertentu. “Kalau gitu, kita bisa jemput Elang sekarang karena kamu gak mau pergi ke pesta ini.” Liliana menaikkan alisnya dengan penuh pertimbangan.


“Mama sama Papa bahkan udah mau jagain Elang sampai hari minggu nanti, jadi kita bisa bebas berdua.”


“Kalau gitu, ayo pergi. Udah waktunya, kan?”


Dimitri hanya menghela nafasnya mendengar ucapan Liliana. Ini bukan jenis pesta yang wajib di hadiri, tapi Liliana adalah wanita yang sangat memegang teguh keputusan. Jika mereka harus pergi, maka mereka harus benar-benar pergi. Juga karena Liliana selalu bersikeras jika hal-hal remeh seperti pesta ini mampu membuat koneksinya semakin bertambah, dan perusahaan Dimitri akan semakin maju.


Tak ada yang lebih baik dari memiliki Liliana kembali menjadi seorang istri. Dia benar-benar akan mendukungu hingga akhir dan juga setia di sampingmu. Bagaimana mungkin dulu Dimitri sangat berani dengan menyakiti hati Liliana? Mungkin saat itu, ia benar-benar sudah sangat tak tertolong lagi.


Dalam waktu setengah jam, keduanya sudah sampai di tempat pesta. Sebuah hotel mewah di pusat Jakarta sudah di sulap menjadi tempat pesta yang sangat mewah. Sudah tak akan mengherankan, bahkan para pengusaha itu sangat bisa untuk mengadakan pesta di Gelora Bung Karno. Uang mereka benar-benar sangat banyak, tak terhitung dan tak perlu di hitung juga.


“Jangan jauh-jauh dariku,” bisik Dimitri.


Liliana hanya tertawa kecil mendengar bisikan itu. “Gimana aku bisa jauh-jauh darimu, jika pelukanmu sangat erat. Kamu gak pernah kepikiran buat bawa tali aja biar bisa iket aku?”


Mereka sudah memasuki ballroom yang sudah di penuhi banyak orang. Sepertinya acara belum mulai, karena semua yang ada di ruangan itu masih terlihat saling berbincang satu sama lain. Liliana mendongak untuk menatap Dimitri, tanpa terduga, ia meninggalkan kecupan ringan di rahang pria itu.

__ADS_1


“Kamu tampan malam ini,” bisik Liliana.


Dimitri menatap Liliana dengan tatapan tak percaya, istrinya itu tak pernah melakukan hal seperti itu di tempat umum seperti ini. Pelukan di pinggang Liliana semakin Dimitri eratkan untuk menghapus jarak di antara mereka, tapi itu tak mungkin karena mereka sudah sangat dekat.


“Kita pulang setelah sambutan dari tuan rumah.”


Liliana hanya tertawa dengan ucapan itu, dan kembali fokus pada pesta di hadapannya. Kali ini sepertinya akan segera di mulai, ia melihat pembawa acara yang mulai naik ke atas panggung.


**


Katherine menjadi lebih pendiam setelah pertemuannya dengan Michelle. Seorang Katherine merasa terganggu oleh seorang gadis yang menjadi adik Richard, tak pernah terjadi sebelumnya. Tapi, ucapan Michelle memang cukup mengganggunya. Apa hubungan ini masih bisa berjalan? Karena ia yakin Michelle juga sudah mengatakan hal yang sama pada Richard, dari cerita yang sering di katakan Richard, ia sangat menyayangi adik satu-satunya itu.


Sudah satu minggu, Katherine mulai mengabaikan Richard karena semua pikiran tentang Michelle dan juga kalimatnya siang itu. Entah apa yang akan di pikirkan oleh Richard, tapi ini benar-benar mengganggu Katherine.


“Kenapa kau tak menyukaiku? Bukankah kau harusnya mengatakan dari awal jika memang begitu?” tanya Katherine.


“Semuanya tentang bisnis, kan? Richard juga pasti menyetujui karena permintaan dari Papa dan tak bisa menolaknya, aku sama sekali tak pernah di ajak diskusi untuk masalah apapun yang menyangkut bisnis.”


Hening menyelimuti mereka. Ya, semua memang karena bisnis, tapi Richard sendiri sudah mengatakan berkali-kali jika ia sangat mencintai Katherine. Tiga tahun yang mereka jalani sangat berarti walau banyak pertengkaran di sana sini, tapi mereka tetap bersama.


“Semua ini memang karena bisnis, tapi kami juga saling mencintai.”


“Lalu kenapa kalian tak segera menikah jika memang saling mencintai?” tanya Michelle datar. Emosi bahkan enggan berlama-lama muncul di wajah itu.


Katherine diam. Pembahasan tentang pernikahan selalu membuatnya tak bisa mengatakan apapun. Jadi, ini tentang pernikahan lagi sampai Michelle tak menyukainya? Konyol sekali, kan?


“Ini bukan sesuatu yang konyol. Kau tahu, aku sangat tak menyukai jika Richard melakukannya atas dasar bisnis,


“Kau salah paham, Michelle. Kami memang belum ingin menikah, kami ingin fokus pada pekerjaan kami dulu,” jawab Katherine selembut mungkin.


“Benarkah? Itu artinya kau tak cukup mencintai kakakku. Dia sudah sangat ingin menikah sejak awal pertunangan


kalian, hanya karena kau yang belum menginginkannya, Richard mengorbankan segalanya.”


Benarkah Richard sangat menginginkan pernikahan ini terjadi? Selama mereka bersama, tak pernah sekalipun Richard membahas topik tersebut. Mungkin pernah, tapi Katherine selalu memiliki cara untuk menghindari topik tersebut. Apa ia benar-benar seegois itu? Tapi, Katherine sendiri belum benar-benar siap untuk melakukan hal sakral itu.


Ketika mereka menikah, akan ada banyak hal yang harus di korbankan, termasuk jabatan dan juga pekerjaannya saat ini. Saat ini, Katherine benar-benar sudah nyaman dan mulai menyukai pekerjaan ini. Ia tak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaan ini demi sebuah pernikahan, kan? Ia juga bukan tipe wanita yang mampu diam di rumah tanpa melakukan apapun. Ia juga tak yakin bisa bertahan bersama Richard hingga menua nanti.


Pertunangan ini saja sudah merupakan hal baru yang sangat istimewa karena ia bisa bertahan bersama satu pria selama tiga tahun. Katherine tak bisa menjamin apa yang akan terjadi jika ia sudah mengikat janji suci pada Richard. Banyak hal yang ia pikirkan, dan tak ada satupun yang bisa mengerti Katherine.


Semakin lama umur suatu hubungan, kadang tak bisa menjamin untuk keduanya saling mengerti. Tak ada yang bisa menjamin dua sifat yang saling berseberangan, bisa menyatu hanya karena mereka sudah lama bersama, kecuali jika ego mereka sudah reda. Ego adalah salah satu hal yang menjadi penghalang bagi setiap pasangan,


karena manusia adalah makhluk yang di penuhi ego.


“Kau mengabaikan semua pesan dan juga teleponku hanya untuk melamun di kantor?”


Katherine mendongak, dan menemukan Richard yang sudah berdiri di ambang pintu. Ia sepertinya sangat larut dalam semua ingatannya hingga tak mendengar suara pintu yang terbuka. Padahal Katherine sudah berpesan pada sang sekretaris untuk tak menerima siapapun siang ini, tapi, Richard dengan semua kekeraskepalaannya

__ADS_1


tentu saja akan menang, entah kalimat ancaman seperti apa yang di tujukan untuk sang sekretaris.


“Apa kau masih marah karena aku tak datang siang itu?” tanya Richard lagi.


Di hari pertemuannya dengan Michelle, Richard membatalkan untuk datang karena rapat dadakan yang harus ia lakukan. Katherine mengatakan hal itu untuk menghindari pertemuan dengan Richard, dan tunangannya itu percaya.


“Apa yang kau lakukan pada sekretarisku?” tanya Katherine dingin.


Richard berjalan menghampiri meja kerja Katherine dengan tenang. Satu minggu sudah membuatnya sangat gila karena di abaikan oleh Katherine, dan hari ini adalah puncaknya. “Kau masih belum memaafkanku? Padahal aku ingin membayar hari itu dengan makan siang bersama dengan Michelle lagi. Besok dia akan berangkat ke Paris untuk pekerjaan—“


“Setengah jam lagi aku harus rapat, sebaiknya kau pergi,” potong Katherine.


Tak biasanya Katherine seperti ini. Ia tak pernah kalah pada kalimat siapapun, pria maupun wanita. Bahkan Enzo saja bisa kalah di tangan Katherine ketika sedang berdebat, kini, hanya beberapa kalimat dari Michelle dan ia merasa kalah. Tak seharusnya ia merasakan hal seperti ini, terlebih pada adik Richard. Gadis itu tak akan mengerti, karena Katherine yang menjalani hubungan ini. Tapi, di hadapan Richard pun, ia tak bisa mengatakan apapun dan hanya sibuk menghindar.


“Ini bukan tentang makan siang itu, kan?” tanya Richard. Ia melihat perubahan raut wajah Katherine yang sangat berbeda, dan ini tak pernah terjadi sebelumnya.


“Pergilah, aku sibuk.” Katherine bangkit dari kursinya, dan berjalan melewati Richard yang masih terpaku di tempatnya.


Richard mencekal lengan Katherine, untuk menahan wanita itu pergi. Tapi, cekalan itu terlepas begitu saja, hingga Katherine menghilang di balik pintu itu. Meninggalkan Richard yang masih bertanya-tanya, tentang apa yang sebenarnya terjadi.


**


Wawancara kerja kemarin yang di lakukan Elleanor berhasil. Hari ini ia resmi bekerja dalam masa pelatihan sebagai sekretaris Enzo. Terasa seperti mimpi, karena ia juga tak akan menyangka akan di terima seperti ini, tapi setidaknya ia sangat bersyukur. Elleanor yang keras kepala dan juga sangat ceroboh dan juga manja benar-benar sudah berubah.


Dulu, Elleanor seperti itu. Ketika keluarganya masih memiliki segalanya, Elleanor bisa melakukan apapun dan juga mendapatkan apapun yang ia inginkan, walaupun kedua orang tuanya lebih sering mengabaikan Elleanor sendiri. Tapi kini, ia bahkan harus berusaha keras hanya untuk bertahan hidup. Sekalipun ia sudah berusaha sangat keras, semua itu juga tak cukup, ia masih memiliki beban hutang sang Ayah. Jika hutang itu tak mampu lunas, hari-harinya hanya akan di penuhi oleh mafia-mafia yang akan sangat rela mengejar, bahkan menerornya.


Ia menjalani hidup seperti itu saat ini, tanpa keluarga dan juga teman dekat. Teman-temannya seketika menghilang ketika berita tentang bisnis ayah Elleanor yang bangkrut. Sejak awal, lingkaran pertemanannya sudah salah, dan ia tak pernah menyadarinya. Yang terpenting untuknya saat itu hanyalah, ia di kelilingi banyak orang yang selalu ada, tanpa tahu jika selama itu ia hanya di manfaatkan.


Sekarang, ia sama sekali tak memiliki siapapun, dan hanya berjuang seorang diri untuk bertahan hidup. Kalaupun ia memiliki cukup uang untuk lari dari Jerman, ia tak bisa lepas dari bayang-bayang para mafia yang sudah membuat sang Ayah berpulang.


“Ini adalah berkas-berkas tugas apa saja yang harus kamu lakukan selama menjadi sekretaris Pak Enzo.” Rose—sekretaris Enzo—menyerahkan beberapa map pada Elleanor.


Ada lima map yang Elleanor terima. Apa pekerjaannya sebanyak itu?


“Jangan khawatir soal Pak Enzo, dia atasan yang baik. Kau hanya perlu bekerja dengan baik dan tak melakukan kesalahan terlalu sering, yang terpenting, kau harus profesional,” lanjut Rose lagi.


Elleanor hanya mengangguk dengan canggung. Ia memang lulus pada jurusan manajemen bisnis, tapi untuk turun langsung bekerja di bidang yang sama adalah hal yang baru untuknya.


“Apa sulit bekerja menjadi sekretarisnya?” tanya Elle hati-hati. Kehilangan segalanya membuat Elle mulai belajar untuk menghargai orang lain, inilah yang ia lakukan saat ini.


“Kau belum pernah bekerja di bidang ini?”


Hanya gelengan yang Elle berikan, ia juga heran kenapa ia bisa di terima begitu saja jika pengalaman kerjanya di bidang ini nol besar. Rose menatap Elle dengan heran, dari empat orang kandidat lainnya yang lebih berpengalaman, kenapa atasannya itu justru memilih Elle yang sangat kekurangan pengalaman? Ia sangat tahu betapa Enzo sangat membenci karyawan yang tak kompeten di bidangnya.


“Tak masalah, aku juga dulu tak berpengalaman sama sepertimu. Bukankah itu tujuan dari bekerja? Mencari pengalaman sebanyak-banyaknya?”


“Ah, baiklah,” ujar Elle sungkan.

__ADS_1


Baiklah, karena ia sangat bersyukur sudah mendapatkan pekerjaan ini, ia akan bekerja segiat mungkin dan tak akan mengecewakan atasannya. Setidaknya pekerjaan ini akan sangat membantunya untuk lepas dari kehidupan kelam peninggalan sang Ayah. Ia ingin bebas dari semua ini dan menjalani kehidupannya yang normal.


**


__ADS_2