
Apapun yang terjadi sama kalian nanti pas baca part ini, aku gak tanggung jawab. Happy reading ;)
Nabila tak mengharapkan hubungannya dengan Juna akan baik-baik saja setelah pengungkapan secara tak langsung waktu itu. Tanpa harus bertanya lebih lanjut, ia sudah mengetahui beberapa hal dengan sangat jelas. Juna menyukainya, dan itu adalah hal terlarang yang terjadi di hidup Nabila, menurutnya sendiri, karena Juna juga memiliki pandangan yang lain.
Tapi, apa yang ia dapati pagi ini juga sangat mengejutkan. Juna menatapnya dengan senyuman lebar seperti pagi-pagi sebelumnya seolah tanpa beban, seolah pengungkapan itu tak pernah terjadi. Yang Nabila bayangkan adalah hubungan mereka yang tiba-tiba menjadi canggung serta menjauh, tapi apa ini? Atau kemarin itu hanya mimpi? Mungkin saja Juna yang mengungkapkan perasaannya memang benar tak melakukannya dan semua itu hanya ada
di mimpinya.
Ya, pasti seperti itu. Juna tak mungkin menyukainya, di kantornya saja sudah terisi dengan banyak wanita cantik dan tentunya bukan seorang janda. Nabila memberikan senyum tipisnya, pasti ada rasa kecewa menyelundup di hatinya. Itu sama saja artinya dengan ia yang tak berarti untuk Juna sama sekali. Manusia memang sudah di takdirkan untuk memiliki sifat egois dan juga emosional serta munafik.
“Pagi, Mbak. Semua jadwal hari ini semuanya sudah ada di meja, termasuk revisi yang semalem Mbak kasih,” ucap Juna dengan wajah yang sangat sempurna itu, senyumnya bahkan belum lepas dari wajahnya.
Hanya anggukan serta senyum tipis yang di berikan Nabila sebagai balasan. Ia akan belajar untuk melepaskan pria itu yang sejak awal juga memang tak bisa ia miliki, dan karena ia juga tak bisa mengharapkan sesuatu dari hubungan mereka. Tak ada yang bisa di harapkan sejak awal, dan memang akan seperti itu.
Ketika seseorang bertumbuh semakin dewasa, akan banyak hal yang secara perlahan akan menyakiti kita, lalu ada juga hal yang secara perlahan harus kita lepaskan demi kebaikan kita di masa yang akan datang. Menjadi dewasa memang serumit itu dan juga sangat menyakitkan, tapi tetap saja fase itu harus kita lewati.
Pagi itu, semua pekerjaan berjalan dengan normal, hingga rapat itu yang mengubah segalanya. Rapat yang biasa di lakukan oleh hampir semua departemen untuk membahas tentang majalah yang akan terbit setiap bulan.
“Rasanya kalau kita ikut memasukkan wawancara dengan Katherine Agnesia akan terlalu beresiko, kita ini majalah fashion, bukan majalah gosip,” usul Nabila.
“Kita tak perlu mewawancarai bagian pribadinya, lewati saja bagian itu. Dia juga aktris yang sedang naik daun, tak ada yang salah dengan menjadikan dia sebagai sampul depan majalah kita bulan depan.” Ketua Redaktur menimpali. Ia adalah seorang pria di pertengahan empat puluh yang terlihat sangat muda dan juga kompeten.
“Banyak orang tertarik dengan apa yang terjadi di kehidupan pribadinya, apalagi ketika berita tentang ia yang berpacaran dengan aktor lawan mainnya yang lebih muda tujuh tahun darinya. Kebanyakan janda zaman memang seperti itu, kan?”
Dalam rapat kali ini, ada Arlina yang juga ikut bergabung. Dalam rapat yang biasanya di adakan, selalu sekretaris wanita itu yang hadir, kali ini Arlina sendiri yang ikut bergabung. Usia wanita itu masih dua puluh empat, tapi, berkat koneksi yang ia miliki, di usia yang semuda ini ia bisa menduduki jabatan manajer pemasaran. Ironis sekali, kan?
“Lagipula, penjualan majalah kita juga bisa semakin dengan aktris ini yang menjadi sampulnya. Kita selalu bisa
memanfaatkan keadaan seperti ini untuk mendongkrak penjualan,” lanjut Arlina lagi.
Hampir semua yang ada di ruangan itu belum menikah hanya memiliki kekasih, tak ada yang menyandang status janda kecuali Nabila, dan kalimat Arlina tadi tentang Katherine Agnesia cukup menyinggung hatinya. Tapi, mana ada yang bisa merasakan rasanya menjadi seorang janda yang di khianati suaminya lalu harus berusaha seorang diri lagi dari nol serta membesarkan kedua anaknya.
“Kalau begitu, atur janji temu dengan Katherine Agnesia untuk membicarakan hal ini.” Doni—ketua redaktur—menimpali lagi.
Oh, dan Doni ini adalah seorang duda tanpa anak. Tapi, menjadi duda dan janda adalah dua hal yang sangat berbeda. Lihat saja, justru banyak yang mengagumi ketampanan Doni serta banyak yang berharap untuk menjadi istri atau mungkin kekasihnya. Tak ada yang mencibirnya karena menjadi duda, kenapa hal itu juga sangat ironis?
Pria tak pernah meninggalkan bekas, hanya wanita yang selalu meninggalkan bekas dan menjadi korban. Itu kenyataan yang sebenarnya, jadi sebaiknya ingat-ingat hal itu sebelum melakukan hal yang sangat fatal.
__ADS_1
Perkataan Arlina tadi sebenarnya bukan hal yang sangat penting atau harus ia pikirkan seharian, tapi melihat tatapan wanita itu tadi, Nabila yakin bahwa wanita tadi sedang menyindirnya dengan terang-terangan. Kalimat yang di katakan di toilet tempo hari masih sangat jelas membekas di ingatan Nabila. Kenapa semuanya menjadi sangat sulit ketika tengah berjuang untuk hidupnya sendiri? Ia bahkan tak bisa menyuarakan pendapatnya di ruang rapat tadi yang membuatnya semakin frustrasi.
Well, atau sebenarnya Arlina adalah sosok wanita yang memang datang untuk menyadarkan Nabila dari semua mimpi dan harapan yang bercokol di kepala cantiknya. Ia harus sadar bahwa Juna memang tak bisa ia miliki, ia tak bisa berhubungan dengan pria yang lebih muda karena itu memang terlarang.
**
Berbicara dengan sang ibu mengenai keinginan serta keresahan mungkin memang suudah seharusnya ia lakukan sejak dulu. Seburuk apapun hubungan kalian, kalian tetap keluarga dan darah selalu lebih kental dari apapun di dunia ini. Keputusan Elle juga sudah bulat untuk segera keluar dari lingkungan setan ini. Ia tak ingin berhubungan lebih lama dengan Brian maupun Enzo.
Elle memasuki apartemennya dengan hati yang masih kalut setelah pertemuan dengan sang ibu, entah ini keputusan yang baik atau buruk, jika ia bisa lepas dari dua pria yang secara tak langsung mengekangnya, maka ia bisa lepas dengan mudah.
“Jadi ternyata wanita yang selalu menjunjung tinggi harga dirinya ini akhirnya memutuskan untuk menyerah pada hidupnya? Hanya seperti ini? Kau sangat mudah di tebak, Elle.”
Suara itu, tanpa perlu menoleh pun Elle sudah tahu. Karena hanya ada satu pria yang akan memasuki apartemennya tanpa permisi seperti ini, Brian. Dan sudah di pastikan ada banyak orang yang di perintahkan pria itu
untuk menyelidiki apapun kegiatan Elle, sejak dulu sudah seperti itu.
“Ya, karena aku baru sadar jika harga diri tak seberharga itu, apalagi untuk orang-orang sepertiku,” jawab Elle tenang. “Aku akan melunasi hutangku dengan cepat, itu yang kau inginkan, kan?”
Brian berdiri di apartemen studio itu dengan wajah datar tanpa menunjukkan emosi apapun. Aura dingin pria itu menyelimuti apartemen yang sangat kecil ini. Parka yang Elle kenakan bahkan tak bisa menahan rasa dingin yang menjalari kulitnya. Ia sangat benci perasaan seperti ini, ketika ia tak bisa berbuat apa-apa akan dirinya, tak ada yang bisa di lakukan oleh seseorang tanpa kekuasaan di tangannya, selamanya ia akan menjadi korban dari mereka yang kekuasaannya lebih besar darinya.
“Aku selalu mengingatkanmu jika aku selalu memiliki opsi yang sangat baik untukmu, kan? Kau tak perlu membayar hutang itu, cukup berada di sampingku dan menjadi milikku, lalu semuanya selesai,” ucap Brian dengan angkuh.
Jika saja pria ini bukan Brian yang ia kenal, bukan Brian yang menyebabkan kematian sang ayah dan menghancurkan hidupnya, maka Elle tak perlu berpikir berulang-ulang untuk menerima pria ini dengan senang hati. Jika saja Brian hanyalah pria biasa yang mengejarnya karena terlalu terpesona dengan Elle, maka ia akan memilih pria ini tanpa ragu. Yang Elle inginkan hanyalah hidup normal dengan pria yang juga normal.
Langkah Brian perlahan mendekati Elle yang menatapnya tanpa rasa takut. Banyak hal yang sangat membuat Elle terlihat sangat atraktif dan juga menarik, dan hal itu mampu membuat Elle di sukai banyak orang. Sifat dingin wanita itu hanya semakin menambah pesonanya, dan Brian sangat sadar hal itu. Sialan sekali, kan? Wanita ini sudah membuatnya jatuh cinta bertahun-tahun yang lalu, tapi tak ada cara terbaik untuk menaklukan wanita ini karena ia memang tak pernah di takdirkan untuk wanita ini.
Tapi, ia bukan Brian jika tak bisa menciptakan hal tak masuk akal menjadi hal terbaik dan sangat mungkin untuk menjadi masuk akal. Termasuk wanita ini.
“Aku tak menyukai jika pria lain menyentuhmu, bahkan ketika Enzo menciummu. Berapa kali ia menciummu? Apakah sangat sering? Apa kau sangat terbuai dengan sentuhannya?”
Brian memutus jarak di antara mereka hingga tanpa jarak seperti saat ini. Ia sudah cukup sabar ketika mendapat laporan serta foto yang berisi ciuman dua sejoli yang sangat mesra. “Apa ia memulainya seperti ini?”
Kecupan kecil yang sangat lembut berhasil mendarat di sudut bibir Elle, jarak keduanya sudah sangat dekat dan Elle tak bisa melakukan apapun selain menggenggam tas tangannya lebih kencang. Ia benci ketika ia tak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Tubuhnya terasa semakin menjijikkan ketika Brian berhasil mengecup bibirnya dengan sangat lembut.
Air matanya perlahan turun seiring Brian yang semakin memperdalam ciuman mereka. Jika saja Brian mengecupnya dengan kasar, maka itu akan sangat baik, tapi pria ini justru mengerahkan seluruh kelembutan yang ia miliki untuk mengecupnya. Ya, ia sudah sangat cocok menjadi wanita bayaran seperti ibunya.
“Aku tak menyukai ketika pria lain nantinya akan mengecup bibir ini, bahkan menjamah tubuh ini lebih dari seharusnya, termasuk Enzo.” Brian mengelus pipi Elle yang di aliri air mata.
Wanita ini adalah miliknya, selamanya akan begitu dan ia tak akan membiarkan pria lain menyentuhnya. “Jadilah milikku saja dan akan kupastikan hidupmu akan kembali seperti awal lagi.”
__ADS_1
**
Ini pertama kalinya bagi Reno menghadiri acara makannmalam perusahaan ayah mertuanya, sangat banyak tamu yang hadir, dan tentunya mereka adalah pejabat serta pengusaha yang memiliki relasi terhadap ayah mertuanya. Ada juga beberapa wartawan serta fotografer yang memang di sewa khusus untuk pesta malam itu. Ini bukan sekedar makan malam biasa.
Reni malam ini terliihat sangat cerah dan juga senyuman yang tak hentinya ia sunggingkan. Reno tak bisa menebak apakah senyum itu tulus, atau hanya sebuah kepalsuan lain yang berusaha ia tunjukkan. Hidup seperti Reni sangat melelahkan, dan kini Reno masuk ke dalam hidup wanita itu dan di paksa untuk menjalani kehidupan yang sama seperti itu.
Sudah jelas sejak awal jika apa yang di lakukan Reni memang salah, terlepas dari bagaimana buruknya tempramen yang di miliki oleh Reni, ia hanya wanita biasa. Tak ada satupun dari perbuatan Reni memiliki kebenaran di dalamnya, justru karena Reno tahu jika hal itu salah, maka kini ia akan berusaha memperbaiki dan mengembalikan sahabatnya itu pada tempat yang seharusnya.
Sangat mustahil untuk mengubah seseorang, kan? Kecuali memang ada niat dalam diri orang yang bersangkutan untuk berubah sendiri, tapi tak ada salahnya juga untuk mencoba. Kita tak pernah tahu hasilnya jika tak mencoba, kan? Itu yang sedang Reno lakukan pada Reni. Ia hanya berharap jika langkahnya kali ini tak akan salah.
“Aku gak perlu ngelakuin apapun di sini, kan?” tanyanReno.
“Kamu cuma perlu jadi suami yang baik.” Reni masih memberikan senyum terbaiknya pada tamu undangan yang menyapanya atau sekedarnmemberinya anggukan sopan.
“Kamu gak mau makan dulu? Pura-pura juga butuh tenaga,” ucap Reno dengan sedikit candaan di dalamnya.
Hanya di tempat umum seperti ini mereka bisa akur dan saling bertukar pikiran, karena mereka juga tak mungkin menunjukkan sifat asli keluarga mereka di hadapan banyak orang.
Reni menyeringai sedikit, berusaha untuk menutupi kegugupannya. Walaupun itu hanya kalimat biasa tapi mampu membuat jantung Reni berdetak dengan kencang. Rumah tangga yang di hiasi pertengkaran pun selalu tak
lupa untuk di hiasi dengan bunga, walau bunga itu tersembunyi jauh di dasar lubuk hati dinginnya.
Makan malam perusahaan yang di selipkan dengan pesta mewah itu berlangsung dengan meriah dan lancar. Semuanya terlihat sangat puas dengan apapun yang sudah mereka dapatkan di sana. Hanya Reno yang tengah
kelimpungan mencari Reno yang tiba-tiba menghilang, entah sejak kapan karena mereka tadi sempat berpencar untuk mencari udara masing-masing dan Reno berakhir dengan sekumpulan pria yang usianya sedikit di atasnya. Yah, berdiskusi serta berjanji untuk saling memberi investasi pada usaha masing-masing juga sebuah usaha yng di lancarkan pria-pria itu.
Mungkin lain kali, Reno akan mengusulkan untuk mengadakan makan malam seperti ini di rumah saja karena ballroom hotel ini sangat luas yang membuatnya semakin sulit untuk menemukan wanita itu.
Napasnya sedikit terengah-engah ketika ia menaiki tangga menuju lantai dua yang berbentuk spiral itu. Entah siapa yang membangun bangunan seperti ini. Mata Reno menyipit ketika menemukan sekelebat gaun yang sepertinya berayun terkena angin. Ia berjalan menuju siluet itu, dan sedikit lega ketika tahu bahwa itu adalah Reni.
“Ren …,”
Panggilan Reno terputus ketika ia menyadari gerakan yang berbeda dari Reni, bahunya naik turun tak beraturan, serta tubuhnya yang terlihat menggigil dari belakangnya seperti ini?
“Reni!”
Tubuh Reni jatuh ke lantai seiring dengan teriakan dari Reno, dengan sigap pria itu menangkap Reni yang tubuhnya sudah lemah. Keringat dingin membasahi dahi serta tubuh Reni, mereka tak bisa jika harus menunda lagi pertemuan ke dokter.
“Reni, kamu dengar aku?” tanya Reno.
__ADS_1
Reni terbangun dan dengan lemah berusaha untuk mengenali pria muda di hadapannya ini, tapi tubuhnya menolak dan yang ia bisa lakukan hanya berbaring di pelukan pria itu, tubuhnya sudah tak mampu jika harus bertahan sedikit lama lagi. Semoga kali ini, Reno mau berbaik hati lagi untuk kesekian kalinya dan membawanya ke rumah sakit.
**