
Ketukan palu yang baru saja bergema di ruang sidang itu menandakan bahwa saat ini Liliana dan Dimitri sudah resmi bercerai. Persidangan tersebut berjalan dengan lancar dan di hadiri oleh keduanya, dan berlangsung dalam waktu yang cukup singkat. Hak asuh Elang jatuh ke tangan Liliana, karena anaknya itu masih membutuhkan sang Ibu. Tak ada hal-hal istimewa dalam proses yang sudah berlangsung, bahkan sudah selesai.
Apa yang istimewa dari sebuah perceraian? Perebutan harta gono-gini milik keduanya atau seperti perebutan hak asuh anak, yang sudah sangat jelas memang akan jatuh ke tangan Liliana? Ini bukan seperti sinetron picisan yang sering menghiasi layar kaca, hanya saja kisah cinta mereka memang cukup rumit untuk di jelaskan.
Setelah keduanya keluar dari gedung Pengadilan, mereka bertatap muka sejenak sebelum benar-benar berpisah dengan status baru mereka.
“Kamu bisa mengunnjungi Elang kapanpun, aku tak akan keberatan,” ucap Liliana. Hal yang memang akan ia katakan sejak awal, karena Dimitri Ayaha kandung yang masih berhak walau status mereka bercerai.
“Pasti, aku hanya membutuhkan sedikit waktu untuk memproses semua ini. Pada akhirnya kita bercerai.” Itu bukan pertanyaan ataupun sejenis tuduhan, itu hanya pernyataan yang tak bisa Liliana tanggapi dengan baik. Anggap saja mereka adalah dua makhluk hidup yang sangat bodoh yang pernah ada, berpisah ketika masih ada rasa cinta di antara keduanya.
“Aku duluan.”
Liliana membuka pintu mobil milik Nabila yang ia pinjam kemarin, ia bahkan menitipkan Elang pada Nabila yang sudah kerepotan mengurusi dua anaknya. Tak ada yang bisa ia mintai tolong kecuali sahabatnya itu.
“Liliana,” panggil Dimitri.
Liliana urung memasuki mobilnya ketika mendengar panggilan Dimitri, ia membalikkan tubuhnya untuk menanti kalimat Dimitri selanjutnya. “Jaga dirimu. Aku harap, takdir masih berpihak pada kita.”
Tak ada kalimat balasan dari Liliana, Dimitri juga tak mengharapkan apapun, ia hanya ingin mengatakan kalimat itu pada wanitanya—mantan—bahkan sampai akhir pun, Liliana akan tetap menjadi wanita terakhir di hidup Dimitri.
Liliana segera memasuki mobil, dan melajukannya tanpa berpikir dua kali. Ia sudah berjanji jika tak akan ada tangisan lainnya, ia lelah menangis, ia lelah berpikir, ia hanya ingin membebaskan segala hal yang ada di kepalanya. Bukan hanya Dimitri, Liliana juga sedang terluka, kali ini lebih dalam dan akan selalu membekas.
‘Perpisahan yang tak di inginkan, segala hal bisa terjadi jika salah satunya lebih memilih membalikkan tubuhnya dan berpaling. Luka yang ada akan semakin menyebar dan membuat kita terpuruk. Jika memang perpisahan adalah jawabannya, maka kamu sudah melakukan yang terbaik.’
Suara lembut seorang wanita mengalun di radio yang Liliana putar, bahkan acara radio bisa sangat mendukung situasi yang ada. Ya, Liliana sudah melakukan yang terbaik dengan pilihannya. Bukan hal mudah untuk pada akhirnya memilih jalan ini, tapi karena terlalu banyak pilihan yang ada, lalu membuat hatinya semakin tak keruan, dan hal terakhir yang sudah ia bulatkan adalah bercerai, perpisahan. Liliana bahkan tak yakin jika nanti ia bisa kembali membuka hatinya pada orang lain, dan mencintai pria lain lagi.
Rencana yang sudah ia susun untuk putranya sudah tak terbaca lagi sejak kemunculan Dimitri di Jerman. Sekarang tak ada lagi rencana yang ia persiapkan, semuanya menguap bersamaan dengan ketuk palu sang hakim beberapa jam yang lalu. Tak ada penyesalan, memang ini yang seharusnya terjadi.
Ini bukan akhir, ini hanyalah awal baru dari segala kehidupan Liliana.
**
Ternyata benar dugaan Katherine selama ini, ada hal yang tak ia ketahui soal Richard dan juga Ayahnya. Richard adalah calon suami Katherine yang kesekian, yang juga di pilihkan oleh sang Ayah, yang sangat tahu apa yang terbaik untuk putri tunggalnya ini. Sebenarnya ada rasa senang di hati Katherine ketika ia mendengar berita itu, tapi tak mungkin ia tunjukkan.
Anthony tak pernah berbohong pada putrinya sekalipun, walau itu menyakitkan, karena itu, ketika Katherine menanyakan perihal Richard, sang Ayah dengan gamblang menyatakan jika Richard adalah calon suaminya. Percayalah, tak ada tantangan dari seluruh hal yang Ayahnya katakan.
Calon suami. Perjodohan. Dua hal yang selalu berputar-putar di hidup Katherine, walau ia sudah menerima tawaran sang Ayah untuk menjalankan perusahaan. Ia lupa jika Ayahnya pebisnis, dan banyak trik khusus yang mungkin ia terapkan untuk menjebak sang putri.
Lalu, di sinilah Katherine berdiri sekarang. Ruangan yang sangat megah dan di dekorasi sedemikian rupa agar pemilik acara puas dan mungkin memberikan tips berlebih untuk bayarannya. Ada pesta yang sedang berlangsung, pesta itu adalah hal yang sangat Katherine benci. Pertunangannya dengan Richard.
Siapapun akan berpikir jika ini gila, Katherine bahkan tak mengerti kenapa sang Ayah bisa sangat mudah mempercayai Richard, dan bagaimana Ayahnya bisa dengan cepat akrab dengan orang tua dari Richard?
Sudah ada cincin yang bertengger di jari manisnya, dan sejauh yang ia pikirkan, tak akan ada kebahagiaan serta kebebasan yang akan menantinya, dan Katherine tak tahu jenis pria seperti apa Richard ini. Seandainya saja Liliana ada di sampingnya, walaupun ketus, wanita itu cukup menghibur dengan kehadirannya saja.
“Kau terlihat sangat bahagia malam ini,” bisik Richard.
__ADS_1
Katherine tahu jarak mereka sangat dekat, kehadiran pria itu sangat terasa hangat di punggungnya, tapi ada nada sinis dalam kalimat itu. Memang sejak tadi, hanya senyum terpaksa yang mampu Katherine tunjukkan. Bisakah ia tersenyum bahagia walau keadaan sangat tak berpihak padanya? Walaupun ia juga sangat menyukai Richard—secara diam-diam.
“Ya, terima kasih padamu. Jika kau benar-benar akan menjadi suamiku, mulai sekarang perbaiki aksen Jermanmu. Kau tahu dirimu sangat buruk, kan?” balas Katherine.
Setidaknya jika ada Enzo di sini, malam ini tak perlu menjadi semakin buruk, tapi, pria itu menenggelamkan dirinya di tumpukan berkas-berkas yang sangat membosankan. Bagaimana ia bisa memiliki sepupu yang sangat dingin dan juga tak memiliki perhatian sedikitpun pada saudaranya?
Richard menggamit pinggang Katherine tanpa beban, ia tak akan berpura-pura menjadi pria yang polos dan manis pada tunangannya yang satu ini. Siapa yang sangka jika orang tua keduanya adalah rekan bisnis dulu? Richard juga tak terlalu suka dengan kedua orang tuanya yang tiba-tiba menjodohkan ia pada gadis yang tak di kenal, dengan alasan bisnis tentunya.
Hanya ketika ia menyadari jika wanita yang di jodohkan padanya adalah Katherine, ia bisa sedikit menerimanya. Setidaknya ia mengenal wanita itu walau tak lama, dan tugasnya sebagai anak sulung adalah menuruti semua kemauan orang tua, jika tak ingin mereka menyentuh sang adik, Michelle.
Michelle memang kadang berperilaku buruk, tapi sebagai kakak, tugasnya adalah melindungi sang adik, termasuk dari kedua orang tua yang lebih mementingkan bisnis di banding anak-anaknya. Ini juga bukan perjodohan pertamanya. Misi awalnya yang hanya ingin menjenguk Dimitri dan perasaan galaunya, justru berujung perjodohan
dadakan.
“Nikmati saja, setidaknya kau lebih tahu seberapa brengsek diriku di banding pria lain yang mungkin akan kembali di jodohkan padamu,” ucap Richard.
“Karena kau brengsek, makanya aku tak ingin dekat denganmu.”
Richard bukan pria brengsek, jika brengsek, di hari pertama pertemuan mereka, pria itu sudah meniduri Katherine. Itu hal langka yang Katherine temukan selama bertemu pria, dan sekarang pun jantungnya berdetak tak karuan karena Richard di sampingnya.
“Aku akan membuatmu dekat denganku, walau kau tak menginginkannya.” Richard menunjukkan senyum miringnya pada Katherine yang di balas dengan dengusan malas wanita itu.
“Jujur saja pada dirimu jika memang kau menyukaiku, akan lebih mudah seperti itu. Apa menyenangkan bersembunyi di balik sifat tak acuhmu itu?”
Katherine merasakan tatapan Richard dari sampingnya, apa gerak tubuhnya semudah itu untuk di baca? Bukan tanpa alasan Katherine melakukan hal ini, kita memang tak bisa begitu saja mempercayai pria asing yang tiba-tiba di jodohkan pada kita, kan? Bagaimana jika akhirnya mereka melakukan hal buruk pada kita?
“Terserah apa katamu saja, kau akan terus berasumsi sesuai pikiranmu, aku tak akan melarang.”
Apa wanita di sampingnya ini sedang bermain tarik ulur dengan Richard? Karena Richard merasa seperti itu, yang benar saja! Ternyata wanita seperti ini masih sangat banyak populasinya di dunia ini.
“Kau membuatku ingin menciummu.”
**
“Apa kamu harus kembali ke Jerman lagi? Kamu gak mau di sini saja bareng Ibu sama Bapak?”
Itu adalah pertanyan kesekian Ibu Liliana ketika mengantarkan putrinya dan juga cucu pertama yang akan kembali ke negara orang lagi, dan juga sendirian. Orang tua mana yang rela anaknya pergi ke tempat asing yang sangat jauh dari jangkauan mereka.
Bahkan ketika Liliana sudah kembali mendarat di Jerman, pertanyaan sang Ibu itu masih saja bertengger di otaknya. Liliana kembali menjadi putri yang egois untuk orang tuanya, ia kembali ke Jerman ketika orang tuanya sangat menginginkan sang putri tunggal ada di samping mereka. Entahlah, Liliana hanya tak bisa lebih lama berada di udara yang sama dengan Dimitri. Bukan karena rasa benci yang ia miliki, ini lebih kepada rasa sesak ketika mengingat pria yang pernah mengisi hidupnya.
“Kalau memang ini untuk kebahagiaan kamu, Bapak sama Ibu gak masalah. Kamu selalu bisa kembali di sini, Bapak sama Ibu akan selalu ada di sini untuk kamu. Ambil waktu yang kamu inginkan, lalu berbahagia.”
Kalimat Bapak mampu membuat air mata yang berusaha Liliana tahan kembali mengalir. Ia sangat tahu betapa banyak rasa sayang yang ia terima dari kedua orang tuanya, tapi sebagai anak, Liliana belum melakukan banyak hal untuk membalas semua itu. Yang sebenarnya Liliana rasakan adalah, ia tak ingin lebih banyak orang yang
mengetahui rasa sakitnya.
__ADS_1
Perjalanan hampir satu hari yang Liliana tempuh dari Jakarta semakin menambah rasa lelah pada dirinya. Lelah fisik tak mampu mengalahkan lelah pada hatinya, semua masalah sudah ia selesaikan dengan baik—mungkin—dan ia juga tak sedang melarikan diri. Ya, ia tak sedang melarikan diri, tak ada masalah yang ada di Jakarta, semua sudah sangat jelas. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah kembali memulai kehidupan barunya di Jerman.
“Hei, Liliana!”
Liliana menoleh dengan teriakan sekuat tenaga itu, dan menemukan Katherine di ujung koridor sedang menatapnya dengan kesal. Liliana meletakkan telunjuknya di depan bibir, memberi tanda untuk diam karena Elang di gendongannya sedang tertidur. Katherine dari ujung sana langsung mengerti dan melangkah dengan perlahan
menuju Liliana. Setelahnya, ia langsung memeluk Liliana dari samping dengan erat.
Percaya atau tidak, Liliana hanya pergi selama tiga minggu. Perceraiannya selesai dalam waktu itu, sudah termasuk menghabiskan waktu dengan orang tuanya dan juga Nabila. Semuanya selesai dalam waktu singkat, membuatnya terlihat seperti wanita yang sama sekali tak memiliki hati.
Keduanya masuk ke dalam apartemen Liliana dengan perlahan. Perjalanan panjang di pesawat sempat membuat Elang sedikit rewel, ia baru bisa tenang ketika hampir mencapai tujuan, dan tertidur hingga sekarang.
“Kau masih tinggal di sini? Belum berdamai dengan kedua orang tuamu?” tanya Liliana. Ia sudah menidurkan Elang, lalu segera menjamu tamu pertamanya dengan jus jeruk yang kebetulan masih sangat bagus di kulkasnya.
“Aku hanya mampir untuk mengambil beberapa barang, Enzo yang saat ini menempati apartemen itu.”
Liliana hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Katherine, ia tak terlalu tertarik dengan apa yang terjadi. Mungkin ia hanya lelah setelah perjalanan jauh.
“Aku di paksa tinggal di Berlin dan membantu Ayahku, kurasa kita akan jarang bertemu,” ucap Katherine, ia terdengar cukup sedih, apa Liliana tak salah menerka?
“Well, sangat jelas terlihat di wajahmu kalau kau sangat terpaksa. Setidaknya kau bisa menuruti perintah orang tuamu dan menjadi anak baik.”
“Aku lebih suka menjadi wanita bebas dan tak terikat apapun, ini menyiksaku.”
Liliana tak tahu harus menanggapi seperti apa, ia sedikit banyak mengerti apa yang sedang di rasakan Katherine. Walaupun wanita ini sangat cerewet, setidaknya Katherine sangat baik dan ia memang hanya menginginkan kebebasan. Pandangan Liliana tertuju pada cincin yang melingkari jari manis wanita ini.
“Kau bertunangan?” tanya Liliana.
“Kau ingin menebak siapa pria ini?”
“Akhirnya kau menerima perjodohan yang di atur orang tuamu, sepertinya banyak yang berubah ketika aku pergi.” Liliana tersenyum geli menatap Katherine yang terlihat memasang wajah masam.
“Kau akan terkejut ketika tahu siapa pria ini,” ujar Katherine.
“Aku tak tertarik. Sepertinya kau sudah bisa pergi, aku ingin istirahat,” usir Liliana.
Katherine mendecakkan lidahnya, ternyata tak ada yang berubah walau wanita ini sudah kembali dari kampung halamannya, tapi setidaknya kini ia memiliki teman untuk sekadar bercerita. Ia juga tak akan segan-segan terbang ke Frankfurt hanya untuk wanita ketus ini.
“Baiklah, baiklah, aku akan pergi. Sampaikan salamku untuk Elang, aku akan datang kemari bersama TUNANGANKU, untuk memberimu sedikit kejutan.” Katherine menekankan kalimatnya di bagian tunangan, ia hanya merasa hidupnya kini sangat lucu. Bagaimana bisa dari jarak yang sejauh ini ia justru bertunangan dengan teman Liliana dari Indonesia?
Liliana sama sekali tak menggubris kalimat Katherine, ia juga tak peduli siapa tunangan wanita ini, siapapun itu, semoga wanita ini bahagia. “Oh, aku melupakan sesuatu. Jika ada waktu, kau bisa menemui Enzo, sepertinya dia sangat merindukanmu.”
Katherine sudah benar-benar keluar dari apartemen Liliana. Enzo. Apa ia harus memulai semuanya dari pria ini?
**
__ADS_1
Gimana, gimana? Apa kalian masih sanggup buat ngikutiin kisahnya lili-dimitri?