
Hai, aku mau ngasih bocoran dikit ya soal lili-dimitri ini. Aku tahu banyak bgt kalian yang kesel kenapa ceritanya lili ini gak ada bahagia-bahagianya sama sekali, aku paham kok, nanti lili akan bahagia kok, tapi jalan menuju kebahagiaan itu gak segampang yang di bayangin. ini baru permulaan aja, masih ada hal-hal yang mengejutkan di part selanjutnya.
Dan aku mau ngasih tau kabar gak mengenakkan buat cerita ini, mungkin mulai bulan depan aku akan update playboy seminggu 3 kali, dari hari senin, rabu, jumat. Kalau beruntung, aku bisa update tiap hari, jadi kalau aku di hari yang di sebutin itu gak update, kalian bisa nagih, nanyain, atau apapun itu supaya aku update. Bukan mauku update minim, tapi memang keadaannya kayak gini.
Makasih juga buat kalian yang setia komen dan baca karya abal-abal ini, percayalah, kalian itu sumber semangatku nulis sampe sebanyak ini. Tanpa kalian yang nagihin terus-terusan, aku mungkin gak akan nulis sampe sejauh ini. Maapin ya kalo cerita ini jauh dari ekspektasi kalian. Aku cinta kalian semua :)
Maaf kepanjangan ya pembukaannya, happy reading^^
Tak pernah terbayangkan ketika Liliana, Enzo, Dimitri, dan Evelyn akan berada di ruangan kotak yang cukup sempit ini. Setidaknya masih bisa menampung mereka semua, walaupun dengan suasana yang sangat canggung. Liliana bahkan secara tak sadar sudah memegangi dengan erat lengan Enzo. Restoran yang mereka datangi berada di lantai tiga, jadi tak akan lama untuk mereka turun.
Elang masih nyaman berada di pelukan hangat Enzo, membuat tatapan tajam Dimitri hanya tertuju pada pria itu, bergantian dengan menatap bayi mungil yang ada di dekapan pria itu. Bagaimana bisa seorang pria asing memeluk putranya sendiri sementara sang Ayah yang sebenarnya hanya bisa menatap semua itu?
Dentingan pintu lift menyadarkan semua orang yang ada di ruangan kotak itu dari pikirannya masing-masing. Enzo segera menuntun Liliana keluar, ia sangat menyadari betapa erat genggaman tangan wanita itu di lengannya sejak tadi.
“Liliana, bisa kita bicara sebentar?”
Langkah Liliana dan juga Enzo terhenti, keduanya menoleh ke belakang dan menatap Dimitri yang sudah memasang wajah dingin. Evelyn masih ada di sampingnya, entah apa yang coba di lakukan wanita itu.
“Mungkin lain kali, kami harus segera pulang.” Enzo yang mengatakan kalimat itu dengan tenang. Walaupun Liliana tak melakukan apapun dan terlihat tenang, hatinya sangat bergejolak tak menentu.
Mungkin nanti ia akan benar-benar menanyakan tentang hubungan Liliana dan pria yang selalu membuat wanita itu ketakutan. Itu pun jika Liliana ingin menjawab pertanyaan itu, kedekatan mereka yang seperti ini saja masih menciptakan jarak tak kasat mata di antara keduanya. Mengenai perasaannya pada Liliana, entahlah, ia hanya memiliki perasaan sangat ingin melindungi wanita ini dari apapun. Apa itu termasuk cinta?
“Leena, kita harus benar-benar bicara.” Dimitri mengatakan semua itu dengan penuh penekanan, ia tak mempedulikan pria itu ataupun Evelyn yan masih menatap dirinya tak mengerti. Dimitri juga tak mengerti kenapa wanita ini masih ada di sini bersamanya.
“Mungkin lain kali, Dimitri.”
Setelahnya Liliana berjalan lebih dulu menuju mobil Enzo, ia tak mempedulikan Dimitri yang sudah kesal. Panggilan itu hanya di gunakan ketika ia kesal dan Liliana tak melihat sesuatu yang membuatnya kesal. Bukankah mereka sama-sama impas? Lalu apa lagi yang tersisa? Mereka sudah di katakan tak memiliki hubungan apapun lagi, kecuali Elang yang berada di antara mereka.
“Bukankah kalian sudah bercerai? Apa kamu jauh-jauh datang kemari karena mantan istri kamu itu?” tanya Evelyn. Ia sama sekali tak membaca situasi yang ada dan tetap menanyakan hal yang sangat sensitif untuk Dimitri.
Dimitri menatap Evelyn dengan dingin. Bisa-bisanya wanita ini datang lagi ke kehidupannya seolah tak memiliki rasa bersalah sama sekali?
“Apa kamu tak memiliki rasa malu sama sekali? Apa memang menjadi murahan adalah tujuan hidupmu? Sudah berapa banyak pria yang masuk ke dalam jebakanmu? Setidaknya jika usiamu sudah tak memungkinkan untuk menjalin hubungan dengan pria muda, jadilah terhormat! Aku benar-benar kasihan pada mantan suami dan anakmu.”
Ini adalah batas akhir kesabaran yang di miliki Dimitri. Kejadian satu tahun lalu benar-benar jebakan untuknya, dengan dalih mewakilkan suaminya untuk melancarkan proyek yang sedang berjalan, wanita ini membuat kontrak perjanjian dengan jumlah uang yang sangat fantastis dan kesempatan untuk melebarkan sayap bisnis Dimitri ke negara lain.
Dimitri bukan orang baru dalam hal bisnis, dan ia sangat tahu mana yang mencoba menipunya, dan mana yang benar-benar ingin bekerja sama. Semua taktik wanita itu sangat mulus, hingga membuat Dimitri tergiur. Bagian itu memang kesalahannya, dan ia juga sudah berkali-kali mengakuinya, kan?
Setelah semua itu terjadi, Dimitri mulai menelusuri seluk beluk Evelyn, dan wanita itu sama sekali tak memiliki dendam atau rasa ingin balas dendam pada Dimitri maupun Liliana. Ia hanya wanita yang sangat menyukai pria muda, sang suami juga menyelingkuhi dirinya dan menutupi itu semua dengan rapi, walaupun tetap, Evelyn mengetahuinya. Mungkin itu salah satu alasan untuk menggoda pria lain, dan Dimitri adalah korban pertamanya.
Jadi kesalahan Dimitri di sini adalah, ia tak memberitahukan perihal Evelyn yang menjebaknya dan membuat mereka tampak seolah-olah tidur bersama. Dimitri tak terlalu mengingat dengan jelas kejadian itu, karena saat itu ia sangat mabuk, mungkin mereka benar-benar melakukannya, mungkin juga mereka tak melakukannya. Percayai
saja apa yang ingin kalian percayai.
Dimitri ingin melindungi Liliana dari segala kenyataan yang ada, karena ia ingin menyelesaikan proyek tersebut dengan cepat lalu kembali pada istri tercintanya. Tapi, ia tak pernah memperhitungkan bahwa Liliana akan mengetahuinya, dan fakta bahwa Dimitri juga pernah melakukan hal yang sama di masa lalu semakin membuat
kepercayaan Liliana pada Dimitri berkurang. Dimitri melupakan detail kecil seperti itu.
__ADS_1
Ketika Dimitri mengatakan untuk bercerai, ia tak benar-benar serius, ia sangat menyesalinya bahkan hingga saat ini. Yang tersisa saat ini hanya penyesalan itu, dan Dimitri benar-benar ingin menebusnya.
**
“Kau sebenarnya ada hubungan apa dengan Enzo?” tanya Katherine. Untuk kesekian kalinya setelah tiga hari yang lalu.
Semua itu berawal dari Enzo yang meminta Katherine untuk selalu berada di sisi Liliana selama ia pergi ke Berlin. Sedikit berlebihan, tapi memang itu yang sebenarnya terjadi. Katherine bahkan harus selalu pulang dan berangkat kerja bersama Liliana, tentu saja dengan iming-iming Enzo yang akan membereskan kekacauan wanita itu pada sang Pamannya.
Mereka saat ini tengah berjalan kaki menuju gedung apartemen mereka. Katherine bahkan terpaksa menaiki kereta bawah tanah karena Liliana menolak untuk berkendara dengan mobil. Wanita yang sangat aneh untuk ukuran Katherine yang terbiasa dengan mobil.
“Kami tak memiliki hubungan apapun, Kate. Aku bahkan tak mengerti kenapa ia memintamu untuk menjagaku, aku bisa menjaga diriku sendiri.”
Liliana juga kesal dengan pria itu, ia sangat berterima kasih dengan semua bantuan yang di berikan pria itu selama ini. Mereka juga tak sedekat itu untuk saling menjaga satu sama lain. Intinya, Enzo sangat berlebihan, walaupun ia juga kadang tersenyum dengan bantuan kecil yang selalu Enzo buat untuk dirinya.
“Tapi aku pernah bilang kalau kalian sangat cocok, kan? Aku benar-benar serius tentang hal itu, aku tak pernah menyangka kalau pria itu akan melakukan hal seperti ini padamu. Setelah empat tahun yang lalu, ia tak pernah terlihat dekat lagi dengan seorang pun wanita, bahkan semua wanita yang di jodohkan padanya, ia tolak mentah-mentah,” ucap Katherine panjang lebar.
Liliana berusaha mencerna dan menyerap semua ucapan Katherine dengan baik. Jadi, bisa di bilang, Enzo adalah pria yang sangar bersih dari catatan pemain wanita. Setidaknya, itulah yang ada di pikiran Liliana saat ini.
“Siapa pria itu?”
Langkah Liliana terhenti ketika melihat pemandangan yang baru saja di tunjuk oleh Katherine. Siapa lagi kalau bukan Dimitri yang lagi-lagi berdiri di depan gedung apartemen itu.
“Apa itu pria yang di katakan oleh Enzo?” tanya Katherine.
Liliana tak mengetahui seberapa banyak yang di ceritakan oleh Enzo pada Katherine, ia juga tak akan memprotes. Toh, selama ini juga pria itu banyak membantunya walau Liliana tak bisa membalas apapun yang di lakukan pria itu.
“Kau masuk duluan saja, dia temanku dari Indonesia.” Liliana tersenyum pada Katherine dan mengisyaratkan wanita itu untuk masuk duluan ke gedung apartemen tanpa kalimat lagi.
Liliana tahu cepat atau lambat ia akan kembali menghadapi Dimitri, ia sudah belajar dari masalah-masalah sebelumnya. Semakin ia menghindari, pria itu tetap akan berkeliling di sekitarnya, sengaja ataupun tidak, karena Tuhan sudah menempatkan segala hal dalam posisi masing-masing. Hanya soal waktu saja, mereka di pertemukan kembali.
Sebanyak apapun waktu yang Liliana butuhkan untuk menghadapi Dimitri, ia tak akan bisa mendapatkannya. Tak selamanya waktu bisa membantu kita untuk menjadi kuat dan menghapus secara perlahan memori-memori kesedihan di otak dan juga hati kita. Hadapi saja, lalu kita akan tahu hasilnya. Sebanyak apapun teori yang kita terapkan untuk menangani urusan hati, semuanya sama sekali tak berguna ketika kita berhadapan langsung dengan sumber masalahnya.
**
“Bicaralah, aku akan mendengarkan.”
Liliana sudah menelepon pengasuh Elang untuk menjaganya sedikit lebih lama, ia akan menyelesaikan semuanya dengan mantan suaminya ini. Apapun hasil yang ada, mereka tetap sudah bercerai.
Dimitri menatap Liliana dengan penuh kerinduan, ia tak akan berbohong bagaimana selama ini ia sangat merindui wanita ini. Ia ingin Liliana juga tahu kalau selama ini ia tak baik-baik saja dengan perceraian mereka, lalu fakta kalau ada anak di antara mereka, semakin menambah kerinduan yang Dimitri rasakan.
“Apa kabar?” tanya Dimitri.
“Sangat baik. Setelah perceraian itu.”
Ia tak baik-baik saja, ia merasa ketakutan selama ini, walaupun menghidupi diri sendiri sudah biasa ia lakukan sejak dulu, rasanya berbeda ketika ada tanggung jawab lain di pundaknya. Ia tak baik-baik saja, tapi selalu berusaha untuk baik-baik saja karena hanya dirinya yang ia miliki saat ini, ia harus selalu kuat untuk putranya juga.
“Sepertinya kekasihmu pria yang baik.” Jeda. Bagaimana bisa Dimitri memuji pria lain yang sudah jelas menjadi kompetitor terbesarnya?
Hening.
__ADS_1
Liliana tak menyiapkan kalimat apapun yang akan ia katakan pada Dimitri, ia hanya sudah menduga kalau-kalau Dimitri muncul lagi suatu saat. Lagipula tak ada kalimat lagi yang ingin Liliana sampaikan, dulu sudah ia lakukan, dan itu sudah cukup.
“Apa aku bisa menyebut bayi itu sebagai ‘putraku’?”
Tatapan mereka bertemu untuk sesaat, sebelum Liliana memutuskan untuk memalingkan wajahnya. Ada harapan di mata itu, dan Liliana tak bisa menghadapi itu lebih lama lagi. “Ya, bagaimanapun dia juga putramu.”
Bohong jika Liliana mengatakan ia tak gugup sama sekali, ini lebih menegangkan di banding pertemuan pertama mereka dulu setelah pengkhianatan yang sama tapi berbeda kasus. Kali ini Liliana sendiri yang memutuskan kisah dramanya ini, tanpa bantuan siapapun.
“Jika tak ada hal lain yang akan kamu katakan, aku akan pergi,” ucap Liliana. Membiarkan hati dan pikirannya terombang ambing di sini sangat tak baik untuk kesehatannya. Ia masih berusaha untuk kuat menghadapi Dimitri, bukan benar-benar kuat.
“Aku tak memiliki hubungan apapun dengan Evelyn, aku bahkan sama sekali tak tahu kalau dia ada di sini juga. Semuanya terjadi secara tiba-tiba di restoran itu.”
Liliana memberanikan diri untuk menatap Dimitri, wajahnya ia buat sedatar mungkin hingga tak memungkinkan untuk mengetahui apa isi hatinya saat ini.
“Kita juga sudah bercerai, kenapa kamu harus menjelaskan semua itu padaku? Kamu bisa berhubungan dengan siapapun termasuk Evelyn, karena aku juga—“
“Aku tak pernah menginginkan perceraian ini, Li,” potong Dimitri.
Tatapan mereka masih terpaku satu sama lain, Dimitri ingin membuktikan kesungguhannya, lalu jika ia beruntung, ia akan berusaha sekuat tenaga lagi untuk memenangkan hati wanita ini. Seperti yang di katakan Richard, pasti masih ada kesempatan untuknya, walau hanya berupa dua puluh persen kemungkinan atau mungkin lima persen kemungkinan, ia akan mempertaruhkan semuanya untuk membangun kembali keluarga kecilnya.
“Seharusnya kamu mengatakan itu satu tahun yang lalu, kamu pikir semuanya akan kembali seperti sedia kala meskipun kamu menginginkannya? Kenapa kamu harus seegois ini? Apa kamu pernah, untuk sedetik saja memikirkan bagaimana perasaanku saat ini?”
Dimitri diam. Wajah tanpa ekspresi itu saja sudah cukup untuk mengintimidasinya, lalu di tambah berbagai kalimat menusuk itu. Dimitri sangat sadar betapa banyak kesalahan yang ia miliki, dan seberapa dalam luka yang sudah Liliana terima karena hal ini.
“Ini salahku, seandainya waktu itu aku berbicara jujur padamu, kupikir kita tak akan seperti ini. Tapi, kamu juga harus tahu kalau aku terjebak dalam situasi ini.”
Dimitri akhirnya menceritakan semua hal yang terjadi pada dirinya, segalanya tanpa melewatkan satu hal pun. Hanya ini kesempatannya untuk berbicara, dan ia tak ingin kembali menyiakannya. Ia tak akan dengan bodoh kembali mengulangi kesalahannya seperti dulu dan kembali kehilangan untuk kesekian kalinya. Tuhan begitu
jahat karena mempermainkan hatinya sedemikian rupa, apa bahagia sesulit ini?
Ini tak benar ketika mengatakan jika Tuhan jahat, semua memang terjadi atas kehendak Tuhan, tapi selama kita bisa mencegah dengan baik, hal seperti ini tak akan terjadi. Anggap saja Dimitri masih mengandalkan egonya dan tak ingin di salahkan oleh apapun yang menimpa dirinya dan juga—mantan—istrinya.
“Apa yang kamu harapkan setelah mengatakan semua itu?” tanya Liliana.
“Aku hanya ingin kamu tahu kebenarannya, aku tahu ini terlambat dan semua ini sangat sia-sia, setidaknya aku sudah mengatakan semua ini.”
Keduanya sama-sama bersalah, andai mereka mau mengalah satu sama lain dan menurunkan ego masing-masing, mungkin hal seperti ini tak terjadi. Tapi, manusia mana yang tak memiliki ego? Semuanya memiliki, hanya dengan kadar berbeda-beda.
“Tak akan ada yang berubah, Al,” ucap Liliana. “Walaupun aku masih memiliki perasaan padamu, tapi aku tak akan kembali padamu lagi,” lanjut Liliana.
“Aku mengerti.” Dimitri tersenyum getir. Memang inilah yang pantas untuk ia dapatkan, setelah semua hal yang ia lakukan.
“Sebaiknya kita tak perlu sering bertemu, aku akan sangat menghargai itu.”
Liliana akan segera beranjak dari duduknya, ketika Dimitri mencekal lengannya. “Bisakah aku bertemu putraku?”
“Aku akan menghubungimu nanti.”
Lalu Dimitri kembali melepas wanita itu untuk yang kesekian kalinya. Setidaknya kali ini ia sudah berusaha, ia akan melakukan yang terbaik lagi di waktu berikutnya.
__ADS_1
**