Playboy

Playboy
#19. Back Again


__ADS_3

Hai, maaf ya telat, aku gak lupa kok kalo ini senin. Aku gak sempet nulis kemarin, jadi pagi tadi gak bisa update. As always, drop your keluh kesah di sini ya :) Happy reading!



Setelah menempuh penerbangan kurang lebih selama enam belas jam, Liliana dan Dimitri sampai di Jakarta. Perjalanan yang cukup panjang itu sedikit tak nyaman untuk Elang yang belum genap satu tahun. Tadinya Liliana tak ingin satu penerbangan dengan Dimitri, tapi pada akhirnya mereka berada di satu pesawat yang sama.


Tak ada yang tahu soal kepulangan Liliana, termasuk Nabila. Mungkin nanti ia akan memberi kejutan pada sahabatnya itu, alasan lainnya, ia tak ingin banyak yang mempertanyakan kepulangan yang sangat mendadak ini.


“Aku akan kembali ke apartemen milikku, kamu bisa melakukan pekerjaan seperti biasa, gak perlu repot soal aku dan Elang,” ucap Liliana.


Berkas perceraian mereka sudah masuk ke Pengadilan Agama, Liliana memastikan hal itu sendiri dengan pengacara yang ia tunjuk, dan untuk menolak segala bentuk mediasi yang di tawarkan oleh Pengadilan. Sepertinya lebih cepat lebih bagus, mereka tak seharusnya masih bersama setelah semua rasa sakit yang di tinggalkan.


“Ya, aku menerima semua keputusanmu.”


Mereka sedang berkendara menuju apartemen Liliana, apartemen yang ia miliki sebelum menikah dengan Dimitri, beruntung ia belum menjual apartemen itu. Sepanjang perjalanan juga sangat sunyi, Elang yang biasanya banyak berceloteh juga sedang tidur. Tak ada topik yang mampu mereka bicarakan di sela-sela perjalanan ini.


Dimitri juga lebih banyak diam, ia tahu apa yang sedang di hadapi, kecewa karena pada akhirnya ia tak bisa mempertahankan rumah tangga yang selama ini ia bangun. Ia turut andil dalam memberikan rasa sakit pada Liliana dan juga badai pada rumah tangga mereka, jadi, ia pantas menerima semuanya.


“Kamu mau mampir? Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” pinta Liliana.


Liliana turun lebih dulu dengan Elang dalam gendongannya, hanya satu koper yang ia bawa dari Jerman, yang kebanyakan adalah perlengkapan Elang. Entahlah, mungkin ia akan kembali ke Jerman lagi, bukan karena kalimat Enzo tempo hari, ia rasa Jakarta tak akan cocok dengannya. Begitupun dengan gagasan tinggal bersama orang tuanya, walaupun ada keinginan itu juga.


Akhirnya Dimitri mengikuti Liliana menuju apartemennya, ia ingin tahu apa yang akan di bicarakan Liliana. Yang jelas, itu bukan keinginan untuk rujuk, mereka hanya tinggal menunggu undangan dari Pengadilan saja.


Kamar apartemen Liliana masih sama sejak pertama ia tinggalkan, ada orang yang membersihkan kamar apartemen ini rutin, jadi tak perlu takut dengan debu yang mungkin saja menempel di tiap perabotan. Tak ada keinginan untuk menjual atau menyewakan apartemen ini, ia lebih suka ini menjadi miliknya seorang diri.


Dimitri menunggu di ruang tamu sembari menunggu Liliana menidurkan Elang di kamarnya, ia masih menyimpan kenangan ketika mendatangi apartemen ini. Tak mudah memasuki ruangan paling pribadi Liliana ini ketika kita bukan yang di inginkan wanita itu. Sebelum menikah, Dimitri pernah berjanji untuk tak kembali menyakiti wanita itu, ia tak akan melakukannya karena usaha yang ia butuhkan untuk kembali meluluhkan hati itu sangat berat.


Tapi, ternyata semua tak berjalan dengan semestinya. Kisah cinta tak berakhir ketika kita sudah menikahi wanita yang kita cintai, itu hanyalah awal dari kisah cinta yang sebenarnya. Seluruh badai untuk menguji seberapa kuat cinta kita mulai muncul, bukan hanya cinta yang di butuhkan, ada kepercayaan, komitmen, komunikasi, dan kerjasama dari kedua belah pihak untuk bertahan hingga akhir.


“Kamu mau minum apa?” tanya Liliana.


Dimitri membalikkan tubuhnya untuk menatap Liliana, setiap menatap wanita ini, ada rasa sakit yang masih belum mampu hilang dari hatinya. Apa ini karena ia terlalu mencintainya? Lalu kenapa menyakiti jika sudah terlalu mencintai?


“Apa aja.” Dimitri duduk di sofa yang ada di dekatnya.


Tak lama kemudian, Liliana membawa dua gelas jus jeruk dari arah dapur dan menghidangkannya di meja. Liliana sudah memikirkan semuanya sebelum kembali bersama Dimitri, ia ingin berbicara dengan Dimitri dalam suasana yang tak emosional.


“Aku ingin tahu, kenapa kamu melakukan ini? Perceraian kita, kenapa kamu memalsukannya?” tanya Liliana.


Tatapan Dimitri beralih pada jus jeruk di hadapannya, semua yang ia lakukan kala itu benar-benar tindakan yang tak ia sengaja. Bahkan sebelum Dimitri menandatangani surat itu, Liliana sudah meninggalkannya. Rasa kekhawatiran yang ia miliki tak bisa di bendung lagi, jika hubungan mereka benar-benar berakhir, maka tak akan ada ikatan lagi di antara mereka. Memang seperti itu, hanya saja, Dimitri tak bisa membiarkan seperti itu. Ia ingin, di manapun keberadaan Liliana, Dimitri masih menjadi bagian dari dirinya. Walaupun tanpa sepengetahuan wanita itu.


“Kita tak menginginkan perceraian ini, aku hanya harap kita bisa kembali bersama lagi. Aku ingin kembali menjadi penyembuh luka yang sudah kuciptakan.”


“Bagaimana jika itu semakin menyakitiku?”

__ADS_1


“Aku sama sekali gak memperhitungkan itu, aku hanya berpikir kita bisa saling menyembuhkan jika hubungan ini belum terputus.”


Liliana diam. Bagaimanapun, perceraian ini juga menyakitinya, namun jika mereka kembali bersama, apa semuanya akan kembali seperti semula? Apa mereka masih bisa menatap dengan penuh cinta jika kembali bersama? Ia tahu, egois sangat tak di butuhkan di sini, sudah ada Elang di antara mereka, dan itu bukan hal kecil.


Ia ingin putranya tumbuh dalam keluarga yang lengkap juga harmonis, dengan mereka bercerai, bagaimana kehidupan putranya kelak?


**


“Dan sekarang kamu yakin sama keputusan kamu ini?” tanya Nabila.


Liliana benar-benar mengejutkan Nabila dengan muncul di depan rumah Nabila siang itu. Reno sedang melakukan seminar di luar kota, jadi Nabila dan kedua anaknya hanya di temani sang Bibi yang biasa membantu mengurusi rumah dan juga kadang menyiapkan segala keperluan kedua balita Nabila.


“Ya, aku udah yakin.”


Elang sedang tidur bersama kedua anak Nabila karena memang sudah waktunya tidur siang, setelah menyantap makan siang mereka.


“Aku sama sekali gak tau kalau perceraian kamu gak pernah terjadi, pengacara kamu bahkan udah mastiin kalau kalian udah resmi cerai.”


“Aku tahu.”


Siapa di dunia ini yang ingin berpisah dengan pasangannya, apalagi jika ikatan itu sudah sakral seperti pernikahan. Pada dasarnya Liliana juga tak menginginkan perceraian ini, banyak yang ia pikirkan untuk masa depannya nanti, tapi ia juga tak bisa menatap Dimitri dalam perasaan yang sama. Ia tak bisa tersenyum bebas dan menatap Dimitri dengan penuh cinta seperti sebelumnya, ketika Liliana menatapnya, hanya ada rasa sakit di sana. Dan itu semakin menambah bebannya.


“Kalau memang ini yang terbaik buat kamu, jangan pernah tunjukin muka sedih kamu. Setidaknya kamu harus tersenyum lagi dan bangkit demi Elang,” ucap Nabila.


“Apa rencana kamu selanjutnya?”


“Mungkin balik ke rumah Ibu, setelahnya aku mungkin kembali ke Jerman. Rasanya, aku gak bisa tinggal di sini lebih lama.”


“Kamu tahu, kan, kalau aku akan selalu di sini untuk dengerin semua kisah kamu, jangan ngerasa sendiri.”


Liliana tersenyum mendengar kalimat Nabila, sahabatnya ini selalu tahu apa yang terbaik untuk dirinya, dan selalu lebih pengertian di banding siapapun. Kenapa kisah cintanya seperti ini? Menemukan yang sangat mengerti dirinya saja sudah tak mampu lagi, bagaimana ia mempertahankan apa yang ia miliki saat ini?


Rasa kesedihan itu kadang masih menyelip di hatinya, seberapa keras ia mencoba untuk menutupi semua kesedihan itu. Ia ingin semua berlalu, ia ingin menganggap ini sebagai bagian dari pembelajaran untuk semakin kuat menghadapi tantangan yang lebih besar. Selagi kita masih bernapas di dunia ini, selagi jantung kita masih


berdetak pada hati yang sama, rasa sakit itu akan tetap ada.


Jika nanti, mereka kembali bertemu dengan hati yang benar-benar baru, dan sakit dari masa lalu mereka sudah terhapus oleh waktu, Liliana tak masalah jika akan kembali mencinta. Biar waktu yang akan menentukan kemana hatinya akan berlabuh lagi, saat ini ia hanya ingin bersandar pada dirinya sendiri yang sudah berusaha keras. Nanti, siapapun yang akan kembali memenangkan hatinya, ia akan menyerahkan dengan utuh.


**


Hal yang tak pernah Katherine duga akan terjadi dalam hidupnya, sebenarnya ini memang akan terjadi padanya dan ia juga sudah merelakan saja. Ia memasuki perusahaan sang Ayah yang berpusat di Berlin, dan akan mempelajari dari awal tentang bisnis dan manajerial. Ia sudah mempelajarinya dulu ketika kuliah, saat ini yang di perlukan adalah praktek langsung di perusahaan yang sesungguhnya.


Membayangkan setumpuk berkas yang akan di pelajari, serta terjebak dalam ruangan sempit—padahal lebar—untuk waktu yang tak bisa di tentukan. Ia harus melakukan ini agar sang Ayah tak kembali menjodohkan dirinya dengan anak dari kolega-koleganya. Pilihan sang Ayah mungkin yang terbaik, tapi Katherine tak akan semudah itu untuk mengakrabkan diri dengan pria baru. Ia sedikit pemilih untuk urusan romansa.


Benar saja, siang itu, Katherine bahkan tak ingin keluar untuk menikmati makan siangnya. Bagaimana ia bisa menikmati, jika pekerjaannya belum ada satupun yang selesai? Mungkin ini karma karena sudah meremehkan Enzo selama ini, pria itu pasti sangat berusaha keras, apalagi banyak karyawan yang berada di bawah pimpinannya.

__ADS_1


Katherine akan menarik kembali seluruh makian yang ia lontarkan pada Enzo, ia tak ingin semakin banyak mendapatkan karma.


“Permisi, Frau, pria yang Herr Anthony sarankan sudah datang,” ucap sekretaris Katherine yang masih sangat muda itu. Mungkin masih pertengahan dua puluh.


Tahu apa yang lebih lucu lagi? Ayah Kaherine memutuskan untuk mencari seseorang yang sudah ahli di bidangnya untuk secara khusus mengajari Katherine untuk memahami seluk beluk manajerial. Dan itu pria, Katherine tak tahu jika Ayahnya mungkin memasang jebakan dengan menjodohkannya secara halus.


Katherine menunggu dengan sabar pria yang di maksud oleh sekretarisnya, pilihan Ayahnya selalu tepat, tapi ia harap pria ini hanya akan muak dengannya setelah beberapa kali kencan. Katherine benar-benar tak bisa membayangkan hal seperti itu.


Sesaat setelah pria itu memasuki ruangan yang terbilang luas itu, mata Katherine membulat. Bagaimana pria itu ada di sana? Bagaimana mungkin pria itu yang di maksud oleh sang Ayah? Apa pria itu mengenal keluarganya? Siapa nama pria itu kemarin? Richard, kan?


“Apa aku harus menyebut ini sebagai sebuah kebetulan yang lain?” tanya Richard.


Dan sekarang pria asing itu akan membantunya untuk memahami segala hal tentang seluk beluk perusahaan, setelah terakhir kali pria itu dengan sangat lancang mencium dirinya. Ya, Katherine juga menikmati hal itu juga walau singkat, tak seharusnya ia menikmati ketika semuanya belum jelas. Dan sekarang, pria ini ada di sini, dengan setelan jas lengkap dan terlihat gagah dan juga lezat. Tunggu dulu, lezat? Sepertinya terlalu banyak pikiran di otak Katherine.


“Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Katherine lirih.


Eksistensi Richard benar-benar melemahnkan jiwa feminisme dalam diri Katherine, tak seharusnya ia seperti ini. Ia seharusnya bersikap selayakanya wanita yang jual mahal, ia harus menyelamatkan imejnya terlebih dahulu sebelum akhirnya benar-benar jatuh dalam segala pesona Richard.


“Mungkin ini takdir, kau terlihat tak menyukai ide ini, atau kau hanya terlalu terpesona denganku?”


Bagaimana jika dua manusia yang memiliki ego sangat besar dan keras kepala, lalu bertemu dan saling jatuh cinta, hanya saja rasa gengsi menghalangi perasaan mereka semakin berkembang. Tak serumit kisah cinta yang lain, tapi jika mereka tak berniat untuk menurunkan gengsi masing-masing, maka semua itu akan sama sulitnya.


“Kau pikir aku sebodoh itu? Apa yang terjadi dengan Ayahku? Kau mengancamnya atau bagaimana? Aku tak pernah mengenalmu sebagai salah satu anak kolega Ayahku.” Katherine sudah kembali pada kesadarannya untuk tak terlalu larut dalam pesona Richard.


Richard mengedikkan bahunya tak acuh, baginya ini permainan yang cukup menarik. Katherine adalah wanita yang sangat keras kepala dan sangat menghindari pria walau gaya hidupnya sangat bebas. Hal tersebut menjadi nilai tambah dalam penilaian Richard, entahlah, hanya membuatnya tertantang untuk mencoba dan jika beruntung, mungkin ia bisa memenangkan hati wanita itu.


“Apa itu penting? Aku di sini untuk membantumu, kau bisa menanyaiku sepuasnya.”


Katherine membuang tatapannya pada berkas yang berserakan di atas meja kerjanya, semuanya sangat berantakan dan ia butuh bantuan, tapi tidak dengan Richard. Jika kekhawatirannya benar-benar terjadi, pria ini bisa menjadi salah satu kandidat calon suami Katherine kelak. Pikiran Ayahnya sangat mudah untuk di baca.


“Sayangnya aku tak membutuhkanmu, kau bisa langsung keluar saja. Bilang pada Ayahku kalau aku sama sekali tak membutuhkan bantuan.”


Benar saja, seperti yang sudah mampu Richard duga, Katherine akan menolaknya mentah-mentah. Tatapan kaget dan memuja ketika ia baru memasuki ruangan wanita itu langsung menguap di gantikan dengan raut datar, yang membuat Richard semakin melebarkan senyumnya dan semakin ingin berjuang untuk mendapatkan hati wanita ini.


“Kupikir tak akan semudah itu,” ucap Richard. Tanpa di minta, ia berjalan menuju meja kerja Katherine, memutari meja itu, dan berdiri di samping kursi yang di duduki Katherine. Ia menundukkan kepalanya agar sejajar dengan tatapan Katherine, yang tentu saja di sengaja.


Katherine tahu yang terjadi, jika ia menggerakkan kepalanya sedikit saja, maka ia akan beruntung dengan mencium bibir atau pipi Richard. Gagasan itu sangat menggiurkan, tapi Katherine segera menepis pikiran itu. Ia tak boleh kalah oleh pesona pria ini yang sangat memabukkan dirinya.


“Sebaiknya kau menjauh dari dekatku, aku bisa menelepon keamanan kapanpun,” ucap Katherine lirih. Suaranya bahkan sangat mendukung dengan apa yang terjadi pada jantungnya, berdetak tak menentu dan gugup.


“Kau gugup.”


Katherine menahan napasnya, bagaimana mungkin masih ada pria yang mampu membuatnya senam jantung seperti ini?


**

__ADS_1


__ADS_2