
Rencanaku adalah bikin kalian baper dengan part ini, tapi gak tahu berhasil atau nggak. Yang digaris miring itu nyeritain masa lalu ya, jadi gak perlu bingung^^
**
Apa kalian pernah berpikir kalau yang terjadi padaku ini sangat aneh ataupun berlebihan? Usia kandunganku sudah memasuki minggu kedelapan, dan sejauh ini aku belum merasakan kesulitan yang berlebihan, kecuali masalah Dimitri dan wanita itu. Selebihnya calon bayiku ini sangat pengertian padaku.
Hanya satu hal yang sangat aneh untukku, tapi mungkin saja ini juga terjadi pada seluruh wanita hamil di dunia ini. Ngidam. Tak akan aneh jika aku hanya menginginkan makanan tertentu, untukku ini sangat aneh. Aku menginginkan untuk selalu dekat dengan Dimitri, itu benar-benar terjadi padaku. Bukan karena aku berlebihan, mungkin jauh di lubuk hatiku yang paling dalam memang merindukan kebersamaan kami, dan bayiku sangat tahu
keinginan terdalamku ini.
Hal paling mengejutkan yang baru saja kuterima adalah Dimitri yang mengambil cuti selama satu minggu dan akan menemaniku pulang ke rumah orang tuaku. Ini yang kuinginkan sejak beberapa waktu lalu, dan Dimitri melakukannya sekarang.
“Sebelum kehamilan kamu membesar, kita harus mengunjungi tempat yang kamu mau.” Itu yang ia ucapkan ketika aku bertanya alasannya.
Apapun alasan yang ia berikan, akan kuterima, asal aku selalu bersamanya. Sebenarnya aku tak tahu kapan perasaan cinta ini muncul, sampai aku bisa menikahi Dimitri. Sahabat hampir tujuh tahunku.
“Aku gak akan pernah jatuh cinta sama kasanova kayak kamu. Tipe idamanku itu, pria yang hatinya hanya untuk satu wanita. Bukan kayak kamu yang bisa gonta ganti cewek setiap waktu, jadi jangan terlalu berharap,” ucapku.
“Benarkah? Kamu akan nyesel kalau gitu karena udah melewatkan kesempatan.” Dimitri menunjukkan senyum miring yang menurutnya bisa meluluhkan hati setiap perempuan itu.
“Kita gak akan pernah jadi pasangan seperti yang kamu harapin. Kalau kamu deketin aku cuman buat main-main, mending jauh-jauh dari aku, aku sama sekali gak tertarik.”
“Gimana kalau teman?”
Aku menaikkan alisku dengan bingung. Teman? Yang benar saja. Itu hanyalah akal-akalan otak pintarnya untuk
mengelabuiku. Lelaki ini tak mungkin mendekatiku tanpa niat tertentu.
“Kamu pikir aku sebodoh itu untuk percaya? Nilai IPK milikku mendekati sempurna, jadi aku gak akan tertipu dengan hal kekanakan seperti ini,” ucapku tegas.
“Mau taruhan?”
Aku menatap Dimitri yang sudah memberiku senyum penuh kesombongan miliknya.. lelaki ini selalu berpikir kalau ia adalah segalanya, dan ia bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan.
“Kamu akan jatuh cinta denganku suatu saat nanti, jadi pastikan untuk jatuh cinta pada orang lain selain diriku.”
Aku menertawakan kenanganku. Awal kedekatanku dengan Dimitri sangat aneh menurutku. Ketika hampir semua mahasiswi di kampus mengenal Dimitri, hanya aku yang tak mengetahui dirinya. Dan semua kepercayaan dirinya sangat patut di apresiasi, karena aku cukup menikmati dirinya yang kadang sangat berusaha keras untuk menggodaku.
Bahkan kebanyakan gadis-gadis di kampusku sangat membenciku karena Dimitri yang selalu mengekoriku. Aku bukan seperti gadis-gadis kebanyakan yang cantik dan juga modis, aku sangat sederhana untuk ukuran mahasiswi di ibukota. Karena memang tujuanku datang ke ibukota untuk belajar, bukan untuk tebar pesona.
Jika mengingat kembali masa-masa itu, aku akan selalu tertawa. Seperti kenangan terindah yang pernah kumiliki. Bagaimana mungkin pria yang sangat tak mungkin mendekati tipe idamanku, saat ini justru menjadi suamiku? Bahkan aku sangat mencintainya.
“Kamu belum tidur?” tanya Dimitri. Sepertinya ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya sebelum kami berangkat ke rumah orang tuaku besok.
“Belum, aku masih beresin barang-barang yang mau di bawa besok.”
Obrolan kami sudah sedikit lebih santai sekarang. Kami semakin dekat karena ngidam yang kualami, dan kami tak mungkin canggung selamanya. Lupakan masalah apapun yang sedang menimpa kami, karena aku hanya ingin menikmati apa yang sedang terjadi padaku, masalah pasti akan selalu hadir. Yang bisa kami lakukan adalah
meminimalisir kemungkinan masalah ini menjadi semakin besar, dengan menguatkan hubungan di antara kami misalnya.
“Seseneng itu kamu mau pulang ke kampung halaman?” tanyanya dengan senyum lebar.
Aku mengangkat bahuku. “Tergantung gimana kamu perlakuin aku selama di sana, setidaknya bikin aku semakin percaya sama kamu,” tantangku.
__ADS_1
“Aku lebih suka kalau kamu bilang ‘untuk bikin kamu semakin cinta sama aku’.”
Aku pura-pura berpikir dengan serius. “Seharusnya tanpa aku bilang, kamu harus ngelakuin itu.”
Dimitri tertawa. Tawa yang sangat menular untukku, karena bisa membuatku ikut tertawa dan juga menghilangkan rasa lelah yang sedang kuderita. “Gimana kalau aku buktiin sekarang?”
Dimitri mendekatkan wajahnya padaku dengan senyum jahil yang tercipta di bibirnya. “Biasanya tindakan lebih meyakinkan di banding ucapan, kan?”
Aku kembali tertawa. Dadaku bergemuruh seiring jarak kami yang semakin dekat, aku gugup, tapi bibirku tak bisa berhenti tersenyum dan tatapan mata kami yang tak lepas. Aku suka perasaan ini, perasaan yang membuatku percaya kalau kami memang di takdirkan untuk bersama, bersama menghadapi segalanya, dan tetap bersama
meski badai tampaknya tak ingin pergi dari rumah tangga kami.
Bukankah setelah badai selalu ada pelangi, lalu setelah pelangi hilang, badai akan kembali muncul, lalu pelangi juga akan muncul setelahnya. Memang begitu kehidupan yang sedang kita jalani. Kita tak bisa berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja, kita juga butuh badai untuk mendewasakan diri sendiri, untuk semakin menguatkan diri sendiri.
Hanya nikmati saja siklusnya, dan terus bertahan, semua hanya soal waktu.
**
Bapak dan Ibu sangat senang melihat kedatangan kami berdua. Senyum lebar mereka sangat sulit untuk di sembunyikan. Mungkin terakhir kali aku disini, orang tuaku sudah mengetahui ada yang salah dengan hubungan rumah tangga kami, tapi mereka hanya diam tanpa ingin mencampuri. Orang tua memang selalu tahu segalanya, tapi mereka selalu diam. Itu selalu terjadi padaku sejak dulu.
Bukan berarti aku selalu menyimpan rahasia dari kedua orang tuaku. Aku tak pernah ingin mengecewakan kedua orang tuaku, aku yakin semua orang begitu. Karenanya aku hanya memberitahu mereka tentang keberhasilan dan kebahagiaanku, aku tak pernah mengeluhkan apapun. Aku akan berusaha menyelesaikan masalah yang kualami
sendirian, jika di rasa aku sudah tak sanggup, baru aku akan menceritakan pada
mereka.
Mungkin ini adalah salah satu kepribadian yang kumiliki, aku terbiasa melakukan apapun sendirian. Mungkin ini sedikit kesombongan yang kumiliki, tapi aku akan merasa bangga jika mampu menyelesaikan masalah seorang diri. Itu artinya aku tumbuh dengan baik, kan?
“Kalian ini, selalu aja kemari tanpa pemberitahuan. Coba kalau kalian kasih tahu lebih awal, Ibu pasti bisa siapin makanan yang lebih enak dari ini,” ucap Ibu.
“Gak papa, Bu. Ini juga udah cukup. Kita malah ngerepotin Ibu, padahal kita bisa makan di luar aja,” ucap Dimitri.
Ibu sangat tak menyukai jika harus menyantap makanan di luar, beliau lebih suka memasak semuanya sendiri di banding pergi ke restoran. Bukan karena Ibu pelit, tapi ia selalu ingin memastikan kalau anak dan suaminya selalu makanan bergizi. Ibu adalah idolaku, aku selalu ingin menjadi dirinya yang sangat hebat menjadi Ibu dan juga istri.
Aku berharap aku bisa menjadi sepertinya, versi diriku.
“Besok Pak Wibisana mengundang kita buat hadir ke acara tujuh bulanan menantunya,” ucap Bapak.
Kalian masih ingat dengan Sadewa, kan? Pria yang pernah di jodohkan oleh Ayahku waktu itu, dan juga cinta pertamaku ketika SMA. Sadewa sudah menikah dengan teman kuliahnya, dan istrinya itu juga tengah hamil. Mereka menikah lebih dulu dariku dan Dimitri. Aku sangat bahagia ketika pertama kali mendengar kabar itu.
Sadewa adalah pria baik, dan juga sangat pantas untuk mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Dia sudah seperti kakak laki-lakiku. Kalian juga tahu, kan, kalau cinta pertama itu tak pernah berhasil? Jika kalian tak mengetahuinya, maka ini hal baru untuk kalian ketahui, aku juga tahu hal ini dari salah satu drama Korea yang pernah kutonton.
Kalaupun ada cinta pertama yang berhasil, mungkin itu memang takdir kalian. Buktinya sampai aku menyelesaikan kuliahku di Jakarta, aku sudah melupakan perasaan cintaku pada Sadewa, dan malah jatuh cinta pada pemain wanita seperti Dimitri ini.
“Pas banget kalau gitu kita dateng kesini,” ucapku.
Makan siang kali ini benar-benar aku nikmati dengan baik, karena suasana hangat yang tercipta, dan juga orang-orang yang aku cintai ada di sini semua. Semoga hal seperti ini tak akan hilang walau kami sudah kembali ke Jakarta.
**
“Kamu masih suka sama Sadewa itu?” tanya Dimitri. Kami sudah bersiap-siap untuk tidur setelah sejak sore tadi kami menghabiskan waktu bersama kedua orang tuaku.
“Pertanyaan apa itu? Kamu tahu jawabannya, jadi kenapa harus tanya lagi?”
Apa Dimitri ini cemburu karena dulu aku pernah dekat dengan Sadewa? Lucu sekali jika Dimitri benar-benar berpikir seperti itu. Padahal kami dulu tak melakukan apapun yang mampu membuat Dimitri cemburu, tapi ia sangat mudah terprovokasi jika tahu aku dekat dengan salah satu pria, siapapun itu, bahkan Kevin.
__ADS_1
“Siapa tahu kamu masih suka sama dia.”
Aku tertawa terbahak mendengar ucapannya. Aku memiringkan tubuhku untuk menatapnya. Melihat ekspresi cemburu Dimitri merupakan suatu hiburan tersendiri bagiku. Semuanya sudah di mulai sejak Dimitri memutuskan untuk berteman denganku dulu. Kalian pasti tahu, kan, kalau sejak kuliah aku tak pernah mempunyai pacar
karena Dimitri sangat melarang keras? Ia sangat posesif bahkan sebelum kami resmi berhubungan.
“Kenapa ada cowok di kelompok kamu?” tanya Dimitri.
Aku menatap Dimitri dengan pandangan tak mengerti. Yang benar saja. Ini hanya kelompok tugas, dan yang menentukan kelompoknya adalah dosen, bagaimana mungkin aku bisa memilih? Memangnya ada yang salah jika satu kelompok dengan lelaki, toh kami mengerjakan tugas, bukan melakukan hal aneh.
“Pertanyaan kamu gak penting. Memangnya kamu dosen yang bisa nentuin sama siapa aku harus buat kelompok? Jangan konyol, Al.”
“Kamu gak tahu apa yang bisa cowok lakuin, bisa aja nanti dia—“
“Ini Beni, mahasiswa paling diem dan gak pernah macem-macem.”
“Justru karena dia pendiem, kamu gak tahu aslinya dia kayak gimana.”
Aku menatap Dimitri yang keukeuh dengan pendapatnya. Terkadang aku mendapati diriku sangat mematuhi untuk suatu hal, dan setelah aku sadar, aku akan heran sendiri. Bahkan Bapak tak pernah se-protektif ini padaku, karena aku juga tahu batasanku sebagai wanita.
“Kamu pikir semua laki-laki kayak kamu? Kamu juga gak punya hak buat ngatur-ngatur aku, kamu harus paham sama batasan kamu.”
“Entah darimana sifat posesif kamu, dari dulu kamu udah posesif padahal kamu gak punya hubungan apapun sama aku,” ucapku.
Dimitri juga memiringkan tubuhnya, dan menatapku. “Karena aku cinta sama kamu.”
Pipiku memanas mendengar kalimat pengakuan yang keluar dari bibirnya. Dimitri mengatakannya dengan raut wajah yang serius dan menatap lurus mataku, tanpa senyuman. Mengerikan tapi juga sangat seksi, menurutku tentunya. Kalian mungkin akan mengatakan kalau itu mengerikan, bagaimana ia bisa mengatakan kalau sifat posesifnya karena ia mencintai orang tersebut?
Memang beginilah Dimitri, aku juga kadang masih tak mengerti dengan jalan pikirannya. Tapi ia juga kadang bisa menjadi orang yang paling manis di antara semua pria yang ada. Hanya butuh kesabaran ketika menghadapinya, sisanya akan mengalir seperti adanya.
“Aku bahkan gak pernah berpikir kalau kita akan sampai di tahap pernikahan, bahkan akan segera menjadi orang tua. Semuanya seperti mimpi untukku.”
Dimitri membelai pipiku lembut. Tak ada kalimat yang keluar dari bibir Dimitri, kami hanya saling menatap. Berharap tatapan ini mampu memberi jawaban dari semua pertanyaan tak terjawab yang sangat banyak di antara kami. Aku tak akan mengatakan apa saja pertanyaan-pertanyaan itu.
Saat ini, dan juga sampai masa liburan kami di sini selesai, aku hanya akan menikmatinya. Aku tak akan membebani pikiranku dengan semua kemungkinan dan juga kenyataan yang mungkin akan sangat sulit kuterima untuk diriku sendiri.
Seperti yang kukatakan tadi, siklus manusia selalu berputar, dan akan selalu berhenti di fase yang sama. Semua masalah itu pasti berlalu, dan akan memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga. Tapi, kenapa harus rumit memikirkan hal itu jika hanya memberikan efek yang sangat bahaya bagi tubuh dan emosional kita?
“Kita pasti akan menjadi orang tua yang hebat nanti. Aku sangat beruntung karena memilikimu dan memperjuangkan segalanya untukmu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi saat ini, dan saat yang akan datang, aku akan selalu mencintaimu,” ucap Dimitri.
Selama kami menikah, belum pernah ada pembicaraan serius seperti ini. Kami juga dulu tak pernah merencanakan akan memiliki anak, kami hanya menjalani apa yang ada, dan jika Tuhan memang berkehendak untuk menitipkan rezeki untuk kami melalui bayi yang ada di dalam kandunganku, maka kami akan merawatnya dan menerima
tanggung jawab baru ini dengan baik.
Air mataku perlahan mengaliri pipi. Mungkin karena hormon kehamilan, membuatku sangat mudah untuk merasa emosional. Tapi, ini adalah air mata kebahagiaan, dan juga haru. Mendengar Dimitri mengatakan ini secara langsung, seolah menguatkanku untuk terus bertahan. Mungkin kepercayaanku padanya sudah tak sebulat dahulu karena masa lalu yang ada di antara kami, tapi dia suamiku, bukankah lebih baik jika mempercayainya hingga akhir?
Dia bisa saja membohongiku, tapi yang di butuhkan dalam suatu hubungan adalah komunikasi dan juga rasa percaya. Jika aku melewatkan keduanya dan memilih egoku, maka aku sangat bersalah di sini. Harus ada komunikasi di antara kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah, bukan hanya menganggap pendapat kita
adalah yang paling benar.
“Banyak hal yang membuat aku ragu, kamu tahu sendiri apa yang terjadi padaku. Yang kubutuhkan hanya kejujuran dari kamu, sepahit apapun itu, katakan saja. Hanya itu yang aku butuhkan,” ucapku.
Dimitri mendekatkan tubuhnya padaku, mencium keningku, lalu kemudian memelukku. “Hatiku tak bisa semudah itu berubah. Kamu adalah satu-satunya hal yang paing berharga dan yang paling kucintai, dan aku tak akan melepasmu semudah itu.”
**
__ADS_1