Playboy

Playboy
#9. Romantic Approach


__ADS_3

Aku jadinya update hari ini ya, sampai ketemu hari kamis^^


Happy reading^^



Ada yang sedikit berubah sejak satu minggu yang lalu, bukan status Liliana yang rujuk kembali dengan Dimitri. Itu mungkin satu di antara banyaknya harapan yang sangat Dimitri aminkan saat ini, tapi saat ini, bukan itu yang sedang terjadi. Enzo yang berubah, sejak makan larut malam di apartemen Liliana hari itu, tatapan pria itu yang biasanya dingin pada Liliana, kini menghangat.


Liliana juga menyadari hal itu, tapi ia masih tak ingin mengambil pusing, ia juga tak ingin Enzo mengharapkan hal lain dari dirinya. Bukan soal belum mampu melupakan Dimitri, tapi tak semudah itu untuk kembali menjalin hubungan setelah semua yang terjadi. Ketakutan itu jelas masih terukir jelas di pikirannya dan enggan berpaling.


“Kalau kamu sudah pergi sejauh itu dan belum juga menemukan kebahagiaan, maka lebih baik kamu pulang, Nak. Ibu sama Bapak kangen banget sama kamu, kangen sama cucu Ibu yang selalu kamu ceritakan. Kamu boleh bersedih, tapi jangan sampai berlarut-larut, pikirkan orang-orang di sekitar yang menyayangi kamu.”


Itu adalah ucapan Ibu ketika terakhir kali mereka berkomunikasi. Liliana masih dengan pikirannya yang tak ingin memberitahukan keberadaannya, bahkan pada kedua orang tuanya sendiri. Ia sangat tahu betapa egois pilihan ini, orang tuanya hanya ingin melihat kebahagiaan sang anak tunggal, tapi yang ia lakukan justru melarikan diri sejauh mungkin.


Semua ini sangat berat hanya ia jalani seorang diri, ia memang tertawa ketika orang lain melemparkan candaan, Liliana juga akan bergabung pada obrolan yang bisa ia ikuti, tapi hanya itu. Ketika ia pulang ke apartemennya bersama dengan Elang, ia kembali hampa, bahagia ketika menatap sang putra, tapi tetap ada sudut kosong di hatinya. Walaupun sudah berhasil ia tutupi, sudut kosong itu tetap akan ada.


Jadi, setelah sedikit bertarung dengan dirinya sendiri, Liliana ingin membuka diri lagi. Pagi ini, yang juga hari liburnya, Liliana sudah sibuk berada di dapurnya. Ia akan memasak pasta yang akan di bagikan kepada para tetangganya, ia juga memanggang beberapa kue-kue kecil sebagai tambahan. Tak ada acara atau perayaan khusus, ia hanya ingin melakukan hal ini saja.


Ada Elang yang setia memperhatikan gerak gerik sang Ibu dari kereta bayinya, lalu ada juga Nabila yang menemaninya melalui panggilan video.


“Kamu mungkin bisa buka restoran di sana di banding kerja, bisa cepet kaya kamu,” ucap Nabila yang masih setia dengan pakaian tidurnya. Di Indonesia baru akan menjelang subuh, sementara pagi sudah menyambut sejak tadi di Jerman.


Liliana hanya tertawa saja, hari ini ia sudah janji pada dirinya sendiri untuk tak memikirkan hal-hal yang bisa memicu kesedihan. “Kamu gak siapin sarapan buat anak-anak kamu?”


“Masih terlalu pagi buat ngelakuin itu, Lili, lagian mereka juga masih pules banget tidurnya.”


Liliana sudah menyelesaikan pasta buatannya, bahkan sudah menatanya di kotak agar mudah untuk di bagikan. Tak semua tetangga akan mendapatkannya, jika begitu, akan lebih baik jika Liliana memesan makanan di restoran. Hanya ada total sepuluh kotak, sudah termasuk dengan Katherine yang menghuni lantai delapan. Hari ini, wanita itu mendapatkan shift sorenya, jadi pasta ini bisa untuk makan siangnya.


“Kamu kelihatan bahagia banget hari ini?” tanya Nabila. Senyumnya muncul di layar ponsel, ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat senyum menghiasi wajah Liliana setelah sekian lama.


“Aku udah mutusin, dan aku gak mau terus-terusan kayak gini, udah lebih dari setahun dan seharusnya ada hasil yang aku dapat dari kabur sejauh ini.”


“Aku lebih suka kamu yang kayak gini, kamu tahu, Dimitri gak seharusnya bisa bikin kamu seterpuruk ini.”


Liliana tersenyum tipis. Ia pernah membaca di sebuah buku, jika ingin mendapatkan seseorang yang mencintai kita seutuhnya, maka kita harus mencintai pria itu sepenuh hati kita. Liliana sudah melakukannya, ia sudah mencintai Dimitri sepenuh hati, dan yang ia dapatkan adalah pengkhianatan kembali.


“Aku ketemu dia kemarin di sini.”


Nabila membulatkan matanya terkejut. “Kamu serius?”


Liliana hanya menganggukkan kepalanya, masih sulit untuk kembali menceritakan apa yang baru saja terjadi atau bahkan menyebut namanya. Jadi hanya anggukan kepala itu sebagai jawabannya.


“Aku takut ini bakal ganggu mood bahagia kamu, tapi aku harus cerita ini sama kamu.” Jeda beberapa saat sebelum Nabila kembali membuka mulutnya. “Kamu masih inget sama wanita yang jadi selingkuhan Dimitri? Dia di ceraikan oleh suaminya,” lanjut Nabila.


Tak ada jawaban dari Liliana, ia masih mencerna berita itu dan juga sedikit banyak itu memang mengubah moodnya. “Aku gak peduli lagi sama wanita itu, Bil,” jawab Liliana dengan senyum getir.

__ADS_1


“Kayaknya aku harus mulai nganterin pasta-pasta ini sebelum dingin, kamu juga tidur lagi, deh.” Tanpa menunggu balasan Nabila, Liliana segera mematikan sambungan tersebut. Helaan napasnya menjadi panjang karena perubahan mood yang sangat ekstrem itu.


Liliana menghampiri putranya yang masih sibuk dengan bola karet di keretanya. “Apa bola karet itu lebih asyik di banding Mama?” tanya Liliana dengan senyum di wajahnya. Elang hanya menjawabnya dengan gumaman asing dan teriakan bahagia. Hal kecil seperti itu saja sudah mampu mengembalikan senyum Liliana lagi.


Liliana menciumi pipi gembul putranya itu yang beraroma khas bayi, membuat putranya itu berteriak kegirangan. Suasana hatinya seketika membaik ketika melakukan hal itu. “Mama sayang Elang, terus bersama Mama, ya.”


**


“Enzo?”


Ini kedua kalinya Liliana kembali terkejut dengan kehadiran Enzo yang selalu tiba-tiba. Ia baru saja mengantarkan kotak pasta terakhinya pada tetangganya, dan ketika ia kembali, sudah ada Enzo yang berdiri di depan pintu apartemennya dengan beberapa tas belanja di tangannya. Inilah sifat aneh yang di maksud oleh Liliana tadi. Liliana tak ingin berasumsi, tapi sifat pria ini justru membuat dirinya semakin mengasumsikan hal yang bahkan tak ingin di pikirkan.


“Boleh aku masuk ke dalam? Tanganku sedikit pegal,” jawab Enzo.


Liliana segera membuka pintu apartemennya dengan Elang yang ada di gendongan. Ia tak tahu kali ini apa yang akan di lakukan pria ini. Seluruh alasan yang di berikan pria ini sungguh tak masuk akal untuk Liliana pikirkan seorang diri.


“Apa ini?” tanya Liliana. Ia menatap kantung belanjaan yang di bawa oleh pria ini.


“Ah, ini…” Dimitri terlihat berpikir dengan jawabannya, ada kegugupan di matanya. “Katherine memintaku untuk mengantarkan ini padamu,” lanjut Enzo lagi.


Liliana mengangkat alisnya dengan bingung, pasalnya ia juga baru saja dari apartemen wanita itu, dan ia sama sekali tak mengatakan apapun. Hubungan mereka sudah lebih baik dan tak saling berbagi kalimat sarkas lagi, walaupun hanya Liliana saja yang mengatakan kalimat itu.


“Isinya mainan, aku yakin putramu akan menyukainya.”


Liliana semakin bingung ketika Enzo langsung membongkar kantong belanjanya dan mengeluarkan isinya yang memang berisi berbagai mainan. Pria itu bahkan dengan semangat mulai merakit salah satunya, perhatian Elang yang masih dalam gendongan Liliana bahkan sudah beralih pada mainan di bawah sana.


Lihatlah betapa Elang sangat menyukai kereta itu, teriakan-teriakan kecil itu sudah mampu membuat Liliana yakin dengan kesenangan sang putra. Pemandangan di depannya kali ini mampu membuat hati Liliana menghangat, dan membayangkan bagaimana jika dulu ia tak bercerai. Pasti keluarga kecil mereka akan bahagia. Tentu saja, apalagi jika wanita itu tak muncul di tengah-tengah mereka.


Enzo tak pernah menghadapi anak bayi seperti ini, tapi hanya dengan ikut berpartisipasi dalam menggerakkan mainan di hadapan Elang, mampu membuat tawanya menghiasi wajah dingin itu.


“Sepertinya putramu menyukainya,” ucap Enzo. Ia membalikkan tubuhnya untuk menatap Liliana.


Liliana hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum, ia juga sering membelikan mainan untuk putranya. Tapi, rasanya sedikit berbeda karena ada pria lain yang merakitnya sendiri seperti ini. Entahlah, rasanya sangat berbeda untuk hatinya, ia merasa terlindungi juga di perhatikan.


“Sampaikan terima kasihku kepada Katherine, dia tak perlu melakukan ini.”


Enzo tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya. Berada di apartemen wanita ini saja rasanya sudah sangat canggung, ia bahkan merakit kereta ini tanpa kesulitan yang berarti, padahal ia tak pernah melakukan hal seperti ini selama ia hidup. Seorang Enzo tak pernah seramah ini pada orang lain, ia lebih sering diam dan serius. Ini benar-benar hal baru.


“Aku mencium bau pasta, apa kau baru saja memasaknya?” tanya Enzo.


“Ah, penciumanmu sangat tajam. Aku baru selesai membagikannya pada para tetangga, sepertinya aku masih menyisakan sedikit, kau mau?”


“Ya, kebetulan aku belum makan siang.”


Untuk kesekian kalinya, Enzo kembali memasuki dapur Liliana. Sepertinya, mainan itu hanyalah alasan untuk membuat ia kembali ke apartemen ini. Ada beberapa hal dalam diri Liliana yang membuat ia melakukan hal ini, yang tak pernah ia lakukan lagi sejak empat tahun lalu. Ia sama sekali tak mengetahui bagaimana masa lalu wanita ini, ia hanya melakukan segalanya berdasarkan nalurinya. Dan ia merasa semua ini adalah yang paling benar di antara semua hal yang ada.

__ADS_1


**


“Aku tak pernah meminta Enzo untuk membelikan putramu mainan.” Itu adalah kalimat yang di ucapkan Katherine ketika ia kembali mengucapkan terima kasih.


Jika bukan Katherine, maka sebenarnya mainan itu benar-benar dari Enzo sendiri. Tapi, kenapa harus memakai nama Katherine?


“Mungkin benar kalau sepupuku itu menyukaimu. Ia bahkan menolak perjodohan yang di atur orang tuanya tapi ia tetap kembali ke apartemenmu dengan alasan acak? Ia tak pernah seperti ini sebelumnya,” ucap Katherine lagi.


“Kami tak memiliki hubungan seperti yang kau pikirkan. Mungkin itu ucapan terima kasihnya karena aku pernah memasakkan pasta untuknya,” kilah Liliana.


Katherine mendengus mendengar penjelasan Liliana yang sejak tadi terus-terusan menyangkal sesuatu yang sudah sangat pasti. Padahal wanita ini sudah di pastikan berpengalaman dalam hal percintaan seperti ini.


“Terserah, tapi aku yakin dia menyukaimu.”


Pikiran Liliana kembali berputar-putar dengan ucapan Katherine. Ya, hal seperti itu bisa saja terjadi, masalahnya adalah Liliana tak ingin hal seperti itu terjadi. Membayangkannya saja sudah sangat mengerikan, apalagi jika memang benar seperti itu.


“Aku gak masalah selama dia bahagia, kamu juga udah pasti cocok sama Enzo,” ucap Katherine lagi.


Liliana menganga mendengan ucapan Katherine barusan. Entahlah, ini sangat sulit untuk ia terima. Jangan membawa hati, jangan membawa hati, ulang Liliana dalam hatinya.


“Liliana?”


Liliana menoleh mendengar panggilan tersebut, ia harap penglihatannya salah, tapi sepertinya matanya masih baik-baik saja dan mampu mengenali orang yang memanggilnya ini dengan baik. Bagaimana ia lupa jika wanita ini adalah sumber masalah dalam rumah tangganya. Evelyn.


“Benar, kau Liliana,” ucap wanita itu dengan polos. Seolah mereka teman lama yang sudah tak pernah bertemu lagi, Liliana sangat muak dengan wajah ini. Setelah Dimitri, ia harus bertemu kembali bertemu dengan wanita ini, apa dunia sedang berkonspirasi saat ini?


“Wer bist du?” (Kamu siapa?)


Evelyn menatap wanita di hadapannya dengan bingung, jelas-jelas di hadapannya ini adalah Liliana, ia tak mungkin salah mengenalinya. Bahasa Jermannya juga belum fasih, ia juga tak memiliki keinginan untuk belajar lebh lanjut.


“Kann ich lhnen helfen?” (Ada yang bisa saya bantu?)


Pada akhirnya Evelyn segera meninggalkan Liliana dan memutari bagian lain dari toko pakaian itu tanpa mengatakan apapun lagi. Liliana bisa bernapas lega sesaat, ia bahkan kaget dengan kemampuan bahasa Jermannya yang cukup mengalami peningkatan. Walaupun itu memang kalimat dasar ketika bertemu orang asing, setidaknya pelafalannya cukup bagus dan lancar.


Yang ada di pikirannya saat ini adalah kenapa wanita itu bisa ada di Jerman juga, tepatnya Frankfurt. Apa kota bagian di Jerman ini hanya ada Frankfurt? Banyak tempat di Jerman yang bisa di kunjungi. Atau mungkin Dimitri dan wanita itu masih berhubungan satu sama lain? Mengingat kemarin juga Dimitri ada di sini untuk urusan pekerjaan, jika benar seperti itu, ah, itu juga bukan urusannya.


“Kau mengenal wanita tadi?” tanya Katherine.


“Sepertinya dia salah orang,” jawab Liliana.


Jam kerja Liliana sudah selesai, dan ia hanya beberapa langkah lagi menuju gedung apartemennya. Jika sedang bekerja, Liliana lebih memilih menaiki kereta bawah tanah, lalu berjalan kaki sebentar menuju apartemen yang letaknya tak jauh dari stasiun. Pengunjung kebetulan tak terlalu banyak, jadi ia tak terlalu kelelahan, tapi ini juga berakibat pada otaknya yang kembali memikirkan kedatangan Evelyn tadi. Ia sangat penasaran kenapa wanita itu juga bisa ada di sini.


Langkahnya kembali terhenti ketika ia kembali melihat seseorang yang juga tak ingin ia lihat. Dimitri. Ia berdiri persis di tempat terakhir kali ia datang kemarin. Oke, apa ini sebuah prank? Kenapa hari ini semua hal tak terduga kembali terjadi?


Ketika Liliana akan melanjutkan langkahnya, ada seseorang yang tiba-tiba sudah memeluk pinggangnya dari samping. Liliana menatap Enzo yang entah muncul dari mana, ia sudah berada di sampingnya dan juga memeluk pinggangya dengan lembut, lalu senyum manis yang juga di berikan pada Liliana.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun, Enzo memimpin langkah mereka menuju gedung apartemen Liliana, atau lebih tepatnya menuju pria yang sudah sejak tadi menunggu Liliana.


**


__ADS_2