
Sebelum baca, harap siapin kesabaran dulu biar gak langsung emosi ;) salam dari aku yang suka bikin kalian emosi, semoga puasa hari ini lancar.
Happy reading^^
Untuk kesekian kalinya dalam tiga puluh lima tahun hidupnya, Enzo kembali di hadapkan dengan perjodohan yang sudah di atur sang ayah. Alasan-alasan tentang usia yang matang dan penerus kerajaan bisnis sang ayah sudah menjadi andalan, dan Enzo sudah sangat hafal di luar kepala. Ya, hal itu tidak salah juga. Apa yang di lakukan ayahnya sama sekali tak salah, ia hanya belum memiliki keinginan untuk menjalin hubungan dengan wanita lain lagi.
Apalagi jika melihat apa yang di inginkan sang ayah tentang calon pendamping yang sempurna, Enzo benar-benar sudah tak bisa berpikir dengan jernih lagi. Memang definisi sempurna itu seperti apa? Bahkan Enzo sangat yakin jika Ratu Elizabeth pun memiliki kekurangan, lalu kenapa harus mencari yang sempurna.
“Jika kau tak bisa mencari dengan benar pendamping hidupmu, maka ayah yang akan mengatur semua itu.”
Itulah ucapan yang akan selalu di ingat Enzo jika ayahnya sudah membahas tentang menantu di keluarga ini. Ibunya juga tak memiliki cukup andil untuk menghentikan keinginan suaminya itu, karena ia juga sangat ingin melihat anaknya menikah dan membangun keluarga sendiri. Agar ada anggota keluarga baru di keluarga mereka dan teman mengobrol sang ibu.
Lalu di sini lah Enzo, duduk di salah satu kafe dengan konsep mediteranian, menyesap kopi dari cangkir yang baru saja ia pesan. Ia tak akan menjadi anak durhaka dengan menentang keinginan sang ayah lagi, hubungannya sudah mulai membaik walau masih di warnai dengan beragam cekcok. Gioto sangat tahu alasan kenapa putra satu-satunya itu tak ingin menikah atau menjalin hubungan, dan hanya perjodohan inilah satu-satunya jalan.
Enzo tak perlu repot-repot meminta foto wanita yang akan di jodohkan dengannya, karena menurutnya semua wanita sama. Mereka sama-sama cantik, itu sudah sangat pasti. Enzo bukan tipe pria yang sangat mengejar fisik seorang wanita, ia akan melihat kepribadian wanita itu terlebih dahulu untuk menentukan kecocokan.
“Maaf, apa aku terlambat?”
Fokus Enzo pada ponselnya seketika berpindah pada suara lembut itu. Berdiri seorang wanita cantik dengan riasan yang cukup mencolok untuk musim panas di Jerman, mengenakan dress dengan motif bunga-bunga dan rambut ikal hitam yang tergerai di sepanjang bahunya. Cantik, tapi tetap tak mengubah fakta jika mereka di jodohkan. Akan menyenangkan jika mereka bertemu secara alami.
“Tidak, aku juga baru tiba. Kau ingin langsung memesan?”
Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum, sedikit tersipu dengan pria tampan di hadapannya ini. Ia sudah sangat tahu pria ini, tapi ketika di lihat secara langsung seperti ini, ketampanannya naik berkali-kali lipat.
Obrolan siang itu hanya di dominasi oleh si wanita yang bernama Charlotte, ia sangat antusias untuk menceritakan tentang kisahnya, hobi, pekerjaan yang ia lakukan saat ini, dan banyak lagi hal lainnya tentang Charlotte yang sebenarnya tak terlalu ingin Enzo ketahui. Sejak obrolan pertama saja, Enzo sudah tak tertarik untuk melanjutkan pertemuan ini. Ia hanya memasang senyum sebagai bentuk formalitas.
Meja mereka terletak di dekat jendela, memberi Enzo sedikit variasi pemandangan yang cukup banyak, jadi mampu menutupi rasa suntuknya dengan wanita di hadapannya ini. Lalu, matanya tertuju pada pemandangan yang tak asing untuknya. Tampak belakang wanita itu yang mengenakan kaos kebesaran dan juga hot pants.
Elle, siapa lagi wanita yang sedang dekat dengannya kecuali sekretarisnya itu. Apa kali ini ia juga harus memanfaatkan Elle untuk melarikan diri dari Charlotte ini? Enzo mengetikkan sesuatu di ponselnya dengan cepat.
Berbaliklah.
Enzo memperhatikan dengan seksama wanita itu yang mulai memeriksa ponselnya. Hanya butuh beberapa detik hingga Elle benar-benar berbalik, walau pandangan mereka belum bertemu. Mata Elle masih mencari di sekitarnya.
Di dalam kafe.
Beruntung tidak banyak bangunan yang berwujud kafe di sepanjang lokasi ini, hingga Elle bisa dengan mudah menemukan Enzo yang tengah tersenyum padanya. Ia menaikkan alisnya dengan bingung, apa mereka juga harus saling melambai seperti dua orang teman yang sudah lama tak bertemu? Aneh sekali jika Enzo benar-benar
mengharapkan hal seperti itu.
“Enzo, kau mendengarkanku?” tanya Charlotte. Ia menatap Enzo yang fokusnya sudah berpindah.
“Ah, maafkan aku, Charlotte. Temanku sudah menunggu, aku lupa jika memiliki janji dengannya. Senang mengobrol denganmu.”
__ADS_1
Enzo segera keluar dari kafe itu dengan terburu-buru, dan untuk kesekian kalinya lagi ia meninggalkan wanita yang sudah di jodohkan dengannya begitu saja. Ia memang tak cocok dengan perjodohan, jadi ia berharap semoga ayahnya akan mengerti dan menunggu hingga Enzo menemukan seseorang yang benar-benar cocok untuknya.
“Apa kau juga mengikutiku lagi kali ini?” tanya Elle penuh selidik ketika Enzo sampai di hadapannya.
Pasalnya ini adalah kedua kalinya Elle kembali bertemu dengan Enzo, entah secara kebetulan atau memang di sengaja. Jika Brian melihat ini, pria itu pasti akan sangat kegirangan karena rencananya benar-benar berhasil. Enzo masih menetralkan nafasnya yang sedikit ngos-ngosan itu karena berlari, padahal ia tak perlu berlari begitu.
“Tidak, kali ini kau menyelamatkanku.” Enzo memberikan senyumnya pada wanita itu. “Ayo.” Kali ini bahkan Enzo langsung menggandeng tangan Elle tanpa ragu, ia butuh sesuatu yang meyakinkan agar Charlotte tadi melihat hal ini dan membatalkan perjodohan yang ada.
**
Acara pernikahan Reno masih akan di gelar dua minggu lagi, sebenarnya Nabila tak memiliki banyak persiapan untuk menghadapi mantan suaminya itu. Hanya pernikahan, walau itu menyakitinya, hal itu tak boleh terlihat di depan mantan suaminya. Ia harus membuktikan jika ia bisa berdiri di kedua kakinya sendiri setelah di sakiti sebegitu dalam.
Masih di pikirkan juga apa dia akan membawa Richard seperti yang sudah di rencanakan ketiga sahabatnya itu. Setidaknya ia butuh orang di sampingnya untuk menopang dirinya kalau-kalau ia berniat untuk melemparkan sesuatu ke pengantin nantinya. Skenario-skenario ekstrem sedikit banyak sudah tergambar di kepalanya, ia hanya
tinggal mengumpulkan keberanian.
“Mbak di undang ke sini juga?” tanya Juna.
Sudah pernah kukatakan jika Juna ini sangat cekatan dan juga baik, kan? Biar di tambahkan kekurangannya, dia ini sangat cerewet dan juga kadang sangat berisik. Kadang itu bisa menghibur, tapi kadang juga bisa sangat menjengkelkan untuk Nabila. Juna menatap undangan yang tak sengaja Nabila letakkan di meja ketika ia tadi membongkar isi tasnya.
“Kenapa memangnya?”
“Aku juga di undang di acara nikahan mereka, Mbak.”
Kini Nabila memusatkan perhatiannya pada Juna. Juna ini tak ada hubungannya dengan Reni ataupun keluarganya, kan? Atau jangan-jangan Juna ini sepupu jauh Reno yang tak Nabila ketahui? Kenapa Juna bisa mengenal pengantin itu dan juga di undang ke acara pernikahan itu?
“Kamu kenal sama mereka?”
Entah kenapa Nabila menghembuskan nafas leganya. Di kantor barunya ini, tak ada yang tahu siapa mantan suaminya, mereka hanya tahu jika Nabila adalah seorang ibu tunggal yang bercerai dari suaminya. Tak perlu untuk menjelaskan detailnya juga, karena memang Nabila tak menginginkannya. Tahu sendiri bagaimana suasana perkantoran jika sudah berhembus kabar apa penyebab mereka bercerai, lalu siapa yang menceraikan, yang lebih ekstrem adalah jika mereka sudah penasaran dengan siapa suaminya.
Nabila benar-benar menghindari hal-hal kecil seperti itu. Setelahnya ia hanya memberikan senyum tipis pada Juna yang masih berdiri di depan meja kerjanya. Mereka memang tak terlalu formal dalam jabatan yang ada ini, tetap santai tapi juga tak lupa untuk saling menghormati masing-masing.
“Mbak mau berangkat bareng?” tanya Juna.
“Kemana?” Nabila mengangkat alisnya dengan bingung. Satu hal tentang Juna yang juga sangat unik, pria ini selalu tiba-tiba dan suka melakukan sesuatu secara tak terduga.
“Itu, ke pesta pernikahan ini.”
“Kenapa?”
“Biar Mbak gak sendirian, atau mungkin Mbak udah punya pasangan sendiri buat pergi kesini? Lebih enak kalo kondangan bawa pasangan, Mbak. Kalau pergi sendirian ribet,” ujar Juna dengan senyum yang sepertinya termanis di antara senyum lain.
Nabila membalas dengan senyum tipis di wajahnya, apa kali ini ia benar-benar sudah menjadi idola para pria muda alias berondong ini? Nabila bukannya tak tahu dengan semua kalimat-kalimat manis yang di lontarkan asistennya ini, ia hanya tak ingin terlalu peduli. Hubungannya harus tetap profesional, lagipula Juna ini lebih muda berapa tahun darinya, perbedaan mereka sangat jauh.
“Bukannya kamu pergi sama Ibu kamu?” tanya Nabila.
“Aku gak pernah bilang bakal pergi sama Ibuku, Mbak,” jawab Juna.
Ya, Nabila juga mengerti. Ia hanya tak mengerti dengan semua kebetulan yang belakangan ini kebetulan mengarah pada Juna. Ya, kenapa harus Juna begitu? Tapi, Juna juga banyak membantunya selama ini. Ia hanya berharap tak ada maksud lain yang di inginkan oleh asistennnta ini, Nabila tak akan membalas semua itu.
__ADS_1
“Akan kupikirkan nanti.”
**
Ya, pernikahannya dengan Reni akan terjadi dalam waktu dekat, dan ya, ia juga menyetujui apa yang di inginkan wanita itu, dan ya lagi, ia sangat sadar ketika melakukan hal itu. Jangan tanya apa yang ada di pikirannya kala itu, karena sangat yakin tak ada yang ingin tahu dan sudah banyak orang yang sangat emosi karena kenyataan itu. Tapi, semua sudah terjadi.
Jika di tanya apa ia menyesal, apa ia sangat ingin merubah keputusan itu, atau seandainya yang lain, maka jawabannya adalah ya. Kedua orang tua Reni sudah mengenal Reno karena persahabatan mereka dulu, dan mereka tak pernah tahu apakah Reno sudah pernah menikah atau memiliki anak dan bahkan memiliki keluarga sendiri. Yang mereka tahu, Reno juga seorang dokter, yang sudah pasti memiliki reputasi yang baik.
Dengan memikirkan kedua anaknya dan juga kedamaian hidup mantan istrinya, Reno mengiyakan permintaan Reni. Wanita itu sangat licik dan mampu menggunakan apapun untuk mencapai keinginannya, Reno tentunya tak memiliki banyak pilihan. Bahkan rasanya sangat berat ketika harus memberi undangan pernikahannya pada Nabila, melihat wajah yang tanpa ekspresi itu seperti menggelitik sudut hatinya. Bagaimana caranya untuk menebus rasa bersalah itu pada mantan istrinya?
“Semua persiapan buat resepsi nanti udah selesai semua, tuksedo kamu gak ada masalah, kan?” tanya Reni dengan santai.
Reno hanya menggelengkan kepala sembari menyuap nasi goreng di hadapannya tanpa gairah. Ia seperti tawanan yang sedang di sekap dan di paksa untuk melakukan apapun yang di inginkan oleh majikan. Memang seperti itu yang sedang terjadi, kan?
“Permisi, apa kamu benar Reni Aprilia?” tanya seorang wanita yang tiba-tiba sudah ada di meja mereka.
Reni mendongak untuk menatap wanita itu, ia tak mengenalinya. “Ya, benar, ada yang bisa aku bantu?”
Wanita itu tersenyum dengan misterius dan tanpa di duga-duga ia meraih cangkir kopi yang ada di meja itu dan menuangkan isinya ke kepala Reni. Isi cangkir itu milik Reno dan sama sekali belum ia minum, ia sangat kaget dengan yang di lakukan wanita itu, tapi ia juga tak bisa melakukan apapun.
Reni berteriak dengan histeris karena kopi itu masih cukup hangat dan ia seperti mendapat kejut listrik di kulit kepalanya. Ia tak tahu dengan wanita ini yang tiba-tiba muncul di hadapannya dan menyiramkan kopi di kepalanya, dan banyak yang melihat kejadian ini, beberapa di antaranya bahkan mengabadikan momen langka tersebut dengan ponsel mereka.
“Bagaimana rasanya? Apa sangat enak? Kudengar kopi di sini sangat enak,” ucap wanita itu.
“Siapa kamu? Apa maksudmu melakukan hal ini? Aku bisa saja melaporkan hal ini pada polisi karena tiba-tiba menyerang orang lain!” balas Reni histeris.
Hanya tawa kecil yang di lontarkan wanita itu, ia seperti tak peduli dengan ancaman Reni. Melaporkan pada pihak yang berwajib? Ya, bisa di lakukan setelah ia selesai memberi pelajaran pada wanita menjijikkan ini.
“Aku? Mungkin kamu gak akan inget atau mungkin gak tahu, tapi aku adalah istri dari suami yang kamu ajak untuk berselingkuh. Aku yakin kamu inget,” jawab wanita itu.
Suami yang ia ajak untuk berselingkuh? Hanya ada satu pria yang bisa dia ingat, karena mereka juga melakukannya untuk waktu yang cukup lama. Reni menatap wanita itu dengan sinis di balik rambut lepeknya karena siraman kopi wanita ini, ia tak tahu jika hubungan mereka akan terekspos karena ia juga sudah tak
berhubungan lagi dengan pria itu.
“Kenapa baru mendatangiku sekarang? Hubungan kami sudah lama berakhir, dan apa kamu gak menanyakan dulu pada suamimu kenapa ia berselingkuh denganku? Seenggaknya kamu harus tahu alasannya sebelum melakukan hal ini.”
Wanita itu menyilangkan kedua tangannya di dada dan menampilkan wajah sinis, ia bukan wanita dengan perawakan gemuk atau sebagainya, ia cantik, tak kalah dengan Reni bahkan hanya dengan riasan tipis itu.
“Kenapa kamu sangat menyedihkan seperti ini? Apa orang tuamu tak pernah mengajarkan tentang etika padamu? Kamu cantik, tapi sayang, kelakuanmu tak bisa mencerminkan wajahmu, aku sangat kasihan padamu.”
Wajah Reni kini benar-benar memerah karena ucapan wanita di hadapannya ini sangat melewati batas, hingga membawa kedua orang tuanya. Reni bangkit dari duduknya untuk menyamai tinggi wanita itu serta menunjuk wanita itu dengan telunjuknya. “ Kamu—“
“Jangan pernah tunjuk aku dengan jari kotormu itu, kamu gak pantas untuk itu!” Tanpa aba-aba, wanita itu mendorong kembali Reni menuju kursinya dengan sangat keras. Ia tak peduli jika ada luka yang ia timbulkan karena hal ini, luka di hatinya lebih buruk dari ini.
“Sekali perselingkuhan, tetaplah perselingkuhan. Untuk apa mencari siapa yang salah karena kalian tetap bersalah, dan harusnya kamu sadar karena kamu juga wanita. Jika kamu tahu kalau dia bukan milikmu, pada saat itu juga kamu harus mundur dan tak berhubungan dengan pria itu lagi. Kecuali jika kamu memang serendah itu, bahkan
sampah lebih baik darimu.”
Wanita itu sudah berbalik untuk meninggalkan Reni yang sangat terkejut dengan apa yang barusan terjadi, ketika ia berbalik lagi. Ia kembali menumpahkan spageti dengan saus krim di piring yang ada di meja itu ke wajah Reni lagi.
__ADS_1
“Kudengar spageti tak akan cocok dengan kopi, tapi sangat cocok padamu.” Dan wanita itu benar-benar meninggalkan meja itu.
**