
Aku mau nanyak boleh ya. Sejauh ini karakter favorit kalian di sini siapa? Berharap banget ada yang jawab reno reni nih hehe becanda ya. Aku tahu kalian benci banget sama mereka. Sama kalian punya gak sih, adegan favorit kalo setiap baca cerita ini? Jangan lupa komennya ya.
Happy reading!
***
Semenjak menginap bersama ayahnya minggu lalu, Aidan berubah menjadi pendiam, ia tak akan bicara jika tak di tanya oleh Nabila dan juga sang nenek. Nabila sangat heran dengan hal itu, karena biasanya Aidan akan tersenyum sepanjang hari dan menceritakan apa saja yang ia lakukan di akhir pekan bersama ayahnya. Aidan juga sama sekali tak mengatakan apapun setelah hari itu, yang membuat Nabila semakin heran.
Ia belum menghubungi Reno karena pekerjaan yang sangat menyita waktu, belum lagi kini Juna yang semakin menjauhinya. Ya, itu adalah yang ia minta dari pria itu, tapi tetap saja rasanya ada yang berbeda. Wanita memang selalu semunafik itu, bibir mengatakan tidak, tapi hatinya mengatakan ya. Semua memang sering mengalami hal itu, tak terkecuali.
Nabila adalah wanita yang blak-blakan, ia bisa mengatakan apapun yang ingin ia lakukan dan tak akan mengubah pernyataan itu hingga ia melakukannya. Hanya kali ini ia ingin menahan diri, ia bukan Nabila yang dulu, semua hal memiliki resiko, dan ia tak ingin mengambil resiko yang besar ketika tanggung jawabnya kini lebih besar.
Setelah menjemput Aidan dari taman kanak-kanak, Nabila memutuskan untuk menemui Reno. Pekerjaannya sudah terselesaikan, dan ia memiliki sedikit waktu sebelum kembali ke kantor, lagipula ini mneyangkut putranya yang mengalami perubahan sikap yang sangat drastis, ia harus tahu penyebabnya.
“Apa aku mengganggu waktumu?” tanya Nabila.
“Aku gak punya janji temu sama pasien, jadi waktuku cukup luang.”
Nabila hanya menganggukkan kepalanya. Jika di tanya bagaimana perasaannya saat ini ketika harus duduk bersama dan membicarakan tentang putra mereka, maka jawabannya, Nabila ingin cepat-cepat mengakhiri semua ini. Waktu yang sudah berlalu cukup lama itu belum mampu membuat apa yang terjadi di antara mereka pudar begitu saja. Ia sudah berusaha untuk ikhlas, juga pada perasaannya. Mungkin memang sudah jalannya seperti ini, apalagi yang harus di lakukan.
“Ada apa sama Aidan? Dia jadi lebih murung, biasanya dia ceria banget setelah pertemuan kalian.”
“Kayaknya kita udah bikin kesalahan fatal, bukan kita, tapi aku.” Reno tersenyum sendu. Bukan salah putranya memiliki pikiran seperti itu, dan ia bisa memaklumi kenapa putranya seperti itu.
Anak kecil tak pernah berbohong, dan ia selalu mengajarkan putranya itu untuk jujur. Jadi ia bisa mengerti perasaan anak itu. Anak selalu menjadi korban dari keegoisan kedua orang tua.
“Maksud kamu?”
“Aku masih mencintaimu, hingga kini perasaanku belum berubah, semuanya salahku karena membiarkan emosi menguasaiku untuk waktu yang cukup lama. Mau di jelaskan bagaimana pun, akulah yang salah di sini, seharusnya aku tak menyulut api itu jika tak ingin terbakar, tapi aku terlalu naif untuk semua itu. Aku menghancurkan keluarga kita.”
Ini bukan jawaban yang Nabila inginkan, ia juga sama sekali tak ingin mendengar hal tersebut lagi setelah beberapa bulan berlalu, ia sedang menjalani proses yang berat untuk menghilangkan perasaan yang masih tersisa untuk Reno. Ini bukan saat yang tepat untuk kembali mengenang kisah mereka yang sudah hancur berkeping-keping. Satu kesalahan fatal benar-benar bisa membuatnya lupa akan kenangan-kenangan manis yang juga mereka miliki.
“Aku sedang tak ingin mengingat hal itu, aku hanya ingin tahu tentang apa yang terjadi dengan Aidan,” ucap Nabila. Ia berusaha keras untuk menenangkan dirinya sendiri, tak lucu jika ia menangis lagi di hadapan mantan suaminya.
Reno menatap Nabila lekat, ia tak bisa menahan dirinya ketika berhadapan dengan Nabila secara langsung di sini. Semua perasaan dan kenangan-kenangan itu berputar secara berulang di kepalanya. Ia masih sangat menginginkan wanita ini, ketika tak seharusnya ia melakukan itu.
“Aidan terluka dengan keadaan kita, dia menginginkan kita seperti dulu tanpa harus bolak balik seperti saat ini. Dia menghiraukanku sepanjang hari, sama sekali tak mengatakan apapun, ia juga sama sekali tak memberiku senyum.”
Selama lebih dari enam bulan mereka bercerai dan tinggal secara terpisah, Nabila sama sekali tak berpikir jika anaknya akan menyadari suasana yang sedang terjadi. Semua orang tua selalu menginginkan kebahagiaan
untuk anak-anaknya, begitu pun dengan Nabila, ia tak ingin Aidan ataupun Alya terluka dengan apa yang sedang terjadi. Nabila tak ingin ada luka di hati mereka melihat kedua orang tuanya yang berpisah.
Menjelaskan keadaan mereka pada Aidan lebih sulit di banding melupakan perasaan Nabila pada Reno. Nabila menundukkan kepalanya, ia selalu mengabaikan ketika pertanyaan Aidan tentang alasan kepindahan mereka,
serta Reno pada Aidan. Wajar jika anak kecil sangat penasaran dengan apa yang terjadi, ia hanya tak menyangka jika Aidan akan menjadi salah satu yang sangat penasaran hingga seperti ini.
“Jadi, apa yang mau kamu lakuin?” tanya Nabila.
__ADS_1
Keduanya saling menatap. Nabila sama sekali tak bisa memikirkan apapun, semua nasihat yang pernah ia berikan pada Liliana dulu ketika sahabatnya sedang di keadaan terburuknya hilang. Ia tak bisa menggunakan kalimat-kalimat itu untuk dirinya sendiri. Payah sekali ketika berada di tahap yang seperti ini.
“Apa boleh jika ia tinggal denganku untuk seminggu? Aku janji akan memberinya pengertian tentang apa yang terjadi pada kita.
Bagaimana caranya? Bagaimana caranya untuk memberi pengertian pada bocah yang belum genap enam
tahun itu? Nabila ingin meneriakkan itu sekencang mungkin, tapi tak bisa. Ia harus tenang, sudah terlalu banyak yang ia hadapi. Semuanya pasti akan baik-baik saja, ia hanya perlu tenang dan bertahan sedikit lagi.
“Tak masalah, ambil waktu untuk kalian berdua, jika ini demi kebaikan Aidan.”
Sebelum bercerai, Nabila tak perlu khawatir dengan apapun yang terjadi, Reno akan selalu ada di sampingnya untuk menenangkan dirinya dan membuatnya tak memikirkan apapun dan hanya kebahagiaan. Kini, ia harus menghadapi kekhawatiran itu setiap hari, dan ia harus menemukan penenangnya seorang diri. Ia terlalu lama berdiam dalam zona nyaman itu.
“Kamu bisa hubungin aku lagi kalau mau jemput Aidan, aku kembali ke kantor dulu.
Nabila berbalik meninggalkan Reno, ia tak ingin pertahanannya hancur di hadapan pria itu. Ia sudah sekuat ini, ia tak ingin semuanya hancur hanya dalam beberapa menit itu. Ia lelah, dengan semua yang ia jalani selama ini, ia tak bisa menahan perasaan ini selamanya. Jauh di dalam hatinya sana, ia sudah sangat hancur, tak ada yang tersisa lagi pada dirinya kecuali kedua buah hati yang selalu mempu memberinya semangat.
Reno menatap punggung yang menjauh dengan perasaan campur aduk, ia tak memiliki keberanian untuk menahan wanita itu. Harusnya ia bisa lebih berani dari ini, tapi ia tak ingin kembali menyakiti wanita itu dengan menahannya lagi. Ia tak ingin kembali menorehkan luka untuk wanita yang ia cintai lagi.
**
“Menurut hasil tes yang sudah di lakukan, kita harus segera melakukan operasi caesar segera. Nyeri punggung serta kontraksi yang terjadi adalah normal di usia kehamilan Ibu, tapi ketuban Ibu sudah pecah dan kami takut jika itu akan membahayakan janin Ibu, karenanya operasi ini harus segera di laksanakan.”
Hanya selang beberapa jam setelah kalimat yang di katakan sang dokter tadi, kini Liliana sudah berada di ruang rawat di temani dengan Dimitri yang sedari tadi menggenggam tangannya. Ia sedang menunggu persiapan operasi Caesar. Usia kehamilannya baru memasuki usia dua puluh sembilan minggu, masih sangat jauh dari prediksi dokter tentang waktu persalinan.
“Gak apa-apa sayang, kamu pasti bisa. Mungkin putri kita ini udah gak sabar buat ketemu kita, gak akan ada hal buruk yang terjadi, aku akan selalu ada di sini,” ucap Dimitri. Ia mengelus perut Liliana lembut dengan masih menggenggam tangan istrinya itu dengan erat.
“Kami pasti akan baik-baik aja, kan?” tanya Liliana dengan mata yang berkaca-kaca.
“Semuanya akan baik-baik aja, kamu gak sendirian.” Dimitri mencium buku-buku jari Liliana yang berada di dalam genggamannya.
Posisi bayi mereka sungsang, serta ketuban yang pecah lebih awal, Liliana juga sudah mengeluh punggungnya yang semakin sakit, bahkan selalu ada bercak lender ketika ia selesai buang air. Awalnya mereka berpikir jika itu sesuatu yang biasa, karena Liliana juga sudah pernah mengalaminya, dan tak ada yang buruk. Kini keadaannya berubah.
“Al, kalau terjadi apa-ap—“
“Shhh, gak akan terjadi apa-apa, percaya sama aku. Kita akan segera ketemu putri kita, apa kamu gak pengen ketemu dia?”
Melihat Liliana yang ketakutan sejak tadi membuat Dimitri sedikit tak tega. Ia lebih memilih Liliana yang mengomelinya sepanjang hari di banding Liliana yang khawatir dan juga ketakutan. Hatinya seperti teriris melihat pemandangan itu.
Pintu ruang rawat terbuka, dan dua orang suster memasuki ruangan mereka. “Ruang operasi sudah di siapkan, kami akan membawa ibu Liliana sekarang,” ucap salah satu suster yang sudah mengenakan jubbah operasi lengkap.
“Kamu di sini, kan?” tanya Liliana memastikan. Ia menatap Dimitri dengan sorot ketakutan itu.
Dimitri mengangguk dan memberikan senyum untuk menyemangati sang istri, lalu mengecup kening istrinya itu dengan sayang. “Kata dokter, operasinya gak akan lama. Aku pastikan akan ada di samping kamu waktu kamu bangun nanti.”
Liliana menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis, sebelum kedua suster itu mendorong ranjangnya keluar dari ruang rawat itu. Perjalanannya untuk menjadi Ibu akan segera di mulai lagi.
Operasi itu berlangsung selama satu jam. Dimitri sudah menunggu di luar ruangan operasi dengan cemas, ada Nabila dan juga Richard yang sudah menemaninya. Kedua orang tua dan mertuanya sengaja ia biarkan menunggu di rumah sembari menjaga Elang. Tak ada yang berbicara, Nabila dan juga Richard juga hanya diam dan menunggu dengan harap-harap cemas, mereka juga cukup khawatir dengan keadaan keponakan dan sahabatnya itu.
__ADS_1
Suara tangis yang sangat nyaring itu membuyarkan kecemasan ketiga orang yang sedang berdiri dan menunggu dengan cemas. “Itu suara anakku, kan?” tanya Dimitri pada kedua sahabatnya.
Nabila dan Richard juga saling menatap dengan wajah yang cerah, ketika seorang perawat membuka pintu ruangan itu dengan mendorong keranjang bayi.”
“Dengan suami Ibu Nabila?” tanya sang suster.
“Iya saya, sus.” Tatapan Dimitri tak lepas dari bayi mungil yang masih sangat merah di kotak bayi itu.
“Selamat atas kelahiran putrinya, Pak. Semua tanda vital bayi bagus dengan berat dua koma lima kilogram dan panjang lima puluh dua sentimeter. Karena bayi bapak lahir dengan prematur, kami akan memasukkan putri bapak ke dalam inkubator, dan akan kami pantau hingga kondisinya stabil."
“Istri saya. Bagaimana keadaan istri saya?”
**
Elle menatap Enzo yang kini berada di hadapannya dalam balutan kaos yang sangat kasual. Wanita itu sudah mengundurkan diri kemarin, jadi ia sudah tak bekerja pada pria ini, walau Enzo belum dengan resmi mengatakan jika ia menyetujui surat pengunduran diri itu. Dan ini adalah akhir pekan, yang awalnya ingin Elle habiskan dengan tidur seharian di apartemen ibunya, sebelum pria ini datang dan memaksanya untuk keluar. Ah, bukan memaksa,
lebih tepatnya membujuk sang ibu untuk membawanya keluar.
Entah apa yang sedang di pikirkan Caroline kala itu hingga memberi izin pada Enzo. Apa ibunya itu sama sekali tak curiga pada pria yang hanya di temuinya dua kali? Bagaimana jika ternyata Enzo memiliki niat buruk tanpa di sadari Caroline? Tak ada yang mengetahui hati manusia, yang terlihat baik pun belum sepenuhnya baik.
“Apa ada hal penting yang ingin di sampaikan?” tanya Elle dingin.
Enzo mengedikkan bahunya dan menampilkan senyum tipis, ia menatap Elle dengan lekat. “Hanya merindukanmu saja.”
“Apa kau sedang menghindariku? Kau tahu aku bukan pria yang akan menyerah begitu saja, membuatmu kembali menjadi milikku adalah hal termudah yang pernah aku lakukan. Jadi, tunggu saja.”
Ucapan Brian kemarin di telepon kembali terngiang di telinga Elle. Ya, tak ada cara yang lebih baik untuk lepas dari jerat Brian kecuali ia mati. Ia juga tak ingin terjebak lebih lama dengan Enzo, pria hanya membuat otaknya tak bisa bekerja dengan baik dan ini sudah yang kesekian kalinya terjadi. Terbukti dengan hidupnya yang hancur karena pria.
“Aku tak memiliki waktu untuk bermain denganmu, carilah wanita lain.”
Elle beranjak dari duduknya, berniat untuk pergi ketika pergelangan tangannya di cekal oleh Enzo. “Bisakah kau berhenti untuk melarikan diri? Apa sesulit itu untuk duduk dan berbicara denganku?”
“Ya, sangat sulit dan aku tak sanggup melakukannya. Jadi, bisakah kau juga berhenti untuk melakukan hal ini?”
Enzo juga beranjak dari duduknya. Ia sudah mengantisipasi untuk hal buruk yang terjadi, jadi ia sengaja memesan ruangan VIP agar privasi mereka lebih terjaga. Sudah cukup gosip yang beredar tentang dirinya, ia tak ingin menambah lagi dengan kejadian yang sama. Juga, lebih nyaman seperti ini.
“Kalau kau menolakku, setidaknya beri alasan agar aku mengerti.”
“Bukankah sudah sangat jelas? Kita tak mungkin bersama, dan aku hanya tak ingin bersamamu. Apa masih belum cukup?” Elle menantang mata Enzo yang juga sedang menyelami dirinya.
Pria yang hadir di hidupnya tak pernah memiliki sifat yang normal, dari awal ketika masa kuliahnya hingga kini. Ia selalu bertemu pria berengsek, tak pernah ada yang benar-benar mencintainya dengan tulus.
Enzo menarik Elle mendekat. Wanita ini selaluberhasil membuat Enzo kehilangan kendali, yang ia inginkan hanya membuat wanita ini tetap di sampingnya bagaimanapun caranya.
“Kalau begitu, izinkan aku untuk membuatmu jatuh cinta padaku dan membuat semua ketidakmungkinan itu menjadi sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Semakin kau menolakku, aku semakin bersemangat untuk berada di
dekatku.”
__ADS_1
Pria ini sama gilanya dengan Brian, Elle sangat yakin hal itu. Karena kini ia sudah di buat gila oleh mata kelam itu serta yang ia ucapkan. Ia sangat gila, hingga sangat ingin mengatakan ya.
**