
DISCLAIMER!
Tolong abis baca ini jangan hujat aku, hujat aja Dimitri.
With love,
Elien Prita
Malam itu Dimitri pulang bertepatan dengan aku yang baru menyelesaikan makan malam. Kami sering berpapasan di rumah seperti ini, hanya tak saling bertegur sapa. Bahkan hanya untuk menanyakan kabarnya saja aku tak ingin. Aku pikir kisah hidupku sangat sedih, tak pernah ada rasa bahagia yang kurasakan kekal bersamaku.
“Lili, kita perlu bicara,” ucapnya.
Aku menghentikan langkahku yang akan memasuki kamar. Bisa kukatakan kalau Dimitri jauh lebih tak terurus sekarang, bulu-bulu halus di wajahnya tumbuh sedikit lebih lebat dari biasanya dan ia sepertinya belum mencukur. Dan ia juga lebih lesu dari sebelumnya. Ingin rasanya aku memeluk pria yang menjadi suamiku ini, hanya saja aku tak ingin kalah dengan egoku.
Kalau Dimitri saja bisa mendapatkan apa yang di inginkan, kenapa aku tak bisa? Padahal yang kuinginkan bukan hal yang rumit, ia bisa dengan sadar memenuhi permintaan itu tanpa harus pisah ranjang seperti ini.
“Apa?”
“Lebih baik kita cerai.”
Aku langsung membalikkan tubuhku menatap Dimitri. Aku tak salah dengar, kan? Aku baru saja mendengar kata cerai, dan kupikir pendengaranku masih baik-baik saja. Tapi, dari semua hal yang belum kami bicarakan, dan setelah sekian lama kami tak berbicara, justru kalimat ini yang keluar darinya.
“Kenapa? Supaya kamu bisa bersama wanita itu?” tanyaku datar. Aku bahkan bingung harus bereaksi seperti apa, atau bagaimana harus menunjukkan emosiku, aku hanya tak habis pikir dengan semua yang ada di pikiran Dimitri.
“Aku gak mau semakin menyakiti kamu, semua yang terjadi saat ini, aku gak mau itu berpengaruh untuk kehamilan kamu,” ucapnya lirih.
Mataku mendadak memanas, dan air mata mendesak keluar dari pelupuk mataku. Ini sudah di luar batas toleransi emosiku. “Kamu gak akan nyakitin aku kalau kamu mau jujur dan kasih aku penjelasan… Bukan malah meminta cerai…”
Hatiku sangat sesak, aku tak ingin jatuh pingsan seperti sebelum-sebelumnya jika emosiku tak terkontrol aku tak boleh terlalu lelah, tapi ini juga melemahkanku. Tak bisakah jika aku menjalani kehamilanku dengan tenang? Dari semua hal yang menyesakkan ini, aku harus tetap kuat menghadapinya. Tentu saja, aku bisa lebih kuat dari ini.
Aku mengusap air mataku yang masih enggan untuk berhenti mengalir. “Aku akan setuju, jika kamu memberiku penjelasan.”
“Lili…”
“Apa susahnya memberi penjelasan? Atau kamu ingin aku mengetahuinya dari orang lain? Kalau kamu ingin menyakitiku, sebaiknya lakukan dengan sepenuh hati, jangan membunuhku secara perlahan seperti ini.”
Dimitri diam, ia menatapku dengan mata yang penuh dengan rasa sakit. Jika ia merasa tersakiti, kenapa harus melakukan ini? Aku benar-benar tak bisa mengerti dengan jalan pikirannya saat ini. Kami pasti bisa melalui ini jika ia sedikit saja mau berbicara tentang segalanya, hanya komunikasi yang aku butuhkan, bukan gugatan cerai.
“Aku akan langsung menandatangani surat cerainya kalau kamu sudah menemukan alasannya, karena yang aku butuhkan hanya itu.”
Aku segera berbalik meninggalkannya. Aku tak sanggup jika harus lebih lama berada di sana. Satu bulan kami terbuang sia-sia dengan dia yang meminta cerai seperti ini, kalaupun bercerai, harusnya aku yang mengatakan itu terlebih dahulu. Akulah yang menanggung semuanya, semua rasa sakit fisik dan juga batinku.
Dimitri juga tersakiti, tapi, apa dia berusaha untuk mengurangi rasa sakit ini? Dia justru semakin menambah rasa sakit ini. Lalu jika kami bercerai, apa kisah kami hanya berakhir seperti ini saja? Perjuangan kami sebelum-sebelumnya hanya berakhir seperti ini saja?
Aku tersenyum miris, apa memang memiliki cinta sejati sesulit ini?
**
Setelah pembicaraan kami tadi malam, kami masih tak bertegur sapa. Aku bahkan tak keluar kamar sampai mendengar suara mobil Dimitri menjauh dari rumah. Aku meringkuk di kasurku, aku di khianati lagi dan lagi oleh pria yang aku cintai, yang dulu menjanjikan cinta dan juga hatinya padaku. Lalu ketika usia penikahan kami belum genap satu tahun, ia sudah meminta cerai.
Aku sudah bosan menangis, bosan dengan emosionalku yang tak pernah berhenti jika mengingat tentang rumah tangga yang sedang kujalani saat ini. Aku akan mencari tahu semuanya. Jika Dimitri memang tak ingin memberitahu secara langsung, maka aku akan mencari tahu. Aku sudah hancur, apa lagi yang kuharapkan? Kembali hancur adalah pilihan yang terbaik.
Untuk apa sibuk menerka-nerka dan berusaha menjaga hatiku, sementara hatiku sudah di hancurkan lebih dahulu. Bahkan dengan jahatnya ia menyiksaku secara perlahan.membalas sakit hati dengan kehancuran yang lain bukan gayaku, aku justru akan membuat mereka yang meninggalkanku merasa menyesal.
Aku segera bangkit dari tidurku dan bersiap-siap, aku sudah menemukan siapa yang mampu memberiku jawaban dari semua pertanyaan ini.
Setelah memastikan kalau aku sudah selesai, aku segera keluar dari kamar. Kali ini aku tak akan di temani Pak Rizal, aku akan menyetir sendiri. Memiliki supir kadang membantu, kadang juga agak menyebalkan dalam keadaan seperti ini. Aku sudah menghubungi Richard tadi, dan kami akan bertemu.
__ADS_1
Aku sangat yakin seratus persen kalau Richard mengetahui sesuatu, walaupu kemungkinan ia membertitahuku sangat kecil, tapi, tak ada salahnya untuk mencoba. Aku akan melakukan apapun untuk mencari kebenaran yang berusaha Dimitri tutupi.
“Kamu udah lama?” tanya Richard.
Kini, pekerjaan Richard bukan lagi dokter, ia membantu orang tuanya mengurusi bisnis. Masih tetap kembali ke Singapor, tapi ia lebih sering di Jakarta, entah apa yang sedang ia lakukan. Pasti tak akan jauh dari bisnis.
“Gak lama, sekitar lima belas menit yang lalu.” Aku memberikan senyum terbaikku padanya. Wajahku saat ini benar-benar tak memiliki tanda-tanda sehabis menangis semalaman.
“Ada apa kamu mau ketemu aku? Gak biasanya kamu duluan nelpon aku,” ucap Richard penuh selidik.
“Aku mau tahu apa yang terjadi sama Dimitri.” Aku tak akan berbasa basi, memang itu tujuanku menemui Richard. Karena aku ingin ini cepat selesai, akan lebih baik jika aku langsung mengetahuinya.
“Apa maksud kamu?” tanya Richard gugup. Mungkin ia tak menyangka kalau aku akan menanyakan hal ini, dan tanpa basa basi.
Mungkin ini sedikit tak bijak, bisa saja Richard tak mengetahui apapun tentang Dimitri, dan hanya aku saja yang mencoba menciptakan kemungkinan lain di kepalaku. Semua itu bisa saja terjadi, kan?
“Aku minta maaf kalau ini gak nyaman buat kamu, aku cuman butuh mengetahui kebenarannya, karena aku yakin Dimitri gak akan mau bilang yang sejujurnya.”
Kami diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku sangat kalut di balik wajah tenangku, aku masih sangat baik dalam memainkan peran sebagai wanita kuat yang pernah ada. Bagaimanapun pria menyakitiku, aku akan tetap berdiri kokoh. Nyatanya yang menyakitiku hanya Dimitri.
“Aku akan cerai dari Dimitri, jadi aku mohon sama kamu… Katakan apa yang kamu tahu, apapun itu tak masalah untukku,” ucapku lagi.
“Kalian akan cerai? Tapi kenapa?”
Aku mengangkat bahu. “Mungkin kami memang gak jodoh, jadi kamu bisa bilang apapun yang kamu tahu tentang Dimitri.”
Mudah mengatakannya, tapi merasakannya sangat sulit. Jika aku akan hancur setelah ini, maka tak masalah, aku tak punya penyesalan lagi. Nanti, hanya ada aku dan anakku.
“Aku… Gak yakin bisa ngomong ini, aku benar-benar gak ingin ikut campur dalam masalah kalian,” ucap Richard.
Aku hanya menatap Richard tanpa mengatakan apapun, berharap ia hanya melanjutkan kalimatnya tanpa menundanya lagi. Aku akan sangat berterima kasih karena itu. Kalian tahu, aku sudah menyerah dengan akhir bahagia yang pernah kuimpikan, sepertinya sampai aku menua nanti, hal itu tak akan kudapatkan.
Aku tetap tak mengatakan apapun, ini pasti hal buruk dan ya, aku sudah siap mendengarnya. Walau bukan dari Dimitri secara langsung, aku yakin rasa sakitnya akan berkali-kali lipat lebih sakit kali ini. Tapi aku akan tetap mendengarnya.
Richard menatapku sesaat dengan ragu, seperti mencoba menerka ekspresiku, tapi percuma. Hanya wajah datar yang kutampilkan, aku tak akan menangis apapun yang terjadi.
“Bukan aku yang mengatakan ini, jadi kuharap setelah ini kamu gak membenciku,” ucap Richard. “Dimitri dan Evelyn tidur bersama, karena sebuah kesalahan mereka waktu itu.”
Aku stagnan. Suara berisik dari orang berlalu lalang, denting alat makan, bahkan suara orang berbincang sudah tak mampu masuk ke telingaku lagi. Aku ingin tak mempercayainya, tapi jika memang benar seperti itu, apa lagi yang bisa kulakukan?
“Itu hanya kesalahan satu kali, setelahnya mereka tak pernah melakukan lagi. Mereka berdua sama-sama mabuk waktu itu, dan Dimitri sangat menyesali apa yang terjadi waktu itu. Aku berani bersumpah kalau dia hanya mencintai kamu, Li,” lanjut Richard dengan terburu-buru.
Ini sama saja dengan menggali kuburnya sendiri, jika Richard mengatakan semuanya, kemungkinan persahabatannya dengan Dimitri akan hancur. Alih-alih menangis, aku justru memberi Richard senyum, senyum yang sangat lebar.
“Li, aku sama sekali gak bermaksud menambah masalah menjadi semakin runyam, aku cuman—“
“Aku baik-baik aja, memang ini yang ingin kudengar sejak kemarin. Aku memang ingin mengetahui yang sebenarnya, aku akan pastikan kalian tetap bersahabat.”
“Li, aku—“
“Aku rencananya mau lihat perabotan bayi, kamu mau nemenin?”
Richard menatapku tak percaya. Harusnya, setelah dia mengatakan semuanya aku memberikan reaksi yang lebih baik dari ini. Mengamuk, menangis, pingsan, atau hal-hal yang lebih ekstrem dari semua itu. Aku sepertinya sudah kehabisan ekspresi dan juga kehabisan kalimat untuk bereaksi, atau hatiku sudah kebas?
Aku beranjak dari dudukku, di lantai dua mal ini aku pernah melihat toko perlengkapan bayi, di sanalah tujuanku. Richard hanya mengekoriku tanpa mengatakan kalimat apapun, aku yakin dia sangat khawatir padaku sekarang. Hanya ini yang bisa kulakukan, aku sudah berjanji tak akan menangis lagi.
“Aku belum yakin dengan kelaminnya, tapi kayaknya warna-warna biru kayak gini cukup netral, ya?” Aku berdiri di depan rak yang menampilkan baju-baju bayi serta perlengkapannya. Aku baru bisa mnegetahui jenis kelaminnya bulan depan, lagipula masih terlalu dini untuk menyiapkan perlengkapannya sejak sekarang.
“Menurut kamu gimana?” tanyaku pada Richard.
__ADS_1
Richard tak menjawabku, ia masih tetap menatapku dengan khawatir. “Aku baik-baik aja, buang jauh-jauh muka kusut kamu, Richard,” ucapku dengan senyum geli.
“Kamu gak seharusnya kayak gini, Li.”
“Jadi aku harus gimana? Sepertinya memang jalannya sudah seperti ini, dan bukan kali pertama juga aku merasakan seperti ini, kenapa aku harus khawatir.”
Aku kembali mengitari rak-rak lain yang juga menampilkan pakaian bayi dari segala umur. Semakin jauh aku melihat beragam jenis pakaian bayi serta perlengkapannya, hatiku semakin terasa sakit, sepertinya tadi baik-baik saja. Aku menghentikan langkahku, sepertinya aku akan mengingkari janjiku. Kali ini saja.
“Aku akan cerai, semuanya akan baik-baik aja, kan?” Air mataku kembali mengalir tanpa bisa kucegah, aku harap ini air mata terakhirku.
**
Aku memilih pakaian terbaikku malam ini, karena ini akan menjadi malam yang tak terlupakan. Setidaknya untukku, jadi aku akan membuatnya menjadi spesial. Aku juga sudah menata meja makan dengan makanan buatanku, di bantu dengan Bibi tentu saja, aku tak mungkin membuat makanan lengkap ini hanya sendirian. Aku sudah duduk manis di meja makan, menunggu kepulangan Dimitri.
Tak ada perayaan spesial hari ini, hanya saja, aku sedang mencoba membuat perayaan di tanggal ini. Aku akan melupakan semua masalahku untuk malam ini saja, aku akan bahagia kali ini, kali ini tak akan kuingkari. Sudah kukatakan berkali-kali kalau aku sangat membenci masalah yang muncul di hidupku.
Suara mobil yang memasuki pekarangan mulai masuk ke indera pendengarku, aku yakin itu Dimitri. Dia sama sekali tak tahu kalau aku menyiapkan semua ini, anggap saja sebagai kejutan untuknya. Aku segera melangkah menuju pintu depan untuk menyambutnya. Ketika pintu terbuka, aku memberikan senyum terbaikku untuknya, bukan jenis senyum terpaksa seperti sebelumnya. Ini benar-benar senyum tulusku.
Dimitri menatapku heran, mungkin ia kaget ketika mendapatiku berdiri di sini menyambutnya dengan senyum lebar.
“Aku udah siapin makan malam, kamu mau mandi dulu atau langsung makan?” tanyaku.
Dimitri masih bergeming di tempatnya, menatapku dengan bingung. “Kamu mau mandi dulu atau langsung makan malam?” tanyaku lagi.
“Mungkin mandi dulu,” ucapnya dengan bingung.
Aku kembali memberinya senyum. “Kalau gitu aku tunggu di meja makan.”
Aku kembali memasuki dapur, dan Dimitri menuju lantai atas untuk mandi. Setengah jam kemudian, Dimitri turun dengan wajah segar dan pakaian santai. Ia segera duduk di meja makan dan masih menatapku dengan aneh.
“Jangan ngeliatin aku kayak gitu, kamu kayak abis ketemu hantu,” ucapku dengan senyum geli.
“Aku boleh tanya ada acara apa malam ini?” tanyanya.
Aku mengambilkan nasi serta lauk pauk ke atas piring milik Dimitri, seperti yang biasanya kulakukan padanya. “Memangnya salah kalau aku kayak gini?
“Gak, cuman agak aneh aja menurutku.”
“Ada yang mau aku bicarain sama kamu, tapi kita makan dulu. Kamu pasti laper, kan? Kamu keliatan lebih kurus dari sebelumnya.”
Dimitri menampilkan senyum canggungnya. Ya, untuk ukuran kami yang kemarin baru saja bertengkar, cukup aneh memang yang kulakukan kali ini. Anggap saja ini sebagai gencatan senjata. Sudah cukup satu bulan ini kami perang dingin tanpa membuahkan hasil apapun, dan juga Dimitri yang terlihat lebih berantakan dari sebelumnya. Aku seperti gagal menjadi istri.
Kami makan dengan tenang, di selingi candaan untuk mencairkan suasana kami yang terlihat canggung. Yang mengejutkan, aku sampai menghabiskan piring keduaku. Setidaknya ini rekor terbanyakku setelah menghadapi permasalahan yang tak berujung.
“Apa yang mau kamu bicarain?” tanya Dimitri.
Dia sudah menghabiskan makanannya, begitupun denganku. Mungkin aku akan membereskan meja makan setelah ini, yang akan aku bicarakan lebih penting saat ini.
“Aku setuju untuk cerai,”
Raut wajah Dimitri seketika berubah, senyumnya juga sudah menghilang dari wajahnya ketika aku menyelesaikan ucapanku. Berbanding terbalik denganku yang masih setia menampilkan senyum.
“Aku sudah menyewa pengacara untuk mengurus dari pihakku, aku akan kembali ke rumah orang tuaku dan mengurus kehamilanku. Tapi, aku tak bisa berbicara pada orang tuamu tentang perceraian ini. Aku pikir tak masalah kalau kamu yang memberitahukan masalah ini.”
Aku menyerahkan amplop coklat padanya. “Surat itu sudah aku tanda tangani, sisanya aku akan menyerahkan pada pengacaraku.”
Ini perayaan yang kumaksud. Aku sudah sampai pada keputusan terbesarku, ini juga keinginan Dimitri, aku hanya mengikutinya saja. Dan kurasa ini juga yang terbaik untuk kami. Setelah ini, aku akan kembali berjanji untuk bahagia.
**
__ADS_1