
Hai, sebenarnya abis bacain komenan kalian yang panjang-panjang itu, aku gak tau mau bales apa. Seneng kok sama kalian yang pada emosi gara-gara reni, yang nyemangatin juga. Aku baca semuanya, cuma gak tahu aja mau balas apa. Maaf ya suka bikin kalian emosi di bulan puasa kayak gini, aku jadi merasa berdosa juga kadang. Tapi gak papa ya buat nemenin kalian yang mungkin lagi pada di rumah aja. Sehat-sehat buat kalian ya
Happy reading^^
***
Richard saat ini memiliki pekerjaan baru selain mengurusi perusahaan, menjemput dua keponakan dari dua sahabatnya itu di gedung yang sama. Kadang bahkan menjadi supir Liliana untuk menjemput Elang dan juga Aidan. Kedua bocah kecil yang terpaut usia dua tahun itu secara tak langsung juga menjadi teman main, walau kadang juga tak akur. Dua orang dewasa saja kadang suka berbeda pendapat, apalagi dua bocah kecil yang belum mengetahui dunia.
Siang ini pun juga sama, ia menjemput Aidan karena Nabila tak bisa melakukan itu. Ada Ibu Nabila dan juga pengasuhnya, tapi Richard sudah menyukai pekerjaan barunya. Berada di dalam ruangan sempit dan di hadapkan dengan komputer dan juga berkas-berkas juga sangat menyesakkan.
“Gimana kelas hari ini? Menyenangkan?” tanya Richard seperti biasa.
“Om gak punya pertanyaan lain? Aku bosen di tanyain hal yang sama terus-terusan,” balas Aidan dengan cuek.
Richard hanya tertawa mendengar jawaban yang sangat polo situ. Entah apa yang di ajarkan Nabila dan juga Reno dulu hingga putranya tumbuh menjadi anak yang sangat kritis. Padahal umurnya baru lima tahun, jika semua anak-anak seperti ini, maka Richard akan memilih untuk melajang saja. Terdengar seperti pilihan yang bagus, kan?
Apa kabar Kate di Jerman? Apa dia baik-baik saja? Apa ia bisa mengerjakan pekerjaan dan juga proyek yang ada dengan baik? Apa wanita itu makan dengan teratur? Apa Kate masih berhubungan dengan pria yang dulu pernah di temuinya? Ia snagat merindukan mantan kekasihnya itu, bahkan di saat ia bersama anak kecil, hanya Kate yang selalu muncul di benaknya. Egois sekali, kan, wanita itu? Ketika ia sedang berusaha melupakan, justru bayangan itu semakin jelas di kepalanya.
“Om, aku mau es krim.”
Lamunan Richard buyar, ia sedang bersama anak kecil dan ia tak bisa lengah, karena ini juga bukan anaknya. Akan bahaya jika ada yang terjadi dan ia segera di mintai tanggung jawab.
“Memangnya Mama ngebolehin?” tanya Richard selembut mungkin. Seperti yang di katakan Nabila kemarin, Aidan belakangan sedang sangat sensitif, jadi ia harus ekstra hati-hati ketika berbicara.
“Boleh, tapi gak boleh sering.”
Akhirnya Richard membelokkan mobilnya ke sebuah restoran cepat saji untuk memesan es krim seperti permintaan Aidan. “Kalau kamu batuk, jangan salahin Om, ya?”
Tak ada jawaban dari Aidan, bocah itu sudah sibuk dengan es krim di pangkuannya. Ini seperti terapi untuk Richard, melihat Aidan atau Elang melakukan hal konyol saja sudah membuat bibirnya terlengkung lagi. Mungkin ini tanda jika ia juga harus segera mencari pendamping hidup dan memiliki bayinya sendiri. Tapi, apa mungkin? Wanita yang ia inginkan saja sudah menolaknya.
Sepertinya jika di lihat-lihat dari fisik, ia juga tak seburuk itu. Ia tampan, tapi tak ada yang mendekatinya.
“Bagaimana mereka akan mendekatimu jika kamu sendiri gak mau ngasih kesempatan itu?” Itu yang di ucapkan Liliana ketika Richard menjadi supirnya tempo hari.
Tak mudah untuk kembali membuka hati, Kate terlalu menorehkan bekas yang sangat tajam di hatinya. Kate dan semua pesona yang wanita itu miliki, andai saja hubungan mereka tak berakhir begitu saja. Lagi, ia kembali akan menangisi sang mantan kekasih itu hari ini, tapi tak di depan Aidan juga.
“Enak es krimnya?” tanya Richard.
“Om sering-sering jemput aku, ya? Kalau Mama yang jemput, aku pasti gak boleh makan es krim ini.”
Richard mengacak rambut bocah lima tahun itu dengan gemas. Memang lebih mengasyikkan mengobrol dengan makhluk polos seperti ini, ia tak akan menilaimu atau memberikan komentar pedas apapun itu untukmu. Mereka hanya akan memberimu senyum polo situ dan mungkin sedikit uang di dompet. Tak bisa di bilang sedikit juga, Richard pernah mengeluarkan lebih banyak uang ketika Elang juga ikut bersama mereka. Beruntunglah kedua bocah ini memiliki Om yang sangat tampan dan murah hati sepertinya ini.
__ADS_1
Bayangkan jika Kevin yang bersama mereka, mungkin pria itu akan menimbang dan berpikir dengan keras untuk mengeluarkan uang. Berbicara tentang Kevin, ia jadi merindukan pria tengil itu. Sibuknya Kevin sudah bisa mengalahkan kesibukan Richard dan Dimitri, terakhir kali Dimitri mengatakan jika Kevin sedang sibuk mengurus pertunangannya.
Kenapa Richard jadi ingin mendo’akan jika pertunangan itu gagal? Lagipula pria seperti Kevin sangat mudah untuk di baca, mereka tak akan tahan dengan ikatan sepertinpertunangan ini. Richard yang tak memiliki daftar hitam sebagai pemain wanita saja di campakkan begitu saja, bagaimana dengan Kevin?
Ia tak sejahat itu sebenarnya, tapi sesekali tak masalah, kan? Karena ia masih belum puas ingin mengejek Kevin, dan pertunangan ini menghalanginya.
**
“Aku tak menyangka jika kau akan jauh-jauh terbang dari Jerman ke Jakarta hanya untuk menemui Richard.”
Liliana menatap Kate di hadapannya dengan terkejut dan juga takjub. Pasangan ini benar-benar pasangan yang sangat luar biasa menurutnya, yang satu memilih pulang ke Jakarta setelah cintanya kandas, lalu yang satu lagi menyusul sang pria. Cinta benar-benar butuh perjuangan, ya? Liliana saja harus menunggu satu tahun untuk kembali bertemu dengan Dimitri, lalu Kate hanya membutuhkan sekitar satu atau dua bulan.
Oke, jadi dari sini bisa di simpulkan jika Dimitri tak sekaya itu untuk menyusul Liliana dulu, atau Dimitri tak secinta itu untuk mengejar Liliana? Dua-duanya masuk akal, karena mereka memiliki waktu yang lama untuk bertemu kembali hingga akhirnya bersatu. Kisah cinta mereka memang luar biasa, ia yakin Cinderella bukan tandingannya.
“Aku hanya meninjau cabang yang sedang di kerjakan di Indonesia, kau saja yang berlebihan,” balas Kate.
Lilianammemberikan seringainya. “Benarkah? Apa aku berlebihan? Bagaimana jika kukatakan Richard sudah menemukan penggantimu?”
Benar saja, tanpa menunggu waktu lama raut wajah Kate berubah menjadi kelabu. Berbagai pikiran mulai berkecamuk di kepalanya. Meninjau salah satu cabang pusat perbelanjaan yang baru akan di bangun memang benar, dengan bonus ia bisa melihat Richard. Ide yang sangat menyedihkan sebenarnya, tapi dengan segera
Kate bisa segera mengubah ekspresinya.
“Well, itu memang haknya, kan? Lagipula kami juga sudah berakhir,” jawab Kate dengan percaya diri.
Entah darimana munculnya kepercayaan diri itu, apa ia pikir hatinya akan lega jika menemukan Richard dan wanita lain di sampingnya? Memikirkannya saja sudah membuat kepalanya menjadi pusing berkali lipat, bagaimana jika benar terjadi? Tapi, Richard bukan tipe pria seperti itu.
“Ah, tapi kau juga tak akan kehabisan uang. Lakukanlah semaumu, itu urusan cintamu dan Richard. Jangan menyesal saja jika kau benar-benar melupakan niat awalmu kemari,” lanjut Liliana lagi.
Kate menimbang, apa ia harus mengatakannya pada Liliana atau cukup menyimpannya sendiri? Ia juga belum memiliki rencana akan mengatakan apa ketika bertemu Richard nanti, ia datang benar-benar tanpa persiapan dan hanya melakukan apa yang terlintas di benaknya. Tujuannya hanya melihat Richard, ia semakin terlihat menyedihkan sekarang.
“Oke, aku menyerah. Aku memang datang untuk Richard, tapi aku menjadi kosong ketikamsudah sampai di sini, kau tahu, aku benar-benar tak bisa memikirkan langkah apa yang harus kuambil selanjutnya jika bertemu Richard,” ucap Kate.
Liliana menatap Kate yang sudah menanggalkan wajah angkuhnya itu, dan hanya terlihat seperti wanita patah hati yang normal. Memang ada patah hati yang tak normal? Kate ini sangat menjunjung tinggi harga dirinya, mungkin karena itu ia agak kesulitan untuk mengatakan tujuannya kemari, dan lagipula kenapa mereka harus putus jika masih saling mencintai seperti ini, sih? Sungguh membuang-buang tenaga dan emosi.
“Tinggal bicara dengannya dan katakan kalau kau merindukannya. Usiamu sudah lebih dewasa untuk mengerti hal-hal singkat seperti ini, kan?”
“Terakhir kali kami berbicara, dia sangat marah. Aku bahkan sempat merasa dia kerasukan, karena dia seperti memiliki jiwa lain di dalam dirinya.”
Sepertinya membuka jasa konsultasi masalah cinta lebih baik di banding membuka toko bunga. Liliana sangat yakin jika itu akan sangat menguntungkan untuknya, dan juga lebih bermanfaat juga. Akan Liliana pikirkan nanti, dan bicarakan dengan Dimitri, suaminya itu pasti akan sangat setuju dan juga mendukung.
“Mungkin ini saatnya untukmu membuktikan padanya kalau kau juga mencintainya. Semua butuh pembuktian, dan mungkin ini sudah saatnya untukmu. Jika kau mencintai seseorang, lepaskan egomu, dia tak di butuhkan di sini. Pilihannya sekarang hanya ada, hatimu yang tenang, atau kau bersama egomu yang menguasai dirimu.”
Sebelum tiba di Jakarta pun, ia sudah memikirkan tentang ini. Ia ingin membuktikan pada Richard jika ia juga mencintai pria itu, dan tak seharusnya ia mudah menyerah seperti ini. Kehilangan pria itu sudah sama seperti kehilangan arah, dan itulah yang terjadi pada Kate selama ini. Bukan berniat ingin berlebihan, tapi memang itu yang sedang terjadi pada dirinya. Ini adalah pengalaman pertama hubungan romantisnya, jadi ia sedikit gugup ketika menghadapi masalah kecil seperti ini.
Mau di pikirkan dari semua sisi pun, ini memang salahnya. Jika kali ini Richard juga tak memaafkannya, ia akan mencoba cara lain lagi. Ia adalah orang yang sangat gigih untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
__ADS_1
**
Ini hari sabtu, akhir pekan, saatnya jiwa-jiwa yang sudah sangat sibuk di hari kerja untuk melepas lelah di hari sabtu malam ini. Kali ini tujuannya bukan kafe atau restoran lagi, Liliana mengusulkan untuk berkumpul di rumahnya dan ia akan menyiapkan makanan dan juga camilan. Ibu rumah tangga yang satu itu memang sudah sangat rajin untuk berkutat di dapur, bukan di depan layar monitor lagi.
“Minuman soda gimana? Sprite? Cola?” tanya Richard.
Dan Richard, sebagai pria yang masih sibuk dengan patah hatinya, berinisiatif untuk menjemput ibu muda yang juga sepertinya masih sibuk mengurus hatinya yang hancur. Dua orang yang sama-sama sedang patah hati di satuka, pantas saja mereka jadi cepat akrab. Biasanya memang dua orang dengan masalah yang sama akan cepat akrab. Lagipula tak mungkin juga jika Dimitri yang menjemput Nabila, tak masalah memang, tapi Dimitri sendiri adalah tuan rumahnya.
“Sprite. Jangan lupa jus buat Lili. Mending jangan kebanyakan beli cemilan yang banyak pengawetnya, buah aja.”
Padahal baru saja Richard mengincar keripik kentang ukuran besar tadi, pasti sangat cocok sebagai teman mengobrol nanti. Justru makanan yang mengandung banyak pengawet seperti ini yang sangat di gemari banyak orang. Inilah akibatnya jika hanya bergaul dengan ibu-ibu muda, hidupmu tak akan jauh berbeda dengan semua
hal tentang kesehatan, tapi dulu ia juga seorang dokter. Tak masalah mengonsumsi cemilan berpengawet, asal dosisnya tak berlebihan.
“Bil, aku mau keripik kentang yang …”
Richard tak melanjutkan kalimatnya ketika melihat siapa yang menghentikan langkah Nabila dan membuat wanita itu terpaku di tengah rak-rak buah ini. Reno dan seorang wanita yang Richard yakini adalah selingkuhannya, atau mungkin temannya? Tapi, Richard tak sebodoh itu untuk mengira jika itu temannya, kan?
Apa yang harus di katakannya sekarang? Menyapa dengan santai? Bagaimanapun juga, Reno ini pernah menjadi temannya, tapi sekarang juga masih, kan? Mereka hanya jarang bertemu saja.
“Hai, Ren,” sapa Richard. Ia memutuskan untuk menyapa lebih dulu setelah pergolakan batin yang ia rasakan.
Dengan senyum canggung, Reno juga membalas sapaan Richard. “Kalian belanja?” tanyanya. Ada nada getir yang tertangkap oleh indera pendengar Richard, untuk urusan perasaan pria, sepertinya Richard cukup peka.
“Ya, kami punya acara kecil-kecilan. Ini pacar kamu?”
Sedetik setelah Richard menanyakan itu, Richard langsung menyesalinya. Mulutnya sangat lancang kali ini. Seharusnya pertanyaan itu bisa di sampaikan lebih halus lagi atau tak se-frontal ini. Ya, mereka memang sudah bercerai, tapi ada juga hati-hati yang belum sembuh karena perceraian itu. Richard mengintip ekspresi Nabila yang hanya diam dan mengalihkan perhatiannya pada buah-buahan di sampingnya.
“Kalau gitu, semoga belanja kalian menyenangkan. Yuk, Bil.”
Richard segera menggandeng tangan Nabila dan juga membawa troli belanjaan mereka. Rasanya benar-benar seperti berada di acara kuis yang memiliki hadiah miliaran itu, kalian pasti tahu, kan, acara itu? Dimana kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di berikan, lalu jika benar, maka kita akan mendapatkan uang. Richard lupa namanya, tapi ia ingat pernah menontonnya dulu.
“Kamu gak papa, Bil?” tanya Richard cemas.
Nabila diam sesaat, dan mencoba untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Lalu ia menatap Richard yang terlihat khawatir di sampingnya. Lagipula kenapa harus bertemu mereka di hari yang cerah ini? Ternyata mantan suaminya itu masih berhubungan dengan Reni, mungkin sebentar lagi ia akan mendapat undangan pernikahan mereka, itupun jika keduanya berniat mengundang Nabila.
“Gak papa, udah lebih baik. Makasih, ya?” Nabila memberikan senyumnya untuk menenangkan wajah Richard yang tegang. Kenapa wajah pria ini yang tegang?
“Gila. Rasanya lebih tegang di banding ketemu klien,” ujar Richard.
Nabila tertawa mendengar ucapan itu. Dulu, ia pikir Richard ini adalah pria yang serius dan tak memiliki selera humor, tapi hanya dengan melihat raut wajah itu saja sudah membuat Nabila tersenyum kembali.
“Gitu rasanya kalau ketemu mantan, siapin hati deh, dari sekarang sebelum tiba-tiba ketemu mantanmu di tempat umum.”
Keduanya kemudian memutuskan untuk berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka malam ini. “Kalau mantannya beda negara, mustahil, sih. Aku bisa sedikit tenang, karena gak mungkin juga ketemu dia tiba-tiba di sini,” ujar Richard.
__ADS_1
Nabila hanya mengangkat kedua bahunya. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, semua pasti akan terjadi jika sudah di kehendaki. Justru karena itu terlihat tak mungkin, kemungkinan untuk terjadi semakin kuat. Hanya opininya saja, tapi menurutnya memang seperti itu. Buktinya Nabila bisa bertemu mantan suami dan selingkuhannya secara tiba-tiba di sini, apapun itu pasti bisa terjadi. Hanya perlu menyiapkan mental dan hati, karena Nabila tadi benar-benar tak siap melihat pemandangan menyakitkan itu lagi.
**