
Oke, disini kalian team mana nih?
Sejak pagi, Liliana sudah sibuk mempersiapkan keperluannya dan juga sang putra. Ini hari liburnya, dan hal yang sangat kebetulan terjadi adalah ia mendapatkan pekerjaan lain untuk satu hari ini saja. Ia memiliki seorang kenalan yang menjalankan bisnis agen perjalanan, dan semalam Liliana mendapatkan informasi kalau ada salah satu kliennya yang berasal dari Indonesia dan ingin di temani tur singkat di Frankfurt untuk satu hari saja.
Liliana belum terlalu banyak mengenali kota ini terlalu dalam karena harinya yang selalu sibuk. Tapi, secara singkat ia cukup tahu tempat yang sering di kunjungi para turis. Lagipula Liliana sudah mengatakan kalau ia hanya akan menemani pengunjung dari Indonesia saja, karena ia juga sangat sadar kalau kemampuan bahasa Jermannya belum lancar walaupun ia mengerti apa yang di ucapkan.
Liliana sudah menyiapkan bekal makanan khusus untuk Elang, dan juga asi yang selalu tersedia di kulkasnya. Jika tidak ada pekerjaan ini, sebenarnya Liliana ingin mengajak putranya untuk berjalan-jalan.
Setelah di rasa cukup, Liliana segera keluar dari apartemen ketika jam baru saja menunjukkan angka enam lebih tiga puluh. Butuh waktu sekitar empat puluh menit untuk sampai di tempat temannya dengan menggunakan taksi. Biasanya Liliana akan memilih kereta bawah tanah ataupun bus, tapi taksi sepertinya lebih efisien.
“Hai, Sarah, apa aku terlambat?” ucap Liliana. Ia baru saja tiba di kantor milik temannya itu, dan jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh menit.
“Hai, Lili, ayo duduk. Dia berjanji akan datang pukul delapan, masih ada waktu,” jawab Sarah. Ia menyerahkan beberapa lembar kertas pada Liliana, sepertinya berisi data dari klien yang di maksud Sarah.
“Dia sedang dalam perjalanan bisnis, dan hanya memiliki satu hari ini untuk bersantai sebelum kembali bekerja.”
Ucapan Sarah sudah tak bisa terdengar lagi oleh Liliana ketika melihat kertas itu. Foto Dimitri dan juga data dirinya tertulis lengkap di sana, kejutan yang sangat membuatnya terkejut. Siapa yang sangka kalau mereka kembali bertemu seperti ini?
“Kau mengenalnya?” tanya Sarah.
Liliana mencoba menyadarkan dirinya dari keterkejutan itu, dan ia hanya memiliki sekitar tiga puluh menit sebelum mempersiapkan diri untuk bertemu pria ini, yang kemarin baru saja di bicarakan oleh Nabila.
“Seperti pernah melihatnya, tapi aku tak yakin, aku sedikit sulit mengingat wajah seseorang,” jawab Liliana dengan senyum terpaksanya. Ia tak mungkin mengatakan kalau ini adalah mantan suaminya.
“Apa pria ini tahu kalau aku…maksudku apa dia tahu kalau ada orang Indonesia di sini?”
Bahkan hanya dengan dua lembar kertas di tangannya, sudah membuat Liliana tak karuan. Maksudnya kenapa harus sekarang? Liliana tak tahu harus bereaksi seperti apa nantinya.
“Kurasa tidak, ia hanya meminta pemandu tanpa menanyakan harus pemandu seperti apa. Jadi lebih baik aku meneleponmu, karena kalian berasal dari negara yang sama.”
Liliana mencoba untuk menyamankan dirinya di sofa dengan membaca brosur-brosur perjalanan yang tersedia. Cukup banyak yang bisa di kunjungi di Frankfurt, tapi karena Frankfurt lebih di kenal dengan kota bisnisnya, tempat wisata yang sering di kunjungi adalah museum, gedung pencakar langit, komplek kota-kota bersejarah, serta gereja katedral.
Gedung-gedung tua yang banyak memiliki nilai sejarah selalu menjadi pilihan tersendiri untuk para turis. Itulah kenapa Liliana lebih menyukai untuk berjalan di sekitar apartemennya saja di banding harus jauh-jauh menuju gedung-gedung itu.
Terdengar bunyi pintu terbuka yang membuat Liliana mengangkat kepalanya, ia ingin menyesalinya, tapi ini pekerjaannya. Dengan refleks Liliana berdiri, begitupun dengan Sarah yang sudah menyambut kedatangan sang klien.
“Selamat datang, Herr Dimitri,” sapa Sarah ramah.
Liliana terdiam di tempatnya berdiri, matanya menatap pria itu dengan seksama. Ia tak tahu jenis perasaan apa yang tengah di rasakan saat ini. Pria itu terlihat sama seperti dulu, dengan senyum cerah tercetak di wajahnya.
“Ini adalah pemandu untuk hari ini, dia juga berasal dari Indonesia, dan sudah sangat mengenal lokasi di Frankfurt.”
__ADS_1
Dimitri menatap orang yang di maksud Sarah, dan dunianya seolah berhenti begitu saja. Mereka menatap satu sama lain seolah hanya ada mereka di sana. Ada raut kerinduan di mata Dimitri yang sangat jelas, dan juga kekagetan. Apa ini pertemuan yang di harapkan Dimitri sejak kemarin?
**
Dimitri sudah memutuskan untuk mengunjungi Palmengarten, yang berarti kebun raya di Jerman. Jika bukan karena pekerjaan, Dimitri tak akan datang jauh-jauh ke Frankfurt hanya untuk menikmati gedung-gedung dan juga museum, tapi jika pemandunya adalah Liliana, mungkin tak akan masalah untuk seharian berada di dalam museum.
Tak di pungkiri kalau Dimitri sangat bahagia saat ini, ia benar-benar tak menyangka akan menemukan Liliana kembali di negara orang. Bibirnya tak henti-hentinya melengkung sejak tadi, yang masih coba ia tahan. Wanitanya—dulu—sangat cantik saat ini, walau hanya dengan riasan sederhana saja. Tapi, apa boleh ia merasakan seperti ini setelah semua hal yang sudah ia lakukan sejak dulu?
“Kamu apa kabar?” tanya Dimitri.
“Palmengarten adalah salah satu kebun raya yang ada di Jerman, luasnya dua puluh dua hektar, mungkin kita akan menyelesaikan tur ini untuk satu hari ini. Di bangun pada tahun 1871, tempat ini sangat hijau dan kebetulan sedang musim semi, bunga pasti sedang mekar.”
Memang apa yang di harapkan Dimitri? Ini adalah Liliana, seperti apapun masa lalu mereka, jika urusan pekerjaan, wanita ini akan sangat profesional. Dan tentu saja, Dimitri sedang melakukan wisata satu harinya, tapi tetap saja ia tak bisa begitu saja mengabaikan masa lalu mereka walau harus profesional.
Bangunan Palmengarten sendiri sangat kuno, karena sudah di bangun sejak dulu, tapi itu adalah daya tariknya yang membuat beberapa turis mendecakkan lidahnya karena kekaguman. Setelah masuk semakin dalam pada bangunan taman ini, Dimitri tak bisa berhenti kagum dengan apa yang di miliki Palmengarten ini. Pemandangannya
sangat menyejukkan mata, dengan rerumputan hijau serta pepohonan, di sertai dengan berbagai bunga berwarna warni yang menjadi pemanis lokasi ini.
Ternyata di balik orang-orang yang sibuk dengan bisnis dan pekerjaan, ada tempat seindah ini yang sangat menenangkan jiwanya. Seandainya saat ini situasinya berbeda, mungkin Dimitri akan langsung menggenggam jemari Liliana, lalu mengelilingi taman ini dengan senyum bahagia. Ia yakin tempat ini adalah yang terbaik untuk
mengungkapkan perasaan, ataupun makan malam romantis.
Liliana menjelaskan dengan baik semua hal yang sudah ia ketahui ketika mengelilingi Palmergarten. Jangan tanyakan bagaimana keadaan jantungnya saat ini, karena itu sudah sangat jelas. Siapa yang akan baik-baik saja ketika bertemu mantan suami untuk pertama kalinya setelah sekian lama? Kecuali mereka baik-baik saja setelah perpisahan itu, maka mereka tak akan seperti Liliana dan Dimitri saat ini.
Keduanya sangat tahu bahwa masing-masing mereka masih memiliki sesuatu yang hilang. Ada yang sangat merindukan, ada yang berusaha menepis rasa rindu itu, dan kedua hal itu tak bisa bersatu begitu saja setelah apa yang mereka hadapi.
“Ya, ada beberapa acara yang memang khusus diadakan di sini. Akan ada perayaan Valentine, seperti makan malam romantis, lalu ada juga CiderWorld yang tahun ini akan diadakan di Frankfurt, itu adalah acara internasional yang sangat penting untuk para pecinta alkohol. Mereka akan menampilkan, menyajikan, dan juga menjual alkohol yang di produksi oleh orang lokal dan juga seluruh dunia,
“Semua produsen, penjual, pemilik restoran, perwakilan pers perdagangan, konsumen, dan juga ahli anggur yang tertarik dengan acara ini akan berkumpul di sini semua.”
Dimitri hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Liliana yang sangat panjang itu. Ia hanya sangat menyukai suara Liliana, tak peduli apapun yang di katakan wanita ini. Mereka kembali berkeliling untuk menjelajahi bagian terbaik dari Palmergarten.
“Kamu sering ke tempat ini?” tanya Dimitri.
“Hanya ketika menjadi pemandu, rasanya itu sudah cukup,” jawab Liliana dengan santai. Walaupun keadaan ini canggung, setidaknya Liliana tak ingin mengecewakan kliennya.
Palmergarten benar-benar tempat yang cocok di kunjungi untuk menyembuhkan diri setelah kepenatan dari semua pekerjaan selama satu minggu. Suasana tropis yang tak bisa di dapatkan di gedung-gedung pencakar langit itu, di tambah nuansa estetis yang di tawarkan. Siapapun pasti akan dengan senang hati mengunjungi tempat ini.
Setelah waktu hampir menunjukkan waktu makan siang, Liliana dan Dimitri memutuskan untuk keluar dari Palmergarten. Secara tak langsung, sesuai waktu yang berjalan, tur singkat ini mampu mendekatkan mereka. Walau mereka tak langsung dekat, suasana tetap canggung di antara mereka. Rasanya sudah bertemu seperti
ini, tak akan lengkap jika mereka tak membahas masalah pribadi mereka.
**
__ADS_1
Setelah menyelesaikan makan siang, Liliana membawa Dimitri untuk berjalan-jalan sebentar ke pencakar langit Messeturm, yang merupakan bangunan pencakar langit tertinggi di Eropa pada tahun 1991-1997. Letaknya masih di kawasan yang tak jauh dari Palmergarten. Desain bangunan itu sendiri adalah salah satu yang klasik di antara pencakar langit di Eropa.
Orang-orang di Frankfurt menyebut bangunan itu sebagai Bleistift atau pensil karena bentuk bangunan itu yang runcing ke atas. Bangunan itu sendiri di jadikan sebagai kantor. Dari taman yang terletak di seberang bangunan tersebut, pemandangannya sangat indah, apalagi menjelang senja, ketika matahari akan terbenam. Jika yang menyaksikan adalah sepasang kekasih, pasti akan sangat romantis.
“Perbedaannya sangat jauh, aku lebih suka berada di Palmergarten karena suasana tenangnya. Aku tak akan bertahan lama di sini walaupun pemandangan yang di tawarkan sangat indah,” ucap Dimitri.
Liliana menatap Dimitri yang menatap gedung di hadapan mereka dengan pikiran kosong, entah apa yang di pikirkan pria itu. Liliana tak ingin tahu, walau sangat penasaran. Satu hari ini benar-benar seperti mimpi untuknya, di pertemukan lagi dalam keadaan yang sudah berbeda, lalu bersikap profesional, ingin rasanya ia menangis saat ini.
“Terkadang kita tak bisa memilih ingin berada di mana, pilihan yang ingin kita ambil pun kadang juga tak membahagiakan. Jika sudah terbiasa, pada akhirnya kita bisa bertahan, semua hanya butuh waktu.”
Dimitri menatap Liliana yang mengatakan hal itu, tadi ia hanya mengatakan hal-hal yang terlintas di kepalanya, dan tak menyangka Liliana justru menjawabnya dengan kalimat yang memiliki berbagai makna itu. Bisa saja itu seperti
ketidaksengajaan, tapi Dimitri merasa itu adalah apa yang sedang di rasakan oleh Liliana.
“Kamu bahagia sekarang?” tanya Dimitri.
Liliana menatap Dimitri, untuk sesaat mereka hanya saling menatap, tatapan yang memiliki berbagai makna itu. Tergantung dari masing-masing mereka ingin seperti apa mengartikan itu semua. Liliana adalah orang pertama yang memutus kontak itu, mata itu masih mampu menenggelamkannya dalam larutan berbagai perasaan.
Di jarak yang tak seberapa jauh, Liliana melihat siluet pria yang taka sing untuknya. Setidaknya mereka sudah pernah bertemu lebih dari tiga kali, jika perhitungannya tak salah. Enzo dan seorang wanita, mungkin kekasihnya. Liliana juga tak akan peduli siapapun wanita itu, ini tak seperti ia yang tiba-tiba cemburu, matanya hanya tak sengaja melihat pemandangan itu.
“Sebaiknya kita kembali,” ucap Liliana tanpa menjawab pertanyaan Dimitri. Ia tak akan menjawab apapun yang bersifat pribadi, Liliana tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.
Dimitri harus menahan kekecewaan karena sepertinya ia tak akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang sangat ia inginkan jawabannya. Tapi setidaknya saat ini, ia sudah mengetahui keberadaan dari wanita yang sangat ia cintai.
“Liliana!”
Mereka menghentikan langkah ketika mendengar panggilan itu, dan serentak menolehkan kepala ke belakang. Enzo berlari-lari kecil dengan senyuman di wajahnya ke arah Liliana, dan semakin terkejut ketika pria itu tiba-tiba memeluknya.
“Bantu aku sekali ini saja,” bisik Enzo.
Liliana benar-benar tak mengerti apa yang terjadi, dan bantuan apa yang di minta pria ini ketika ia sedang bersama seorang wanita? Bagaimana bisa pria ini mengenalinya di antara banyak orang yang juga berada di sini?
“Katakan saja ‘ya’ atau anggukan kepalamu dengan senyuman ketika aku berbicara nanti,” bisik Enzo lagi. Setelah itu Enzo melepaskan pelukan mereka, dengan Liliana yang masih sedikit linglung.
Dimitri menatap pemandangan itu dengan kaget yang tak bisa ia jelaskan. Seorang pria baru saja memeluk Liliana secara acak, dan Liliana tak menolak semua itu. Ia sangat ingin melepaskan paksa pelukan itu, tapi ia juga sadar dengan posisinya saat ini, bisa saja pria ini salah satu kenalan Liliana, dan lagi, pelukan sangat biasa di lakukan di negara bebas seperti ini.
“Ah, maafkan aku, apa kau teman Liliana?” tanya Enzo ketika melihat Dimitri.
Liliana juga menatap Dimitri dengan kaget, selama sesaat ia melupakan keberadaan Dimitri. Ia benar-benar sangat kaget ketika Enzo memeluknya secara tiba-tiba.
“Ah, ya, aku temannya,” jawab Dimitri. Ia sangat ingin mengatakan kalau ia adalah mantan suaminya, tapi itu tak akan merubah keadaan, kan? Maksudnya, teman adalah hubungan ternetral saat ini, ia juga tak ingin Liliana tiba-tiba kesal karena mengatakan yang sebenarnya.
Wanita yang bersama Enzo tadi, tiba di antara ketiga orang tersebut. “Maafkan aku karena membuatmu berlari seperti ini, Leah. Aku hanya tak bisa menahan diri ketika melihat kekasihku.”
__ADS_1
Enzo dengan tiba-tiba merangkul pinggang Liliana. Bukan hanya Liliana, tapi Dimitri dan juga wanita yang bernama Leah tadi, langsung menatap Enzo dengan kaget.
**