
Kalian pikir ini udah berakhir kan? Tidak semudah itu *ketawa jahat* ini baru awal dari semua keruwetan masalah mereka. Jadi harap sabar menunggu sampe cerita ini tamat, ya ;D Kalo kalian mau skip cerita ini karena terlalu panjang dan ngebosenin, gak masalah kok, santai aja :)
Happy reading^^
“Sudah berapa kali Ayah katakan untuk menjauhi wanita itu, apa yang sedang kau lakukan sekarang?”
Enzo tak pernah sesering ini berkunjung ke ruang kerja sang Ayah, ini adalah rekor terbanyak menurutnya. Prabowo Gioto tak pernah meninggalkan keputusan besar kepada anaknya, seperti pernikahan. Pekerjaan adalah urusan lain, begitu juga dengan pernikahan. Untuknya, pernikahan yang mampu membuat dua keluarga beruntung adalah pernikahan bisnis, kedua pihak akan saling menguntungkan.
“Aku bukan di usia untuk mengatakan semuanya pada Ayah, aku memiliki keputusan sendiri, termasuk pernikahan,” ucap Enzo.
Keduanya adalah pria paling keras kepala yang pernah ada, tak ada yang ingin saling mengalah. Gioto selalu merasa dialah yang paling berkuasa karena dia adalah kepala keluarga, seluruh keputusan tertinggi ada di tangannya. Sejak dulu Enzo hidup seperti itu, jika bukan karena ada sang Ibu sebagai penengah, mereka tak bisa seperti ini.
“Apa kau tak pernah belajar dari masa lalu? Kau ingin hal itu terulang lagi?” tanya sang Ayah.
Ada berbagai alasan yang mendasari sifat Gioto yang sangat otoriter itu. Sebagian hal besar yang terjadi di keluarga mereka, semua berawal dari Enzo. Ia tak menyalahkan sang anak, ia hanya ingin menghindari. Ia sudah sangat bangga dengan pencapaian sang putra yang melebihi batasnya.
Perusahaan yang ia bangun sedemikian rupa, saat ini sudah sangat berkembang dan maju di tangan sang putra. Ia mengakui itu, tapi terkadang, Enzo masih melakukan beberapa kesalahan kecil. Gioto maklum, tak mungkin seseorang bisa menjadi sangat sempurna tanpa celah sedikitpun. Hal seperti itulah yang biasanya di manfaatkan oleh lawan bisnis mereka.
Di masa lalu, kejadian seperti itu sudah beberapa kali terjadi. Para pebisnis saat ini tak pernah memandang bulu dan selalu melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Gioto hanya tak ingin hal-hal seperti itu terulang di masa kini.
“Tak semua wanita seperti dia, Liliana berbeda,” ucap Enzo.
“Kau bisa memastikan semua itu? Terakhir kali kau mengatakan hal yang sama, lihat apa yang terjadi. Kau tak akan mengetahui jika semua ini belum berakhir, bahkan penyesalanmu saja belum berakhir.”
Enzo menundukkan kepalanya. Kali ini ia akan setuju dengan sang Ayah, tapi, tidak dengan Liliana. Wanita itu memang berbeda dari yang lainnya, karena itu pula ia menyukainya. Siapa pria yang tak bisa menyukai Liliana, dan juga Elang?
“Ayah hanya ingin melindungi keluarga Ayah, apa terlihat sangat buruk di matamu?” tanya Gioto. Sudah tak ada bentakan dan juga teriakan seperti tadi, tatapan Gioto melembut. Hanya Enzo saja yang menjadi satu-satunya saat ini, ia akan sangat kehilangan jika sampai sesuatu terjadi lagi pada putranya ini.
Kejadian di masa lalu sangat meninggalkan luka yang dalam untuk semua keluarga. Enzo yang paling banyak menyesalinya, karena semua yang terjadi dulu adalah kesalahannya. Andai saja ia tak bertemu dan jatuh cinta dengan wanita itu, mungkin adiknya masih bersama mereka hingga kini. Setelah bertahun-tahun pun, penyesalan itu tak pernah hilang dari hatinya.
“Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu dan keluarga kita, pahami juga perasaan Ayah,” lanjut Gioto lagi.
Lalu, jika begini, siapa yang akan memahami perasaannya? Semua ini juga sulit untuknya, bukan hanya kehilangan, tapi ia juga di khianati. Hatinya membeku sejak saat itu. Kini, ada wanita yang berhasil membuat hatinya kembali menghangat, tapi ia pun tak bisa berbuat banyak. Perasaan ini muncul lagi, setelah tujuh tahun.
“Semua bukti sudah mengarah pada keluarga Cho Ki-Hoon. Polisi berhasil menangkap kaki tangan para penculik itu, tapi sampai sekarang kita tak bisa menemukan jejak keluarga Cho,” ucap salah satu detektif yang bertanggung jawab atas penculikan serta pembunuhan Allisa Ferdinand Gioto.
Jenazah Allisa sudah selesai di kebumikan satu minggu yang lalu, serta pelaku penculikan itu sudah di temukan. Hanya saja, jejak pelaku tersebut belum bisa di temukan. Cho Ki-Hoon adalah pebisnis asal Korea Selatan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan keluarga Gioto, tapi sayang Prabowo Gioto menolaknya.
Tak ada alasan khusus penolakan tersebut, Gioto hanya merasa tak sesuai dengan persyaratan yang di ajukan
pihak Cho Ki-Hoon. Lalu pria itu menggunakan putrinya untuk menjebak Enzo, semua itu berhasil, karena Enzo dengan mudahnya masuk ke dalam jebakan yang ada. Lalu Allisa adalah korban atas rasa sakit hati Cho Ki-Hoon atas penolakan sang Ayah.
Semua itu adalah kesimpulan atas kasus yang terjadi, dan kaki tangan yang tertangkap juga sudah mengatakan semua yang ia ketahui. Awalnya Enzo tak mempercayai apa yang terjadi di hadapannya, tapi kini ketika ia mengingat yang terjadi, ia menjadi semakin yakin. Ia baru saja di khianati wanita yang sangat di cintainya, bahkan Enzo hampir melamarnya.
“Aku akan membuktikan jika Liliana berbeda dari dia,” ucap Enzo.
Setelah mengatakan kalimat itu, ia segera keluar dari ruang kerja Ayahnya. Ia juga tak ingin kesalahan yang sama terjadi lagi, tapi kali ini, hatinya mengatakan jika Liliana berbeda. Ia yakin seperti itu, karena ia sudah terlanjur menyukai Liliana, dan tak ingin menghilangkan perasaan itu.
**
“Jadi dimana tunanganmu? Kamu gak mau kenalin kami, atau kamu takut dia jatuh cinta sama aku?” tanya Dimitri dengan geli.
__ADS_1
Dimitri sudah memutuskan untuk sedikit memperpanjang kunjungannya di Jerman, toh, semua pekerjaan juga ia pantau melalui sekretarisnya. Sahabat yang biasanya selalu muncul seenaknya di kantor juga sekarang sibuk kesana kemari, lalu memutuskan untuk selalu menetap lebih lama di Jerman, jadi ia sedikit kesepian.
“Aku gak tahu apa masalahnya, tapi jadi sedikit cuek sama aku, aku gak tahu salahku di mana,” ujar Richard. Wajahnya terlihat sedikit frustrasi karena hal itu. Aneh rasanya melihat pria yang selalu menasehatinya, kini menjadi putus asa seperti ini.
“Aku bakal ganti pertanyaannya, gimana rasanya punya ikatan dengan wanita? Sebentar lagi kamu bakal ngerti apa yang aku rasain selama ini.”
Richard mendelik. Apa ini karma karena selalu merecoki sahabatnya itu? Tapi, ia juga mengatakan yang sebenarnya dulu. Jika bukan karena dukungannya yang tak pernah putus, Dimitri tak akan mampu duduk di hadapannya saking putus asanya.
“Kayaknya kamu seneng ngeliat aku kayak gini, asal kamu tahu ya, aku gak akan biarin kita senasib,” gerutu Richard.
Dimitri hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum yang tak luntur. Memang selalu lebih mudah mengatakan semuanya, di banding dengan langsung mempraktekkan segalanya. Semuanya tak akan semudah itu.
“Apa aku harus memesankan tiketmu ke Jakarta? Kayaknya kamu gak bisa bertahan di hubungan ini. Atau jangan-jangan kamu terlalu agresif? Kapan terakhir kali kamu pacaran?” cecar Dimitri.
Richard segera menatap Dimitri. “Kamu beneran kayak gitu?” tanya Dimitri lagi. Wajahnya ia buat sekaget mungkin.
Richard berdecak. Pria ini belum tiga bulan sejak perceraiannya, tapi sepertinya sudah ada yang tak beres di otaknya. Entah apa yang ada di pikiran pria ini.
“Hai, aku telat ya?”
Keduanya menoleh pada wanita yang baru saja muncul. Liliana. Richard tersenyum, ia sengaja berekunjung ke Frankfurt memang untuk menemui Liliana. Terakhir kali ia bertemu, mereka belum mengobrol dengan baik, dan kebetulan Dimitri juga masih di sini. Anggap saja ini sebagai reuni, tapi bukan reuni mantan istri dan juga mantan suami. Bagaimana, ya, mengatakannya?
“Gak kok. Oh, kebetulan Dimitri ada di sekitar sini. Gak masalah kalau kita bertiga di sini, kan?” tanya Richard. Ia segera menerima Elang yang ada di gendongan Liliana, ia juga merindukan keponakan tampannya ini.
“Gak masalah.” Liliana tersenyum pada Dimitri. Mereka juga tiga hari yang lalu baru saja saling mengobrol, jadi, seperti ini juga tak akan masalah.
Tapi aneh, kan? Liliana dan Dimitri bertemu lebih sering ketika mereka sudah tak memiliki hubungan lagi. Mereka juga lebih akrab saat ini, di banding dulu. Tak seakrab yang kalian bayangkan, hanya saja, untuk ukuran mantan suami istri cukup aneh.
“Katherine di mana?” tanya Liliana.
Dimitri mendadak tersedak mendengar jawaban Richard. “Apa dia sibuk mengabaikanmu?” tanya Dimitri. Senyum geli tak lepas dari bibirnya.
“Kalian bertengkar?” tanya Liliana.
“Ya, soalnya Richard terlalu agresif, dia cuman bisa nasehatin orang aja. Buat dirinya sendiri belum bisa nasehatin.”
“Wah, aku sama sekali gak tahu kalo kamu bisa secerewet ini? Bener-bener definisi temen yang bahagia banget di atas penderitaan orang lain,” ucap Richard. Ia merasa tersakiti kali ini karena sahabatnya.
Liliana menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran kecil kedua sahabat ini. Elang yang ada di pangkuan Richard bahkan hanya bisa menatap Richard dengan bingung, anak kecil saja tak sanggup dengan sifat keduanya. Liliana segera mengambil alih Elang, agar jika keduanya benar-benar bertengkar, Elang tak akan menjadi korban.
“Aku boleh menggendongnya?” tanya Dimitri pada Liliana.
Elang kembali ke pangkuan Dimitri dengan tenang dengan senyuman dari Liliana. Setidaknya Elang mampu bersama Ayahnya lebih lama.
Pemandangan itu tak lepas dari penglihatan Richard, aneh rasanya melihat dua orang ini yang terlihat lebih harmonis ketika sudah berpisah. Keduanya bisa tersenyum dengan tulus tanpa air mata seperti sebelumnya, mungkin akan lebih indah jika mereka belum berpisah. Ya, tapi itu adalah pilihan yang sudah mereka tentukan, mungkin akan lain ceritanya jika mereka memutuskan tetap bersama.
“Elang, nanti kalau udah besar, jangan ikutin sifat Ayah kamu, ya?” ucap Richard pada Elang yang hanya menatap kosong pada Elang. Memangnya Elang harus seperti apa menanggapi ocehan paman di depannya ini?
Giliran Dimitri yang mendelik mendengar ucapan Richard. “Urusi saja tunanganmu itu.”
Apa benar seperti ini rasanya ketika sudah bercerai? Liliana merasa aneh, tapi ia juga merasa ini adalah hal benar yang ia lakukan. Ada yang pernah mengatakan seperti ini, hanya hubungan yang berakhir, tapi perasaan itu tetap tinggal. Dan perasaan Liliana memang rasanya masih tertinggal pada pria ini, atau hanya karena Elang saja yang membuat perasaannya tinggal di pria ini?
Mereka juga tak bisa begitu saja meninggalkan satu sama lain, Liliana bisa saja melakukan itu dengan melarang Dimitri menemui Elang, tapi ia tak merasa benar untuk hal itu. Bagaimana nanti jika Elang tumbuh dewasa dan menanyakan tentang Ayahnya? Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itu terusa saja mengusiknya, dan hampir memengaruhi keputusannya.
__ADS_1
Liliana tak ingin egois, kebahagiaan putranya juga menjadi prioritas. Ia ingin, walaupun kedua orang tuanya berpisah, Elang tetap mendapatkan kasih sayang yang utuh. Apa itu juga cukup egois?
**
Enzo tak pernah mencoba untuk kembali kecanduan dengan alkohol semenjak mengenal Liliana, walaupun ia biasanya hanya mabuk di apartemennya. Belakangan ini, ia sudah tak pernah menyentuh anggur atau minuman beralkohol lainnya. Ia mengganti semua itu dengan bertemu Liliana dan Elang, keduanya sudah seperti obat
untuknya. Ia takut kembali jatuh terlalu dalam lagi, seperti dulu, tapi perasaan miliknya ini juga tak bisa di bendung.
Seperti kali ini, ia kembali berdiri di depan pintu apartemen Liliana. Ia tak tahu apakah wanita itu ada di dalam atau tidak. Ketika perasaannya sedang terombang-ambing seperti ini, Liliana adalah jawaban atas semuanya. Apa terlalu berlebihan? Sementara Liliana tak terlihat ingin membalas perasaannya, ini cinta sepihak. Enzo dengan
jelas merasakannya, tapi ia akan terus mencoba.
“Enzo?”
Enzo menoleh ke samping dan menemukan Liliana yang sepertinya baru keluar dari lift. Pilihan paling ekstrem yang di buat oleh Enzo adalah menetap di Frankfurt dan meninggali apartemen yang sebelumnya hanya ia biarkan begitu saja. Semua itu sangat ekstrem di banding tahun-tahun sebelumnya. Enzo tak pernah menetap sejak kejadian tujuh tahun lalu.
“Kau baru pulang?” tanya Enzo.
“Ya, aku baru saja pulang.”
Sebenarnya, keberadaan Enzo di depan apartemennya bukan hal baru lagi. Pria ini sangat rutin berkunjung, hampir seperti rumah kedua untuk Enzo. Tak ada hal yang salah sebenarnya, belakangan Liliana baru merasakan kalau semua ini seperti tak benar, ia takut Enzo mulai mengharap lebih dari semua ini.
“Kau sudah lama berdiri di depan sana? Kenapa tak menelepon?” tanya Liliana. Ininbaru pukul delapan malam, tapi Elang sudah terlelap sepanjang perjalanan tadi. Hari ini cukup menyenangkan bertemu dengan, tunggu, bagaimaan harus menyebut Dimitri? Mengatakan ‘menyenangkan bertemu mantan suami’, terdengar sangat aneh.
Intinya, pertemuan tadi cukup menyenangkan untuk mereka bertiga. Seperti kembali ke masa lalu ketika mereka masih kulian dan SMA.
“Kau sudah makan malam?” tanya Liliana lagi. Tak biasanya Enzo pendiam seperti ini.
Pertanyaan Liliana belum sempat terjawab lagi karena dering ponsel liliana. Dimitri.
“Ada apa?” tanya Liliana.
“Ah, apa aku mengganggumu? Aku hanya ingin bertanya apa kalian pulang dengan selamat,” tanya Dimitri. Ada
sedikit keraguan dalam kalimat pria itu.
“Ya, Elang bahkan masih terlelap, bagaimana denganmu?”
Pertemuan siang tadi sedikit demi sedikit mulai mencairkan suasana di antara keduanya, kecanggungan itu perlahan mulai sedikit mencair. Bukankah bagus jika berteman…dengan mantan suami?
“Ya, aku juga. Sampaikan salamku pada Elang ketika ia sudah bangun.”
Liliana tertawa geli. “Ya, setelah ini aku akan menceritakan dongeng pada Elang, tentang seberapa aneh Ayahnya.”
Dimitri juga tertawa dengan obrolan aneh mereka. “Istirahatlah,” tutup Dimitri.
Liliana tersenyum kecil, lalu mematikan sambungan telepon mereka. Ia berbalik untuk menemukan Enzo yang tak bersuara sejak tadi. Sangat aneh ketika pria itu lebih pendiam, karena pria itu lebih sering merecokinya.
“Ada masalah?” tanya Liliana. Ia duduk di hadapan Enzo, yang memang terlihat berbeda dari biasanya.
Enzo menatap Liliana dengan serius. “Kau ingin menikah denganku.”
**
__ADS_1
Kira-kira kalo kalian yang di lamar Enzo, reaksi kalian gimana? Nerima atau nolak? kalo aku udah pasti nerima sih ;)