Playboy

Playboy
#2# Take 31


__ADS_3

Happy reading^^


 



 


Hubungan Elle dan juga Enzo sudah semakin dekat, baik sebagai sekretaris maupun hubungan di luar pekerjaan, terserah mereka ingin menyebutnya bagaimana. Tapi, hal itu tak semata-mata mampu membuat Elle mampu tersenyum dengan tulus. Ia tak bisa menunjukkan itu ketika semua ini tidak berawal dari ketulusan. Masih ada Brian


yang membayangi setiap langkahnya, setiap obrolan, setiap canda yang terlontar pada Enzo.


Jika bukan karena utang yang ia miliki itu, Elle tak akan mau melakukan hal seperti ini. Mungkin tak masalah dengan konteks hubungan mereka yang baik, tapi setidaknya Elle akan melakukannya lebih tulus. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, ia merasa sudah melakukan kesalahan besar pada seseorang yang tak seharusnya terlibat dalam masalahnya.


Seandainya ia memiliki banyak pilihan untuk melanjutkan hidup, atau seharusnya ia mengikuti jejak sang Ibu saja. Menjadi wanita penghibur mungkin sangat mengorbankan harga diri, tapi itu tak akan menjadi masalah, karena Elle tak jauh berbeda dengan mereka. yang berbeda hanyalah ia menggadaikan jiwanya untuk pria iblis berwujud Brian.


“Jangan terlalu mempercayaiku, mungkin saja aku bisa menjadi orang yang lebih buruk dari yang kau bayangkan,” celetuk Elle.


Keduanya sedang berkendara setelah menyelesaikan rapat dengan salah satu klien, dan tiba-tiba Elle mengatakan kalimat itu secara tiba-tiba.


“Kenapa? Apa kau diam-diam merupakan sindikat mafia? Atau mungkin mata-mata dari lawan perusahaanku?” tebak Enzo.


Elle tak tahu kenapa mengatakan kalimat itu, ia benar-benar hanya asal menyebut karena tumpukan rasa bersalah yang sudah menggerogoti hatinya. Ia bukan tipe orang yang bisa memperdaya orang lain dengan baik, ia juga tak bisa berbohong, walau ia sangat andal dalam menunjukkan wajah datarnya di beberapa kesempatan.


“Bagaimana jika iya?”


“Lalu kenapa kau mengatakannya padaku jika memang iya? Kau akan terkena banyak masalah jika seperti itu,” jawab Enzo santai.


Enzo juga sangat sadar dengan banyaknya lawan di bidang ini yang berwujud banyak hal, ia juga tak bisa begitu saja mempercayai orang di dekatnya. Bisa saja, kan, beberapa karyawannya saat ini ternyata sudah membocorkan informasi perusahaan pada lawan lainnya yang mampu memberi mereka uang lebih.


Banyak orang yang cukup membenci Enzo, dan ia sangat sadar hal itu. Di usia yang masih terbilang muda, ia bisa merintis beberapa perusahaan dalam satu waktu, hingga menyukseskan semuanya. Banyak yang mengelu-elukan dirinya, tapi banyak juga yang tak menyukainya. Memang sudah hukum alamnya seperti itu, bagaimana mungkin


membuat semua orang menyukai kita?


“Aku hanya memberimu peringatan.”


“Jadi kau benar salah satu agen mafia dan juga mata-mata?”


“Menurutmu sendiri bagaimana?”


“Apa kau tak merasa sudah sangat kurang ajar pada atasanmu? Seharusnya kau menjawab pertanyaanku, bukan malah memberi pertanyaan lain.” Enzo menggelengkan kepalanya.


Tapi, nyatanya ia menyukai apapun yang sudah di tanyakan Elle padanya. Ia sangat menyukai ketika wanita di sebelahnya ini mulai banyak berbicara dan mengatakan banyak kalimat acak yang sulit ia percaya. Sudah lebih dari dua tahun, bahkan hampir memasuki tiga tahun, sudah waktunya untuk melupakan masa lalunya dan mulai melangkah ke depan, kan? Dalam waktu yang lama itu, ini pertama kalinya Enzo memiliki niat seperti itu.


Kenangan tentang Cecilia selalu memiliki tempat tersendiri di hatinya, dan lagi, Elle sangat jelas berbeda jika ingin di sejajarkan dengan Elle. Sifat mereka sangat bertolak belakang, dan Elle ini lebih blak-blakan di banding Cecilia, serta lebih tak terkontrol, dan juga jarang menampilkan senyuman tulus.


“Pertanyaanmu jelas-jelas sudah memiliki jawaban, kenapa harus di tanyakan lagi?”


Enzo tersenyum kecil karena kalimat datar itu, banyak sisi baru yang mulai Enzo temukan pada diri Elle. Tak semuanya, karena setiap orang memiliki rahasia yang tak bisa di ceritakan pada orang lain, juga teman terdekat. Enzo hanya berharap jika suatu saat nanti ia bisa mengetahui kisah Elle dengan baik.


“Aku tak akan mempercayaimu kalau begitu, bagaimana dengan mengenalmu?”


Sudah berapa lama Elle menjadi sekretaris Enzo? Apa sudah sekitar enam bulan, atau mungkin lebih? Selama masa itu, ucapan-ucapan seperti ini sudah sangat sering Elle dengar dari Enzo, dan tak pernah ia tanggapi dengan serius.


“Tak perlu, kau hanya akan menyesalinya. Lebih baik seperti ini.”

__ADS_1


“Jika di pikir-pikir lagi, kau tak pernah  menceritakan hidupmu dengan detail,” ujar Enzo.


“Kenapa harus?”


“Kenapa tak harus?”


Elle mengalihkan pandangannya ke jalanan, perdebatan seperti ini bukan pertama kalinya, mereka sudah sering seperti ini dan mereka berakhir tak mendapatkan jawaban apapun atas pertanyaan yang ada. Ia tersenyum kecil, walaupun hanya perdebatan yang sangat tak penting, kadang itu sudah cukup membuatnya bahagia.


“Kau tahu, Elle, kau tak harus menyembunyikan senyummu. Kau bisa memperlihatkannya padaku.”


**


Setelah beberapa waktu mereka tak berkumpul, akhirnya Liliana, Dimitri, Richard dan juga Nabila kembali berkumpul setelah Dimitri di perbolehkan pulang dan hanya perlu menjalani rawat jalan. Tak ada yang terlalu serius dari luka yang ia alami berkat perawatan dari dokter yang di berikan, hanya ada perban yang masih menempel di dahi pria itu untuk menutup jahitan yang masih tersisa.


Nabila dan Richard pernah menjenguk Dimitri beberapa kali di rumah sakit, tapi karena kesibukan masing-masing, mereka tak terlalu sering berkunjung. Yang terpenting mereka bisa berkumpul lagi saat ini.


“Kamu gak mau ngadain baby shower, Li?” tanya Nabila.


Usia kehamilan Liliana sudah memasuki enam bulan saat ini, perut wanita itu juga sudah sangat menonjol kini. Di tambah dengan bobot wanita itu yang kini sudah bertambah banyak, apalagi kehamilan kali ini membuat Liliana lebih sering memasak dan nafsu makannya melonjak drastis, jadi itu sangat memungkinkan dengan bobot wanita itu yang bertambah banyak.


“Gak, deh. Paling selametan aja nanti pas tujuh bulan.”


“Gimana sama jenis kelamin? Udah bisa di liat seharusnya, kan? Biar aku bisa nyiapin kadonya buat ponakan,” timpal Richard.


“Kalo kadonya permintaan dari aku gimana?” tanya Liliana.


“Memang kamu mau apa?”


Liliana menatap Dimitri di sampingnya dengan senyum jahil, lalu memusatkan perhatiannya pada Richard yang masih menikmati spageti di piringnya. Selain agenda berkumpul, bertemu, dan juga mengobrol, ada hal terselubung lain dalam setiap pertemuan mereka. Makanan gratis yang selalu di sediakan dalam jumlah banyak, padahal mereka hanya berempat, dan yang paling di untungkan adalah Richard. Dia yang paling banyak menghabiskan makanan itu.


Richard seketika terbatuk mendengar jawaban Liliana, lalu menatap wanita itu dengan sengit bergantian dengan Dimitri yang hanya tersenyum lebar hampir tertawa. Dimitri belum bisa tertawa banyak jika tak ingin jahitan di dahinya terlepas.


“Padahal lebih kaya Dimitri daripada aku, mintanya saham,” gerutu Richard. Ya, walaupun ia tahu jika itu hanya candaan, tetap saja ia merasa kesal.


“Kasih aja, sih, Chad. Calon mertua juga kekayaannya gak akan abis sampe tujuh turunan, buat calon ponakan ini.”


“Kamu gak sekalian mau minta saham juga buat Aidan sama Alya?” tanya Richard pada Nabila dengan raut wajah kesalnya.


“Kamu mau ngasih? Ya gak papa, sih, Kate juga pasti gak akan keberatan, kan?”


“Sekalian buat Elang kalo gitu, Chad.” Dimitri pun ikut bergabung menggoda Richard yang hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan dramatis.


“Kasihan banget calon anakku nanti, sahamnya udah di bagi ke sepupunya semua.”


Richard kembali menyantap spageti di hadapannya, ia tak ingin terlena dengan ocehan teman-temannya ini hingga melupakan makanan enak yang sangat memanjakan lidah dan perutnya ini. Beruntung juga ia memiliki teman seperti Liliana yang sekarang mampu menciptakan berbagai makanan enak, dan tentunya bisa di nikmati dengan gratis.


“Eh, gimana nikahannya Reno? Dari gosipnya berantakan, ya, acara itu?” tanya Richard.


“Kamu kayaknya kurang kerjaan banget nyari gosip kayak gitu,” jawab Nabila.


“Aku juga denger beritanya, Bil, kamu tahulah, koneksi bapak-bapak kepo.” Dimitri menambahi.


“Bapak-bapak kepo banget, Dim,” tawa Nabila. “Tapi emang iya, sih, aku bahkan gak sempet salaman sama pengantinnya.”


Richard hanya manggut-manggut. Beberapa waktu yang lalu ketika ia sedang rapat dengan para kepala bagian di perusahaannya, tak sengaja samar-samar ia mendengar cerita itu, di tambah lagi Reno juga dulu temannya. Jadi, gosip itu menyebar melalui teman ke teman. Lagipula ia juga heran, bagaimana bisa temannya itu menikahi wanita lain semudah itu setelah perselingkuhan dan perceraiannya?

__ADS_1


Mereka memang sudah tak pernah memiliki kontak lagi setelah Richard memutuskan untuk mengundurkan dari rumah sakit dan memulai petualangannya sebagai pengusaha ulung. Agak aneh menyebutnya pengusaha ulung, tapi ya, jika ayahmu adalah seorang pengusaha maka secara tak langsung kamu akan mengetahui dan mempelajari secara otodidak tentang dasar-dasarnya. Setidaknya itu yang terjadi pada Richard.


“Terus gimana sama berondong itu?” tanya Liliana.


“Tunggu, berondong apa maksud kamu?” tanya Richard.


“Maksudnya sekarang Nabila pacaran juga dan dapetnya berondong?” Dimitri juga tak mau kalah dalam perdebatan ini.


Tanpa rasa bersalah, Liliana hanya tersenyum penuh arti dan menaikturunkan kedua alisnya untuk menggoda sahabatnya itu. Nabila tak menyangka jika Liliana akan membuka kedoknya secepat ini. Dimitri mungkin lebih kalem, tapi Richard ini sudah melebihi penggosip profesional walaupun ia seorang pria. Ingatkan dia untuk membuka kedok ini di depan Kate nanti.


“Cuman rekan kerja aja, yang kebetulan juga kenal sama keluarganya si pengantin ceweknya. Gak ada yang spesial,” jawab Nabila dengan sedikit gugup.


Ia tak seharusnya gugup seperti ini, tapi ketika Liliana mengatakan berondong tadi, ingatannya langsung berpindah pada saat Juna memeluknya ketika kakinya tergelincir dari tangga. Tentang bagaimana canggungnya tatapan mereka saat itu, bahkan juga keesokan harinya ketika mereka bekerja.


“Rekan hidup juga gak papa, Bil,” goda Liliana.


“Kapan-kapan bawa dia ngumpul kesini juga, Bil, biar bisa kenalan,” usul Dimitri.


Richard mengiyakan ucapan kedua sahabatnya itu sembari menggoda Nabila dengan tatapannya. Nabila sendiri, ia mendadak ingin mengakhiri semua ini dan pulang ke apartemennya.


**


Setelah pemecatan yang ia terima dari pihak rumah sakit, Reno mulai membuka klinik miliknya sendiri. Ia tak tertarik dengan usaha yang di jalankan oleh mertuanya, dan walaupun sebelum pernikahan ini terjadi ia sudah mengenal orang tua Reni, tapi kali ini ia tak ingin terlalu dekat dengan mereka. Pernikahan ini juga bukan yang sebenarnya, walau ia mengucap janji pernikahan dengan jelas saat itu.


Reno hanya tak ingin berdekatan dengan keluarga Reni, bahkan jika bisa ia ingin menghindari Reni juga. Setelah pembicaraan di steak and co. kala itu, ia tak bisa menatap Reni sebagai temannya lagi. Memang sudah seperti itu sejak perceraiannya, tapi kali ini ia sudah sampai pada batasnya.


Bahkan sejak hari pertama pernikahan mereka, ia sudah memutuskan untuk pisah ranjang, ia tak bisa tidur dalam satu ranjang yang sama dengan wanita itu. Di rumah baru yang mereka tempati pun, mereka memiliki kamar masing-masing. Mereka tak seperti suami istri pada umumnya, dan Reno sama sekali tak peduli dengan apapun


yang di lakukan oleh Reni.


Pengunjung kliniknya belum ramai, karena ia juga baru memulai semua ini sekitar dua bulan yang lalu. Terlepas dari apa yang ia alami hingga saat ini, semoga saja tak ada yang menghakiminya karena menikahi Reni dan membawa masalah pribadi dalam pekerjaannya kini. Menjadi dokter adalah impiannya sejak dulu, konsekuensi atas


pemecatan itu memang bisa ia terima karena yang ia lakukan juga memang sangat salah.


Pintu ruangannya terbuka, dan Reni masuk begitu saja tanpa mengatakan apapun. “Kamu bisa ngetuk pintunya dulu sebelum masuk,” ucap Reno.


“Malam ini ada acara makan malam perusahaan, kamu harus hadir.”


“Aku gak bisa, malam ini aku harus jemput Aidan.”


Ya, ini hari jumat, dan ia masih melakukan kegiatan rutin mingguan itu. Nabila masih mengizinkan, hanya dengan syarat Aidan tak menginap di rumah yang sama dengan Reni. Usia Aidan adalah usia yang penuh dengan rasa penasaran dengan banyak hal, jika ia tahu ada Reni di rumah mereka, entah pertanyaan seperti apa yang akan di lontarkan bocah lima tahun itu.


“Kamu lebih mentingin anak kamu di banding aku?” tanya Reni tak percaya.


“Aku udah pernah bilang sama kamu kalau setiap jum’at aku akan menemui anakku, salahmu yang tak mengonfirmasi hal ini dulu padaku. Kamu bisa pergi sendiri,” jawab Reno dingin.


“Kamu bisa nemuin dia besok, dunia gak akan runtuh hanya karena kamu gak jemput dia hari ini.”


Hal yang membuat hubungan mereka hidup adalah pertengkaran yang terjadi seperti ini. Itu juga yang menyebabkan Reno tak banyak bicara pada Reni lagi, apapun yang mereka ucapkan atau tanyakan, semua hanya akan berujung pada pertengkaran yang tak ada habisnya seperti ini. Reno tak menginginkan juga pertengkaran ini,


semua ini hanya terjadi secara alami, seolah memang seperti ini takdir mereka.


“Terserah alasan apa yang mau kamu bilang sama orang tua kamu, aku gak akan hadir.” Ucapan Reno sudah final dan ia tak ingin di debat lagi, baginya menemui Aidan adalah hal terpenting yang harus ia lakukan. “Kamu bisa keluar, aku harus menerima pasien lagi.”


Reni keluar dari ruangan itu, dan Reno sangat tahu seberapa marahnya wanita itu kini. Tapi ia juga tak peduli, ia sudah tak peduli lagi, kenapa juga ia harus peduli pada orang lain sementara dirinya sendiri sangat menderita. Jika Reni adalah pasiennya mungkin tak menjadi masalah. Ia akan mencari cara untuk segera keluar dari neraka yang coba di ciptakan wanita itu. Sudah ada yang salah dengan wanita itu sejak awal, Reno saja yang terlalu bodoh untuk menyadarinya.

__ADS_1


**


__ADS_2