Playboy

Playboy
#2# Take 54


__ADS_3

Ide lagi ngalir banget, jadi gak ada salahnya kalo langsung di tulis biar gak  dikira php. Aku masih lanjut nulis kok, cuman memang bakal lambat bgt updatenya, jadi mohon dimaklumi. aku usahain buat update secepat dan sebanyak mungkin. Stay safe buat kalian dimanapun berada, luv all



Sudah satu minggu ini Elleanor dan Ibunya menempati apartemen yang di miliki oleh Enzo, dengan penjagaan ketat yang juga di berikan oleh Enzo. Sang Ibu akan di rawat lebih lanjut di apartemen itu dengan dokter serta perawat yang siaga dua puluh empat jam, semua juga di bawah pengawasan Enzo.


Elleanor hanya mengiyakan hal itu asal sang ibu bisa di tangani dengan baik, seberapa benci pun ia pada orang tua tunggalnya ini, ia tak bisa membiarkan ketika ada orang lain yang menyakitinya. Dengan kondisi yang juga sama tak berdaya dan tak memiliki kuasa apapun atas pelaku yang sudah membuat sang Ibu babak belur, ia tak bisa melakukan apapun selain mengiyakan kalimat Enzo.


Caroline sudah sadar tiga hari yang lalu, tapi wanita paruh baya itu masih terlalu lemah untuk berinteraksi lebih jauh dengan sekitarnya. Hal yang paling Elle syukuri adalah wanita itu masih mengenali dirinya sebagai sang putri.


“Apa ada yang mengganggu pikiranmu sepagi ini?”


Elleanor membalikkan tubuhnya dari meja bar dan menatap Enzo yang sudah berdiri tegap di hadapannya. Satu hal yang lupa untuk di beritahukan, Enzo juga tinggal di apartemen itu. Keduanya hanya terpisahkan oleh satu lantai, Enzo mendiami lantai dua, sedangkan Elle serta Ibunya ada di lantai satu.


Hubungan keduanya juga masih sangat rancu, Elle masih belum bisa mempercayai pria ini setelah semua hal yang di lakukan Enzo. Pengalaman mengajarinya untu lebih berhati-hati terhadap pria.


“Hanya memikirkan menu apa yang kira-kira akan kumasak siang ini,” jawab Elle tanpa beban.


Percayalah, rasanya saat ini kepala Elle sangat ingin meledak. Ia tak tahu mana hal yang menjadi prioritas pikirannya, semuanya bertubi-tubi memasuki kepala mungilnya. Hanya tinggal menunggu waktu lagi hingga ia menjadi depresi.


“Baguslah, kupikir kau memikirkan pria bajingan itu lagi. Tak perlu memikirkan Brian, ia hanya pecundang yang sangat suka mencuri harta orang lain.”


Enzo duduk di meja bar, sudah ada telur orak arik, bacon panggang, serta roti bakar dengan lelehan mentega di atasnya. Anggap saja ini adalah balas budi yang di lakukan Elleanor karena sudah menampung ia dan ibunya di apartemen mewah milik Enzo.


“Lama-lama aku akan terbiasa dengan semua masakanmu di sini. Bagaimana kalau kita menikah saja?” tanya Enzo.


“Kenapa tak berpikir untuk merekrutku menjadi pembantu saja? Itu lebih baik,” cibir Elle.


Yang benar saja! Bagaimana bisa ada pria yang memintanya untuk menikah sama dengan mengajak untuk kencan? Inilah alasan kenapa Elle masih belum bisa mempercayai Enzo, tak ada alasan untuk percaya pada Enzo.


“Kau terlalu cantik untuk di jadikan pembantu, lagipula aku membutuhkan istri bukan pembantu.”


“Dan aku tak menyukaimu, juga tak mencintaimu, tolong jangan salah paham. Aku akan keluar dari sini begitu ibuku pulih.”


“Bagaimana jika aku tak mengijinkannya?”


Terkadang, pria bisa membuat hidupmu sangat kesulitan, jadi jangan terlalu percaya pada pria yang berjanji untuk


mendedikasikan hidupnya untukmu. Enzo tidak seperti itu, Elle hanya berpikir pria selalu menyusahkannya, itu juga berlaku untuk Enzo.


Elle menghela nafas lelah. Sejak ia tahu ibunya menjadi korban pengeroyokan, lalu ia tinggal di apartemen ini, ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Hampir semua hal ia pikirkan, itu memang tak sehat bagi kesehatan mental tapi ia sudah terlanjur memikirkannya dan memaksa otaknya bekerja lebih ekstra untuk memproses masalah yang belum menemukan titik terang.


“Aku memang setuju untuk tinggal disini, tapi tidak untuk semua omong kosongmu. Bermain-mainlah dengan wanitamu di luar sana, jangan mempermainkanku lagi,” jawab Elle.


Enzo menangkap tangan Elle yang berusaha untuk meninggalkan dapur itu. Enzo kini mulai mengetahui kebiasaan wanita ini ketika sedang bertengkar atau beradu pendapat, meninggalkan ruangan tempat mereka beradu pendapat. Ini bukan pertama kalinya, setidaknya selama seminggu ini sejak mereka tinggal bersama.


“Bisakah kurangi kebiasaan burukmu yang suka meninggalkan lawan bicaranya sebelum pebicaraan selesai?” tanya Enzo.


“Aku lelah, dan aku tak bisa tidur dengan baik, jadi lepaskan tanganku karena aku harus istirahat.”


“Duduklah, aku ingin kita berbicara secara normal sekali ini saja,” pinta Enzo lembut.


Suara itu hampir membuat Elle terbuai. Kapan terakhir kali ia mendengar suara selembut itu? Lima tahun yang lalu? Sepuluh tahun yang lalu? Satu hal yang pasti, hanya sang ayah yang mampu membuatnya luluh dengan kalimat lembut seperti itu.

__ADS_1


“Tidak, aku harus tidur.”


Benar-benar keras kepala. Itulah hal yang tak bisa di lupakan oleh Enzo tentang Elle. Dengan cara kasar maupun lembut, Enzo sangat sulit menaklukan gunung es yang ada di hati wanita ini. Bahkan Cecillia masih lebih baik.


Enzo bangkit dari kursinya dan mulai memangkas jaraknya dengan Elle, sudah satu minggu ini ia menahan diri untuk tak menyentuh wanita ini. Bukan, ia tak pernah berpikir untuk mengambil kesempatan dari Elle dan meniduri wanita ini. Sentuhan yang ia maksud adalah pelukan, ia memeluk Elle dengan sangat erat. Ia tahu, Elle butuh sesuatu untuk menenangkan kepalanya yang sudah sangat berasap.


“Sekali ini saja, jangan berpikir buruk tentangku. Aku tulus menolongmu dan juga ibumu, sama sekali tak memiliki maksud lain di baliknya. Percaya padaku sekali ini saja,” ucap Enzo lembut.


Ia mengusap punggung Elle dengan teratur walau tak mendapatkan balasan apapun dari Elle, asal wanita ini tak mendorongnya menjauh, itu sudah sangat cukup. Sama sekali tak ada jawaban dari Elle, tapi Enzo bisa merasakan kemejanya yang basah. Elle menangis?


Selama sisa pelukan itu, tak ada lagi kalimat yang keluar dari bibir Enzo, ia hanya mengusap punggung ringkih itu yang selalu berusaha untuk kuat. Bagaimana bisa masih ada wanita seperti ini? Apa ia tak lelah? Apa ia tak ingin menyandarkan bahu lelahnya pada satu pria dan tak memikirkan apapun lagi?


**


Arlina adalah anak salah satu petinggi perusahaan di tempat Nabila bekerja, dan Nabila sangat tahu hal itu. Sangat wajar menggunakan koneksi dari orang tua untuk bekerja. Lihat saja dari gayanya berbicara maupun bersikap. Nabila tak ingin menilai, sayangnya semua hal itu sudah terlihat jelas di permukaan.


Nabila tak ingin bermain-main dengan siapapun di sana, tak ada gunanya ia melakukan itu. Sudah sering ia katakan jika masalahnya saat ini sudah bertumpuk, untuk apa menambah masalah baru lagi? Lagipula mencari


pekerjaan di ibukota bukan hal mudah, ia perlu membiayai kedua anaknya dan juga sang ibu.


Tapi, masalah tak datang hanya karena kita tak menginginkannya. Ia bisa datang secara tiba-tiba ketika kita tak menduganya, dan hal itu bisa sangat sering terjadi. Kalimat ‘masalah mendewasakanmu’, kadang juga sangat benar. Bukan hanya mendewasakanmu, kadang juga membuatmu tua mendadak.


Menghadap pimpinan redaksi dari perusahaan tempat Nabila bekerja adalah salah satu masalah yang menimpanya. Ia tak melakukan kesalahan, hasil pekerjaannya juga baik-baik saja selama ini, dan ia tak ingin


berpikiran buruk, tapi otaknya segera memproses hal buruk itu.


“Saya mendapatkan laporan jika anda memiliki hubungan dengan salah satu rekan kerja, apa itu benar?” tanya seorang wanita paruh baya. Jika di lihat dari penampilannya, wanita itu lebih muda dari ibunya.


Wanita itu mengerlingkan matanya pada pria di sebelahnya. Dengan sigap, pria itu mengeluarkan banyak foto dari amplop cokelat yang ada di atas meja. Wanita itu adalah Bu Diah, atasan dari segala atasan di kantor ini, yang juga merupakan orang tua dari Arlina. Tak salah jika ia memiliki pikiran buruk seperti itu, kan?


“Lalu bagaimana menjelaskan foto-foto ini?”


Bahkan ada fotonya yang tak sengaja di peluk oleh Juna di steak and co. beberapa waktu lalu dan beberapa foto lain yang sengaja di ambil dengan sudut pandang yang buruk, Nabila bisa mengambil foto yang lebih bagus dari ini. Ia sudah diikuti lalu di fitnah memiliki hubungan dengan rekan kerja, ini adalah salah satu cara untuk menjatuhkan kariernya di sini.


Nabila sangat tenang, tapi ia juga menyimpan banyak sumpah serapah yang tak tahu harus ia tumpahkan kepada siapa. Dunia menjadi sangat kejam kadang.


“Itu memang benar saya, tapi saya tak memiliki hubungan apapun dengan rekan kerja, kadang foto bisa sangat memanipulasi,” jawab Nabila tenang. Ia tak memiliki kesalahan, jadi tak ada alasan untuk gegabah ataupun berapi-api menanggapinya.


“Kamu sudah tahu jika ada peraturan dari perusahaan bahwa rekan kerja tak boleh memiliki hubungan apapun, bukan? Jadi saya hanya ingin memberi peringatan pertama agar kejadian seperti ini tak boleh terulang lagi.”


Ia tahu jika semua perusahaan memiliki sisi buruk yang tak di ketahui orang banyak, tapi Nabila tak menyangka jika akan seburuk ini. Bahkan tanpa riset mendalam, ia sudah tahu siapa dalang di balik semua ini. Jadi kali ini, ia menghadapi seorang bocah?


“Apa saya boleh memberikan jawaban sekali lagi?” tanya Nabila lagi.


Bu Diah hanya menganggukkan kepalanya, seolah enggan untuk menjawab permintaan Nabila. Yah, orang yang memiliki level jauh di atas kita selalu enggan berhadapan dengan yang tak selevel dengan mereka. Nabila sudah


sangat paham dengan diskriminasi seperti itu.


“Mengikuti saya, memotret saya juga merupakan bagian dari melanggar privasi saya dan itu bisa sangat melanggar hak asasi saya sebagai karyawan di sini. Saya yakin hanya orang-orang tertentu saja yang mendapatkan hak seperti itu, kan? Saya juga bisa melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib jika ingin,” jawab Nabila.


Raut terkejut itu tak bisa di sembunyikan oleh Bu Diah dan juga pria di sampingnya. “Kamu mengancam saya?”


“Tidak, saya hanya mengatakan hal yang sudah seharusnya. Untuk apa mengancam Ibu yang memiliki banyak koneksi di luar sana, akan sangat percuma, kan?”

__ADS_1


Nabila bangkit dari duduknya, masih dengan tenang. Seolah di hadapannya ini bukanlah badai yang siap menghancurkan hidupnya saat ini juga. Badai apa lagi yang ingin di berikan pada Nabila jika ia sudah merasakan


semuanya?


“Saya permisi.”


Mungkin jika Nabila sedang berakting, akan ada banyak orang yang memberinya tepukan tangan dengan rasa bangga. Tapi sayangnya ia sedang berada di situasi nyata yang mengharuskan dirinya untuk berakting juga. Ternyata hidup memang sepura-pura itu. Tapi, setidaknya Nabila keluar dengan bangga dari ruangan itu, walaupun ia memiliki kemungkinan untuk di pecat setelah ini.


**


Ini adalah hari jum’at, hari yang seharusnya sangat di nantikan oleh Aidan, karena ia akan menginap bersama sang ayah hari ini. Tapi itu sebelum ia mengetahui bahwa kedua orang tuanya tak akan tinggal di satu atap yang sama lagi. Ia sangat ingin tahu kenapa kedua orang tuanya seperti itu, kenapa mereka tak tinggal bersama seperti dulu lagi? Kenapa harus tinggal terpisah? Ia ingin seperti dulu lagi.


“Sayang, itu papa udah nungguin di luar, kamu gak mau ketemu papa?” tanya Nabila lembut.


Nabila sangat tahu jika seorang anak juga sangat membutuhkan sosok ayahnya di masa pertumbuhannya, ia mencoba untuk tak egois dan lebih mementingkan perasaan sang anak. tapi tetap saja itu menjadi hal yang sangat sulit. Kaca yang sudah hancur, sangat mustahil untuk kembali utuh lagi.


“Aidan capek, mau tidur aja.”


“Papa baru beli mainan lego baru kesukaan kamu, lho. Kamu gak penasaran buat nyoba mainannya?” bujuk Nabila lagi.


“Aidan gak mau, Ma. Aidan mau istirahat.”


Baiklah, Nabila tak akan memaksa anaknya lebih jauh lagi. Mungkin Aidan butuh waktu setelah mengetahui perceraian kedua orang tuanya, dan kenyataan bahwa mereka tak bisa hidup bersama lagi. Kenapa hatinya sakit hanya memikirkan hal itu?


“Yaudah, mama bilangin ke papa dulu kalau Aidan mau istirahat, ya? Tidur yang nyenyak, ya, jagoan mama.”


Nabila mengecup kening Aidan dan membenarkan letak selimut yang di kenakan sang putra, sebelum beranjak keluar kamar dan menemui Reno lagi. Jika di pikir-pikir lagi, ia juga sangat malas untuk menemui mantan suaminya itu, tapi demi anak-anak mereka, ia juga harus berkompromi.


“Kayaknya Aidan butuh waktu, dia gak mau ikut kamu,” ucap Nabila.


Reno menganggukkan kepalanya, raut kelelahan itu terlihat jelas di wajahnya. Entah apa yang di lakukan mantan suaminya ini di luar sana hingga sangat tak terurus seperti ini. Nabila juga snagat kacau sebenarnya, hanya saja ia sangat pandai menutupi kekurangan yang ia miliki. Ia tak mungkin menunjukkan wajah seperti itu di depan anak-anaknya.


“Gimana keadaan Aidan?” tanya Reno.


“Semoga aja baik, mungkin dia hanya butuh waktu. Semoga dia bisa mengerti keadaan kita.”


Tidak. Anak sekecil itu tak seharusnya mengerti keadaan orang tuanya yang bercerai dan berpisah seperti itu. Perceraian itu terjadi bukan karena keinginan sang anak. Anak mana yang ingin orang tuanya berpisah?


“Ini semua salahku…,”


“Ya, dan seharusnya kamu merenungi lagi semua kesalahanmu. Aku lelah, jadi kamu pulang aja,” potong Nabila.


Sudah cukup dengan semua pengandaian dan imajinasi tentang bagaimana jika seharusnya mereka tak berpisah. Sudah cukup memikirkan semua itu, ia hanya ingin kembali ke kenyataan jika pada akhirnya mereka memang sudah tak bisa bersama lagi dengan alasan apapun. Bukan ia ingin egois, tapi memang itu yang sebenarnya terjadi.


“Lebih baik kita fokus pada urusan masing-masing, fokuslah pada keluargamu dan pastikan kesalahan seperti ini tak pernah terjadi lagi.”


“Kamu pikir aku bahagia dengan pernikahanku?” tanya Reno miris.


“Aku tidak peduli dengan kehidupanmu, kamu memang seharusnya menderita setelah semua masalah yang sudah kamu ciptakan untuk rumah tangga kita.”


Beruntung Nabila memiliki mulut yang lebih tajam di banding Liliana, ia bisa dengan bebas mengeluarkan semua unek-uneknya tanpa peduli Reno akan sakit hati. Setidaknya pria ini juga harus merasakan apa yang di rasakan Nabila saat ini. Kata-kata tajam Nabila tadi tak sebanding dengan cinta yang sudah ahncur di antara mereka.


**

__ADS_1


__ADS_2