Playboy

Playboy
#2# Take 38


__ADS_3

Kali ini aku berharap banget bisa upload rutin, belakangan ini aku ngerasa gak beruntung banget sama semua kerjaanku karena kayak banyak rintangannya banget. Semoga yang ini berjalan mulus ya uploadnya. Happy reading!


 


***


 


Hal yang di lakukan oleh sepasang kekasih yang menjalin hubungan jarak jauh adalah saling mengunjungi satu sama lain. Itu juga yang di lakukan oleh Kate dan juga Richard, kali ini Richard yang mengunjungi Kate hingga jauh ke Jerman. Jika bukan karena cinta, mungkin Richard tak akan melakukan hal seperti ini.


Belum ada pembicaraan hingga tahap yang lebih serius hingga pernikahan, biarlah semuanya mengalir seperti sedia kala dan waktu yang menjawab segalanya. Pembicaraan seperti itu sangat sensitif untuk keduanya, walaupun saat ini mereka sudah berada di usia yang sangat layak untuk menikah. Tapi lagi, ini Eropa, bukan Indonesia yang masih sangat kental memegang kebudayaan bahwa usia tiga puluh adalah usia yang sangat pantas untuk menikah.


Jika tidak, bisa di pastikan seluruh tetangga atau keluarga terdekat akan bergunjing.


Frankfurt pada saat musim panas masih sama seperti biasanya. Suhunya bisa menjadi sangat panas dan melebihi derajat seharusnya. Jika sudah seperti itu, akan ada cobaan lain yang akan di terima oleh Richard, Kate yang sangat menyukai pakaian kekurangan bahan. Richard menyukainya, hanya jika mereka sedang berdua saja di apartemen mereka, bukan di tempat umum seperti ini.


“Apa harus kau terus-terusan melarangku? Ini musim panas, dan kau berharap aku akan memakai parka panjang yang menutupi seluruh tubuhku?” protes Kate untuk kesekian kalinya.


“Pakaianmu terlalu terbuka, Kate. Apa kau tak melihat banyak pria yang menatap tubuhmu dengan kelaparan?”


“Kalau begitu mereka bisa makan, Richard. Pakaianku sangat tertutup, aku bisa saja hanya memakai bikini di sini.”


Kate mengenakan kemeja putih tipis dan juga hot pants. Cukup sopan sebenarnya jika di bandingkan dengan wanita-wanita lain yang ada di pantai ini. Ya, musim panas dan pantai adalah perpaduan yang sangat sempurna. Musim panas, dan kau tak mengunjungi pantai, itu adalah penyesalan yang sangat besar di dalam hidupmu.


Tebak siapa yang membuat Kate mengenakan kemeja putih itu? Tentu saja Richard. Mereka menginap di salah satu resort untuk tiga malam, dan ini baru hari pertama mereka. Berjemur di pantai ini sudah menjadi salah satu agenda mereka, tapi ternyata sirna ketika Richard melarangnya untuk mengenakan bikini.


“Kau melarangku mengenakan bikini, tapi kau sendiri yang tak mengenakan atasan. Menurutmu ini adil?” Kate bersedekap dan menantang Richard.


Obsesi Richard terhadap bagian tubuh Kate yang terekspos kadang membuat ia merasa terhormat dan juga kesal. Mungkin satu atau dua kali bisa menjadi sesuatu yang sangat istimewa, hanya kadang Kate juga bisa kesal karena hal itu.


“Baiklah, kau boleh memakai bikinimu.”


Kini alis Kate menukik tajam karena ucapan Richard barusan. Secepat itu ia mengalah pada Kate? Tanpa ada perdebatan yang berarti? Seperti bukan Richard saja. Setidaknya Kate sudah hampir mengenal pria itu cukup baik, cukup baik untuk mengetahui beberapa kebiasaan Richard yang posesif seperti ini.


“Aku tak akan mengulang tawaranku dua kali, kau bisa membukanya sekarang atau tak sama sekali.”


“Well, oke. Aku sangat menyukai ini.”


Tanpa perlu berpikir dua kali, Kate segera melepaskan kancing kemeja yang ia kenakan di hadapan Richard yang masih menatap Kate lekat. Tanpa perlu membuka kemeja itu juga Richard sudah mampu melihat apa yang ada di dalamnya, karena memang kemeja itu tembus pandang. Jadi, apa gunanya mengenakan kemeja jika seperti ini?


“Kau sangat menyukainya, kan?” tanya Kate dengan nada menggoda. Kemeja dan juga hot pants itu sudah berakhir di kursi pantai yang menjadi tempat mereka berlindung dari sinar matahari yang mampu membakar kulit siapapun.


Ada kebiasaan baru yang sering mereka lakukan ketika bertemu seperti ini, saling menggoda satu sama lain yang akan berakhir tentu saja di ranjang. Cara terbaik untuk melepas rindu di antara mereka.


“Ingin kubantu untuk mengoleskan sunblock?”


Lagi-lagi alis Kate menukik tajam dengan semua kalimat yang keluar dari mulut Richard. Baru beberapa jam yang lalu, pria ini melarangnya dengan sangat kejam, lalu sekarang dengan mudahnya mengalah seperti ini? Ada bagian yang salah di sini, tapi Kate tak tahu di bagian mana yang salah.


“Apa yang kau rencanakan sebenarnya?” tanya Kate.


“Kau mencurigaiku?”

__ADS_1


“Hanya ingin memastikan, tapi kau boleh membantuku untuk mengoles krim ini. Apa aku harus melepaskan tali bikini ini?”


Ada seringai yang sekilas muncul di wajah Richard, Kate menyadarinya tapi ia tak ambil pusing. Ia lebih banyak pasrah dengan semua rencana yang ada di kepala kekasihnya ini, apapun itu, pada akhirnya Kate juga akan menyukainya. Seperti itulah hukum alam yang ada di antara mereka.


Kate berbaring telungkup di kursi pantai itu dengan tali bikini di leher dan juga punggung yang sudah di lepaskan. Sudah tak terhitung berapa banyak Richard menatap dan menyentuh tubuhnya, dan Kate selalu menyukainya.


“Aku penasaran dengan apa yang ada di kepalamu saat ini. Apa sama dengan yang aku pikirkan?”


“Tunggu saja, mungkin aku akan memberimu sedikit kejutan.” Seringai di wajah Richard itu belum juga hilang.


**


“Apa kalian sebenarnya memiliki hubungan yang lebih dari sekadar atasan dan juga bawahan?” tanya Sir Nicholas.


“Apa itu bagian dari urusan anda juga?” Enzo menatap Sir Nicholas di hadapannya dengan sedikit sengit.


“Bukankah ini merupakan kabar bahagia jika kali ini urusan percintaanmu berjalan dengan lancar?”


Percakapan malam itu dengan Sir Nicholas berjalan dengan tak baik karena memang Enzo sendiri tak menyukai pria tua itu. Ayahnya juga tak terlalu menyukai pria tua itu, hanya karena urusan bisnis saja membuat mereka harus terpaksa dekat. Semua harus di lakukan untuk kepentingan perusahaan, kan?


Sama halnya seperti yang di lakukan kebanyakan orang untuk mendapatkan pengakuan dari pihak lainnya, dalam artian untuk menjaga gengsi. Pengusaha dan semua harga dirinya.


Mengajak Elle sebenarnya bukan sebuah keputusan yang baik, karena hal-hal kecil seperti ini sangat di perhatikan oleh lawan. Sir Nicholas bisa saja menjadi sekutu, tapi siapa yang tahu jika nanti pria tua itu akan menjadi musuh nomor satunya. Sifat manusia tak bisa di tebak.


“Aku menyukainya, wajahnya sangat mendekati tipe wanita idealmu, kan? Wajah-wajah Asia yang sangat memikat,” lanjut Sir Nicholas.


Pernyataan itu kembali terngiang di kepalanya, siapa yang tak akan menyukai wanita itu. Di wajah dinginnya, tersimpan banyak rahasia di dalam hatinya. Enzo yang sudah cukup lama bersama wanita itu saja, masih belum banyak mengetahui apa yang sebenarnya ada di pikirannya.


“Sebaiknya jaga tanganmu tetap di tempatnya, karena aku bisa melakukan banyak hal jika kau menyentuh apa yang bukan milikmu.” Terdengar nada ancaman dalam kalimat Enzo tadi.


“Ah, jadi benar jika wanita ini cukup berharga untukmu, Gioto,” gelak Sir Nicholas seolah baru saja menemukan harta karun yang sangat berharga.


Para pengusaha seperti mereka selalu berusaha untuk menemukan kelemahan lawan masing-masing, setelah mengetahui, mereka akan mulai mencari cara untuk menjatuhkannya. Hal-hal seperti itu memang selalu berulang


dan sudah seperti hal yang wajar.


Ada beberapa hal selain Sir Nicholas yang mengganggu pikiran Enzo, Elle. Sejak ciuman malam itu, ia berusaha keras untuk bersikap biasa saja dan seolah tak ada hal yang terjadi. Seharusnya ciuman itu memang tak terjadi, hasratnya untuk mencium wannita itu memang sangat besar, sama seperti untuk memiliki wanita itu.


Sepertinya memang ia ingin memiliki Elle untuk dirinya. Begitukah? Atau ada hal lain yang membuatnya ingin memiliki wanita itu. Wanita Asia yang sangat mirip dengan mendiang Cecillia. Ia takut jika itu hanya nafsu sesaatnya saja karena Elle cukup mirip dengan Cecilia. Jadi, bagaimana ini? Ingatan tentang Cecilia sesekali memang masih menghantuinya, waktu tak selalu bisa menghapus kenangan buruk yang ingin di lupakan.


“Dia sangat mirip dengan Cecilia, kan? Atau seleramu memang yang terlihat seperti orang Asia, atau kau hanya ingin mencari pelarian saja?”


Omong kosong Sir Nicholas saat itu berakhir ketika Enzo bangkit dari kursi itu dan menggandeng Elle untuk pergi dari restoran itu. Padahal belum ada makanan yang menjadi jamuan di ruangan itu. Entah kenapa sang ayah justru  mengatur makan malam seperti ini, ketika ia juga tahu jika hubungan perusahaan mereka tak pernah terkait dengan Sir Nicholas.


Di sinilah kesalahan lain terjadi. Enzo sangat kesal, karena harus bertemu dengan Sir Nicholas dan terlibat banyak omong kosong yang sangat tak di perlukan. Sampai di parkiran, ia masih tetap menggandeng tangan Elle dengan erat.


“Pak, tangan saya,” ringis Elle.


Enzo seperti tersadar dari seluruh rasa kesalnya dan menatap Elle yang masih dengan raut kebingungan. Lagipula, kenapa ia harus terpikirkan sesuatu untuk membawa Elle kemari? Bisa saja setelah ini akan banyak orang yang menargetkan Elle karena di anggap sebagai kelemahan Enzo.


Tak ada kalimat pembuka ataupun kalimat yang mengikuti lainnya, ia juga tak meminta izin, dan semuanya terjadi begitu cepat ketika Enzo menempelkan bibirnya di bibir Elle. Ciuman kedua mereka yang terjadi di tempat umum seperti parkiran. Besok pasti foto mereka akan menghiasi koran dan juga majalah gosip seantero kota Frankfurt

__ADS_1


atau bahkan seantero Jerman.


Tapi, tak akan ada penyesalan yang mengikuti karena Enzo sudah sangat kesal, dan yang terpikirkan adalah mencium wanita ini lagi. Tak ada satupun yang ingin melepaskan tautan itu, mereka seperti ingin mengisi kekosongan yang ada di hati mereka. Kekosongan yang pasti akan terisi jika mereka dekat seperti ini, akan semakin penuh jika bisa lebih dekat dari ini.


**


Aidan sudah kembali ke rumah, dengan tubuh yang masih penuh dengan perban. Ada di pelipis, di siku tangan, bahkan di lengan hingga kaki. Kecelakaan luar pertama yang di alami bocah itu selain sakit. Reno juga ikut mengantar anak dan juga mantan istrinya itu ke rumah. Tak banyak kalimat yang keluar dari mulut Nabila karena ia memang tak ingin mengatakan apapun, hanya ada kekhawatiran di pikirannya.


Reno juga sama khawatirnya dengan Nabila, ia tak tahu seberapa banyak kekhawatiran yang di miliki oleh Nabila, tapi yang jelas, ia juga merasakan jantung yang berdetak dengan kencang ketika mendapat kabar tentang Aidan yang kecelakaan. Ia pulang dengan wajah yang sangat lelah dan juga sisa-sisa kekhawatiran yang lain.


Jika saja ia memiliki keberanian yang banyak untuk tetap tinggal di samping putranya, maka akan ia lakukan. Masalahnya ia terlalu pengecut untuk sekedar meminta pada Nabila. Ia cukup tahu diri untuk tak meminta banyak dan bersyukur dengan apa yang ia terima saat ini. Nanti, ia pasti memiliki kesempatan untuk tetap bersama anak-anaknya dan juga mantan istri.


“Aku sudah menelponmu sejak dua jam yang lalu, kamu sudah gak peduli lagi sama rumah tanggamu saat ini?” tanya Reni dengan kesal.


Reno mendongak untuk menatap Reni yang penuh kemarahan, ia bahkan sudah bisa mengecek ponselnya sejak tadi karena rasa kekhawatiran yang belum juga hilang. Lalu kini ketika ia sampai di rumah, Reni dengan wajah kesal dan penuh kemarahan justru menghampirinya, membuat seluruh syaraf di tubuh dan juga kepalanya semakin tegang.


“Ada apa lagi? Makan malam mana lagi yang harus kuhadiri untuk memenuhi semua keegoisanmu itu?” sentak Reno.


“Keegoisanku? Kamu tak salah? Sudah dengan jelas kamu yang egois di sini. Kamu bahkan menolak semua undangan yang Papi berikan.”


Rumah tangga yang ia jalani saat ini bukanlah sebuah rumah tangga yang di idam-idamkan banyak orang. Rumah tangga mereka hanyalah sebuah perjanjian di atas materai dengan isi yang tak menguntungkan satu sama lain.


Reni berpikir jika pernikahan ini mungkin akan membantunya dalam beberapa hal, tapi ternyata ia pun salah. Reno bukan sahabat yang bisa ia ajak kerjasama seperti pertama kali, saat ini, mereka berdua hanyalah musuh yang saling menjatuhkan satu sama lain, entah untuk kepentingan apa.


“Karena sejak awal aku tak pernah menyetujui apapun yang kamu ajukan. Kamu tak meminta pendapatku untuk pernikahan ini, dan semua hal yang terjadi di dalamnya, jadi aku berhak untuk semua keputusan yang aku ambil.”


Kali ini pun rasanya pertengkaran mereka tak akan berjalan dengan baik dan singkat. Lagipula, sejak awal pernikahan, mereka sudah tak akur, hampir setiap hari terjadi pertengkaran. Reno juga sudah sangat muak dengan apapun yang mereka pertengkarkan.


“Apa ini karena mantan istrimu itu? Kapan kamu akan sadar kalau kalian tak akan bisa kembali bersama lagi?”


“Apa kamu harus selalu membawa istriku ke dalam pertengkaran kita?”


“Dia bukan istrimu, Reno, aku yang saat ini menjadi istrimu. Tolong hargai aku sedikit saja,” mohon Reni.


Reno mengusap wajahnya kasar. Seharusnya ia tak kembali ke rumah saat ini, sebuah kesalahan besar karena kembali ke rumah dan di sambut dengan—lagi-lagi—kemarahan Reni yang entah sudah keberapa kalinya.


“Anakku kecelakaan, oke? Jadi aku harus ada di sana.”


“Hanya kecelakaan kecil, dan kamu sudah seperti ini? Apa mantan istrimu tak bisa mengurusi anaknya sendiri?”


“Apa maksudmu?” tanya Reno menyelidik. Reno sama sekali tak mengatakan jika anaknya kecelakaan kecil ataupun besar, jadi, darimana Reni mengetahui seberapa parah kecelakaan anaknya itu?


Reni seperti baru menyadari jika ia mengucapkan sesuatu yang seharusnya tak ia katakan. Ia memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan menyelidik Reno. Rahasia ini seharusnya tak ia katakan secepat ini, belum selesai yang ia lakukan selama dua puluh empat jam.


“Kamu memiliki hubungan dalam kecelakaan Aidan?”


Tak butuh waktu lama untuk Reno menyimpulkan hal tersebut, semua hal tentang Reni sudah terlihat negatif di mata dan pikirannya, jadi sekalian saja berpikir buruk seperti ini.


Reni menghembuskan nafasnya. Rahasia memang seharusnya di tutupi, tapi kali ini ia akan membiarkan Reno mengetahui lebih awal. “Ya, aku yang menabrak anakmu tadi, beruntung hanya luka kecil yang ia dapatkan. Aku bahkan bisa membuatnya menjadi lebih besar.”


**

__ADS_1


__ADS_2