
Happy reading :)
“Aku tak bisa lagi, Richard.”
“Apa maksud kamu dengan tak bisa?” Richard menatap Kate dengan dingin.
“Hubungan ini, pertunangan ini. Aku tak bisa lagi menjalaninya, lebih baik kita berpisah,” ucap Kate. Ia menundukkan kepalanya, hanya ini yang terpikirkan di kepala cantiknya setelah kejadian di restoran kala itu.
Ia mencintai Richard tentu saja, tapi ia juga tak bisa membiarkan dirinya tertekan dalam pikiran tentang Michelle dan juga Richard. Anggap saja ia pengecut, karena perbincangan tentang pernikahan juga adalah yang tersulit untuk Kate. Belum ada agenda pernikahan dalam benaknya, ia hanya ingin bersama Richard untuk waktu yang lama, tapi sepertinya Michelle tak menyukai hal ini.
“Apa karena pria yang ada di restoran itu?” tanya Richard. Ia terluka, tak pernah sekalipun ia berpikir untuk mengakhiri hubungan ini. Hanya Kate yang ia inginkan, bukan yang lain, apa Kate tak mengetahui itu?
Beruntung mereka sedang berada di apartemen Kate, setidaknya tak akan ada adegan seperti telenovela yang berlebihan di tempat umum. Tapi, tetap akan berakhir menyakitkan juga. Tak pernah ada yang mengatakan jika ada perpisahan yang membahagiakan, mungkin ia tak memiliki perasaan sedikitpun.
Kate menatap mata Richard yang terluka, bukan inginnya seperti ini. Bisa saja Kate memberitahukan apa yang Michelle katakan padanya kemarin, tapi, itu hanya akan menambah masalah. Michelle adalah adik kesayangan dan satu-satunya Richard walaupun mereka tinggal terpisah, hanya akan menambah masalah jika Richard dan Michelle juga bertengkar karena hal ini.
“Aku hanya merasa kita sudah tak bisa bersama lagi, Richard. Kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Bukankah sejak awal ini juga tentang bisnis?”
Jika menyakiti Richard bisa membuat pria itu menjauh, maka akan Kate lakukan. Ia sudah sangat sering menyakiti hati pria, Richard hanya pria kesekian yang nantinya akan ia sakiti, tak akan ada masalah yang berarti. Tapi, menatap mata itu membuat sebagian hati Kate terasa perih. Lagipula, dari sekian banyak pria yang menjadi rekan kerja ayahnya, kenapa harus Richard?
“Apa selama ini kamu menganggapnya seperti itu? Selama tiga tahun ini kita bersama, dan semua ini hanya tentang bisnis?”
Kate mengalihkan tatapannya, ia tak bisa menatap mata itu lebih lama lagi. Ini juga berat, terakhir kalinya ia merasakan perihnya perpisahan adalah tujuh tahun yang lalu, atau lebih, ia sudah melupakan hari itu.
“Aku yang akan mengatakan pada ayahku jika hubungan kita sudah berakhir, kau lebih baik pulang.”
“Tak bisakah kau memberiku alasan…,” lirih Richard.
Langkah Kate terhenti, ia tak ingin menolehkan tubuhnya hanya untuk menatap Richard. Pertahanannya akan runtuh dalam sekejap dan semua ini tetap tak akan berakhir. Memang sejak awal harusnya Kate tak menerima pertunangan ini, walaupun ia juga memiliki perasaan yang sama. Apa untungnya memiliki perasaan yang sama jika pada akhirnya tak bisa bersama?
“Apa alasan masih di butuhkan? Aku sudah berhasil memimpin perusahaan ayah, sekarang sudah lebih berkembang dan aku yakin beberapa tahun ke depan semuanya akan berjalan dengan baik. Kau sudah tak di butuhkan lagi di sini,” ucap Kate sedingin mungkin.
Kate kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia juga mendengar pintu apartemen yang terbuka lalu tertutup lagi, itu artinya Richard juga sudah pulang. Sekarang, Kate sudah mendapat predikat wanita terbodoh dan pengecut abad ini. Dari semua pilihan yang ada, ia justru memilih untuk melepas Richard. Apa yang salah dari mempertahankan hubungan ini? Memang itu yang harus di lakukan semua pasangan ketika menghadapi masalah, kan?
Air mata Kate luruh, ini juga bukan keinginannya dan ia sudah merasakan kebodohan dan juga penyesalan. Ia tak masalah jika harus melepas banyak proyek miliaran bahkan triliunan, tapi melepas Richard adalah hal terakhir yang pernah ia pikirkan. Patah hati ini nyata, dan terasa sangat perih.
__ADS_1
Kate berlutut di lantai apartemen, yang malam ini terasa lebih dingin. Isakan kecil lolos begitu saja dari mulutnya, ia mencintai Richard, sangat mencintainya. Kate meremas blus yang ia kenakan, berharap bisa meredakan rasa sakit yang sudah melingkupi dirinya. Ternyata rasanya lebih sakit dari yang ia bayangkan, dan isakannya tak bisa ia hentikan.
“Maafkan aku, Richard. Maafkan aku.”
**
Liliana kembali menatap Nabila yang baru saja selesai mengurus semua surat gugatan cerai untuk Reno. Ini adalah hal terburuk yang pernah Nabila hadapi sepanjang hidupnya dan juga sepanjang pernikahannya. Masa perkuliahannya hanya di isi oleh Reno, tak pernah ada pria lain yang masuk ke dalam hidupnya selain Reno, hingga sekarang mereka menikah dan memiliki dua anak yang sangat lucu
Perselingkuhan sama sekali tak pernah masuk ke dalam benak Nabila, apalagi oleh seorang Reno. Pria itu sangat menyakiti dan menghancurkan semua yang mereka miliki bersama. Semua hancur dalam satu hari ketika Nabila mengetahui semua kebusukan yang di simpan oleh sang suami.
“Kamu baik-baik aja, Bil?” tanya Liliana hati-hati.
Apa yang harus Liliana katakan untuk menenangkan sahabatnya ini? Ia memiliki sifat yang sangat berbeda dari Nabila, dan tak bisa mengucapkan kalimat bijak seperti yang sering Nabila lontarkan padanya. Liliana hanya orang yang realistis dan lebih sering mengucapkan kalimat dengan sarkas, dingin, dan jujur, tapi bukan itu yang di butuhkan Nabila.
Nabila menyunggingkan senyum tipisnya. Siapa yang akan baik-baik saja dalam keadaan seperti ini? “Kamu gak punya pertanyaan lain? Klise banget, sih,” ucap Nabila.
“Gak mungkin, kan, kalau aku nanya gini, ‘kamu bahagia, Bil?’. Aku masih punya perasaan buat milih kalimat.”
Tawa kecil kini meluncur dari bibir Nabila. Semua ini sangat perih, dan tak ada sedikitpun kebahagiaan dari keputusan ini. Ia juga masih memiliki permasalahan lain selain perceraian ini, kedua anaknya. Bagaimana cara menjelaskan pada kedua buah hatinya itu jika kedua orang tuanya sudah tak bisa bersama lagi.
Tak ada yang bisa di perbaiki dalam perselingkuhan, percayalah. Permintaan maaf adalah satu hal, sisanya adalah hal lain. Ketika satu orang sudah mengkhianati sebuah rumah tangga, sama sekali tak ada jalan kembali untuk bersatu. Anak adalah satu alasan kuat yang menahan perceraian itu terjadi. Nabila bisa saja bertahan demi kedua buah hatinya, tapi ia sudah tak bisa melihat sang suami dalam pandangan yang sama, semuanya sudah berbeda.
“Gimana perasaan kamu dulu waktu memutuskan untuk bercerai?” tanya Nabila.
“Aku juga gak mau bercerai, Li. Tapi, aku gak bisa menatap Reno dengan sama lagi. Aku hanya akan emosi dan nangis, ini pertengkaran hebat kami sejak pertama kali pacaran hingga saat ini,” ucap Nabila.
Ya, Liliana sangat tahu hal itu. Nabila dan Reno adalah pasangan yang sangat bertolak belakang dari segi sifat, tapi tak pernah sekalipun mereka menghadapi yang namanya hubungan putus-nyambung atau pertengkaran lain yang bisa menyebabkan masalah. Mereka sangat tenang, hingga mereka memutuskan untuk menikah, dan sekarang. Semuanya sangat mulus dan tenang, hingga kabar perselingkuhan ini.
“Aku egois, kan, Li. Harusnya aku bisa memikirkan anak-anakku sebelum memutuskan untuk berpisah, aku…,”
Liliana menggenggam kedua tangan Nabila. “Semua keputusan pasti punya resikonya masing-masing. Kalau kamu memilih bertahan, pasti juga semakin banyak resiko yang kamu tanggung. Kamu gak salah, kamu juga pasti udah bener-bener mikir semua ini sebelum ambil keputusan, jangan nyalahin diri kamu, Bil.”
Hanya kalimat itu yang bisa meluncur dari bibir Liliana, tak sepenuhnya benar, tapi yang terjadi memang seperti itu. Keputusan apapun yang kita pilih, baik itu buruk ataupun baik, pasti ada resiko yang mengikuti. Ketika kita jatuh cinta, selalu ada resiko untuk patah hati. Ketika kita memilih untuk melepaskan seseorang, selalu ada resiko untuk patah hati. Semua hal itu sudah menjadi bagian garis takdir kita, dan kita pasti akan merasakannya setidaknya sekali atau bahkan berkali-kali.
Dari semua resiko yang ada, pasti ada hal baik yang akan terjadi, pelajaran yang bisa kita terima agar tak mengulang kesalahan yang sama. Semua itu juga pasti terjadi, yang bisa kita lakukan hanya menjalani. Jika tak ingin menerima banyak resiko, jangan lakukan apapun, jangan ambil keputusan apapun, tapi kita tak akan bisa bertumbuh.
“Semua akan baik-baik aja, kan, Li?” tanya Nabila dengan lirih.
Liliana hanya menganggukkan kepala dengan senyum tipis di bibirnya, ia masih menggenggam tangan Nabila erat, berharap genggaman itu bisa mengusir semua risau di benak Nabila.
__ADS_1
**
Tak ada satupun yang Elle inginkan di dunia ini lagi, mungkin keluar dari Jerman adalah tujuan utamanya, tapi juga tak bisa ia lakukan. Ia tak bisa keluar dari Jerman hingga semua hutang milik ayahnya habis, dan itu seperti satu hal yang sangat mustahil terjadi. Bagaimana caranya untuk melunasi hutang yang jumlahnya mungkin triliunan itu?
Ia anak tunggal, dengan ibu yang lepas tanggung jawab setelah kematian sang ayah. Para mafia itu hanya mengejar Elle untuk semua hutang yang ada. Mungkin mengharapkan semua mafia itu musnah di dunia ini juga bagian dari keinginannya, yang paling tak ia inginkan adalah melihat Ibunya lagi, wanita yang hanya peduli soal harta itu.
Tapi, sepertinya Tuhan sedang kembali menguji Elle. Tak mungkin jika kehidupannya berjalan lancar tanpa sedikit rintangan, kan? Bekerja sebagai bawahan Enzo adalah hal terbaik yang pernah Elle rasakan, tapi kemunculan ibunya lagi setelah menghilang selama dua tahun adalah hal terakhir yang Elle inginkan.
Wanita itu sudah dua hari berada di apartemen studio miliki Elle, dan dengan seenaknya menguasai studio kecil itu seperti miliknya.
“Sebenarnya apa yang Ibu inginkan?” tanya Elle dengan dingin. Memanggil Ibu adalah salah satu bentuk kesopanan yang masih ia gunakan. Tak perlu terlalu sopan pada seorang Caroline Sisilia, wanita oriental yang lahir dan besar di Singapura sebelum bertemu dengan Bramantyo Danuwijaya.
“Aku sangat menyukai apartemen ini, tapi kenapa kau tak menyewa apartemen yang lebih besar? Bukankah kau sudah bekerja di perusahaan besar? Aku yakin gajimu lebih dari cukup untuk melakukan itu,” ujar Caroline.
“Ya, semua akan cukup jika aku tak menanggung semua hutang yang kalian sebabkan.”
Sama sekali tak ada raut bersalah atau simpati di mata wanita yang sudah menginjak usia empat puluh itu. Ia hanya menganggukkan kepala, seolah itu bukan hal besar. Tentu saja bukan hal besar, karena bukan ia yang bertanggung jawab. Selama ini wanita itu hanya sibuk bersenang-senang dengan pria yang berbeda setiap malam, hal yang sangat membuat Elle sangat malu memiliki Ibu seperti itu.
Wajah mereka sangat mirip, Elle adalah versi muda dari Caroline, dan mereka sama-sama cantik dengan wajah oriental dan kulit yang putih bersih. Mereka juga sama-sama menuruni gen dengan raut wajah yang dingin, siapapun yang belum mengenal Elle dengan baik, mereka akan menganggap jika Elle sangat dingin dan sombong, semua itu di perparah dengan sifat Elle yang sudah membatasi sosialisasinya.
“Kenapa kau harus bersusah payah untuk kerja jika aku bisa membantumu untuk bekerja sambil bersenang-senang?” Caroline menaikkan alisnya menatap Elle. “Kau tak harus bekerja keras seperti ini, atau kau bisa menikahi bosmu. Selalu ada jalan mudah untuk semua masalah. Kau saja yang membuat semuanya sulit,” lanjut
Caroline dengan sarkas.
Wajah Elle mengeras mendengar kalimat yang keluar dari Ibunya sendiri. Apa benar ini Ibu kandungnya? Kenapa mereka sangat berbeda? Ibu yang Elle kenal dulu, sangat lembut dan perhatian, walau kadang juga sangat keras dan disiplin. Di hadapannya kini, hanya wanita angkuh yang memintanya untuk melakukan pekerjaan hina itu.
“Jangan samakan aku dan Ibu, aku masih memiliki harga diri untuk tak melakukan pekerjaan rendahan seperti itu.”
“Harga diri? Kau masih memilikinya? Setelah semua keonaran yang di sebabkan oleh ayahmu, kau masih membicarakan soal harga diri?” Caroline tertawa sangat keras hingga menepukkan kedua tangannya.
“Apa ibu lupa jika semua ini juga karena ibu dan keserakahan kalian?” tanya Elle lagi.
Caroline tak menjawab pertanyaan itu, ia justru meraih tas tangannya yang ia letakkan di dekat sofa. “Aku kemari hanya mampir, dan menawarimu hal bagus, tapi kau justru menolaknya. Di dalam tubuhmu mengalir darah yang sama denganku, kau sama denganku walau tak ingin mengakuinya.”
Wanita itu melangkah menuju pintu apartemen itu, sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu, ia kembali menatap putri satu-satunya itu. “Tak selamanya harga diri yang kau pertahankan itu akan membantumu. Kita sudah hancur sejak kematian ayahmu, terima saja kenyataan itu.” Dan tubuh wanita itu menghilang di balik pintu apartemen.
Ini bukan tentang tak menerima kenyataan bahwa ayahnya sudah meninggal, ini tentang dirinya. Mungkin, menjadi putri tunggal Danuwijaya terlihat sangat menyenangkan, kenyataannya, itu adalah sebuah neraka dunia. Danuwijaya sangat menyayangi Elle, ia tak pernah kekurangan kasih sayang sedikitpun dari sang ayah, hingga ia tumbuh menjadi putri yang manja.
Sang ayah mengajarkan banyak hal pada Elle, tentang menjadi wanita yang mandiri dan tak bergantung pada orang lain. Ia selalu membanggakan nama Danuwijaya yang tersemat di belakang namanya, Elle menyukainya dulu, walaupun dengan resiko banyak yang membencinya.
__ADS_1
Terbukti dengan beberapa orang yang mulai memperlihatkan kebenciannya ketika Elle sudah tak memiliki apapun dan menjadi buronan para mafia karena hutang yang di miliki. Dari semua hal itu, hanya harga diri yang tersisa dari seorang Elleanor Danuwijaya, tak bisakah ia menyombongkan harga diri itu dan mulai membangun kehidupan barunya sendiri?
**